You are on page 1of 18

BAB 2

KAJIAN TEORI

2.1 Konsep Percaya Diri

Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari "tidak pede" dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan ? Hampir setiap orang pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam rentang kehidupannya, sejak masih anak-anak hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut. Sudah tentu, hilangnya rasa percaya diri menjadi sesuatu yang amat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan ataupun situasi baru. Individu sering berkata pada diri sendiri, "Dulu saya tidak penakut seperti ini... kenapa sekarang jadi begini ?". Ada juga yang berkata: "Kok saya tidak seperti dia yang selalu percaya diri... rasanya selalu saja ada yang kurang dari diri saya... saya malu menjadi diri saya !".

Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka akan muncul pertanyaan dalam benak kita: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam kehidupan individu. Lalu apakah kurangnya rasa percaya diri dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan individu dalam menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal.

Percaya Diri (Self Confidence) adalah meyakinkan pada kemampuan dan penilaian (judgement) diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif. Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau pendapatnya. Orang yang tidak percaya diri akan merasa terus menerus jatuh, takut untuk mencoba, merasa ada yang salah dan khawatir (Elly Risman, 2003: 151).

Universitas Sumatera Utara

Dan. Individu dengan rasa percaya diri Universitas Sumatera Utara . akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orangtua yang menunjukkan kasih. meskipun ia melakukan kesalahan. perhatian.Rusaknya kepercayaan diri tidak dapat tumbuh dalam satu hari. yang mengisi atau bahkan menguras kendi itu. dsb. bertemu orang-orang baru. teman. 2. akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. kakek.1. merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri.2 Pola Pikir Negatif Dalam hidup bermasyarakat. melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini. setiap individu mengalami berbagai masalah. namun faktor pola asuh dan interaksi di usia dini. namun karena eksistensinya. Sikap orangtua. amat dipengaruhi oleh cara berpikirnya.1 Perkembangan Rasa Percaya Diri 2. tetangga adalah orang-orang disekitar. dari sikap orangtua anak melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. guru. Elly Risman mengibaratkan jiwa manusia sebagai kendi tabungan tua. nenek.1. kejadian. dalam kehidupan bersama orangtua. Lingkungan banyak punya andil membentuknya. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orangtuanya.1 Pola Asuh Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara instant. Reaksi individu terhadap seseorang atau pun sebuah peristiwa. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. 2. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya.1. cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak.1. penerimaan. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.1.

. individu langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah pujiannya. berarti saya memang jelek". langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana. Labeling: mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif. Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri: senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat. Pola pikir individu yang kurang percaya diri. "saya ditakdirkan untuk jadi orang susah.. namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. 7. mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah. Ketika gagal. individu tersebut merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.. seperti "saya memang bodoh. 3. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinyalah semua negativisme itu berasal. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting. Universitas Sumatera Utara . cenderung mempersepsikan segala sesuatu dari sisi negatif. Satu kesalahan kecil. Cara berpikir totalitas dan dualisme: "kalau saya sampai gagal. Misalnya.". Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri ("saya harus bisa begini. individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. individu tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.. Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain.yang lemah. dsb..saya harus bisa begitu").. Ketika orang memuji secara tulus. Pesimistik yang futuristik: satu saja kegagalan kecil. 4. Tidak kritis dan selektif terhadap self criticism: suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik. 6. membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna. 2. bercirikan antara lain: 1. 5.".

niat dan motivasi yang lemah. mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan. seperti: pola berpikir yang keliru. serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri. kurangnya ketekunan dan kesabaran. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. ingin cantik. 2. populer. kurangnya disiplin diri. berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu anda menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. seperti prestasi yang pernah diraih.2. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar. Sadari semua aset-aset berharga anda dan temukan aset yang belum dikembangkan.1 Evaluasi Diri Secara Obyektif Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Beberapa saran berikut mungkin layak menjadi pertimbangan jika anda sedang mengalami krisis kepercayaan diri. potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum. sifat-sifat positif. Weaknesses.2. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri. tergantung pada bantuan orang lain. 2. berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini.2 Beri Penghargaan yang Jujur Terhadap Diri Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths. Obstacles and Threats) diri.1.1.2. Susunlah daftar "kekayaan" pribadi. contoh: ingin cepat kaya. Mengabaikan/meremehkan satu saja prestasi yang pernah diraih. kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik. atau pun sebab-sebab eksternal lain.2 Memupuk Rasa Percaya Diri Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri.1. keahlian yang dimiliki. mendapat jabatan penting dengan Universitas Sumatera Utara . Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri anda.

Pada umumnya. 2.1. Saya pasti bisa !!! 2. Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan. cobalah menuliskannya untuk kemudian di review kembali secara logis dan rasional. penolakan terhadap diri sendiri.2. makin sulit dikendalikan dan dipotong. bercabang dan berdaun. 2. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan anda. Hati-hatilah agar masa depan anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Contohnya: 1. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya ! 3. bahwa nobody is perfect dan it's okay if I made a mistake.segala cara. Jika pikiran itu muncul. gunakan self affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar. Semakin besar dan menyebar. prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak anda. 4. Universitas Sumatera Utara . Anda bisa katakan pada diri sendiri. Saya bangga pada diri sendiri. ketidakmampuan menghargai diri sendiri hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.4 Gunakan Self Affirmation Untuk memerangi negative thinking. 5. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar. Sayalah yang memegang kendali hidup ini. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis.3 Positive Thinking Cobalah memerangi setiap asumsi.2.1. Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri.

5 Berani Mengambil Risiko Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif. kepahitan dan keputusasaan. kekayaan. kemampuan. mencegah ataupun mengatasi risikonya. kekesalan.6 Belajar Mensyukuri dan Menikmati Rahmat Tuhan Ada pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterimanya dalam hidup. Universitas Sumatera Utara . karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat "cemburu" hatinya. kekecewaan. keahlian. tidak pernah melihat matahari terbit. anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari risiko ditolak. belajarlah bersyukur atas apapun yang anda alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup anda. pasti ada risiko dan tantangannya. Artinya. individu tersebut tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Contohnya. melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari. bagaimana individu itu bisa menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya ? Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis. Ia adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam. kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya. prestasi. No Gain. iri hati dan dengki. Dengan "beban" seperti itu. rasa marah.2. Jika anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain). anda tidak perlu menghindari setiap risiko. kecemburuan. ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat.2. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. kelimpahan. anda bisa memprediksi risiko setiap tantangan yang dihadapi. Ingat: No Risk. lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju bertumbuh dengan mengambil risiko.1.1. Akibatnya.2. Namun. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan. Dengan demikian. uang. 2. Oleh sebab itu. kegagalan. keberhasilan. pekerjaan.

3 Indikator Percaya Diri/Rasa Percaya Diri Indikator percaya diri adalah merupakan suatu hasil yang nampak pada diri seseorang. Contohnya apabila seseorang berani melakukan suatu aktivitas dan kelihatannya ia tidak ragu memilih dan membuat apa yang harus dibuatnya. 2. Bekerja sendiri tanpa perlu supervisi. 3. Menyatakan Keyakinan atas Kemampuan Sendiri. seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan. tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan. Bertindak Independen. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah. seorang penggerak. mengambil keputusan tanpa perlu persetujuan orang lain.2. Secara eksplisit menunjukkan kepercayaan akan penilaiannya sendiri. atau seorang narasumber.1. namun hal ini dilakukan demi kebaikan. 2. dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak.7 Menetapkan Tujuan yang Realistik Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang anda tetapkan selama ini. Menggambarkan dirinya sebagai seorang ahli. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik. Berikut beberapa indikator kepercayaan diri: 1. Bertindak di luar otoritas formal agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik. Tampil Percaya Diri.2. maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. sambil mencegah terjadinya risiko yang tidak diinginkan.1. bukan karena tidak mematuhi prosedur yang berlaku. Universitas Sumatera Utara . Melihat dirinya lebih baik dari orang lain.

orang disebut minder apabila orang itu tidak sanggup menunjukkan kebolehannya secara optimal karena tidak bisa mendamaikan konflik antara keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan keinginan untuk menghindari hinaan atau takut cercaan (Sports Science and Medicine: 2007). Napoleon adalah sosok pemberani di lapangan pertempuran. Sedangkan keminderan sekunder itu adalah bentuk keminderan yang letaknya Universitas Sumatera Utara . Keminderan primer adalah keminderan yang adanya terletak di wilayah kepribadian kita yang paling dalam (core personality). Keminderan primer biasa disebut juga dengan keminderan general. 2. self diminishment (Encyclopedia Britannica: 2006). Dalam kamus bahasa Indonesia. Dalam praktiknya. Konon. Ada yang disebut dengan istilah primary dan secondary inferiority. Menyukai tugas-tugas yang menantang dan mencari tanggung jawab baru. Padahal. Biasanya ini terkait dengan nilai-nilai yang kita anut.2 Inferioritas Menurut pemahaman umum. tetapi mengutarakannya dengan sopan. atau motif. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang. Napoleon Bonaparte itu sangat minder ketika diminta untuk menjawab ujian lisan. Menyampaikan pendapat dengan jelas dan percaya diri walaupun dalam situasi konflik. Misalnya saja anda merasa rendah diri ketika menghadiri acara tertentu. Dalam literatur olahraga. Ini contoh keminderan yang sifatnya spesifik. ada keminderan yang sifatnya spesifik atau di bidang tertentu atau di wilayah hidup tertentu.4. inferioritas itu adalah minder. Banyak orang yang enak berbicara di situasi tertentu tetapi merasa minder ketika diminta berbicara di situasi yang berbeda. Bicara terus terang jika tidak sependapat dengan orang lain yang lebih kuat. Memilih Tantangan atau Konflik. perlombaan tertentu atau tes tertentu. inferioritas itu diartikan dengan rasa rendah diri.

Banyak orang yang menilai dirinya tidak mampu padahal sebetulnya kemampuan itu dimiliki. tanda-tanda inferioritas yaitu antara lain: 1. Bahkan kalau melihat literatur psikologi. Cenderung menjelek-jelekkan atau mengkritik (kritik destruktif) orang lain. status sosial. Ada juga keminderan faktual. iming-iming yang tidak rasional. 5. di sana ada yang disebut keminderan personal dan keminderan sosial. Punya respon positif terhadap bujukan. Kita sering mendengar bahwa bangsa kita ini termasuk bangsa yang minder (secara mental dan kultural) dibanding dengan bangsa lain yang sudah maju. 6. Keminderan sekunder ini biasanya lebih mudah diubah ketimbang keminderan primer. 2. Sedangkan keminderan sekunder itu adanya di alam sadar kita.2. Misalnya saja kita minder berdampingan dengan orang yang lebih alim. misalnya terkait dengan kecacatan fisik. atau sikap. lebih hebat. Hal lain lagi yang perlu kita ketahui juga terkait dengan keminderan ini adalah.berada di wilayah kepribadian yang di permukaan. keminderan primer itu adanya di alam bawah sadar kita. pujian atau sanjungan yang sifatnya menjilat atau mencari muka. dan seterusnya. Biasanya ini terkait dengan pengetahuan. kelas ekonomi. Menghindari orang lain. keahlian. atau lebih banyak menguasai informasi. ada bentuk keminderan tertentu yang berasal dari opini kita tentang diri kita (perseptual). Punya reaksi yang berlebihan terhadap kritik. 3. 2. Keminderan perseptual itu misalnya kita punya penilaian yang kurang atau penilaian yang negatif tentang diri sendiri. informasi. Kebaikan yang didasari kelemahan. 4.1 Indikator Inferioritas Mengacu pada catatan Gilmer (1975). Keminderan sosial adalah berbagai bentuk keminderan yang dialami oleh masyarkat atau bangsa tertentu. Punya kecenderungan untuk merasa dikritik. Universitas Sumatera Utara . Umumnya.

2. Secara umum. takut dengan "jangan-jangan". Kalau melihat kerangka kerja kecerdasan emosional (The Bar on Model of EQ). Seringkali keminderan itulah yang menghambat upaya kita untuk menjadi sosok yang kita inginkan. tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang sanggup mengalahkan ketakutannya untuk menjadi sukses. Tanda-tanda orang yang punya Intrapersonal bagus itu antara lain adalah: Universitas Sumatera Utara . Menghambat kemampuan kita dalam mengembangkan pontensi atau dalam merealisasikan keinginan (visi). Bentuk ketakutan kita itu antara lain: takut adanya risiko-risiko yang belum tentu terjadi. efek keminderan itu terkait dengan tiga hal berikut ini: 1. Sebaliknya. Menghambat kemampuan kita dalam berinteraksi dengan orang lain. dan kemampuan kita dalam menghadapi realitas pun semakin bagus. berarti kemampuan kita di dalam merealisasikan potensi. kemampuan kita dalam bergaul.2. semakin rendah kadar keminderan kita. rakus pada orang lain. Menghambat kemampuan kita dalam menghadapi realitas (hidup). Semua orang menginginkan kesuksesan. berjiwa kerdil.2 Sebab dan Akibat Keminderan itu dapat menghambat keinginan kita untuk berprestasi ke tingkat yang kita inginkan. mudah kalut menghadapi realitas karena tidak yakin dengan hukum pembalasan. berarti semakin buruk kemampuan kita di dalam tiga hal itu. 3.2. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar keminderan kita. dan lain-lain. munculnya keminderan itu merupakan bukti adanya hubungan Intrapersonal yang perlu diperbaiki di beberapa bagian. tidak pede dalam mengambil keputusan atau melangkah.

Emotion Self Awareness: punya kesadaran terhadap berbagai emosi yang muncul di dalam dirinya. Self Actualization: punya tujuan yang terus direalisasikan dengan mengembangkan potensinya. baik yang kita lakukan sendiri atau yang dilakukan keluarga dan lingkungan. 4. atau pikiran negatif bisa menjadi salah satu sumber inferioritas. 2. 3. evaluasi. dan punya penerimaan-diri yang akurat. Independence: punya kematangan dan keberlimpahan emosi. sebab-sebab yang umum itu antara lain: 1. Universitas Sumatera Utara . Kecacatan fisik. 3. Apa sajakah yang menjadi peyebab kita menjadi orang yang inferior terhadap diri kita ? Untuk inferioritas yang sifatnya general. primer atau mental. Assertiveness: punya kemampuan mengekspresikan perasaan secara konstruktif dan efektif. 2. Ini misalnya kita selalu dibandingkan dengan orang lain yang bukan bandingannya atau diberi target yang melebihi ukuran proporsional sampai kita sering merasa putus asa. bahagia dengan dirinya sendiri. penilaian negatif. Keluarga yang banyak menanamkan opini negatif. Self-Regard: punya persepsi. Pembatasan mental. Pola asuh dan pola perlakuan keluarga yang kita terima sewaktu masih kecil. peringatan atau pola mendidik yang cenderung menghakimi saat kita kecil juga bisa menjadi sumber keminderan. Koreksi.1. punya pemahaman. mandiri. 5. 4.

Bahkan jika keberanian itu mengarah ke agresivitas dan impulsivitas. Bagaimana dengan keminderan sekunder atau yang sifatnya kondisional spesial. tidak ada perintah yang tegas agar kita menjadi orang yang pemberani setegas perintah agar kita menjadi orang yang tidak takut. Yang membedakan adalah: ada penilaian yang sifatnya mencerahkan atau mendorong kemajuan dan ada penilaian yang sifatnya menggelapkan atau menghambat kemajuan kita. Misalnya saja terkait dengan perbedaan jender. 2. Sebagian besar. Tugas kita adalah mengurangi atau melawan dan menggunakannya untuk kebaikan. Sedangkan pemberani. Tidak takut berbeda dengan pemberani. Berikut beberapa solusi untuk mengurangi dan melawan inferioritas: Universitas Sumatera Utara . kaya-miskin. bukan menghilangkan rasa takut. menengah dan tinggi. dan lain-lain. ada yang primer dan ada yang sekunder.3 Solusi Untuk Mengurangi Inferioritas Adakah orang yang tidak punya inferioritas sama sekali ? Kalau yang kita pakai rujukan adalah kehidupan manusia. Kalimatnya adalah: jangan takut dan jangan sedih. Ada yang general dan ada yang spesifik. belum tentu. ada yang stadiumnya rendah. Kalau melihat ajaran agama. ada yang personal dan ada yang sosial (kultural). tugas kita sebetulnya bukanlah menghilangkannya dari diri kita (karena ini tidak mungkin). itu berangkat dari opini kita sendiri atau penilaian kita terhadap diri kita. Semua manusia memiliki perasaan demikian. Karena itu. Tidak takut itu sudah melalui proses kesadaran dan perlawanan. tentunya hampir bisa dikatakan tidak ada. Mark Twain sendiri mengatakan bahwa keberanian itu adalah kemampuan anda dalam menguasai rasa takut. darah biru-darah tidak biru. Semua orang punya kebebasan untuk menciptakan opini apapun atau penilaian apapun terhadap dirinya. keberanian yang seperti ini justru timbul dari ketakutan atau keminderan.5. Hukum kehidupan sosial yang berlaku di masyarakat tempat kita hidup. Bedanya.2.

Jadi. Orang lain ini bisa personal dan bisa institusi (lembaga). Menerima adalah syarat untuk bisa memperbaiki. Belajar tentang cara belajar dan cara berpikir. Susah atau mudah. Sejauh kita belum bisa menerima. tidak mungkin akan mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha. Dari sekian bentuk keminderan itu. dan artistik yang spesifik. kita perlu mengecek seperti apa kita mempersepsikan diri sendiri atau menilai diri sendiri. melainkan proses untuk bisa memperbaiki. manakah yang benar-benar kita rasakan dampak buruknya. potret diri. Artinya. 2. barulah kita menyusun persiapan mental untuk menerimanya. atau konsepsi diri. Pembekalan kemampuan akademik. 4. kita akan masih kesulitan untuk menguasainya. Mana mungkin kita akan memperbaiki sesuatu yang tidak kita temukan kesalahannya atau kekurangannya. memperbaiki self image ini penting. Bahkan sekarang ini sudah banyak lembaga yang menawarkan jasa melalui internet. melawannya. Pelatihan keterampilan hidup. manakah yang benar-benar kita merasa terhambat ? Proses deteksi ini bisa kita lakukan sendiri dan bisa melalui bantuan orang lain. Kurikulum sekolah sebaiknya didesain dengan menekankan empat unsur di bawah ini: 1. sangat sulit untuk mengambil keputusan menikah.Pertama. karena merasa belum pantas atau lainnya. Orang yang menilai dirinya belum memiliki alasan yang kuat dan tepat untuk menikah. mendeteksi dan menerima. Ini semua adalah serangkaian opini. Setelah kita berhasil mendeteksi. Kedua. perasaan dan keyakinan tertentu yang kita ciptakan untuk diri kita. fisik. Kegagalan lembaga pendidikan formal dalam mencetak SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal adalah terkait juga dengan kurikulumnya. Orang yang belum mengalahkan ketakutannya untuk menjadi pengusaha (misalnya begitu). Sama juga seperti orang yang mau menikah. Orang yang menilai dirinya belum pantas berhasil di bidang tertentu dengan standar tertentu akan melakukan sesuatu berdasarkan penilaiannya itu. Perbaikan citra diri dan perkembangan pribadi. menerima di sini bukan tujuan akhir. manakah yang paling dekat dengan kita. atau memperbaikinya. mulai memperbaiki image diri. Universitas Sumatera Utara . 3.

selain perlu menemukan orang lain itu. Selama ini kita hanya puas menerima pemahaman keimanan dari kulitnya padahal isinya pun sudah kita ketahui. takut mengambil keputusan penting. dibimbing. Jangan melawan ketakutan pada pasangan (suami-istri) dengan perlawanan yang arogan dan agresif. Keempat. mengambil pelajaran. Kulitnya keimanan adalah menerima kebenaran dengan lisan. Tindakan pun kita batasi hanya pada beberapa prilaku yang diatur oleh agama (institusional). Kelima. dan lain-lain. temukan orang lain yang mengajak kita untuk melawan ketakutan itu. temukan orang lain yang bisa mengajari kita. dll. Jangan melawan ketakutan untuk maju dengan memunculkan ambisi dan kerakusan yang berlebihan. refresh pemahaman keimanan. lepas kontrol atau berbicara sembarangan. Untuk ketakutan dan keminderan yang punya efek ke hal-hal vital dalam hidup kita. lawanlah ketakutan itu dengan kesadaran (full consciousness). Melawan ketakutan dengan kesadaran bukanlah melawan ketakutan kita terhadap orang lain atau berani melawan orang lain. karena itulah perlu adanya refresh. maka me-refresh pemahaman keimanan menjadi penting. diberi masukan. Jangan melawan ketakutan untuk berkreasi atau berusaha dengan langsung mengundurkan diri dari pekerjaan sekarang tanpa perhitungan atau dengan melanggar tatanan organisasi. Orang lain yang kira-kira bisa memainkan peranan seperti ini tentunya ada. Jadi bagaimana melawan ketakutan dengan kesadaran itu ? Kesadaran di sini maksudnya adalah: kita tahu akan kapasitas kita (berdasarkan ukuran pengetahuan dan pengalaman) dan kita pun tahu bahwa yang menjadi hambatan buat kita adalah munculnya ketakutan dan keminderan itu. temukan orang lain yang bisa kita jadikan contoh. temukan orang lain yang bisa memperkuat keyakinan kita. Tapi. diarahkan.Ketiga. misalnya takut menghadapi realitas. tetapi lebih pada melawan ketakutan kita sendiri. mencontoh. membuka diri. Tidak semua perbaikan diri itu bisa kita lakukan tanpa orang lain. Jangan melawan ketakutan untuk berbicara di depan orang lain dengan berbicara seenaknya. yang penting di sini juga kesediaan kita untuk diajari. Ini semua seringkali malah mengantarkan kita pada keminderan dan ketakutan dalam bentuk yang lain. temukan orang lain yang bisa membantu. Isinya adalah melakukan hal-hal yang benar berdasarkan kebenaran Universitas Sumatera Utara . hati dan tindakan. meskipun perlu kita cari.

Kolusi. bahwa hasil belajar diklasifikasikan ke dalam tiga ranah yaitu: 1. dan 3. 2. Ranah afektif (affective domain). Menurut Ahmad Tafsir yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Adullah (2008). Melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekuen (being). Kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih terukur. Ranah kognitif (cognitive domain). Kepastian batin ini biasanya dihasilkan dari refreshment yang kita lakukan. penulis lebih cenderung berpedoman kepada pendapat Benjamin S. Bloom. Ranah psikomotor (psychomotor domain). tidak melakukan tindakan KKN (Korupsi.3 Konsep Prestasi Belajar Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar. Terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing). dan 3. sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah (2008). Tahu. kreatif. tidak mencuri. Jadi misalnya kita takut untuk menjadi pengusaha padahal (menurut anda) semua resource dan kapasitas sudah kita miliki. dll. maka ketakutan seperti ini perlu dikalahkan oleh keimanan esensial itu sampai muncul sebuah kesimpulan bahwa semua yang kita lakukan itu pasti akan mendapatkan balasannya. mengetahui (knowing). sulit. Adapun menurut Benjamin S. dan Nepotisme). 2. rugi. tidak memakai keuntungan untuk berfoya-foya dalam dosa). Kita sudah melakukan hal-hal yang benar (kerja keras. Bertolak dari kedua pendapat tersebut di atas. Bloom.yang kita yakini sampai kita tidak takut dan tidak bersedih oleh berbagai risiko sementara (misalnya gagal. 2. dalam artian bahwa Universitas Sumatera Utara . hasil belajar yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi 3 (tiga) aspek yaitu: 1.). membangun network.

Adapun pengertian ke tiga domain tersebut menurut Sudjana (1989: 22) adalah “Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek. Berdasarkan hal tersebut. aplikasi. organisasi dan internalisasi. Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan berkemampuan bertindak. (c)kemampuan konseptual. 2.untuk mengetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan. Ranah psikomotor (psychomotor domain). Universitas Sumatera Utara . dan 3. pemahaman. analisis. Ada enam aspek ranah psikomotoris yakni (a)gerakan refleks. (e)gerakan keterampilan kompleks. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek. di mana proses pengukuran aspek ini harus dilakukan melalui pengamatan yang berkelanjutan sehingga diperoleh informasi yang meyakinkan bahwa seseorang telah benar-benar melaksanakan apa yang ia ketahui dalam kesehariannya secara rutin dan konsekuen. yakni pengetahuan atau ingatan. yaitu: 1. Walaupun pada dasarnya bisa saja dilakukan pengukuran untuk ketiga aspek tersebut. Sedangkan ketiga aspek tujuan pembelajaran yang diajukan oleh Ahmad Tafsir sangat sulit untuk diukur. sintesis dan evaluasi. Ranah afektif (affective domain). namun ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit.” Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar ialah dengan melihat indikator-indikatornya dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. dan (f)gerakan ekspresif dan interpretatif. yakni penerimaan. (d)keharmonisan atau ketepatan. Ranah kognitif (cognitive domain). maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi 3 (tiga) ranah atau aspek. penilaian. khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal. (b) keterampilan gerakan dasar. khususnya pada aspek being. jawaban atau reaksi.

setiap individu mempunyai kondisi awal yang berbeda sebab lingkungan hidup mereka yang berbeda. untuk mengetahui hasil proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam hal ini kita mencoba untuk mengukur tingkat perubahan sikap dan nilai-nilai positif yang dimiliki siswa dari sebelum belajar dan setelah selesai belajar.1 Tes Kemampuan Afektif Tes kemampuan afektif merupakan jenis tes prestasi belajar yang diarahkan untuk mengetahui tingkat penguasaan aspek afektif pada pelajar. maka diberlakukan tes prestasi belajar. Pengetahuan inilah yang diharapkan dapat menjadi bekal menghadapi kehidupan yang lebih baik. kesehatan. 2. Dan. Seperti kita ketahui.2 Tes Kemampuan Kognitif Tes kemampuan kognitif merupakan jenis tes prestasi belajar yang terkait dengan pengetahuan hasil belajar. Dengan mengetahui tingkat kemampuan ini.3. ketika pelajar mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. maka kondisi tersebut dapat diubah. Aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan sikap dan nilai-nilai positif yang dimiliki siswa. tingkat kemampuannya dalam aspek afektif belum begitu maksimal. 2. melakukan kegiatan kerja. dan berbagai nilai positif yang dimiliki sebagai bagian bangsa yang beradab. pelajar mendapatkan berbagai macam pengetahuan yang sangat berguna bagi kehidupan. maka kita dapat menentukan tingkat kemampuan pelajar untuk melakukan praktik bekerja. Universitas Sumatera Utara .3.3 Tes Kemampuan Psikomotorik Tes kemampuan psikomotor adalah terkait dengan keterampilan yang didapatkan dari proses pendidikan dan pembelajaran.3. Tes prestasi belajar pada aspek afektif ini terkait dengan moral. beberapa dari mereka sangat parah pola kehidupannya. Selama proses belajar yang diikuti. Tetapi dengan mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. tingkah laku.2. Pada umumnya. Bahkan.

4 Hipotesis Dari kajian teori-teori diatas. Namun dari teori-teori diatas dapat kita lihat bahwa keduanya berbeda. Sedangkan inferioritas hanya pada bagian-bagian tertentu dalam diri seseorang. yaitu: 1. Sebaliknya. Universitas Sumatera Utara . dapat kita simpulkan jawaban sementara dari permasalahan ini. 2. Kepercayaan diri dan inferioritas berkorelasi negatif. Anggapan banyak orang selama ini adalah inferioritas sama dengan kepercayaan diri yang rendah. dimana semakin tinggi tingkat kepercayaan diri maka semakin rendah tingkat inferioritasnya. baik pengaruh secara gabungan maupun sendiri-sendiri (parsial). Kepercayaan diri yang rendah lebih bersifat menyeluruh/universal. 3. Kepercayaan diri dan inferioritas memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar.2. jika tingkat kepercayaan diri semakin rendah maka semakin tinggi tingkat inferioritasnya.