You are on page 1of 32

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Geriatri Geriatri atau Lanjut Usia adalah ilmu yang mempelajari tentang aspek-aspek klinis dan penyakit yang berakitan dengan orang tua. Dikatakan pasien geriatri apabila : 1.1 Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia 1.2 Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif 1.3 Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila : a) Ketergantungan pada orang lain b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab 1.4 Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) yang progresif. Batasan lanjut usia menurut WHO 1. Middle age (45-59 th) 2. Elderly (60-70 th) 3. Old/lansia (75-90 th) 4. Very Old/sangat tua (>90 th)(1)

1.2 Perubahan Fisiologis Menua kemampuan adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan diri dan

jaringan

untuk

memperbaiki

diri/mengganti

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat betahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Dengan begitu manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut penyakit degeneratif (hipertensi, aterosklerosis, DM, dan kanker). Perubahan fisiologis penuaan dapat mempengaruhi hasil operasi tetapi pe-nyakit penyerta lebih berperan sebagai faktor risiko. Secara umum pada usila terjadi penurunan cairan tubuh total dan lean body mass dan juga menurunnya respons
1

regulasi termal, dengan akibat mudah terjadi intoksikasi obat dan juga mudah terjadi hipotermia.1

Sistem Kardiovaskuler Penting untuk membedakan antara perubahan pada fisiologi yang normalnya menyertai proses penuaan dan patofisiologi dari penyakit yang umum pada populasi geriatri. Penurunan dari elastisitas arterial yang disebabkan oleh fibriosis adalah bagian dari proses penuaan yang normal. Penurunan komplians arterial menghasilkan peningkatan afterload, peningkatan tekanan darah sistolik, dan hipertropi ventrikel kiri. Myokardial fibrosis dan kalsifikasi dari katup jantung juga umum terjadi. 1 Kemampuan cadangan kardiovaskular menurun, sejalan dengan pertambahan usia di atas 40 tahun. Penurunan kemampuan cadangan ini sering baru diketahui pada saat terjadi stres anestesia dan pembedahan. Akibat proses penuaan pada sistem kardiovaskular, yang tersering adalah hipertensi. Pada pasien manula hipertensi harus diturunkan secara perlahan lahan sampai tekanan darah 140/90 mmHg. Pada manula, tekanan sistolik sama pentingnya dengan tekanan diastolik. Tahanan pembuluh darah perifer biasanya meningkat akibat penebalan serat elastis dan peningkatan kolagen serta kalsium di arteri-arteri besar. Kedua hal tersebut sering menurunkan isi cairan intra-vaskuler. Waktu sirkulasi memanjang dari aktivitas baroreseptor menurun. 1 Disfungsi distolik yang jelas dapat terlihat pada hipertensi sistemik, penyakit arteri koroner, cardiomiopati, dan penyakit katup jantung, umumnya stenosis aorta. Pasien dapat asimptomatis, atau dapat mengeluhkan ketidak mampuan untuk berolahraga, dispneu, batuk atau pingsan. Disfungsi diastolik mengakibatkan peningkatan ventricular-end diastolik pressure yang relatif besar dengan volume ventrikel kiri yang sedikit berkurang. Pelebaran atrial adalah predisposisi terjadinya atrial fibrilasi dan atrial flutter. Pasien beresiko terjadinya congestif heart failure. 1 Terdapat peningkatan tonus vagal dan penurunan sensitivitas reseptor adrenergic yang memicu penurunan laju jantung. Fibrosis dari sistem konduksi dan

2

berkurangnya sel sinoatrial node meningkatkan insidensi disritmia, artrial fibrilasi dan artrial flutter. 1 Terjadi penurunan respon terhadap rangsangan simpatis, dan kemampuan adaptasi serta autoregulasi menurun. Perubahan pembuluh darah seperti di atas juga terjadi pada pembuluh koroner dengan derajat yang bervariasi, disertai penebalan dinding ventrikel. sistem konduksi jantung juga dipengar uhi oleh proses penuaan, sehingga sering terjadi LBBB, perlambatan konduksi

intraventikular, perubahan-perubahan segmen ST dan gelombang T serta fibrilasi atrium. Semua hal di atas mengakibatkan penurunan kemampuan respon sistem kardiovaskuler dalam menghadapi stres. Pemulihan anestesi juga memanjang.1 Sistem Respirasi Pada paru dan sistem pernafasan elastisitas jaringan paru berkurang,

kontraktilitas dinding dada menurun, meningkatnya ketidakserasian antara ventilasi dan perfusi, sehingga mengganggu mekanisme ventilasi, dengan akibat menurunnya kapasitas vital dan cadangan paru, meningkatnya pernafasan diafragma, jalan nafas menyempit dan terjadilah hipoksemia. Menurunnya respons terhadap hiperkapnia, sehingga dapat terjadi gagal nafas. Proteksi jalan nafas yaitu batuk, pembersihan mucociliary berkurang, refleks laring dan faring juga menurun sehingga berisiko terjadi infeksi dan kemungkinan aspirasi isi lambung lebih besar .6 Pencegahan terjadinya hipoksia perioperatif meliputi, periode preoksigenasi yang lebih panjang, pemberian konsentrasi oksigen inspirasi yang lebih tinggi selama anastesi, kenaikan kecil pada tekanan positive end expiratory dan toilet pulmoner yang agresif. Aspirasi pneumonia adalah komplikasi yang umum dan berpotensial untuk membahayakan nyawa. Predisposisi dari terjadi nya aspirasi pneumonia adalah adanya penurunan protektic laryngeal reflek yang terjadi seiring dengan penuaan. 1

3

Respon terhadap hormon diuretik dan hormon aldosteron berkurang Respons terhadap kekurangan Na juga menurun. Produksi panas menurun. Setelah mencapai berat maksimal pada usia 60 tahun. sehingga berisiko terjadi dehidrasi.Sistem Metabolik dan Endokrin Konsumsi oksigen basal dan maksimal menurun seiring dengan usia. dan pusat pengaturan suhu di hipotalamus menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Penuaan berkaitan dengan penurunan respon terhadap agen β-adrenergic (endogenous β-blockade). Produksi kreatinin menurun karena berkurangnya massa otot. Kemungkinan trerjadi gagal ginjal juga meningkat. apalagi bila diberikan larutan garam kalium secara intravena. Peningkatan resistensi insulin memicu penurunan progresif kemampuan tubuh untuk mengatur beban glukosa.7 4 . kebanyakan pria dan wanita akan mulai mengalami penurunan berat badan. Respon neuroendokrin terhadap stres cenderung stabil atau sedikit menurun pada kebanyakan pasien tua yang sehat. umumnya hingga mencapai berat kurang dari berat orang-orang usia muda kebanyakan. sehingga laju filtrasi glomerulus ( LFG) menurun. tidak mentoleransi kekurangan cairan dan kelebihan beban zat terlarut. sehingga glukosa urin tidak dapat dipercaya. Kemampuan untuk mengekskresi obat menurun dan pasien manula ini lebih mudah jatuh ke dalam asidosis metabolik. Kemampuan mengeluar kan garam dan air berkurang. Perubahan-perubahan sehingga manula di atas dapat cadangan ginjal. tetapi LFG telah menurunkan kemampuan menurun. dapat terjadi over load cairan dan juga menyebabkan kadar hiponatremia. dengan akibat mudah terjadi intoksikasi obat. kehilangan panas meningkat. Level norepinefrin yang bersirkulasi dalam darah mengalami peningkatan pada pasien tua. 6 Sistem Renalis Pada ginjal jumlah nefron berkurang. Pasien-pasien ini lebih mudah mengalami peningkatan kadar kalium dalam dar ahnya. Hal ini disebabkan karena glomerulus dan tubular di ginjal di gantikan oleh lemak dan jaringan fibrotik. Ambang rangsang glukosuria meninggi. sehingga meskipun kreatinin serum normal.

Berat otak pada orang dewasa muda rata-rata 1400 g. dan otonom. meski masa pengosongan lambung diperpanjang. Akibat menurunnya fungsi persarafan sistem gastrointestinal. Umumnya mereka mengalami kebingungan atau disorientasi preoperatif. sensoris. Fungsi hepar menurun sesuai dengan berkurang nya massa hepar. Pasien tua sering memerlukan lebih banyak waktu untuk sembuh total dari efek CNS yang diakibatkan oleh anastesi umum. terdapat korelasi positif antara berat otak dan harapan hidup.Sistem hepatobilier dan gastrointestinal Massa hepar berkurang seiring dengan penuaan. disamping waktu pengosongan lambung yang memanjang sehingga mudah terjadi regurgitasi. Berat otak menurun karena berkurangnya jumlah sel neuron. dan jumlah dari reseptor mereka berkurang. Dengan demikian laju biotransformasi dan produksi albumin berkurang. Degenerasi sel saraf perifer mengakibatkan kecepatan konduksi yang memanjang dan atropi otot skeletal. terjadi perubahan-perubahan fungsi kognitif. Kecepatan konduksi saraf sensoris berangsur menurun. Ukuran neuron berkurang. motoris. Konsentrasi alveolar minimum dari anestetika juga menurun dengan bertambahnya usia. Dikatakan. dan neuron kehilangan kompleksitas pohon dendrit. Banyak pasien tua mengalami berbagai derajat dari acute confusional 5 . Sintesis dari beberapa neurotransmiter seperti domapin. Perfusi otak dan konsumsi oksigen otak menurun sampai 10%-20%. Sedangkan jumlah astrosit dan sel microglial bertambah. Terdapat juga penurunan fungsi neurotransmiter. akan menurun menjadi 1150 g pada usia 80 tahun.1 Perubahan-perubahan tersebut mengakibatkan manula lebih mudah dipengaruhi oleh efek samping obat terhadap sistem saraf. Pasien manula mungkin sekali lebih mudah mengalami cedera hati akibat obat-obat. adrenergic. hipoksia dan transfusi darah. dan γ-aminobutyric acid (GABA) binding site juga berkurang. Serotonic. Terjadi pemanjangan waktu paruh obat-obat yang diekskresi melalui hati. Level plasma colinesterasi pada pria tua juga berkurang. sfingter gastro-esofageal tidak begitu baik lagi.1 Sistem Saraf Pusat Pada sistem saraf pusat. dan jumlah sinaps juga berkurang. dengan diikuti oleh penurunan hepatic blood flow. terutama di korteks otak maupun otak kecil. Tingkat keasaman lambung cenderung meningkat.

state. dan prosedur pembedahan yang akan dilakukan. pemeriksaan fisik. dan mudah mengalami trauma akibat pemasangan selotape. seperti scopolamin dan atropin. electrocautery pad. nyeri. neuromuscular junction juga menipis. Pemeriksaan laboratorium harus disesuaikan dengan saja.4 riwayat pasien. hipotermia dan gangguan metabolik. Pasien harus selalu dianggap mempunyai risiko tinggi menderita penyakit yang berhubungan dengan penuaan. pemeriksaan fisik. dan determinasi kapasitas fungsional harus dilakukan untuk mengevaluasi fisiologis pasien. Sendi artritis mudah terganggu oleh perubahan posisi.4 2. termasuk efek samping obat. Vena rapuh dan mudah pecah akibat pada pemasangan infus intravena. Etiologi dari cognitif disfungsi postoperatif (POCD) biasanya multifaktorial. Penyakit kardiovaskuler diabetes umumnya sering ditemukan pada populasi ini. Komplikasi pulmoner mempunyai insidens sebesar 5. Pasien tua juga biasanya sensitif terhadap agen kolinergic yang bekerja sentral. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. Penyakit. dan electrocardiography electroda.penyakit biasa pada pasien dengan usia lanjut mempunyai pengaruh yang besar terhadap penanganan anestesi dan dan memerlukan perawatan khusus serta diagnosis. 1 Sistem Musculoskeletal Massa otot berkurang. Harus dilakukan pemeriksaan derajat fungsional sistem organ yang spesifik dan pasien secara keseluruhan sebelum pembedahan.1 1. demensia.3 Evaluasi Preoperatif Terdapat dua prinsip yang harus diingat pada saat melakukan evaluasi preoperatif pasien geriatri : 1. delirium atau cognitive disfungsi postoperatif. Penyakit degeneratif servikal tulang belakang dapat membatasi ekstensi leher sehingga membuat intubasi menjadi sulit. dan bukan hanya berdasarkan atas usia pasien 6 .5% dan merupakan penyebab morbiditas ketiga tertinggi pada pasien usia lanjut yang akan menjalani pembedahan non cardiac. Kulit mengalami atropi seiring dengan usia. riwayat.

dan menyebabkan perubahan fraksi obat yang tidak terikat. dan umumnya perubahan kadar protein pengikat plasma bukanlah faktor redominan yang menentukan bagaimana farmakokinetik akan mengalami perubahan sesuai dengan usia. peningkatan lemak tubuh. Dampak gangguan protein pengikat plasma terhadap efek obat tergantung pada protein tempat obat itu terikat. Perubahan komposisi tubuh Perubahan komposisi tubuh terlihat dengan adanya penurunan massa tubuh.6 1. peningkatan 7 . terutama bila muncul beberapa minggu terakhir sebelum operasi. Penurunan air tubuh total dapat menyebabkan mengecilnya kompartemen pusat dan peningkatan konsentrasi serum setelah pemberian obat secara bolus. Ikatan protein plasma. Kadar sirkulasi albumin akan menurun sejalan dengan usia. Pada pasien usia lanjut yang menggunakan terapi β-blocker jangka panjang. Protokol yang menyertakan pemberian β-blocker pada pagi hari sebelum operasi dilakukan dan diteruskan selama operasi berhubungan dengan peningkatan insidens stroke dan semua penyebab mortalitas. tampaknya β-blocker long-acting akan lebih efektif dibandingkan dengan β-blocker shortacting dalam mengurangi resiko infark miokard perioperatif. Selanjutnya. Hubungan ini kompleks.4 Farmakologi Klinis Faktor-faktor yang mempengaruhi respons farmakologi pasien berusia lanjut meliputi : 1. sedangkan kadar α1-acid glikoprotein meningkat. bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa risiko kardiovaskuler dapat dicegah dengan mencari ada tidaknya β-blockade perioperatif pada pasien dengan penyakit arteri koroner yang diketahui.Walaupun masih terdapat banyak pertanyaan.5 2. Protein pengikat plasma yang utama untuk obat-obat yang bersifat asam adalah albumin dan untuk obat-obat dasar adalah α1-acid glikoprotein. dan penurunan air tubuh total.

Jumlah obat yang diperlukan lebih sedikit dan efek obat diberikan bisa lebih lama. Bentuk sediaan obat yang diberikan dan gangguan jumlah reseptor atau sensitivitas menentukan pengaruh gangguan farmakodinamik efek anestesi pada pasien usia lanjut. Umumnya. Apapun penyebab efek farmakologik yang terganggu.5 4. dengan potensial memanjangnya efek klinis obat yang diberikan. pasien berusia lanjut biasanya memerlukan penurunan dosis pengobatan yang secukupnya. Mungkin adanya gangguan karena penuaan pada kanal ion.5 Farmakologi Klinis Obat-Obat Anastesi Anestesi Inhalasi Konsentrasi alveolar minimum ( minimum alveolar concentration = MAC) mengalami penurunan kurang lebih 4% per dekade pada mayoritas anestesi inhalasi. Respons klinis terhadap obat anestesi pada pasien usia lanjut mungkin disebabkan karena adanya gangguan sensitivitas pada target organ ( farmakodinamik). Tergantung pada jalur dan ginjal dapat mempengaruhi profil degradasi. GABA dan reseptor glutamat. 5 3. asetilkolin. aktivitas 8 . penurunan reversi hepar farmakokinetik obat. pasien berusia lanjut akan lebih sensitif terhadap obat anestesi. Kompensasi yang diharapkan sering tidak terjadi karena perubahan fisiologis berhubungan dengan proses penuaan normal dan penyakit yang berhubungan dengan usia. Metabolisme obat Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya. Farmakodinamik. 5 yang Respons hemodinamik terhadap anestesi intravena bisa menjadi berat karena adanya interaksi dengan jantung dan vaskuler yang telah mengalami penuaan.lemak tubuh dapat menyebabkan membesarnya volume distribusi. gangguan hepar dan klirens ginjal dapat terjadi sesuai dengan penambahan usia.5 1. Mekanisme kerja anestesi inhalasi berhubungan dengan gangguan pada aktivitas kanal ion neuronal terhadap nikotinik.

Namun. Penurunan dosis tiopental sehubungan dengan usia disebabkan karena penurunan volume distribusi inisial obat tersebut.7 9 . Sama seperti pada kasus etomidate. dan hal ini bertanggung jawab terhadap peningkatan analgesia dari dosis morfin yang diberikan pada pasien berusia lanjut. pasien berusia lanjut hanya memer lukan sedikit obat untuk morphine-6. Selain itu. Morfin dan metabolitnya mempunyai sifat analgetik. Pasien dengan insufisiensi ginjal mungkin menderita gangguan eliminasi morfin glucuronides. Efek penambahan ini berhubungan dengan peningkatan sensitivitas terhadap propofol sebesar 30-50% pada pasien dengan usia lanjut. bertanggung jawab terhadap penurunan dosis etomidate yang diperlukan pada pasien berusia lanjut. Perubahan ini berhubungan dengan sensitivitas otak dan penurunan klirens obat. perubahan farmakokinetik sesuai usia (disebabkan karena penurunan klirens dan volume distribusi inisial). Morphine-6-glucuronide tergantung pada eksresi renal. Klirens morfin akan menurun pada pasien berusia lanjut. klirens propofol juga mengalami penurunan.sinaptik. Otak menjadi lebih sensitif ter hadap efek propofol. Penurunan volume distribusi inisial terjadi pada kadar obat dalam serum yang lebih tinggi setelah pemberian tiopental dalam dosis tertentu pada pasien berusia lanjut.7 Anastesi Intravena dan Benzodiazepine Tidak ada perubahan sensitivitas otak terhadap tiopental yang berhubungan dengan usia.3.3. Dosis yang diperlukan midazolam untuk menghasilkan efek sedasi selama endoskopi gastrointestinal atas mengalami penur unan sebesar 75% pasien berusia lanjut. dosis tiopental yang diperlukan untuk mencapai anestesia menurun sejalan dengan pertambahan usia. bukan gangguan responsif otak yang terganggu. pada usia lanjut.7 Opiat Usia merupakan prediktor penting perlu tidaknya penggunaan morfin post operatif.3.glucuronide pada peningkatan menghilangkan rasa nyeri. atau sensitivitas reseptor ikut bertanggung jawab terhadap perubahan farmakodinamik tersebut.

Atracurium bergantung pada sebagian kecil metabolisme hati dan ekskresi.5% . dan fentanil kurang lebih dua kali lebih poten pada pasien berusia lanjut. Durasi memanjang yang berhubungan dengan usia terhadap kerja vecuronium menggambarkan penurunan reversi ginjal atau hepar. Durasi kerja mungkin akan memanjang.Sufentanil. Remifentanil kurang lebih dua kali lebih poten pada pasien usia lanjut.7 Pelumpuh Otot Umumnya. Klirens vecuronium plasma lebih rendah pada pasien berusia lanjut. yang menunjukkan adanya jalur eliminasi alternatif (hidrolisis eter dan eliminasi Hoffmann) penting pada pasien berusia lanjut. Penemuan ini berhubungan dengan peningkatan sensitivitas otak terhadap opioid sejalan dengan usia. dan penurunan klirens pada usia lanjut. dan kedalaman blok anestesia akan bertambah besar. Perubahan klirens pancuronium pada usia lanjut masih kontroversial. maka diperlukan kurang lebih sepertiga jumlah infus. bila obat tersebut tergantung pada metabolisme ginjal atau hati. Waktu onset akan memendek. Pada usia lanjut terjadi peningkatan sensitivitas otak terhadap remifentanil. Akibat volume kompar temen pusat.3.7 Anastesi neuraksial dan blok saraf perifer Persentase obat anestesia tidak berdampak terhadap durasi blokade motorik dengan pemberian anestesi bupivacaine. dan waktu paruh eliminasinya akan memanjang pada pasien usia lanjut. karena ketergantungan pancuronium terhadap eksresi ginjal.3. bukan karena gangguan farmakokinetik. Waktu onset akan menurun. Diperkirakan terjadi penurunan pancuronium pada pasien berusia lanjut. alfentanil. Terlihat klirens plasma lokal anestesi yang menurun pada pasien berusia lanjut. bagaimanapun juga penyebaran anestesi akan lebih baik dengan pemberian cairan bupivacaine hiperbarik. Hal ini dapat menjadi 10 . VI. Penambahan usia berhubungan dengan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik dari remifentanil. usia tidak mempengaruhi farmakodinamik pelumpuh otot. Dampak usia terhadap durasi anestesia epidural tidak terlihat pada pemberian bupivacaine 0. dan dosis yang diperlukan adalah satu setengah kali bolus. Tidak terjadi perubahan klirens dengan bertambahnya usia.

Anestesi regional mempengaruhi sistemkoagulasi dengan cara mencegah inhibisi fibrinolisis post operatif.7 1. menitikberatkan pada penatalaksanaan farmakologi dan mungkin lebih baik fisiologi terhadap usia lanjut. Hasil ini telah dilaporkan pada berbagai jenis pembedahan. Penggunaan sugammadex sebagai obat reversal untuk rocuronium akan meningkatkan penggunaan pelumpuh otot pada pasien berusia lanjut. 3 Efek spesifik anestesi regional memberikan beberapa keuntungan. Penggunaan anestesi regional tampaknya tidak menurunkan insidens disfungsi kognitif postopertif bila dibandingkan dengan anestesi umum. komplikasi Beberapa pulmoner penelitian dan menunjukkan residual adanya peningkatan insidens yang blok postoperatif pada pasien diberikan pancuronium bila dibandingkan dengan atracurium atau vecuronium.faktor yang mengurangi penambahan dosis dan jumlah infus selama pemberian dosis berulang dan teknik infus berkesinambungan.5% pasien setelah menjalani beberapa prosedur berisiko tinggi. 11 .3 Anastesi Regional Dibandingkan dengan Anestesi Umum Mayoritas bukti menunjukkan sedikit perbedaan hasil antara anestesi regional dan anestesi umum pada pasien berusia lanjut. Thrombosis vena dalam atau emboli paru dapat terjadi pada 2. Bila dibandingkan dengan anestesi inhalasi.6 Teknik Anastesi Keuntungan Obat-obat Spesifik pada Pasien Usia Lanjut Penyakit penyerta preoperatif merupakan determinan yang lebih besar terhadap komplikasi Beberapa post operatif pendapat dibandingkan dengan penatalaksanaan anestesi. tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada pemulihan profil fungsi kognitif.3. termasuk prosedur pembedahan vaskuler mayor dan ortopedik. Metode titrasi opioid menggunakan opioid dngan kerja singkat seperti remifentanil. Sama halnya dengan pilihan menggunakan pelumpuh otot dengan kerja yang lebih singkat.3 1. variabilitas farmakokinetik remifentanil akan lebih rendah bila dibandingkan dengan opioid intrvena lainnya. Dengan menambahkan dosis bolus dan infus.

Pada prosedur dengan risiko yang lebih tinggi. Efek hemodinamik anestesi regional mungkin ber hubungan dengan lebih sedikitnya jumlah darah yang hilang pada pembedahan pelvis dan ekstremitas bawah. insidens morbiditas post operatif adalah 17% atelektasis. seperti bedah vaskuler. Anestesi regional tidak memerlukan instrumen alat bantu nafas dan pasien dapat mempertahankan jalan nafas dan fungsi parunya sendiri. anestesi regional berhubungan dengan penurunan insidens thrombosis graft bila dibandingkan dengan anestesi umum. Setelah operasi jantung. 7% delirium. Disfungsi menelan setelah pembedahan jantung berhubungan erat dengan penggunaan echocardiography 12 . 12% bronkitis akut. disfungsi menelan ter jadi pada 4% pasien dan lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut.7 Pertimbangan Postoperatif Masalah-masalah Umum pada Unit Perawatan Post Anastesi Penanganan masalah paru pre dan post operatif merupakan hal yang penting. Pasien dengan anestesi regional mempunyai risiko hipoksemia yang lebih rendah. dan risiko yang ada terjadinya perkembangan pneumonia post-operatif.Pada revaskularisasi ekstremitas bawah.2% . Berbagai prediktor komplikasi pulmoner post operatif pada pembedahan non jantung elektif telah mengindikasikan berhasil diidentifikasi. 3 Data menunjukkan bahwa pasien berusia lanjut lebih rentan terhadap episode hipoksia selama dalam ruang pemulihan. Komplikasi paru yang terjadi pada anestesi regional juga lebih sedikit. dan 1% tandatanda neurologis fokal baru. insidens komplikasi pulmoner postoperatif adalah sebesar 15. 6% gagal jantung atau infark miokard (atau keduanya). 3 3. 10% pneumonia.6 Selain itu disfungsi proses menelan juga merupakan predisposisi aspirasi pada pasien berusia lanjut. Pasien berusia lanjut mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami aspirasi sekunder terhadap penurunan progresif pada diskriminasi sensorik laringofaringeal yang terjadi dengan penambahan usia. Pada pasien bedah umum berusia 65 tahun ke atas. 2.3 2.3 1.

maka obat anti inflamasi non steroid harus diberikan. dan menurunkan mediator inflamasi. Prinsip dasar dari evaluasi nyeri pada pasien berusia lanjut sama dengan pada kelompok usia lainnya.6 Penuaan mengganggu fungsi organ dan farmakokinetik. terutama pada individu dengan gangguan kognitif. Penanganan nyeri post operatif dengan opioid dapat digunakan setelah dosisnya disesuaikan dengan usia. seperti pada ekstremitas atas untuk blok saraf lokal. Kecuali terdapat kontra indikasi.2 Disfungsi Kognitif Postoperatif 13 . Tetapi.6 Penanganan Nyeri Akut Post Operatif aspirasi pulmoner dan Penelitian klinis dan eksperimen mendukung adanya penur unan persepsi sakit sejalan dengan bertambahnya usia. analgetik. untuk meningkatkan analgesia dan menurunkan toksisitas narkotik. Bila mungkin digunakan obat anti inflamasi untuk memisahkan narkotik. atau kecenderungan terjadi hemostasis atau ulserasi peptikum. 2 rentan. Bukti-bukti menunjukkan evaluasi nyeri. seperti adanya penyakit comorbid (penyerta). Penting untuk mencoba membandingkan berbagai jenis analgetik. Masalah yang lebih besar terjadi pada pasien dengan gangguan kognitif. sulit dilakukan. Beberapa prinsip umum harus diingat saat menangani pasien usia lanjut yang rentan : 1. dan blok saraf regional. tetap belum jelas apakah perubahan yang terjadi disebabkaan karena proses penuaan atau akibat dari efek penuaan lainnya. Skala nyeri verbal merupakan metode yang lebih baik dibandingkan dengan metode non verbal pada pasien usia lanjut. dengan toleransi yang buruk terhadap nar kotik 2. Kombinasi pemeriksaan nyeri dan dosis obat merupakan tantangan dalam penanganan nyeri postoperatif pada pasien berusia lanjut. seperti analgetik yang diberikan intravena.2. 2 3. Penggunaan analgetik dengan daerah kerja spesifik akan sangat membantu.2.transesofageal intraoperatif dan menyebabkan 90% pneumonia. Prinsip ini terutama pada pasien berusia lanjut yang sistemik.

depresi. dan faktor. perhatian. dan dan biasanya kecepatan psikomotorik. Penurunan kognitif awal setelah pembedahan sebagian besar akan membaik dalam waktu 3 bulan. Pada prosedur non-cardiac. Diperlukan penelitian lebih lanjut dan cakupan yang lebih luas tentang masalah perioperatif. dan prosedur pembedahan. gangguan kognitif preoperatif. tingkat pendidikan yang rendah. walaupun efek ini mungkin akan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. memori. Pembedahan jantung berhubungan dnegan 36% insidens terjadinya penurunan kognitif dalam waktu 6 minggu setelah operasi.Perubahan jangka pendek dalam kinerja tes kognitif selama hari pertama sampai beberapa mencakup minggu setelah operasi telah dicatat dengan baik beberapa kognitif seperti. penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyarankan adanya tim multidisiplin termasuk geriatrician yang akan mempengaruhi hasil terapi. Risiko-risiko terjadinya penurunan kognitif postoperatif adalah usia. Pasien yang mampu bertahan setelah keluar dari ICU tampaknya berhubungan erat dengan tingkat keparahan penyakit saat masuk.7 Walaupun jenis perawatan peri-operatif ideal pada pasien berusia lanjut belum diketahui. termasuk mikroemboli (terutama pada pembedahan jantung).8 Hasil Perawatan Intensif Sejumlah penelitian telah meneliti hasil jangka panjang setelah perawatan kritis pada pasien berusia lanjut.2 1. depresi.faktor genetik (alel E4). Disfungsi kognitif jangka pendek setelah pembedahan dapat disebabkan karena berbagai etiologi. anestesia. tetapi bisa juga menetap pada kurang lebih 1% pasien. respons inflamasi sistemik (bypass kardiopulmoner). anestesia mempunyai pengaruh yang paling ringan terhadap terjadinya penurunan kognitif jangka panjang. Insidens disfungsi kognitif setelah pembedahan non-jantung pada pasien dengan usia lebih dar i 65 tahun adalah 26% pada minggu pertama dan 10% pada bulan ketiga. Penurunan kognitif post-operatif setelah pembedahan non-cardiac akan kembali nor mal pada kebanyakan kasus.2 Ada tidaknya kontribusi anestesi terhadap disfungsi kognitif postoperatif jangka panjang masih kontroversi dan memerlukan penelitian yang intensif. hipoperfusi. sedangkan usia dan status fungsional prehospital berhubungan erat dengan tingkat survival jangka panjang. Tantangan pada masa depan adalah mengatur perawatan per ioperatif 14 .

pasien berusia lanjut dengan penyakit penyertanya dan besarnya risiko dengan biaya yang sesuai. gelisah.7 1. penderita dehidrasi. takikardi dan syok septik. nyeri lepas. nyeri kejang otot (defance muscular) 15 . maka bising usus akan menghilang. hipotensi.  Auskultasi: Terdengar suara usus meninggi (metallic sound) terutama pada permulaan terjadinya obstruksi dan terdengarnya sangat jelas pada saat serangan kolik. Dengan kata lain. Abdomen : 2.4 Keadaan umum : penderita tampak lemah. terutama pada penderita kurus. ileus obstruktif adalah hambatan pasase usus yang disebabkan oleh sumbatan pada bagian distal.  Palpasi: Pada obstruksi intestinal yang simple berbeda dengan obstruksi intestinal strangulasi.5  Inspeksi: Terlihat distensi. bibir kering. Pada obstruksi intestinal strangulasi akan terjadi rangsangan peritoneum akibat terjadinya peritonitis. Kalau obstruksi berlangsung lama dan terjadi strangulasi.1 ILEUS OBSTRUKTIF Definisi 1 Ileus dapat didefinisikan sebagai hambatan pasase isi usus. tampak gerakan usus.2. Kalau obstruksi berlangsung lama dan telah terjadi strangulasi serta peritonitis. akan terdapat tanda-tanda : perut distensi tegang.3. tampak gambaran usus (darm contour). sesak nafas dengan perut kembung dan tegang. nyeri tekan. turgor kulit menurun. maka akan terjadi demam.3. Pemeriksaan Fisik 2.

maka muntah akan terjadi lebih dini dan terdiri dari cairan jernih hijau atau kuning. tergantung dari tingkat obstruksi atau kapan pasien diperiksa. Gejala tersebut antara lain:  Nyeri abdomen yang biasanya agak tetap pada awalnya dan kemudian menjadi bersifat kolik. Jika obstruski berada di distal. sedangkan pada obstruksi distal nyeri pada intraumbilicus. Nyeri bersifat episodic tergantung dengan tingkat obstruksi.  Muntah ditemukan segera setelah adanya obstruksi.  Kegagalan buang gas dan buang air besar per rectum merupakan salah satu gambaran khas dari obstruksi usus. Gejala Klinis 1 Gejala klinis yang ditemukan pada pasien ileus obstruktif bervariasi penampilan dan keparahannya. Muntah tergantung pada tingkat obstruksi. Nyeri pada obstruksi proksimal biasanya ada di supraumbilicus. Patofisiologi Menurut berat ringannya obstruksi dapat dibagi menjadi : 2. Muntahannya akan kental dan berbau busuk sebagai hasil pertumbuhan bakteri berlebihan karena adanya renggang waktu yang lama. Apabila obstruksi berada di distal. sebab adanya darah dalam feces kemungkinan adanya lesi dari mukosa atau adanya intussusepsi.4. maka muntah akan timbul lambat karena didahului oleh distensi usus. apakah ada darah samar.5 16 . Pemeriksaan colok dubur: Untuk mengetahui apakah ada massa dalam rectum. mungkin tidak terjadi obstipasi dalam beberapa hari karena lewatnya isi usus menuju bagian distal memerlukan waktu. apabila obtruski berada di bagian proksimal. Obstruksi jejunum tinggi sekitar 4-5 menit dan obstruksi ileum rendah 15-20 menit. Adanya feces harus diperhatikan. Perkusi: Seluruh dinding abdomen nyeri ketok dan terdengar suara tympani.

Meningkatnya gas dalam lumen usus berasal dari udara yang ditelan. Pada obstruksi yang simple ini belum terjadi kerusakan dari vaskularisasi usus. C. Metabolik asidosis dapat disertai oleh respiratory asidosis. febris. Pada obstruksi proximal. kalium dan klorida. Dengan adanya gangguan resorbsi dan meningkatnya sekresi usus.A. Obstruksi Intestinal Partial (In Complete) Sebagian sisa makanan dan udara masih dapat melintasi tempat obstruksi B. sisa makanan dan udara akan menumpuk di bagian proximal dari sumbatan. hipovolemik. lekositosis dan rasa nyeri yang konstan. CO2 berasal dari netralisasi bikarbonat. maka akan terjadi dilatasi usus. komplit. Akibat sumbatan ini. kehilangan cairan disertai oleh kehilangan ion hydrogen (H+). Penimbunan cairan/sisa makanan dan udara dalam lumen usus mengakibatkan meningkatnya tekanan intraluminer. yang terjadi karena berkurangnya pergerakan pernafasan. selain terdapat gejala seperti obstruksi intestinal yang komplit juga terdapat gejala : rangsangan peritoneum. O2 yang berasal dari fermentasi bakteri. Pada strangulasi isi usus. Obstruksi Intestinal Strangulasi Terdapat gangguan pasase isi usus disertai adanya gangguan vaskularisasi dari segmen usus. Akibat muntah tadi akan terjadi dehidrasi. gangguan elektrolit yang sifatnya tergantung dari jenis obstruksinya. Hipovolemik yang hebat dan berlangsung lama akan menyebabkan terjadinya 17 . sehingga terjadi metabolik alkalosis. partial. cairan yang hilang hampir sama tetapi tidak disertai oleh kehilangan elektrolit yang bermakna. Selanjutnya metabolik asidosis dapat diperburuk oleh hipovolemik yang berhubungan dengan hipoperfusi. Pada obstruksi yang lebih distal. akibat menyempitnya rongga dada oleh desakan usus yang dilatasi. Obstruksi Intestinal Complete (Total) Terdapat gangguan pasase isi usus akibat sumbatan. Muntah-muntah dapat terjadi akibat regurgitasi dari lambung yang penuh. lamanya dan lokalisasi dari ligamentum Treitz.

Tumor Jinak Lebih dari sepuluh tumor jinak ditemukan di ileum sisanya di duodenum dan jejenum.Akut Renal Failure. Jenis yang ditemukan adalah lymfoma ganas. terjadi sepsis dan dapat menimbulkan kematian.5.Tumor Ganas Hampir sama dengan tumor jinak dan sering ditemukan di ileum dengan penurunan berat badan dan nyeri perut. Tumor jinak yang sering memberi gejala biasanya adalah leimioma . leimioma dan hemangioma. • Hernia Eksternal (inkarserata) Adalah istilah yang menunjukkan suatu keadaan dimana isi kantong hernia tidak dapat masuk kembali ke rongga peritoneal akibat terjepit di anulus inguinalis. • Ascariasis 18 . karsinoid dan adenokarsinoid. • Neoplasma . Kelainan obstruksi lumen 2. Polip adenomatosa menduduki tempat nomor satu disusul lipoma. pada operasi perlengketan dilepas dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali.6 Usus Halus • Adhesi (penempelan) Ileus karena adhesi tidak disertai strangulasi dan berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau umum atau pasca operasi. Proses yang langsung terjadi ialah gangguan aliran darah dan pasase segmen usus yang terjepit (kalau usus yang masuk) sehingga dapat juga disebut hernia strangulasi. Sering ditemukan dalam bentuk pita. maka akan terjadi translokasi bakteri. Akibat kerusakan vili usus karena obstruksi intestinal.

Divertikel colon adalah divertikel palsu karena terdiri dari mukosa yang menonjol melalui lapisan otot seperti hernia kecil. biasanya terdapat tanda-tanda yang mendahului antara lain penyimpangan buang kotoran. Volvulus Volvulus merupakan proses memutarnya usus (biasanya sekum atau kolon sigmoid) pada mesokolonnya sehingga menyebabkan obstruksi lumen dan disertai gangguan sirkulasi. Komplikasi penyakit divertikula merupakan akibat dari divertikulitis akut atau kronik. Intususepsi/Invaginasi Suatu keadaan masuknya suatu segmen usus ke segmen bagian distal yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. Volvulus sekum diakibatkan karena fiksasi embriologi kolon yang tidak sempurna karena sekum dan ileum terminal terputar bersama-sama. d. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat yang terdiri dari sisa-sisa makanan dan puluhan atau ratusan ekor cacing yang mati akibat pemberian obat cacing.Paling sering pada anak-anak dan kebanyakan hidup di usus halus bagian jejenum biasanya ada puluhan hingga ratusan. b. Karsinoma Kolon Obstruksi kolon yang akut dan mendadak kadang-kadang disebabkan oleh karsinoma. Usus Besar a. Faktor predisposisi yang dikenal adalah poliposis multiple. Divertikel Divertikel saluran cerna paling sering ditemukan di kolon khususnya di sigmoid. Invaginasi diduga oleh karena perubahan dinding 19 . Volvulus sigmoid diakibatkan karena pemanjangan sigmoid pada mereka yang lanjut usia atau yang sakit mental. abses dan pembentukan fistula atau obstruksi usus akibat striktur. Karsinoma colon merupakan penyebab angka kematian yang tertinggi dari pada bentuk kanker yang lain. peritonitis. perforasi. c. keluarnya darah pererktal dan colon akan mengalami distensi hebat dalam waktu yang cepat. dapat bermanifestasi sebagai perdarahan.

Keluarnya darah dari rectum serta massa yang berbentuk sosis sepanjang kolon yang merupakan tanda khas.usus khususnya ileum yang disebabkan oleh hiperplasia jaringan lymphoid submukosa ileum terminal akibat peradangan. dengan abdominal kolik. 20 .

: Nyeri perut Riwayat Penyakit Dahulu Sebelumnya tidak merasa seperti ini. mobilisasi (+). Mulai 2 hari yang lalu nyeri perut semakin parah. Pasien belum BAB sejak 3 hari yang lalu. riwayat DM (-). Nyeri perut hilang timbul. Tibi : 66 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama Alamat : Islam : Tongas Tanggal MRS : 05 Oktober 2013 No. Riwayat HT (-). riwayat asma (-) Riwayat Penyakit Keluarga 21 .2 Anamnesa Keluhan Utama Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri perut sejak 3 bulan yang lalu.1 Identitas Nama Umur : Tn.BAB II LAPORAN KASUS 2. RM : 479183 2. makan/minum (+/+). Batuk (-). Mual (+) muntah (+) .

3 Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran GCS Airway Breathing : Cukup : Compos Mentis :456 : Jalan Napas Bebas. riwayat DM dan HT keluarga tidak ada Riwayat Pengobatan Pasien tidak pernah operasi sebelumnya Riwayat Alergi Pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat-obatan maupun makanan. kering 22 .Keluarga tidak ada yang seperti ini. batuk (-) : RR Sesak Asthma Suara Napas Tambahan Circulation : Tensi Nadi Perfusi : 16 x/menit : (-) : (-) : (-) : 130/80 : 78 x/menit : merah. hangat. Riwayat Kebiasaan Merokok (-) 2.

Gerakan dada simetris : fremitus raba simetris : sonor : suara napas vesikuler (+). wheezing (-). nyeri tekan (+) hepar dan lien tidak : pekak : Bising usus (+) 23 . murmur (-) : : bentuk simetris : Konjunctiva Anemi (+) sclera Icterus (-) : Pembesaran KGB (-) o Auskultasi Abdomen o Inspeksi o Palpasi teraba. ronchi (-) Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Gerakan dada simetris : iktus kordis (-) : batas jantung kesan normal : S1 dan S2 tunggal. reguler.5 o C : (+) : (+) : (+) Status Generalis Kepala – Leher o Kepala o Mata o Leher Thorax : o Jantung     o Paru    Inspeksi Palpasi Perkusi : retraksi (-). o Perkusi o Auskultasi : Distensi (+) : Defans muskuler (-).Suhu Grimace Makan/Minum Mual/muntah : 36.

5 Assesment Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta laboratorium.25mg. Darah  GDS : 7. diberikan premedikasi berupa Sulfas Atropine 0.6 TINDAKAN ANESTESI Keadaan pre-operarif : Pasien sudah terpasang NGT sejak tanggal 06 Oktober 2013.2 ribu/ mmk : 2’ menit : 10’ menit :O : 130 2.5 respirasi kontrol. Anestesi yang diberikan : 24 . Keadaan pasien tampak kesakitan.4 Pemeriksaan Penunjang Rontgen Abdomen 3 posisi : Kesan : tampak adanya obstruksi letak tinggi 2.- Extremitas : akral hangat + + Edema + + + + + + PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tanggal 05/10/2013  HB  AT  AL  BT  CT  Gol.3 gr/dl : 189 ribu : 15. Premedikasi yang diberikan : ± 5 menit sebelum dilakukan induksi anestesi. semi closed. general endotracheal anestesi dengan ET oral no: 6. kooperatif. nadi 85 x/ menit Jenis Anestesi : anestesi umum. tensi 130/ 80 mmHg. maka: Diagnosa pre-operatif : Ileus Obstruktif Status operatif : ASA 3 (Geriatri+anemia) 2.

nadi berkisar antara 80-95 x/ menit. 6. Dipersiapkan whole blood 2 kantong. Bila pasien tenang dan Aldrette Score ≥ 8 tanpa nilai nol. hipoksia dan sianosis. Setelah itu pasien diberi O2 murni selama ± 1 menit. pasien harus tiduran dengan kepala yang ditinggikan 30o dengan bantal selama 24 jam.  Bila pasien kesakitan beri ketorolac 30 mg IV. dan 47-80 mmHg untuk diastolik.5. Namun. Ruang Rumatan Pasien dipindah ke ruang pemulihan dan diobsevasi mengenai pernafasan. Infus RL dan widahes diberikan pada penderita sebagai cairan rumatan. boleh diulang tiap 8 jam. nadi dan pernafasan tiap 30 menit.  Kontrol tekanan darah. nadi. Program post operasi Pasien dikirim ke bangsal dengan catatan:  Setelah pasien sadar.  Maintenance Untuk mempertahankan status anestesi digunakan kombinasi O2 2 L/ menit. dapat dipindah ke bangsal. Induksi anestesi ( jam 12. Keadaan post operasi Operasi selesai dalam waktu 75 menit. Isofluran 30 cc. Selama tindakan anestesi berlangsung. 25 . pada kasus ini. Pernafasan pasien dibantu sampai terjadi nafas spontan. disusul pemberian atracurium setelah terjadi relaksasi kemudian dilakukan intubasi melalui oral dengan ET no.20) Untuk induksi digunakan propofol 100 mg. Tekanan darah sistolik berkisar antara 94-120 mmHg. tetapi pemberian agent anestesi masih dipertahankan dengan tujuan agar tindakan ekstubasi dalam dilakukan pada keadaan tidak sadar penuh sehingga tidak menimbulkan batuk dan mencegah kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas. pasien langsung dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan pengawasan yang lebih intensif. Setelah di cek pengembangan paru dan suara nafas paru kanan dan kiri sama. tekanan darah dan nadi senantiasa di kotrol setiap 5 menit. tekanan darah. N2O 2 L/ menit. pasien belum boleh duduk dan berdiri. ET di fiksasi dan dihubungkan dengan sistem apparatus anestesi. Selain itu juga diberikan ondansetron 4 mg.

jumlah urine ± 300 cc warna jenih kekuningan. mual/muntah (-).9% 500cc 26 . Injeksi Ceftriaxone 2 x 1 Injeksi Ketorolac 3 x 1 Injeksi Ranitidine 2 x 1 . GCS 456. puasa (+). nyeri pada bekas operasi. Infus RL 1000 cc/24 jam dan NaCl 0.15 Kesadaran Compos mentis.8 gr/dl b. infus RL 1000 cc dan NaCl 0. posisi berbaring tanpa bantal.9 % 500 cc/24 jam. Nadi 85 x/menit.  Cairan infuse NaCl. c. puasa (+). tensi 140/90 mmHg. Monitoring Post Op a. pasien mengatakan nyeri pada daerah bekas operasi. tensi 130/80 mmHg. jumlah urine ± 1000 cc warna jernih kekuningan.  Pasien dipuasakan Terapi Post Op Infus RL 1000cc/24 jam dan infus NaCl 0. mual/muntah (-).9% 500cc. mual/muntah (-). nyeri bekas operasi. Tensi 130/80 mmHg. nadi 80 x/menit. GCS 456. 08 Oktober 2013 Pukul 14. 10 Oktober 2013 pukul 18. beri O2 lewat nasal.15 Kesadaran Compos mentis. DC threeway masih terpasang. pasien sudah bisa bangun dari tempat tidur. Bila pasien mual-muntah diberi ondansetron 4 mg IV. DC threeway masih terpasang. Infus RL 1000 cc/24 jam dan infuse NaCl 0.9 % 500 cc. GCS 456. kaki sudah bisa diangkat. DC threeway dan drain abdomen masih terpasang.00 Kesadaran compos mentis. 09 Oktober 2013 pukul 07. Hb : 10. jumlah urine ± 500 cc warna jernih kekuningan. pasien sudah mulai makan pada pagi hari. posisi berbaring sudah memakai bantal. Rabu. Kamis. Nadi 82 x/menit. Kamis.

Pada pasien tua. Metode anestesi sebaiknya seminimal mungkin mendepresi pernapasan dan jantung. fentanil 50 meq. Namun. pasien menerima obat-obatan premedikasi berupa Aminophilin 120mg. Dalam hal ini. sulfas atropine. pasien juga menerima obat-obatan profilaksis sebelum memasuki tahap pembedahan sehingga diharapkan pasien dapat mengikuti pembedahan dengan kondisi yang optimal. laparotomi pada kasus ileus obstruktif bukan merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan bedah segera kecuali jika sudah terjadi strangulasi. Selain itu perubahan-perubahan fisiologis pada pasien ini dapat mengakibatkan perbedaan prosedur anestesi jika dibanding pasien dewasa. Pemilihan teknik yang tepat dan tindakan monitoring pasien selama pembedahan memegang peranan penting keberhasilan tindakan definitive. Dalam hal ini. aman. Selain itu. Beberapa saat sebelum operasi berlangsung. Penyulitnya adalah anemia dan usia tua. dalam menyiapkan pembedahan. kadar obat yang dibutuhkan lebih sedikit daripada pasien dewasa pada umumnya. general anastesi menjadi pilihan utama dalam menjalankan tindakan operasi laparotomi pada pasien ileus obstruktif. Tindakan pemilihan jenis anestesi pada pasien tua diperlukan beberapa pertimbangan. midazolam 2mg. asuhan anastesi memegang peranan penting kesiapan pasien hingga proses recovery pasien. sifat analgesik cukup kuat. Teknik anestesi disesuaikan dengan keadaan umum pasien. Pasien dipuasakan untuk mempersiapkan kondisinya pada pembedahan keeseokan harinya. kebutuhan cairan terpenuhi melalui intake infuse intravena. toksisitas rendah. 27 . Pada pasien ini operasi dilakukan saat nilai hemoglobin >9 gr/dl.BAB III PEMBAHASAN Pada pasien ini status fisiknya adalah ASA III. artinya pasien ini mempunyai kelainan sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan keterbatasan fungsi. nyaman dan memungkin ahli bedah bekerja optimal. jenis dan lamanya pembedahan dan bidang kedaruratan. tidak menyebabkan trauma psikis pada pasien. Jenis operasi yang akan dilakukan adalah laparotomi.

Pada tahap ini. mempertahankan jalan nafas agar tetap paten. Asuhan anastesi perioperatif pada pasien ini yang digunakan adalah General Aneshesia (GA) dengan Endotracheal Tube.fentanil berfungsi sebagai narkotika analgesic midazolam sebagai agen transquilezer. tujuan intubasi endotrakheal: a. 28 .Mengatasi obstruksi laring akut. Sedangkan propofol sendiri berfungsi sbagai agen penginduksi cepat anastesi.Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial. dan setelah itu ditambahkan dengan induksi anastesi propofol 100mg . pasien diberikan O2 melalui masker hingga pasien tertidur dan jalan napas relaks. serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. e. Dalam beberapa menit pasien akan mulai merasakan efek obat-obatan tersebut dan mulai tertidur.0. Dengan demikian pemasangan Endotracheal Tube dapat segera dilakukan.Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar. mencegah aspirasi. Tujuan dilakukan tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran trakheobronchial. Obat-obatan ini membantu menginduksi anastesi sehingga dapat menurunkan kebutuhan obat-obatan anastesi. c.Mempermudah pemberian anastesia.Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran pernafasan. sulfas atropine sebagai antikolinergik dan atracurium besylate sebagai muscle relaxan. Pada dasarnya. atracurium besylate 20mg dilanjutkan dengan propofol 100mg.Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.25mg. d. f. lambung penuh dan tidak ada refleks batuk). b.

00 berarti cairan yang harus diganti adalah (10/24) x 3500 = 1458 ml  1500 cc Jumlah urine 0. Selama fase pembedahan. Dalam hal ini. jadi jumlah urinenya (0. Halotan yang dimasukkan sebanyak 2.5 V%. dimana kebutuhan cairan dalam sehari adalah 50100 m/kgBB/24 jam. agen anastesi dapat dimasukkan dengan cara ventilasi bersama dengan oksigenasi yang terjaga saturasinya. 29 . Kondisi pasien dijaga agar tetap berada pada fase pembedahan dan tidak naik meuju fase depresi medulla oblongata karena anastesi terlalu dalam ataupun pasien terbangun karena anastesi yang terlalu dangkal.Dengan pemasangan endotracheal tube. Dalam operasi yang berlangsung kurang lebih 1 jam ini jumlah urine pasien 80 ml. maintenance pasien harus juga selalu diobservasi meliputi tanda-tanda vital dan pernapasan serta tonus otot.5-1) x 70 =35-70 ml/jam. masih dalam jumlah normal. yaitu 100%. Perbandingan O2 dan N2O2 diatur kadarnya 1:1 yaitu 3 Liter/ menit masing-masing. perlu diperhatikan lebih seksama dalam menjaga agar pola pernapasan pasien selama operasi berlangsung dapat dikondisikan kondusif.00 – 10.5-1ml/kgBB/jam. Jadi kebutuhan cairan dalam sehari adalah 50 x BB = 50 x 70 kg = 3500 ml/24 jam Jika pasien berpuasa mulai pukul 00. Pemberian agen Atracurium Besylate selama operasi berlangsung menyebabkan terjadinya relaksasi otot lurik dan otot polos dari tubuh termasuk otot pernapasan. Kebutuhan hidrasi pasien tua Secara umum sama dengan dewasa muda.

Dengan demikian batas keamanan (margin of error) lebih sempit daripada orang yang lebih muda. yang dapat berinteraksi dengan anestetika. Penurunan faal tubuh dan perubahan degeneratif yang mempengaruhi banyak sistem organ membuat respon pasien tua terhadap agen-agen anestesi menjadi berbeda. Disamping itu harus diingat kemungkinan penyakit yang diderita oleh manula serta obat-obat yang dipakai para anestesia. Dalam menatalaksana anestesia untuk manula harus diingat perubahan fisiologis yang terjadi secara normal. 30 . serta perubahan respon terhadap obat.BAB IV KESIMPULAN Anestesi pada geriatri atau pasien tua berbeda dengan anastesi pada dewasa muda pada umumnya.

B.com. Smeltzer. Sjamsuhidajat R.scribd. Dalam Ilmu Bedah (Handbook of Surgery). 13.. David C. 4. : Obstruksi usus. : Volvulus at the Colon.com/doc/100309957/Anastesi-Geriatri-docx 8. 1996 : 835 – 854. Wilson L. Kolon dan Anorektum. Khan AN.18:1-29. Buku Ajar Bedah bagian 2.. penerbit EGC : 402 – 405. Hipertrofi Prostat Benigna. edisi Empat. 12. Wolff B. Fisiologi. Toronto. 10. 2009. 71:2261-73 5. Semarang. Journal of Anesthesiology. Jakarta : EGC. http://id. Obstruksi Usus. In : World Journal of Anesthesiology. Miller R.unmc.edu/media/intmed/geriatrics/lectures/anesthesia_for_the_elderly. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA 1. Syamsu Hidayat. Geriatric Anesthesia. : Usus Halus. 239 – 42. Jakarta. 31 . Forest Sheppard. Small-Bowel Obstruction. England: Departemen of Anesthesiology. penerbit EGC. John L. 4. Keperawatan Medikal Bedah. : Macam dan Diagnosis Obstruksi Intestinal. 2009. 1994: 543 – 559 9. 1989 : 130 – 131. 16. Lester L. Piter Anugrah. Alih Bahasa Dr. Hal 3-4.com/doc/82710494/Anestesi-Geriatri 7. 11. Current Surgical Therapy – 3.4:323-336. Miller’s Anesthesia 2 Ed. http://id. 3. editor R. Cameron. K.G.com/search/cache?/ileus_obstructif/Article:By:eMedicine. Pieter. dkk. Januari 2002. 1993. Schrock TR. Howat J. Appendiks. In: Http://www. Alih Bahasa: Adji Dharma. Philadelphia. 2.scribd. Suzzanne C. Allison B. Darmojo B. Buku Ajar Ilmu Bedah. J. Last Updated: May 10. 1997: 732-764 14. http://www. Shafer SL. de Jong W. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Sabiston. 56-66. 2000. Penerbit Buku Kedokteran EGC. htm 6.yahoo. 7. The Pharmacology of Anesthetic Drugs In Elderly Patient.M. Jakarta : EGC. 15. Muktamar VI IKABDI. Wim de Jong. Geriatri Ed. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi. 2004. 2001.. Budha I. USA: Departemen of Anesthesiology National Naval Medical Centre.

32 .