LAPORAN KASUS SEORANG LAKI-LAKI 18 TAHUN DENGAN DEMAM

Disusun untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam di RSUD dr. Adhyatma, MPH Tugurejo Semarang

Dokter Pembimbing : dr. Setyoko, Sp.PD

Disusun Oleh : Erwin Bramantya Asnan 01.208.5648

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

DAFTAR MASALAH
NO 1. MASALAH AKTIF Malaria Vivax TANGGAL 15 Juli 2013 KETERANGAN

NO 1.

MASALAH PASIF Ekonomi kurang

TANGGAL 15 Juli 2013

KETERANGAN JAMKESMASNAS

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat No. C . CM Tanggal Masuk Tanggal Pemeriksaan Bangsal : Tn. b) Riwayat Penyakit Sekarang :  2 minggu sebelum masuk rumah sakit. c) Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat sakit seperti ini sebelumnya : disangkal (-)  Riwayat liver : disangkal  Riwayat Diabetes Melitus : disangkal  Riwayat Penyakit Jantung : disangkal  Riwayat Alergi Obat : disangkal d) Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat sakit yang serupa di keluarga  Riwayat Diabetes Melitus : disangkal : disangkal . pasien mengeluh badannya terasa lemas dan pusing. Keluhan menyebabkan pasien tidak bisa beraktivitas.  Saat datang ke RSUD Tugurejo Semarang pasien mengaku keluhannya semakin berat. Pasien sudah pergi berobat ke puskesmas. Ngaliyan . Pasien juga tidak mengalami ngilu di seluruh badan dan juga merasa nyeri di ulu hati.LAPORAN KASUS I. : 18 tahun : Laki-laki : Islam :: Candi 7/1 .  1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengeluhkan sering merasa menggigil selama kurang lebih 30 menit dan kemudian badannya terasa panas diikuti dengan berkeringat. demam semakin tinggi dan belum mengalami penurunan.1 II. lemas dan batuk berdahak berwarna kuning.1 a) Keluhan Utama : Demam sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. tetapi tidak ada perubahan.40 : 7 Juli 2013 : 15 Juli 2013 : Mawar ruang 4. S. pasien mengalami demam tinggi secara tiba-tiba. BAB dan BAK tidak ada keluhan. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan autoanamnesis pada tanggal 15 Juli 2013 di Bangsal Mawar Ruang 4. Semarang : 07. pusing. I .85. Demam dirasakan naik turun secara tiba-tiba dan tidak bertambah tinggi pada malam hari.

sayur. sakit kepala (-). nafsu makan menurun (+). nyeri ulu hati (-). BB turun (-). Jarang mengkonsumsi buah-buahan. nyeri perut (-). Pasien mulai mengalami sakit pada saat di Ternate dan memutuskan untuk pulang ke daerah asal. dahak (+). jejas (-). nyeri sendi (-). tahu. tidur mendengkur (-)  Sistem kardiovaskuler : sesak nafas saat beraktivitas (-). diare (-). Biaya pengobatan ditanggung Jamkesmasnas. mimisan (-). suara serak (-). tersumbat (-)  Telinga : pendengaran berkurang (-). darah (-). bibir pecahpecah (-).sering kencing (-). muntah darah (-). mulut kering (-).  Tenggorokan : sakit menelan (-). batuk (+). mengi (-). leher kaku (-)  Mata : penglihatan kabur (-). pandangan berputar (-). keringat dingin (-)  Sistem gastrointestinal : mual (-).  Hidung : pilek (-). gatal (-). . terkadang daging. berdebar-debar (-). berdenging (-). nyeri dada (-). gusi berdarah (-). pasien sudah tidak lagi bekerja.  Sistem respirasi : sesak nafas (-). ibu dan 2 saudara. ANAMNESIS SISTEM  Keluhan utama : Demam  Kepala : pusing (+). nyeri saat kencing (-). telur dan ikan. Setelah sakit. Riwayat Penyakit Jantung : disangkal e) Riwayat Kebiasaan  Riwayat merokok : disangkal  Riwayat mengkonsumsi minuman beralkohol : disangkal  Riwayat mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang : disangkal  Riwayat mengkonsumsi jamu-jamuan : disangkal f) Riwayat Sosial Ekonomi Pasien tinggal satu rumah bersama keluarganya. terdiri atas ayah. luka pada sudut bibir (-). kaku otot (-)  Sistem genitourinaria : warna seperti teh (-). berkunang-kunang (-). pasien bekerja sebagai buruh di Ternate. batuk darah(-). sehari makan hanya 1 – 2 kali dan sedikit. Sebelumnya.  Mulut : sariawan (-). pandangan ganda (-). pasien mengaku makan teratur 2-3 kali sehari dengan menu nasi. Kesan : sosial ekonomi kurang g) Riwayat Gizi Sebelum sakit. dan tempe. keluar cairan (-). Sejak sakit nafsu makan pasien menurun. keluar darah (-) berpasir (-) kencing nanah(-).  Sistem muskuloskeletal : nyeri otot (-).

tonsil T1-T1. rambut warna hitam. Mulut : sianosis (-). 11. Mata: konjungtiva palpebra anemis (-/-). katarak (-/-) 7. isi dan tegangan cukup Respirasi : 20 x/menit. gigi karies (-). deviasi trachea (-). pulsus epigastrium (-) Perkusi : batas jantung . stomatitis (-). pucat (-). Tanda Vital Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 86 x/menit. simetris. Telinga : membran timpani intak (-/-). Suhu : 36. sklera ikterik (-/-). pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-). nyeri tekan tragus (-/-) gangguan pendengaran (-/-) 8. lidah tremor (-). distribusi rambut merata. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 15 Juli 2013 di Bangsal Mawar Ruang 4. faring hiperemis (-). sekret (-). kesemutan (-) kaku digerakan (-) bengkak (-) sakit sendi (-) panas (-) Sistem neuropsikiatri : kejang (-). tangan dan kaki (-) III. kesemutan (-). 10. kaku digerakan (-) bengkak (-) sakit sendi (-) panas (-) Ekstremitas bawah : luka (-). BMI : 21. sekret (-/-). Hidung : napas cuping hidung (-). pembesaran kelenjar getah bening(-).    sulit memulai kencing (-). reflek cahaya (+/+). bercak merah kehitaman di dada. darah (-/-). Ekstremitas atas : luka (-).1 1. pulsus para sternal (-). Kesan : normoweight 4. emosi tidak stabil (-) Sistem Integumentum : kulit kuning (-). epistaksis (-). gatal (-). nyeri tekan mastoid (-/-). COR Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V. kripte (-). gusi berdarah (-).5 4. luka (-) 6. TB : 168 cm 3. pupil isokor (diameter 3mm/3mm). pembesaran kelenjar tiroid (-). 9. Status Gizi : 1. Thoraks: normochest. tidak mudah dicabut. BB : 61 kg 2. bibir kering (-). kesemutan (-) mengigau (-). gelisah (-). Leher : simetris. punggung. lidah kotor tepi hiperemis (-).8° C (axiller) 5. mata cekung (-/-). Kesadaran : composmentis 3. retraksi supraternal (-) retraksi intercostalis (-) sela iga melebar (-). irama reguler. Kepala : bentuk mesocephal. anyang-anyangan (-). 2 cm medial linea midclavicularis sinistra. Keadaan Umum : tampak cukup 2.

lien tidak teraba. Aus: Suara dasar vesikuler (+/+). sela iga tidak Pa : Statis : simetris. simetris I : Statis : normochest (+/+). sela iga tidak melebar. sela iga tidak melebar. retraksi (-/-) Dinamis : pergerakan paru Dinamis : pergerakan paru simetris. tidak ada yang retraksi (-/-) tertinggal. tes undulasi (-). wheezing (-/-) ronki (-/-). pekak sisi (-). tidak ada yang tertinggal. timpani di semua kuadran abdomen Palpasi : supel. hepar tidak teraba. murmur (-) PULMO Depan Belakang I : Statis : normochest (+/+). wheezing (-/-) 12. nyeri ketok costovertebra (-) 13. bising (-). simetris kanan kiri. sela iga tidak melebar. 2 cm medial linea midclavicularis sinistra kiri atas : SIC II linea sternalis sinistra kanan atas : SIC II linea sternalis dextra pinggang jantung : SIC III linea parasternalis sinistra Kesan : konfigurasi jantung dalam batas normal Auskultasi: Bunyi Jantung I-II reguler. retraksi (-/-) kanan kiri. lordosis (-). simetris. Punggung : kifosis (-). retraksi (-/-) Dinamis : pergerakan paru Dinamis : pergerakan paru simetris. retraksi (-/-) simetris. sikatriks (-). retraksi tidak ada yang tertinggal. nyeri tekan epigastrium (-). turgor kembali cepat 14. ronki (-/-). retraksi (-/-) Pa : Statis : simetris.kiri bawah : SIC V. Abdomen Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada. gallop (-). striae (-) Auskultasi: bising usus (+) Perkusi : pekak alih (-). spider nevi (-). retraksi (-/-) (-/-) Stem fremitus kanan=kiri Stem fremitus kanan=kiri Pe : sonor / sonor seluruh lapang paru Pe : sonor/sonor seluruh lapang paru Aus: Suara dasar vesikuler (+/+). Ekstremitas Superior Inferior Akral dingin (-/-) (-/-) Edema (-/-) (-/-) Reflek fisiologik (+/+) (+/+) Reflek patologik (-/-) (-/-) Capilary refill <2“ <2“ Kekuatan 5/5 5/5 . melebar. tidak ada yang tertinggal.

50 32.10 1.045-0.40 84. Vivax NILAI NORMAL Negatif V.05 103/uL 6.50 149 14. Riwayat sakit bekerja di luar Jawa (Ternate) Pemeriksaan Fisik : Tidak ditemukan adanya kelainan Pemeriksaan Penunjang : 5.48 0.9 13. Neutrofil (H) 77.21 0.3 10-52 80-100 26-34 32-36 140-392 11.06 6.50 27.2 1.0-6 0. Eosinofil (L) 0.16-1 2-4 0-1 50-70 25-40 2-6 Negatif Negatif 26 Juli 2013 L L L 6.30 15.88 5. Demam lebih dari 2 minggu 2.IV.02 13.5 0.30 % .10 SEROLOGI Negatif Negatif HASIL SATUAN (+) P. Eosinofil absolute (L) 0.40 10ᶺ3/uL 10ᶺ6/uL g/dL % f/L Pg g/dL 10ᶺ3/uL % 10ᶺ3/uL 10ᶺ3/uL 10ᶺ3/uL 10ᶺ3/uL 10ᶺ3/uL % % % % % 3. Badan terasa lemas 3. Hasil Pemeriksaan Hematologi (tanggal 7 Juli 2013) TANGGAL PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL DARAH RUTIN Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit RDW Diff Count Eosinofil absolute Basofil absolute Netrofil absolute Limfosit absolute Monosit absolute Eosinofil Basofil Neutrofil Limfosit Monosit Typhi O Typhi H TANGGAL 26 Juli 2013 PEMERIKSAAN Malaria 7.44 0-0.60 77.6 4.5-14. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. DAFTAR ABNORMALITAS Anamnesis : 1.05 0.40 0.20 L 0.9-5.4-5.2 0.40 % 7.80 42.8-10.2-17. Kepala pusing 4.

Monosit (H) 15. Anemia 2. Primakuin 1x2 tab f. Vivax ANALISIS DAN SINTESIS Abnormalitas  1-11  Malaria vivax PROBLEM 1 : Malaria vivax a.40 % 10. Malaria (+) : P. Ass. Infus RL 20 tpm 2. Serologi Marker : SGOT. Faktor risiko a. Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp 4. SGPT. Diit lunak 2. tes widal 3. Istirahat yang cukup 3. Ip Tx Non medikamentosa : 1. Limfosit (L) 13. Injeksi Cefotaxim 2 x 1 gram 3. Splenomegali d. Pemeriksaan serum/plasma : malaria . Etiologi : Infeksi P. Vivax b. Ip Ex 1) Edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien 2) Istirahat yang cukup .20 % 9. Ip Dx 1. Hepatomegali 3. Ass.prn 5. Bekerja di daerah endemmik malaria c.8. cholinesterase. Pemeriksaan darah rutin 2. Ip Mx 1) Keadaan umum 2) Vital sign 3) Monitoring lab darah rutin 4) Monitoring lab malaria g. albumin/globulin e. Ass. Komplikasi 1. Hindari stres dan kecemasan Medikamentosa : 1. DHP 1x4 tab 6. Paracetamol 3x1 s.

pekak sisi(-).). sclera ikterik (-/-) Pembesaran kelenjar getah bening (-/-) Simetris. pusing (+).7°C (axiller) Mesochepal Konjungtiva pucat ( -/.prn DHP 1x4 tab Primakuin 1x2 tab Tanggal 7 Juni 2013 Demam (+) . merasa menggigil.-). nyeri tekan (-). pusing (+).dan keringat berlebih . SD Vesikuler (+/+). isi dan tegangan cukup RR : 20 x/menit T : 36. BU(-) .PROGRESS NOTE Tanggal 15 Juli 2013 Subyektif Keluhan Obyektif Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Demam (-) . bising jantung (-) Taktil fremitus kanan=kiri. ronki (-/-) Permukaan cembung. lemas (+) Tanggal 13 Juni 2013 Keluhan Demam (+). Pusing (-) Cukup Compos mentis TD : 120/70 mmHg Nadi : 82 x/menit. BJ I-II regular. sela iga tak melebar Iktus kordis tak tampak. wheezing (-/. reguler. timpani. perkusi sonor seluruh lapang paru. konfigurasi jantung dalam batas normal. lemas (+) Kepala Mata Leher Thorax Cor Pulmo Abdomen Ekstremitas Assesment Plan Keluhan Tanggal 8 Juni 2013 Keluhan Demam (-). hepar/lien tidak teraba. pekak alih (+) Dalam batas normal Malaria Vivax       Infus RL 20 tpm Injeksi Cefotaxim 2 x 1 gram Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp Paracetamol 3x1 s.

mual (-). BAB dan BAK tidak ada keluhan Tanggal 17 Juni 2013 Keluhan T.A.K (pasien pulang) \ .Tanggal 16 Juni 2013 Keluhan Demam (-). muntah (-).

000 penduduk dengan angka yang tertinggi 20% di Gorontalo. black water fever. . malaise. Eropa Timur. Amerika tengah dan Selatan. dan malaria cerebral. anoreksia. Diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya. episode panas episode berkeringat Malaria masih merupakan masalah kesehatan utama negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia. hal ini tergantung pada prilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor. yaitu : 1. Suatu serangan seringkali dimulai secara samarsamar. Pola Demam Secara parasitologi dikenal 4 genus Plasmodium dengan karakteristik klinis yang berbeda bentuk demamnya.2 per 100. Kasus malaria vivax walaupun jarang fatal tapi merupakan penyebab utama morbiditas dan mempengaruhi ekonomi baik tingkat individu maupun nasional. Asia Utara. Serangan pertama dimulai dengan sindrom prodormal berupa: sakit kepala.vivax. Demam tidak teratur pada 2-4 hari pertama. plasmodium malariae dan plasmodium oval. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 memperkirakan angka kematian spesifik akibat malaria di Indonesia adalah 11 per 100. Dari empat spesies parasit malaria yang menginfeksi manusia yaitu Plasmodium falciparum. tetapi kemudian menjadi intermitten dengan perbedaan yang nyata pada pagi dan sore hari.000 untuk laki-laki dan 8 per 100. malaise umum. diare. perut tidak enak. 13% di NTT dan 10% di Papua.PEMBAHASAN Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium. sekitar 40% kasus malaria di dunia disebabkan oleh P. Menurut WHO. merasa dingin di punggung. dua spesies yang pertama merupakan penyebab lebih dari 95% kasus malaria di dunia. sakit kepala. sakit punggung.000 untuk perempuan. acutetubular necrosis. diperkirakan prevalensi malaria adalah 850. nyeri sendi dan tulang. yang penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles.vivax merupakan spesies parasit yang paling dominan di Asia Tenggara. Hampir separuh populasi Indonesia sebanyak lebih dari 90 juta orang tinggal di daerah endemik malaria. A. Di Kalimantan Selatan sendiri merupakan daerah endemis malaria. trias malaria yaitu episode dingin/menggigil. 2. P. kurang lebih hanya 10 % saja yang mendapat pengobatan di fasilitas kesehatan. plasmodium vivax. Plasmodium vivax Secara klinis dikenal sebagai Malaria tertiana disebabkan serangan demamnya yang timbul setiap 3 hari sekali. dimana suhu meninggi kemudian turun menjadi normal. Menurut data dari fasilitas kesehatan pada 2001. Secara klinis sering ditandai dengan:  serangan paroksismal dan demam periodik  anemia  pembesaran limpa  kadang-kadang dengan komplikasi pernisiosa seperti ikterik.  Keluhan prodromal sebelum terjadinya demam berupa kelesuan. demam ringan. Prevalensi kasus malaria di Indonesia atau daerah-daerah endemi malaria tidak sama. mual. dan diare ringan. Plasmodium malaria Secara klinis juga dikenal juga sebagai Malaria Quartana karena serangan demamnya yang timbul setiap 4 hari sekali. Vektor malaria yang terdapat di Kalimantan adalah Anopheles letifer dan Anopheles balabacensis.

B. Penderita tampak lebih sakit dibandingkan dengan malaria vivax dan sakit kepalanya hebat. Perjalanan penyakitnya tidak terlalu berat. Serangan demamnya tidak teratur dengan gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi oleh jenis plasmodium lainnya. 4. diiukuti berkeringat dan demam yang hilang-timbul. .Serangannya menyerupai malaria vivax dengan selang waktu antara dua serangan adalah 72 jam. penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil berikutnya. Plasmodium falciparum Secara klinis dikenal sebagai Malaria tropicana. 4. Suatu serangan bisa diawali dengan menggigil. Tes serologi Deteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Apus darah tipis :digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. waktu yang dipakai cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifisitasnya tinggi. Serangan bisa berlangsung selama 20-36 jam. b. Suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun. Suatu serangan bisa dimulai secara samar-samar dengan menggigil. Pemeriksaan darah tepi (tetes tebal dan hapus tipis) Tetes tebal (-) : SD negatif (tdk ditemukan parasit dlm 100 LP) (+) : SD positif 1 (ditemukan 1-10 parasit/100 LP) (++) : SD positif 2 (ditemukan 11-100 prst/100 LP (+++) : SD positif 3 (ditemukan 1-10 prst/ 1 LP) (++++) : SD positif 4 (ditemukan > 10 prst/ 1 LP) Kepadatan parasit bila dihitung pd tetes tebal yaitu menghitung jumlah parasit per 200 lekosit 2. Bila parasit lebih dari 100000/ul darah menandakan infeksi berat. Serangan demam lebih teratur dan terjadi pada sore hari. Diantara serangan (dengan selang waktu 36-72 jam). 3. Pemeriksaan Penunjang Malaria 1. Kepadatan parasit dapat dinyatakan sebagai hitung parasit. dapat memberikan hasil yang positif. dapat dilakukan berdasar julah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Keunggulannya walaopun jumlah parasit sedikit. Setelah demam reda. Sediaan mudah dibuat. Pemeriksaan negatif bila setelah diperiksa 200 lapang pandang dengan pembesaran kuat 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. ICT test. Plasmodium ovale Secara klinis dikenal juga sebagai Malaria Ovale dengan pola demam tidak khas setiap 2-1 hari sekali. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria a. Pemeriksaan PCR Samgat peka dengan teknologi amplifikasi DNA. Apus darah tebal : Cara terbaik untuk menemukan parasit malaria. Tes Diagnostik Cepat Antigen HRP-2 (Histidine Rich Protein 2) : PF test. Paracheck Antigen enzim parasit Lactate Dehidrogenase (p-LDH) : test optimal Antigen HRP-2 4 spesies plasmodium : pan malarial 3. penderita biasanya merasa tidak enak badan dan mengalami demam ringan.

1 : teraba pada inspirasi maksimal  H. P. yaitu proguanil. Primakuin adalah gametosid yang ampuh bagi keempat spesies. dan pengobatan untuk mencegah transmisi atau penularan bila obat digunakan terhadap gametosit dalam darah. Sedangkan dalam program pemberantasan malaria dikenal 3 cara pengobatan.vivax. Urine lengkap 7. antara lain: 1. Skizontisid jaringan sekunder yang membasmi parasit ekso-eritroit. Kualifikasi Hacket  H. dan amodiakuin 4. yaitu primakuin 3. Skizontisid darah yang membasmi parasit fase eritrosit. Saat ini pengobatan massal hanya di berikan pada saat terjadi wabah. Skizontisid jaringan primer yang membasmi parasit pra-eritrosit. . yaitu primakuin dan proguanil.4 : teraba dibawah garis horisontal pertengahan umbilikus-simphisis pubis  H. pengobatan kuratif untuk pengobatan infeksi yang sudah terjadi terdiri dari serangan akut dan radikal. Obat antimalaria terdiri dari 5 jenis. yaitu kina. al ini harus dinyatakan secara khusus. Besarnya limfa dinyatakan berdasarkan kualifikasi Hacket. Pengobatan Pengobatan malaria menurut keperluannya dibagi menjadi pencegahan bila obat diberikan sebelum infeksi terjadi. Pengobatan massal digunakan pada setiap penduduk di daerah endemis malaria secara teratur. Sporontosid mencegah gametosid dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoid dalam nyamuk anopheles. Bila diperiksa kelompok dewasa.5 :teraba dibawah garis H. Faal hati : SGOT.3 : teraba dibawah garis horisontal melalui umbilikus  H.bilirubin direk dan indirek. prothrombin time 6. pirimetamin 2. klorokuin. tapi proyeksinya tidak melebihu garis horisontal yang ditarik melalui pertengahan arcus costae dan umbilikus pada garis mamilaris kiri  H. Pengobatan presumtif dengan pemberian skizontisida dosis tunggal untuk mengurangi gejala klinis malaria dan mencegah penyebaran 2.5. dan amidokuin 5. biasanya golongan umur 2-9 tahun. Spleen Rate (SR) Menggambarkan persentase oenduduk yang limfanya membesar. klorokuin.0 : tidak teraba  H. Gula darah C. Pengobatan radikal diberikan untuk malaria yang menimbulkan relaps jangka panjang 3.4 Hanya Plasmodium falsifarum yang dapat menyebabkan malaria berat Malaria berat terutama malaria serebral yang merupakan komplikasi terberat yang sering menyebabkan kematian. P. Gametosid untuk P. yaitu : 1. SGPT. D.2 : teraba.malaria. adalah kina. pengobatan supresif bila obat diberikan untuk mencegah timbulnya gejala klinis. Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual.ovale.

Atau hari I dan II masing-masing 10 mg/kgBB dan hari III 5 mg/kgBB + Primakuin 1 hari 2. maka di berikan : a. Halofantrin 8 mg basa/kgBB setiap 6 jam untuk 3 dosis 5. atau hari ke VIII masih dijumpai parasit dalam darah. Fansidar atau suldox dengan dasar dosis pirimetamin 1-1. Bila dengan pengobatan butir 1 ternyata pada hari ke IV masih demam. pengobatan malaria secara radikal tertera pada tabel berikut: Tabel 3. Tetrasiklin HCL 50 mg/kgBB. selama 7 hari atau b. sehari 4 kali selama 7 hari + fansidar/suldox bila belum mendapat pengobatan butir 2a atau b. dengan perincian sebagai berikut : Hari pertama 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa). Meflokuin15 mg/kgBB (maksimum 1000 mg) dibagi dalam 2 dosis dengan jarak waktu pemberian 12 jam secara terpisah.3 mg basa/kgBB/hari selama 14 hari (maksimal 26. Bila tersedia dapat di beri obat-obat sebagai berikut : a. Dosis kina dan fansidar/suldox sesuai butir 2a dan 2b (tetrasiklin hanya diberikan pada umur 8 tahun atau lebih) 4. Vivax dan P. Kina Sulfat 30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Pengobatan Malaria Secara Radikal Malaria Tertiana Tropika Malaria Umur < 1 thn 1-4 thn 4-8 thn 8-15 thn Hari Pemberian 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Nivaquine (Klorokuin basa) 75-150 mg 75-150 mg ½ dois 150-300 mg 150-300 mg ½ dosis 300-400 mg 300-400 mg ½ dosis 400-600 mg 400-600 mg ½ dosis Primakuin basa 2. Ovale (untuk umur > 5 tahun) diberikan primakuin 0. Meflokuin tidak boleh diberikan sebelum lewat 12 jam pemberian lengkap kina parenteral b.5 mg/kgBB atau sulfadoksin 20-30 mg/kgBB single dose (usia diatas 6 bulan) 3. Tetrasiklin HCL + kina sulfat bila sebelumnya mendapatkan pengobatan butir 2b. Klorokuin bisa diberikan total 25 mg/KgBB selama 3 hari. Bila dengan pengobatan butir 2 pada hari ke IV masih demam atau hari ke VIII masih dijumpai parasit maka diberikan : a.5 mg 5 mg 5 mg 5 mg 10 mg 10 mg 10 mg . Untuk pencegahan relaps pada P.3 mg/hari) Sedangkan menurut WHO (1971). 6 jam kemudian dilanjutkan 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa) dan 5 mg/kgBB pada 24 jam (maksimal 300 mg basa) + Primakuin 1 hari.Protokol untuk pengobatan malaria rawat jalan atau rawat inap sebagai berikut: 1.5 mg 2.5 mg 2.

sedangkan didaerah endemisitas rendah. hiperparasitemia. b. Manifestasi klinis : kelemahan. Mekanisme patogenesis sporozoit dilepas sewaktu nyamuk anopheles menggigit manusia □ masuk kedalam sel-sel hati (hepatosit) □ skizon ekstra eritrositer □ matang □ pecah (ruptur) dan □ s merozoit □ menginvasi sel eritrosit ( skizogoni intra eritrositer) eritrosit yang mengandung parasit (EP) menyebabkan perubahan struktur dan biomolekuler sel untuk mempertahankan kehidupan parasit. ekspresi varian neoantigen dipermukaan sel. A. hemoglobinuria. malaria berat terutama terdapat pada anak kecil. sitoadherens. Perubahan mekanisme transpot membran sel. ganguan fungsi ginjal. hipoglikemia. menyebabkan anemia. hiperlaktatemia. Perhatian utama: sekuestrasi eritrosit yang berisi parasit stadium matang kedalam mikrovaskuler organ-organ vital. Faktor lain seperti induksi sitokin TNF dan sitokinsitokin lainnya oleh toksin parasit malaria dan produksi nitrit oksid (NO) juga diduga mempunyai peranan penting 1. umur. 2. genetik. edema paru. demikian pula halnya dengan virulensi parasit. perdarahan abnormal. falsiparum fase aseksual dengan disertai satu atau lebih gambaran klinis atau laboratoris berikut 1. ikterik. rosseting dan sekuestrasi. Pada daerah endemis malaria yang stabil.MALARIA BERAT World Health Organization (WHO) 2006: parasitemia P. Faktor-faktor yang berperan a. Faktor host meliputi endemisitas. mengubah biokimia sistemik. pembentukan knob. status nutrisi dan imunologi. malaria berat terjadi tanpa memandang usia. hipoksia jaringan dan organ. penrunan deformabilitas. gangguan kesadaran. . respiratory distress (pernapasan asidosis). 2. dan virulensi parasit. syok. asidosis. Pemeriksaan laboratorium: anemia berat. Densitas parasit dengan semakin tingginya derajat parasitemia berhubungan dengan semakin tingginya mortalitas. melepaskan toksin malaria yang akan menstimulasi sistim RES dengan dilepaskannya sitokin proinflamasi seperti TNF alfa dan sitokin lainnya dan mengubah aliran darah lokal dan endotelium vaskular. Faktor Parasit intensitas transmisi. PATOGENESIS Penelitian berkembang pesat & penyebab pasti belum diketahui dengan jelas. Skizon yang matang pecah. kejang berulang. perubahan reologi.

hipoglikemi. dari kelainan kesadaran sampai gangguan organorgan tertentu dan gangguan metabolisme. c. Wanita hamil c. Kelaianan Hati (malaria biliosa). 1. hemolisis. Penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. sering disertai kejang. obstruksi mikrovaskular. stupor. sitoadheren dan rosseting. Hemoglobinuria (Black water fever). somnolen. misaInya penderita penyakit keganasan. koma yang dapat terjadi secara perlahan dalam beberapa hari atau mendadak dalam waktu hanya 1-2 jam. faisifarum: penderita dewasa >>> anak-anak. Manifestasi ini dapat berbeda-beda menurut katagori umur pada daerah tertentu berdasarkan endemisitas setempat. Kelainan fungsi ginjal Dapat terjadi prerenal karena dehidrasi (>50%). Gagal Ginjal Akut. Hipoglikemia. Penduduk dari daerah endemis malaria yang telah lama meninggalkan daerah tersebut dan kembali ke daerah asalnya. Malaria Algid Asidosis Gastrointestinal Hiponatremia Gangguan Perdarahan . Diperberat karena gangguan metabolisme. kenaikan kadar serum albumin & penurunan ringan kadar serum transaminase Ganggguan fungsi hati : hipoglikemia. Malaria Serebral Ditandai dengan : penurunan kesadaran berupa apatis. penderita dalam pengobatan kortikostreroid d. Edeme Paru/ARDS Edema paru dapat terjadi oleh karena hiperpermiabilitas kapiler dan atau kelebihan cairan dan mungkin j uga oleh karena peningkatan TNF-x. Anemia. Terjadi perdarahan dan nekrosis sekitar venule dan kapiler. kerusakan sel-sel hepatosit. b. sekuestrasi dan sitoadheren. Penilaian penurunan kesadaran ini dievaluasi berdasarkan GCS (Glasgow Coma Score). 3. Anak-anak usia balita b. Gagal ginjal Akut. seperti asidosis. Gangguan fungsi ginjal ini oleh karena anoksia yang disebabkan penurunan aliran darah ke ginjal akibat dehidrasi dan sumbatan mikrovaskular akibat sekuestrasi. Penelitian dengan imunofluoresensi memperlihatkan adanya deposit antigen P. a. Ikterik yang berat karena P. gangguan ini dapat terjadi karena beberapa proses patologis. . 2. Jenis Gejala klinis Beberapa manifestasi dari malaria berat antara lain Malaria Serebral. gangguan metabolisme obat-obatan. Kelainan Hati (Malaria Biliosa) Ikterus sering dijumpai pada infeksi malaria falsifarum. disorientasi. Edema Paru ARDS. GEJALA KLINIS Manifestasi malaria berat bervariasi. Falsifarum dan imunoglobulin G dalam kapiler otak dan ruang ekstrvaskular di area inflamasi akut. sopor. dan hanya sekitar 5-10% disebabkan oleh nekrosis tubulus akut. Ikterik karena hemolitik sering terjadi. HIV.B. Faktor Predisposisi a. asidosis laktat.

5) Sitokin akan menggangu glukoneogenesis. sehingga mengganggu bersihan 6) laktat. Malaria Algid Terjadi gagal sirkulasi atau syok. & gangguan (inefektifitas) sistem eritropoesis. dan penderita dewasa dalam pengobatan quinine. Keadaan ini dapat disebabkan: 1) Perfusi jaringan yang buruk oleh karena hipovolemia yang akan menurunkan pengangkutan oksigen 2) Produksi laktat oleh parasit. 5) Aliran darah ke hati yang berkurang. Gambaran umum malaria berat adalah anemia yang sering kali memerlukan transfusi darah yang terdapat pada sekitar 30% kasus. 4) Anemia berat. yang bukan disebabkan oleh karena defisiensi G6PD.d. Pada kebanyakan kasus didapatkan tekanan darah normal rendah yang disebabkan karena vasodilatasi. Hipoglikemi terjadi karena : 1) Cadangan glukosa << □ penderita Starvasi atau malnutrisi. e. oliguria dan ikterik. g. Syok dan dehidrasi dan biasanya bersamaan dengan sepsis. 5) Kelebihan dosis antikonvulsan (phenobarbital) menekan pusat pernafasan. Anemia percepatan destruksi sel-sel darah merah dan peningkatan bersihan oleh limpa. Asidosis Asidosis (bikarbonat < 15meq) atau asidemia (PH < 7.25). Indikasi transfusi bila kadar Hb < 5 g/dI atau bila hematokrit < 15%. f. 3) Terbentuknya laktat karena aktifitas sitokin terutama TNF. 3) Meningkatnya metabolisme glukosa di jaringan. 6) Hiperinsulinemia pada pengobatan quinine. pada fase 4) respon akut. wanita hamil. hiperparasitemia disertai dengan anemia berat diperlukan transfusi ganti (exchange blood transfusion). disertai keringat dingin . haemoglobinuria. anemia hemolitik. . tekanan sistolik < 70 mmHg . Hipoglikemi Hipoglikemi sering terjadi pada anak-anak. h. Penyebab lain Gangguan pernafasan (Respiratory distress): 1) Kompensasi pernafasan □ asidosis metabolik. 2) Efek langsung dari parasit atau peningkatan tekanan intrakranial pada pusat pernapasan di otak 3) Infeksi skunder pada paru-paru. 2) Gangguan absorbsi glukosa □ berkurangnya aliran darah ke splanchnicus. Haemoglobinuria (Black Water Fever) Klinis ditandai oleh demam. pada malaria menunjukkan prognosis yang buruk. 4) Pemakaian glukosa oleh parasit.

j. Pada keadaan asidosis perbaikan anemi merupakan tindakan yang utama sebelum pemberian koreksi bikarbonat. suhu 40' C (hipertermia) 1). kematian janin intra uterin. Perhatikan cairan & oksigenisasi lancarnya saluran nafas dan kalau perlu dengan ventilasi bantu. Sekuestrasi dan rosseting di mikrosirkulasi plasenta menyebabkan gangguan nutrisi melalui plasenta dan diperberat karena terjadinya anemia karena adanya penghancuran eritrosit pada saat skizogoni. muntah. Respon terhadap starvasion terjadi lebih cepat. mual. D. i. yaitu bila Hb < 5 g/dl atau hematokrit < 15 %. dan PH darah menurun (< 7. C. diberikan setiap 4 jam. Hiponatremia Terjadinya hiponatremia disebabkan karena kehilangan cairan dan garam melalui muntah dan mencret. 8) Asidosis metabolik dan gangguan metabolik : pernafasan Kussmaul. Perdarahan lebih sering disebabkan oleh Koagulasi intravaskular diseminata (KID). Gastro Intestinal Gejala gastrointestinal sering dijumpai pada malaria falsifarum berupa keluhan tak enak diperut. peningkatan asam laktat. flatulensi.7) Gangguan fungsi ginjal.25) dan penurunan bikarbonat (< 15meq). parasetamol 15mg/kgBB/kali. kolik. mengatasi keadaan hipovolemia. Pemberian anti piretik untuk mencegah hipertermia. 2. MALARIA PADA KEHAMILAN Wanita hamil lebih rentan infeksi P Falsifarum yang dapat mengakibatkan terjadinya abortus. Pengobatan Suportif Menjaga keseimbangan cairan elektrolit dan keseimbangan asam-basa. Kejadian hipoglikemia juga lebih banyak ditemukan pada kasus kehamilan oleh karena : 1. diare atau konstipasi. PENGOBATAN MALARIA BERAT Pengobatan malaria berat secara garis besar terdiri atas 3 komponen  suportif (perawatan umum dan pengobatan simtomatis)  spesifik dengan kemoterapi anti malaria  komplikasi 1. . k. Edema paru juga lebih mudah timbul pada wanita hamil. lahir mati dan lahir premature. Kompres dingin intensif 2). Anemia diberikan transfusi darah. Gangguan Perdarahan Gangguan perdarahan oleh karena trombositopenia sangat jarang.sehingga terganggunya ekresi asam. Pankreas hiperresponsif terhadap kina. Kejang diberi diazepam 10-20 mg intravena diberikan secara perlahan atau phenobarbital 100mg diberikan 2 kali sehari.

b. c. selanjutnya setiap hari sekali sampai penderita dapat minum obat dilanjutkan dengan obat oral kombinasi. Artemisin pilihan pertama untuk pengobatan malaria berat □ malaria falsiparum yang resisten terhadap klorokuin maupun kuinin. kemudian dilanjutkan dengan obat kombinasi peroral. Selama pemberian kuinin parenteral monitoring 1).4mg/kgbb iv pada waktu masuk (time= 0) kemudian pada jam ke 12 dan jam ke 24..5 mg/kg/BB selama 4 jam setiap 8 jam sampai penderita dapat mimun obat. Kuinin HC1 25% dengan dosis loading 20mg/kg/BB dalam 100-200cc cairan dekstrose 5% (NaC1 0. EKG. penderita usia lanjut atau pada penderita dengan pemanjangan Q-Tc interval/arittriia pada basil pemeriksaan EKG. Pengobatan lanjutan peroral pada penderita yang sebelumnya mendapatkan pengobatan dengan Artemeter ini atau Artesunate iv dapat berupa kombinasi Artesunate dengan Amodiaquin selania 3 hari atau kombinasi Kuinin dengan Tetrasiklin/Doksisiklin/Klindamisin selama 7 hari.2. kemudian diulang dengan cairan yang sama terus menerus sampai penderita dapat minum obat dan dilanjutkan dengan pembenian kuinin peroral dengan dosis 3 kali sehari 10mg/kgBB (3x600mg). dan dilarjutkan dengan 10 mg/kgbb dilarutkan dalam 200 ml dekstrose 5% diberikan dalam waktu 4 jam. Pengobatan Spesifik a. Golongan artemisin yang dipakai untuk pengobatan malaria berat antara lain : 1) Artemether diberikan dengan dosis 3. Selanjutnya diberikan dengan dosis dan cairan serta waktu yang sama setiap 8 jam. dengan total pernberian kuinin keseluruhannya selama 7 hari. Kuinidin glukonate diberikan dengan dosis 7.9%) selama 4jam. Dosis loading ini tidak dianjurkan pada penderita yang telah mendapat pengobatan kumin atau meflokuin dalarn 24jam sebelumnya. Klorokuin . Apabila penderita sudah sadar penderita dapat minum obat dan dilanjutkan dengan pemberian kuinin peroral dengan dosis 3 kali sehari 10mg/kgBB (3x600mg).2mg/kgbb/hari im pada hari pertama. dengan total pemberian kuinin keseluruhannya selamia 7 hari. dilanjutkan dengan 1. Kuinin HCL Kumin HC1 25% 500mg (dihitung BB rata-rata 50kg) dilarutkan dalarn 500cc Dekstrose 5% atau Dekstrose dalam larutan saline diberikan selarna 8 jam.6mg/kgbb/han (biasanya diberikan dengan dosis 160mg dilanjutkan dengan dosis 80mg) sampai 4 hari (penderita dapat minum obat). 2) Artesunate Artesunate diberikan dengan dosis 2. Gula darah setiap 8 jam 2). atau pemberian infus dalarn cairan tersebut diberikan selarna 4jam.

Hipoglikemia (gula darah <50mg/dl) Pada penderita yang tidak sadar harus dilakukan pemeriksaan gula darah setiap 46 jam.5mg/kgBB k1oroquin basa dengan interval setiap 6 jam. E. d. Heparin dan adrenalin. 8 jam. Gagal ginjal akut Hemodialisis atau hemofiltrasi dilakukan sesuai dengan indikasi umumnya. 3.5mg/kgBB kloroquin basa dengan interval setiap 4 jam.9% diberikan dalarn. Klorokuin diberikan bila masih sensitif atau pada kasus demam kencing hitam (black water fever) atau pada mereka yang diketahui hipersensitif terhadap kina. atau 2. Hindari pemakaian kortikosteroid. Kecepatan/ketepatan diagnosis dan pengobatan Makin cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya. Dialisis dini akan memperbaiki prognosis. pemeriksa kultur darah. Koma Jaga jalan nafas. Tindakan mi berguna untuk mengeluarkan eritrosit yang berparasit. antimikroba parenteral. Pengobatan Komplikasi a. d.jarang dipakai untuk pengobatan malaria berat. 2. Bila secara intravena tidak memungkinkan. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya. dilanjutkan dengan infus dekstrosa 10% dan gula darah tetap dipantau tiap 4-6 jam. 3. Bila terjadi hipoglikemi berikan suntik dekstrosa 40% i. Kepadatan parasit . Klorokuin basa diberikan dengan : Dosis loading 10 mg/kgbb dilarutkan dalarn 500 ml NaC1 0. semakin baik prognosisnya. singkirkan penyebab lain dari koma (hipoglikemi. meningitis bakteri). atasi ganguan hemodinamik. b. menurunkan toksin hasil parasit dan metabolismenya (sitokin dan radikal bebas) serta memperbaiki anemia. kemudian ditanjutkan dengan dosis 5mg/kgBB per infus selama 8 jam dan sebanyak 3 kali (dosis total 25mg/kgBB selarria 32 jam). Kegagalan fungsi organ Kegagalan fungsi organ dapat tejadi pada malaria berat terutama organ-organ vital. Transfusi Ganti (Exchange Transfusion) Tindakan transfusi ganti dapat menurunkan secara cepat pada keadaan parasitemia. dapat diberikan secara intra muskuleratau sub kutan dengan cara: 3.v. Monitoring gula darahjuga harus dilakukan pada penderita yang mendapat pengobatan dengan kuinin c. PROGNOSIS Prognosis pada malaria berat tergantung pada: 1. Syok Suspek septikemia.

Medical Clinic of North America 1994(6). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta . Hadi W. Dalam: Ilmu Penyakit Dalam. Moleculer Epidemiology of Plasmodium Falsiparum Resistance to Antimalaria Drugs in Indonesia. Prevntion and Treatment of Malaria. Wijaya IP. 2009 : 1-250 3. Diagnosis. 8. 2005. Erwin AT. Fakultas Kedokteran Indonesia:Jakarta. 2005. Penyakit infeksi di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA 1. Cook GC. dkk. Syafrudin D. 76 : 1327-60 . 2009 : 441-48 2. The Lancet. Rani AA. Edisi ke2. Casey GJ. 2006 : 148-51 5. Hadi W. 6. 2 : 32-38 Hofman SL. dkk. terlebih lagi bila didapatkan bentuk skizon dalam pemeriksaan darah tepinya. 1988. 1999 : 504-08 4. Asih PB. Malaria Berat. Editor: Nasroudin. WHO and Unitet Nations International Children’s Emergency Fund. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Malaria Dari Molekuler ke Klinis. Edisi ke-1. dkk. Nugroho A. Erwin AT. Soegondo S. Gunawan CA. World Malaria Report. Fakultas Kedokteran Airlangga:Surabaya. Nasroudin. Zulkarnaen I.Pada pemeriksaan hitung parasit (parasite count) semakin padat/banyak jumlah parasitnya yang didapatkan. semakin buruk prognosisnya. Editor’s. 72 : 174-82 7. Treatment and Prevontion of Malaria. Harijanto PN. Panduan Pelayanan Medik PAPDI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful