SKRIPSI HUKUM TENTANG

“ PERATAAN LABA HUBUNGANNYA DENGAN RETURN dan RESIKO PASAR SAHAM PERUSAHAAN LQ 45 YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA ( BEJ) “

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan dunia usaha menuntut adanya persaingan bisnis yang semakin ketat. Persaingan ini mendorong para manajer untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja perusahaannya. Baik buruknya kinerja suatu perusahaan, akan mempengaruhi pertimbangan investor dalam melakukan investasi. Semakin baik kinerja suatu perusahaan, maka semakin banyak pula aliran dana yang akan diterima dari investor. Gambaran kinerja perusahaan dapat dilihat pada laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan mengandung informasi – informasi akuntansi yang dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan dalam proses pengambilan keputusan bagi investor, informasi tersebut seringkali menjadi pedoman dalam melakukan analisis saham suatu perusahaan atau untuk memprediksi prospek earning di masa datang. Informasi laba merupakan komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan untuk menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, meramalkan laba, menaksir risiko

2

dalam berinvestasi. ( Sugiarto, 2003 : 350 ). Dalam Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) Nomor 1, dijelaskan bahwa informasi laba pada umumnya merupakan perhatian utama dalam menaksir kinerja atau

pertanggungjawaban manajemen dan informasi laba membantu pemilik atau pihak lain melakukan penaksiran atas earning power di masa yang akan datang

3

(Murtanto, 2004). Dengan melihat informasi laba pada laporan keuangan, maka pihak pengguna informasi pada laporan keuangan dapat melihat kinerja serta memprediksi keadaan perusahaan di masa yang akan datang. Zulaikha dan Hidayati ( 2003 ) menjelaskan bahwa Investor seringkali memperhatikan informasi laba tanpa memperhatikan lebih jauh proses dan prosedur untuk menghasilkan laba tersebut, mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba ( earning manajemen ). Adanya keleluasaan manajemen untuk memilih metode akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan, membuat manajer semakin termotivasi untuk mentransformasikan laporan keuangan. Usaha manajer dalam memanipulasi laba dapat ditempuh dengan cara memaksimalkan/meminimalkan laba dan mengurangi fluktuasi laba (meratakan laba), hal ini bergantung pada motivasi dalam meratakan laba tersebut. Manajemen laba berkaitan erat dengan perataan laba (income smoothing), di mana perataan laba merupakan salah satu aspek dalam manajemen laba. Perataan laba merupakan tindakan manajemen yang dilakukan secara sukarela yang dimotivasi oleh adanya aspek behavioural dalam perusahaan maupun lingkungannya. Adanya keinginan manajemen untuk meningkatkan kepuasan pihak-pihak internal (pemilik dan pemegang saham) dan pihak-pihak eksternal (investor, kreditor, pemerintah) atas kinerjanya, mendorong manajemen untuk meratakan labanya. ( Brayshaw dan Eldin, 1989 ) Tindakan perataan laba yang diambil oleh manajemen adalah untuk memberikan persepsi pada para pemegang saham atas variabilitas earnings, karena tindakan seperti itu dapat memberi pengaruh yang positif pada nilai pasar

6

perusahaan. Dalam melakukan investasi, investor akan memperkirakan jumlah tingkat laba yang diharapkan (expected return) investasinya untuk suatu periode tertentu di masa yang akan datang. Tetapi tingkat laba yang direalisasikan bisa menjadi lebih tinggi atau bahkan lebih rendah dari yang diharapkan. Ketidakpastian tingkat laba tersebut merupakan risiko yang harus

dipertimbangkan oleh investor. Oleh karena itu, dalam hubungannya dengan perataan laba, investor akan membayar lebih banyak untuk perusahaan dengan aliran perataan laba (Michelson et al, 1995). Perataan laba (income smoothing), yang terjadi di pasar saham berpengaruh bagi para pemegang saham. Bagi investor hal yang menjadi pertimbangan dalam melakukan investasi saham adalah bagaimana kinerja saham tersebut, dengan jalan melihat keuntungan (return) yang diukur dari perubahan harga saham dan deviden yang akan diperoleh dengan tingkat risiko (risk) tertentu. Investor akan tertarik melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai return tinggi tetapi mempunyai tingkat risiko rendah. Apabila return perusahaan naik, tetapi risiko perusahaan juga naik, maka investor tidak akan tertarik melakukan investasi pada perusahaan tersebut. Investor akan tetap tertarik melakukan investasi pada suatu perusahaan apabila tambahan return tersebut bisa mengkompensasi tambahan risiko yang muncul. Kepuasan pemegang saham meningkat dengan adanya rata – rata pertumbuhan pada laba perusahaan dan adanya laba yang stabil ( Gordon 1964 dalam Salno, 2000 : 17 – 34 ) Hasil penelitian mengenai perata laba yang dilakukan oleh Salno dan Baridwan ( 2000 ) menyimpulkan bahwa antara perusahaan perata laba dan bukan

7

perata laba tidak terdapat perbedaan return dan risiko, selanjutnya dalam penelitian Michelson et . al ( 1995 ) menghasilkan simpulan yang berbeda, disimpulkan bahwa perusahaan yang melakukan perataan laba memiliki return dan risiko lebih rendah secara signifikan daripada perusahaan yang tidak melakukan perata laba. Berdasar uraian diatas , maka penulis tertarik untuk meneliti ada tidaknya perbedaan kinerja saham ( return dan risiko ) antara perusahaan perata laba dan bukan perata laba pada perusahaan dalam daftar LQ 45 yang listing di BEJ pada periode 1999 – 2003 dalam menyusun skripsi dengan judul “ Perataan Laba Hubunganya Dengan Return dan Risiko Pasar Saham Perusahaan LQ 45 Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta ( BEJ) “

B. Perumusan Masalah Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana praktek perataan laba pada perusahaan – perusahaan yang go publik, yang terdaftar di BEJ 2. Apakah terdapat perbedaan return saham antara perusahaan perata laba dan perusahaan yang bukan perata laba? 3. Apakah terdapat perbedaan risiko pasar saham antara perusahaan perata laba dan perusahaan yang bukan perata laba?

8

C. Batasan Masalah Agar pembahasan dalam penelitian yang akan dilakukan terarah sesuai dengan perumusan masalah, maka difokuskan pada perbandingan return dan risiko pada perusahaan perata laba dan bukan perata laba yang masuk dalam daftar LQ 45 yang listing di BEJ pada periode 1999 – 2003.

D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk membuktikan ada tidaknya praktek perataan laba pada perusahaan yang go publik, yang terdaftar di BEJ. b. Membandingkan return saham pada perusahaan perata laba dan bukan perata laba yang terdaftar di BEJ. c. Membandingkan risiko saham pada perusahaan perata laba dan bukan perata laba yang terdaftar di BEJ. 2. Kegunaan Penelitian Penelitian diharapkan berguna bagi : a. Bagi Investor dan Calon Investor, memberikan masukan bagi Investor dan calon Investor dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan Investasi. b. Bagi Penulis, untuk manambah wawasan dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk menerapkan analisa return dan risiko yang didapat dari bangku kuliah.

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori Terdahulu Michelson et. al (1995) menganalisis adanya perataan laba yang terjadi di pasar dengan meneliti 500 saham yang ada di Standard and Poor’s 500 Index (S&P 500) pada tanggal 31 Desember 1991 dan mengklasifikasikan laba yang diteliti menjadi empat, yaitu laba operasi setelah depresiasi, laba sebelum pajak, laba sebelum extraordinary items, dan laba bersih yang dikumpulkan dari Standard and Poor’s COMPUSTAT antara tahun 1980 sampai 1991. Dari 358 perusahaan yang menjadi sampelnya, Michelson et. al menemukan bahwa perusahaan yang meratakan labanya secara signifikan mempunyai rata-rata return tahunan yang lebih rendah daripada perusahaan yang tidak meratakan labanya. Perusahaan perata laba juga mempunyai beta yang lebih rendah dan nilai pasar ekuitas yang lebih tinggi. Mereka juga menemukan bahwa perusahaan perata laba memiliki return dan risiko yang lebih rendah, dan biasanya merupakan perusahaan yang berukuran besar. Ini mengindikasikan bahwa perataan laba menurunkan risiko yang dapat diterima maupun risiko yang aktual perusahaan, sehingga pada akhirnya akan menurunkan return bagi investor yang berinvestasi pada perusahaan yang risikonya lebih rendah. Perusahaan dengan risiko yang lebih rendah dan perusahaan yang lebih stabil biasanya diidentifikasikan sebagai perusahaan besar dengan laba yang lebih konsisten. Penelitian ini sampai pada

10

kesimpulan akhir bahwa biasanya perusahaan besar dengan laba bersih yang stabil mempunyai risiko keseluruhan dan return yang lebih rendah. Salno dan Baridwan (2000) menganalisis faktor-faktor yang

mempengaruhi perataan laba, yang dikaitkan dengan kinerja saham 74 perusahaan yang terdaftar di BEJ dari tahun 1993-1996. Hipotesisnya yang pertama menyatakan apakah ukuran perusahan, margin laba bersih (net profit margin), kelompok usaha, dan status winner/losser stocks mempengaruhi peratan laba. Hasilnya menyatakan bahwa semua faktor tersebut tidak mempengaruhi perataan laba. Hipotesis kedua menyatakan apakah terdapat perbedaan return antara perusahaan perata laba dan perusahaan yang bukan perata laba. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan return antara perusahaan perata laba dan perusahaan yang bukan perata laba. Sementara itu, hipotesisnya yang ketiga menyatakan apakah terdapat perbedaan risiko antara perusahaan perata laba dan perusahaan yang bukan perata laba, yang hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan risiko di antara keduanya. Novianety Didit ( 2004 ) meneliti perbedaan kinerja saham antara perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba, dalam penelitianya, Didit menganalisis 85 perusahaan yang terdaftar di BEJ pada periode 1997 – 2002. Dengan menggunakan alat indeks eckel, Didit menemukan dari 85 perusahaan tersebut terdapat 29 perusahaan merupakan perusahaan yang melakukan perata laba. Hasil penelitianya menyatakan bahwa pertama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara return saham perusahaan perata laba

29

dan bukan perata laba, yang kedua terdapat perbedaan yang signifikan antara risiko saham antara perusahaan perata laba dan bukan perata laba. Kesamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Salno, Baridwan, dan Didi dengan skripsi ini adalah pemilihan model Eckel dalam mengklasifikasikan sampel menjadi perata laba dan bukan perta laba. Perbedaan antara penelitian Salno dan Baridwan dengan skripsi ini adalah penulis hanya menguji tindakan perataan laba dalam kaitannya dengan kinerja saham (return dan risk) tanpa menguji faktor yang diduga mempengaruhi tindakan perataan laba, selain itu periode yang digunakan sebagai dasar pengujian juga berbeda. Serta pada pembagian koefisien varibel, Salno dan Baridwan membagi koefisien variabel laba yang digunakan dalam model Eckel ke dalam tiga variabel yaitu laba

operasi, laba sebelum pajak, dan laba bersih setelah pajak.sedangkan koefisien variabel laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba bersih setelah pajak. Sedangkan antara penelitian yang dilakukan antara Didit dan penelitian ini adalah pada objek penelitian dan periode penelitian. Didit mengambil data laporan laba rugi perusahaan yang terdaftar di BEJ pada periode 1997 – 2002, sedangkan penelitian ini mengambil data laporan laba rugi perusahaan yang masuk dalam golongan LQ 45 yang terdaftar di BEJ. 2.2 Manajemen Laba Menurut Fiscehr dan Rosenweig (1995) yang dikutip oleh Sutrisno (2002), manajemen laba dapat didefinisikan sebagai berikut : “…tindakan seorang manajer dengan menyajikan laporan yang menaikkan (menurunkan) laba pada periode berjalan dari unit usaha yang menjadi tanggung

30

jawabnya, tanpa menimbulkan kenaikan (penurunan) profitabilitas ekonomi tersebut dalam jangka panjang.” Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setyawati dan Na’im, 2000). Manajemen laba dimungkinkan dilakukan oleh manajer apapun motivasinya, karena manajer memiliki informasi asimetri terhadap pihak eksternal (Afni dan Ihalauw, 2002). Strategi manajemen dalam melakukan manajemen laba yang dikemukakan oleh Wild, et al (2001:122) dalam Afni dan Ihalauw (2002), yaitu : 1. Increasing income, yaitu dengan mempercepat pencatatan pendapatan, menunda biaya dan memindahkan biaya untuk periode lain, untuk meningkatkan keuntungan. 2. Big bath, yang dilakukan saat perusahaan mengalami kemunduran kinerja, atau saat terjadi peristiwa yang tidak terjadi setiap harinya atau luar biasa. 3. Income smoothing, yaitu dengan sengaja menurunkan atau meningkatkan laba untuk mengurangi gejolak dalam pelaporan laba, sehingga perusahaan terllihat stabil atau tidak beresikotinggi. Scott (1997) mengidentifikasi adanya empat pola yang dilakukan manajemen untuk melakukan manajemen atas laba, yaitu : 1. Taking a bath, bentuk manajemen laba ini dilakukan pada periode kinerja yang buruk atau pada saat terjadi peristiwa yang jarang terjadi, maka dalam periode tersebut pengakuan laba akan diturunkan atau dinaikkan.

31

2.

Income minimization, pola ini dapat dilakukan dengan menangguhkan aset modal dan aset tidak berwujud secara cepat. Bentuk manajemen laba ini serupa dengan takin a bath namun dalam bentuk yang kurang ekstrim.

3. Income maximization, tujuan manajer menaikkan laba adalah untuk memenuhi tuntutan stakeholders serta pemakai laporan eksternal lainnya, dan untuk tujuan bonus. 4. Income smoothing, tujuan dilakukan perataan laba adalah untuk mengurangi variabilitas laba yang dilaporkan 2.3 Perataan Laba Tirole ( 1995 ) menyatakan perataan laba adalah proses manipulasi waktu terjadinya laba atau laporan laba agar laba yang dilaporkan kelihatan stabil. Sedangkan Beidleman ( 1973 ) menyatakan bahwa perataan laba adalah suatu usaha yang dilakukan manajemen untuk mengurangi atau menekan variasi dalam laba sepanjang hal itu diperbolehkan oleh Prinsip prinsip Akuntansi yang berlaku. Definisi lain dikemukakan oleh Barnea ( 1976 dalam Sugiarto 2003 ) perata laba adalah pengurangan yang disengaja terhadap fluktuasi pada beberapa level laba supaya dianggap normal bagi perusahaan. Koch ( 1981 dalam Salno dan Baridwan 2000 ) mendefinisikan perataan laba sebagai alat yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar mencapai suatu tingkat laba yang diinginkan oleh manajemen, baik melalui metode akuntansi maupun melalui transaksi. Menurut Sutrisno (2001), perataan laba merupakan suatu model dalam pembentukan tindakan manajemen laba dua periode, dimana manajer menggeser

32

laba tahun berjalan dengan kemungkinan laba di masa mendatang. Assih dan Gudono (2000) mendefinisikan perataan laba sebagai cara pengurangan dalam variabilitas laba sejunlah periode tertentu atau dalam satu periode, yang mengarah pada tingkat yang diharapkan atas laba yang dilaporkan. Perataan laba yang didefinisikan oleh Moses (1987) dalam Nasir, dkk (2002), merupakan suatu hubungan sebab akibat yang langsung antara fluktuasi earning dan risiko pasar. Sedangkan Fudenberg dan Tirole (1995) dalam Salno dan Baridwan (2000), menyatakan bahwa perataan laba adalah proses manipulasi waktu terjadinya laba laporan laba agar laba yang dilaporkan kelihatan stabil. Dalam penelitian ini, untuk menentukan terjadi atau tidaknya perataan laba, peneliti variation menggunakan indeks Eckel. variabel penjualan Eckel menggunakan coefficient dan variabel laba untuk

(CV)

bersih

mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kelompok perata atau bukan perata laba. Menurut Albrecth dan Richardson (1990) indeks Eckel memiliki kelebihan antara lain 1 Objektif dan didasarkan pada perhitungan statistik yang dapat menghasilkan pemisahan yang jelas (clear cut off) antara perusahaan perata dan bukan perata. 2 Indeks tersebut mengukur perataan dengan cara merata-rata pengaruh beberapa variabel perata tanpa memaksakan prediksi pendapatan, pembuatan model dari laba yang diharapkan, pengujian biaya, atau pertimbangan subjektif lainnya. Laba dan penjualan yang diuji adalah laba dan penjualan untuk beberapa periode.

33

2.3.1

Motivasi Perata Laba Beidleman ( 1973 ) menyatakan bahwa ada dua alasan yang digunakan

manajemen untuk melakukan perataan laba. Alasan pertama didasarkan pada asumsi bahwa aliran laba yang stabil dapat mendukung tingkat deviden yang lebih tinggi dibandingkan dengan aliran laba yang lebih berfluktuasi. Dengan anggapan tersebut, perataan laba diharapkan memberi pengaruh yang menguntungkan bagi nilai saham perusahaan karena risiko perusahaan dapat dikurangi. Yang kedua berkaitan dengan upaya meratakan kemampuan untuk mengantisipasi fluktuasi pada pola laba yang dilaporkan dan kemungkinan mengurangi korelasi antara return yang diharapkan perusahaan dengan return portofolio pasar. Bryshaw dan Eldin ( 1989 ) menemukan bahwa alasan manajemen melakukan praktek perata laba adalah : 1 ) skema kompensasi manajemen yang dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang disajikan dalam laba akuntansi yang dilapoorkan, 2) fluktuasi dalam kinerja manajemen dapat mengakibatkan intervensi pemilik untuk mengganti manajemen dengan cara pengambilalihan atau penggantian manajemen secara langsung. Ancaman penggantian manajemen tersebut mendorong manajemen untuk membuat laporan kinerja sesuai dengan keinginan pemilik. Sopa Sugiharto ( 2003 ) menjelaskan beberapa faktor yang mendukung perataan laba oleh manajemen antara lain ( Kompensasi bonus, Kontrak hutang, Faktor politik, Pengurangan pajak, Perubahan CEO ). Manajemen akan mendapatkan bonus jika melaporkan kinerja laba yang stabil, dengan perata laba manajemen dapat mencapai suatu tingkat laba yang diinginkan. Jika ingin

34

memperpanjang kontrak hutang manajemen dapat merekayasa jumlah laba yang diinginkan. Produsen domestic dapat menurunkan laba untuk mempengaruhi keputusan regulasi impor. Untuk mengurangi jumlah pajak terutang perusahaan bisa menurunkan jumlah laba dengan metode FIFO dalam persediaanya. Perekayasaan laba dilakukan pada periode satu tahun sebelum penggantian tak rutin excekutif. Adapun motivasi yang mendorong manajer untuk melakukan perataan laba (Scott, 1997), yaitu : 1. Bonus plans Laba sering dijadikan indikator penilaian prestasi manajer perusahaan, dengan cara menetapkan tingkat laba yang harus dicapai dalam periode tertentu. Laba juga dapat mengurangi biaya keagenan (agency cost). 2. Contracting incentives Secara umum untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kontraktual termasuk perjanjian hutang (debt convenants). 3. Stock price effets Manajer melakukan manajemen laba dalam laporan keuangan bertujuan untuk mempengaruhi pasar, yaitu persepsi investor. 4. Political motivations • Untuk mengurangi biaya politis dan pengawasan dari pemerintah, dilakukan dengan cara menurunkan laba.

35

Untuk memperoleh kemudahan serta fasilitas dari pemerintah, misalnya subsidi, perlindungan dari pesaing luar negeri, dilakukan dengan cara menurunkan laba.

Untuk meminimalkan tuntutan serikat buruh, dilakukan dengan cara menurunkan laba.

5. Taxations motivations Dalam hal ini manajer berusaha menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar. 6. Changes of Chief Executive Officer (CEO) Dalam kasus pergantian manajer biasanya di akhir tahun tugasnya manajer akan melaporkan laba yang tinggi, sehingga CEO yang baru akan merasa sangat berat untuk mecapai tingkat laba tersebut 2.3.2 Teknik – teknik Perata Laba

Sopa Sugiarto ( 2003 ) menjelaskan berbagai teknik yang digunakan dalam perataan laba adalah sebagai berikut : 1 Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi Pihak manajemen dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen sendiri (accruals). Misalnya pada biaya riset dan pengembangan. Selain itu banyak juga perusahaan yang menerapkan kebijakan diskon dan kredit sehinga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada bulan terakhir tiap kuarter, sehingga laba kelihata stabil pada periode tertentu. 2 Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu

36

Manajer memiliki kewenangan untuk mengalokasikan pendapatan dan atau beban untuk periode tertentu. Masalnya, jika penjualan meningkat maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan penelitian serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk menstabilkan laba. 3 Perataan melalui klasifikasi Manajemen memiliki kewenangan dan kebijakan sendiri untuk

mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya, jika pendapatan non-operasi sulit untuk didefinisikan maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non-operasi. Dan hal ini dapat digunakan sewaktu-waktu untuk meratakan laba melihat kondisi pendapatan periode itu 2.3.3 Tipe Perataan Laba Eckel (1981 dalam Michelson et. al, 1995) menggolongkan perataan laba kedalam dua tipe perataan, yaitu: 1. Natural Smoothing, di mana proses laba secara inheren menghasilkan aliran laba yang rata. Contohnya public utilities (perusahaan yang earning-nya relatif stabil). 2. Intentional Smoothing, yang biasanya dikaitkan dengan tindakan manajemen. Dalam hal ini, rangkaian laba yang dilaporkan dipengaruhi oleh tindakan manajemen. menjadi :
a.

Intentional smoothing diklasifikasikan

Real Smoothing, yang merupakan usaha yang diambil manajemen dalam merespon perubahan kondisi ekonomi. Perataan ini

37

menyangkut pemilihan waktu kejadian transaksi untuk mencapai sasaran perataan. b. Artificial Smoothing, merupakan suatu usaha yang disengaja untuk mengurangi variabilitas aliran laba secara artifisial. Perataan laba ini dicapai dengan menggunakan kebebasan memilih metode akuntansi yang memperbolehkan pemindahan biaya (cost) dan/atau pendapatan (revenue) dari suatu periode akuntansi ke periode yang lainnya. Artificial smoothing dapat dilakukan misalnya dalam pemilihan metode depresiasi, yaitu dengan mengubah taksiran umur aktiva. Tipe income smoothing yang diklasifikasikan oleh Eckel (1981) dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.1 Tipe Income Smoothing

Smooth Income Stream

Intentionally being smoothed by management

Naturally Smooth

Artificial Smoothing

Real Smoothing

38

Dacher dan Malcom (1970) dalam Assih dan Gudono (2000) menyatakan bahwa perataan laba atas laba yang dilaporkan dapat dicapai dengan 2 jenis perataan, yaitu real smoothing dan artificial smoothing. Real smoothing adalah perataan laba yang dilakukan melalui transaksi keuangan sesungguhnya dengan mempengaruhi laba melalui perubahan dengan sengaja atas kebijakan operasi dan waktunya. Sedangkan artificial smoothing adalah perataan laba melalui prosedur akuntansi yang diterapkan untuk memindahkan biaya dan atau pendapatan dari satu periode ke periode yang lain. Oleh sebab itu, artificial smoothing sering juga disebut accounting smoothing. Barnea et.al ( 1976 ) membedakan dimensi perataan laba menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Perataan melalui keterjadian atau pengakuan suatu peristiwa (smoothing through on event strategic management occurance or recognition), misalnya : pengeluaran biaya riset dan pengembangan. Selain itu, banyak juga perusahaan yang menerapkan kebijakan diskon dan kredit, sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan, sehingga laba terlihat stabil pada periode tertentu. 2. Perataan melalui alokasi dari waktu ke waktu (smoothing through allocation overtime). Manajer memiliki kewenagan untuk

mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya : jika penjualan meningkat, maka manajemen dapat

39

membebankan biaya riset dan penelitian serta amortisasi goodwill pada periode tersebut untuk menstabilkan harga. 3. Perataan melalui klasifikasi ( classificatory smoothing ). Manajemen memiliki kewenangan dan kebijakan sendiri untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya : jika pendapatan non- operasi sulit untuk didefinisikan, maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatn operasi atau pendapatan non-operasi. Dalam hal ini dapat digunakan sewaktu-waktu untuk meratakan laba dengan melihat kondisi pendapatan periode itu. Ayres (1994) dalam Narsa, dkk. (2003) mengungkapkan 3 faktor yang dapat dikaitkan dengan munculnya praktik perataan laba, yaitu : a. Manajemen akrual (accruals management). Faktor ini biasa dikaitkan dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer. Contohnya : dengan mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan, menganggap biaya sebagai suatu tambahan investasi. b. Penerapan suatu kebijakan akuntansi (adoption of mandatory accounting changes). Faktor ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapakan suatu kebijakan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan, yaitu: antara menerapkan lebih awal dari waktu yang diterapkan atau

40

menunda sampai saat berlakunya kebijakan tersebut. Para manajer tentu akan memilih menerapkan kebijaksanaan akuntansi bila dengan penerapan tersebut dapat mempengaruhi baik aliran kas maupun keuntungan perusahaan. c. Perubahan akuntansi secara sukarela ( voluntary accounting changes ) Faktor ini berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau mengubah suatu metode akuntansi tertentu di antara sekian banyak metode yang dapat dipilih dan tersedia serta diakui oleh badan akuntansi yang ada. Contohnya : penggantian metode FIFO ke LIFO atau sebaliknya, mengubah metode penyusutan aktiva dari metode garis lurus ke metode yang dipercepat atau sebaliknya 2.4 Laporan Keuangan Menurut Baridwan ( 2000:17 ) laporan keuangan adalah hasil dari transaksitransaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.Sedangkan menurut Syam ( 2001:10 ) menyebutkan bahwa laporan keuangan sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan atau sebagai laporan pertanggung-jawaban manajemen atas pengelolaan perusahaan. Penyusunan pelaporan keuangan pada umumnya digunakan untuk menyediakan memberikan informasi yang menyangkut keuangan perusahaan pada periode tertentu, baik untuk pihak intern maupun pihak ekstern. Menurut Syam (2000:2-3) menyatakan bahwa “Pemakai informasi akuntansi dari suatu perusahaan adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan untuk dipergunakan dalam pengambilan

41

keputusan ekonomi yang berkaitan dengan perusahaan tersebut”. Dimana pihakpihak yang berkepentingan tesebut adalah : Manajer, Karyawan, Investor, Pemberi pinjaman, Pemasok dan Kreditor lain, Pelanggan, Pemerintah dan Masryarakat. Menurut IAI dalam PSAK paragraf 12 (2002:4) menyatakan bahwa tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan menurut SFAC No. 1 (FASB,1983) terdiri dari : 1 2 3 4 Neraca (Balance Sheet atau Statement of Financial Stataement) Laporan laba rugi (Income atau Earning Statement) Laporan laba ditahan (Statement of Retained Earning) Laporan perubahan kepemilikan (Statement Of Order Changes in Owner or Stockholder Equity) 5 Laporan aliran kas/ laporan perubahan posisi keuangan (Statement of Changes in Financial Position/ Statement of Sources and Application of Fund)

2.5 Saham Saham merupakan suatu bentuk modal penyertaan atau bukti posisi kepemilikan dalam suatu entitas. Saham yang dapat menjadi alat investasi adalah yang dikenal sebagai emisi yang diperdagangkan secara umum yaitu saham yang tersedia bagi masyarakat umum dan dibeli serta dijual di pasar terbuka. ( Sunariyah 2003 )

42

Hak dasar yang diharapkan investor adalah memperoleh dividen, yaitu bagian keuntungan dari perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Keputusan tentang besarnya dividen yang dibagikan ditentukan oleh direksi

perusahaan. Direksi tidak harus membayarkan semua keuntungan atau laba perusahaan kepada pemegang saham, tetapi juga dapat menahan laba dengan tujuan menambah fasilitas kekayaan perusahaan atau untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan Perusahaan yang sedang berkembang cepat cenderung membagikan sedikit dividen kas atau bahkan tidak sama sekali, karena dana perusahaan akan digunakan untuk melakukan ekspansi usaha. Sebaliknya perusahaan yang sudah mapan dan menguntungkan akan membagikan laba dalam bentuk dividen kas. ( Sunariyah 2003 ) 2.5.1 Analisis saham Hanafi dan Halim ( 2003 ) mengemukakan ada tiga cara yang digunakan untuk menganalisa saham, yaitu : 1 Analisis fundamental

Analisis fundamental menekankan pada penentuan harga berdasarkan keinginan investor untuk melakukan investasi, baru kemudian melihat pasar untuk melihat apakah saham yang dijual di pasar sesuai dengan keinginannya. Selain itu analisis fundamental juga menekankan pada nilai intrinsik dari saham, artinya nilai intrinsik ini tergantung pada keuntungan potensial dari suatu sekuritas, dalam hal ini juga tergantung pada faktorfaktor fundamental seperti kualitas manajemen, kinerja perusahaan, kondisi dari industri, serta kondisi ekonomi yang ada.

43

2

Analisis teknis

Analisis teknis berusaha untuk memprediksi tingkat harga saham dimasa yang akan datang dengan mengevaluasi satu atau beberapa bentuk data masa lalu yang diperoleh dari pasar itu sendiri. Asumsi dasar teori teknis ini adalah bahwa kejadian masa lalu yang telah berulang kali terjadi. Perilaku harga yang mempunyai pola tertentu dalam sekuritas individual dan akan terjadi dimasa yang akan datang. 3 Pendekatan pasar modal efisien

Pendekatan pasar menyatakan bahwa seseorang tidak dapat meramalkan harga saham di masa yang akan datang hanya berdasarkan pada peristiwa masa lalu mengingat pasar sekuritas yang begitu sempurna. Dalam pasar, harga sekuritas mencerminkan seluruh informasi yang ada dan informasi tersebut relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, maka semakin efisien pasar modal tersebut. Adanya informasi yang dipublikasikan akan merubah keyakinan para investor yang dapat dilihat dari reaksi pasar. 2.5.2 Kinerja Saham Fabozzy ( 1999 ), menyatakan yang dimaksud dengan kinerja saham adalah : 1. Return saham adalah tingkat keuntungan yang diperoleh dalam beberapa periode tertentu, umumnya satu tahun, melalui investasi yang dilakukan investor.

44

2. Risk (risiko) saham. Risiko pada umumnya diukur sebagai perbedaan pengembalian dari waktu ke waktu, yaitu berapa besar selisih pengembalian terhadap rata-rata pengembalian. a. Return saham Dalam melakukan investasi, investor menghendaki tingkat keuntungan (return) tertentu yang diharapkan untuk masa-masa yang akan datang. Dengan kata lain, return merupakan hasil yang dinikmati oleh para pemodal (investor) atas suatu investasi yang dilakukannya (Prasetio dan Astuti, 2003). Return dari suatu investasi tergantung pada instrumen investasinya. Sertifikat deposito di bank memberikan bunga sebesar prosentase tertentu dan sifatnya pasti. Obligasi menjanjikan kupon bunga yang akan dibayarkan secara periodik atau sekaligus dan sifatnya pasti. Lain halnya dengan saham, saham tidak menjanjikan suatu return yang pasti bagi para investor. Pemengang saham dapat memperkirakan besarnya return yang akan diterima dimasa yang akan datang, tetapi belum tentu tepat. Hal ini kemudian dijelaskan oleh Hanafi dan Halim ( 2003 ) bahwa risiko yang berkaitan dengan investasi saham pada dasarnya sama dengan risiko yang berkaitan dengan perusahaan pada umumnya, yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : kondisi perekonomian (misalnya resesi dan inflasi), faktor-faktor industri (misalnya persaingan, perubahan teknologi, kekuatan tawar-menawar dari supplier, pembeli, tersedianya barang-barang substitusi), faktor-faktor dari perusahaan itu sendiri (misalnya kualitas manajemen, goodwill dan paten yang dipunyai). Faktor-faktor tersebut akan

45

mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan dan mempengaruhi return perusahaan. Return yang diterima oleh investor dalam investasinya pada saham, dapat berupa return realisasi (realized return) yang sudah terjadi atau return realisasi (expected return) yang belum terjadi tetapi diharapkan akan terjadi dimasa mendatang (Harianto et. al, 1998 dalam Prasetio dan Astuti, 2003). Return realisasi merupakan return yang dihitung berdasrkan data historis. Return

realisasi ini penting karena digunakan sebaga salah satu pengukur kinerja perusahaan dan juga berguna sebagai dasar penentuan return ekpektasi dan risiko di masa datang. Pada penelitian ini return yang akan dihitung adalah return yang diterima oleh investor yakni return realisasi yang merupakan keuntungan yang benar-benar terjadi. b. Return pasar Secara keseluruhan return pasar saham dapat diukur dengan menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG dipakai sebagai ukuran statistikal untuk mengetahui perubahan harga saham dari waktu ke waktu terhadap tahun dasar. Indeks ini dapat dihitung untuk semua saham atau hanya sebagian dari saham yang beredar di bursa. IHSG di bursa efek diperoleh melalui perhitungan IHGS tertimbang. IHSG dapat dikatakan sebagai indikasi harga saham-saham secara keseluruhan. Sunariyah ( 2003 )

46

c. Risiko (β) Return dan risiko merupakan dua hal yang tidak terpisah dalam mempertimbangkan suatu investasi. Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif, semakin besar risiko yang ditanggung maka semakin besar pula return yang harus dikompensasikan. Hanafi dan Halim ( 2003 ) membedakan risiko menjadi dua macam, yaitu : 1. Risiko sistematis (systematic risk), yakni risiko yang berpengaruh terhadap semua investasi dan tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dengan jalan melakukan diversifikasi. Risiko ini timbul akibat pengaruh keadaan perekonomian, politik dan sosial budaya, dimana mempunyai pengaruh secara keseluruhan. Termasuk dalam risiko ini adalah risiko pasar, risiko tingkat bunga, risiko daya beli. Risiko ini juga disebut undiversiable risk. 2. Risiko tidak sistematis (unsystematic risk), yakni risiko yang melekat pada investasi tertentu karena kondisi yang unik dari perusahaan. Risiko ini dapat dikurangi dengan mengadakan diversifikasi. Termasuk dalam risiko ini adalah risiko keuangan dan risiko bisnis. Risiko ini juga disebut diversifiable risk. Hanafi dan Halim ( 2003 ) menjelaskan bahwa dalam hubungannya dengan pasar, risiko diukur dengan beta (β). Beta merupakan suatu pengukur volatilitas return suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar. Beta mengukur risiko sistematik (systematic risk) dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap risiko pasar. Jika fluktuasi return-return sekuritas atau portofolio

47

secara statistik mengikuti fluktuasi return-return pasar, maka beta dari sekuritas atau portofolio tersebut dikatakan bernilai 1. Beta bernilai 1 menunjukkan bahwa risiko sistematik suatu sekuritas atau portofolio sama dengan risiko pasar. Beta sama dengan satu juga menunjukkan jika return pasar begerak naik (turun), return sekuritas atau portofolio juga bergerak naik (turun) sama besarnya mengikuti return pasar . 2.6 Kerangka Pemikiran Perusahaan yang telah go publik akan mengeluarkan laporan keuangan pada akhir periode, informasi – informasi dalam laporan keuangan dapat dijadikan sebagai media komunikasi antara pihak manajemen dengan pihak – pihak yang lain. Informasi yang biasanya menjadi pusat perhatian adalah laba, karena kinerja suatu perusahaan, khususnya kinerja manajemen dapat dilihat dari laba, yang nantinya akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Sebagian manajer melakukan perata laba, dan sebagian lagi tidak melakukan perata laba. Adanya keinginan manajer untuk memuaskan para pengguna laporan keuangan atas kinerjanya, mendorong manajer untuk melekukan perataan laba. Hal ini disebabkan karena laba yang stabil atau rata dapat meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, yang secara tidak langsung akan memperluas pasar saham perusahaan, meningkatkan nilai saham, mengurangi covarians atas return dengan pasar, yang nantinya berhubungan dengan risiko pasar saham. Sehingga kerangka pemikiran dapat digambarkan seperti dibawah ini :

48

Perusahaan yang termasuk dalam LQ-45 (1998-2003), Diambil sampel menggunakan metodePurposive Sampling

Diuji dengan Indeks Eckel

Bila CV ΔS > CV ΔI, ditandai dengan angka 1

Perata

Bukan Perata

Bila CV ΔS < CV ΔI, ditandai dengan angka 0

Menguji Apakah 1. Ada Perbedaan return antara perusahaan perata dengan bukan perata 2. Ada Perbedaan resiko antara perusahaan perata dengan bukan perata

Analisis Beda dua rata-rata untuk hipotesis kedua dan ketiga

Data berdistribusi normal, diuji dengan Indipendent t-test

Data berdistribusi tidak normal, diuji dengan MannWhitney test

* t hitung > t tabel, H0 ditolak * t hitung < t tabel, H0 diterima

* z hitung > z tabel, H0 ditolak * z hitung < z tabel, H0 diterima

Kesimpulan

49

2.7 Hipotesis Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Michelson et. al ( 1995 ) yang menyatakan bahwa terdapat praktek perataan laba yang terjadi di pasar saham yang ada di Standard and Poor’s 500 index. Dan menemukan bahwa perusahaan yang melakukan perata laba memiliki return dan risiko saham yang lebih rendah daripada perusahaan yang tidak melakukan perata laba. Dari penelitian ini maka hipotesis penelitian yang diajukan adalah : a. Diduga terdapat praktek perataan laba pada perusahaan go publik yang terdaftar di BEJ b. Diduga terdapat perbedaan signifikan antara return saham pada perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba. d. Diduga terdapat perbedaan signifikan antara risk saham pada perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba.

50

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Objek penelitian Objek penelitian yang peneliti lakukan yaitu pada perusahaan perusahaan

yang masuk secara berturut – turut dalam daftar LQ 45 dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2003 yang listing di BEJ

3.2

Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Analisis (Analitytical Research)

karena bertujuan untuk menguji Kebenaran hipotesis dan menggunakan pendekatan Kuantitatif. Penelitian ini akan menganalisis dan membuktikan ada tidaknya, perbedaan kinerja saham ( return dan risk ) perusahaan perata laba

3.3

Jenis Data Dan Sumber Data Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah Data Sekunder,Dalam

hal ini data yang diperlukan adalah: 1. Data laporan laba rugi per 31 Desember periode th 1998 sampai dengan th 2003 pada perusahaan-perusahaan yang secara berturut – turut masuk dalam Daftar LQ 45 yang listing di BEJ. 2. Data saham yang meliputi Data Indeks harga saham dan Data IHSG Th 1998 sampai dengan Th 2003 pada perusahaan-perusahaan yang berturut – turut masuk dalam Daftar LQ 45 yang listing di BEJ.

51

Sumber data tersebut diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), Prospektus Perusahaan, Fact Book BEJ, JSX Statistic, serta database Pojok BEJ Universitas Brawijaya. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan metode kuantitatif 3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Dokumentasi, dikumpulkan, diseleksi kemudian diolah. 3.5 Teknik Analisa Data Dalam menganalisa data penulis menggunakan data Kuantitatif,yaitu data yang berbentuk Angka kemudian dianalisa dengan membandingkan data yang satu dengan data yang lain. Tahapan-tahapan dalam menganalisis data adalah sbb: a. Status perusahaan sebagai perata laba dan bukan perata laba akan diklasifikasikan dengan menggunakan indeks eckel. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah :
1.

Suatu perusahaan dikatakan perata apabila coefficient variation perubahan penjualan (CV∆S) lebih besar daripada coefficient variation perubahan laba (CV∆I). Persamaan yang digunakan untuk mengetahui besarnya CV∆S maupun CV∆I sebagai berikut Σ(∆x - ∆x ) 2 : ∆x n −1

CV∆S atau CV∆I =

52

keterangan : ∆x ∆x n = perubahan penjualan (S) atau laba (I) antara tahun n dengan n-1 = rata-rata perubahan penjualan (S) atau perubahan laba (I) = banyaknya tahun yang diamati.

Menghitung CV∆S dan CV∆I untuk masing-masing sampel dengan menggunakan program Excel.
2.

Setelah CV diketahui, terhadap masing-masing perusahaan akan diberi tanda. Untuk perusahaan dengan CV∆S > CV∆I diberi nama perata laba, yang berarti telah melakukan perataan laba. Sebaliknya, perusahaan dengan CV∆S < CV∆I akan diberi nama bukan perata laba, yang berarti tidak melakukan perataan laba.

b.

Return saham merupakan tingkat keuntungan yang diperoleh dari investasi saham yang diperoleh dari Capital Gain atau Capital Losses. Capital Gain atau Capital Losses merupakan tingkat harga saham di Bursa Efek Jakarta setiap akhir bulan berikutnya sebagai awal bulan (t-1) dan harga saham akhir bulan yang bersangkutan sebagai nilai akhir (t). Return saham bulanan dapat dirumuskan sebagai berikut : R i, t = Pi , t − Pi , t −1 Pi , t −1 = Pi , t Pi , t −1 −1

53

Dimana, Ri, t = return saham perusahaan i selama bulan t Pi, t = harga jual terakhir untuk saham perusahaan i selama bulan t Pi, t-1 = harga jual terakhir untuk saham perusahaan i selama bulan t-1 c. Return pasar merupakan perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setiap bulan sebelumnya sebagai nilai awal (t-1) dan IHSG akhir bulan yang bersangkutan sebagai nilai akhir (t), dapat dirumuskan : Rm = IHSG t − IHSG t −1 IHSG t −1

Keterangan: Rm = Return pasar perioda t IHSGt = Indeks Harga saham gabungan perioda t IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan perioda t-1 d. Sedangkan risiko saham merupakan variabilitas dari return saham. Dalam penelitian ini risiko diukur dengan parameter statistik yakni beta (β). Dengan menggunakan model CAPM ( Capital Asset Pricing Model ), akan diperoleh angka beta untuk masing-masing perusahaan. Model CAPM dapat

diformulasikan sebagai berikut : Ri = Rf + ( Rm – Rf ) βi

54

Keterangan: Rf = Return Investasi bebas risiko, dalam hal ini dilihat dari tingkat suku bunga deposito bank pemerintah Rm βI = = Return pasar Beta saham i ( indikator risiko sistematis )

Return pasar bisa dihitung melalui return IHSG. Return investasi bebas risiko bisa dilihat dari tingkat bunga deposito bank pemerintah, karena diasumsikan bank pemerintah mempunyai perlindungan implisit, sehingga bank pemerintah tidak mungkin bangkrut ( Hanafi dan Halim 2003 ) e. Melakukan uji kenormalan data dengan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kolmogorov-Smirnov test merupakan suatu test yang digunakan untuk melakukan uji normalitas data, yaitu menguji populasi berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menetapkan hipotesis awal dan hipotesis alternatif, yaitu: Ho : data berdistribusi normal Ha : data tidak berdistribusi normal Adapun rumus hitung Kolmogorov-Smirnov adalah: D = maksimum Fo (x) - S N ( x ) Keterangan:

55

Fo (x) = distribusi frekuensi kumulatif baku SN (x) = distribusi frekuensi kumulatif observasi Tingkat signifikasi (α) yang digunakan adalah sebesar 5% Ho ditolak jika Dhitung > Dtabel Santoso (2003) menyebutkan bahwa hipotesis nol diterima apabila nilai probabilitas yang dihasilkan adalah lebih dari 0,05 yang menyatakan data berdistribusi normal dan kemudian akan dilakukan pengujian dengan uji t. Namun apabila hipotesis nol ditolak yang berarti bahwa data tidak berdistribusi normal, maka alternatif pengujiannya adalah dengan menggunakan uji non parametrik Mann-Whitney. f. Melakukan uji F (uji Lavene) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah varians 2 populasi sama atau berbeda. Hasil pengujian ini berguna untuk menentukan rumus t hitung yang digunakan. Apabila varians sama maka akan digunakan rumus t hitung dengan asumsi varians sama (pooled varians). Apabila varians populasi tidak sama maka akan digunakan rumus t hitung dengan asumsi varians tidak sama (separated varians) (Sugiyono, 1999:198). Pengujian dilakukan dengan menetapkan hipotesis, yakni: Ho : kedua varians populasi adalah sama Ha : kedua varians populasi adalah tidak sama

56

Adapun rumus uji F adalah: F= Varian terbesar Varian terkecil

Dengan df pembilang = n terbesar –1, dan df penyebut = n terkecil –1 Tingkat signifikasi (α) yang digunakan adalah sebesar 5% P value < α signifikan g. Melakukan uji t untuk 2 sampel independen Uji t dalam hal ini dilakukan untuk menguji signifikasi antara dua sampel independen yang berasal dari suatu populasi dan hanya dapat digunakan apabila asumsi data terdistribusi normal terpenuhi. Hipotesis yang dibuat: Ho : tidak terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata return/risk perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba. Ha : terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata return/risk perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba

Rumus t hitung dengan asumsi varians sama (pooled varians) adalah: x1 − x 2 t=  1 1   Sp 2  + n   1 n2 

57

(n − 1) S1 + (n 2 − 1) S 2 Sp = 1 n1 + n 2 − 2
2

2

2

Tingkat signifikasi yang digunakan adalah 5%, dengan df = n1 + n2 – 2 Rumus t dengan asumsi varians tidak sama (separated varians) adalah: x1 − x 2 S1 S + 2 n1 n2
2 2

Harga t sebagai pengganti t tabel adalah selisih t tabel dengan df (n 1 - 1) dan df (n2 - 1) dibagi 2 dan kemudian ditambahkan dengan harga t tabel yang terkecil (Sugiyono, 1999:197). Keterangan: x 1 dan x 2 adalah rata-rata hitung sampel n1 dan n2 adalah jumlah sampel Sp2 adalah estimasi varian gabungan S2 adalah standar deviasi kuadrat Ho diterima apabila t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel Santoso (2003) menyebutkan bahwa apabila nilai yang didapatkan lebih besar dari tingkat signifikan 0,05 maka kesimpulan yang harus diberikan adalah Ho diterima.

58

BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Penyajian data 1. Deskripsi PT. Bursa Efek Jakarta Pasar modal Indonesia telah ada sejak masa penjajahan Belanda yaitu pada tangggal 14 Desember 1912 dengan dibentuknya 13 asosiasi broker di Jakarta yang memperdagangkan saham-saham perusahaan Belanda. Pada tahun 1949 sampai tahun 1976 pasar modal Indonesia mengalami stagnasi. Pasar modal Indonesia dikatakan lahir kembali pada tahun 1977 dengan keluarnya keputusan presiden No. 52 tahun 1976 yang menetapkan pendirian pasar modal, pembentukan Badan Pembina Pasar Modal, pembentukan Badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM), dan PT Danareksa.

59

BEJ mempunyai target dan fungsi menyelenggarakan sistem dan sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan

memperdagangkan efek diantara mereka. Untuk melaksanakan tugas perdagangan efek, sebelumnya pada tanggal 17 Februari1992 BEJ telah menetapkan ketentuan mengenai BEJ melalui KEP 01/BEJ/1992. Pasar modal Indonesia sampai tahun 1988 hanya mempunyai 24 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta, sehingga dikatakan pasar modal Indonesia dalam keadaan tidur panjang. Kemudian setelah tahun 1988 pasar modal Indonesia mengalami peningkatan aktivitas yaitu ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah

60

perusahaan yang terdaftar di BEJ, pada tahun 1990 telah mencapai 122 perusahaan yang tercatat dan terus meningkat menjadi 316 perusahaan tercatat pada tahun 2002. Dari 316 perusahaan didalamnya terdapat 45 perusahaan yang memilki kinerja saham terbaik, kemudian 45 perusahaan digolongkan kedalan indeks LQ – 45. Indeks ini hanya terdiri dari 45 saham yang telah terpilih setelah beberapa kriteria pemilihan sehingga akan terdiri dari saham – saham dengan likuiditas ( LiQuid ) dan kapasitas pasar yang tinggi. Indiks LQ 45 dihitung mundur hingga tanggal 13 juli 1994 sebagai hari dasar, dengan nilai dasar 100. Sehingga memiliki data histories yang cukup panjang. Untuk seleksi awal digunakan data pasar dari juli 1993 – juni 1994, hasilnya terpilih 45 emiten yang mengcover 73 % dari total kapitalisasi pasar dan 72,5 % nilai transaksi di pasar regular. Untuk dapat masuk dalam pemilihan, suatu saham harus memenuhi kriteria tertentu dan melewati seleksi utama, sebagai berikut : 1. Masuk dalam ranking 60 terbesar dari total transaksi saham di pasar regular ( rata rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir ) 2. Rank berdasar kapitalisasi pasar ( rata – rata kapitalisasi harian selama 12 bulan terakhir ) 3. Telah tercatat di BEJ minimum 3 bulan 4. Keadaan keuangan perusahaan dan prospektus pertumbuhanya, frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi pasar regular.

61

Bursa Efek Jakarta akan terus memantau perkembangan komponen usaha yang masuk dalam perhitungan Indeks LQ 45. Setiap tiga bulan sekali akan dilakukan review pergerakan ranking saham – saham yang akan digunakan dalam perhitungan Indeks LQ 45. pergantian saham akan dilakukan setiap 6 bulan sekali, yaitu setiap awal bulan Februari – Agustus. Apabila terdapat saham yang tidak memenuhi kriteria lagi, maka saham tersebut harus dikeluarkan dari perhitungan indeks dan digantikan dengan saham lain yang memiliki kriteria. 2. Deskripsi Objek Penelitian Objek penelitian yang dijadikan sampel pada penelitian ini terdiri dari 16 perusahaan yang merupakan hasil pemilihan sampel dari 45 sampel dengan kriteria tertentu, 16 perusahaan hasil seleksi sampel digambarkan dalam tabel 4.1 berikut ini.

62

Tabel 2.1 Nama-Nama Sampel Hasil Seleksi No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Kode
AALI ANTM ASII GGRM HMSP INDF ISAT JIHD KLBF MPPA PNBN RALS SMCB SMGR TINS TLKM

Nama Emiten
Astra Argo Lestari, Tbk Aneka Tambang, Tbk Astra International Indonesia,Tbk Gudang Garam, Tbk H.M Sampoerna, Tbk Indofood Sukses Makmur, Tbk Indosat, Tbk Jakarta In’t Hotel & Dev, Tbk Kalbe Farma, Tbk Matahari Putra Prima, Tbk Bank Pan Indonesia, Tbk Ramayana Lestari Sentosa, Tbk Semen Cibinong, Tbk Semen Gresik (Persero), Tbk Timah, Tbk Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Sektor Industri
Agriculture Mining Automotive and Components Tobacco manufactures Tobacco manufactures Food and Beverages Telecomunication Restaurant, Hotel&Tourism Pharmaceuticals Retail Trade Bank Retail Trade Cement Cement Metal and Mineral Mining Telecomunication

Sumber: ICMD tahun 1998-2003 Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa terdapat 16 sampel perusahaan yang merupakan perusahaan yang selama 5 tahun berturut – turut masuk kedalam kategori Indeks LQ 45 sejak tahun 1998 – 2003.

63

B. Hasil Analisis 1. Klasifikasi Perusahaan Sampel Kedalam Kelompok Perata Laba dan Bukan Perata Laba dengan Menggunakan Indeks Eckel Perusahaan sampel diklasifikasikan menjadi perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba dengan menggunakan indeks Eckel. Hasil dari pengklasifikasian ini disajikan pada tabel 4.2 berikut ini. Tabel 2.2 Ringkasan Hasil Penghitungan Indeks Eckel Status Perata Kode AALI HMSP JIHD MPPA PNBN SMCB TINS Nama Perusahaan Astra Agro Lestari Tbk HM Sampoerna JIHD Matahari Putra Prima Tbk Bank Pan Indonesia Tbk Semen Cibinong Timah Tbk 7 ( Tujuh ) Aneka Tambang ( Persero ) Tbk Astra Int’l Tbk Gudang Garam Indofood Sukses Makmur INDOSAT Kalbe Farma Ramayana Lestari Sentosa Tbk Semen Gresik Telkomunikasi Indonesia 9 ( Sembilan ) 16 ( Enam Belas )

Jumlah Bukan Perata ANTM ASII GGRM INDF ISAT KLBF RALS SMGR TLKM Jumlah Total Sampel Sumber diolah : data diolah lampiran

Selama periode penelitian (1998-2003), diperoleh sebanyak 16 perusahaan sampel yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Diperoleh status perusahaan sebagai perata laba sebanyak 7 perusahaan atau 44% dari keseluruhan jumlah

64

sampel, sedangkan jumlah perusahaan yang berstatus bukan perata laba lebih banyak jumlahnya daripada perusahaan perata laba, yaitu sebanyak 9 perusahaan atau 56% dari keseluruhan jumlah sampel. Hasil ini mengindikasikan bahwa secara umum perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori LQ-45 tidak melakukan usaha earning management dengan perataan laba selama peiode penelitian. 2. Pengujian Terhadap Return dan Risiko Pasar Saham A. Uji Statistik Diskriptif Uji statistik deskriptif dilakukan terhadap rata-rata return saham dan rata-rata beta saham perusahaan sampel. Untuk mengetahui secara pasti distribusi data yang sesungguhnya, dilakukan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov Test dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Pengujian dilakuakan pada sub-bab berikutnya. Tabel berikut menyajikan hasil uji statistik deskriptif untuk variabel return, dan beta perusahaan. Tabel 3.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif
De scriptiv e Statistics N return_perata return_bukanperata beta_perata beta_bukanperata Valid N (listwise) 7 9 7 9 7 Minimum .00073 .00003 .67134 .57280 Maximum .00958 .00601 1.15287 1.26046 Mean .0030637 .0028303 .8748127 .8868580 Std. Deviation .00320960 .00185754 .19305223 .17827508

Sumber: data diolah lampiran

Dari tabel 4.2 di atas, baik untuk return ataupun beta dapat diketahui bahwa masing-masing terdapat 7 data observasi yang berstatus perata dan 9 data observasi

65

yang berstatus bukan perata, sehingga jumlah keseluruhan observasi adalah sebanyak 16 data observasi. Selama periode penelitian, untuk variabel return saham diperoleh nilai minimum sebesar 0,003%, nilai maksimum sebesar 0,958%, dengan nilai rata-rata sebesar 0,306% untuk perusahaan yang berstatus perata dan sebesar 0,283% untuk perusahaan yang berstatus bukan perata. Hasil ini menunjukkan bahwa saham-saham LQ-45 selama periode 1998-2003 mampu menunjukkan kinerja yang cukup stabil dan bagus, hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya return saham bernilai negatif selama periode ini, baik yang berstatus perata atau bukan perata. Dari nilai rata-rata tampak bahwa perusahaan dengan status perata ternyata mampu memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar daripada perusahaan bukan perata. Untuk beta saham, selama periode penelitian diperoleh nilai minimum sebesar 0,57, nilai maksimum sebesar 1,26, dengan nilai rata-rata sebesar 0,874 untuk perusahaan berstatus perata dan sebesar 0,887 untuk perusahaan berstatus bukan perata. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan perataan laba ternyata memang mampu mengurangi tingkat risiko perusahaan, hal ini bisa dilihat dari nilai rata-rata beta yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba.

B. Uji Normalitas Data

66

Uji normalitas data dilakukan terhadap variabel return dan beta saham, pengujian dilakukan dengan tujuan agar dapat digunakan alat uji statistik yang tepat terhadap data penelitian. Hasil pengujian disajikan pada tabel berikut.

67

Tabel 3.2 Hasil Uji Normalitas Return dan Risiko saham

One – Sample Kolmogrov – Sminorv Test Asymp. Sig No Variable Keterangan ( 2-Tailed ) 1 Return Perata 0,541 P > 0,005 Return Bukan Perata 0,330 P > 0,005 2 Risiko Perata 0,802 P > 0,005 Risiko Bukan Pertata 0,627 P > 0,005 Sumber : Data Diolah Lampiran

Distribusi Normal Normal Normal Normal

Dari hasil pengujian pada tabel 4.3 dan tabel 4.4 diatas diperoleh nilai Asymptotic Significance >0,05 untuk semua variabel penelitian (return dan beta saham), baik untuk perusahaan perata atau bukan perata, dengan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal sehingga digunakan statistik parametrik sebagai alat uji hipotesis.

C. Pengujian Hipotesis 1. Uji Hipotesis I Pengujian Hipotesis I dilakukan untuk membuktikan apakah memang terdapat praktek earning management yang dilakukan dengan melakukan income smoothing (perataan laba) pada perusahaan-perusahaan yang tergolong dalam indeks LQ 45 di BEJ. Pengujian dengan menggunakan Indeks Eckel dengan dasar apabila nilai Indeks Eckel yang diperoleh <1 maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan melakukan usaha perataan laba. Hasil perhitungan Indeks Eckel disajikan pada tabel berikut:

68

Tabel 3.3 Indeks Eckel Perusahaan Sampel Perusahaan CV ∆I CV ∆S 2,584 5,007 0,921 2,023 1,649 3,132 1,495 2,965 1,837 2,979 57,633 3,833 2,553 2,732 50,726 1,215 Indeks 0,80007 13.36477 1.09138 3.71004 0.90191 1.08461 1.33964 0.61166 8.44716 0.69150 0.02173 4.96710 0.40223 5.17558 0.03479 1.21194 Status Perata Bukan Perata Bukan Perata Bukan Perata Perata Bukan Perata Bukan Perata Perata Bukan Perata Perata Perata Bukan Perata Perata Bukan Perata Perata Bukan Perata

AALI 2,068 ANTM 66,917 ASII 1,006 GGRM 7,506 HMSP 1,487 INDF 3,397 IAST 2,003 JIHD 1,813 KLBF 15,513 MPPA 2,060 PNBN 1,253 RALS 19,040 SMCB 1,027 SMGR 14,139 TINS 1,765 TLKM 1,472 Sumber: data diolah lampiran

Dari tabel 4.3 di atas tampak bahwa terdapat sebanyak 7 perusahaan yang memiliki nilai Indeks Eckel <1, dengan hasil ini maka Hipotesis I dapat dinyatakan bahwa terdapat praktek perata laba sebanyak 7 perusahaan dari 16 perusahaan sampel yang berturut – turut masuk dalam Indeks LQ 45.

69

2. Uji Hipotesis II dan III Pengujian Hipotesis II dilakukan untuk untuk membuktikan apakah memang terdapat perbedaan signifikan antara return dan beta saham pada perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba. Hasil pengujian disajikan pada tabel berikut. Tabel 3.4 Hasil Uji-t Sampel Independen Variabel Nilai t-hitung Return 0,183 Beta -0,129 Sumber: data diolah lampiran Probabilitas (p) 0,857 0,899 Keterangan Tidak signifikan Tidak signifikan

Kaidah pengambilan keputusan adalah apabila nilai p<0,05 maka Ho ditolak. Dari hasil pengujian pada tabel 4.6 diatas, untuk variabel return diperoleh nilai p sebesar 0,857 (lebih besar dari 0,05), dengan hasil ini maka Hipotesis II tidak ditolak, jadi tidak terdapat perbedaan signifikan antara return saham pada perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba. Dari hasil pengujian terhadap beta saham diperoleh nilai p sebesar 0,899 (lebih besar dari 0,05), dengan hasil ini maka Hipotesis III juga tidak ditolak, jadi tidak terdapat perbedaan signifikan antara risiko saham pada perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba.

C. Pembahasan Dari hasil pengujian terhadap Hipotesis I, diperoleh fakta yang mendukung teori bahwa memang terdapat praktek perataan laba pada perusahaan LQ 45 di BEJ,

70

yang berturut – turut masuk dalam indeks 45 pada periode 1998 – 2003, dari 16 perusahaan yang berturut – turut masuk, terdapat 7 perusahaan yang tergolong sebagai perata laba. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Michelson et. al (1995), walaupun dilakukan pada pasar modal Amerika Serikat. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan hasil penelitian Salno dan Baridwan (2000) dan Didit (2004). Persamaan hasil penelitian ini dengan beberapa penelitian pendahuluan adalah bahwa masih lebih banyak perusahaan yang memilih untuk tidak melakukan perataan laba pada pasar modal Indonesia, hasil ini ditunjukkan dengan jumlah perusahaan dengan status perata yang masih kurang dari 50% dari keseluruhan sampel penelitian. Hasil ini juga menggambarkan bahwa beberapa perusahaan lebih memilih melakukan earning management dengan metode lain selain melakukan income smoothing. Pada pengujian Hipotesis II dan III, diperoleh fakta yang mendukung tidak ditolaknya hipotesis nol, yaitu tidak terdapat perbedaan return dan risiko antara perusahaan perata dan buka perata. Hasil ini konsisten dengan penelitian Salno dan Baridwan (2000) akan tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Didit (2004) yang menemukan fakta bahwa terdapat perbedaan risiko antara perusahaan dengan status perata dengan bukan perata. Hasil penelitian Didit (2004) ini juga didukung oleh hasil penelitian Michelson et al. (1995) yang menghasilkan fakta bahwa

memang terdapat perbedaan yang signifikan antara return dan risiko perusahaan dengan status perata dan bukan perata. Hasil yang beragam ini mengindikasikan bahwa faktor return secara umum masih dijadikan pertimbangan utama oleh investor didalam berinvestasi sebagai biaya

71

atas modal yang ditanamkan, baik dengan memperhatikan status atau kinerja perusahaan dengan analisis lanjutan, atau tanpa menggunakan analisis yang rumit cukup dengan analisis fundamental saja. Hal ini yang menyebabkan pembedaan status laba perusahaan tidak dijadikan acuan utama investor dalam mempertimbangkan berinvestasi pada suatu saham. Hal yang sama juga berlaku terhadap beta saham, sebagai variabel yang menunjukkan tingkat risiko dari investasi pada saham, investor ternyata lebih memperhatikan besarnya nilai beta ini, daripada status laba perusahaan. Hasil pengujian terhadap beta saham menunjukkan bahwa perusahaan yang berstatus perusahaan perata memang memiliki beta saham yang lebih kecil. Hasil ini sesuai dengan tujuan perataan laba itu sendiri yaitu untuk memperkecil risiko yang dihadapi perusahaan karena aliran dividen yang stabil, sehingga cukup menguntungkan bagi nilai saham perusahaan.

72

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil pengujian hipotesis pada bab sebelumnya, beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 7 perusahaan dari 16 perusahaan yang berturut – turut masuk ke dalam indeks LQ 45 di BEJ yang memiliki nilai Indeks Eckel <1, dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa memang terdapat praktek perataan laba pada perusahaan – perusahaan yang tergolong dalam indeks LQ 45 di BEJ. 2. Dari hasil pengujian terhadap return saham dapat disimpulkan bahwa ternyata terdapat perbedaan tingkat return saham, yaitu perusahaan perata memiliki nilai return yang lebih tinggi dari pada perusahaan bukan perata, tetapi tingkat perbedaanya tidak signifikan 3. Dari hasil pengujian terhadap beta saham dapat disimpulkan bahwa nilai beta saham perusahaan perata lebih kecil dari perusahaan bukan perata, tetapi perbedaan itu tidak signifikan.

73

74

75

B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut: 1. Penelitian ini didalam melakukan pengklasifikasian status perusahaan (dengan menggunakan Indeks Eckel) hanya menggunakan rasio antara laba bersih dengan penjualan bersih perusahaan. 2. Pengambilan sampel hanya dilakukan terhadap perusahaan yang masuk dalam kategori LQ-45 sehingga diperoleh jumlah sampel yang cukup terbatas. 3. Periode penggunaan data penelitian yang dilakukan kurang, sehimgga kurang mengungkap kinerja perata laba. C. Implikasi Untuk Penelitian Selanjutnya Dengan berbagai keterbatasan yang ada pada penelitian ini, penelitian selanjutnya dengan tema penelitian sejenis patut mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Layak dijadikan bahan pertimbangan untuk menggunakan seluruh rasio keuangan yang ada pada Indeks Eckel (laba bersih setelah pajak, laba sebelum pajak, dan laba operasional), agar mampu dibedakan status perusahaan apabila dikaitkan dengan masing-masing pos laba perusahaan. 2. Pemilihan sampel bisa diperluas dari sektor-sektor yang lain agar diperoleh jumlah sampel yang lebih banyak, sehingga penarikan kesimpulan yang dilakukan dapat lebih digeneralisasikan untuk pasar modal Indonesia. 3. Periode penelitian bisa diperpanjang, sehingga akan mengungkap kinerja perata laba yang lebih jelas.

76

DAFTAR PUSTAKA

Albrecht, W. D., and F, M. Richardson, (1990), Income Smoothing by Economic Sector, Jurnal Of Business and Finance, Vol. 17 No. 5, Winter, h. 713-730 Baridwan, Zaki, (1992), Intermediate Accounting, Cetakan Ketiga, BPFE, Yogyakarta. Bartov, E., 1993. The Timing of Asset Sales and Earning Manipulation. The Accunting Review. Vol. 68. No.4. October. Hal: 840-855. Beidlemen, C. R., (1973), Income Smoothing: The Role of Management, Accounting Review, October, h. 653-667 Belkaoui, Ahmed Riahi, (2000), Accounting Theory, Cetakan Ketiga, BPFE, Yogyakarta. Bryshaw, R. E, and A. E. K. Eldin, (1989), The Smoothing Hyphotesis and The Role of Exchange Differences, Journal of Business Finance and Accounting, Winter, h. 621-633 Fabozzi, F, J, ( 1999 ), Manajemen Investasi, Buku satu, Salemba Empat, Jakarta. Fudenberg, D., and J. Tirole, (1995), A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbency Rents, Journal of Political Economy, February, h. 75-93 Hanafi, M. H. dan A. Halim. 2000. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YPKN.

77

Hidayati, Siti Munfiah dan Zulaika. 2003. Analisis Perilaku Earning Management: Motivasi Minimalisasi Income Tax. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal: 526-537. Husna, Suad, (1998), Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Michelson, Stuart E, James J. Wagner and Charles W. Wotton, (1995), A Market Based Analysis of Income Smoothing, Journal of Business, Finance and Accounting, December, h. 1179-1193 Novianedy, Didit, ( 2004). Perataan Laba Kaitannya Dengan Return Dan Risiko Pasar Saham Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta (Bej). Skripsi. Universitas Airlangga. Surabaya Prasetio, J. Eko dan Sri Astuti, (2003), Dampak Pengumuman Bond Rating Terhadap Return Saham Perusahaan di Bursa Efek Jakarta, Simposium Nasional Akuntansi, UPN Veteran, Yogyakarta, h. 683-692 Salno, H. M., dan Z. Baridwan, (2000), Analisis Perataan Penghasilan (Income Smopthing): Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan Kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3 No. 1, Januari, h. 17-34 Sugiarto, Sopa, (2003), Perataan Laba Dalam Mengantisipasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek, Simposium Nasional Akuntansi VI, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, h. 350-358

78

Sunariyah, ( 2003 ), Pengetahuan Pasar Modal, Edisi ketiga, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Syam, Daniel ( 2001 ), Akuntansi Pengantar I, Cetakan pertama, Edisi Kedua

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful