PENGARUH HARGA MINYAK DAN SUKU BUNGA FED TERHADAP HARGA-HARGA ASET INDONESIA 1993-20051

LUKMAN HAKIM Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Abstract This study aim to compare response assets price for oil price and Fed shock in period 1993-2005. Assets price consist of, consumer index price (IHK), exchange rate, stock exchange composite index (IHSG), inter call money rate (PUAB). Study used Vector Autoregression (VAR) method to analysis impulse response asset price to shock of oil price and Fed. Results are Oil price shock has more strong influence for IHK, exchange rate and IHSG and Fed Shock has more impact to PUAB. Key Word: oil price, Fed, and VAR.

PENDAHULUAN Kenaikan harga minyak bumi akhir-akhir ini, telah menghantui dunia. Hal ini mengancam lahirnya depresi ekonomi secara mondial. Terutama jika tidak diantisipasi baik dari sudut peningkatan pasok maupun penurunan permintaan minyak bumi, ancaman resesi itu akan menjadi kenyataan. Beberapa kejadian resesi global sebagai akibat melambungnya harga minyak terjadi pada tahun 1974-1975 sebagai dampak perang Yom Kippur (Arab-Israel) yang dilanjutkan dengan embargo minyak oleh OPEC. Pada tahun 1980-1981, peristiwa penyanderaan staf Kedubes AS di Teheran menyusul adanya Revolusi Iran (1979) mendorong harga minyak meningkat tinggi. Demikian pula, ketika pada tahun 1990-1991, Irak menginvasi Kuwait mendorong terjadinya Perang Teluk dan krisis energi di California juga mendorong harga minyak bergerak tinggi (Roubini dan Setser, 2004).
1

Telah diterbitkan pada Jurnal Empirika Fak. Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (terakreditasi) Desember 2005.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Krisis ekonomi global sebagai akibat kenaikan harga minyak telah mendorong beberapa ekonom melakukan studi. Studi Carlstrom dan Fuerst (2005) menyatakan bahwa berdasarkan data empirik terlihat bahwa jika harga minyak bumi meningkat akan diikuti dengan kenaikan suku bunga Fed. Fenomena ini telah terjadi sejak tahun 1971 sampai sekarang yang dimaksudkan agar posisi dollar AS menjadi lebih kuat. Namun studi lain, yakni yang dilakukan oleh Bernanke, Getler dan Watson (BGW) (1997, 2004) menemukan bahwa memang kenaikan harga minyak bumi berpengaruh terhadap perekonomian Amerika Serikat. Salah satu cara untuk mengatasi situasi seperti itu adalah Federal Reserve menaikkan suku bunga Fed. Dengan menggunakan metode VAR, BGW melihat bahwa pengaruh kenaikan harga minyak bumi terhadap suku bunga Fed sangat lemah, seperti ditunjukkan respons negatif suku bunga Fed terhadap shock harga minyak bumi. Kontroversi pengaruh harga minyak bumi terhadap situasi perekonomian suatu negara pada umumnya dan sektor moneter pada khususnya mendorong perlunya untuk melakukan studi lanjut. Terlebih lagi dalam kasus Indonesia. Jika pada awal 1970-an hingga akhir 1980-an, setiap kenaikan harga minyak (oil boom) merupakan rezeki nomplok (windfall), saat ini berubah menjadi malapetaka. Karena jika sebelumnya Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor minyak, sekarang sudah menjadi pengimpor minyak. Saat ini, kemampuan Indonesia memproduksi minyak hanya sekitar 1.125 juta barrel per hari, padahal kebutuhannya hampir di atasu 1.500 juta barrel per hari (Kurtubi, 2005). Dengan kata lain, permintaan minyak bumi dalam negeri jauh melampaui kemampuan memproduksinya. Maka, jika terjadi krisis minyak dunia seperti dewasa ini, sudah barang tentu perekonomian Indonesia menjadi tergoncang. Bahkan beberapa pengamat ekonomi telah menengarai, situasi ini sebagai tanda-tanda awal terjadinya krisis ekonomi. Berdasarkan latar belakang seperti itu, studi ini akan melihat pengaruh harga minyak bumi dan suku bunga Fed terhadap harga-harga aset yang terdiri atas harga barang-barang (IHK), nilai tukar (exchange rate), pasar modal (IHSG), dan pasar uang (suku bunga PUAB) dengan menggunakan metode Vector Autoregression (VAR).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

METODE RISET Sejarah VAR Vector Autoregressions (VAR) dikemukakan pertama kali oleh Christopher Sims (1980a). Latar belakang lahirnya VAR merupakan reaksi terhadap kegagalan model besar makroekonomi dalam mengestimasi situasi perekonomian pada era 70-an. Artikel pertama Sims mengenai VAR diterbitkan oleh Econometrica pada Januari 1980, menggunakan enam variabel yakni penawaran uang (M), pendapatan nasional riil (Y), tingkat gaji (W), tingkat harga (P) dan, tingkat harga impor (PM). Studi ini membandingkan antara Amerika Serikat dan Jerman, pada kurun waktu 1949-1975. Studi kedua Sims (1980b: 250) yang diterbitkan oleh American Economic Review, Mei 1980, membandingkan siklus bisnis (bussiness cycle) pada masa perang dan paska perang di Amerika Serikat. Studi ini menyimpulkan bahwa penawaran uang sangat berperan pada masa perang, namun tidak berperan pada paska perang. Model VAR paling banyak digunakan untuk melihat pengaruh kebijakan moneter diantaranya adalah Gordon dan Leeper (1994; 1233-1245), yang melihat dampak dinamis dari kebijakan moneter. Model VAR juga dapat untuk mengukur efektifitas kebijakan moneter seperti yang dilakukan oleh Rudebusch (1998; 907-931). Salah satu alasannya mengapa VAR lebih cocok untuk melihat pengaruh sebuah kebijakan, adalah VAR menganggap semua variabel adalah endogen. Selain itu VAR juga sering dianggap sebagai pendekatan “atheoritical” atau tidak mendasarkan pada teori ekonomi tertentu, oleh karenanya metode VAR juga dapat mengestimasi persamaan indentitas, seperti halnya kausalitas Engle-Granger (Thomas 1997; 457-462, Gujarati 1995; 746-753).

Aplikasi VAR

Model VAR, menganggap bahwa semua variabel adalah endogen. VAR mengandung tiga macam bentuk estimasi yakni kausalitas; impulse response dan variance decomposition. Untuk kepentingan studi ini hanya akan dipergunakan impulse respons. Yang didefinisikan sebagai respons terhadap kebijakan adalah salah satu asesoris pada VAR yang digunakan untuk melihat respon variabel endogen terhadap pengaruh inovasi

(shock) variabel endogen yang lain (Pindycks dan Rubinfeld; 1998: 385). Inovasi diinterpretasikan sebagai “goncangan kebijakan” (policy shock), lihat Bernanke dan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Blinder (1992: 902) atau juga sering disebut kebijakan. Secara statistis respons terhadap kebijakan dirumuskan dalam persamaan Sims (1980b, 256-257). Jika kita mempunyai sebuah model linier vektor stokastik x yang diformulasikan sebagai berikut: ∞ xt = Σ As et-s s=o Dimana et = xt – E(xt | xt-1 ,xt-2 , ), kemudian memilih matrik trangular B, sehingga menghasilkan Bet yakni sebuah kovarian diagonal matriks dan B juga mempunyai diagonalnya sendiri, oleh karena itu A perlu dipindah menjadi C = AB1 dan e menjadi f = Be, sehingga menjadi : ∞ xt = Σ Cs ft-s s=o Dari formula di atas koefisien C merupakan respons terhadap kebijakan goncangan (responses to innovations) atau impulse response.

Prasyarat Di dalam metode VAR tidak dianjurkan menerapkan uji akar unit sebagaimana galibnya metode time series. Salah satu alasannya adalah metode VAR tidak mengutamakan ketepatan parameter yang diestimasi, melainkan bertujuan melihat hubungan antar variabel saja. Metode ini juga menganjurkan agar semua data yang dipergunakan dalam bentuk logaritma. Dengan tujuan untuk lebih memudahkan dalam melihat pola hubungan itu (Sims, 1980a). Salah satu kesulitan menggunakan VAR adalah penetapan tingkat kelambanan yang optimal. Beberapa penelitian mutakhir tentang VAR untuk menetapkan tingkat kelambanan yang optimal menggunakan Akaike Information Criteria (AIC) dan Schwarz Criteria (SC). Baik AIC ataupun SC kadang juga dipergunakan sebagai pengganti R2 (coefficient of determination), sehingga R2 bukan satu-satunya indikator validitas sebuah model ekonometri (Thomas, 1997; 181-182, Greene, 2000; 306). Namun sejak variabel

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

kelambanan banyak digunakan pada model-model ekonometri, AIC dan SC juga dapat digunakan untuk menetapkan tingkat kelambanan yang optimal (Greene, 2000; 717):

AIC (q) = log (e’e)/T + 2q/T SC (q) = AIC (q) + (q/T)(logT –1)

Keterangan: e adalah residual, sedangkan T dan q masing-masing merupakan jumlah sampel jumlah variabel yang beroperasi dalam persamaan itu. Untuk menetapkan tingkat kelambanan yang paling optimal, model VAR harus diestimasi dengan berbeda-beda tingkat kelambanannya, kemudian dibandingkan nilai AIC dan SC-nya, nilai yang paling rendah yang dipakai sebagai patokan pada tingkat kelambanan paling optimal. Penelitian ini nantinya akan menguji tingkat kelambanan yang paling optimal dari tingkat kelambanan 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8.

Model dan Data Pada studi ini menggunakan 6 variabel yakni terdiri atas harga minyak bumi (loil); suku bunga Fed (Fed); nilai tukar nilai tukar (lexr); indeks harga konsumen (lihk); indeks harga saham gabungan (lihsg); suku bunga pasar uang antar bank (PUAB). Keenam variabel itu akan diestimasi dengan metode VAR dengan formulasi seperti di bawah ini: ∆Xt = α + Σα 6i = 1Ai∆Xt-1 + ut, E(ut us) = Ω, if t ≠s Di mana Ai matriks kuadrat; ut menunjukkan rata-rata vektor zero, tidak ada korelasi variabel, dan kesejajaran matriks varian Ω, diasumsikan positif dan simetris; α adalah 6X1 vektor kolom dari parameter-parameter; vektor Xit adalah variabel-variabel endogen di atas. Data yang dipergunakan adalah data bulanan dari periode 1993.1-2005.6. Data nilai tukar, IHK, IHSG, suku bunga PUAB diambil dari publikasi elektronik Bank Indonesia (www.bi.go.id). Data minyak bumi berasal dari Energy Information Administration (EIA) (www.eia.doe.gov), sedangkan suku bunga diperoleh dari Federal Reserve Bank of St. Louis (research.stlouisfed.org).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

HASIL DAN ANALISIS Kelambanan Optimal Seperti telah disinggung di muka, salah satu syarat metode VAR adalah penetapan kelambanan (lag) optimal. Di sini digunakan nilai kriteria informasi Akaike (AIC) dan Schwartz (SC) yang hasilnya seperti terlihat pada tabel 1. Dengan membandingkan hasil AIC dan SC dari uji kelambanan 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 model yang diestimasi, ditemukan bahwa kelambanan ke-2 mempunyai nilai paling rendah. Maka, dalam studi ini diputuskan bahwa kelambanan yang dipakai adalah lag-2. Tabel 1. Uji Kelambanan Optimal
Kelambanan 2 3 4 5 6 7 8 Akaike Information Criteria Schwartz Criteria

-14.24970 -14.12631 -13.88152 -13.44658 -13.78293 -13.45392 -13.06153

-12.68417 -11.83822 -10.87088 -9.713397 -9.327192 -8.275626 -7.160680

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Suku Bunga Fed

Respons suku bunga Fed terhadap shock harga minyak bumi pada tahun 1993-2005 secara umum menunjukkan arah yang negatif. Pada periode awal penelitian respons suku bunga Fed terhadap shock harga minyak bumi sempat positif mencapai hingga mencapai angka 3%, namun kemudian berangsur-angsur turun. Mulai bulan ke-10 dan seterusnya pengaruh shock menunjukkan arah yang negatif. Fenomena ini dapat diartikan bahwa sebagian waktu dari 150 bulan itu, pengaruh harga minyak bumi terhadap suku bunga Fed adalah negatif. Temuan ini senada dengan studi Bernanke, Getler, Watson (2004) yang telah dikemukakan di muka, yakni bahwa pengaruh kenaikan harga minyak bumi terhadap suku bunga Fed tidak terlalu kuat. Ini sekaligus membenarkan bahwa harga minyak bumi kendatipun berpengaruh terhadap suku bunga Fed, namun bukan determinan utama dari kenaikan suku bunga itu. Grafik 1:Respons Suku Bunga Fed terhadap shock Harga Minyak Bumi Tahun 1993-2005

R e s p o n s e o f F E D t o C h o le s k y O n e S . D . L O I L I n n o v a t io n .0 4 .0 3 .0 2 .0 1 .0 0 - .0 1 - .0 2 - .0 3 - .0 4 25 50 75 100 125 150

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Harga-harga Barang (IHK)

Respons IHK menghadapi shock harga minyak dan suku bunga Fed menunjukkan sesuatu yang menarik. Sejak bulan ke-5 respons IHK terhadap shock harga minyak mengalami peningkatan hingga mencapai 3% pada bulan ke-20, sejak itu mengalami penurunan namun tidak terlalu tajam hingga pada tingkat 2% pada bulan ke –150. Sebaliknya, respons terhadap suku bunga Fed, mulai bulan ke-30 berada di bawah base line atau menjadi negatif berkisar antara –1% sampai dengan – 1,5%. Ini menandakan bahwa respons IHK terhadap harga minyak bumi jauh lebih besar dari pada kepada suku bunga Fed. Dalam batas tertentu, fenomena ini hampir mirip dengan “penyakit Belanda” di mana kenaikan harga minyak bumi yang justru melahirkan inflasi yang tinggi. Grafik 2: Respons IHK terhadap shock Harga Minyak Bumi dan Suku Bunga Fed Tahun 1993-2005
R e s p o n s e o f L IH K t o C h o l e s k y O n e S . D . I n n o v a tio n s .00 4 .00 3 .00 2 .00 1 .00 0 -.0 0 1 -.0 0 2 25 50 75 L O IL 100 F E D 125 150

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Nilai Tukar

Seperti halnya yang terjadi pada respons harga-harga barang (IHK) di atas, respons nilai tukar jauh lebih kuat terhadap harga minyak bumi dibandingkan suku bunga Fed. Sejak bulan ke-5 respons nilai tukar terhadap shock harga minyak bumi selalu positif. Karena data Indonesia sebagian besar merupakan data depresiasi, maka dapat dianggap bahwa harga minyak bumi mendorong depresiasi rupiah. Sebaliknya, respons nilai tukar terhadap shock suku bunga Fed, justru mulai bulan ke-40 berada di bawah base line berkisar antara 0 sampai –2%. Ini menandakan bahwa dibandingkan dengan suku bunga PUAB, pengaruh harga minyak bumi terhadap depresiasi nilai lebih kuat.

Grafik 3: Respons Nilai Tukar Rupiah terhadap shock Harga Minyak Bumi dan Suku Bunga Fed Tahun 1993-2005
R e s p o n s e of L E X R to C h o le s k y O n e S .D . In n o va tion s .008 .006 .004 .002 .000 -.002 -.004 -.006 25 50 75 L O IL 100 FED 125 150

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pasar Modal (IHSG)

Demikian halnya yang terjadi pada pasar modal, relatif sama seperti respons inflasi dan nilai tukar terhadap terhadap harga minyak bumi dan suku bunga Fed. Mulai bulan ke-25, respons pasar modal terhadap kenaikan harga minyak di atas base line atau positif di bawah rentang 0-2%. Sementara itu respons terhadap suku bunga Fed, sempat di atas base line yakni antara bulan ke-50 sampai 80, namun setelah itu kembali minus atau di bawah garis dasar. Ini menegaskan bahwa respons pasar modal terhadap harga minyak bumi jauh lebih kuat dari pada kepada suku bunga Fed.

Grafik 4:

Respons IHSG terhadap shock Harga Minyak Bumi dan Suku Bunga Fed Tahun 1993-2005

R e s p o n s e o f L IH S G t o C h o le s k y O n e S .D . I n n o v a t io n s .004 .002 .000 -.002 -.004 -.006 -.008 -.010 25 50 75 L O IL 100 F E D 125 150

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pasar Uang (Suku Bunga PUAB)

Perilaku respons pasar uang terhadap shock harga minyak dan suku bunga Fed berbeda dengan tiga jenis harga aset di atas. Jika ketiga jenis aset di atas, justru lebih kuat merespons harga minyak bumi dibandingkan terhadap suku bunga Fed, maka dalam pasar uang ini yang terjadi sebaliknya. Pada mulanya, sampai bulan ke30, respons suku bunga PUAB terhadap shock harga minyak bumi dan Suku Bunga PUAB di atas base line atau positif. Namun sejak itu berada di bawah base line atau negatif. Mulai bulan ke-80 respons terhadap Fed meningkat dan berada di atas base line atau positif, sedangkan respons terhadap suku bunga harga minyak bumi tetap berada dalam kondisi minus. Ini mempertegas bahwa hanya harga aset di pasar uang lah yang dipengaruhi paling kuat oleh suku bunga Fed, sedangkan jenis aset yang lain lebih kuat dipengaruhi oleh harga minyak bumi.

Grafik 5:

Respons Suku Bunga PUAB terhadap shock Harga Minyak Bumi dan Suku Bunga Fed Tahun 1993-2005
R e s p o n s e o f P U A B t o C h o le s k y O n e S . D . I n n o v a t io n s

.3 .2 .1 .0 -.1 -.2 -.3 -.4 -.5 2 5 5 0 7 5 L O IL 1 0 0 F E D 1 2 5 1 5 0

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

KESIMPULAN Secara umum, kesimpulan dari studi ini adalah baik kenaikan harga minyak maupun suku bungan Fed berpengaruh terhadap harga-harga aset. Selama periode penelitian tahun 1993-2005, terdapat temuan bahwa respons harga-harga barang (IHK), harga valuta asing (exchange rate) dan harga di pasar modal (IHSG) terhadap shock harga minyak bumi jauh lebih tinggi dari pada suku bunga Fed. Sebaliknya, harga di pasar uang merespons shock suku bunga Fed jauh lebih kuat dari pada kenaikan harga minyak bumi. DAFTAR PUSTAKA Bernanke, Ben. S, Mark Gertler and Mark Watson. 1997. “Systemic Monetary Policy and the Effect of Oil Price Shock.” Brooking Papers on Economic Activity 1, 91-143. Bernanke, Ben. S, Mark Gertler and Mark Watson. 2004.”Oil Shocks and Aggregate Macroeconomics Behavior: The Role of Monetary Policy: A Replay.” Journal of Money, Credit, and Banking. Vol 36. No.2. April. Bernanke, Ben. S dan Alan S Blinder. 1992. “The Federal Fund Rate and the Channel of Monetary Transmission.” American Economic Review. Vol 82, September. Carlstrom, Charles T dan Timothy S. Fuerst. 2005. “Oil Price, Monetary Policy, and the Macroeconomy”. Federal Reserve Bank of Cleveland. July. Enders, Walter. 1996. RATS Handbook for Econometric Time Series. New York: John Wiley and Sons. Gordon, David B dan Eric M. Leeper, (1994), “The Dynamic Impacts of Monetary Policy: An Exercises in Tentative Identification”, Journal of Political Economy Vol. 102 No 6. Pindyck RS dan Daniel L Rubinfeld. 1998. Econometric Model & Economic Forcast. New York: McGraw-Hill. Greene, William H. 2000. Econometric Analysis. 4th, New Jersey: Prentice Hall Gujarati, Damodar. 1995. Basic Econometrics. McGraw-Hill; Singapore. Hakim, Lukman dan Nopirin. 2001. "Perbandingan Peranan Jalur Kredit dan Jalur Tingkat Suku Bunga pada Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 1990-1999". Sosiohumanika. Program Pascasarjana UGM, Vol 14, No 1, Januari.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Kakes, Jan. 2000, Monetary Transmission in Europe: The Role of Financial Markets and Credit, Messachusetts USA: Edward Elgar Publishing. Roubini, Nouriel dan Brad Setser. 2004. “The Effect of the Recent Oil Price Shock on the US and Global Economy.” Working Paper Stern School of Business, NYU. Sims, Christopher A. (1980a), “Macroeconomic and Realty”, Econometrica, January, Vol 48, No 1, Hal. 1- 48 Sims, Christopher A. (1980b), “Comparison of Interwar and Postwar Business Cycles: Moneterism Reconcidered”, The American Economic Review, January Vol 70, No 2, Hal. 250- 257. Thomas, RL.1997. Modern Econometrics: An Introduction, England: Addison-Wesley. Rudebusch, Glenn D.1998.”Do Measures of Monetary Policy in a VAR Make Sense”. International Economic Review. Vol 39 No 4 November, Hal. 907-931

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful