OBITUARI KUNTOWIJOYO

(1943—2005)

“KESEDERHANAA N DAN BERPIKIR” Kuntowijoyo sejak mula dikenal yang ulung. pun penyair yang penyair, menghasilkan tiga Suluk Awang Isyarat (1976), dan sebagai penulis prosa Namun, ternyata ia hebat. Sebagai Kuntowijoyo telah kumpulan sajak, Uwung (1975), Makrifat Daun, Daun KEMATANGAN

Makrifat (1995). Mengenai kepenyairannya ini, Ajip Rosidi (1977:543) pernah mengatakan, “Kalau kebanyakan pengarang lain mulai dengan menulis sajak, kemudian menjadi mantap dalam menulis prosa, maka sebaliknya dengan Kuntowijoyo. Ia sejak masih duduk di SMA, menulis cerpen, kemudian drama, esai, dan roman. Baru ketika bermukim di Amerika Serikat untuk mencapai gelar M.A dan Ph.D., ia menulis sajak, sekaligus dua buah kumpulan.” Dua buah kumpulan sajak yang dimaksud Ajip Rosidi itu ialah Isyarat dan Suluk Awang Uwung. Di dalam dua antologi itu kita disuguhi berbagai pengalaman Kuntowijoyo ketika ia tengah melanjutkan pendidikan di University of Connecticut (1974) hingga mendapat gelar M.A dan di Columbia University (1980) hingga mendapat gelar Ph.D. Sedangkan pada Makrifat Daun, Daun Makrifat kita dihadapkan pada berbagai pengalaman religius Kuntowijoyo selama hidupnya, mungkin juga ketika selama ia sakit. Sekarang, jika Kuntowijoyo dikatakan sebagai sosok yang “suntuk-serius” dalam menulis sastra tidaklah berlebihan. Buktinya adalah beberapa penghargaan dan hadiah

1

sastra telah diterimanya. Tidak hanya untuk karya prosa, tetapi juga untuk karya drama. Bahkan ketika masih mahasiswa di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM, dua hadiah bergengsi diraihnya, yaitu Hadiah Harapan dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) untuk drama Rumput-Rumput Danau Bento (1968) dan Hadiah Pertama Sayembara Menulis Cerpen di Majalah Sastra untuk cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1968). Masih semasa mahasiswa, ia pun pernah menjabat Sekretaris Lembaga Kebudayaan Islam (Leksi). Kemudian, sampai 1971, ia menjadi Ketua Studi Grup Mantika. Dari dua wadah kesenian itulah ia bergaul dengan para tokoh muda teater, seperti Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, dan Salim Said. Selepas itu, setelah menjadi dosen di Fakultas Sastra UGM, ia kembali mendapat Hadiah Sayembara Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas (1972), Hadiah Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internasional untuk novel Pasar (1972), dan Hadiah Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama Topeng Kayu (1973). Namun, benarkah dunia sastra yang ia geluti itu semua bermula dari sesuatu yang “sederhana”? Pertanyaan ini cukup menggelitik karena dalam lampiran Kata Sambutan saat menerima SEA Write Award 1999, Kuntowijoyo pernah menulis, “... Buru-buru harus saya katakan bahwa pada dasarnya saya menulis dengan intuisi, tidak dengan formula apapun. Artinya, cerita rekaan begitu saja keluar secara langsung, alamiah, dan sederhana… Cerita-cerita selalu mulai dengan gagasan yang sangat sederhana…”. Benarkah karya-karyanya itu dimulai dari sesuatu yang “sederhana” dan “tanpa formula”? Ah, kita endapkan saja pertanyaan itu. Saya dan Anda tentunya sependapat bahwa apa yang dinyatakannya itu sekedar ungkapan dari seorang yang rendah hati. Saya yakin, secara perlahan, ketika Anda membaca karya-karya Kuntowijoyo, jawabannya akan terkuak sendiri. Saya kok yakin betul bahwa gagasan cerita yang “sederhana” itu telah mengendap dalam pikiran Kuntowijoyo lalu diungkapkannya dengan “formula” tertentu. Sebab, ia sendiri mengatakan, “Saya cenderung mengendapkan gagasan cerita untuk ‘beberapa lama’, sampai saya yakin bahwa cerita itu ada harganya untuk diketahui orang lain. Maka menoleh ke belakang terhadap pekerjaan saya, ternyata saya juga menggunakan semacam formula tetapi tidak wantah begitu saja...”. Di lain waktu, saat dimintai pendapatnya tentang bagaimana mengekspresikan pengalaman kreatif, ia pun pernah berkata, ".... Di

2

dalam mengekspresikan endapan pengalaman, sebagai sastrawan, kita harus mengekspresikannya sebaik mungkin. Ingat, di dalam setiap endapan pengalaman ada nilai-nilai estetik dan profetik yang menyadarkan kita pada kehadiran Yang Maha Kuasa!" Itulah sosok Kuntowijoyo, seorang pemikir yang cenderung menunggu gagasan sampai matang betul. “Matang”, menurutnya, berarti semua unsur cerita menjadi lengkap, tetapi tetap terasa spontan, wajar, tanpa beban. Secara berkelakar, Kuntowijoyo mengungkapakan bahwa kelengkapan unsur-unsur sebuah cerita dapat dirumuskan sebagai three in one—persis seperti shampoo dengan krim pembersih, kondisioner rambut, dan anti ketombe. Ketiga unsur itu—yang banyak dijadikan acuan analisis sosiologis terhadap karya-karya Kuntowijoyo—ialah strukturalisasi pengalaman, strukturalisasi imajinasi, dan strukturalisasi nilai. Tidak saja dalam menulis karya sastra, ketika menuangkan “pemikiran kesejarawanannya” pun, Kuntowijoyo selalu mematangkan buah pikirannya sebelum dituangkan dalam tulisan-tulisan. Lihatlah buku kumpulan esainya Radikalisasi Petani (1993, 2002). Kuntowijoyo tidak sekedar menulis fakta empiris. Ia memaknai sebuah peristiwa sejarah secara kritis lalu dimatangkannya untuk memompa semangat keperintisan. Sebab baginya, dalam sejarah, “..apa yang sebenarnya telah terjadi ialah sebuah fakta psikologis… Tantangan kita, ialah bagaimana kita memahami peristiwa itu, sekalipun tanpa komitmen sejarawan tentang kebenaran sebuah keajaiban….” Kematangannya sebagai sejarawan itu pun tercermin dalam buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), dan Identitas Politik Umat Islam (1997). Kembali tentang konsep “sederhana” Kuntowijoyo dalam menulis prosa, demikian jugakah dengan konsep karya-karya puisinya? Di dalam puisi-puisinya, selain menangkap kesederhanaan dan kematangan, saya juga menangkap ungkapan-ungkapan liris, namun penuh simbol. Bacalah sebuah puisi dalam antologi puisi Isyarat (1976) berikut: “Di makam/ Ruh tidak bersatu dengan bumi/ Mereka kembali ke Kekosongan/ Sedang bunga kemboja/ Mengabarkan hari sudah sore/ Selalu sudah sore/Pada penghujungnya....”. Dalam Suluk Awang Uwung, ia pun menulis ini: Jantung berdetak/ menggugurkan impian/ dari balik sepi/ merpati putih/ hinggap di pucuk kabut/ Ketahuilah:/ Kaurindukan kekosongan. Begitu liris dan simbolis! Simbol yang terdapat

3

dalam puisi-puisinya secara esensial mampu menggiring hati dan pikiran kita ke sebuah renungan yang liris tentang kematian. Di tangannya bunga kemboja dan merpati putih pun mampu mengabarkan kematian itu. Ya, dari sejumlah puisi yang ditulisnya, ia sering menggiring pembaca ke arah kesadaran religius bahwa manusia itu fana adanya. Mari, kita lihat juga sisi lain dari Kuntowijoyo, namun masih dalam bingkai “kesederhanaan”-nya. Ketika menanggapi sistem kenegaraan di Indonesia secara teknis, Kuntowijoyo berpendapat bahwa negara mestinya juga negara “sederhana”, yang hanya mengurus masalah teknis, yang lahiriah (tangible). Masalah nonteknis diserahkan ke masyarakat. Katanya, negara tidak perlu mengurus segala macam urusan masyarakat yang bersifat teknis. Misalnya, negara tidak perlu mengurus isi kesenian. Pencekalan seniman, pelarangan buku, penolakan izin pertunjukan. Kecaman resmi terhadap bentuk kesenian dan campur tangan lain harus ditiadakan. Tetapi menurutnya, pengecualian tetap diperlukan, misalnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai hukum. Negara sederhana, tegasnya, adalah pelaksanaan sila keempat Pancasila. Ia melihat di masa Orde Baru, negara adalah seperti gurita yang tangannya menjangkau ke mana-mana. Rakyat takut berbuat salah. Kooptasi negara terhadap partai politik membuat legalitas kekuasaan tak- terbantah. Pemikirannya tentang “negara sederhana” itu, tidak diungkapkan dalam acara yang sederhana-biasa. Kuntowijoyo mengungkapkannya dalam sebuah makalah yang disajikan pada saat acara tasyakuran ulang tahun ke-53 Kemerdekaan RI, Selasa malam, tanggal 18 Agustus 1998, ketika gempita reformasi masih hangat di telinga. Makalahnya itu dibacakan oleh istrinya, Ibu Ning (Dra. Susilaningsih, M.A). Saya terharu ketika itu, Kuntowijoyo berada di sebelah istrinya selama makalah dibacakan. Waktu itu ia masih dalam proses penyembuhan akibat serangan stroke. Acara tasyakuran itu sendiri diselenggarakan Pusat Pengkajian dan Studi Kebijakan (PPSK) Yogyakarta, lembaga yang didirikan oleh Kuntowijoyo tahun 1980 bersama Prof. Dr. Amien Rais dan Dr. Chairil Anwar. Pada kesempatan itu pula ia mengatakan harapannya terhadap bangsa Indonesia,”.... bangsa Indonesia sekarang harus mengedepankan paradigma kenegaraan jauh ke depan, yakni negara rasional. Budaya politik masa depan harus lintas agama dan lintas suku. Nasionalisme politik masa depan adalah nasionalisme politik yang mengakui pluralitas. Superioritas suku bangsa (Jawa atas sabrang, pri atas non-pri, non- pri atas pri) harus dihilangkan.”

4

Memang, mengikuti pemikiran Kuntowijoyo, kita akan melihat sosok dari seorang yang beridentitas multidimensional. Ia begitu fasih berbicara tentang kenegaraan dan begitu lancar berbicara tentang Islam dan masa depannya. Ia juga dapat menjalani hidup di beragam “habitat”. Ia sangat dihargai keilmuannya di dunia akademis sekaligus mampu membawa diri di lingkungan yang, katanya, selalu menuntutnya untuk menjadi “humoris”. Ia pun menyandang sejumlah identitas dan julukan. Ia adalah guru besar (emeritus), sejarawan, budayawan, sastrawan, penulis-kolumnis, intelektual muslim, aktivis, dan khatib. Dan, tentunya, ia adalah seorang suami yang baik dan seorang ayah yang bijaksana bagi dua putranya, Ir. Punang Amaripuja, S.E., M.Sc. dan Alun Paradipta. Pada bulan Januari 1992, ia terserang radang selaput otak kecil atau Meningo encephalitis, yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Sejak itu berbagai penyakit datang dan pergi menghampiri dirinya. Namun Tuhan Maha Pemurah, secara fisik kelihatan sakit, ternyata tidak demikian dengan daya kreatifnya yang terus meledak-meledak. Bayangkan, kendati sebagian hari-harinya dijalani dalam keadaan sakit, tulisannya masih terus mengalir. Beberapa buku lahir dari tangannya dan belum terhitung tulisannya di berbagai media massa. Buku-bukunya mendapat pujian dari berbagai kalangan intelektual. Ia disebut sebagai intelektual yang mampu menerjemahkan konsep perjuangan ke dalam langkah nyata. Hal itu tercermin dalam buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991) dan Identitas Politik Umat Islam (1997). Pada masa itu, karya sastra yang lahir ditangannya, antara lain Impian Amerika (1998), Hampir Sebuah Subversi (1999), Mantra Pejinak Ular (2000), dan Fabel Mengusir Matahari (2000). Menjelang akhir hayat, menurut Ibu Ning, Kuntowijoyo pun masih bersemangat menulis. Tidak ada tanda-tanda ia akan pergi selamanya dalam waktu dekat. Aktivitas kesehariannya hingga Minggu malam, tanggal 20 Februari 2005, masih biasa-biasa. Pagi-pagi sebelum di bawa ke rumah sakit, ia sempat melanjutkan mengetik buku Mengalami Sejarah. Bahkan, ia pun bercerita ingin menulis buku tentang Muhammadiyah untuk menyambut muktamar. Pada Senin, tanggal 21 Februari 2005, ia menderita diare. Lalu dia dibawa ke Rumah Sakit Sardjito. Ia dirawat di Paviliun Cendrawasih hingga sore. Sekitar pukul 20.00, kondisinya menurun dan harus dirawat di intensive care unit (ICU). Selasa, tanggal 22 Februari 2005 pukul 16.00, ia meninggalkan kita untuk selamanya. Meningalkan budi baik dan karya-karyanya. Rawamangun, 22 Februari 2006

5

Ganjar Hwia

Acuan Eneste, Pamusuk (Ed.).2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Rosidi, Ajip. 1977. Laut Biru Langit Biru, Bunga Rampai Sastra Indonesia Mutakhir. Jakarta: Pustaka Jaya Soetardja, I. 1995. Memahami Cakrawala Sastra dan Kehidupan. Jakarta: Ariadne. Sugono, Dendy (Ed.) 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Pusat Bahasa Wijaya, Ganjar H. 1998. Cerminan Pembelajaran Hidup Manusia dalam Cerpen-Cerpen Kuntowijoyo. Skripsi S-1 Fakultas Sastra UNS. Wijaya, Ganjar H. 2003. Pembelajaran Olah Rasa dan Mawas Diri ala Kuntowijoyo (makalah Seminar Sehari 60 Tahun Kuntowijoyo, Aula UGM Yogyakarta, 18 September 2003)

Riwayat Hidup dan Karya Prof. Dr. Kuntowijoyo Kuntowijoyo dilahirkan di Desa Sorobayan (Sanden, Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943 serta menghabiskan masa kecilnya di Desa Ngawonggo, Klaten, di wilayah Kecamatan Ceper dan Solo) dan meninggal di Yogyakarta, pada 22 Februari 2005. Anak kedua dari sembilan bersaudara ini dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah yang dekat dengan dunia seni. Ayahnya yang Muhammadiyah juga suka mendalang. Dia diasuh dalam kedalaman religius dan seni. Dua lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhannya semasa kecil dan remaja. Ia menikah pada tanggal 8 November 1969 dengan Susilaningsih, perempuan yang akrab dengan baju muslimah ini dikenalnya sejak 1967. Dari perkawinannya, Kuntowijoyo mempunyai dua orang anak, Punang Amaripuja dan Alun Paradipta. Pada waktu di sekolah dasar pada pertengahan tahun 1950-an, ia sering mendengarkan siaran puisi dari radio Surakarta, asuhan Mansur Samin dan Budiman S. Hartojo. Mentornya waktu kecil, M. Saribi Anifin dan M. Yusmanam, membuatnya terdorong untuk menulis karya sastra. Di SMA ia sudah membaca karya-karya sastrawan dunia, di antaranya karya Charles Dickens dan Anton Chekhov. Dengan bekal itu pada tahun 1964 ia menulis novel pertamanya, Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, yang

6

kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Djihad pada 1966. Selain itu, ia juga menulis cerpen dan drama-drama pendek untuk klubnya, tetapi ia baru mempublikasikan cerpen-cerpennya pada 1967 di majalah sastra Horison. Orang tua: H. A.W. Sosromartoyo (Ayah) Hj. Warasti (ibu) Mertua: H. M. Sutarmo Tjitrosuhartojo (ayah) Hj. Sukarsi (ibu, almarhum) Keluarga: Dra. Susilaningsih, M.A. (istri) Ir. Punang Amaripuja, S.E., M.Sc. (anak) Retnani Paraningsih (menantu) Alun Paradipta (anak). N 8 November 1969 Pendidikan: SRN, Ngawonggo, Klaten (1950—1956) Madrasah, Ngawonggo, Klaten (1950—1956) SMPN, Klaten (1956—1959) SMAN II, Surakarta (1959—1962) S1 (Sarjana) Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta (1962—1969) S2 (MA) Universisity of Connecticut, AS (1973—1974) S3 (Doktor) Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia, AS (1975—1980), dengan disertasi berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940. Karier: i k a h :

7

    

Asisten Dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM (1965-1970) Dosen Fakultas Sastra UGM (1970-2005) 1973—1980 tugas belajar September—Desember 1984, dosen tamu Universitas Filipina Juni—Agustus 1985, dosen tamu Universtias Michigan

Kegiatan Lain:     Sekretaris Lembaga Seni & Kebudayaan Islam (1963-1969) Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971) Pendiri Pondok Pesantren Budi Mulia (1980) Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980)

Karya-Karya Puisi    Suluk Awang-Uwung (Budaya Jaya, 1975) Isyarat (Pustaka Jaya, 1976) Makrifat Daun, Daun Makrifat (Gema Insani Press, 1995)

Novel       Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966) Khotbah di Atas Bukit (Pustaka Jaya, 1976) Pasar (Bentang Intervisi Utama, 1994) Impian Amerika (Yayasan Bentang Budaya bekerja sama dengan Pustaka Republika, 1998) Mantra Penjinak Ular (Penerbit Kompas, 2000—semula cerita bersambung di Harian Kompas) Waspirin dan Sutinah (Penerbit Kompas, 2003—semula cerita bersambung di Harian Kompas) Cerpen  Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, antologi—disunting oleh Sapardi Djoko Damono dan diberi kata pengantar oleh Sunu Wasono (Pustaka Firdaus,1992). Berisi 10 cerpen, yaitu:

8

         

“Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (semula dimuat dalam Majalah Sastra, No. 3/Th. VII/1969, hal. 3—7) “Anjing” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 10/Th. VI/1971, hal. 298—303,319) “Segenggam Tanah Kuburan” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 9/Th. V/1970, hal. 282—286) “Samurai” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 2/Th. VII/1972, hal. 43—47,63) “Serikat Laki-Laki Tua” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 8/Th. II/1967, hal. 248—252) “Sepotong Kayu untuk Tuhan” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 4/Th. VII/1972, hal. 100—104) “Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah” (semula dimuat dalam Majalah Sastra, No. 3/Th. VI/1968, hal. 4—7,18,31) “Ikan-ikan dalam Sendang” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 6/Th. II/1967, hal. 169—172) “Mengail Ikan di Sungai” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 12/Th. V/1970, hal. 364—367) “Burung Kecil Bersarang di Pohon” (semula dimuat dalam Majalah Horison, No. 3/Th. VI/1971, hal. 84—88,93)

Lima cerpen yang semula akan dimuat dalam antologi ini, yaitu:      “Musyawarah Satu Sembilan Enam Dua” (Majalah Moment, No. 1/Th. II/1969, hal. 20—24) “Hari Libur Bersama Seekor Kambing Perahan” (Majalah Horison, No. 8/Th. VII/1970, hal. 234—239) “Jiwa yang Damai Kembalilah kepada Tuhan” (Majalah Moment, No. 2—4/5/Th. II/1969, hal. 22—23;24—25, 28) “Politik Kakakku Yudo” (Majalah Horison, No. 5/Th. VI/1971, hal. 148—152;156) “Jangan Ditebang Pohon Itu” (belum pernah dimuat, dikirim kepada H.B. Jassin)

9

Hampir sebuah Subversi, antologi—berisi 27 cerpen yang pernah dimuat di Majalah Horison, Jurnal Ulmumul Quran, Jurnal Kalam, Kompas, Republika, dan Minggu Pagi (Grasindo,1999)

 

Cerpen pilihan Republika:         “Pada Hari Kematian Seekor Kerbau” (2002, dimuat dalam antologi Pembisik) “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri” (1995, dimuat dalam antologi Laki-Laki yang Kawin dengan Peri) “Pistol Perdamaian” (1996, dimuat dalam antologi Pistol Perdamaian) “Sampan Asmara” (1996, dimuat dalam antologi Pistol Perdamaian) “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997, dimuat dalam antologi Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan) “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan” (1997, dimuat dalam antologi Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan) “Tawanan” (2002, dimuat dalam antologi Jejak Tanah) “Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing” atau “Jl. Asmaradana” (2005, dimuat dalam antologi Jl. Asmaradana) Cerpen pilihan Kompas:

Drama    Fabel  Mengusir Matahari (Pustaka Hidayah, 2000) Rumput-Rumput Danau Bento (1968) Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas (1972) Topeng Kayu (1973)

Nonfiksi     Budaya dan Masyarakat (1987) Begawan Jadi Capres: Cak Nur Menuju Istana (KPP, 2003) Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994) Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985, kerjasama Penerbit Shalahuddin Press dan Pustaka Pelajar , 1994)

10

            

Identitas Politik Umat Islam (Mizan, 1997) Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (2004) Metodologi Sejarah (1994, FIB UGM 2003) Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental (2001) Muslim Tanpa Mitos: Dunia Kuntowijoyo Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991) Pengantar Ilmu Sejarah (1995) Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa (2005) Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850—1940 (Matabangsa bekerja sama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan the Ford Foundation, 2002) Radikalisme Petani (1993) Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta 1900—1915 (2004) Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas: Esai-Esai Budaya dan Pilitik (Mizan Pustaka, 2002)

Hadiah       Hadiah Harapan dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia untuk Naskah drama Rumput-Rumput Danau Bento, 1968 Hadiah Pertama Sayembara Cerpen Majalah Sastra untuk Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, 1968 Hadiah Sayembara Penulisan Lakon dan Dewan Kesenian Jakarta atas naskah Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas, 1972 Hadiah Sayembara Mengarang Roman dan Panitia Tahun Buku Internasional untuk novel Pasar, 1972 Hadiah Penulisan Lakon dan Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Topeng Kayu, 1973 Hadiah Cerpen Terbaik Kompas tahun 1995, 1996, 1997, 2005 untuk cerpen Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Pistol Perdamaian (1996),

11

Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jl. Asmaradana (2005)

Penghargaan: 1986 Penghargaan Sastra Indonesia dari Pemerintah Daerah Yogyakarta 1994 Penghargaan Penulisan Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga 1994 Penghargaan Penulisan Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995 Penghargaan Kebudayaan ICMI 1997 Asean Award on Culture 1997 Satya Lencana Kebudayaan RI 1998 Mizan Award 1999 Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek 1999 S.E.A. Write Award dari Pemerintah Thailand 2001 Penghargaan Sastra dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2001 atas novel Mantra Pejinak Ular 2002 Penghargaan Khusus Kompas untuk Kesetian Berkarya di Bidang Cerpen 2004 Khatulistiwa Literary Award untuk karya novel Waspirin dan Sutinah 2005 Anugerah Pena 2005 untuk Pengabdian di Bidang Sastra dari Forum Lingkar Pena (FLP) Makalah, Esai, dan Artikel Kuntowijoyo 1970 "Angkatan Oemat Islam: Beberapa Catatan Mengenai Gerakan Islam Lokal 1945—1950“, makalah, disampaikan dalam Seminar Sedjarah Nasional II, Yogyakarta, 26—29 Agustus 1970 1970 "Dunia Batin Orang Djawa: Analisa atas Kidungan“, Majalah Budaja Djaja, No. 25 tahun III, Juni 1970 1972 "Sastra, Suatu Anti Tiran“, Majalah Budaja Djaja, No. 42 Tahun V, April 1972 (semula esai ini adalah makalah yang disampaikan dalam ceramah pada Triwarsa Persada Studi Klub Yogyakarta) 1973 "Tentang Program Sastra“, Majalah Budaja Djaja, No. 59 Tahun VI, April 1973 (semula esai ini adalah makalah Pertemuan Sastrawan Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Desember 1972)

12

1980 “Aspek-Aspek Sosial yang Melatarbelakangi Pergerakan Mahasiswa”, makalah disampaikan dalam Seminar Pergerakan Mahasiswa di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Oktober 1980 1981 "Peristiwa Sejarah dan Karya Sastra“, Makalah pada Seminar Ilmu dan Seni yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Studi Kebudayaan, UGM, tahun 1981 1982 "Saya Kira Kita Memerlukan Juga Sebuah Sastra Transendental“, Harian Berita Buana, Selasa, 21 Desember 1982, hal. 4 1982 "The Dutch Administrative Reform and The Local Nobility of Madura, 1850—1900“, makalah, dibacakan dalam sebuah seminar di Manila, 25—28 Januari 1982 1983 "Penokohan dan Perwatakan dala Sastra Indonesia“, Majalah Basis, No. 32, Januari 1983 (semula esai ini adalah makalah pada Seminar Psikologi—Kesenian, pada tanggal 20 September 1982, di Taman Budaya Yogyakarta) 1983 "Umat Islam dan Industrialisasi Indonesia: Kancah Pergulatan baru“, makalah, disampaikan dalam Panel Diskusi Kebijakan Operasional Pembangunan Nasional Purna Pelita II, diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Agribisnis dan Univeritas As-Syafiiyah, Jakarta, 19 Maret 1983 (dengan judul lain pernah dimuat dalam Majalah Prisma, No. 11—12, November/Desember 1983, hal. 64—73 dan versi Inggrisnya juga dimuat dalam Prisma edisi Inggris, No. 31 Maret 1984, hal. 57—66) 1983 "Membendung Kecenderungan Munculnya Kelas Kapitalis“, Majalah Panji Masyarakat, No. 389, Tahun XXIV, 11 Maret 1983 1984 "Agama, Negara, dan Formasi Sosial: Sejarah Alienasi dan Oposisi Islam di Indonesia“, Majalah Prisma, No. 8 Tahun 1984, hal. 34—46 (semula dipersiapkan sebagai prasaran kuliah untuk Faculty Center, Universitas Filipina, Manila, 22 Februari 1984. Dimuat juga dalam Southeast Asian Journal of Social Science, No. 1/Vol. 15/1987, hal. 1—15) 1985 "Konsep Teoretis Ilmu dan Konsep Normatif Agama: Kajian Perkembangan Budaya“, makalah, disampaikan dalam Simposium Citra Religius Kampus, Universitas Sultan Agung, Semarang, 13 Mei 1985 1985 "Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910—1950: Sebuah Pencarian Identitas“, Majalah Prisma, No. 11 Tahun 1985, ha. 35—51 (semula merupakan makalah dalam seminar tentang History and Underdevelopment: The Cambridge-Delhi-Yogyakarta-Leiden Project for Comparative Study of Indonesia and India, New Delhi, 2—6 Januari 1985 dan pernah juga dimuat dalam India and Indonesia from the 1920s to 1950s: The Origin of Planning, Leiden, Center for History of European Expansion, 1986) 1985 "Teater Total, Eksperimen Serba Ada Teater Tikar Yogya“, Harian Sinar Harapan, Sabtu, 5 Januari 1985, hal. 7 1985 “Posisi Sosial Ummat Islam Indonesia dari Masa ke Masa”, makalah, disampaikan dalam ceramah ilmiah menyambut HUT HMI ke-38, pada tanggal 5 Februari 1985, di Yogyakarta 1986 "Pembauran Islam-Tionghoa: Tinjauan dari Aspek Sosio-Kultural, makalah, disampaikan dalam Seminar Islam dan Pembauran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 6—7 Mei 1986 1986 "Sastra Indonesia Mencari Arah“, Harian Berita Buana, Selasa, 16 Desember 1986 (dimuat kembali di Harian Berita Yudha, Kamis, 13 April 1989, hal. 5, dengan judul yang sama dan isi tulisan yang diperluas) 13

1987 "Cita-Cita Transformasi Islam“, bahan Ceramah Ramadhan di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11 Mei 1987 1987 "Sebuah Program Reaktualisasi: Lima Model Reinterpretasi“, bahan Ceramah Ramadhan di Gelanggang Shalahuddin UGM, Yogyakarta, 21 Mei 1987 1987 "Strategi Budaya Islam: Mempertimbangkan Tradisi“, makalah, disampaikan dalam diskusi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 10 Mei 1987 1987 "Transformasi Kehidupan Agama dan Organisasi-Organisasi Islam: Perspektif Asia Tenggara“, makalah, disampaiakn pada Konferensi Popular History of the Asean Countries, Bangkok, 2—5 Oktober 1987 1987 "Visi Teologis Islam dan Problem Peradaban Modern“, bahan Ceramah Ramadhan di Masjid Syuhada, Yogyakarta, 6 Mei 1987 1988 "Dampak Sosial-Historis, Ekologi dan Kependudukan: Madura pada Pertengahan Pertama Abad ke-20 dengan Rujukan Permasalahan Masa Kini“, makalah, disampaikan dalam Seminar Kependudukan, yang diselenggarakan PAU-Studi Sosial, UGM, 28—29 November 1988 1988 "Islam dan Kelas Sosial: Upaya Konseptualisasi“, makalah, disampaikan dalam ceramah ilmiah di HMI Komisariat Fakultas Syariah Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11 September 1988 1988 "Masyarakat Desa dan Radikalisasi Petani“, makalah, disampaikan dalam Seminar Desa dalam Perspekstif Sejarah, diselenggarakan oleh PAU-Studi Sosial, UGM, 10—11 Februari 1988 1988 "Paradigma Islam tentang Transformasi Sosial“, makalah, disampaikan dalam ceramah ilmiah di Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 4 Juli 1988 1988 "Peranan Pesantren dalam Pembangunan Desa: Potret Sebuah Dinamika“, Majalah Prisma, No. 1, Januari 1988, hal. 102—115 (semula adalah makalah untuk seminar bulanan P3PK, UGM, Yogyakarta, 7 Januari 1988) 1988 "Sastra Priyayi sebagai Sebuah Jenis Sastra Jawa“, Majalah Basis, No. 9 Tahun 37, September 1988 1989 "Gerakan Sosial Muhammadiyah: Adaptasi atau Reformasi“, Jurnal Keadilan, No. 2/Th. XV/1989, hal. 26—28 (pernah juga dimuat dalam majalah Suara Masjid, No. 170, November 1988) 1989 "Islam dan Agenda Nasionalisme Baru: Refleksi tentang Persatuan dan Kesatuan Bangsa“, makalah, disampaiakn dalam Silaturahmi Pimpinan ABRI dengan Cendekiawan, Yogyakarta, 17—18 Februari 1989 (pernah dimuat secara tidak utuh dalam Jurnal Prospek, No. 1, Th. I/1990, hal. 1—7) 1989 "Kebijakan Pengembangan Pendidikan Tinggi Islam“, makalah, disampaikan pada sarasehan di Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan, Yogyakarta, 18 Desember 1989 1990 "Demitologisasi Sejarah Indonesia“, Jurnal Ulumul Quran, No. 7/Vol. 11/1990, hal. 113—115 1990 "Integritas Sains Sosial dengan Nilai-Nilai Islam: Sebuah Upaya Perintisan“, makalah, disampaikan dalam seminar tentang Islam in ASEN’s Institution of Higher Learning II: Islam and Social Sciences, yang diselenggarakan Universitas Kebangsaan Malaysia, Darul Ehsan, 10—13 November 1990 1990 "Mitos Politik dalam Historiografi Tradisional: Kaliwungu dan Serat Cebolek“, makalah, disampaikan pada Seminar Nasional Gerakan Pembaharuan Abad ke-19: Gerakan Rifa’iyah, Yogyakarta, 12—13 Desember 1990 14

1990 "Serat Cebolek dan Mitos tentang Pembangkangan Islam: Melacak Asal-Usul Ketgarangan antara Islam dan Birokrasi“, Jurnal Ulumul Quran, No. 5/Vol. II/1990, hal. 63—72 (semula merupakan makalah yang disampaikan pada Konferensi Sejarahwan belanda—Indonesia, Nederland, 23—27 Juni 1986) 1991 "Budaya Birokrasi di Indonesia“, Majalah Editor, No. 38/IV/8, Juni 1991, hal. 33—35 1991 "Kebudayaan Indonesia Kontemporer“, Harian Singgalang, Senin 4 Februari dan 11 Februari 1991, hal. 4 [semula esai ini adalah makalah pada Simposium Martabat Manusia Indonesia yang diselenggarakan oleh Yayasan Soedjatmoko, tanggal 23 Januari 1991 di Jakarta, dalam rangka memperingati Prof. Soedjatmoko. Esai ini dimuat juga di harian Kompas (28—29 Januari 1991), Media Indonesia (26—29 Januari 1991), dan Pikiran Rakyat (28—29 Januari 1991), tulisan tersebut mendapat tanggapan baik dan kritik tajam dari Arief Budiman (“Sistem Sosial dan Sistem Budaya”, Harian Kompas, Rabu 13 Februari 1991)] 1991 "Madura for Sale: Coping with Economic Underdevelopment of A Secondary City“, makalah, dibacakan pada konferensi tentang Madura yang diselenggarakan KITLV di Leiden, 6—12 Oktober 1991 1991 "Mitos, Sastra, Sejarah, dan Pewarisan Pengalaman“, Harian Republika, Sabtu, 29 April 1991 1991 "Power and Culture: The Abipraya Society of Surakarta in The Early Twentieth Century“, makalah disampaikan pada A Conference on Modern Indonesia Culture: Asking the Right Question yang diselenggarakan Asian Studies, School of Social Sciences, Flindeers University, Adelaide, South Australia, 28 September—3 Oktober 1991 1991 "Sensibilitas Kelas Menengah: Pers Cenderung Menyetujui daripada Bersikap Kritis“, Harian Surabaya Post, Senin, 15 Juli 1991, hal. 4 1991 "Sumur Ajaib: Dominasi dan Kesadaran Tandingan di Surakarta Awal Abad XX“, makalah, disampaikan dalam Simposium Ilmu-Ilmu Humaniora di Fakultas Sastra UGM, tanggal 4—5 Maret 1991 1994 "Islam dan Kebangsaan“, Harian Kompas, Selasa, 11 Oktober 1994, hal. 4 1994 "Masalah Kritik Sejarah“, Harian Republika, Kamis, 3 November 1994, hal. 6 1995 “Kembali ke Fitrah: Jangan Seorang pun Menangis”, Harian Republika, Kamis, 2 Maret 1994 „Kesadaran Nasional, SI dan ICMI“, Harian Republika, Rabu, 14 Desember 1994, hal. 6 1995 "Otak-atik, Otak-otot, dan Otak-otak“, Harian Republika, Rabu, 16 Agustus 1995, hal. 6 1995 “Tjokro, Natsir, dan Habibie”, Majalah Ummat, No. 9/I/30, Oktober 1995, hal. 34—35 1995 "Tragedi Moro: Ketidakadilan Berbuah Kekerasan, Kekerasan Beranak Kekejaman“, Harian Republika, Rabu, 19 April 1995 1995 “Bagaimana Membaca “Prahara Budaya”?: Budaya, Politik, dan Teori Perubahan”, Harian Republika, Kamis, 13 April 1995 1996 "Masalah-Masalah Politik dalam Industrialisasi“, Majalah Ummat, No. 26/I/24, Juni 1996 1996 "Membawa Tuhan ke dalam Lembaga dan Budget“ (Esai Pemilu), Majalah Ummat, No. 20/I/24, Juni 1996

15

1996 "Menjadi Politisi yang Beriman“, Majalah Ummat, No. 19/I/11, Maret 1996, Esai Pemilu, Hal. 24—25 1998 "SOS Wayang Sadat“, Harian Republika, Kamis, 8 Januari 1998, hal. 12 2000 "Selamat Tinggal Mitos”, Harian Kompas, Kamis, 24 Agustus 2000 2001 "Radikalisasi Pancasila", makalah disampaikan dalam seminar ilmiah yang digelar oleh Pusat Penelitian Strategi dan Kebijakan (PPSK) Yogyakarta di gedung Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UGM, Rabu, 24 Januari 2001 Buku, Makalah, Esai, Artikel, dan Obituari tentang Kuntowijoyo dan Karyanya 1971 “Chotbah di Atas Bukit Menurut Saya”, U. H. Martono, Harian Kompas, 15 September 1971, hal. 4 1972 “Sastra, Suatu Anti Tiran? (Beberapa Tanggapan atas Ceramah Drs. Kuntowijoyo)”, Peter Hagul, Harian Kompas, 14 April 1972. 1977 Laut Biru Langit Biru, Bunga Rampai Sastra Indonesia Mutakhir. Ajip Rosidi, 1977. Jakarta: Pustaka Jaya 1979 Cerita Pendek Indonesia 4, Satyagraha Hoerip, 1979, Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengembagan Bahasa 1980 “Tokoh Tua dan Anak pada Cerpen Kuntowijoyo”, Korrie Layun Rampan, Harian Suara Karya, Jumat, 5 September 1980, ha. 4 1981 “Kuntowijoyo: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga“, Korrie Layun Rampan, Harian Pelita, 24 Nopember 1981, hal. 5 1983 “Meramal “Isyarat”-nya Kuntowijoyo: Nada Pesimisme yang Sentimental”, Agus S.R. Baruri, Harian Terbit, Sabtu, 16 juli 1983, hal. 4 & 8 1987 “Keterbukaan dan Kreativitas Kuntowijoyo, Sejarawan”, Majalah Prisma, No. 8 Tahun 16, 1987, hal. 63—65 1988 “Karya Kuntowijoyo: Menolak Ratu Adil dan Gagasan Nietzsche tentang Manusia Agung”, Th. Sri Rahayu Prihatmi, 5 Agustus 1988 1990 "Dr. Kunto, Membangun dengan Semangat Tauhid“, Harian Pelita, Selasa, 17 April 1990, hal. 12 1994 “Kuntowijoyo”, Harian Kompas, 12 Juni 1994, hal. 8 1996 Pasar Dalam Perspektif Greimas, Jabrohim, 1996, Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 1998 “Dr. Kuntowijoyo: Nasionalisme Politik Masa Depan Harus Akui Pluralitas”, Harian Bernas, 18 Agustus 1998 1999 Kuntowijoyo: Sastrawan Indonesia Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara, Abdul Rozak Zaidan dan Nikmah Sunardjo, 1999, Jakarta:Pusat Bahasa 2000 Biografi Kuntowijoyo dan Karyanya dalam Kompas, Nikmah Sunardjo, Jakarta:Pusat Bahasa 2001 “Kuntowijoyo: Bermula Dari Sebuah Surau” , Amien Wangsitalaja, Majalah Horison, No.2 Tahun XXXIV Feb 2001, hal. 12—13 2002 “Sastra Transformatif-Transendental Kuntowijoyo”, Dedi Ahimsa, Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 25 Juli 2002 2003 “Kuntowijoyo Membedah Madura”, Marluwi, Harian Pontianak Post, Minggu, 20 Juli 2003 2003 “Menuju Sastra Indonesia Profetik”, Amien Wangsitalaja, Harian Republika, Minggu, 29 Juni 2003

16

2003 “Pembelajaran Olah Rasa dan Mawas Diri Ala Kuntowijoyo”, Ganjar H. Wijaya, makalah Seminar Sehari 60 Tahun Kuntowijoyo, Aula UGM Yogyakarta, 18 September 2003 2003 “Saatnya Seni Profetik Kuntowijoyo dan Hamdy Salad”, Amien Wangsitalaja, Minggu Pagi, Minggu, 23 November 2003 2004 Cerpen-cerpen Pilihan Kompas 1992—2002: Analisis Struktur, Maini Trisna Jayawati, dkk., 2004. Jakarta:Pusat Bahasa 2004 “Memetik Pesan Moral dalam Cerpen”, Mahmudien Nachrowi, Harian Republika, Minggu, 19 Desember 2004 2005 “Kuntowijoyo (1943-2005) dan Kritiknya Terhadap Muhammadiyah”, Ahmad Syafii Maarif , Harian Republika, Selasa, 01 Maret 2005 2005 “Kuntowijoyo di Balik Puisi-puisinya”, Iman Budhi Santosa, Minggu Pagi, Minggu, 24 Juli 2005 2005 “Kuntowijoyo Sang Begawan”, Abdul Munir Mulkhan,Harian Kompas, Kamis, 24 Februari 2005 2005 “Kuntowijoyo, Budayawan Profetik”, Idi Subandy Ibrahim, Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 01 Maret 2005 2005 “Membangkitkan Kembali Sastra Profetik”, David Krisna Alka, Harian Sinar Harapan, Minggu, 2 Desember 2005 2005 “Obituari: Akhirnya, Kuntowijoyo Berjalan di Atas Mega”, Yuyuk Sugarman, Harian Sinar Harapan, Rabu, 23 Februari 2005 2005 “Obituari: Budayawan Kuntowijoyo Tutup Usia”, Liputan 6 SCTV, 23 Februari 2005 09:09 2005 “Obituari: Meski Sakit, Tetap Rajin Berkarya”, Nurhandoko, Harian Pikiran Rakyat, Rabu, 23 Februari 2005 2005 “Obituari: Selamat Jalan Pak Kuntowijoyo...”, Fuska Sani Evani, Harian Suara Pembaruan, 23 Februari 2005 2005 “Realisme Udik Kuntowijoyo (1943-2005), Binhad Nurrohmat, Harian Kompas, Minggu, 20 Maret 2005 2005 “Selamat Jalan Mas Kuntowijoyo”, Soni Farid Maulana, Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 24 Februari 2005 2005 “Wafatnya Penghidup Sastra Yang Menghidupi”, Abang Eddy Adriansyah, http://www.cybermq.com/cybermq/detail_artikel. Wawancara 1983 “Ada Jarak Antara Generasi”, Majalah Panji Masyarakat, No. 412 Tahun XXV, 1 November 1983, hal. 28—30 1985 “Demi Eksistensi Terpaksa Harus Perang: realitas Sejarah Bisa Saja Jadi Tragedi”, Majalah Eksponen, No 9 Tahun XIV, Desember 1985, hal. 1—7 1985 “Tugas Cendekiawan Muslim dalam Masyarakat Teknokratis”, Majalah Panji Masyarakat, No 469 Tahun XXVI, 1 Juni 1985, hal. 38—40 1985 “Dr. Kuntowijoyo, Sastrawan Dosen: Macam-macam Masyarakat Bilang tentang Saya“, Djujuk Juyoto, Harian Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 1985, hal. 7 1987 “Ronggowarsito, Sastra Profetik dan Seni Religius”, Harian Berita Buana, Selasa, 10 Februari 1987, hal. 4 1988 “Kuntowijoyo Tidak Setuju Sufisme Dianggap Pelarian”, Harian Surabaya Post, Kamis, 21 Juli 1988

17

1988 “Dr. Kuntowijoyo: State of Mind”, Majalah Suara Muhammadiyyah, No. 6 Tahun 68, Maret 1988, hal. 58 1988 "Perlunya Ilmu Sosial Profetik“, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 1, Vol. 1, April—Juni 1989, hal. 12—15 1988 “Kuntowijoyo: Dunia Sastra Dunia Alternatif”, Harian Berita Buana, Selasa, 2 Agustus 1988, hal. 4 1988 “Proses Izin Penelitian Masih Terlalu Berbelit”, Harian Surabaya Post, Selasa, 13 Desember 1988, ha. 1 & 2 1990 “Dr. Kuntowijoyo“, Th. Pudjo Widijanto dan St. Sularto, Harian Kompas, Minggu, 9 September 1990, hal. 2 1990 “Perlu Kesadaran Qurani dalam Penelitian Ilmiah”, Majalah KIBLAT, No. 44 Tahun XXXVII, 28 November—11 Desember 1990, hal. 11—17 1991 “Perlu Evaluasi terhadap Gerakan Pembaruan Islam”, Harian Pelita, Sabtu, 23 Maret 1991, hal. 1 & 8 1991 “Kami Tidak Akan Mengintervensi Organisasi Lain” (sehubungan dengan pendirian ICMI), Harian Terbit, Senin, 9 Desember 1991, hal. 1 1994 “Saya Seperti Seorang Pengembara”, Ahmad Syaily dan Eko Widyatno (reporter), Harian Republika, Jumat, 20 Mei 1994, hal. 4 1994 "Siapa yang Sendirian akan Diterkam Serigala“, Majalah Detik, 18—24 Mei 1994 1994 “Mahasiswa Seharusnya Memang Berpihak“, Elik Susanto, Harian Republika, Minggu, 30 Oktober 1994, hal. 2 1995 “Jangan Hanya Ummat Islam yang Dipersalahkan”, Harian Republika, Senin, 10 April 1995. 1999 “Budayawan Kuntowijoyo: Sejarah Nasion RI Akan Survive“, I. Ardiansyah (reporter), Senin, 9 Agustus 1999, http://www.detik.com/berita

Kuntowijoyo: Apa dan Siapa dapat juga dilihat di : http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa (Pusat Data dan Analisa Tempo) http://id.wikipedia.org/wiki/Kuntowijoyo http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/kuntowijoyo (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

18

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful