You are on page 1of 141

ANALISA REKENING KORAN

Pembahasan saat ini yakni sharing mengenai analisa rekening koran. Sebagaimana diketahui bersama bahwa dengan dilakukannya analisa rekneing koran, kita mampu mengungkapkan kondisi keuangan maupun usaha debitur yang sedang berjalan, bagaimana prospeknya kedepan, dengan pihak mana saja debitur melakukan transaksi dan keadaan keuangan dari debitur dll. Berikut diulas lebih dalam analisa rekening koran. Ada beberapa hal yang harus dianalisa dari rekening koran yakni: 1. Jenis transaksinya, meliputi transaksi kredit dan transaksi debet 2. Aktivitas harian/mutasi harian 3. Jumlah aktivitas / frekuensinya 4. Total mutasi debet dan mutasi kreditnya 5. Rata-rata saldo mengendapnya 6. Rata-rata mutasi debet dan mutasi kreditnya Gambaran secara umum mengenai hasil analisa terhadap fasilitas kredit yang telah diterimanya Mutasi sangat fluktuatif)
   

rekening optimal

koran dan

aktif

(fasilitas

terpakai

secara

Usaha debitur sedang berkembang pesat Barang./ jasa debitur laris dipasaran Kondisi keuangan baik Debitur berpotensi untuk berkembang aktif (fasilitas terpakai optimal dan

Mutasi tergolong fluktuatif)
   

Usaha debitur berjalan normal Kegiatan debitur sebagian bersifat tunai atau ditransfer ke rekening lain Kondisi keuangan cukup baik Berpotensi untuk dikembangkan

Mutasi rata-rata (fasilitas terpakai optimal namun stabil)
 

Ada kemungkinan debitur memerlukan sumber dana tambahan Ada tagihan yang belum masuk / masuk tapi terlambat

Mutasi tergolong kurang optimal namun stabil)
   

aktif

(fasilitas

diberikan

terpakai

Debitur sedang mengalami kesulitas likuiditas Usaha sedang tersendat-sendat Memerlukan pinjaman tambahan Lebih aktif transaksi di rekening lain (fasilitas terpakai tidak optimal namun

Mutasi rata-rata fluktuatif)
   

Debitur berhati-hati terhadap sumber dana dari bank yang telah diterimanya Debitur aktif di bank lain Penerimaan tagihan lancar Kredit Bank hanya terpakai sebagai dana cadangan bermanfaat

Demikian disampaikan..semoga

IN HOUSE TRAINING KREDIT DAN ANALISA KREDIT Hub : Aslam Fetra H Hp : 0813-273-72770

ANALISA RATIO
Analisa ini diperlukan guna menginterpretasikan secara lebih mendalam kondisi keuangan suatu perusahaan, mengkaitkan korelasi antara neraca dan laba/rugi. Ada banyak perhitungan analisa ratio, dalam hal ini kami hanya mensharingkan 4 ratio saja yang umum dan sering diaplikasikan: Liquidity Ratio: Ratio ini mengukur kemampuan suatu perusahaan didalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya :
 

Current Ratio (CR) = Aset Lancar /Kewajiban Lancar Quick Asset Ratio = Kas + Setara Kas + Piutang Dagang /Kewajiban Lancar untuk mengukur

Indebtedness Ratio : ratio yang digunakan struktur permodalan. diantara ratio ini yakni:
  

Leverage Long Term Debt Short Term Debt

= Total Hutang / Total Modal = Hutang Jk.Panjang / Total Modal = Hutang Jk.Pendek/ Total Modal.

Operating Ratio : Mengukur efektifitas perusahaan didalam pengelolaan aset-asetnya
  

Perputaran Piutang = (Piutang / Penjualan ) X 360 hari Perputaran Persediaan = (Persediaan / HPP ) x 360 hari Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang/ HPP ) X 360 hari

Profitability Ratio : Mengukur efisiensi perusahaan didalam mengelola aset-asetnya
 

Return On Aset (ROA) = (Laba Bersih / Penjualan ) x 100% Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih/ Total Modal) X 100%

Demikian sharingnya..semoga bermanfaat Pelatihan Analisa Kredit sampai bisa Hub: Aslam Fetra H 0813-273-72770

Perhitungan KMK (Cash Convertion Cycle)
Posted on Senin, 23 November 2009 by Assalam Dalam kesempatan ini, kami uraikan mengenai perhitungan Kebutuhan Modal Kerja dengan menggunakan metode Cash Convertion Cycle. Dalam penerapan metode ini kita mendasarkan perhitungan pada beberapa pos dalam laporan keuangan tahun terakhir meliputi: Penjualan, HPP, Piutang Dagang, Persediaan serta Hutang Dagang, perputaran piutang dagang, perputaran persediaan dan perputaran Hutang Dagang. Berikut contoh gambaran lebih detailnya: Penjualan HPP Piutang Persediaan Hutang : : Dagang : Dagang Rp. Rp. :Rp. Rp. : Rp. 35.776.100.500,28.198.306.232,22.385.429.659,2.648.506.820,7.036.043.759,-

Berdasarkan data diatas, berikutnya kita tentukan perputaran piutangnya (A/R DOH), perputaran persediaannya ( Inventory DOH) dan perputaran hutang dagang (A/P DOH) A/R DOH = (Piutang / Penjualan ) x 360 hari = 225 Hari Inventory DOH = (Persediaan / HPP) x 360 hari = 34 Hari Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang / HPP) x 360 hari = 90

hari Selanjutnya diasumsikan penjualan Penjualan HPP kita tentukan proyeksi penjualan kedepan, penjualan naik 5 % dan HPP adalah 78 % dari dan hutang Bank tidak ada maka: kedepan : Rp 37.554.405.525,: Rp. 29.292.436.310,-

Kebutuhan KMK A/R Financing = (Penjualan Kedepan / 360) x 225 hari = Rp. 23.504.701.142,Inv Financing = ( Hpp kedepan / 360 ) x 34 hari = Rp. 2.751.272.247,A/P Financing = (Hpp kedepan / 360) x 90 hari = Rp 7.309.051.189,Kebutuhan Modal Kerja = (A/R Financing+ Inv Financing) - A/P = Rp. 18.946.922.200,Modal kerja yang dapat diberikan oleh Bank Maksimal adalah (80% x Rp.18.946.922.200,-) = Rp. 15.157.537.760,Demikian, Aslam Asisten Manajer Hp: 0813-273-72770 semoga Fetra Corporate bermanfaat H Lending

Pengenalan Kredit Modal Kerja
Posted on Minggu, 01 November 2009 by Assalam Kredit modal kerja (KMK)adalah kredit untuk membiayai modal kerja perusahaan dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan. Pembiayaan terhadap aktiva lancar ini dapat diberikan untuk membiayai piutang, maupun persediaan dengan jangka waktu kredit maksimal 1 tahun dan dapat diperpanjang selain itu sifat penggunaannya pun dapat berupa revolving seperti halnya penggunaan kartu kredit maupun non revolving seperti halnya pemberian fasilitas untuk multifinance. Untuk jenisnya dapat berupa: 1. Pembiayaan Tagihan, dalam hal ini kredit modal kerja yang diberikan digunakan untuk membiayai tagihan yang belum jatuh tempo karena penjualan secara kredit maupun belum dibayarkannya hasil pekerjaan oleh pemberi kerja. Untuk pemberian kredit modal kerja pembiayaan tagihan ini jaminannya pun dapat berupa tagihan dan atau fix asset. Dalam hal jaminannya berupa tagihan yang dibiayai maka dalam rangka penerapan

prinsip kehati-hatian perlu dipastikan dan dilakukan verivikasi terhadap seluruh tagihan yang dijadikan jaminan serta pihak yang dibiayai harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang tersebut. 2. Pembiayaan persediaan, dalam hal ini kredit yang diberikan digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang persediaan

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM ANALISIS KREDIT
Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa metode pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama ini yakni meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara jaminan, pendekatan kemampuan membayar kembali dan pendekatan kelayakan usaha. Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari khususnya buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof. Dr.H. Veithzal Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct., M.B.A secara lengkap beberapa pendekatan yang dapat digunakan yakni Character Approach, Collateral Approach, Repayment Approach, Feasibility Approach, Agent Of Development Approach dan Relationship Approach. Berikut penjelasan lebih jauh mengenai beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh penulis selama ini didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih banyak penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon debitur didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada pihak bank, sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi selama ini didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin tertinggi Bank BUMN, selain faktor jaminan, penekanan utama yang penulis garis bawahi dan menjadi titik kritis adalah reputasi dari calon debitur tersebut. Masih berkaitan dengan masalah karakter bilamana suatu usaha yang dikelola oleh calon debitur cukup menguntungkan sedangkan sikap koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang (tidak terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja usaha yang dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan berbelit-belit maka serta merta hal ini menjadi faktor penguat bgi penulis didalam menolak pengajuan kreditnya. Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan khususnya fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan

diberikan sesuai dengan SOP/Corporate Policy namun demikian tidaklah menutup kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun kemampuan membayar kembali dinilai jelas serta aman maka kekurangan daripada fix asset tersebut perlu dimintakan pesetujuan lebih lanjut kepada pejabat pemutus kredit Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya atas cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak ketiga (bowheer). Perlu dipastikan juga bahwasanya bila sumber pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga maka calon debitur harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang dari pihak pemberi kerja yang menyatakan bahwa tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan langsung kerekening calon debitur di Bank pemberi kredit atau masuk kedalam escrow account untuk langsung menurunkan outstandingnya Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan usaha disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya tersebut jelas dan layak untuk dijalankan serta dijamin pembayarannya kembali, semisal proyek-proyek dari pemerintah, proyek-proyek penyaluran kredit kerjasama dengan departemen-departemen pemerintahan( kredit program Depkeu dan Deptan)

PRINSIP KEHATI-HATIAN TERHADAP WALK IN CUSTOMER
Posted on Kamis, 07 Oktober 2010 by Assalam Kondisi perekonomian yang positif ditandai dengan semakin bergeliatnya perdagangan memicu pihak bank untuk turut serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian dengan menggiatkan penyaluran kredit.Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menggiatkan penyaluran kreditnya yakni dengan cara menjaring calon nasabah yang potensial kepada walk in customer.

Walk in customer tidak semuanya calon nasabah yang bermasalah,oleh karenanya perlu dilakukan penelitian secara seksama untuk mengetahui karakter,kondisi keuangan serta kemampuan bayarnya.

Berikut disampaikan beberapa masukan yang dapat dijadikan pegangan awal dalam rangka memperoleh nasabah Walk In Customer yang kredibel diantaranya sbb:

1. Mintakan data-data legalitas pribadinya.Mis: KTP/SIM/NPWP,KK,Surat Nikah (Nasabah perorangan) dan SIUP/TDP,akta-akta perusahaan berikut perubahannya dan pengesahannya dari MenKeh dll 2. Untuk nasabah perorangan ada kalanya diperlukan dokumen tambahan guna pengecekan karakternya (penilaian dalam ketepatan memenuhi kewajiban) seperti bukti tagihan dan pembayaran rek listrik/air/tagihan telp dalam jangka waktu 3 bulan terakhir 3. Lakukan kunjungan ke tempat usaha maupun tempat tinggal calon debitur secara langsung guna memastikan bahwa data-data dan atau informasi yang disampaikan adalah sesuai dengan apa adanya (yang tersurat sama dengan yang tersirat). Bilamana ada perbedaan maka mintakan keterangan kepada calon debitur tersebut Demikian semoga bermanfaat Aslam (HP 081327372770) Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

LAPORAN SOLISITASI/KUNJUNGAN USAHA
Posted on Jumat, 28 Mei 2010 by Assalam Didalam pemrosesan suatu fasilitas kredit komersiil salah satu tahapan yang harus dilakukan untuk mengecek kebenaran data-data yang disampaikan oleh calon debitur yakni dengan cara dilakukan kunjungan usaha langsung ketempat usaha atau kantor calon debitur. Adapun Beberapa masukan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang dapat dimuat didalam hasil laporan kunjungan setelah dilakukan kunjungan secara langsung yakni sebagai berikut: 1. Keterangan nama lengkap, jabatan pihak-pihak yang ditemui di kantor/lokasi usaha calon debitur, bilamana perlu lampirkan kartu namanya dalam laporan kunjungan anda 2. Uraian secara detail lokasi usaha yang bersangkutan meliputi:
       

Nama Perusahaan Bidang Usaha Alamat dan No.Telp Penjelasan apakah pemohon adalah pemilik usaha tersebut atau bukan Uraian mengenai jenis bangunan tempat usahanya apakah masuk komplek ruko, pertokoan, perumahan, pasar,mall Uraian jumlah SDM nya, pendidikan Uraikan mengenai jenis barang yang dijual/diproduksi, bahan bakunya, merk Informasi mengenai target konsumen,saluran distribusinya

 

Uraian mengenai sistem manajemennya, organisasinya, Foto-foto aktivitas usahanya saat dikunjungi

gambaran

struktur

Demikian, semoga bermanfaat..... Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

RISIKO DAN MITIGASINYA (RENTAL MOBIL)
by Assalam Pertumbuhan bisnis rental mobil semakin marak mengingat semakin besarnya pemenuhan kebutuhan transportasi bagi perusahaan-perusahaan besar. Adapun pemenuhan kebutuhan lebih banyak dalam bentuk sewa dari pada dalam bentuk pembelian (Aset) dikarenakan beberapa faktor diantaranya dana yang dikeluarkan untuk belanja modal cukup banyak sehingga mengurangi modal kerja peusahaan dan bila menyewa maka tidak perlu belanja modal yang cukup besar hanya perlu mengatur cashflow perusahaan tiap bulannya dalam bentuk biaya sewa per bulan. Dalam kesempatan ini akan diuraikan mengenai jenis-jenis risiko yang melekat pada pembiayaan rental mobil . Adapun beberapa risiko tersebut yakni: 1. Risiko Kehilangan dan Kerusakan. Dalam hal ini mitigasi yang bisa dilakukan setiap kendaraan yang disewakan wajib diasuransikan dengan banker's clause PT Bank anda dan perusahaan rental wajib mempunyai tim mekanik baik intern maupun dari ekstern untuk mengatasi kerusakan kendaraan. 2. Adanya Kemungkinan Risiko Kegagalan Terhadap Pembiayaan Kredit. Untuk hal ini dapat diantisipasi dengan memperhatikan : Aspek Jaminan yang harus mengcover pinjaman kreditnya dan adanya kewajiban antara perusahaan rental dengan pihak penyewa dalam kontrak perjanjiannya yakni: wajib terdapat Standing Intruction atas tagihan piutang perusahaan rental yang mana piutang tersebut akan dibayarkan oleh pihak penyewa melalui rekening Perusahaan rental di Bank Anda 3. Tidak Ada Perpanjangan Kontrak Yang Berjalan. Untuk hal ini dipastikan kepada pihak calon debitur bahwa untuk kontrak-kontrak yang telah berjalan terdapat:

MOU yang mendampingi kontrak, bahwasanya untuk kontrak yang sudah habis masa berlakunya maka patut dipastikan diberlakukannya perpanjangan secara otomatis sampai adanya kesepakatan para pihak untuk mengakhiri perjanjian dengan terlebih dahulu harus adanya pemberitahuan secara tertulis Adanya evaluasi per tahun terhadap kontrak yang telah berjalan untuk dilakukan perpanjangan secara otomatis

Demikian beberapa macam risiko-risiko dan mitigasinya dalam pembiayaan rental mobil, semoga bermanfaat... Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

yang

melakat

RISIKO DAN MITIGASINYA (TOKO BAHAN BANGUNAN)
Posted on Senin, 24 Mei 2010 by Assalam Pertumbuhan bisnis toko bahan bangunan cukup pesat akhir-akhir ini,didorong oleh semakin meningkatnya kebutuhan bahan bangunan seiring pesatnya proyek-proyek pembangunan dari berbagai sektor yakni sektor residensial, bangunan komersiil, industri dan institusional maupun infrastruktur. Dalam kesempatan ini akan diuraikan mengenai jenis-jenis risiko yang melekat pada bisnis toko bahan bangunan. Adapun beberapa risiko tersebut yakni: 1. Risiko Lokasi. Faktor lokasi memegang peranan yang cukup penting mengingat lokasi yang tidak tepat mengakibatkan penjualan menjadi menurun karena sedikitnya pelanggan yang datang. Lokasi disini mencakup juga mengenai ketersediaan lahan parkir. Pastikan tempat usaha dekat dengan pusat keramaian terutama didaerah yang sedang dibangun banyak perumahan 2. Risiko Kebakaran. Risiko ini melekat pada toko bahan bangunan tersebut dan merupakan salah satu faktor force majeur yang dapat menyebabkan pemilik toko kehilangan tempat berbisnisnya, oleh karenanya mitigasi yang dapat dilakukan adalah adanya Asuransi yang dapat meminimalisir faktor ini dalam bentuk Asuransi Kerugian 3. Risiko Ketersediaan Barang Dagangan dan Kualitasnya. Pengelolaan persediaan barang yang baik serta terjaminnya kualitas barang yang diperdagangkan merupakan faktor sukses kontinuitas bisnis toko bahan bangunan. Persediaan yang tidak lengkap apalagi sampai rusak/kualitasnya tidak dijaga seringkali menyebabkan pelanggan selalu berpindah ke toko lain apabila hal ini terus terjadi mengakibatkan penjualan semakin menurun 4. Risiko Meningkatnya Harga-Harga Bahan Bangunan. Mahalnya hargaharga bahan bangunan disebabkan oleh faktor makro ekonomi yang mengakibatkan daya beli masyarakat menjadi menurun dan mangkraknya proyek yang sedang berjalan. Oleh karenanya risiko ini merupakan titik kritis yang harus dicermati dan diurai secara mendetail dalam Memorandum Analisa Kredit sebelum pemberian fasilitas kredit dapat disetujui Demikian beberapa macam risiko dan mitigasinya yang melekat dalam bisnis toko bahan bangunan yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam pemberian fasilitas kredit toko bahan bangunan, semoga bermanfaat........ Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PEMBIAYAAN TAGIHAN KEPADA REKANAN
Posted on Sabtu, 22 Mei 2010 by Assalam Pada pembiayaan tagihan memiliki tingkat risiko yang besar dibandingkan dengan pembiayaan dengan jaminan fix aset dikarenakan jaminan berupa piutang sebagai second way out dalam hal debitur gagal bayar bentuknya adalah tidak berwujud, namun demikian risiko yang besar ini dapat dimitigasi yakni pembiayaannya hanya ditujukan terhadap rekanan (skim rekanan) maupun pembiayaan kepada BUMN dan rekanannya yang profitable serta memiliki likuiditas yang baik Ada beberapa syarat dan ketentuan yang dapat dijadikan sebagai pegangan bagi AO untuk mengamankan pembiayaan tagihan dengan skim rekanan diantaranya yakni: Syarat Kredit 1. Pastikan debitur menandatangani perjanjian kredit dan pengikatan jaminan secara notarill dan sempurna 2. Pastikan segala biaya yang timbul sehubungan dengan pemberian fasilitas ini (provisi,admin,notaris) wajib dibayar oleh debitur dimuka/didebet saat pembukaan fasilitas 3. Persyaratkan juga didalam offering letter bahwa segala macam biaya-biaya yang timbul dan akan timbul atas pemberian fasilitas ini akan menjadi beban debitur dan dibayar dimuka 4. Persyaratkan juga bahwasanya pihak bank sewaktu-waktu dapat melakukan peninjauan usaha debitur dan debitur harus bersedia menyampaikan segala macam informasi ataupun keterangan berkaitan dengan usahanya sejujur-jujurnya Syarat Pencairan 1. Pastikan bahwa jumlah pencairan fasilitas kredit tersebut maksimal tidak melebihi 80% dari penyerahan tagihan oleh Bowheer (invoice) yang masih berlaku untuk setiap proyek 2. Pastikan bahwasanya pembayaran oleh pihak bowheer dibayarkan melalui rekening debitur di Bank anda 3. Wajib adanya penyerahan standing instruction atas tagihan piutang dari bowheer yang mana piutang tersebut akan dibayarkan oleh bowheer ke rekening debitur di Bank anda 4. Pastikan bahwasanya pembayaran piutang atas transaksi yang dibiayai oleh Bank anda tersebut digunakan untuk menurunkan outstanding pinjamannya

Demikian beberapa syarat dan ketentuan yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan ataupun pelengkap dalam pembiayaan tagihan kepada rekanan. Semoga bermanfaat Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

KELENGKAPAN&OTENTIKASI DATA
by Assalam Pembahasan mengenai analisa kredit saat ini mengenai kelengkapan dan otentikasi data/dokumen. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap suatu dokumen yang diserahkan oleh pihak calon debitur kepada AO, beberapa hal yang harus diperhatikan yakni sbb: 1. Untuk Dokumen2 Keuangan/legalitas/Data Pribadi. Pastikan bahwasanya copy dari rekening koran/rekening tabungan dan laporan keuangannya, dokumen legalitas,data pribadi dari calon debitur adalah sesuai dengan aslinya (terlebih dahulu harus dicocokkan dengan aslinya) dan dibubuhi stempel ''sesuai dengan asli'' serta ditandatangani/paraf oleh AO 2. Apabila terdapat data/dokumen yang belum dipenuhi oleh calon debitur maka tergolong TBO (To Be Obtained) dan harus dimintakan persetujuannya kepada KABAG/KADIV atau ke Direksi disertai alasan dan kepastian tanggal kapan dapat dipenuhi dokumen-dokumen tersebut 3. Dalam hal pengikatan kredit dan penandatanganan perjanjian kredit maka segala macam kelengkapan data untuk pengikatan dan perjanjian kredit dipastikan tidak ada yang TBO, bilamana masih tetap ada kekurangan, maka harus segara dipastikan pada hari yang bersamaan data-data TBO harus segera dilengkapi Demikian, semoga bermanfaat Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERSIAPAN ANALISIS KREDIT
Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam Dalam kesempatan ini, kita mengupas persiapan-persiapan apa yang seyogyanya harus dilakukan sebelum analisis kredit diteruskan lebih jauh. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni mengenai Data Analisis. Data analisis mengenai usaha yang akan dibiayai harus lengkap dan diyakini kebenarannya. Untuk dapat diyakini kebenarannya perlu dilakukan beberapa pendekatan yakni dengan: 1. Melakukan penelitian secara langsung (kunjungan ketempat usaha)

2. Mencocokkan data yang satu dengan data-data yang lain, salah satu contohnya yakni alamat usaha dalam SIUP dicocokkan dengan SKDP (Surat Keterangan Domisili Perusahaan) apakah sudah sinkron. Bila berbeda mintakan keterangan kepada manajemen yang bersangkutan 3. Untuk laporan keuangan bisa dengan jalan meminta saran dari kantor akuntan Selanjutnya mengenai kelengkapannya ada beberapa data yang secara umum harus dimintakan kepada calon debitur yakni:
  

Legalitas Personal. Legalitas personal dari seluruh pengurus perseroan (Komisaris dan Direksi) berupa copy KTP, NPWP Legalitas Usaha berupa kelengkapan akta pendirian berikut dengan perubahan-perubahannya, izin-izin usaha Data Bisnis meliputi company profile, kontrak-kontrak yang telah berjalan, sedang maupun yang akan dikerjakan, rencana penggunaan kredit, strategi bisnis kedepan, daftar rekanan/langganan Data Keuangan terdiri dari rekening giro teraktif minimal 6 bulan terakhir, laporan keuangan (Neraca dan laporan Laba/rugi) minimal 2 tahun terakhir serta laporan keuangan tahun berjalan, cashflow projection untuk periode selama jangka waktu kredit yang dimintakan Data Jaminan yang menunjukkan jenis barang, satus kepemilikannya (Copy Sertifikat, IMB,PBB,Akta jual beli, Copy bukti pembayaran PBB dan blue print), jika bukan merupakan fix asset misalkan piutang maka mintakan daftar piutangnya yang akan dijaminkan

Bilamana kelngkapan data-data umum tersebut diatas telah lengkap maka analisis dapat diteruskan dengan penelaahan lebih dalam mengenai prospek usaha dan manajemen, kemampuan memenuhi kewajibannya dan kondisi keuangannya. Untuk taksasi jaminan selalu dipastikan bahwa nilai jaminan harus dapat mengcover kredit yang akan diberkan sesuai dengan corporate policy/SOP bank anda Semoga aslam.fh@gmail.com Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook bermanfaat

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM ANALISIS KREDIT
by Assalam Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa metode pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama ini yakni meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara jaminan, pendekatan kemampuan membayar kembali dan pendekatan kelayakan usaha.

Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari khususnya buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof. Dr.H. Veithzal Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct., M.B.A secara lengkap beberapa pendekatan yang dapat digunakan yakni Character Approach, Collateral Approach, Repayment Approach, Feasibility Approach, Agent Of Development Approach dan Relationship Approach. Berikut penjelasan lebih jauh mengenai beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh penulis selama ini didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih banyak penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon debitur didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada pihak bank, sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi selama ini didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin tertinggi Bank BUMN, selain faktor jaminan, penekanan utama yang penulis garis bawahi dan menjadi titik kritis adalah reputasi dari calon debitur tersebut. Masih berkaitan dengan masalah karakter bilamana suatu usaha yang dikelola oleh calon debitur cukup menguntungkan sedangkan sikap koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang (tidak terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja usaha yang dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan berbelit-belit maka serta merta hal ini menjadi faktor penguat bgi penulis didalam menolak pengajuan kreditnya. Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan khususnya fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan diberikan sesuai dengan SOP/Corporate Policy namun demikian tidaklah menutup kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun kemampuan membayar kembali dinilai jelas serta aman maka kekurangan daripada fix asset tersebut perlu dimintakan pesetujuan lebih lanjut kepada pejabat pemutus kredit Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya atas cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak ketiga (bowheer). Perlu dipastikan juga bahwasanya bila sumber pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga maka calon debitur harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang dari pihak pemberi kerja yang menyatakan bahwa tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan langsung kerekening calon debitur di Bank pemberi kredit atau masuk kedalam escrow account untuk langsung menurunkan outstandingnya Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan usaha disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya tersebut jelas dan layak untuk dijalankan serta dijamin pembayarannya kembali, semisal proyek-proyek dari pemerintah, proyek-proyek penyaluran kredit kerjasama dengan departemen-departemen pemerintahan( kredit program Depkeu dan Deptan)

Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

BEDAH NERACA &LABA RUGI USAHA JASA (ANALISA KREDIT)
Posted on Senin, 11 Oktober 2010 by Assalam Dalam kesempatan pertama ini kita membahas mengenai bedah keuangan sebagai salah satu aspek didalam evaluasi kredit calon debitur. Adapun untuk pembahasannya saat ini ditujukan pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Langsung kepada pokok permasalahan I. Neraca Neraca terdiri Pos Aktiva dan Pasiva. Untuk Aktiva terbagi menjadi Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap Aktiva lancar Aktiva lancar terdiri dari beberapa pos,pada umumnya yang menjadi titik utama analisis kredit yakni terhadap pos Piutang Usaha. Piutang Usaha perusahaan jasa terbagi menjadi piutang usaha untuk pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan serta piutang usaha untuk pekerjaan yang masih berjalan/belum selesai dikerjakan yang kesemuanya belum dibayarkan oleh pihak pemberi kerja (bowher). Untuk piutang usaha ini selain perlu di teliti jumlah dan nominalnya juga harus dicermati mengenai jangka waktu jatuh temponya pembayaran tagihan oleh pihak pemberi kerja. Mengenai pola-pola pembayaran tagihan biasanya dilakukan oleh pihak bowheer kepada pelaksana kerja setelah proyek selesai dikerjakan dan atau dipersyaratkan lain misalnya adanya pembayaran DP/Uang Muka sebesar prosentase tertentu dari nilai proyek, dan sisanya dibayarkan setelah proyek selesai dikerjakan Aktiva Tetap Untuk aktiva tetap pada neraca keuangan perusahaan jasa bisa terdiri dari Tanah dan Bangunan, Inventaris kantor serta Kendaraan. Perlu dipastikan bahwasanya untuk pos ini komposisinya harus lebih kecil dibandingkan pos Aktiva lancar Kewajiban Jk.Pendek dan Jk.Panjang Akun kewaiban Jk.Pendek dan Jk.Panjang merupakan sumber dana yang bisa berasal dari Hutang Usaha,Hutang Bank maupun Hutang Pemegang Saham. Untuk hutang usaha merupakan hutang kepada supplier (kredit)sedangkan untuk hutang Bank merupakan fasilitas hutang yang diberikan oleh pihak Bank /fasilitas kredit untuk membiayai Biaya supplier seperti pembelian material/biaya pengiriman/pengangkutan alat/ serta pembiayaan untuk operasional

proyek seperti: pengeluaran kantor, gaji karyawan,tenaga ahli, dan buruh lapangan selanjutnya untuk Hutang pemegang saham merupakan saldo hutang perusahaan pemegang saham yang peruntukannya bisa untuk membiayai operasional perusahaan dll Permodalan Akun permodalan terdiri dari pos Modal dan saldo laba II.Laporan Laba/Rugi Beberapa pos dalam laporan Laba/rugi Pos Pendapatan Pos ini mencerminkan penerimaan pembayaran atas proyek-proyek yang telah selesai dikerjakan dari pihak-poihak pemberi kerja Biaya Operasional/Admin dan Umum Untuk pos ini komponen umumnya namun tidak terbatas terdiri dari biaya peralatan, perdin, biaya angkut, biaya listrik dan air,telephone,Gaji karyawan,asuransi dll Demikian sedikit uraiannya,semoga bermanfaat Aslam Fetra H (0813-273-72770)

PENYEBAB KREDIT BERMASALAH series 2
Posted on Minggu, 20 Desember 2009 by Assalam Melanjutkan pembahasan pada series 1 mengenai penyebab kredit bermasalah, beberapa hal yang dapat diindikasikan untuk suatu kredit menjadi bermasalah yakni:

Kurangnya pengawasan terhadap kredit yang telah dicairkan. Kredit baru dikatakan terealisasi disaat fasilitas tersebut telah dicairkan dan keadaan mulai menjadi masalah ketika account officer lalai didalam memonitoring pemenuhan kewajiban kredit tiap akhir bulannya. Disamping itu kesalahan juga akan semakin runyam ketika fasilitas yang diberikan sudah hampir jatuh tempo namun pihak Bank lalai didalam memberitahukan kepada pihak nasabah apakah fasilitasnya akan diperpanjang atau mau dilunasi. Disini peran seorang account officer menjadi mutlak didalam memonitoring perkembangan dari account-accountnya, oleh karenanya sudah menjadi suatu keharusan pihak institusi memberikan pelatihan, pendidikan dan perhatian terhadap peningkatan kualitas dari account officer. Kurangnya monitoring dan informasi secara detail mengenai keadaan bisnis perusahaan yang dibiayai. Dalam hal ini kembali lagi ke pihak intern Bank. Pihak bank senantiasa harus meluangkan waktu

minimal 1 kali dalam tiap bulan untuk melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha debitur memantau perkembangan bisnisnya (on the spot monitoring) disamping monitoring dilakukan secara on the desk. Pantauan dilakukan meliputi kondisi usaha secara mendetail, kondisi keuangannya serta kemampuan membayarnya bilamana ada kejanggalan segera dikomunikasikan dengan pihak debitur. Demikian , semoga bermanfaat... Aslam Fetra Hasan Posted in Kredit Bermasalah | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERJANJIAN KREDIT
by Assalam Masih menurut pemaparan dalam penulisan hukum oleh Aslam Fetra H dengan judul ''Praktek Restrukturisasi Kredit Sebagai Upaya Penanganan Kredit Bermasalah Dengan Jaminan Fidusia di PT Bank Bukopin Cab.Yogyakarta'' Perjanjian kredit merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam pemberian kredit, menurut Sutarno dalam karyanya (Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank.hal 98) tanpa perjanjian kredit yang ditandatangani antara bank dan debitur maka tidak ada pemberian kredit. Perjanjian kredit yang merupakan media antara pihak yang mempunyai kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dan memerlukan dana dikuasai oleh ketentuan-ketentuan KUHPerdata Bab XIII karena perjanjian kredit mirip dengan perjanjian pinjam-meminjam uang menurut pasal 1754 KUHPerdata yang berbunyi ''pinjam-meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula'' Sedangkan masih menurut Sutarno dalam karyanya sebagaimana dimaksud pada awal paragraf bahwa perjanjian kredit merupakan ikatan antara bank dengan debitur dalam bentuk tertulis yang menentukan dan mengatur hak dan kewajiban kedua pihak sehubungan dengan pemberian atau pinjaman kredit Perjanjian kredit biasanya diikuti dengan perjanjian pengikatan jaminan, maka perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok dan perjanjian pengikatan jaminan sebagai perjanjian ikutan. Hapusnya

perjanjian kredit mengakibatkan hapusnya perjanjian ikutan namun sebaliknya, hapusnya perjanjian ikutan tidak mengakibatkan hapusnya jaminan pokok. Perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok mempunyai fungsi sebagai alat bukti bagi debitur dan kreditur yang mebuktikan adanya hutang debitur serta pengaturan hak-hak dan kewajiban para pihak. Masih menurut pemaparan Sutarno dalam karyanya sebagaimana disebut diawal paragraf bahwa fungsi lainnya perjanjian kredit yakni sebagai alat atau sarana pemantauan tentang tujuan dan penggunaan kredit dari usaha debitur yang dibiayai dengan kredit. Semoga Aslam Fetra H Posted in Aspek Hukum Perkreditan | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook bermanfaat.....

KREDIT
Posted on Sabtu, 19 Desember 2009 by Assalam Dalam kesempatan ini penulisan bersumber pada penulisan hukum yang berjudul "Praktek Restrukturisasi Kredit Sebagai Upaya Penanganan Kredit Bermasalah Dengan Jaminan Fidusia DI PT Bank Bukopin Cab Yogyakarta'' oleh Aslam Fetra H Pengertian Kredit: Kredit berasal dari bahasa Yunani, yakni credere yang berarti percaya atau dari bahasa latin creditum yang berarti kepercayaan akan kebenaran, dengan demikian adanya kepercayaan merupakan dasar dari kredit. Pihak yang memberi kredit percaya bahwa penerima kredit akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah disepakati bersama, baik menyangkut jangka waktunya, maupun prestasi dan kontra prestasinya. Pengertian kredit dalam praktek sehari-hari begitu beragam diantaranya, menurut pasal 1 angka 11 UU NO.10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan berbunyi sebagai berikut: "kredit ialah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga''

Dalam bukunya yang berjudul ''Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank'' hal 95-96 Sutarno berpendapat bahwa dari pngertian kredit menurut rumusan pasal diatas, maka elemen-elemen kredit adalah:

   

Kredit mempunyai arti khusus yakni meminjamkan uang dengan didasari keyakinan bahwa prestasi yang diberikannya akan benarbenar diterimanya kembali dimasa tertentu yang akan datang Penyedia /pemberi pinjaman uang khusus terjadi didunia perbankan Berdasakan perjanjian pinjam-meminjam yang diatur dalam pasal 1754 KUHPerdata sebagai acuan dari perjanjian kredit Pemberian prestasi dan kontra prestasi dibatasi oleh suatu masa atau waktu tertentu Adanya prestasi dari pihak peminjam untuk mengembalikan uang disertai dengan jumlah bunga atau imbalan pemaparan mengenai pengertian kredit, semoga bermanfaat

Demikian

Aslam Fetra H Posted in Aspek Hukum Perkreditan | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PENYEBAB KREDIT BERMASALAH series 1
Posted on Rabu, 16 Desember 2009 by Assalam Kredit Bermasalah adalah kredit yang kolektibilitasnya masuk dalam kategori dalam perhatian khusus, diragukan dan bermasalah. Kredit dengan kolektibilitas tersebut diatas bisa terjadi dikarenakan beberapa hal sebagai berikut: 1. Adanya konflik kepentingan. Dalam hal ini adanya suatu kepentingan dari pejabat pemutus kredit terhadap calon nasabah yang mengajukan kredit sehingga suatu permohonan kredit yang tidak layak dapat disetujui dengan harapan pejabat pemutus kredit tersebut memperoleh imbalan dari nasabah, disamping itu peran seorang analis kredit pun turut menentukan suatu usulan kredit/proposal kredit yang disusunnya sedemikian rupa data-data yang tidak layak dipresentasikan dengan cantik, diubah dan dibuat layak untuk disetujui. Dalam hal ini baik pihak pemutus, pengusul dan nasabah memiliki suatu kepentingan yang jelas menguntungkan diri pribadi, beritikad tidak baik serta merugikan Bank 2. Pelanggaran terhadap prinsip-prinsip pemberian kredit yang sehat. Dalam hal ini suatu usulan kredit disetujui/pencairan kredit dijalankan dengan adanya penyimpangan terhadap corporate policy/ syarat dan ketentuan yang termaktub dalam offering letter dari bank yang bersangkutan. Sebenarnya penyimpangan ini tidak menjadikan masalah sepanjang risiko-risiko yang melekat didalamnya dapat dimitigasi dengan baik.Mis: dalam hal pencairan suatu fasilitas kredit, ada satu dokumen yang belum dilengkapi

padahal didalam perjanjian kredit dan Offering letter dijelaskan secara gamblang bahwasanya untuk pencairan tidak boleh ada data yang kurang namun pencairan tetap dijalankan (data disusulkan) masalah akan menjadi timbul bilamana account officer tidak dengan tegas dan ulet untuk menagih data yang disusulkan tersebut, sehingga mempengaruhi kelengkapan dokumentasi dan kolektibilitasnya dalam point kelengkapan dokumen menjadi kurang 3. Kesalahan dalam setting fasilitas / side streaming. Kredit yang diberikan menjadi petaka tidak hanya bagi debitur tapi juga bagi bank pemberi kredit.Situasi ini menjadi masalah ketika seorang analis kredit memberikan usulan permohonan kredit dari pihak calon debitur melebihi kebutuhannya. Secara jujur kebutuhan kredit dari pihak calon debitur mis: Rp. 1 Milyar namun dikarenakan oleh beberapa hal perhitungan yang dilakukan oleh seorang analis menjadi lebih dari 1 milyar mis: 2 M, nah kelebihan dana 1 milyar yang dibutuhkan oleh debitur ini ternyata disyukuri oleh calon debitur dan tidak dipergunakan untuk hal-hal yang sifatnya produktif namun lebih ke konsumtif, ketika saatnya debitur harus membayar kewajibannya ternyata cashflownya tidak kuat akhirnya pembayaran menjadi seret, sama halnya juga dengan kebutuhan dana yang sifatnya jangka panjang di berikan fasilitas yang sifatnya jangka pendek, kekuatan dari cashflow debitur akan buyar dan tentu tidak akan sanggup untuk melunasi kewajibannya.. demikian dulu... semoga bermanfaat

Aslam Fetra H Posted in Kredit Bermasalah | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

KREDIT USAHA MIKRO,KECIL DAN MENENGAH
Posted on Selasa, 08 Desember 2009 by Assalam Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah kredit yang diberikan/disalurkan untuk usaha produktif dengan kategori usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah dengan sektor usaha baik dibidang Industri, perdagangan dan jasa. Informasi yang saya peroleh dari Galeri Info Bank Indonesia mengenai definisi Usaha Mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan WNI, secara individu atau tergabung dalam koperasi dan memilki hasil penjualan secara individu paling banyak Rp. 100 juta per tahun sedangkan menurut Tatiek Koerniawati dalam situsnya http://lecture.brawijaya.ac.id/tatiek/?p=374 usaha mikro adalah usaha produktif milik perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro yakni:
 

Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah)

Untuk pengajuan kreditnya, maksimal plafond yang dapat diberikan menurut Keputusan Menteri Keuangan No.40/KMK.06/2003 tanggal 23 Januari 2003 tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil yakni hanya Rp. 50 juta rupiah. Selanjutnya mengenai definisi Usaha Kecil menurut pemaparan dalam Gerai Info Bank Indonesia yakni kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200 Juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha 2. Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 1 Miliar per tahun 3. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau anak cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar 4. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi sebagaimana disebutkan pada UU No.9 tahun 1995 tentang usaha kecil Masih menurut informasi dalam sumber yang sama untuk Usaha Menengah yakni usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
   

Milik WNI,memiliki kekayaaan bersih lebih besar dari Rp. 200 juta sampai dnegan paling banyak sebesar Rp. 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan temapat usaha Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau Cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha besar Berbentuk usaha perorangan, badan usaha tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi sebagaimana dimaksud dalam Instruksi Presiden RI No.10 tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah

Jenis Kredit Untuk jenis kreditnya dibedakan menjadi 2 yakni Kredit Modal Kerja dengan self financing sebesar minimal 20% dari kebutuhan modal kerja dan Kredit Investasi dengan self financing minimal 30% dari kebutuhan investasi (pembiayaan investasi barang kerja/pengadaan barang kerja) Adapun beberapa persyaratan yang diperlukan untuk mengajukan kredit ini yakni 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menyerahkan surat permohonan Copy kartu keluarga, KTP dan Surat Nikah, NPWP (untuk UKM perorangan) Legalitas Tempat Usaha, SIUP, TDP,SKDP Surat keterangan penghasilan (tanda tangani oleh lurah setempat) Rek Tabungan/giro/ transaksi usaha Jaminan

Posted in KUKM | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

MITIGASI KREDIT KARYAWAN
Posted on Senin, 23 November 2009 by Assalam Kredit karyawan adalah kredit yang diberikan kepada karyawan untuk keperluan yang sifatnya konsumtif seperti: biaya sekolah anak, renovasi rumah, pembelian kendaraan, rekreasi dll dengan jaminan hanya berupa cessie gaji. Untuk persetujuan terhadap pengajuan suatu kredit karyawan ini / memitigasi risikonya beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan yakni sbb:
 

 

Permohonan kredit harus dilengkapi dengan MOU/PKS yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak Untuk menghindari risiko atas ketepatan pemenuhan kewajiban, penyaluran kredit seyogyanya diberikan hanya kepada karyawan dengan status karyawan tetap dan dibuktikan dengan SK pengangkatan Rasio angsuran kredit terhadap penghasilan / Debt Service Rasio (DSR) maksimal ditetapkan sesuai dengan kebijakan SOP Bank anda. Pastikan adanya surat rekomendasi karyawan dan Surat Kuasa Pemotongan Gaji oleh pejabat yang berwenang dari perusahaan karyawan yang mengajukan pinjaman Pastikan adanya penutupan Asuransi Jiwa Kredit dan PHK pada perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh Bank anda dengan Banker's Clause Bank Anda

Demikian beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian fasilitas kredit karyawan, semoga bermanfaat Aslam aslam.fh@gmail.com Fetra H

Posted in kredit konsumer | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Perhitungan KMK (Cash Convertion Cycle)
by Assalam Dalam kesempatan ini, kami uraikan mengenai perhitungan Kebutuhan Modal Kerja dengan menggunakan metode Cash Convertion Cycle. Dalam penerapan metode ini kita mendasarkan perhitungan pada beberapa pos dalam laporan keuangan tahun terakhir meliputi: Penjualan, HPP, Piutang Dagang, Persediaan serta Hutang Dagang, perputaran piutang dagang, perputaran persediaan dan perputaran Hutang Dagang. Berikut contoh gambaran lebih detailnya:

Penjualan HPP Piutang Persediaan Hutang

: : Dagang : Dagang

Rp. Rp. :Rp. Rp. : Rp.

35.776.100.500,28.198.306.232,22.385.429.659,2.648.506.820,7.036.043.759,-

Berdasarkan data diatas, berikutnya kita tentukan perputaran piutangnya (A/R DOH), perputaran persediaannya ( Inventory DOH) dan perputaran hutang dagang (A/P DOH) A/R DOH = (Piutang / Penjualan ) x 360 hari = 225 Hari Inventory DOH = (Persediaan / HPP) x 360 hari = 34 Hari Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang / HPP) x 360 hari = 90 hari Selanjutnya kita tentukan proyeksi penjualan kedepan, diasumsikan penjualan naik 5 % dan HPP adalah 78 % dari penjualan dan hutang Bank tidak ada maka: Penjualan kedepan : Rp 37.554.405.525,HPP : Rp. 29.292.436.310,Kebutuhan KMK A/R Financing = (Penjualan Kedepan / 360) x 225 hari = Rp. 23.504.701.142,Inv Financing = ( Hpp kedepan / 360 ) x 34 hari = Rp. 2.751.272.247,A/P Financing = (Hpp kedepan / 360) x 90 hari = Rp 7.309.051.189,Kebutuhan = Modal Kerja = (A/R Rp. Financing+ Inv Financing) - A/P 18.946.922.200,-

Modal kerja yang dapat diberikan oleh Bank Maksimal adalah (80% x Rp.18.946.922.200,-) = Rp. 15.157.537.760,Demikian, Aslam Asisten Hp: 0813-273-72770 2 Comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook semoga Fetra Manajer Corporate bermanfaat H Lending

Tips Kredit Dengan Jaminan Tagihan Piutang
Posted on Minggu, 22 November 2009 by Assalam Pemberian/persetujuan suatu fasilitas kredit dengan jaminan berupa tagihan piutang merupakan suatu pemberian/persetujuan kredit yang cukup berisiko, dikarenakan jaminannya tidak kasat mata dan pengikatannya pun hanya dengan menyerahkan daftar piutang dari debitur kepada end user-end usernya untuk dilakukan pengikatan secara notaris dengan fidusia, oleh karenanya diperlukan beberapa perhatian yang ketat untuk dapat meminimalisir risiko yang ada (wanprestasi) sehingga pemberian fasilitas kredit tersebut tepat guna dan bermanfaat. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memitigasi risiko suatu pemberian kredit dengan jaminan utama berupa tagihan: 1. Perlu dilakukan monitor dan pastikan debitur dapat melakukan pembayaran kewajiban kepada Bank Anda tiap bulannya tetap waktu serta lakukan kunjungan kelokasi usaha secara periodik 2. Pastikan penggunaan kredit sesuai dengan peruntukannya dan harus dilakukan perjanjian kredit dan pengikatan jaminan secara sempurna 3. Dapat juga dimintakan debitur untuk menyerahkan surat rekomendasi yang ditandatangani dan diberi cap oleh pihak yang berutang pada debitur dan memiliki tagihan yang masih berlaku/berjalan dan jangka waktu tagihan/pembayaran tidak melebihi jangka waktu sebagaimana yang ditetapkan dalam SOP Bank anda 4. Debitur juga dapat dimintakan untuk membuka escrow account/rekening penampungan dimana rekening ini difungsikan untuk menampung pembayaran tagihan oleh End-user debitur / bowheer dan langsung menurunkan baki debet pinjamannnya 5. Mintakan Standing Isntruction 6. Pencairan kredit maksimal 80 % dari tagihan (sesuai dengan SOP Bank anda) Demikian beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk pemberian/persetujuan fasilitas kredit dengan jaminan berupa tagihan. Semoga bermanfaat Aslam Asst. Manager aslam.fh@gmail.com Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Fetra Corporate H Lending

Kredit Sindikasi
Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam

Kredit sindikasi adalah pembiayaan yang diberikan oleh lebih dari satu bank (lebih dari 1 kreditur) kepada 1 (satu) debitur untuk proyek yang sama. Misalkan pembangunan sebuah pabrik ataupun refinancing piutang pembiayaan konsumen (model multifinance) , dimana di antara bank-bank anggota sindikasi tersebut dikoordinasikan oleh 1 (satu) bank sebagai koordintor, yang disebut dengan Lead Creditur atau Lead Arranger.

Untuk Model-model kredit sindikasi berikut penjelasannya sebagaimana yang diurai oleh Dr. Munir Fuady, S.H., M.H., LL.M dalam karyanya yang berjudul "Pengantar Hukum Bisnis" adalah sebagai berikut: 1. Model Direct Participation 2. Model Indirect Participation 3. Model Club Deal Model Direct Participation: Dengan model ini, semua kreditur yang tercakup dalam sindikasi berhubungan secara kontraktual dengan debitur. Dengan demikian, terhadap kontrak kredit meskipun hanya ada satu kontrak tetapi ditandantangani secara ramai-ramai oleh bank peserta sindikasi dengan debiturnya Model Indirect Participation Suatu sindikasi kredit dimana sungguhpun diantara kreditur ada sindikasi tertentu, tetapi ada diantara mereka yang berpartisipasi dengan cara tidak menajdi loan agreement (sehingga tidak menandatangani loan agreement), tetapi menjadi kreditur lewat kreditur lain. partisipasinya dalam kredit sindikasi dilakukan dengan cara -cara yuridis sbb:
    

Novasi Pengalihan Piutang Pengalihan pendapatan yang timbul dari kredit Partisipasi sebagian Partisipasi dengan jaminan

Model Club Deal Suatu model sindikasi yang mana selain kreditur yang memberi pinjaman uang secara kredit, terdapat juga kreditur yang memberikannya dengan cara pembiayaan (mis: leasing). Mereka bersama-sama bergabung dalam satu sindikasi dengan term dan conditions yang sama dengan kredit biasa Posted in Kredit Sindikasi | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERSIAPAN ANALISIS KREDIT
by Assalam Dalam kesempatan ini, kita mengupas persiapan-persiapan apa yang seyogyanya harus dilakukan sebelum analisis kredit diteruskan lebih

jauh. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni mengenai Data Analisis. Data analisis mengenai usaha yang akan dibiayai harus lengkap dan diyakini kebenarannya. Untuk dapat diyakini kebenarannya perlu dilakukan beberapa pendekatan yakni dengan: 1. Melakukan penelitian secara langsung (kunjungan ketempat usaha) 2. Mencocokkan data yang satu dengan data-data yang lain, salah satu contohnya yakni alamat usaha dalam SIUP dicocokkan dengan SKDP (Surat Keterangan Domisili Perusahaan) apakah sudah sinkron. Bila berbeda mintakan keterangan kepada manajemen yang bersangkutan 3. Untuk laporan keuangan bisa dengan jalan meminta saran dari kantor akuntan Selanjutnya mengenai kelengkapannya ada beberapa data yang secara umum harus dimintakan kepada calon debitur yakni:
  

Legalitas Personal. Legalitas personal dari seluruh pengurus perseroan (Komisaris dan Direksi) berupa copy KTP, NPWP Legalitas Usaha berupa kelengkapan akta pendirian berikut dengan perubahan-perubahannya, izin-izin usaha Data Bisnis meliputi company profile, kontrak-kontrak yang telah berjalan, sedang maupun yang akan dikerjakan, rencana penggunaan kredit, strategi bisnis kedepan, daftar rekanan/langganan Data Keuangan terdiri dari rekening giro teraktif minimal 6 bulan terakhir, laporan keuangan (Neraca dan laporan Laba/rugi) minimal 2 tahun terakhir serta laporan keuangan tahun berjalan, cashflow projection untuk periode selama jangka waktu kredit yang dimintakan Data Jaminan yang menunjukkan jenis barang, satus kepemilikannya (Copy Sertifikat, IMB,PBB,Akta jual beli, Copy bukti pembayaran PBB dan blue print), jika bukan merupakan fix asset misalkan piutang maka mintakan daftar piutangnya yang akan dijaminkan

Bilamana kelngkapan data-data umum tersebut diatas telah lengkap maka analisis dapat diteruskan dengan penelaahan lebih dalam mengenai prospek usaha dan manajemen, kemampuan memenuhi kewajibannya dan kondisi keuangannya. Untuk taksasi jaminan selalu dipastikan bahwa nilai jaminan harus dapat mengcover kredit yang akan diberkan sesuai dengan corporate policy/SOP bank anda Semoga aslam.fh@gmail.com Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook bermanfaat

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM ANALISIS KREDIT
by Assalam

Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa metode pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama ini yakni meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara jaminan, pendekatan kemampuan membayar kembali dan pendekatan kelayakan usaha. Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari khususnya buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof. Dr.H. Veithzal Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct., M.B.A secara lengkap beberapa pendekatan yang dapat digunakan yakni Character Approach, Collateral Approach, Repayment Approach, Feasibility Approach, Agent Of Development Approach dan Relationship Approach. Berikut penjelasan lebih jauh mengenai beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh penulis selama ini didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih banyak penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon debitur didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada pihak bank, sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi selama ini didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin tertinggi Bank BUMN, selain faktor jaminan, penekanan utama yang penulis garis bawahi dan menjadi titik kritis adalah reputasi dari calon debitur tersebut. Masih berkaitan dengan masalah karakter bilamana suatu usaha yang dikelola oleh calon debitur cukup menguntungkan sedangkan sikap koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang (tidak terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja usaha yang dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan berbelit-belit maka serta merta hal ini menjadi faktor penguat bgi penulis didalam menolak pengajuan kreditnya. Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan khususnya fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan diberikan sesuai dengan SOP/Corporate Policy namun demikian tidaklah menutup kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun kemampuan membayar kembali dinilai jelas serta aman maka kekurangan daripada fix asset tersebut perlu dimintakan pesetujuan lebih lanjut kepada pejabat pemutus kredit Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya atas cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak ketiga (bowheer). Perlu dipastikan juga bahwasanya bila sumber pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga maka calon debitur harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang dari pihak pemberi kerja yang menyatakan bahwa tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan langsung kerekening calon debitur di Bank pemberi kredit atau masuk kedalam escrow account untuk langsung menurunkan outstandingnya Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan usaha disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya tersebut jelas dan layak untuk dijalankan serta dijamin pembayarannya kembali,

semisal proyek-proyek dari pemerintah, proyek-proyek penyaluran kredit kerjasama dengan departemen-departemen pemerintahan( kredit program Depkeu dan Deptan) Posted in Analisis Kredit | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Teknik Analisa Kredit Bisnis Multifinance
Posted on Rabu, 04 November 2009 by Assalam Multifinance adalah salah satu lembaga keuangan bukan bank dimana bisnisnya terbagi menjadi sewa guna usaha(leasing), anjak piutang, pembiayaan konsumen, kartu kredit, maupun KPR. Untuk analisa kreditnya ada beberapa tahapan yang dapat dijadikan dasar/pegangan bagi analis kredit didalam menilai kelayakannya yakni: 1. Tujuan dan Permasalahan. Didalam usulan kredit yang diajukan oleh seorang analis kredit perlu diterangkan didalamnya mengenai tujuan multifinance tersebut mengajukan permohonan kredit.Umumnya pengajuan kredit berkaitan dengan semakin banyaknya permintaan untuk pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor (khusus multifinance dengan fokus bidang usaha pembiayaan konsumen kendaraan bermotor) dari pihak end user, masih besarnya opportunity untuk dapat mengembangkan usaha serta keterbatasan pendanaan yang tersedia. 2. Latar Belakang Perusahaan. Penilaian terhadap latar belakang perusahaan ini dilakukan dengan menjabarkan secara rinci riwayat perseroan dan legalitasnya, susunan pemegang saham serta hasil analisa yuridis dari bagian legal, latar belakang pengurus, struktur organisasi, dan latar belakang pemegang saham 3. Aktivitas Usaha, untuk penilaian terhadap aktivitas usaha ditekankan penilaiannya terhadap kegiatan pemasaran yang dilakukan selama ini (strategi marketing), jabarkan mengenai kegiatan operasionalnya mulai dari proses aplikasi, proses survey, persetujuan kreditnya hingga pencairan. Selanjutnya paparkan mengenai proses collectingnya 4. Portfolio Pembiayaan dan Penjualan, analisa dilakukan dengan menilai perkembangan portfolionya, pencapaian sales, portfolio by jenis kendaraan (bagi multifinance yg fokus diusaha pembiayaan konsumen kendaraan bermotor), pencapaian sales by kondisi kendaraan, jaringan pelayanan dan kualitas piutangnya 5. Hubungan Bank dan Trade Checking 6. Analisa Rekening dan Laporan Keuangan, penilaian/analisa rekening dilakukan dengan menganalisa dari berapa total rata-rata transaksi mutasi kreditnya perbulan dan jenis transaksi nya, berapa total rata-rata transaksi mutasi debetnya dan apa jenis transaksinya, sedangkan untuk laporan keuangan analisa dapat idlakukan dengan menggunakan teknik analisa secara horizontal maupun vertikal, analisa per pos, dan analisa rasio 7. Analisa Kebutuhan Kredit, untuk analisa kebutuhan kredit ini perhitungannya didasarkan pada Gearing Ratio dan kemampuan penyaluran 8. Jaminan Kredit Demikian, Aslam semoga Fetra bermanfaat.. H

aslam.fh@gmail.com 0813-273-72770 Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Aspek Teknis
Posted on Selasa, 03 November 2009 by Assalam Melanjutkan pembahasan dan penilaian suatu proposal kredit modal kerja terhadap aspek teknis dan produksi, penilaian umumnya dilakukan terhadap:
 

 

Produk yang dihasilkan. Lokasi Penilaian terhadap lokasi meliputi penilaian terhadap dekat tidaknya dengan sumber bahan baku,sarana transportasi untuk mendisribusikan barang-barang hasil produksi, dan ketersediaan tenaga kerja Proses pembuatan produk atau proses penyediaan jasa. Dalam hal proses pembuatan produk, analisa ditekankan pada pemlihan mesin dan peralatan yang digunakan. Kapasitas Produksi,termasuk mengenai kuantitas dan kontinuitas bahan baku, jenis dan kualitas bahan baku serta Fasilitas/sarana dan prasarana Produksi

Berikut salah satu contoh gambaran penilaian aspek teknis terhadap usaha perdagangan:

  

Lokasi Usaha,yang dilihat adalah mengenai berapa luas tanahnya, bangunan, status kepemilikannya serta interior didalamnya apakah rapi atau semrawut(tidak mencerminkan tempat usaha) Sarana dan prasarana yang ada meliputi peralatan kerja/peralatan kantor yang tersedia Sarana transportasi (perlu dikaitkan dengan kegiatan usahanya) Ketersediaan barang dagangan dan kontinuitasnya

Kesemua point tersebut diatas dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi analis kredit untuk menentukan layak tidaknya aspek teknis terhadap usaha calon debitur dibidang perdagangan
Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pengenalan Kredit Modal Kerja
Posted on Minggu, 01 November 2009 by Assalam

Kredit modal kerja (KMK)adalah kredit untuk membiayai modal kerja perusahaan dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan. Pembiayaan terhadap aktiva lancar ini dapat diberikan untuk membiayai piutang, maupun persediaan dengan jangka waktu kredit maksimal 1 tahun dan dapat diperpanjang selain itu sifat penggunaannya pun dapat berupa revolving seperti halnya penggunaan kartu kredit maupun non revolving seperti halnya pemberian fasilitas untuk multifinance. Untuk jenisnya dapat berupa: 1. Pembiayaan Tagihan, dalam hal ini kredit modal kerja yang diberikan digunakan untuk membiayai tagihan yang belum jatuh tempo karena penjualan secara kredit maupun belum dibayarkannya hasil pekerjaan oleh pemberi kerja. Untuk pemberian kredit modal kerja pembiayaan tagihan ini jaminannya pun dapat berupa tagihan dan atau fix asset. Dalam hal jaminannya berupa tagihan yang dibiayai maka dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian perlu dipastikan dan dilakukan verivikasi terhadap seluruh tagihan yang dijadikan jaminan serta pihak yang dibiayai harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang tersebut. 2. Pembiayaan persediaan, dalam hal ini kredit yang diberikan digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang persediaan Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Aspek Manajemen
by Assalam

Penilaian terhadap aspek manajemen difokuskan terhadap pembahasan mengenai:
1. Kapabilitas SDM (Direksi, Manager, dan Karyawan) yang capable dengan struktur organisasi yang memadai serta ada tidaknya pemisahan job function antara pelaksana dan kontrol terutama dalam hal pengendalian biaya dengan jelas. Kegiatan untuk mengetahui hal2 tersebut dapat dilakukan dengan wawancara kepada pihak Key Person, wawancara sampling dengan buruh dan melihat hasil kinerja produksi yang ada. 2. Sistem Aministrasi, informasi dan tranparansi usaha yang dikelola. 3. Trade Checking kepada rekanan calon debitur 4. Penilaian hubungan terhadap Bank lain, dalam hal ini diperlukan adanya kelengkapan identitas seluruh pengurus perseroan baik direksi maupun komisaris. Kelengkapan identitas ini dimaksudkan untuk dilakukan BI Checking, apakah para pengurus perseroan tersebut pernah/sedang mendapat fasilitas kredit dan bagaimana mengenai track recordnya selama ini.

Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Yuridis (KMK)
by Assalam Penilaian terhadap legalitas pendirian usaha ini tujuannya adalah untuk mengetahui apakah pendirian usaha yang dijalankan oleh calon debitur sudah sah dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pihak manajemen/subyek hukum cakap hukum dan bertindak sesuai dengan kewenangannya didalam mewakili perusahaan 1. Subyek Hukum Subyek hukum dapat berupa perorangan maupun juga badan hukum. Untuk perorangan yang patut dipastikan harus memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam KUHPerdata yakni: · Dewasa dan atau telah menikah · Tidak dibawah pengampuan Sedangkan untuk badan hukum harus dipastikan adanya pengesahan sebagai badan hukum dari Menteri Kehakiman, berikut juga akta-akta sejak pendiriannya dan perubahannya baik perubahan karena pemilikan, perubahan pengurus, permodalan, jenis usaha dan lain 2. Dokumen Kelengkapan Legalitas Perusahaan Analisa terhadap dokumen kelengkapan legalitas perusahaan disini meliputi analisa terhadap Akta Pendirian dan perubahan terakhirnya (untuk mengetahui kewenangan pihak-pihak yang berwenang bertindak untuk dan atas nama perseroan) tidak jauh berbeda dengan penilaian terhadap subyek hukum serta penilaian Legalitas usahanya SIUP,TDP,NPWP, Ijin Usaha, Keanggotaan Asosiasi, SK Menkeh dan kelengkapan dokumen lehgalitas lainnya telah lengkap, sesuai dengan aslinya dan kegiatan usaha yang dijalankan serta tidak habis masa berlakunya. 3. Agunan dan Pengikatannya Analisa terhadap agunan dalam hal ini pastikan bahwasanya agunan: . Dapat diidentifikasi · Tidak sedang dijaminkan pada pihak lain · Bebas sengketa · Marketable, dapat ditentukan nilainya dan · Tidak mudah rusak serta · Memenuhi coverage Ratio yang ditetapkan Sedangkan untuk pengikatannya mengacu pada ketentuan sebagaimana diatur didalam peraturan perundang-undangan: · Benda tidak bergerak diikat dengan Hak Tanggungan · Benda Bergerak diikat dengan Gadai atau Fidusia · Untuk Jaminan Kebendaan yang In-Materiil diikat dengan Gadai atau Fidusia · Jaminan Penanggung Hutang yakni dengan Borgtocht Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Konsumer
by Assalam USIA Pentingnya penilaian terhadap usia/ umur didalam analisa kredit konsumer ini berkaitan dengan calon debitur yang berprofesi sebagai karyawan. Semakin mendekati usia pensiun berarti semakin besar risikonya, demikian pula sebaliknya, semakin muda semakin berpotensi untuk dapat menyelesaikan kreditnya sesuai dengan jangka waktu yang disepakati. Oleh karenanya batasan umur yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh penulis didalam memberikan suatu point yang positif terhadap aspek ini yakni rentang umur 25 s/d 50 tahun. Sedangkan bagi calon debitur yang berprofesi sebagai profesional maupun sebagai wiraswasta, penulis membatasi untuk usia 21 tahun s/d 60 tahun. Perrtimbangan mengenai batasan usia ini tidak ada patokannya, kesemuanya tergantung kebijakan masing-masing Bank maupun juga judgement dari masing-masing analis RIWAYAT PEKERJAAN Penilaian terhadap riwayat pekerjaan ini berkaitan dengan lamanya calon debitur bekerja dibidangnya serta jabatan yang diembannya. Untuk calon debitur dengan status karyawan, pastikan bahwa status karyawan tersebut adalah karyawan tetap dengan masa kerja minimal adalah 2 tahun atau bila masa kerjanya kurang dari 2 tahun dan sebelumnya pernah bekerja minimal 2 tahun diperusahaan yang lama maka perlu dilampirkan juga didalam form aplikasi permohonan kredit yakni Surat Keterangan Bekerja dari perusahaan sebelumnya tersebut selanjutnya berkaitan dengan jabatan yang diembannya. semakin tinggi jabatannya semakin besar kemungkinan untuk tidak wanprestasi. Sedangkan untuk calon debitur yang berprofesi sebagai profesional maupun wiraswasta pastikan bahwa calon debitur tersebut telah bekerja dibidangnya secara terus menerus minimal selama 2 tahun dan dapat menghasilkan laba. RATA-RATA SALDO MENGENDAP Penilaian terhadap rata –rata saldo mengendap ini untuk dijadikan sebagai dasar didalam menilai kemampuan keuangan calon debitur didalam mengangsur kewajibannya. Penilaian dapat dilakukan dengan menganalisa mutasi kredit, mutasi debet, frekuensi maupun rata-rata saldo mengendapnya tiap bulan. Selalu dipastikan bahwa rata-rata saldo mengendapnya mampu mencover kewajiban angsuran baik pokok maupun bunga. Yang dianalisa minimal adalah rekening tabungan dan atau rekening koran minimal 3 bulan terakhir. Untuk lebih konservatifnya penulis selalu meminta rekening calon debitur minimal 6 bulan terakhir.

Untuk calon debitur dengan status karyawan, pastikan bahwa penghasilan/ gaji yang diterima tercermin didalam rekeningnya bilamana ada penghasilan tambahan pastikan juga bahwa tercermin didalam rekening yang bersangkutan meskipun besarnya fluktutatif sedangkan untuk profesioanl dan wiraswasta pastikan juga bahwa mutasi rekeningnya jelas dari mana saja sumbernya. DEBT SERVICE COVERAGE Analisis debt service rasio ini untuk mengukur batas toleransi seluruh kewajibannya terhadap pendapatan. Untuk konsep DSC ini kebijakannya diserahkan pada masing-masing Bank. Umumnya untuk calon debitur dengan latar belakang pekerjaan seorang karyawan DSC nya adalah 40 % (maksudnya disini adalah bahwa seluruh kewajiban-kewajibannya calon debitur ditambah dengan besarnya angsuran yang diajukannya adalah tidak melebihi 40 % dari Take Home Pay) sehingga yang 60 % sisanya masih bisa digunakan untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari. Sedangkan untuk profesioanl ataupun wiraswasta DSC nya adalah 60 % COLLATERAL (JAMINAN) Penilaian terhadap jaminan tergantung daripada jenis kredit konsumer yang diajukan oleh calon debitur. Untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kepemilikan Mobil (KMB) ataupun juga Kredit Multiguna (KMG) jaminan dapat berupa cash collateral dan atau tanah serta bangunannnya atau kendaraan. Selalu pastikan bahwa seluruh dokumen legalitas jaminan lengkap serta pengikatannya sempurna serta diasuransikan dengan Banker’s Clause bank pemberi kredit untuk mengcover risiko-risiko yang tidak diharapkan. Sedangkan untuk kredit karyawan jaminan berupa cessie gaji. serta diperlukan adanya standing instruction/ surat kuasa [pemotongan gaji] Aslam Fetra H aslam.fh@gmail.com 0813-273-72770 Posted in kredit konsumer | 2 Comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Jenis Kredit Konsumer
by Assalam KREDIT KENDARAN BERMOTOR Kredit kendaraan bermotor adalah fasilitas kredit kepada individu yang dananya digunakan untuk membeli kendaraan bermotor baik kendaraan roda empat (Mobil) dan atau kendaraan roda dua (Motor)

yang akan digunakan sebagai kendaraan pribadi. Untuk setting fasilitas kreditnya disesuaikan dengan masing-masing Bank. Umumnya pemberian fasilitas KKB ini diberikan dalam bentuk Pinjaman Tetap Angsuran (PTA) dimana nasabah tiap bulannya memiliki kewajiban untuk membayar pokok hutang berikut bunganya dan untuk penentuan besaran minimal dan maksimal plafond, uang muka, jangka waktu, provisi, biaya admin, asuransi, notaris dan suku bunga juga disesuaikan dengan SOP dari masingmasing Bank. KREDIT PEMILIKAN RUMAH Kredit kepemilikan Rumah merupakan fasilitas kredit yang diberikan kepada individu yang dananya digunakan untuk membiayai kepemilikan tanah, tanah dan bangunan, ruko, apartemen, rukan dengan kondisi baru maupun bekas serta untuk renovasi dan bukan digunakan untuk membiayai kepemilikan villa maupun tempat peristirahatan lainnya. Mengenai petunjuk dan pelaksanaan pemberian fasilitas KPR ini disesuaikan dengan kebijakan/SOP dari masing-masing bank pemberi kredit. Umumnya pemberian fasilitas KPR untuk dokumen legalitas jaminannya yang berupa tanah dan bangunan selalu dipastikan bahwa jaminannya tersebut bebas dari sengketa dan sertifikatnya telah dipecah, apabila belum dipecah maka pemecahannya harus dilakukan dengan notaris rekanan dari bank pemberi kredit KREDIT MULTIGUNA Kredit multiguna adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada individu untuk membiayai berbagai macam keperluan yang sifatnya konsumtif seperti biaya pendidikan, biaya pengobatan, biaya pelunasan kartu kredit, menikah, berlibur dan kebutuhan konsumtif lainnya dengan jaminan berupa fix asset dan atau cash collateral. Untuk kelengkapan data-data yang diperlukan tidak berbeda, sama halnya dengan produk kredit konsumer lainnya, hanya yang membedakan disini adalah kelengkapan dokumen yang akan dijadikan jaminan Posted in kredit konsumer | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisis Agunan
by Assalam Persoalan Agunan memang sudah menjadi persoalan klasik yang menjadi hambatan bagi pihak pelaku mikro didalam memperoleh akses permodalan ke Bank namun demikian penilaian terhadap agunan hanya merupakan salah satu faktor yang dijadikan pertimbangan didalam memutuskan suatu kredit, yang paling utama ditekankan bagi seorang analis yakni kejelasan proyek/kegiatan usaha yang dibiayai (sebagai jaminan utama) serta sumber pembayaran kembali dari pinjaman yang diberikan. Bila calon debitur dapat menyediakan jaminan, maka perlu dilakukan penilaian atas agunan dan ketentuan mengenai agunan tergantung dari

policy masing-masing bank, Umumnya untuk pengajuan kredit modal kerja, besarnya agunan minimal 120% dari pinjaman yang diajukan. Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisis Aspek Keuangan
by Assalam Analisis terhadap faktor keuangan didalam sektor mikro ini memang cukup merepotkan dikarenakan sebagian besar dari pelaku pasar tidak mempunyai catatan yang tersusun secara rapi dan terstruktur. Oleh karenanya seorang analis diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan masukan, solusi kepada calon debitur didalam penyusunan sebuah cashflow secara sederhana yang didasarkan dari bon-bon hasil transaksi perhari atau per minggu/ per bulan dengan tujuan untuk menentukan kemampuan pembayaran kembali pinjaman yang diberikan baik pokok maupun bunganya. Untuk menilai kelayakan lebih detailnya pastikan bahwa pendapatan usahanya setelah dikurangi dengan biaya-biaya operasional dan biaya hidup hasilnya masih dapat digunakan untuk mengangsur pinjaman bank. Maksimal 60 % dari pendapatannya diperkenankan untuk mengangsur pinjaman dan selebihnya yang 40 % untuk biaya hidup. Ketentuan besarnya prosentase ini tergantung daripada kebijakan masing-masing Bank. Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Aspek Pemasaran
by Assalam Penilaian terhadap aspek pemasaran ini, difokuskan pembahasannya terhadap pengelolaan produk, penetapan harganya serta promosinya oleh perusahaan calon debitur: 1. Produk / Jasa Perlu diteliti apakah produk atau jasa yang diusahakan oleh calon debitur masih luas pangsa pasarnya dan apakah keseluruhan paket produk/jasa yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan dari konsumen. 2. Penetapan Harga Kebijakan penetapan harga selalu didasari oleh tujuan penetapan harga. Cari tahu hal yang mendasari calon debitur didalam tujuannya menetapkan harga terhadap produk/jasa yang dihasilkannya. Apakah tujuannya untuk memaksimalkan laba, mempromosikan produknya ataupun sekedar untuk mempertahankan bagian pasarnya. Dengan mengetahui secara jelas tujuan dari calon debitur didalam menetapkan harga terhadap produk/jasa yang diusakannya, kita sebagai analis kredit dapat menggambarkan secara lebih obyektif kelayakan dari harga yang ditetapkan oleh calon debitur.

3. Promosi. Cari tahu mengenai alat promosi yang dijalankan oleh calon debitur didalam mengkomunikasikan produk/jasa yang diusahakannya. Cari tahu juga apakah alat promosi yang dijalankannya selama ini cukup efektif dan efisen terutama dalam hal biaya? Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Jenis Usaha
by Assalam

Penilaian jenis usaha daripada calon debitur penekanannya adalah untuk menilai, mengetahui jenis-jenis risiko yang melekat pada usaha calon debitur yang bersangkutan serta upaya-upaya yang diperlukan untuk memitigasi risiko tersebut. Setiap risiko dari jenis-jenis usaha tersebut harus dianalisa dan diatasi, semakin banyak risiko yang mungkin timbul semakin banyak yang harus dianalisa serta diupayakan cara-caranya untuk meminimalisir risiko tersebut. Misal untuk jenis usaha yang bergerak disektor jasa:

Salon, risiko-risiko yang mungkin timbul berkaitan dengan pembiayaan terhadap jenis usaha ini adalah masalah Lokasi. Apakah lokasinya berada didalam sebuah Mall, dipinggir jalan atau dikomplek pertokoan, bagaimana akses menuju salon. Kemungkinan risiko selanjutnya adalah soal Sumber Daya Manusianya (SDM), perlu diketahui secara mendalam bagaimana ketrampilan SDM-SDM yang bekerja disalon tersebut, tentunya perlu dilakukan interview dan kunjungan langsung ke salon tersebut. Kemungkinan risiko selanjutnya yakni soal Service Quality, bagaimana pelayanan yang ada selama pelanggan berada di salon tersebut dan kemungkinankemungkinan risiko lainnya yang mempengaruhi prospek usaha salon tersebut kedepannya dan mutlak harus dianalisa serta diupayakan mitigasinya. Bengkel Mobil, risiko-risiko yng mungkin timbul berkaitan dengan usaha bengkel mobil ini yakni persoalan lokasi, ketersedian dan ketrampilan SDM yang bekerja di bengkel tersebut serta risiko ketersediaan peralatan bengkel, service quality dan kemungkinan-kemungkinan risiko lainnya yang perlu dianalisa serta dimitigasi

Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Aspek Teknis (Kredit Mikro)
Posted on Sabtu, 31 Oktober 2009 by Assalam Penilaian risiko terhadap aspek teknis ini meliputi analisa terhadap tempat usaha yang bersangkutan, produktivitasnya serta kualitas daripada produk/jasa yang dihasilkannya

1. Tempat Usaha Penilaian terhadap tempat usaha calon debitur tergantung daripada jenis usahanya, apakah bergerak di bidang industri, jasa ataupun perdagangan. Untuk sektor Industri misalnya pastikan bahwa tempat/lokasi usaha calon debitur ini dekat dengan sumber bahan baku, semakin dekat semakin baik

karena hal ini menyangkut besaran biaya transportasi serta pastikan juga legalitas dari tempat/lokasi usaha tersebut apakah statusnya sewa atau milik sendiri dan sudah ada ijin HO atau belum. Demikian pula halnya untuk sektor jasa maupun perdagangan. Pastikan bahwa tempat usaha dekat dengan keramaian , padat dengan lalu lintas kendaraan dan tersedianya parkir yang memadai. Asumsinya semakin ramai dan padat semakin besar kemungkinan pengunjung untuk datang bertransaksi sehingga omzet penjualan meningkat dari hari keharinya.

2. Produktivitasnya Penilaian produktivitas ini juga tergantung dari pada bidang usaha yang dijalankan oleh calon debitur. Untuk bidang usaha yang bergerak disektor industri pahami proses produksi dari pada produk yang dihasilkan, bahas juga mengenai peralatan-peralatan yang digunakan, apakah peralatan yang tersedia cukup lengkap serta kondisinya baik atau perlu perbaikan. Kesemuanya dibahas secara mendetail

3. Kualitas Produksinya Penilaian terhadap kualitas produksi perlu diperbandingkan dengan hasil produksi dari kompetitor. Kualitas dari pada hasil produksi ini tergantung juga dari peralatan-peralatan serta ketrampilan dari tenaga kerjanya. Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Aspek Karakter (Kredit Mikro)
by Assalam Dalam praktek selama ini,ada berbagai macam indikator-indikator yang dapat dijadikan patokan oleh analis kredit maupun juga oleh pihak pemutus kredit didalam menilai kelayakan suatu usulan kredit berdasarkan aspek karakter yakni: 1.Umur/Usia Tujuan analisa berkaitan dengan soal umur disini adalah menyangkut risiko Fikiran dan Fisik. Semakin tua semakin tinggi risikonya dikarenakan faktor kesehatan dan stamina hidup, demikian pula halnya bila terlalu muda semakin kurang juga nilainya dikarenakan faktor pengalaman dan kedewasaaan. Meskipun penilaian tersebut tidak mutlak, namun hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan didalam memutuskan usulan kredit. Data mengenai umur tersebut dapat kita ketahui melalui Isian form dan juga interview 2.Riwayat Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi nilainya, pendidikan disini tidak hanya sebatas pendidikan formal tapi juga meliputi pendidikan non formal. Penilaian terhadap pendidikan ini juga tidak mutlak karena tidak jarang banyak para entrepreneur sukses yang latar belakang pendidikannya hanya SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat) 3.Pengalaman Semakin lama dan banyak pengalaman yang oleh pemilik, key person ataupun pegawai didalam menjalankan usahanya semakin kecil risiko yang dihadapi, tentunya informasi ini cukup membantu bagi analis kredit didalam menyampaikan usulan kreditnya kepada pejabat pemutus kredit. Informasi ini dapat digali melalui wawancara secara langsung maupun juga dari beberapa track record usaha yang dijalankan minimal 2 tahun terakhir Dan beberapa indikator penilaian lainnya baik ketekunan, ke kreativitasan, ketegasan maupun kejujurannya yang kesemuanya dapat diperoleh melalui interview secara langsung serta mencocokkan apa yang diungkapkan dengan realitanya. Posted in Kredit Mikro | Leave a comment Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Beli Rumah Dengan KPR
Posted on Jumat, 30 Oktober 2009 by Assalam Dalam menjatuhkan pilihan untuk membeli rumah secara KPR, beberapa hal yang harus diperhatikan yakni mengenai: Dokumen dan Biaya: Didalam mengajukan KPR ada beberapa dokumen yang perlu dilengkapi oleh calon debitur dalam rangka penilaian kelayakan pemberian kreditnya. Tanpa dokumen yang lengkap jangan harap calon debitur dapat dengan cepat mendapat hasil mengenai pengajuan kreditnya. Adapun beberapa kelengkapan dokumen yang harus disampaikan yakni: Legalitas Pribadi, yang terdiri dari Kelengkapan pengisian formulir pengajuan KPR, Ftcp KTP,NPWP KK, Surat Nikah dll Dokumen Penghasilan yang terdiri dari Slip gaji (minim 3 bulan terakhir) atau surat keterangan kerja yang memuat didalamnya mengenai penghasilan, rekening tabungan yang mencerminkan besaran gaji yang diterima, rekening giro

Legalitas Jaminan yang terdiri dari Sertifikat, IMB, PBB beserta bukti pembayarannya tahun terakhir, AJB dan blue print Adapun biaya-biaya yang dikenakan sehubungan dengan adanya pengajuan KPR ini terdiri dari biaya provisi, administrasi, biaya notaris, pajak, asuransi jiwa maupun asuransi kerugian yang besaran kesemuanya tergantung dari pada masing-masing Bank dimana calon debitur mengajukan KPR Patut dicermati oleh calon debitur bahwasanya kelengkapan data-data yang diperlukan didalam mengajukan KPR kesemuanya harus lengkap, bersikap kooperatif dan terbuka khususnya mengenai kondisi keuangan anda saat ini didalam mengajukan KPR dalam rangka memudahkan pihak perbankan mensetting fasilitas KPR yang cocok serta tidak memberatkan cashflow anda dikemudian hari. Aslam Fetra H

Rekening Koran
Posted on November 16, 2007 by Achun

80 Votes

Rekening koran adalah laporan yang diberikan Bank setiap bulan kepada pemegang rekening Giro yang berisikan informasi tentang transaksi yang dilakukan oleh bank terhadap rekening tersebut selama satu bulan dansaldo Kas di Bank. Laporan ini sering dijadikan tumbal oleh akuntan untuk melindung keterlambatan mereka dalam menyusun laporan keuangan dan kita tahu laporan rekening koran dapat diterima diatas tanggal 15 setiap bulannya. Apapun alasannya laporan keuangan suatu perusahaan adalah berdasarkan catatan yang dilakukan oleh perusahaan. Dan adanya perbedaan antara catatan yang dilakukan perusahaan dengan yang dilaporkan bank adalah masalah lain.

Dari sudut pandangan Bank setiap rekening adalah “hutang” karena itu setiap tambahan atas suatu rekening dicatat disisi kredit. Menurut sudut pandang perusahaan pemegang rekening, rekening bank adalah aktiva dan setiap tambahan atas rekening bank oleh perusahaan dicatat di sisi debet dengan demikian jumlah sisi kredit yang dicatat oleh bank akan sama dengan jumlah sisi debet yang dicatat oleh pemegang giro. Pada rekening Kredit Modal Kerja adalah sebaliknya. Rekonsiliasi Bank Adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan hal-hal yang menimbulkan perbedaan Saldo yang tampak pada laporan perusahaan dengan laporan bank. Rekonsiliasi bank melakukan pembandingan setiap transaksi yang dicatat oleh perusahaan dengan transaksi yang dicatat oleh bank. Adalah sustu kekeliruan besar bisa perusahaan mencatat transaksi keuangan dari rekening korang yang dikeluarkan bank. Saldo dari rekening koran sering tidak sama dengan saldo dalam buku pemegang giro. Hal ini dapat terjadi al : Check dalam peredaran Setoran belum sempat dicatat oleh bank karena disetor pada akhir bulan Biaya administrasi bank yang hanya diketahui oleh pemegang giro setelah ada laporan bank Perbedaan karena perusahaan telah mendebet check kosong Biaya atas wesel yang diserahkan kepada bank yang dibebankan oleh bank terhadap pemegang giro Prosedure pembuatan Rekonsiliasi Bank
     

Print laporan Casflow setiap rekening bank ke worksheet excel Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro. Tandai setiap check/Giro yang telah diuangkan di bank Tambahkan ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua debet memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang giro. Tambahkan pada ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro. Periksa apakah ada check dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini. Buat copy catatan yang tidak ditemukan pada rekening korang sebagai cek/giro dalam peredaran. Rubah tanggal efektif ke periode bulan berikutnya sehingga catatan tersebut tidak termasuk pada laporan cashflow bulan ini. Hasil akhir sisi debit cashflow menurut catatan pemegang Giro = sisi kredit pada rekening koran.

Catatan :

 

Cek/Giro (Keluar) yang telah jatuh tempo namun belum diuangkan, (dalam perjalanan) menyebabkan saldo pada neraca lebih kecil dari laporan bank (tanggal efektif dirubah ke periode berikut) Cek/Giro yang diterima dan telah jatuh tempo namun belum diuangkan menyebabkan Saldo kas sesungguhnya lebih besar dari laporan bank. (tanggal efektif dirubah ke periode berikut) Cek/Giro Diterima/Keluar yang belum jatuh tempo tidak berpengaruh terhadap saldo neraca.

Rekonsilisai bank pada rekening KMK (Hutang Bank) Prinsipnya sama dengan rekonsiliasi bank, namun objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank adalah saldo kas sedangkan objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank pada KMK adalah saldo Hutang dimana hutang diakui setelah terjadi transaksi di bank. Hal ini menyebabkan prosedur rekonsiliasi bank pada KMK berbeda dengan rekonsiliasi bank pada kas.

      

 

Transaksi pada rekening KMK adalah bagian dari transaksi keuangan perusahaan, untuk itu semua transaksi ditampung dalam satu rekening kas ( Pada Sinarindo Megah perkasa, pt diberi nama Bank Mandiri RK ) Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro. Buat daftar check/Giro yang telah diuangkan di bank dan bandingkan dengan buku pengeluaran kas Kurangkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua debet memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang giro. Tambahkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro. Jika ada cek/giro (keluar) yang belum diuangkan, belum menyebabkan utang pada bank karena itu ditambahkan pada saldo kas. Periksa apakah ada check/Giro (keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank pada KMK bulan lalu yang telah diuangkan pada periode bulan ini dan kurangkan pada saldo kas. Periksa apakah ada check/Giro (Keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini. Jika ada Cek/giro yang diterima yang telah jatuh tempo dan telah disetorkan ke bank yang belum dicatat oleh bank melebihi batas toleransi, buat memo debet dan kirimkan ke bank agar bank mengurangi saldo hutang. Rekening Bank Mandiri RK adalah rekening penampung transaksi keuangan perusahaan agar setiap transaksi keuangan menjadi bagian dari cashflow perusahaan namun sesungguhnya setiap transaksi pada rekening ini juga merupkan bagian dari hutang bank. Selama saldo pada rekening ini lebih kecil dari hutang bank maka saldo ini adalah bagian dari hutang bank. Jika saldo lebih besar darui hutang bank maka selisihnya adalah bagian dari kas. Untuk itu setiap periode tertentu (saat menyusun laporan neraca) saldo harus di adjusment ke hutang bank. Jika saldo kas bernilai Positif dan lebih besar dari hutang bank Kurangi saldo kas sebasar hutang bank ( saldo hutang bank menjadi 0 ) Jika Saldo kas bernilai positif dan lebih kecil dari hutang bank, kurangi saldo kas sebesar saldo kas ( saldo kas menjadi 0 dan saldo hutang bank berkurang)

Jika saldo kas bernilai negatif, tambahkan ke saldo hutang bank sebesar nilai saldo kas (saldo kas menjadi 0, saldo hutang bank bertambah).
About these ads

PERSEDIAAN
Posted on Januari 2, 2008 by Achun

76 Votes

Persediaan adalah barang yang dimiliki untuk dijual atau untuk diproses selanjutnya dijual. Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual). Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca. Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP). HPP = PERSEDIAAN AWAL+PEMBELIAN BERSIH– PERSEDIAAN AKHIR Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut : 1. Metode Pisik/Periodik (Periodik/Phisical Inventory System) Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang

mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan dan Retur penjualan. PERIODE AWAL Perobahan persediaan (Harga Pokok) Persediaan PEMBELIAN Pembelian (Harga Pokok) Ppn Utang / Kas 999,999.99 999,999.99 999,999.99 999,999.99 999,999.99

PENJUALAN Piutang/ Kas /Bank Penjualan Ppn 999,999.99 999,999.99 999,999.99

AKHIR PERIODE Persediaan Perubahan Persediaan (Harga Pokok) 999,999.99 999,999.99

Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname). Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung operasional. Laporan neraca dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui. 2. Metode Perpetual (Continual Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik untuk di print_out maupun secara visual. A. WAKTU PEMBELIAN Persediaan Ppn Utang/Kas/Bank 999,999.99 999,999.99 999,999.99

B.

WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN) Persediaan barng dalam proses Pesediaan bahan baku 999,999.99 999,999.99

C.

PENERIMAAN HASIL PRODUKSI Persediaan barang Jadi Persediaan Dalam Proses 999,999.99 999,999.99

PENJUALAN 1. Harga Jual Piutang/Kas/Bank Penjualan Ppn 999,999.99 999,999.99 999,999.99

2.

Harga Pokok Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang yang dijual 999,999.99 999,999.99

PENYESSUAIAN AKHIR 1. JIKA SALDO SEMENTARA < STOCK OPNAME 999,999.99 999,999.99 Koreksi persediaan/Barang dalam proses Koreksi pemakaian bahan

2.

JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME 999,999.99 999,999.99

Koreksi pemakaian Bahan Persediaan/Barang dalam prosess

Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan fisik dengan catatan buku. Penilaian Persediaan Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah : Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya. Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca) Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaranpengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual. Terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan. Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut persediaan adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi. Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan

Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung dan dapat pula tidak. Subs System Inventory, Purchase dan Invoice biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar pecatatan ke buku besar buku jurnal. Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.
About these ads

Rekening Koran
Posted on November 16, 2007 by Achun

80 Votes

Rekening koran adalah laporan yang diberikan Bank setiap bulan kepada pemegang rekening Giro yang berisikan informasi tentang transaksi yang dilakukan oleh bank terhadap rekening tersebut selama satu bulan dansaldo Kas di Bank. Laporan ini sering dijadikan tumbal oleh akuntan untuk melindung keterlambatan mereka dalam menyusun laporan keuangan dan kita tahu laporan rekening koran dapat diterima diatas tanggal 15 setiap bulannya. Apapun alasannya laporan keuangan suatu perusahaan adalah berdasarkan catatan yang dilakukan oleh perusahaan. Dan adanya perbedaan antara catatan yang dilakukan perusahaan dengan yang dilaporkan bank adalah masalah lain.

Dari sudut pandangan Bank setiap rekening adalah “hutang” karena itu setiap tambahan atas suatu rekening dicatat disisi kredit. Menurut sudut pandang perusahaan pemegang rekening, rekening bank adalah aktiva dan setiap tambahan atas rekening bank oleh perusahaan dicatat di sisi debet dengan demikian jumlah sisi kredit yang dicatat oleh bank akan sama dengan jumlah sisi debet yang dicatat oleh pemegang giro. Pada rekening Kredit Modal Kerja adalah sebaliknya. Rekonsiliasi Bank Adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan hal-hal yang menimbulkan perbedaan Saldo yang tampak pada laporan perusahaan dengan laporan bank. Rekonsiliasi bank melakukan pembandingan setiap transaksi yang dicatat oleh perusahaan dengan transaksi yang dicatat oleh bank. Adalah sustu kekeliruan besar bisa perusahaan mencatat transaksi keuangan dari rekening korang yang dikeluarkan bank. Saldo dari rekening koran sering tidak sama dengan saldo dalam buku pemegang giro. Hal ini dapat terjadi al : Check dalam peredaran Setoran belum sempat dicatat oleh bank karena disetor pada akhir bulan Biaya administrasi bank yang hanya diketahui oleh pemegang giro setelah ada laporan bank Perbedaan karena perusahaan telah mendebet check kosong Biaya atas wesel yang diserahkan kepada bank yang dibebankan oleh bank terhadap pemegang giro Prosedure pembuatan Rekonsiliasi Bank
     

Print laporan Casflow setiap rekening bank ke worksheet excel Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro. Tandai setiap check/Giro yang telah diuangkan di bank Tambahkan ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua debet memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang giro. Tambahkan pada ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro. Periksa apakah ada check dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini. Buat copy catatan yang tidak ditemukan pada rekening korang sebagai cek/giro dalam peredaran. Rubah tanggal efektif ke periode bulan berikutnya sehingga catatan tersebut tidak termasuk pada laporan cashflow bulan ini. Hasil akhir sisi debit cashflow menurut catatan pemegang Giro = sisi kredit pada rekening koran.

Catatan :

 

Cek/Giro (Keluar) yang telah jatuh tempo namun belum diuangkan, (dalam perjalanan) menyebabkan saldo pada neraca lebih kecil dari laporan bank (tanggal efektif dirubah ke periode berikut) Cek/Giro yang diterima dan telah jatuh tempo namun belum diuangkan menyebabkan Saldo kas sesungguhnya lebih besar dari laporan bank. (tanggal efektif dirubah ke periode berikut) Cek/Giro Diterima/Keluar yang belum jatuh tempo tidak berpengaruh terhadap saldo neraca.

Rekonsilisai bank pada rekening KMK (Hutang Bank) Prinsipnya sama dengan rekonsiliasi bank, namun objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank adalah saldo kas sedangkan objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank pada KMK adalah saldo Hutang dimana hutang diakui setelah terjadi transaksi di bank. Hal ini menyebabkan prosedur rekonsiliasi bank pada KMK berbeda dengan rekonsiliasi bank pada kas.

      

 

Transaksi pada rekening KMK adalah bagian dari transaksi keuangan perusahaan, untuk itu semua transaksi ditampung dalam satu rekening kas ( Pada Sinarindo Megah perkasa, pt diberi nama Bank Mandiri RK ) Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro. Buat daftar check/Giro yang telah diuangkan di bank dan bandingkan dengan buku pengeluaran kas Kurangkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua debet memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang giro. Tambahkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro. Jika ada cek/giro (keluar) yang belum diuangkan, belum menyebabkan utang pada bank karena itu ditambahkan pada saldo kas. Periksa apakah ada check/Giro (keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank pada KMK bulan lalu yang telah diuangkan pada periode bulan ini dan kurangkan pada saldo kas. Periksa apakah ada check/Giro (Keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini. Jika ada Cek/giro yang diterima yang telah jatuh tempo dan telah disetorkan ke bank yang belum dicatat oleh bank melebihi batas toleransi, buat memo debet dan kirimkan ke bank agar bank mengurangi saldo hutang. Rekening Bank Mandiri RK adalah rekening penampung transaksi keuangan perusahaan agar setiap transaksi keuangan menjadi bagian dari cashflow perusahaan namun sesungguhnya setiap transaksi pada rekening ini juga merupkan bagian dari hutang bank. Selama saldo pada rekening ini lebih kecil dari hutang bank maka saldo ini adalah bagian dari hutang bank. Jika saldo lebih besar darui hutang bank maka selisihnya adalah bagian dari kas. Untuk itu setiap periode tertentu (saat menyusun laporan neraca) saldo harus di adjusment ke hutang bank. Jika saldo kas bernilai Positif dan lebih besar dari hutang bank Kurangi saldo kas sebasar hutang bank ( saldo hutang bank menjadi 0 ) Jika Saldo kas bernilai positif dan lebih kecil dari hutang bank, kurangi saldo kas sebesar saldo kas ( saldo kas menjadi 0 dan saldo hutang bank berkurang)

Jika saldo kas bernilai negatif, tambahkan ke saldo hutang bank sebesar nilai saldo kas (saldo kas menjadi 0, saldo hutang bank bertambah).
About these ads

Like this:

Filed under: Akuntansi, Tutorial
« KAS KECIL OLE DB Provider » 54 Tanggapan 1. AKUNTANSI ITU MUDAH !….. « Hidup Adalah Anugrah yang Paling Indah, on Januari 27, 2008 at 11:38 am said:

[...] KAS, Penerimaan Kas, Mencatat Penerimaan Kas, Mencatat pengeluaran kas, Kas Kecil, Pemindahbukuan, Rekonsiliasi [...]
Balas

2. zainal, on Juni 24, 2008 at 5:17 pm said:

Bagaimana Untuk lembaga zakat, jika pengeluaran cek untuk operasional ternyata tidak habis atau ada uang kembali di catat pada akun apa? Zb: Bukan masalah lembaga, melainkan masalah penerimaan kas yang akan dicatat pada akun kas atau Bank dengan reference biaya operasional dan keterangan sisa biaya operasional.

………………….Debet….Kredit Kas/Bank……….n,nnn Biaya Oprasi ……………..n,nnn
Balas

o

lely, on Maret 30, 2010 at 3:43 pm said:

tulungin dunk,,, rangkuan sistem pengendalian kas ap ia ZB: Maksudnya ?….
Balas

3. Yusron, on Februari 9, 2009 at 5:56 am said:

Mas, Contohnya Rekeng koran ada g lgee cari bwt tugas, cari d gugel yg prtama muncul blog ini
Balas

4. asnida, on April 15, 2009 at 2:06 pm said:

thanks infonya ya, saya pake buat nambah wawasan
Balas 5. bukti transaksi « Raniyuansmedaka's Blog, on Mei 31, 2009 at 1:37 pm said:

[...] Rekening Koran [...]
Balas

6.

freddy, on September 13, 2009 at 11:24 pm said:

Saya ditawari bank RK 500jt, kt bank yg kena bunga sejumlah uang yg dipakai aja, maksudnya gimana ya mas? mhn penjelasannya…tks ZB: Maksudnya anda diberi kredit modal kerja dengan flatfon 500jt. (Kredit Rekening Koran). Anda belum dianggap memiliki hutang sampai dana tersebut anda gunakan, sehingga anda tidak dikenakan bunga bila dana tersebut tidak anda gunakan. Bila suatu saat anda memberikan cek/Bg untuk pembayaran transaksi pada pihak tertentu, pada saat itu bank akan mendebet rekening tersebut artinya anda mempunyai hutang pada bank senilai cek/Bg tsb. Bunga dihitung dari besarnya hutang anda?… Ok.
Balas

7. retno, on Oktober 5, 2009 at 4:18 pm said:

saya ingin menanyakan sebuah kasus perusahaan mulai aktif tgl 20 agustus 08, dan modal jg baru keluar.tetapi dari tanggal 1 agustus 08 sudah terjadi transaksi pengeluaran biaya2. bagaiman pencatatan dan pengakuan biaya2 tsb??. mohon balsannya ZB: Apa tolak ukur anda untuk mengatakan mulai aktif tgl 20 Agt, sementara secara akuntansi aktivitas perusahaan itu diakui mulai dari usaha-usaha (aktivitas) pendirian perusahaan.
Balas

8. retno, on Oktober 7, 2009 at 4:46 pm said:

modal baru keluar ketika tanggal 20 (dari rekening koran).dan sebelu tanggal 20, itu belum ada modal. bagaiman pemecahannya? mohon bantuannya. terima kasih ZB: Sebelumnya saya ulangi akuntansi itu mudah dengan memahami permasalahannya. Bukan menghafal pelajaran akuntansi dari buku. “Anda tidak dapat gunakan sebagai

tolak ukur bahwa anda baru mempunyai uang setelah ada rekening koran”. Akuntansi mengakui transaksi pada saat terjadinya. Begini bila anda membeli atau memperoleh suatu jasa yang harus anda bayar namun anda belum punya uang sehingga anda tidak membayarnya dengan alat bayar misalnya cek jika saldo anda tersedia. Jika pada saat itu tidak ada maka yang timbul adalah Hutang. sehingga Biaya ….. xxx …hutang……..xxx setelah itu anda menerima uang dari seseorang sebagai modal Kas……..xxx …Modal……xxx trus anda bayar hutang hutang…..xxx …Kas………..xxx Selesai. Jika anda mau ptong saja dengan cara menyatukan semuanya, itu hanya akan membuat anda susah. Ok!.
Balas

9. retno, on Oktober 8, 2009 at 9:44 am said:

terima kasih atas jawabannya….saya bingung karena saya harus memperbaiki pembukuan di kantor dari awal berdirinya perusahaan, karena orang yg lama membuat pembukuannya berantakan. saya ingin tanya, apabila untuk biaya perjalanan, tetapi bukan atas nama direksi atau karyawan, tetapi dimaksukan ke biaya perusahaan, apakah itu diakui? untuk biaya tunjangan orang tua (karena ini perusahaan keluarga) & biaya sumbangan tanpa ada bukti kas ny, bagaiman pengakuannya? mohon balasannya terima kasih. ZB: dibuatkan bukti pengeluaran uang yang disetujui oleh pihak yang diberi wewenang dan ditanda tangani oleh yang menerima. Yang merima kan bisa saja orang yang

diwakilkannya?…. Untuk itu tentunya perusahaan menyimpan data pihak yang mendapatkan sumbangan karena suatu waktu laporan akan di audit.
Balas

10. retno, on Oktober 8, 2009 at 9:47 am said:

apakah untuk suatu perusahaan diperlukan membuat jurnal seperti teori kuliah atau langsung dicatat pada buku kas harian?. ZB: Kalau menggunakan metode manual tentunya Ya. Gunanya untuk menyusun laporan keuangan. Kalau sistem akuntansi komputer, tidak mutlak karena sistem mampu menyusun jurnal dari setiap catatan transaksi. Jadi jurnalnya sistem yang buat secara sistematis. Sehingga user tinggal mencatat transaksi sesuai format yang disediakan.
Balas

11. retno, on Oktober 9, 2009 at 10:03 am said:

apakah untuk pembukaan rekening dollar masuk ke pencatatan biaya umum & admin? (karena kas ny berkurang). apakah perlu di pisahkan pencatatan transaksi kas dollar dan rupiah? ZB: Kalau saya mencatatnya pada biaya administrasi bank. Bedang dengan biay umu & admin.
Balas

12. retno, on Oktober 9, 2009 at 10:07 am said:

apabila pada alur kas, peti kas kita kosong kemudian hutang pada seseorang, padahal di rekening koran masih tersedia dana.apakah diperbolehkan pencatatannya sebagai hutang tanpa disebutkan sumbernya, dan tanpa bukti transaksi.

ZB: Sauatu syarat dalam akuntansi setiap akibat ada sebabnya, setiap penerimaan ada pengirimnya, setiap pembayara ada yang menerima. Riangkasnya setiap traksaksi tidak pernah berdapak tuggal, selalu berpengaruh pada 2 atau lebih rekening.
Balas

13. retno, on Oktober 13, 2009 at 12:05 pm said:

untuk pencatatan biaya yang digunakan oleh komisari ( biaya rekening listrik rumah), baiya perjalanan bukan atas nama direktur atau karyawan perusahaan,apakah bisa jika ikut di catat dalam biaya umum admin? ZB: Jika kebijakan perusahaan menetapkan demikian boleh saja, namun dalam akuntansi pajak transaksi tersebut tidak diakui sehingga diperoleh 2 jenis laporan keuangan yaitu laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal.
Balas

14. rama yulistio, on Desember 13, 2009 at 10:06 pm said:

apa persyaratan utk memiliki rekenin koran.mohon penjelasan nya,troms sblum nya,,, ZB: Masalah persyaratan adalah otoritas masing-masing bank. anda dapat tanyakan kepada bank yang terkait melalui call center atau dapatkan brosurnya.
Balas

15. Syaechu, on Desember 17, 2009 at 3:12 am said:

Mas,, kenapa r/k dengan buku harian bank berslisih, selisih kurang dng jumlahnya fluktuatif tiap bulan,sudah berjalan 1,5 tahun. slama itu pula saya bebankan padahal semua unsur yang ada di r/k sudah terecord smua di buku harian bank. apakah ada charge dari bank yang tidak muncul di r/k? atau hal lain yg blm saya ketahui?? thanks.

ZB: Kita telah bahas hal-hal yang dapat menyebabkan perbedaan buku kas (Buku bank) dengan rekening koran dan tidak dan semua transaksaksi yang dilakukan oleh bank akan tercantum pada rekening koran dan pada akhirnya setelah anda melalukan rekonsiliasi saldo pada buku bank anda akan sama dengan saldo hasil rekonsiliasi. Kemungkinan tindakan yang dilakukan dalam rekonsiliasi keliru.
Balas

16. devia agustina, on Juli 2, 2010 at 12:53 pm said:

gimana kalau ada transaksi yang terjadi . . seperti yang ini . . owners mengambill terus penerus petty cash hingga hasil penghitungan mins dalam petty cash ZB: Pernah saya membahas manajemen tukang sate. dima tuka sate mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan sate mulai dari membeli bahan, mengankut, mencincang, memasak, menyajikan sampai menagih. Kadang uang dari penjualan dimasukan di kantong sebelah kiri kadan kantong kanan dan kadang kantong belakang namun tidak ada yang salah dalam hal ini. Permasalahan akan timbul bila ada pihak lain yang membutuhkan informasi tentang tukang sate tersebut atau bila tukang sate tersebit tidak mampu lagi melakukan semuanya. maka kebutuhan itu harus dipenuhi. Dalam hal yang anda kemukakan juga bukan kesalahan karena owner punyak hak penuh atas miliknya. Namun kelihatnya ini owner yang tidak mengerti dengan fungsi Petty Cash dan adminnya juga bodoh karena petty cash bisa bernilai negatif.
Balas

17. boerkhan, on Agustus 27, 2010 at 8:25 pm said:

mkcih tas infox,,,,
Balas

18.

Meilinda, on Oktober 26, 2010 at 3:19 pm said:

bagaimana cara mengaudit laporan sebuah neraca?karena di perusahaan yg saya pegang antara fisik dengan neraca beda. thanks..
Balas

19. roy, on Oktober 26, 2010 at 8:27 pm said:

begini brooo.. sy kan kerja di sebuah universitas. bagian keuangan.. di suruh buat laporan keuangan dan rekening koran.. yg sy bingung formatnya itu… apa2 yg harus di buat…?? sy cuma di suruh mencatat laporan kas masuk dan keluar…. untuk perhitungan dan formatnya yg lebih mudah dipahami dan di kerjakan gimana itu mas…???? sy memakai program XL.. TOLONG BALASANNYA.. TERIMA KASIH BANYAK ZB: Beli saja buku bank yang telah tersedia di toko alat tulis.
Balas

20. panca, on November 2, 2010 at 5:06 pm said:

Qt sebagai auditor. bagaimana adjustment yang Qt buat bila ada temuan pembayaran piutang oleh pelanggan dengan giro yang telah jatuh tempo tetapi belum dikliring oleh perusahaan hingga akhir thn? tlg di blz segera ZB: Sebelumnya perlu saya sampaikan hal ini adalah satu kelalaian yang dapat merugikan perusahaan karena giro tersebut bisa saja tidak dapat diuangkan akibat kelalaian tersebut. Dari segi audit, giro tersebut tidak ada masalah jika diyakini masih dapat diuangkan dan tetap tercatat sebagai giro ditangan.
Balas

21.

Indra, on November 12, 2010 at 11:46 pm said:

Tlg donk kasi penjelasan cara menganalisa rek koran positif atau negatif? Thx..
Balas

22. ade jainudin, on November 16, 2010 at 8:33 pm said:

gimana cara nYya membuka rekening koran bank mandiri???? ZB: Datang ke Bank Mandiri, Data ke custimer service. Sama dengan mendaftar rekening tabungan, yang beda namanya rekening giro. Untuk rekening giro biasanya ada persyaratan khusus. Misalnya tampang harus meyakinkan.
Balas

23. Agus, on Desember 12, 2010 at 5:17 pm said:

Assalamu’alaikum, Saya mau mengajukan Permohonan kredit usaha ke Bank, Hal apa saja yg saya perlukan agar pihak Bank ACC. apakah mereka juga meminta Data Transaksi Rekening bank kita(Rek. koran atau yg semacamnya). thanks ZB: Hal ini akan lebih jelas bila anda menanyakan langsung ke Bank melalui contanct center misalnya bank Mandiri melalui 14000. Masing2 bank punya otorita sendiri untuk menyetujui proposal anda.
Balas

24. Nirwan, on Desember 26, 2010 at 3:32 am said:

Saya punya masalah dengan laporan direkening koran di bank (jenis kredit modal kerja) atas nama alm.orang tua saya yang sudah jatuh tempo thn 2009 ,sebagai ahli waris saya ingin mempertahankan sejarah org tua ,namun dalam laporan rekening koran tsb di bank pada bulan yang sama terdapat 2 perbedan pada tgl 30 -01-09 sb.sbb:

1.Plafon : 2.500.000.000 Saldo akhir – 2.400.000.000 Saldo Efektif 100.000.000 2.Plafon ; Saldo blok 120.000.000 Saldo akhir – 2.400.000.000 Saldo efektif – 3.200.000.000 Data laporan rekening koran di saldo efektif terlihat perbedaan yang sentficant , pencatatan tsb menunjukan posisi yang artnya bagaimana. sebelumnya .tks ZB: Ini bukan masalah pencatatan, tapi berhubungan dengan kebijakan bank. Saya tidak tahu apa yang digunakan bank untuk mendapatkan angka pada platfon ke 2.
Balas

o

Nirwan, on Desember 27, 2010 at 5:50 pm said:

Yth.Mas DH. Yang perlu juga saya tanyakan sbb: 1.Pencatatan bank dengan pencatatan di pembukuan kita pada umumnya kan terbalik apa ini benar ?. 2.Kalau pada posisi rekening di bank sudah diblokir untuk mengetahui jumlah posisi hutang terbaca di bagian mana ? 3.Kalau rekening sudah diblokir tercatat saldo efektif tanda negatif artinya apa ? Sebelumnya terima kasih Mas ZB: 1. Bukan pada umunya, tapi selalu dimana bank mencatat menurut bank sedang pemilik rekening mencatat menurut pemilik rekening. Namun anda perlu tahu pada KMK pemilik rekening adalah bank sehingga perusahaan mencatatnya sebagai hutang. (Bukan kas)

2. Yang ini otorita bank. 3. Bila rekening kas artinya anda masih memeliki saldo. Bila pada rekening KMK anda menggunakan dana melebihi platform.
Balas

25. ezra, on Maret 23, 2011 at 1:58 pm said:

bos.. contoh dari rekening koran gmna.?
Balas

26. Dopi, on April 1, 2011 at 7:23 pm said:

Thanx Atas Infonya,.
Balas

27. susi, on Mei 8, 2011 at 6:28 pm said:

saya mau tanya tentang pinjaman rekening koran : contoh : dapat pinjaman sebesar 6 M terdiri dari Pinjaman Time Loan : 4 M dan Pinjaman RK : 2 M pd saat pinjaman kas saya masuk 4 M sebagai hutang, sedangkan yg 2 M tdk masuk ke kas saya tetapi seandainya dana di kas tdk mencukupi maka saya bisa tetap keluarkan sp 2 M sehingga kas saya menjadi min (-) yg saya ingin tanyakan bagaiman saya menjurnalnya yang pinjaman rekening koran ? contoh : Kas 4 M Hutang Bank 4 M sedangkan yg pinjaman rekening koran saya tdk tau bagaimana saya menjurnalnya ?

ZB: Semua transaksi keuangan tetap dilakukan melalui rekening kas, sehingga suatu saat kas anda menjadi (-) karena anda meiliki kesempatan kredit rekening koran. Ini tidak akan menjadi masalah sampai batas kredit yang anda miliki. (Kas anda bileh minus s/d 2 M) Namun sesungguhnya tidak ada kas yang minus, sehingga dalam laporan keuangan tidak boleh kas bernilai minus. Dalam hal ini anda memiliki 2 rekening hutang. Yang satu senilai 4 M yang masuk ke rekenig kas anda. dan yang satu 0 dengan platfon 2 M yang akan dipindahkan ke kas anda pada saat kas anda bernilai (-). Anda juga akan memiliki 2 rekening koran yang satu untuk rekening kas dan yang lainnya untuk rekening kredit. Tidak ada kas yang bernilai minus. Yang ada adalah pada saat anda mengeluarkan kas yang menyebabkan rekening kas anda bernilai minus, ada transaksi lain yang terjadi pada saat yang bersamaan, yaitu penerimaan kas dari rekening kredit rekening koran. Untuk itu anda juga harus mencatat penerimaan kas. Permasahannya hanya itu. Misalnya Saldo Kas anda 500jt, lalu anda membayar transaksi senilai 800jt maka Jurnal dari transaksi tersebut adalah : 1. Pengeluara kas …..Belanja ……………..800jt ………Kas……………………..800jt 2. Penerimaan kas ….Kas…………………..300jt ………Rk……………………….300jt Hasil dari transaksi tersebut rekening kas anda akan bersaldo 0. Bila ada transaksi yang lain misal pembayaran 200jt maka 1. Pengeluara kas …..Belanja ……………..200jt ………Kas……………………..200jt 2. Penerimaan kas ….Kas…………………..200jt ………Rk……………………….200jt dst.
Balas

28. Erma Novianti, on Mei 18, 2011 at 10:11 am said:

Yth. Mas DH saya bekerja di perusahaan baru bagian accounting, yang ingin saya tanyakan : 1. saya bingung membuat laporan keuangan karena modal awal( 1M) tidak disetor, hanya tertulis di akta pendirian PT saja. tidak masuk Rek. Perusahaan. 2. Transaksi untuk pendirian PT, sewa gedung,peralatan/perlengkpan, dll sudah berjalan 3 bulan(+/-100jt) 3. bulan ke 4, ada pemasukan sebesar 30jt masuk rekening. 4. Gimana cara buat laporan keuangannya biar ga ribet. TOLONG DIBALAS PENTING SEKALI ZB: Menurut saya yang ribet itu adalah pikiran anda sendiri. Hanya karena modal dasar tidak disetor. Untuk membuka jalan pikiran anda bagai mana seandainya saya sebagai pemilik perusahaan tersebut. Saya setorkan kan secara tunai sebesar (1M) untuk mendirikan perusahaan. Apa yang anda lakukan?…. tentunya anda tidak bingung tinggal catat. Besoknya uang itu saya gunakan, untuk keperluan lain tentunya sebagai karyawan tugas anda adalah mencatat transaksi yang terjadi. Hasilnya akan tetap sama dengan yang anda bingungkan yaitu uangtersebut tidak ada direkening perusahaan walau saya setorkan. Untuk itu anda perlu memahami permasalahan akuntansi secara acrual bukan kas. Untuk akuntansi Pendirian perusahaan anda dapat baca akuntansi pendirian Perseroan terbatas. dan pembuatan laporan keuangan sebagaian besar dari isi blog ini adalah petunjuk untuk pembuatan laporam keuangan. Untuk mudahnya lebih nyata ZULISoft membantu anda dalam memudahkan urusan akuntansi.
Balas

29. Deyon Saputra Saryono, on Juli 26, 2011 at 5:05 pm said:

gimana caranya klo saya pingin punya pinjaman pake rekening koran
Balas 30. Rekonsiliasi Bank | elninaa, on Juli 27, 2011 at 9:29 pm said:

[...] Rekening Koran [...]
Balas

31.

muhammad, on Agustus 23, 2011 at 1:21 am said:

biaya legalitas badan usaha itu masuk modal kerja atau modal investasi? ZB: Tergantung nilainya dalam pandangan perusahaan. Bila nilainya dianggap berarti bagi perusahaan maka dimasukan ke dalam asset bila tidak maka dianggap sebagai biaya operasi.
Balas

32. Mufti Kamal, on Oktober 6, 2011 at 12:19 pm said:

sbg ukm ambil kredit sistem flat dgn rekening koran bagus mana ? aspek negatif & positfnya, trims nasehatnya ZB: Biasanya kredit rekening koran untuk usaha besar karena sewaktu2 perlu dana besar untuk suatu transaksi dan segera dapat dibayar lagi oleh transaksi tersebut. Disini terjadi beban bunga yang besar namun masa kredit singkat. Hanya itu yang dapat saya beri tahukan dan tidak dapat menyarakan mana yang lebih baik. Tentunya bagian analisis keuangan bank dapat memberikan saran kepada anda. Setahu saya ukm menggunakan sistem flat.
Balas

33. Eko, on Oktober 21, 2011 at 10:02 am said:

Kalau Minta Rek Koran Di Bulan Sebelumnya Bisa Ga?? ZB: Tergantung bank yang bersangkutan, namun saya belum pernah mendengar ada perusahaan minta rekening koran periode sebelumya ke bank.
Balas

34. Monlie, on Oktober 26, 2011 at 10:38 am said:

Kalau penarikan uang lewat ATM itu biasanya muncul atau tidak dalam Rekening Koran ? ZB: Muncul
Balas

35. Husna Karmila Sari, on November 2, 2011 at 8:19 pm said:

1. PT. XYZ telah menyiapkan kertas kerja untuk tahun buku 2007, sebagai berikut : Saldo buku besar 31 Desember 2007 ………………… Rp. 51.524.580,Setoran dalam perjalanan ……………………………….. Rp. 7.986.750,Debit Memo atas cek dari langganan yg dikembalikan ( cek tsb belum diselesaikan kembali ) …………………. Rp. 600.000,– Biaya Bank bulan Desember ………………………………. Rp. 6.500,– Kredit Memo atas wesel tagih oleh Bank Rp. 1.190.000,– Cek bayar hutang dicatat & dibayar Bank Rp. 534.300,Saldo menurut Bank (sesuai dengan konfirmasi bank) menunjukkan jumlah saldo kas PT. XYZ di bank sebesar Rp. 50.990.280,Daftar cek yang beredar (OSC) sebagai berikut : No. 102 Rp. 310.500,- No. 202 Rp. 366.760,128 Rp. 1.456.670,- 310 Rp. 2.164.400,139 Rp. 52.270,- 315 Rp. 2.550.000,145 Rp. 19.900,- 323 Rp. 482.750,diminta : 1. Buatlah rekonsiliasi bank untuk menentukan saldo yang benar 2. Jurnal adjustment Jawaban: 1) Rekonsiliasi Bank utk menentukan saldo yg benar Saldo Bank Rp50,990,280 Saldo Kas Rp51,524,580 (ditambah) (ditambah) Setoran dalam perjalanan Rp7,986,750 Jasa giro Rp1,190,000 Uang kas disetor Rp600,000 Rp52,714,580 Rp8,586,750 (dikurang) Rp59,577,030 (dikurang) Cek Beredar Biaya Bank Rp6,500 No. 102 Rp310,500 Koreksi Penerimaan Rp534,300 128 Rp1,456,670 Rp540,800 139 Rp52,270 Rp52,173,780

145 Rp19,900 202 Rp366,760 310 Rp2,164,400 315 Rp2,550,000 323 Rp482,750 Rp7,403,250 Rp52,173,780 bkin jurnal adjusmentnya gmn mas,mhon koreksi jawaban saya n penjelasan pembuatan jurnalx yg benar ZB: Mohon ma’af Saya bekerja dengan sistem yang mencatat transaksi bersarkan tanggal dan jatuh tempo. Selama Cek/Giro yang telah dicatat belum jatuh tempo, belum diposting hingga belum berpengaruh terhadap laporan neraca. Sebaliknya mencatat semua cek/giro yang diterima pada saat diterima dan sistem akan membuat jurnal sesuai tanggal jatuh tempo. Data operational giro yang jatuh tempo segera disetor ke bank, sebalinya pihak penerima juga begitu. Sehingga cek/giro dalam perjalanan/beredar tidak signifikan. Berdasarkan kenyataan tersebut kami melalukan rekonsiliasi dengan cara sendiri dengan bantuan sistem dan tidak membuat laporan rekonsiliasi seperti yang anda buat.
Balas

36. Sun Aryadi, on Desember 4, 2011 at 10:33 pm said:

Trims atas media informasinya
Balas

37. trisensia resti, on Januari 8, 2012 at 7:14 pm said:

apa pengaruh cek kosong terhadap rekonsiliasi bank?
Balas

38. Aldian Camp Gaper, on Januari 10, 2012 at 5:05 pm said:

saya ingin bisa mempelajari rekonsiliasi kas bank

Balas

39. RAKA, on Januari 16, 2012 at 6:54 pm said:

APAKAH REKENING KORAN MENGGUNAKAN JAMINAN (ANGGUNAN) ZB: Hal ini otorita lembaga keuangan yang memberikan fasilitas. Yang saya tahu Ya!….
Balas

40. rochmadiyanto, on Januari 22, 2012 at 12:20 pm said:

Belajar dalam wawasan…tanks
Balas

41. sarmidi, on Januari 28, 2012 at 9:29 pm said:

minta cek saldo giro rekening koran
Balas

42. hendy m dayan, on Maret 1, 2012 at 8:33 pm said:

Topik bahasan seperti ini Bagus n Sangat membantu bagi kita2 yang awam tentang dunia perbankkan,.
Balas

43. Dessy, on Maret 2, 2012 at 4:05 pm said:

Kalo rekening koran muncul minus berarti kita utang pada bank ya? jadi harus buad jurnal : Kas pada utang bank? Tolong d jawab yah
Balas

44. novhha, on Maret 30, 2012 at 5:11 pm said:

akuntansii itu sebenernya sulit/mudah sih ?? vhha baru klas 10 tp ko udh ngrasa sulit ya ?? apalagii pelajaran dana kas bank ,, rekonsiliasi bank :’( huhuhuh (

ajariin dongsssse …
Balas

45. bagus, on Mei 11, 2012 at 1:57 am said:

ada simulasi softwarenya mas? trims
Balas

46. lidya, on Mei 28, 2012 at 2:43 pm said:

apa apa saja prosedur pengkreditan?
Balas

47. valen, on Juni 6, 2012 at 12:07 am said:

Membantu,tetapi dosen ku pertanyaannya..,mengapa credit dibank itu tambahan saldo, kenapa yg di pelajari di perusahaan lain itu credit itu berkurang, begitu pula dgn debit…aku bgung…. ZB: Anda terlebih dahulu pahamami pengertian rekening koran dengan kredit rekening koran itu berbeda…. Kredit rekening koran saldo normalnya adalah kredit sedangkan rekening kas saldo normalnya adalah debit. Credit di bank tidak selalu tambahan saldo kas, tergantung transaksinya apa?….
Balas

48. meli, on Oktober 9, 2012 at 10:00 am said:

maaf,, kenapa sektor pemerintahan menggunakan akun rekening koran?? makasih sebelumnya.. ZB: Jawabnya ada pada pemerintah, saya tidak ada pengalaman dalam akuntansi pemerintaahan.
Balas

49. udin, on November 18, 2012 at 1:56 am said:

kalo qt punya uang lebih untuk menjalankan suatu peusahaan pentingkah rek koran?
Balas

50. jessi, on Februari 18, 2013 at 12:29 pm said:

Salah satu perbedaan saldo perusahaan dan bank adalah giro yg sedang dalam peredaran. Saya mau tanya apa jurnal untuk membuat balance transaksi tersebut? Terimakasih.
Balas

51. sulfiana, on Maret 14, 2013 at 5:54 pm said:

apa isi dari rekening koran ??
Balas

52. Raden Silaban Sitio, on April 29, 2013 at 5:54 pm said:

tq info’a
Balas

A Blog.com weblog
  

Home About Uncategorized

ANALISA KREDIT
2012 June 12 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Analisis kredit adalah suatu proses analisis kredit dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dan rasio-rasio keuangan untuk menentukan kebutuhan kredit yang wajar.

Gambaran Umum Analisis Kredit dan Resiko Meminjamnya Dalam penyaluran kredit, FI akan menanggung risiko kredit. FI menerima risiko kredit atas dana yang dipinjamkan dengan menukarnya dengan pengembalian wajar yang cukup untuk menutup biaya pendanaannya kepada penabung RT & termasuk risiko kredit dalam meminjamkan. Pengukuran risiko kredit atas pinjaman individu adalah penting jika manajer FI : 1. Menentukan harga suatu pinjaman secara benar 2. Menentukan “batas” yang tepat atas sejumlah perluasan kredit bagi satu peminjam atau penerimaan eksposur kerugian dari mitra kerja khusus 5 aspek yang harus dianalisis dalam menganalisis kredit, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Aspek Manajemen Aspek Pemasaran Aspek Teknis Aspek Keuangan Aspek Legalitas dan Agunan

Kredit berdasarkan tujuan penggunaannya, kita bagi dalam 2 kategori, yaitu : 1. 2. Kredit Produktif Kredit Konsumtif

Pendekatan-pendekatan atau metode-metode yang biasa kita pakai dalam menganalisis kredit modal kerja adalah Turn Over Method, sedangkan untuk menganalisis kredit investasi adalah PP Method, NPV Method dan IRR Method. Penggunaan pendekatan-pendekatan tersebut tentunya didasarkan dari data keuangan perusahaan yaitu laporan necara dan laba rugi perusahaan yang diberikan kepada bank. Demikian gambaran singkat mengenai analisis kredit, dan untuk lebih jauh lagi mengenai analisis kredit ini, teman-teman bisa mempelajari lewat buku “Analisis Kredit” dan “Analisa Laporan Keuangan”. Analisis kredit pada umumnya dibedakan menjadi : 1. Pinjaman real-estate

Pinjaman real estate meliputi pinjaman hipotek & pinjaman kepemilikan rumah. Hipotek penduduk merupakan pinjaman berjangka sangat panjang dengan maturitas rata2 mendekati 25 tahun. 2. Pinjaman konsumen & usaha kecil Pinjaman individu (konsumen) meliputi pinjaman personal & mobil. Penyedia pinjaman individu : bank komersial, perusahaan pembiayaan, pengecer, bank tabungan, perusahaan gas. 3. Pinjaman komersial & industri pasar menengah Analisis kredit pelanggan perusahaan pasar-menengah berbeda dari usaha kecil, meskipun masih menilai karakter manajemen perusahaan, fokus utama analisis ini adalah bisnisnya sendiri bukan pemilik. 4. Pinjaman komersial & industri besar. Klien korporasi besar sangat menarik bagi FI karena meskipun spread & fee kecil dalam ketentuan persentase, tetapi transaksi cukup besar untuk membuatnya sangat profitabel. Resiko perkreditan Pada umumnya profit yang diperoleh akan senantiasa berbanding lurus dengan tingkat resiko yang dihadapi. Artinya semakin besar tingkat resiko dari suatu bisnis maka akan semakin besar pula tingkat profit margin yang diperoleh. Berikut beberapa contoh resiko perkraditan yang ada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. resiko sifat usaha resiko geografis resiko politik Resiko ketidakpastian resiko inflasi resiko persaingan

Pemahaman analisis kredit dengan beberapa pendekatan, yaitu : 1. Pendekatan jaminan

2. 3. 4. 5.

Pendekatan karakter Pendekatan pelunasan Pendekatan kelayakan usaha Pendekatan pemberian kredit sebagai agen pembangunan

Prinsip 7P dan prinsip 3R dalam analisa kredit, yaitu: 1. Personality

Bank mencari data tentang kepribadian calon debitur seperti riwayat hidupnya (kelahiran, pendidikan, pengalaman, usaha/pekerjaan, dan sebagainya), hobi, keadaan keluarga (istri, anak), social standing (pergaulan dalam masyarakat serta bagaimana pendapat masyarakat tentang diri si peminjam), serta hal-hal lain yang erat hubungannya dengan kepribadian si peminjam. 2. Purpose

Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit. Apakah akan digunakannya untuk berdagang, atau untuk membeli rumah atauuntuk tujuan lainnya. Selain itu apakah tujuan penggunaan kredit itu sesuai dengan line of business kredit yang bersangkutan. Misalnya, tujuan atau keperluan kredit untuk perkapalan sedangkan line of business bank dalam bidang pertanian. 3. Prospect

Yang dimaksud dengan prospect adalah harapan masa depan dari bidang usaha atau kegiatan usaha si peminjam. ini dapat diketahui dari perkembangan usaha peminjam selama beberapa bulan/tahun, perkembangan keadaan ekonomi perdagangan, keaadaan ekonomi/perdagangan sektor usaha si peminjam, kekuatan keuangan perusahaan yang dibuat dari earning power (kekuatan pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa mendatang. 4. Payment

Mengetahui bagaimana perkiraan pembayaran kembali pinjaman yang akan diberikan. Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan tentang prospek, kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga dapat diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman ditinjau dari waktu serta jumlah pengambilannya. 5. Profitability

Menilai berapa tingkat keuntungan yang akan diraih calon debitur, bagaimana polanya, apakah makin lama makin besar atau sebaliknya. 6. Protection

Menilai bagaimana calon debitur melindungi usaha dan mendapatkan perlindungan usaha. Apakah dalam bentuk jaminan barang, orang atau asuransi. 7. Parti

Bertujuan mengklasifikasi calon debitur berdasarkan modal, loyalitas, dan karakternya. Pengklasifikasian ini akan menentukan perlakuan bank dalam hal pemberian fasilitas. Tiga komponen dalam prinsip 3R adalah: 1. 2. 3. Tingkat pengembalian usaha (return) Kemampuan membayar kembali (repayment) Kemampuan menanggung resiko (risk bearing ability)

Unsur-unsur yang dibahas dalam konsep 3R sebenarnya telah dibahas dalam analisis aspekaspek yang harus dipertimbangkan dalam pemberian kredit. Hanya saja konsep 3R memberi penekanan kepada aspek finansial dari analisis kredit. under → Uncategorized

Analisa Perubahan Pendapatan
2012 April 28 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Analisis perubahan penghasilan dan biaya sangat penting sebagai satu elemen penentuan laba rugi suatu perusahaan belum mempunyai pengertian yang seragam karena biasanya dibahas dalam hubungannya dengan pengukuran dan waktu pengakuan pendapatan itu sendiri.Maka dari itu secara umum konsep pendapatan ditijau dalam dua bentuk,yaitu :
1. Dalam ilmu ekonomi,Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode. 2. Dalam ilmu akuntansi,Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi (selama periode) yang timbul dalam rangka kegiatan usaha dari suatu badan bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan meningkatkan kontribusi dari ekuitas peserta.. Pendapatan harus diukur pada nilai wajar dengan pertimbangan diterimanya piutang. Pengakuan PendapatanPencatatan jumlah rupiah pendapatan secara formal ke dalam sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.

Dalam hal ini terdapat karakteristik tertentu dari pendapatan yang menentukan atau membatasi bahwa sejumlah rupiah yang masuk ke perusahaan merupakan pendapatan yang berasal dari operasi perusahaan. Karakteristik ini dapat dilihat berdasarkan sumber pendapatan, produk dan kegiatan utama perusahaan dan jumlah rupiah pendapatan serta proses penandingan :
 

Sumber pendapatan Produk dan kegiatan utama perusahaan.

Secara umum,Pendapatan adalah jumlah uanag yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya,kebanyakan dari penjualan barang/jasa kepada pelanggan. Bagi investor pendapatan kurang penting dibandingkan keuntungan ,yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran. Terdapat dua konsep penting dalam pendapatan,yaitu :
1. Pembentukan pendapatan (earning of revenue) 2. Realisasi pendapatan (realization of revenue)

Kriteria pengakuan pendapatan. Pengakuan sebagai pencatatan suatu item dalam perkiraan-perkiraan dan laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Pengakuan itu termasuk penggambaran suatu item baik dalam kata-kata maupun dalam jumlahnya, dimana jumlah mencakup angka-angka ringkas yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Empat kriteria mendasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui adalah :
1. Definsi item dalam pertanyaan harus memenuhi definisi salah satu dari tujuh unsur laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. 2. Item tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu karakteristik, sifat atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur. 3. Relevansi informasi mengenai item tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam pengambilan keputusan. 4. Reliabilitas informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara wajar dapat diuji, dan netral.

Empat kriteria pengakuan di atas, diterapkan pada semua item yang akan diakui pada laporan keuangan. Namun SFAC No.5 menyatakan persyaratan yang lebih mengikat dalam hal pengakuan komponen laba dan pada pengakuan perubahan lainnya dalam aktiva atau kewajiban. Pendapatan dan keuntungan umumnya diakui apabila :
1. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah direalisasikan. 2. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian besar dari proses untuk menghasilkan laba telah selesai. Pendapatan direalisasikan ketika kas diterima untuk barang dan jasa yang dijual. Pendapatan itu dapat direalisasikan ketiga klaim atas kas (misalnya, aktiva non kas seperti piutang usaha atauweseltagih) diterima yang ditentukan dapat segera dikonversikan ke dalam kas tertentu. Kriteria ini juga dipenuhi jika produk tersebut adalah suatu komoditas,

seperti emas, dimana ada pasar publik untuk jumlah tak terhingga, dan produk tersebut dapat dibeli dan dijual pada harga pasar yang telah diketahui. 3. Pengukuran pendapatan. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dengan pembeli atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan. Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau yang dapat diterima. Namun jika terdapat perbedaan antara nilai wajar dan jumlah nominal, maka imbalan tersebut diakui sebagai pendapatan bunga. Nilai wajar disini dimaksudkan sebagai suatu jumlah dimana kegiatan mungkin ditukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memakai dan berkeinginan untuk meakukan transaksi wajar, kemungkinan kurang dari jumlah nominal kas yang diterima atau dapat diterima.

Pengakuan pendapatan Pendapatan yang timbul dari kegiatan normal perusahaan memiliki identifikasi tertentu. Menurut PSAK No.23 kriteria pengakuan pendapatan biasanya diterapkan secara terpisah kepada setiap transaksi, namun dalam keadaan tertentu adalah perlu untuk menerapkan kriteria pengakuan tersebut kepada komponen-komponen yang dapat diidentifikasi secara terpisah dari suatu transaksi tunggal supaya mencerminkan substansi dari transaksi tersebut. Sebaliknya, kriteria pengakuan diterapkan pada dua atau lebih transaksi bersama-sama bila transaksi tersebut terikat sedemikian rupa sehingga pengaruh komersialnya tidak dapat dimengerti tanpa melihat rangkaian transaksi tertentu secara keseluruhan. Laporan perubahan laba bruto dan analisisnya Laba kotor (gross profit) merupakan selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan. Karena itu laba kotor dipengaruhi oleh harga dan kuantitas penjualan, dan juga harga perolehan tiap unit produk yang terjual. Dari sisi penjualan, perubahan Laba kotor dipengaruhi oleh adanya perubahan pada item: 1. perubahan harga jual per unit produk,

2. perubahan kuantitas atau volume produk yang dijual atau dihasilkan. Dari sisi harga pokok penjualan perubahan laba kotor dipengaruhi oleh adanya perubahan: 1. 2. Harga pokok rata-rata per unit produk, dan Kuantitas atau volume produk yang dijual.

Berikut diuraikan beberapa formula untuk mengukur variance atau ”penyimpangan” realisasi laba kotor dari laba kotor yang dianggarkan. Formula-formula ini bisa juga digunakan untuk mebuat analisis perubahan laba kotor antara tahun sekarang dengan tahun seelumnya. Untuk

tujuan ini maka kata-kata ”dianggarkan” dalam formula ini diganti dengan kata-kata ”tahun lalu”. Karena pertimbangan biaya dan kepraktisan, perusahaan-perusahaan yang relatif kecil sering tidak mau membuat anggaran yang lebih spesifik/formal dalam menjalankan bisnisnya. Sebagai pengganti anggaran mereka menggunakan pengalamannya tahun-tahun sebelumnya sebagai patokan (benchmark) untuk tahun terakhir.
 

Perubahan harga jual (sales price variance); yaitu adanya perubahan antara harga jual yang sesungguhnya dengan harga jual yang dianggarkan, atau harga jual periode sebelumnya. Perubahan kuantitas produk yang dijual (Sales Volume Variance); yaitu adanya perbedaan anatara kuantitas produk yang direncanakan atau periode sebelumnya dengan kuantitas yang sesungguhnya terjual. Perubahan harga pokok penjualan per unit produk (Cost Price Variance); yaitu adanya perbedaan antara harga pokok penjualan per unit produk (unit cost) menurut anggaran atau periode sebelumnya dengan harga pokok sesungguhnya.

Berbagai macam bentuk ratio antar perkiraan di laporan rugi laba sehubungan dengan analisis perubahan pendapatan Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas atau operasinya sehari-hari selalu membutuhkan modal kerja (working capital). Modal kerja ini misalnya digunakan untuk membayar upah buruh, gaji pegawai, membeli bahan mentah, membayar persekot dan pengeluaran-pengeluaran lainnya yang gunanya untuk membiayai operasi perusahaan. Untuk mendapatkan gambaran mengenai pengertian dari modal kerja disini peneliti kemukakan beberapa pendapat : a. James C Van Harne (1997:214) menyatakan, bahwa “Modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar, dan modal kerja kotor adalah investasi perusahaan dalam aktiva lancar seperti kas, piutang dan persediaan” b. J. Fred Weston Eugene F. Brigham (1991:157), menyatakan bahwa “Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam harta jangka pendek yaitu kas,surat berharga jangka pendek, piutang dan persediaan”. c. Bambang Riyanto (1995:7), mengemukakan 3 (tiga) konsep pengertian modal kerja yaitu :
1. Konsep kuantitatif. Konsep ini menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancer ( gross working capital ). 2. Konsep kualitatif. Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek ) 3. Konsep fungsional. Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan future income. Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa modal kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal.

under → Uncategorized

Break Even Point (BEP)
2012 April 3 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Kurva BEP dalam suatu Perusahaan :

Break Even point atau BEP adalah suatu titik atau keadaan dimana suatu perusahaan dalam operasinya tidak mendapatkan keuntungan dan tidak menderita kerugian. Perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan break even point bila mana penghasilannya (revenue) yang diterima sama dengan ongkosnya dan juga adanya keseimbagan dalam grafik break even dimana terdapat titik potong antara garis hasil penjualan dan jumlah biaya-biaya.

Menurut Mulyadi (1997 : 232) Break Even Point adalah suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Menurut Sofyan Syafri Harahap (1998 : 358) break even berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan, dimana total biaya (tetap dan variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak rugi. Menurut Bambang Rianto (1995 ; 360) Break even point adalah “ Volume penjualan dimana penghasilannya (revenue) tepat sama besarnya dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan keuntungan ataupun menderita kerugian. Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut

dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi. Menurut S.Munawir (2002 ; 458) titik break event atau tititk pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = biaya total). Menurut Rony (1990, p. 358) Analisa break even atau disebut Analisis titik impas merupakan sarana bagi manajemen untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.

Tujuan Break Even Point pada perusahaan adalah : a. Mengevaluasi tujuan laba dari perusahaan secara keseluruhan b. Menyajikan data-data biaya dan laba kepada top management c. Mengganti system laporan yang tebal-tebal dengan suatu grafik yang mudah dibaca dan dimengerti. Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan analisa break event adalah untuk mengetahui beberapa volume penjualan minimal yang harus dicapai pada tingkat harga tertentu agar supaya perusahaan tidak menderita rugi dan juga tidak memperoleh laba dengan demikian dapat diketahui pada tingkat penjualan tertentu diatas break event merupakan alat untuk perencanaan laba juga merupakan alat pelaporan yang baik bagi top manajemen. Manfaat Analisa Break Even Point : Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik impas atau analisis Break Even Point sangat bermanfaat bagi manajemen dalam menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda namun tetap berkaitan yaitu: a. Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan memperoleh laba. b. Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional. c. Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih. Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break even untuk manajemen, yaitu : a. Membantu pengendalian melalui anggaran. b. Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan. c. Menganalisa dampak perubahan volume. d. Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya. e. Merundingkan upah. f. Manganalisa bauran produk. g. Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan. h. Menganalisa margin of safety. Menurut Sigit (1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah : a. Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu. b. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan. c. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual. d. Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Kegunaan Break Even Point Menurut Sofyan Syafri Harahap,yaitu : 1. Hubungan antara penjualan biaya dan laba 2. Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan variable 3. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap 4. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi.

Terdapat dampak Perubahan faktor Break Even Point Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Manajemen (1993, 259): a. Suatu perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution margin dan impas. b. Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin dan impas. c. Angka laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan harga jual. d. Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak mempengaruhi laba kontribusi. e. Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama akan menyebabkan perubahan tajam terhadap impas. Kasus/contoh soal BEP

Elemen-elemen pada perhitungan Break Even Point :

1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali 2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic, biaya nota penjualan 3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Terdapat 2 rumus untuk menghitung Break Even Point,yaitu:

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point : Total Fixed Cost __________________________________ Harga jual per unit dikurangi variable cost Contoh Soal : Fixed Cost suatu toko sepatu : Rp.500.000,-

Variable cost Rp.10.000 / unit Harga jual Rp. 20.000 / unit Maka BEP per unitnya adalah Rp.500.000 __________ = 50 units 20.000 – 10.000 Artinya perusahaan perlu menjual 50 unit sepasang sepatu agar terjadi break even point. Pada pejualan unit ke 51, maka took itu mulai memperoleh keuntungan 2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP : Total Fixed Cost __________________________________ x Harga jual / unit Harga jual per unit dikurangi variable cost Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP adalah Rp.500.000 __________ x Rp.20.000 = Rp.1.000.000,20.000 – 10.000 Kesimpulan : Dari penjelasan tentang Break Even Point (BEP) diatas,dapat saya simpulkan bahwa BEP merupakan titik impas yang dimana dalam suatu perusahaan dalam kegiatan operasianalnya tidak mendapatkan untung maupun rugi atau sama dengan Nol.Karena apabila perusahaan di dalam kegiatan operasinya menggunakan biaya tetap dan pada volume penjualan hanya bisa menutup biaya tetap dan biaya variabel saja.Dengan Break Even Point ,manajer perusahaan dapat mengindikasikan tingkat penjualan yang disyaratkan agar tidak menderita kerugian, dan disarankan dapat mengambil langkah-langkahyang tepat untuk masa akan datang. Dengan mengetahui titik impas ini,manajer juga dapat mengetahui sasaran volume penjualan minimal yang harus diraih oleh perusahaan tersebut.

under → Uncategorized

ANALISA SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA
2012 March 20 Leave a comment

Posted by vivi_indahseptiyani

Modal KerjaPerusahaan membutuhkan modal kerja untuk membiayai operasi sehari-hari, misalnya untuk membeli bahan mentah, gaji pegawai, upah, dan lain sebagainya. Pada dasarnya setiap perusahaan akan selalu membutuhkan modal kerja dalam menjalankan seluruh kegiatan operasional didalam perusahaan tersebut.

Dana yang dikeluarkan (modal kerja) diharapkan oleh setiap penanam modal (investor) akan dapat kembali masuk ke dalam perusahaan dalam jangka waktu pendek atau dalam jangka waktu panjang. Dana yang telah dikeluarkan ini akan kembali ke dalam perusahaan melalui penjualan hasil produksinya (perusahaan dagang) atau jasa ditambah keuntungan yang maksimal. Modal kerja itu sendiri adalah sejumlah dana yang terikat dalam unsur-unsur aktiva lancar dan pada umumnya akan berputar dalam periode tertentu dan diharapkan akan kembali dalam periode tertentu juga. Adapun modal kerja yang cukup akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan seluruh kegiatan didalam perusahaannya, sehingga tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan operasi usaha dan menutupi seluruh pengeluaran atas biaya-biaya yang timbul karena adanya operasi usaha tersebut. Tetapi apabila modal kerjanya berlebihan maka akan mengakibatkan sebagian dana yang ada atau yang tersedia tidak produktif lagi. Apabila seperti ini terjadi maka akan mengurangi atau memperkecil kesempatan perusahaan tersebut untuk memperoleh laba yang maksimal Karena kelebihan modal kerja akan menimbulkan pemborosan, investasi-investasi pada cabang yang tidak diinginkan dan dapat mengalami kerugian dari bunga bank karena saldo bank yang tidak dipergunakan, apabila perusahaan tersebut mendapatkan modal kerja dengan jalan meminjam dari bank. Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimilki perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus disediakan untuk membiayai kegiatan operasi sehari-hari. ”Modal Kerja adalah suatu investasi perusahaan didalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), Piutang Dagang dan Persediaan”. (Houston & Brigham, 2006; 131). “Modal Kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap jangka pendek” (Djarwanto, 2005; 87). Dari kedua definisi di atas, menunjukan bahwa modal kerja adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan yang dipergunakan juga untuk operasi perusahaan tersebut. Di bawah ini diterangkan tiga konsep dasar atau definisi dari modal kerja menurut (S. Munawir, 2007, 114-116) yaitu a. Konsep Kuantitatif

Konsep ini menitikberatkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai kebutuhan operasional yang bersifat rutin atau menunjukkkan sejumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar (gross working capital). Dalam konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal kerja, apakah modal kerja dibiayai dari modal para pemilik, hutang jangka panjang maupun hutang jangka pendek, sehingga dengan modal yang besar tidak mencerminkan margin of safety para kreditur jangka pendek yang besar juga, bahkan modal kerja yang besar menurut konsep ini tidak menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas perusahaan yang bersangkutan. b Konsep Kualitatif Konsep ini menitikberatkan pada kualitas modal kerja dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka waktu pendek (net working capital), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun jumlah aktiva lancar dari para pemilik perusahaan. Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya jumlah aktiva lancar yang lebih besar daripada jumlah hutang lancarnya (hutang jangka pendek) dan menunjukkan pula margin of protection atau tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin aktiva lancarnya. c. Konsep Fungsional Konsep ini menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan, pada dasarnya dana-dana yang dimiliki oleh perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (current income), ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba di masa yang akan datang. Misalnya : Bangunan, mesin-mesin, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya. Dari aktiva tetap tersebut yang menjadi bagian dari modal kerja tahun ini adalah sebesar penyusutan (depresiasi) aktiva-aktiva tersebut. Untuk tahun ini sebagian aktiva lancar sebagian besar merupakan unsur modal kerja, walaupun seluruhnya, ada sebagian aktiva lancar yang bukan merupakan modal kerja misalnya dalam piutang dagang yang timbul dari penjualan barang dagangan secara kredit. Dalam piutang tersebut, terdiri dari dua unsur, yaitu harga pokok barang yang dijual dan laba yang didapat dari penjualan barang tersebut. Harga pokok dari barang yang dijual tersebut merupakan unsur modal kerja, sedangkan keuntungan yang didapat bukanlah merupakan unsur modal kerja, tetapi merupakan modal kerja yang potensial. (S. Munawir, 2007, 114-116)

Pentingnya Modal Kerja Lebih dari separuh dari total aktiva perusahaan merupakan aktiva lancar. Sebagian dari investasi yang besar dan mudah diuangkan, maka aktiva lancar memerlukan perhatian yang besar dan seksama dari manager keuangan. Karena bagaimanapun aktiva lancar mempunyai pengaruh yang besar dalam menjalankan bisnis. Modal kerja harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran operasi sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan juga akan memberikan beberapa keuntungan lain. Munawir dalam bukunya Analisa Laporan Keuamgan (2007:116-117), sebagai berikut: a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar. b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya. c. Menjamin dimilikinya kredit perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi. d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya. e. Memungkinkan bagi para pengusaha untuk memberi syarat kredit yang lebih menguntungkan bagi para pelanggannya. f. Memungkinkan bagi para perusahan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau pun jasa yang dibutuhkan. Macam-macam Modal Kerja Menurut Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan tahun 2001 sebagai berikut : a. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital) Yaitu modal kerja yang harus selalu ada pada perusahaan atau dengan kata lain jumlah modal kerja itu harus tetap ada agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan modal kerja tersebut secara terus menerus selalu diperlukan untuk kelancaran usaha dalam suatu periode akuntansi. Modal Kerja Permanen terbagi menjadi 2, yaitu: 1) Modal Kerja Primer (Primary Working Capital) Yaitu sejumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan kegiatan usahanya. 2) Modal Kerja Normal (Normal Working Capital) Yaitu sejumlah modal kerja yang digunakan untuk dapat menyelenggarakan luas produksi yang normal. Normal disini mempunyai pengertian yang fleksibel menurut kondisi perusahaannya. Apabila suatu perusahaan misalnya selama 4 atau 5 bulan rata-rata per bulannya mempunyai produksi 1000 unit. Apabila kemudian ternyata 4 atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata per bulannya 2000 unit, maka luas produksi normalnya disinipun berubah menjadi 2000 unit.

b. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital) Yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan perolehan keadaan dalam suatu periode. Modal Kerja ini dibagi menjadi 3 yaitu: !) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital) Modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan musim. 2) Modal Kerja Siklus (Cylical Working Capital) Yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi kontinyunitas produk. 3) Modal Kerja Darurta (Emergency Working Capital) Yaitu modal kerja yang besarnya brubah-ubah dan penyebabnya tidak diketahui sebelumnya

(misalnya kebakaran, banjir, gempa bumi, buruh mogok, huru-hara dan sebagainya) (Bambang Riyanto, 2001 : 61).

Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Sumber-sumber Modal Kerja Menurut Djarwanto (2005:95), pada umumnya sumber-sumber modal kerja berasal dari : a. Pendapatan Bersih Surat-surat berharga yang merupakan salah satu pos aktiva lancar dapat dijual dan dari penjualan tersebut akan timbul kentungan. Penjualansurat berharga ini akan menyebabkan perubahan pos aktiva lancar dari pos-pos “surat-surat berharga” menjadi pos kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan ini merupakan sumber dari modal kerja.

b. Penjualan Aktiva Tidak Lancar Hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan merupakan sumber lain yang menambah modal kerja. Perubahan aktiva tidak lancar tersebut menjadi kas akan menambah modal kerja sebanyak hasil bersih penjualan aktiva tidak lancar tersebut. c. Penjualan Saham atau Obligasi Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta pada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya. d. Dana Pinjaman dari Bank Dana pinjaman jangka pendek bagi perusahaan merupakan sumber penting dari aktiva lancarnya, terutama tambahan modal kerja yang diperlukan untuk membiayai kebutuhan modal kerja musiman siklus, darurat dan lain-lain e. Kredit dari suplier Material barang-barang, supplies dapat dibeli atau dengan wesel bayar. Apabila perusahaan kemudian dapat mengusahakan menjual barang dan menarik pembayaran piutang sebelum waktu hutang dilunasi, perusahaan tersebut memerlukan sejumlah kecil modal kerja. Sumber-sumber modal kerja dapat ditambah apabila : 1) Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan. 2) Adanya pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar. 3) Adanya penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotik atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.

Penggunaan Modal Kerja Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan. Penggunaan aktiva lancar yang dapat mengakibatkan menurunnya modal kerja, menurut (S. Munawir, 2007:125-127) adalah sebagai berikut a. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos perusahaan. b. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahan karena adanya penjualan surat berharga atau efek. c. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam

jangka panjang. d. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya. e. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang. f. Pengambilan uang atau barang dagang oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya (prive). Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan laporan sumber-sumber penggunaan dana dalam arti modal kerja adalah : a. Menyusun laporan modal kerja b. Mengelompokkan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current accounts antara 2 titik waktu tersebut, kedalam golongan yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang memperkecil modal kerja. c. Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan perubahannya merupakan efek memperbesar modal kerja dan golongan kerja yang memperkecil modal kerja. Berdasarkan informasi tersebut dapatlah disusun sumber-sumber dan penggunaan modal kerja. Pengukuran efektivitas modal kerja Di dalam mengadakan interprestasi, dan analisa efektifitas modal kerja suatu pekerjaan, seorang analisis keuangan memerlukan suatu ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan rasio adalah merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolute, untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan financial. Menurut Djarwanto (2005:146) macam-macam rasio dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisa, maupun pada dasarnya angka-angka rasio yang ada dapat digolongkan kedalam kedua kelompok yaitu : a. Rasio yang berdasarkan sumber data keuangan 1) Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio) Yang tergolong didalam kategori ini adalah semua rasio yang semua datanya diambil atau bersumber pada neraca, misalnya current ratio 2) Rasio-rasio laporan laba – rugi yang dalam penyusunan semua datanya diambil dari laporan laba – rugi, misalnya gross profit margin, net operating margin, operating ratio. 3) Rasio-rasio antar laporan (inter statement) Yaitu semua angka rasio yang penyusunan datanya berasal dari neraca dari data lainnya dari laporan laba – rugi, misalnya tingkat perputaran persediaan (inventory turn over), tingkat perputaran piutang (account receivable turnover), sales to inventory, sales to fixed asset. b. Angka-angka rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut 1) Rasio Likuiditas digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. 2) Rasio Leverage mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang serta menilai sampai sejauh mana sumber pembiayaan perusahaan berasal dari pinjaman. 3) Rasio Aktifitas mengevaluasi kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan harta yang dimilikinya. 4) Rasio Profitabilitas mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan.

Oleh karena itu berdasarkan tujuan dari penganalisaan dalam penulisan ini maka disini hanya akan diterangkan mengenai rasio profitabilitas. Ratio ini sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efektifitas modal kerja yang digunakan dalam perusahaan. Selain itu juga penting bagi kredit jangka panjang dan para pemegang saham yang ingin

mengetahui prospek pembayaran bunga dan deviden di masa yang akan datang. Untuk mengetahui semua itu perlu angka-angka rasio yang ada hubungannya dengan modal kerja, serta hasil yang ingin dicapai sebagai akibat dari penggunaan modal kerja tersebut. Rasio yang berhubungan erat dengan modal kerja dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan

Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja Modal kerja yang cukup memang sangat penting bagi perusahaan, tapi berapakah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : 1. Sifat umum atau tipe perusahaan mempunyai perbedaan kebutuhan modal kerja, misalnya antara perusahaan jasa dengan perusahaan industri ataupun perusahaan perdagangan. Perusahaan dalam bidang industri relatif membutuhkan modal kerja yang relatif besar dibandingkan dengan perusahaan di bidang jasa ataupun perdagangan, karena dalam produksi barang membutuhkan investasi bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi untuk menjamin seluruh kelancaran-kelancaran penjualan. Sedangkan pada perusahaan dagang kebutuhan modal kerja relatif kecil karena hanya memerlukan persediaan barang jadi. Sama halnya dengan perusahaan jasa yang hanya membutuhkan modal kerja relatif karena investasi yang diperlukan dalam persediaan dan investasi dalam piutang pencairannya untuk menjadi kas relatif cepat. 2. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang yang akan dijual serta harga per satuan dari barang tersebut. Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual maupun bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. makin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau untuk memperoleh barang tersebut makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Di samping itu harga beli per unit barang juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan, semakin besar harga beli per unit barang yang akan dijual akan semakin besar pula kebutuhan modal kerja. Jika syarat kredit diterima perusahaan pada waktu pembelian menguntungkan, berarti makin sedikit uang kas yang harus diivestasikan dalam persediaan bahan atau barang dagangan, demikian pula sebaliknya. Di samping itu modal kerja yang di pengaruhi oleh syarat penjual barang, dimana semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam sektor piutang. Dan untuk mengurangi kebutuhan modal kerja dan resiko piutang tak tertagih perusahaan biasanya memberikan potongan tunai.

3. Tingkat Perputaran Persediaan Tingkat perputaran persediaan (inventory turnover) menunjukkan bahwa berapa kali persedian tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka jumlah modal kerja yang diinvestasikan dalam persediaan akan semakin rendah. Semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan piutang. 4. Tingkat Perputaran Piutang Besarnya modal kerja yang dibutuhkan juga tergantung dari lamanya waktu yang diperlukan untuk menjadikan piutang menjadi uang kas. Waktu penarikan yang lebih singkat akan

memperkecil modal kerja yang ditanamkan pada piutang tersebut. 5. Pengaruh Konjungtor Pada periode makmur aktifitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang-barang yang lebih banyak karena harga yang masih rendah. Dengan meningkatnya persediaan maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak. Tetapi pada periode depresi, perusahaan berusaha secepatnya menjual barang-barangnya dan menagih pembayaran atas piutang-piutangnya kemudian uang yang diperoleh dimanfaatkan untuk membeli surat-surat berharga, melunasi hutang-hutang atau menutup kerugian. 6. Derajat risiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek Resiko kerugian yang semakin besar sebagai akibat menurunnya nilai dibandingkan dengan harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang dan piutang akan menyebabkan semakin besar pula jumlah modal kerja yang dibutuhkan untuk membayar harga dan melunasi hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang yang sudah jatuh tempo. 7. Pengaruh Musim Perusahaan yang penjualannya dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah modal kerja yang maksimum untuk periode relatif pendek. Modal kerja dalam bentuk persedian barang berangsurangsur meningkat dalam bulan-bulan menjelaskan puncak penjualannya. 8. Kredit Rating dari Perusahaan Jumlah modal kerja baik kas maupun surat-surat berharga yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas. Penyediaan uang kas ini tergantung pada empat hal yaitu: a. Credit ranting dari suatu perusahaan (yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam meminjam uang untuk keperluan kas dalam jangka pendek). b. Perputaran persediaan c. Perputaran Piutang d. Kesempatan memperoleh potongan harga dalam pembelian under → Uncategorized

Flowchart mengenai aliran Kas pada Perusahaan Manufaktur
2012 March 13 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

under → Uncategorized

Estimasi Budget Kas
2012 March 13

Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Beberapa pendapat tentang pengertian cash budget : Bambang Riyanto (1996 : 97) menyatakan bahwa cash budget adalah estimasi terhadap posisi kas untuk periode tertentu yang akan datang. Sedangkan menurut Erich a. Helfert (1997 : 128 ) menyatakan bahwa anggaran kas adalah sarana perencanaan bulan demi bulan atau minggu demi minggu yang sangat spesifik, biasanya disusun oleh staf keuangan suatu perusahaan. M. Munandar (2001 : 311) mengemukakan bahwa cash budget adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang jumlah kas beserta perubahan-perubahannya dari waktu kewaktu selama periode yang akan dating, baik perubahan yang berupa pengeluaran kas, maupun yang berupa penerimaan kas. Kesimpulan dari pernyataan diatas bahwa cash budget adalah suatu perencanaan yang menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas untuk mengetahui kapan akan terjadi surplus dan deficit untuk suatu periode yang akan datang. Budget kas adalah prediksi posisi kas untuk periode tertentu di masa mendatang. Aliran kas masuk yang bersifat kontinyu dapat berasal dari hasil penjualan produk secara tunai dan hasil pelunasan piutang. Sedangkan aliran kas masuk yang bersifat tidak kontinyu dapat berasal dari penyertaan pemilik perusahaan, penjualan saham, penerimaan kredit bank, dan penjualan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai lagi. Penyusunan budget kas bagi sebuah perusahaan sangatlah penting demi likuiditas. Dengan budget kas akan diketahui kapan perusahaan akan dalam keadaan defisit maupun surplus karena operasinya. Dari prediksi hendak defisit maka perencanaan penutupan defisitnya dapat direncanakan dan dari prediksi surplus maka perencanaan penggunaannya juga direncanakan secara efektif dan efisien. Berpijak dari untuk apa, terasa bagaimana menyusun badget kas adalah mesti disuratkan. Budget kas disusun melalui beberapa tahapan. Tahap pertama, memprediksi penerimaan dan pengeluaran berbasis rencana operasional perusahaan. Tahap kedua, menyusun proyeksi kebutuhan dana atau kredit untuk menutup defisit kas juga disusun proyeksi pembayaran bunga. Transaksi-transaksi pada tahap ini merupakan transaksi finansiil sedangkan pada tahap pertama tidak lain transaksi operasi. Tahap terakhir, proyeksi penerimaan dan pengeluaran pun kembali disusun sehingga menjadi sebuah budget kas yang final condition. Atau dengan kata lain budget kas sebagai kombinasi transaksi operasi dan transaksi finansiil yang mendeskripsikan prediksi penerimaan, pengeluaran kas secara keseluruhan. under → Uncategorized

Analisa Sumber & Penggunaan Kas
2012 March 13

Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Laporan Sumber dan Penggunaan Kas dibuat untuk mengetahui adanya perubahan kas selama satu periode dan memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut. Laporan sumber dan penggunaan kas ini menunjukkan aliran kas atau pergerakan kas (cash flow) yaitu sumbersumber peneriman dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan. Laporan sumber dan penggunaan kas bisa digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas dimasa yang akan datang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada. Cash flow statement mempunyai tujuan,yaitu :
  

Memperlihatkan adanya perubahan kas selama satu periode Menganalisa sumber kas dalam satu periode Menganalisa penggunaan kas selama satu periode

Sumber Penerimaan Kas Kas merupakan unsur modal kerja yang paling tinggi likwiditasnya. Kas mempunyai beberapa sumber,yaitu:
    

Dikeluarkannyasurattanda bukti hutang,seperti :wesel&obligasi. Berkurangnya aktiva lancer selain kas dengan adanya penerimaan kas. Hasil penjualan investasi jangka panjang. Adanya penerimaan kas karena sewa , bunga atau devuden dari investasinya, sumbangan, hadiah dan restitusi pajak. Penjualan, emisis saham atau adanya tambahan modal dari pemilik dalam bentuk kas.

Subyek laporan perubahan kas adalah sumber dan penggunaan kas, sedangkan subyek laporan laba rugi adalah penghasilan yang di realisasi atau diperoleh dan biaya yang terjadi tanpa memperhatikan apakah penghasilan itu sudah diterima uangnya atau belum dan apakah biayabiayanya sudah dibayar atau belum (accrualbasis).Dasar yang dipakai dalam menyusun laporan laba rugi adalah cash basis atau tunai, dimana penghasilan baru diakui kalau sudah diterima uangnya dan biaya diakui kalau sudah dibayar tunai per kas, dalam hal ini laporan laba rugi menunjukkan sumber kas yang berasal dari operasi. Tetapi perlu diperhatikan bahwa sumber kas tidak hanya dari operasi tetapi masih banyak sumber penerimaan kas lainnya, begitu pula penggunaannya tidak hanya untuk membiayai operasi. Terdapat 2 sumber utama penerimaan kas yaitu :

Yang disedia

Terdapat 2 sumber utama penerimaan kas yaitu :

Yang disediakan secara internal Adalah jumlah laba bersih yang terdapat dalam perhitungan laporan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Jumlaj ini menunjukkanjumlah dana yang berasal dari dana hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa perhitungan rugi laba perusahaan. Yang disediakan oleh sumber eksternal Adapun sumber yang disediakan secara eksternal antara lain meliputi sebagai berikut : · 1. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka panjang)Suratberharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek (Marketable security atau efek) adalah salah satu elemen aktiva jangka pendek yang dapat dijual dan akan dapat menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualansuratberharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuksuratberharga berubah menjadi uang kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualansuratberharga ini merupakan suatu sumber dana bagi perusahaan. 2. Penjualan aktiva tidak lancar Sumber lain yang dapat menambah dana adalah hasil penjualan aktiva tetap dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan aktiva tetap menjadi kas akan menyebabkan bertambahnya dan sebesar hasil penjualan tersebut. Apabila dari hasil penjualan aktiva tetap atau aktiva tidak lancar lainnya ini tidak segera digunakan untuk mengganti aktiva bersangkutanakan mengakibatkan aktiva lancar sedemikian besarnya sehingga melebihi jumlah dana yang dibutuhkan. · Penjualan saham atau obligasi Untuk menambah dana yang dibutuhkan perusahaan dapat mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan dananya. Penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap. Oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar) disamping menimbulkan beban bunga yang besar, juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah dana yang dibutuhkan.

Penggunaan Kas Laporan sumber dan penggunaan kas mempunyai sifat atau skopenya lebih luas daripada laporan laba rugi baik yang penyusunannya berdasarkan cash basis maupun accrual basis. Transaksi yang yang menyebabkan adanya penggunaan dan pengeluaran kas,yaitu: 1). Penggunaan kas a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang. b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengambilan (prive) oleh pemilik. c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang d. Pembelian barang dagangan secara tunai. e. Pembayaran biaya operasi perusahaan. f. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pajak, denda dsb.

2). Transaksi yang tidak mempengaruhi kas a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi terhadap aktiva tetap, intangible asset dan dan wasting asset. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas. b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang maupun tidak dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan tidak dapat ditagih. c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki karena aktiva ybs telah habis disusutkan atau sudah tidak dapat dipakai lagi. d. Adanya pembayaran stock deviden, adanya penyisihan atau pembatasan pengguanaan laba dan adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan. e. Terhadap trasnsaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi kas tersebut harus dilakukan jurnal penyesuaian (adjustment dan reversal ) Manfaat Laporan Sumber dan Penggunaan Kas Laporan sumber dan penggunaan kas ini digunakan sebagai dasar dalam merencanakan kebutuhan kas di masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau jg digunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa yang akan datang. Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan cash flow ini akan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau mengembalikan pinjamannya. Selain itu kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan. Karena kas merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya, sehingga semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. under → Uncategorized

Softskill sistemn informasi manajemen
2011 December 30 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

MOTIVASI Jangan pernah menoleh lagi kebelakang Melangkah maju ke depan.. Jadikan semua pelajaran hidup Bukan penyesalan… Semoga semua pengorbanan Menciptakan

Senyum kebahagiaan Senyum yang indah Untukku,kamu Dan semua… AMIEN.. under → Uncategorized

Softskill sistem informasi manajemen
2011 December 30 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

INDAH PADA WAKTUNYA

Aku belajar untuk tidak Mendapatkannya sekarang Karna aku mau menunggu Sampai apa Yang kuingini itu Benar – benar menjadi Yang terbaik untukku Karena ku yakin… Semua akan indah Pada waktunya Amien… under → Uncategorized

Softskill sistem informasi manajemen
2011 December 30 Leave a comment Posted by vivi_indahseptiyani

Rindu

Perasaan amat sangat Rindu pada dirimu selalu Menerpa kehidupan cintaku Bagaimana tidak kau selalu Hadir disetiap hari – hariku Dimana saat hatiku mulai Merasakan sepi,gelisah Dan amat sangat takut Tapi… Kau memang amat Sangat special dihatiku Dimana.. Hati itu adalah Tempat yang memangku Persembahkan hanya Untuk orang – orang yang Benar – benar mencintaiku Apa adanya…

Analisa Rekening Koran

Analisa Rekening Koran
Analisa untuk memeriksa kebenaran atas data-data yang diberikan nasabah dan menilai kemampuan nasabah dalam melakukan aktivitasnya dalam berhubungan dengan bank atau aktivitas usahanya. NOTES : Untuk teman2 (KHUSUS) Perbankan yang membutuhkan Program Analisa Rekening Koran, Silahkan Contact Saya… Hanya sayang Programnya masih menggunakan Visual Basic… Saya merencanakan membuat dalam MySQL.. jika ada yang bisa bantu kita bisa bekerja sama…. Tujuan a. Dapat mengetahui kondisi usaha/keuangan debitur b. Dapat melakukan cross checking terhadap hasil interview dengan calon peminjam / debitur c. Sebagai salah satu penilaian character checking nasabah d. Dapat mengetahui potensi nasabah, apakah : - Dikembangkan untuk nasabah kredit atau nasabah dana - Dipertahankan atau diarahkan ke bank lain - Take over dari bank lain Sumber Informasi a. R/K pada bank sendiri atau bank lain b. Rekening Tabungan / Deposito / LC pada bank sendiri / bank lain c. Informasi dari BI / Bank Lain atau nasabah lain d. Buku transaksi pembelian dan penjualan barang yang ada di nasabah e. Appraisal / Investigation f. Market / Industri Info Hal-hal yang harus diperhatikan a. Kenali Usaha nasabah dengan baik b.Tentukan Peak / Low Season c.Relasi Debitur d.Analisa Keuangan e.Analisa Loyalitas f.Analisa Kondisi Usaha g. Analisa Pemakaian Fasilitas h.Analisa Kemungkinan Kredit Macet (Rincian lengkap dari penjelasan ini dapat ditanya via emailha12yadi@gmail.com…. konsultasi gratis) Prosedur Analisa Rekening Koran Pokok Bahasan : a. Jenis Transaksi a.1. Transaksi Debet - Penarikan Tunai - Penarikan Kliring - Penarikan Warkat Sendiri - Transfer Keluar

- Provisi - Tolakan Kliring Masuk - Biaya Administrasi - Bunga - Nota Debet Angsuran - Nota Debet Lain-lain a.2. Transaksi Kredit - Setoran Tunai - Setoran Kliring - Setoran Warkat Sendiri - Transfer Masuk - Inkaso - Tolakan Kliring Keluar - Jasa/Bunga Bank - Nota Kredit Fasilitas Bank - Nota Kredit Lain-lain b. Hari Aktivitas b.1. Hari Aktivitas Debet b.2. Hari Aktivitas Kredit b.3. Hari Aktivitas Mutasi Secara umum Hari Aktivitas dibagi 5, yaitu : 1. Sangat Aktif (SA) : 23 27 hari 2. Aktif (A) : 15 22 hari 3. Cukup Aktif (CA) : 10 14 hari 4. Kurang Aktif (KA) : 5 9 hari 5. Tidak Aktif : 0 4 hari c. Jumlah Aktivitas c.1. Jumlah Aktivitas Debet c.2. Jumlah Aktivitas Kredit d. Total Mutasi d.1. Total Mutasi Debet d.2. Total Mutasi Kredit e. Saldo e.1. Saldo Akhir - Saldo Debet - Saldo Kredit e.2. Saldo Rata-rata - Saldo Rata-rata Debet - Saldo Rata-rata Kredit e.3. Saldo Terendah - Saldo Terendah Debet - Saldo Terendah Kredit e.4. Saldo Tertinggi - Saldo Tertinggi Debet - Saldo Tertinggi Kredit (Red…

Mohon maaf saya tidak bisa menggambarkan arus dan contoh format Laporan Analisa Rekening Koran dalam Blog ini… Untuk rincian detail serta alur proses analisa rekening koran, teman2 dapat menanyakan langsung ke saya melalui email ke ha12yadi@gmail.com atau add ke facebook H. Haryadi Bargowo)
Analisa Pemberian Kredit

Kredit atau pinjaman merupakan salah satu bentuk penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan peminjam untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

I. Source yang digunakan untuk mendapatkan nasabah yang akan ditawarkan kredit dapat melalui : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Cross Selling / Existing Customer Referensi Yellow page , B2B, Internet Relationship / Database Koran Kanvasing, atau juga Data list supplier

II. Lending Product & Documents Klasifikasi fasilitas kredit :

1.

Berdasarkan tujuan penggunaan :

a. Direct Facility / Direct Loan; Pinjaman yang diberikan bank kepada debitur langsung dalam pencairan uang (cash), dapat berupa:

1. Kredit modal kerja :  Pinjaman Rekening Koran (PRK) adalah kredit modal kerja yang bersifat revolving jangka pendek dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank, mempergunakan Cek/Bilyet Giro.

Spesifikasi:
      

Bersifat revolving Penarikan dan penyetoran dapat dilakukan setiap saat. Penarikan kredit dilakukan dengan warkat (Cek/BG, warkat pemindahbukuan lainnya). Perhitungan bunga secara efektif yang dihitung dari saldo debet harian. Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating). Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing. Berjangka waktu pendek (maksimum 1 tahun), namun dapat diperpanjang setelah jatuh temp

Demand loan adalah kredit modal kerja yang bersifat revolving jangka pendek dimana penarikannya dapat dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank dengan memakai Surat Aksep. Spesikasi

       

Bersifat revolving Penarikannya melalui konfirmasi terlebih dahulu. Setiap penarikan menggunakan Surat Aksep. Debitur harus memiliki rekening relasi (Giro atau Tabungan). Perhitungan bunga secara efektif yang dihitung dari saldo debet harian. Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating). Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing. Berjangka waktu pendek (maksimum 1 tahun), namun dapat diperpanjang setelah jatuh tempo.

Tujuan
o Untuk pembiayaan modal kerja yang sifatnya rutin bulanan atau hanya beberapa kali sebulan, misalnya

untuk pembelian bahan baku, barang dagangan yang sudah tetap per bulannya (dapat diprediksi baik minimal kuantitas maupun waktunya).
o Untuk pembiayaaan modal kerja yang sifatnya usaha musiman.

o Untuk pembiayaan proyek tertentu, yang mana biasanya ditambahkan syarat tertentu sebagai alat

penarikan dan kontrol pelunasannya, misalnya SPK, DO, dll.

2. Kredit Investasi adalah pinjaman non revolving yang digunakan untuk membiayai investasi aktiva tetap. Pengembaliannya dilakukan secara bertahap dengan jumlah cicilan yang tetap per bulan.

Spesifikasi
   

Bersifat non revolving. Penarikan dapat dilakukan sekaligus maupun bertahap. Jangka waktu penarikan maksimal 12 bulan untuk penarikan bertahap. Setelah penarikan mencapai 100% dari total fasilitas, pinjaman harus langsung dicicil pada bulan berikutnya, kecuali jika diberikan Grace Period. Setiap penarikan harus menggunakan Surat Aksep. Besarnya cicilan perbulannya tetap, ternasuk bunga (pokok + bunga). Nasabah harus memiliki rekening relasi (Giro atau Tabungan). Perhitungan bunga secara Flat / anuitas in Arrear. Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating). Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing.. Berjangka waktu pendek, menengah dan panjang.

      

Tujuan Penggunaan, untuk pembiayaan Aktiva Tetap (investasi), seperti pembelian alat – alat / mesin produksi, pembangunan pabrik, dll.

b.

Indirect Facility / Indirect Loan : Fasilitas yang mengandung suatu komitmen / kesanggupan dari bank untuk melakukan suatu pembayaran di kemudian hari. Fasilitas yang bersifat kontinjen / komitmen disebut juga ‘Off Balance Sheet Items’ yang dibukukan di rekening administrative.

Macam-macam Indirect Loan :

1. Letter of Credit (L/C) adalah suatu surat pernyataan yang dikeluarkan oleh issuing bank atas permintaan pembeli/importir yang ditujukan kepada penjual/eksportir/beneficiary melalui advising/confirming bank dengan menyatakan bahwa issuing bank akan membayar sejumlah uang tertentu apabila syarat-syarat yang ditetapkan dalam L/C tersebut dipenuhi.

Beberapa bentuk atau jenis dari Letter Of Credit, yaitu :

Revocable Letter Of Credit adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu kepada beneficiary. Dari ketentuan tersebut menunjukan bahwa suatu L/C yang dapat ditarik kembali atau dibatalkan tidak menciptakan suatu ikatan hukum antara pihak bank dan beneficiary. Sebenarnya bentuk revocable ini kurang tepat apabila disebut L/C karena tidak mengandung jaminan bahwa wesel-weselnya akan dibayar ketika diajukan, mengingat pembatalan mungkin telah terjadi tanpa pemberitahuan kepada beneficiary. Oleh karena itu bentuk L/C yang demikian kurang disukai oleh penjual dan jarang dipergunakan.

Irevocable Letter Of Credit adalah suatu L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan semua pihak baik pembeli, penjual, maupun pihak bank yang bersangkutan. Selama jangka waktu berlakunya yang ditentukan dalam L/C, issuing bank tetap menjamin untuk membayar, mengaksep, atau menegosiasi wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut asalkan syarat-syarat dan kondisi yang ditetapkan didalamnya terpenuhi.

Confirmed Irrevocable Letter Of Credit; Sebagaimana diketahui sifat khusus suatu L/C adalah credit standing bank itu ditambahkan pada kredit standing pembeli dalam L/C yang bersangkutan. Namun demikian dapat terjadi kredit standing daripada issuing bank tidak memuaskan bagi pihak penjual, hal ini timbul apabila misalnya issuing bank hanya suatu bank lokal tanpa mempunyai reputasi internasional sehingga pihak penjual memandang perlu untuk meminta jaminan kepada advising bank. Dalam hal ini penjual akan mengajukan permohonan agar dibuka suatu confirmed L/C.

Transferable Letter Of Credit adalah suatu kredit yang memberikan hak kepada beneficiary untuk meminta kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan pembayaran atau akseptasi atau kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit itu seluruhnya atau sebagian kepada satu pihak ketiga atau lebih.

Back To Back Letter Of Credit; ini dipakai dalam keadaan seperti halnya pada transferable L/C yakni, suatu transaksi dagang yang dilakukan dengan melalui pedagang perantara atau dalam keadaan dimana hubungan langsung antara pembeli dan supplier tidak dimungkinkan oleh peraturan-peraturan negara yang bersangkutan. Walaupun ada persamaan demikian tetapi tidak berarti bahwa ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap transferable L/C seluruhnya berlaku juga bagi back to back L/C.

Red Clause Letter Of Credit adalah suatu klausula yang memuat makna anti cipatory yaitu menyangkut sesuatu hal yang sifatnya didahulukan. Adapun yang didahulukan disini adalah pembayaran atas L/C oleh bank yang dilakukan sebelum dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan. Atas dasar inilah maka red clause L/C termasuk dalam golongan yang disebut anti cipatory credit.

Green Ink Clause Letter Of Credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni juga memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barang-barang dilakukan.

Revolving Letter Of Credit; dalam suatu kegiatan perdagangan luar negeri antara penjual dan pembeli sering terjadi serentetan transaksi secara kontinyu dan teratur baik waktu maupun jumlah. Adapun cara pembayarannya dapat dilakukan dengan pembukaan L/C seperti yang telah diutarakan di atas untuk masing-masing transaksi.

Stand By Letter Of Credit; suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai “stand by” oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk membayar pinjaman atau memenuhi pinjaman lain bank yang bersangkutan akan membayar kepada beneficary atas penyerahan selembar sight draft dan surat pernyataan dari beneficiary, yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang disetujui, membayar pinjaman atau memenuhi kewajiban lain itu.

Letter of Credit (L/C) dibagi menjadi beberapa jenis menurut jangka waktu pembayaran, yaitu:

Sight L/C

Sight Letter of Credit adalah jenis L/C yang pembayarannya dapat langsung ditagihkan ke bank pembayar (negotiating bank) begitu setelah barang dikirim. Pembayaran akan dilakukan oleh negotiating bank bila seluruh dokumen “complied with”, seluruhnya sesuai dengan syarat dan kondisi yang tertulis pada L/C, tidak ada dekrepensi (tidak ada penyimpangan).

Contoh penyimpangan yang umum terjadi:
  

Late shipment Dokumen tidak lengkap Jumlah barang tidak sesuai, dan lain-lain

Usance L/C

Usance Letter of Credit adalah jenis L/C yang pembayarannya sesuai jatuh temponya,maksimal 180 hari. Jadi Usance L/C tidak dapat langsung ditagihkan ke negotiating bank tetapi harus menunggu jatuh temponya.

Usance L/C sebenarnya merupakan jangka waktu kredit yang diberikan penjual kepada pembeli,sehingga pembeli tidak perlu membayar tunai langsung (via bank).

Upas (Usance Payable At Sight); Upas L/C Adalah Letter of Credit yang membayarannya kepada supplier secara tunai (at sight) tetapi pembeli membayar kepada bank secara kredit/berjangka.

Trust Receipt (TR)

Trust Receipt adalah Fasilitas kredit modal kerja yang diberikan kepada debitur importir untuk pembayaran atau pelunasan L/C Sight

2. Bank Garansi adalah jaminan pembayaran dari Bank yang diberikan kepada pihak penerima jaminan (bisa perorangan maupun perusahaan dan biasa disebut Beneficiary) apabila pihak yang dijamin (biasanya nasabah bank penerbit dan disebut Applicant) tidak dapat memenuhi kewajiban atau cidera janji (Wanbetaling). Jadi artinya bank menjamin nasabahnya (si terjamin/Applicant) memenuhi suatu kewajiban kepada pihak lain sesuai. dengan persetujuan atau berdasarkan suatu kontrak perjanjian yang disepaka Dasar hukum Bank Garansi, adalah perjanjian penanggungan (borgtocht) yang diatur dalam KUH Perdata pasal 1820 s/d 1850.Untuk menjamin kelangsungan Bank Garansi, maka penanggung mempunyai “Hak istimewa “ yang diberikan undang-undang, yaitu untuk memilih salah satu pasal ; menggunakan pasal 1831 KUH Perdata atau pasal 1832 KUH Perdata.

-

Pasal 1831 KUH Perdata: Si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selain jika si berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini harus lebih dulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya.

-

Sedangkan pasal 1832 KUH Perdata berbunyi: Si penanggung tidak dapat menuntut supaya bendabenda si berutang lebih dulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya. Perbedaan dari kedua pasal tersebut adalah bahwa jika Bank menggunakan pasal 1831 KUH Perdata, apabila timbul cidera janji, si penjamin dapat meminta benda-benda si berhutang disita dan dijual terlebih dahulu. Sedangkan jika menggunakan pasal 1832 KUH Perdata, Bank wajib membayar Garansi Bank yang bersangkutan segera setelah timbul cidera janji dan menerima tuntutan pemenuhan kewajiban (klaim).

Jenis-jenis Bank Garansi · Bank Garansi untuk Tender (Bid Bond/Tender Bond) · Bank Garansi untuk Penerimaan Uang Muka Kerja (Advance Payment Bond) · Bank Garansi untuk Pelaksanaan Pekerjaan (Performance Bond) · Bank Garansi untuk Pemeliharaan (Retention Bond) · Bank Garansi kepada Maskapai Pelayaran (Shipping Guarantee) · Bank Garansi untuk Pita Cukai Tembakau · Bank Garansi untuk Perdagangan (Agen, Dealer) · Bank Garansi untuk Penangguhan Bea Masuk · Bank Garansi untuk Pembelian Aktiva Tetap · Bank Garansi kepada Departemen Pertambangan dan Energi · Bank Garansi untuk menjamin Pemberi Kredit · Bank Garansi untuk Pembelian/Pengadaan Bahan Baku

2. Berdasarkan jenis segmentasi (Usaha Mikro / Usaha Kecil / Usaha Menengah / Komersial / Korporasi) 3. 4. Berdasarkan jenis jaminan (Secured loans / Unsecured loans), dan Berdasarkan jangka waktunya (Kredit jangka pendek / Kredit jangka panjang)

Klasifikasi fasilitas kredit lainnya : a. Cerukan (Overdraft) yaitu saldo negatif pada rekeing giro nasabah yang tidak dapat dibayar lunas pada akhir hari

b. Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang c. Pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain

Dokumen jaminan dan pengikatan kredit dan jaminan

Jenis Jaminan General

Dokumen Jaminan

Dokumen Pengikatan Kredit dan Jaminan 1. Perjanjian kredit (PK) atau perjanian perpanjangan kredit (PPK) atau perjanjian perubahan Kredit 2. Personal Guarantee 3. Corporate Guarantee 4. Fidusia klaim asuransi 5. Covernote notaries atas pengikatan kredit dan pengikatan agunan 1. APHT (Akta Pembebanan Hak Tanggungan) 2. Sertifikat Hak Tanggungan

Asli polis asuransi kerugian / kebakaran (boleh copy untuk apartemen / kios yang dilegalisir dan ditandatangani oleh perhimpuan penghuni / developer

Tanah dan 1. Asli SHM / SHGB / SHMASRS atau (Surat Hak Milik Atas Satuan Rumah bangunan Susun) 2. Asli AJB terakhir atau akte pengalihan hak lainnya misalnya akte hibah 3. Asli / Copy Advis Planning (jika disarankan petugas taksasi atau disyaratkan oleh komite kredit) 4. Asli / Copy PBB tahun terakhir 5. Asli / Copy IMB yang dilegalisir oleh dinas tata kota atau developer / notaries yang ditunjuk oleh developer. Kendaraan 1. Asli BPKB atau covernote dari 1. Akta fidusia Bermotor Authorized Dealer kendaraan bermotor

2. Asli Faktur 3. Copy KTP pemilik terakhir BPKP dan STNK (untuk mobil bekas) 4. Gesekan nomor mesin dan rangka (untuk mobil bekas) 5. Berita acara serah terima kendaraan 6. Bukti cek keaslian BPKB 7. Surat pemblokiran BPKB Kapal Laut a. Dokumen untuk proses balik nama kapal 1. Asli bukti kepemilikan 2. Copy surat ukur yang dilegalisir oleh syahbandar atau notaries 3. Surat keterangan penghapusan dari daftar kapal yang diterbitkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan (Kapal impor) 4. Asli Grosse akta pendaftaran atau asli grosse akta balik nama b. Dokumen untuk proses pendaftaran hipotek (salah satu hak kebendaan sebagai jaminan pelunasan hutang) 1. Asli grosse akta pendaftaran atau asli grosse akta balik nama 2. Copy surat ukur yang dilegalisir oleh syahbandar atau notaries 3. Copy surat tanda kebangsaan kapal yang dilegalisir oleh syahbandar atau notaris Mesin / 1. Asli faktur dan kwitansi Peralatan pembelian (untuk mesin yang menjadi jaminan utama) 2. Daftar mesin 3. Berita acara serah terima mesin Persediaan Daftar stok barang barang Piutang dagang Daftar piutang dagang

2. Sertifikat Fidusia

1. Surat kuasa penghadap yang mewakili bank selaku penerima hipotek kapal 2. Surat kuasa memasang hipotek 3. Akta hipotek kapal laut

1. Fidusia mesin dan atau peralatan 2. Sertifikat fidusia

1. Fidusia persediaan / stok barang 2. Sertifikat fidusia 1. Fidusia piutang 2. Sertifikat fidusia

Deposito

Asli bilyet deposito

Gadai deposito surat kuasa deposito

dan cair

SBLC

Saham

Resi gudang

1. Asli SBLC 2. Surat konfirmasi dari divisi internasional 1. Asli warkat saham 2. Surat dari badan administrasi Efek atau KSEI yang menyatakan bahwa saham yang diagunkan telah dicatat / diblokir sebagai saham dalam gadai Asli resi gudang

Gadai / Fidusia saham dan surat kuasa jual saham

Hak jaminan atas resi gudang

Dalam memberikan kredit kepada calon debitur dilakukan berdasarkan analisa kelayakan pemberian kredit, yaitu dengan memperkirakan kemampuan calon debitur dalam mengelola usahanya, apakah debitur mampu membayar kewajibannya setelah kredit itu diberikan, yaitu bunga atau pun dan pokok pinjaman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisa struktur dan kebutuhan kredit bagi calon debitur, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis kredit yang dibutuhkan Jumlah yang diinginkan dan yang dapat diberikan Jangka waktu pinjaman (tenor) dan jadwal pembayaran Cara pengembalian pinjaman Jaminan (agunan) Kelayakan usaha dan persyaratan lainnya (profil resiko debitur). Tujuan

kredit

Hasil analisa diatas dapat diberikan rekomendasi struktur dan kebutuhan kredit yang sesuai bagi calon debitur. Setelah menentukan struktur dan fasilitas kredit yang akan diberikan kepada calon debitur, AO dapat melakukan analisa Pemberian Kredit. Analisa pemberian kredit mencakup analisa resiko-resiko yang mungkin timbul dari setiap pemberian kredit yang berkaitan dengan kemampuan (ability) dan kemauan (willingness) debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan yang telah disepakati, sehingga perlu dibuat mitigasi yang tepat untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut.

Analisa Perusahaan Dalam melakukan analisis kredit ada dua tahap yang akan dilakukan yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

Dalam melakukan analisis kualitatif ada beberapa metode yang dapat digunakan anatara lain: a. Analisis kredit berdasarkan prinsip 5 C b. Analisis kredit berdasarkan prinsip 7P c. Analisis aspek yuridis (hukum). d. Analisis aspek pasar dan pemasaran e. Analisis aspek manajemen f. Analisis Aspek Teknis/ Operasi g. Analisis Aspek Sosial Ekonomi h. Analisis Aspek Amdal

Penilaian dengan analisis 5C : 1. Character : Sifat atau watak calon debitur dapat dilihat dari latar belakang si nasabah. Dari sifat dan watak dapat dijadikan suatu ukuran tentang kemauan nasabah untuk membayar. 2. Capacity : Adalah analisis untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam membayar kredit. Dari penilaian ini terlihat kemampuan nasabah dalam mengelola bisnis. 3. Capital : Untuk melihat penggunaan modal efektif ataukah tidak dapat dilihat dari laporan keuangan yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas. 4. Condition : Hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial dan politik yang ada sekarang dan prediksi yang akan datang sehingga kemungkinan kredit tersebut bemasalah relatif kecil. 5. Collateral : Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan.

Penilaian dengan analisis 7P : 1. Personality : Menilai nasabah dari segi kepribadiannya juga tindakan dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. 2. Party : Mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu . 3. Purpose : Untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah. 4. Prospect : Menilai usaha nasabah di masa akan datang menguntungkan atau tidak. 5. Payment : Ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. 6. Profitability : Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. 7. Protection :

Bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan mendapatkan jaminan perlindungan sehingga kredit yang diberikan benar-benar aman.

Aspek Yuridis/Hukum; yang dinilai adalah masalah legalitas badan usaha serta izin-izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan kredit.

Aspek Pasar dan Pemasaran; dalam aspek ini beberapa hal yang diperhatikan adalah: - Pasar dan jenis (pasar konsumen, industri, reseller) - Analisis penawaran dan permintaan produk - Tren perkembangan permintaan produk

Aspek Teknis/ Operasi : aspek yang membahas masalah berkaitan dengan produksi, lokasi dan layout.

Aspek Manajemen; untuk menilai struktur organisasi perusahaan, SDM yang dimiliki serta latar belakang pendidikan dan pengalaman SDMnya. Serta pengalaman perusahaan mengelola proyek yang ada. Aspek Sosial Ekonomi; Menganalisis dampaknya yang timbul akibat adanya proyek terhadap perekonomian masyarakat dan sosial masyarakat seperti mengurangi pengangguran.

Aspek Amdal; analisis ini dilakukan secara mendalam sebelum kredit disalurkan sehingga proyek yang dibiayai tidak akan mengalami pencemaran lingkungan sekitarnya

Analisis rasio keuangan bertujuan untuk : 1. 2. 3. Untuk mengetahui lebih dalam perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan. Untuk mengetahui cara pengelolaan dana perusahaan. Untuk mengetahui perubahan dan perkembangan masing-masing pos dalam Neraca dan Laporan laba rugi.

Adapun rasio-rasio keuangan tersebut adalah sebagai berikut (Dendawijaya, 2005 : 127-256):

1. Rasio Likuiditas : Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio likuditas dalam analisis kredit terdiri atas : a. Rasio lancar (current ratio) Current ratio = Akitva lancar (current assets) / Utang lancar (current liabilities) b. Rasio cepat (quick ratio) Quick ratio = (current assets – inventory) / current liabilities c. Rasio NWC (net working capital) Net working capital = inventory / (current asset – current liabilities)

2. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) : Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai dengan utang. Rasio solvabilitas dalam analisis kredit terdiri atas : a. Debt to assets ratio = total debt / total assets b. Debt to equity ratio = total utang (debt) / ekuitas (equity)

3.

Rasio Profitabilitas : Merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.

a. Net Profit margin (NPM) = (penjualan bersih – harga pokok penjualan ) / Sales b. Return on investment (ROA) = (earning after interest and tax ) / total assets c. Return on equity (ROE) = (earning after interest and tax) / Equity

4. Rasio Activity : Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio activity dalam analisis kredit yaitu : a. Days of receivable (DOR) = piutang dagang / (penjulan x periode) b. Days of inventory (DOI) = persediaan / (HPP x periode)

c. Days of Payable (DOP) = Hutang dagang / (HPP x Periode)

How to Sell Penjual (Seller) merupakan orang yang harus dapat memahami dirinya dengan memperhatikan unsur keadaan fisik, pendengaran, penglihatan, dan juga cara berbicara didukung sifat kepribadian yang penuh inisiatif, perhatian, tidak mudah putus asa, memiliki daya ingat yang tajam, mudah bergaul, selalu gembira, lurus hati, disiplin, sopan santun dan bijaksana, merupakan faktor tercapainya kepuasan pembeli. Selain itu penjual juga harus mengetahui detail tetang produk yang ditawarkan / dijualnya (Jenis, merk, spesifikasi, kegunaan serta keuntungan, dll). Dengan pemahaman diri dan sifat kepribadian tersebut, penjual dapat megembangkan kemampuan dan kecakapan untuk mempengaruhi orang untuk dapat membeli apa yang ditawarkan dengan cara saling menguntungkan, meskipun sebelumnya tidak terpikirkan oleh calon pembeli untuk membeli barang bersangkutan.

Posted by Immi Fiska Tarigan at 1:13 AM Labels: Perbankan No comments: Post a Comment

Definisi dan Fungsi Rekening Koran
Oleh Sri Astuti / Kamis 3 November 2011 / 1 Tanggapan Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan (yang diambil dari saldo akhir bulan sebelumnya), mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir bulan (yang akan menjadi saldo awal bulan berikutnya).

Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan Setiap organisasi dalam penerimaan dan pengolahan dana yang diperoleh dari donor pasti berhubungan dengan bank sebagai tempat untuk menyimpan dana yang diperolehnya. Setiap transaksi penarikan dan penambahan dana pasti dicatat oleh pihak bank. Kadang dalam pencatatan di organisasi dan pihak bank mengalami selisih yang disebabkan oleh beberapa hal. Untuk itu pihak bank akan mengeluarkan rekening koran untuk melaporkan semua transaksi yang telah dilakukan oleh organisasi yang berkaitan dengan dana yang disimpan selama periode tertentu. Rekening koran memuat hal yang sama dengan buku tabungan. Di dalamnya, sama-sama memuat mengenai tanggal dan sandi transaksi, mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo. Bedanya adalah kalau buku tabungan dibuka untuk nasabah (deposan) perorangan, sedangkan rekening koran untuk nasabah corporate (entitas). Nasabah perorangan biasanya akan mendatangi bank bersangkutan untuk mencetak setiap transaksi bank yang terjadi ke dalam buku tabungan, sedangkan untuk nasabah corporate, biasanya rekening koran yang memuat transaksi bulanan akan dikirim langsung oleh bank ke nasabah bersangkutan. Khusus untuk rekening koran (laporan yang memuat rincian atas transaksi rekening giro), seluruh penarikan kas harus dilakukan dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Berbeda dengan buku tabungan (yang memuat rincian atas transaksi rekening tabungan), penarikan kas dapat dilakukan seperti biasanya (menggunakan slip penarikan) dan tidak menggunakan cek atau bilyet giro. Dalam satu buku tabungan biasanya bisa menampung rincian transaksi dari beberapa periode (tergantung pada sedikit atau banyaknya transaksi bank yang terjadi). Jika seluruh halaman yang ada dalam buku tabungan telah terpakai, maka bank akan menggantinya dengan buku tabungan yang baru. Sedangkan rekening koran yang rutin dikirim oleh bank sifatnya bulanan. Setiap bulan, nasabah akan menerima rekening koran yang meringkas seluruh transaksi bank selama satu bulan terakhir. Sebagai contoh, rekening koran yang memuat transaksi bank selama bulan Januari baru akan diterima oleh organisasi di bulan Pebruari, dan seterusnya. Setiap organisasi dalam penerimaan dan pengolahan dana yang diperoleh dari donor pasti berhubungan dengan bank sebagai tempat untuk menyimpan dana yang diperolehnya. Setiap transaksi penarikan dan penambahan dana pasti dicatat oleh pihak bank. Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan (yang diambil dari saldo akhir bulan sebelumnya), mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir bulan (yang akan menjadi saldo awal bulan berikutnya). Dalam rekening koran juga biasanya memuat mengenai ringkasan transaksi. Sistem akuntansi atau pencatatan yang ada dalam buku tabungan maupun rekening koran mewakili kepentingan bank. Perhatikanlah bahwa setiap setoran uang, kiriman uang masuk (baik sebagai hasil penagihan piutang wesel dari pelanggan maupun penerimaan pinjaman) serta pendapatan bunga akan dicatat oleh bank bersangkutan di sebelah kredit (pola kolom mutasi kredit), baik dalam buku tabungan maupun rekening koran. Ini artinya adalah bahwa setiap setoran yang dilakukan nasabah, kiriman uang masuk, maupun pendapatan bunga yang menjadi hak (milik) nasabah akan menambah jumlah kewajiban bank terhadap nasabah bersangkutan (ingat kembali bahwa kewajiban memiliki saldo normal atau akan bertambah di sebelah kredit),

yang berarti juga saldo nasabah ikut bertambah. Bank biasanya akan menerbitkan nota kredit (credit memorandum) untuk transaksi-transaksi yang sifatnya menambah kewajiban bank terhadap nasabahnya. Sebaliknya, bank akan menerbitkan nota debet (debit memorandum) untuk transaksi-transaksi yang sifatnya mengurangi kewajiban bank terhadap nasabahnya (mengurangi saldo nasabah), seperti penarikan uang, beban administrasi, pajak, dan cek yang dikembalikan karena tidak cukup dana. Pada waktu bank menerima setoran cek dari nasabahnya, maka bank akan menerbitkan nota kredit untuk nasabah yang bersangkutan, lalu apabila ternyata setoran cek tersebut tidak ada atau tidak cukup dananya, maka bank akan kembali menerbitkan nota debet atas nasabah bersangkutan untuk membatalkan nota kredit yang tadi. Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman: 74-75.

Penyebab Selisih Rekening Koran dan Saldo Kas
Oleh Bhisma Syaputra / Senin 20 Februari 2012 / 1 Tanggapan Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada dengan catatan dari bank.

Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada dengan catatan dari bank. Selisih atau perbedaan saldo tersebut disebabkan karena beberapa faktor yang timbul dari kedua belah pihak. Berikut adalah beberapa penyebab timbulnya perbedaan saldo antara catatan menurut perusahaan dengan rekening koran yang diterbitkan oleh bank:

Deposito in Transit (setoran dalam perjalanan).

Setoran yang telah diperhitungkan dalam catatan perusahaan sebagai penambah saldo cash in bank, tetapi belum masuk dalam catatan rekening koran bank (belum di kredit oleh bank bersangkutan). Untuk tujuan rekonsiliasi bank, setoran dalam perjalanan ini sifatnya akan mengoreksi (menambah) besarnya saldo cash in bank menurut rekening koran (catatan bank).

Outstanding Checks (cek yang masih beredar)

Pihak perusahaan di dalam pembukuannya sudah mengurangi besarnya saldo cash in bank sebagai pembayaran utang ke kreditur/supplier dengan menggunakan cek, namun sampai dengan akhir bulan kreditur/supplier tersebut belum juga mencairkannya ke bank sehingga saldo cash in bank menurut rekening koran bank belum mencerminkan pembayaran tersebut (belum didebet oleh bank bersangkutan). Untuk tujuan rekonsiliasi bank, cek yang masih beredar ini sifatnya akan mengoreksi (mengurangi) besarnya saldo cash in bank menurut rekening koran (catatan bank).

Not Sufficient Fund Check (cek tidak cukup dana).

Begitu perusahaan menerima cek pembayaran dari pelanggan, pihak perusahaan di dalam pembukuannya tentu saja akan segera menambahkan besarnya penerimaan ini ke dalam saldo cash in bank (dengan cara mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun piutang usaha atas nama pelanggan bersangkutan), yang namun ternyata telah disetor ke bank cek tersebut tidak bisa dicairkan (ditolak oleh bank) karena tidak cukup dana/cek kosong. Untuk tujuan rekonsiliasi, cek yang dikembalikan oleh bank karena tidak cukup dana ini sifatnya akan mengoreksi (mengurangi) kembali besarnya saldo cash in bank menurut catatan perusahaan. Dalam pembukuan perusahaan (lewat jurnak koreksi), cek tidak cukup dana ini lalu akan dibebankan kembali ke pelanggan bersangkutan, yaitu dengan cara memunculkan kembali akun piutang usaha dan mengkredit akun cash in bank.

Notes plus Interest Collected by Bank (penagihan piutang wesel beserta bunganya lewat bank) yang belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan perusahaan.

Apabila tagihan piutang wesel dilakukan oleh bank, maka perusahaan baru akan mengetahui hasil penerimaan tagihan ini (beserta bunganya) pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana piutang wesel ditagih). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana piutang wesel tersebut ditagih, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat hasil penerimaan tagihan tersebut (beserta bunganya), karena baru mengetahuinya di bulan berikutnya. Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada dengan catatan dari bank.

Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana piutang wesel ditagih, maka perusahaan dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan menambah saldo cash in bank menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. jadi dalam hal ini pihak banklah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mengkredit penerimaan piutang wesel tersebut beserta bunganya ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokkan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatannya. Caranya adalah dengan mendebit akun cash in bank sebesar nilai nominal wesel tagih ditambah bunganya, dan mengkredit akun piutang wesel pelanggan bersangkutan (sebesar nilai nominal tadi) serta juga mengkredit akun pendapatan bunga atas wesel tagih tersebut.

Interest Income (bunga bank atas saldo rekening perusahaan yang mengendap atau sering dikenal sebagai jasa giro) yang belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan perusahaan.

Perusahaan biasanya baru akan mengetahui hasil pendapatan bunga atas saldo rekeningnya yang telah mengendap selama bulan berjalan pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana jasa giro dihasilkan). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana jasa giro tersebut dihasilkan, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat hasil jasa giro tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di bulan berikutnya. Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana jasa giro dihasilkan, maka perusahaan dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan menambah saldo cash in bank menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. Jadi dalam hal ini pihak bank-lah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mengkredit jumlah jasa giro tersebut ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatannya. Caranya adalah dengan mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun pendapatan bunga sebesar jasa giro yang diperoleh.

Bank Service Charges (biaya jasa bank) yang belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan perusahaan.

Biaya-biaya ini meliputi biaya administrasi, biaya kliring, biaya penagihan piutang lewat bank, biaya cetak buku cek, dan biaya lainnya yang dibebankan ke rekening nasabah sehubungan dengan pemanfaatan fasilitas atau jasa yang diberikan bank. Perusahaan biasanya baru akan mengetahui besarnya biaya administrasi bulan berjalan pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana biaya administrasi dibebankan). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana biaya administrasi tersebut dibebankan, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat besarnya biaya administrasi tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di bulan berikutnya.

Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana biaya administrasi dibebankan, maka perusahaan dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan mengurangi saldo cash in bank menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. Jadi dalam hal ini pihak bank-lah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mendebit jumlah biaya administrasi tersebut ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokkan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatanya. Caranya adalah dengan mendebit akun beban administrasi lainnya dan mengkredit akun cash in bank sebesar biaya administrasi yang dibebankan.

Error in Recording (kesalahan dalam pencatatan).

Kesalahan dalam pencatatan bisa saja terjadi baik dilakukan oleh bank maupun perusahaan. Perusahaan hanya akan membuat jurnal koreksi dalam pembukuannya, apabila kesalahan pencatatan dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri. Untuk tujuan rekonsiliasi bank, jika jumlah tertentu telah salah dicatat oleh perusahaan, maka selisih jumlah kesalahan tersebut seharusnya ditambahkan atau dikurangi dari saldo cash in bank menurut catatan perusahaan, disertai dengan pembuatan jurnal koreksi. Demikian juga jika jumlah tertentu telah salah (keliru) dicatat oleh bank, maka selisih jumlah kesalahan tersebut seharusnya ditambahkan atau dikurangkan dari saldo cash in bank menurut catatan bank, tanpa perlu membuat jurnal koreksi dalam pembukuan perusahaan. Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawab Akuntansi Dasar, Penulis: Hery, S.E., M.Si, Halaman: 7681.
Artikel Terkait:
       

Rekonsiliasi Saldo Bank (Bank Reconciliation) Definisi dan Fungsi Rekening Koran Sifat dan Komposisi Kas yang Dibatasi (Restriced Cash) Pembentukan Dana Kas Kecil (Petty Cash) Siklus Akuntansi Organisasi Nirlaba (4/5) Siklus Akuntansi Organisasi Nirlaba (3/5) Menyiapkan Neraca Lajur atau Kertas Kerja Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Rekonsiliasi Saldo Bank (Bank Reconciliation)
Oleh Admin KeuLSM / Selasa 8 November 2011 / Tanggapi? Rekonsiliasi bank bisa dibuat dalam dua bentuk. Bentuk yang pertama merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku atau sebaliknya. Bentuk lainnya merekonsiliasi baik saldo bank maupun saldo buku dengan saldo kas yang benar.

Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku Pada akhir setiap bulan kalender, bank akan mengirimkan salinan rekening bank atau rekening koran (bank statement) kepada setiap nasabahnya bersama dengan cek nasabah yang telah dibayarkan oleh bank selama bulan berjalan.Jika tidak ada kesalahan yang dibuat oleh bank atau nasabah, jika semua deposito yang dilakukan dan semua cek yang ditarik oleh nasabah sampai pada bank dalam bulan yang sama, dan jika tidak terjadi transaksi tidak biasa yang mempengaruhi baik catatan kas perusahaan ataupun bank, maka saldo kas yang dilaporkan oleh bank dalam laporan bank akan sama dengan saldo yang terdapat dalam catatan nasabah sendiri. Namun kondisi ini jarang terjadi karena satu atau beberapa alasan berikut:

Pos-Pos Rekonsiliasi
1. Deposito dalam Perjalanan. Deposito kas akhir bulan yang telah dicatat dalam pembukuan deposito untuk satu bulan baru diterima dan dicatat oleh bank pada bulan berikutnya. 2. Cek-Cek yang Beredar. Cek-cek yang ditulis oleh deposito dicatat ketika dituliskan tetapi mungkin belum dicatat—atau “dikliring”—oleh bank sampai bulan berikutnya. 3. Beban Bank. Beban dicatat oleh bank terhadap saldo deposito untuk pos-pos seperti jasa bank, pemrosesan cek, cek kosong (not-sufficient-funds [NSF] checks), dan sewa safe-deposit box. Depositor mungkin belum mengetahui beban-beban ini sampai menerima laporan bank atau rekening koran. 4. Kredit Bank. Penagihan atau deposito oleh bank atas nama depositor yang mungkin belum diketahui oleh depositor sampai diterimanya laporan bank. Contohnya adalah penagihan wesel untuk depositor dan bunga yang dihasilkan pada rekening koran berbunga. 5. Kesalahan Bank atau Depositor. Kesalahan baik yang dilakukan oleh bank maupun oleh depositor yang dapat menyebabkan saldo bank berbeda dengan saldo pembukuan depositor.

Karena itu, selisih antara catatan kas depositor dengan catatan bank merupakan hal yang biasa dan sudah diperkirakan. Dengan demikian, keduanya harus direkonsiliasi untuk menentukan sumber perbedaan di antara kedua jumlah itu. Rekonsiliasi bank (bank reconciliation) adalah skedul yang menjelaskan setiap perbedaan antara catatan kas bank dengan catatan kas organisasi. Jika perbedaan ini hanya berasal dari transaksi yang belum dicatat oleh bank, maka catatan kas organisasi dipandang yang benar. Namun jika beberapa bagian dari perbedaan itu berasal dari pos-pos lain, maka catatan bank atau catatan organisasi harus disesuaikan.

Rekonsiliasi bank bisa dibuat dalam dua bentuk. Bentuk yang pertama merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku atau sebaliknya. Bentuk lainnya merekonsiliasi baik saldo bank maupun saldo buku dengan saldo kas yang benar. Bentuk yang terakhir ini lebih lazim digunakan. Contoh bentuk ini dan pos-pos rekonsiliasi umum ditunjukkan di bawah ini:
Saldo per laporan bank (akhir periode)Ditambah:Deposito dalam perjalananPenerimaan yang belum didepositokan (kas di tangan)Kesalahan bank yang membuat saldo laporan bank terlalu rendah $$$$$$ $$$$$

$$$

Dikurangi: Cek-cek yang beredar Kesalahan bank yang membuat saldo laporan bank terlalu tinggi Saldo kas yang tepat Saldo per buku depositor Ditambah: Kredit bank dan penagihan yang belum dicatat dalam buku Kesalahan pembukuan yang membuat saldo buku terlalu rendah

$$ $$ $$ $$$ $$$

$$ $$ $$ $$$

Dikurangi: Biaya bank yang belum dicatat dalam pembukuan Kesalahan pencatatan yang membuat saldo buku terlalu tinggi Saldo kas yang tepat

$$ $$ $$ $$$

Bentuk rekonsiliasi ini terdiri dari dua bagian: (1) “Saldo per laporan bank” dan (2) “Saldo per buku depositor.” Kedua bagian ini berakhir dengan “saldo kas yang tepat” yang sama. Saldo kas yang tepat adalah jumlah di mana pembukuan harus disesuaikan dan jumlah yang dilaporkan dalam neraca. Ayat jurnal penyesuaian harus dibuat untuk seluruh pos-pos penambahan dan pengurangan yang muncul dalam “Saldo per buku depositor.” Setiap kesalahan yang berasal dari bank harus segera diberitahu kepada bank.

Artikel Terkait: Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda

Oleh Sri Astuti / Rabu 9 Maret 2011 / Tanggapi? Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat aset tetap.

Menggandakan tingkat penyusutan metode garis lurus. Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda dihitung dengan menggandakan tingkat penyusutan metode garis lurus. Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki masa manfaat selama empat tahun. Nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun kempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar Rp 9 juta. Tingkat penyusutan per tahun : Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda = tingkat penyusutan metode garis lurus X 2 = (1/4) X 2 = 25% X 2 = 50% Untuk tahun pertama, biaya penyusutan diperoleh dengan menghitung biaya perolehan aset tetap dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya penyusutan tahun pertama adalah sebesar Rp 10 juta dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta.

Setelah tahun pertama, biaya penyusutan per tahun diperoleh dengan menghitung nilai buku aset tetap, yaitu biaya perolehan aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan tahun bersangkutan, untuk kemudian dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya penyusutan tahun kedua adalah sebesar (Rp 10 juta – Rp 5 juta) dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta dikalikan 50% atau sama dengan Rp 2,5 juta. Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda dihitung dengan menggandakan tingkat penyusutan metode garis lurus.
Akumulasi Penyusutan pada Awal Tahun 0 5.000.000 7.500.000 8.750.000 Tingkat Saldo Menurun Ganda 50% 50% 50% -

Th

Biaya Perolehan

Nilai Buku pada Awal Tahun

Penyusutan

Nilai Buku pada Akhir Tahun

1 2 3 4

10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000

10.000.000 5.000.000 2.500.000 1.250.000

5.000.000 2.500.000 1.250.000 250.000

5.000.000 2.500.000 1.250.000 1.000.000

Catatan penting : Berbeda dengan cara perhitungan metode garis lurus, pada proses perhitungan biaya penyusutan menggunakan metode saldo menurun ganda, nilai sisa tidak diperhitungkan. Jadi biaya penyusutan tahun pertama adalah Rp 10 juta X 50%, bukan (Rp 10 juta – Rp 1 juta) X 50%. Akan tetapi, pada tahun akhir, aset tetap tidak perlu disusutkan di bawah nilai sisa. Dalam contoh di atas, penyusutan tahun keempat adalah Rp 250.000 (nilai buku pada awal tahun – nilai sisa = Rp 1.250.000 – Rp 1.000.000 = Rp 250.000), bukan Rp 625.000 (Rp 1.250.000 X 50% = Rp 625.000). Dalam contoh di atas, asumsi sederhana yang digunakan adalah bahwa aset tetap tersebut diperoleh dan digunakan mulai awal tahun pertama (1/Jan). Contoh jika diasumsikan bahwa aset tetap mulai diperoleh pada 1/April :
Akumulasi Penyusutan pada Awal Tahun Tingkat Nilai Buku pada Saldo Menurun Awal Tahun Ganda Nilai Buku pada Akhir Tahun

Th

Biaya Perolehan

Penyusutan

1 (9/12) 2 3 4 5 (3/12)

10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000

0 3.750.000 6.875.000 8.437.500 9.000.000

10.000.000 6.250.000 3.125.000 1.562.500 1.000.000

50% 50% 50% -

3.750.000 3.125.000 1.562.500 562.500 -

6.250.000 3.125.000 1.562.500 1.000.000 1.000.000

Artikel Terkait:
      

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap Dasar Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap) Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap
Oleh Sri Astuti / Kamis 10 Maret 2011 / Tanggapi? Metode saldo menurun ganda menghasilkan perhitungan alokasi jumlah penyusutan yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset tetap, diikuti dengan jumlah yang menurun secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya.

perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah :
1. Metode garis lurus, 2. Metode unit produksi, dan 3. Metode saldo menurun ganda.

Perbandingan di antara ketiga metode penyusutan tersebut disajikan dalam matrikulasi perbandingan sebagai berikut:
Metode Masa Manfaat Biaya yang dapat Disusutkan Tingkat Penyusutan Beban Penyusutan

Garis lurus

Tahun

Biaya perolehan tingkat garis lurus = dikurangi nilai residu 1/masa manfaat

Konstan

Unit produksi

(biaya perolehan – Jumlah estimasi Biaya perolehan nilai residu) /jumlah estimasi unit unit produksi dikurangi nilai residu produksi Nilai buku menurun, tetapi tidak di tingkat garis lurus X 2 bawah nilai residu

Variabel

Saldo menurun ganda

Tahun

Menurun

Metode garis lurus menghasilkan perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik yang sama selama masa manfaat aset tetap yang bersangkutan. Metode unit produksi menghasilkan perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik yang berbeda-beda tergantung jumlah penggunaan asset tetap dalam produksi. Sedangkan metode saldo menurun ganda menghasilkan perhitungan alokasi jumlah penyusutan yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset tetap, diikuti dengan jumlah yang menurun secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya. Saldo menurun ganda sering disebut metode penyusutan yang dipercepat (accelerated depreciation method). Metode ini sering kali digunakan dengan pertimbangan bahwa biaya pemeliharaan dan perbaikan asset tetap akan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia aset tetap. Oleh karena itu, berkurangnya jumlah penyusutan pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini akan diimbangi dengan peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan, seperti contoh grafik berikut:

Perbandingan biaya penyusutan metode garis lurus dan metode saldo menurun ganda disajikan sebagai berikut, dengan asumsi nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun keempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar Rp 9 juta.
Penyusutan Penyusutan Metode Saldo Th Metode Garis Lurus Menurun Ganda 1 2 3 4 2.250.000 2.250.000 2.250.000 2.250.000 5.000.000 2.500.000 1.250.000 250.000 Nilai Buku Akhir Tahun Metode Garis Lurus 7.750.000 5.500.000 3.250.000 1.000.000 Nilai Buku Akhir Tahun Metode Saldo Menurun Ganda 5.000.000 2.500.000 1.250.000 1.000.000

Artikel Terkait:
   

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

   

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap) Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap
Oleh Sri Astuti / Selasa 8 Maret 2011 / Tanggapi? Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap.

Masa manfaat atau masa kegunaan Terdapat tiga faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan jumlah beban penyusutan (beban depresiasi) aset tetap, yaitu:
1. biaya perolehan aset tetap 2. masa manfaat yang diharapkan, dan 3. perkiraan nilai aset tetap pada akhir masa manfaat (nilai residu/nilai sisa)

Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap, sebagai berikut : Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4 tahun.

2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8 tahun. 3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 16 tahun. 4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 20 tahun.

Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun. 2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Jika aset tetap diasumsikan tidak memiliki sama sekali nilai sisa pada akhir masa manfaatnya, maka biaya perolehan aset tetap harus dibagi secara sistematis selama masa kegunaannya sebagai beban penyusutan. Akan tetapi, jika aset tetap diharapkan memiliki nilai residu yang signifikan, maka selisih antara biaya perolehan dan nilai residunya (biaya aset yang dapat disusutkan atau depreciable cost) menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan. Jika aset tetap diperoleh selama setengah bulan awal dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal 1 – 15), maka dalam perhitungan penyusutan dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan bersangkutan, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung untuk satu bulan penuh. Jika aset tetap diperoleh pada setengah bulan akhir dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal 16 – 28/29/30/31), dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan berikutnya, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung mulai pada bulan berikutnya. Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah adalah:
1. Metode garis lurus, 2. Metode unit produksi, dan 3. Metode saldo menurun ganda.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, metode penyusutan yang dapat dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan. Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap terwujud. Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta berwujud bukan bangunan saja.
Artikel Terkait:

       

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap) Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap
Oleh Eko Kurniawan Komara / Senin 18 Februari 2013 / 1 Tanggapan Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat).

penyusutan adalah proses alokasi biaya Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat); bukan pembebanan biaya sekaligus pada saat aktiva tetap tersebut diperoleh. Tiga faktor yang menentukan metode penghitungan biaya penyusutan atas aktiva tetap adalah: 1. Dasar penyusutan:

Mengacu pada selisih antara biaya perolehan aktiva tetap, yang merupakan jumlah aktiva di mana awalnya dicatat dan nilai sisa yang diharapkan. Dasar penyusutan dicatat sebagai jumlah total biaya depresiasi, total biaya penggunaan aktiva selama periode akuntansi di mana aktiva tersebut dapat digunakan secara normal. 2. Masa manfaat: Masa manfaat suatu aktiva adalah periode waktu di mana organisasi mengharapkan aktiva tersebut dapat digunakan dalam proses operasi normal. Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat) 3. Pola alokasi biaya: Pola alokasi biaya biasanya disebut metode depresiasi dan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum mengharuskan metode depresiasi dilakukan sistematis dan rasional. Metode penyusutan yang biasa diterapkan organisasi untuk aktiva tetap adalah metode garis lurus. Penyusutan dialokasikan untuk setiap tahun dengan membagi dasar penyusutan oleh perkiraan masa manfaat aktiva pada tahun sebagai berikut:
1. 2. 3. 4. 5. Tanah, tidak disusutkan; Bangunan, disusutkan sebesar 5% per tahun; Kendaraan, disusutkan sebesar 20% per tahun; Mesin, disusutkan sebesar 25% per tahun; Perabot dan Peralatan, disusutkan sebesar 25% per tahun.

Informasi berikut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan:
1. 2. 3. 4. Biaya penyusutan untuk periode pelaporan; Saldo atas aktiva pada tanggal neraca; Akumulasi penyusutan pada tanggal neraca. Penjelasan umum atas metode atau metode-metode yang digunakan untuk menghitung penyusutan atas aktiva tetap.

Artikel Terkait:
      

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap) Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun
Oleh Sri Astuti / Jumat 11 Maret 2011 / 1 Tanggapan Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun juga merupakan metode penyusutan yang dipercepat dengan pertimbangan bahwa biaya pemeliharaan dan perbaikan asset tetap akan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia aset tetap.

Biaya pemeliharaan dan perbaikan Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun memiliki konsep yang sama dengan metode penyusutan saldo menurun berganda. Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun juga merupakan metode penyusutan yang dipercepat dengan pertimbangan bahwa biaya pemeliharaan dan perbaikan asset tetap akan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia aset tetap. Oleh karena itu, berkurangnya jumlah penyusutan pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini akan diimbangi dengan peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan Namun metode ini jarang digunskan karena undang-undang perpajakan membatasi penggunaannya untuk keperluan pajak. Dalam metode ini, beban penyusutan ditentukan dengan mengalikan biaya perolehan awal aset dikurangi estimasi nilai sisa dengan pecahan yang lebih kecil setiap tahunnya.

Angka penyebut dalam pecahan yang digunakan untuk menentukan beban penyusutan adalah jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. Sebagai contoh, aset tetap dengan masa kegunaan 4 tahun akan memiliki angka penyebut 10 (4 + 3 + 2 + 1). Angka pembilang dalam pecahan adalah jumlah tahun sisa masa manfaat pada tiap tahun yang bersangkutan. Tahun pertama angka pembilangnya adalah 4, pada tahun kedua angka pembilangnya adalah 3, pada tahun ketiga angka pembilangnya adalah 2, dan pada tahun keempat angka pembilangnya adalah 1. Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki masa manfaat selama empat tahun. Nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun kempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar Rp 9 juta.
Biaya Perolehan Dikurangi Nilai Tingkat Penyusutan Sisa 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 4/10 3/10 2/10 1/10 Akumulasi Penyusutan pada Akhir Tahun 3.600.000 6.300.000 8.100.000 9.000.000

Th

Penyusutan

Nilai Buku pada Akhir Tahun

1 2 3 4

3.600.000 2.700.000 1.800.000 900.000

6.400.000 3.700.000 1.900.000 1.000.000

Bagaimana jika aset tetap diperoleh tidak pada awal pada awal tahun? Sebagai ilustrasi, diasumsikan aset tetap pada contoh di atas diperoleh pada awal bulan April.
Biaya Perolehan Th Dikurangi Nilai Sisa 1 9.000.000 Akumulasi Penyusutan pada Akhir Tahun 2.700.000 Nilai Buku pada Akhir Tahun 7.300.000

Tingkat Penyusutan

Jumlah Bulan

Penyusutan

4/10 4/10

9/12 3/12 9/12 3/12

2.700.000 900.000

2

9.000.000 3/10 2.025.000 675.000

2.925.000

4.375.000

3

9.000.000

3/10

2.025.000

2.350.000

2/10 2/10 4 9.000.000 1/10 5 9.000.000 1/10

9/12 3/12 9/12 3/12

1.350.000 450.000 1.125.000 675.000 225.000 225.000 1.000.000 1.225.000

Artikel Terkait:
       

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap Dasar Penyusutan Aktiva Tetap Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap) Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap
Oleh Sri Astuti / Selasa 8 Maret 2011 / Tanggapi? Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap.

Masa manfaat atau masa kegunaan

Terdapat tiga faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan jumlah beban penyusutan (beban depresiasi) aset tetap, yaitu:
1. biaya perolehan aset tetap 2. masa manfaat yang diharapkan, dan 3. perkiraan nilai aset tetap pada akhir masa manfaat (nilai residu/nilai sisa)

Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap, sebagai berikut : Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4 tahun. 2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8 tahun. 3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 16 tahun. 4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 20 tahun.

Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun. 2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Jika aset tetap diasumsikan tidak memiliki sama sekali nilai sisa pada akhir masa manfaatnya, maka biaya perolehan aset tetap harus dibagi secara sistematis selama masa kegunaannya sebagai beban penyusutan. Akan tetapi, jika aset tetap diharapkan memiliki nilai residu yang signifikan, maka selisih antara biaya perolehan dan nilai residunya (biaya aset yang dapat disusutkan atau depreciable cost) menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan. Jika aset tetap diperoleh selama setengah bulan awal dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal 1 – 15), maka dalam perhitungan penyusutan dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan bersangkutan, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung untuk satu bulan penuh. Jika aset tetap diperoleh pada setengah bulan akhir dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal 16 – 28/29/30/31), dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan berikutnya, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung mulai pada bulan berikutnya. Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah adalah:

1. Metode garis lurus, 2. Metode unit produksi, dan 3. Metode saldo menurun ganda.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, metode penyusutan yang dapat dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan. Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap terwujud. Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta berwujud bukan bangunan saja.

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)
Oleh Admin KeuLSM / Senin 15 April 2013 / 3 Tanggapan Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

Aset tetap adalah aset berwujud Tulisan ini akan membahas standar akuntansi bagi aktiva (aset) tetap dengan urutan penyajian sebagai berikut : definisi, pengakuan awal, pertukaran aset, pengeluaran setelah pengakuan awal, pengukuran, penyusutan, metode penyusutan, penghentian pengakuan, pengungkapan. Disarikan dari SAK ETAP Bab 15 tentang ASET TETAP.

Definisi
Aset tetap adalah aset berwujud yang:

 

dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

Pengakuan Awal
Pada saat pengakuan awal, aset tetap harus diukur sebesar biaya perolehan, yang meliputi unsur biaya:
  

harga beli, termasuk diantaranya pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan, setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lainnya; biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan; estimasi awal biaya pembongkaran aset, jika aset tersebut selama periode tertentu digunakan bukan untuk menghasilkan persediaan.

Tanah dan bangunan adalah aset yang dapat dipisahkan dan harus dicatat secara terpisah, meskipun tanah dan bangunan tersebut diperoleh secara bersamaan.

Pertukaran Aset
Jika aset tetap diperoleh melalui pertukaran dengan aset nonmoneter atau kombinasi aset moneter dan aset nonmoneter, maka biaya perolehan diukur pada nilai wajar, kecuali jika transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial, atau nilai wajar aset yang diterima tidak dapat diukur secara andal, maka biaya perolehan diukur pada jumlah tercatat aset yang diserahkan.

Pengeluaran Setelah Pengakuan Awal
Pengeluaran setelah pengakuan awal suatu aset tetap yang memperpanjang umur manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aset tetap tersebut. Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

Pengukuran
Aset tetap harus diukur pada biaya perolehan dikurang akumulasipenyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Biaya pemeliharaan dan reparasi sehari-hari (cost of day-to-day servicing) dari aset tetap sebagai bebandalam laporan laba rugi pada periode terjadinya.

Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena SAK ETAP menganut penilaian aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran.

Penyusutan
Beban penyusutan harus diakui dalam laporan laba rugi. Jumlah aset yang dapat disusutkan harus dialokasikan secara sistematis selama umur manfaatnya. Penyusutan dimulai ketika suatu aset tersedia untuk digunakan. Penyusutan dihentikan ketika aset dihentikan pengakuannya. Penyusutan tidak dihentikan ketika aset tidak digunakan atau dihentikan penggunaan aktifnya, kecuali aset tersebut telah disusutkan secara penuh.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan harus dipilih dengan mencerminkan ekspektasi dalam pola penggunaan manfaat ekonomi masa depan aset. Beberapa metode penyusutan yang mungkin dipilih, antara lain metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun (diminishingbalance method), dan metode jumlah unit produksi (sum ofthe unit of production method).

Penghentian Pengakuan
Penghentian pengakuan aset tetap harus dilakukan pada saat:
 

dilepaskan; atau ketika tidak ada manfaat ekonomi masa depan yang diekspektasikan dari penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan atau kerugian atas penghentian pengakuan aset tetap harus diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya. Keuntungan tersebut tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap ditentukan dengan menghitung perbedaan antara hasil penjualan neto (jika ada) dan jumlah tercatatnya.

Pengungkapan
Kelompok aset tetap harus diungkapkan dengan:
      

dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat, metode penyusutan yang digunakan, umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, jumlah tercatat dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode, rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan dan pelepasan, keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan untuk utang, jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap.

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap
Oleh Sri Astuti / Senin 19 Desember 2011 / Tanggapi? Untuk memperoleh besarnya beban penyusutan periodik secara tepat dari pemakaian suatu aktiva, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu nilai perolehan aktiva (asset cost), nilai residu/sisa (residual or salvage value), dan umur ekonomis (economic life).

Nilai perolehan suatu aktiva mencakup seluruh pengeluaran Untuk memperoleh besarnya beban penyusutan periodik secara tepat dari pemakaian suatu aktiva, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu nilai perolehan aktiva (asset cost), nilai residu/sisa (residual or salvage value), dan umur ekonomis (economic life). Nilai perolehan suatu aktiva mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan perolehannya dan persiapannya sampai aktiva dapat digunakan. Jadi, disamping harga beli, pengeluaran-pengeluaran lain yang diperlukan untuk mendapatkan dan mempersiapkan aktiva harus disertakan sebagai harga perolehan. Nilai perolehan ini, yang sifatnya obyektif, dikurangi dengan estimasi nilai residu (jika ada), adalah merupakan dasar harga perolehan aktiva yang dapat disusutkan. Nilai perolehan dikatakan objektif karena sifatnya dapat diuji oleh siapapun dan menghasilkan nilai yang sama. Nilai yang sama ini dapat dibuktikan melalui dokumen pengeluaran kas yang mendukung terjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, termasuk pengeluaran-pengeluaran lainnya yang dibutuhkan sampai aktiva siap digunakan. Nilai perolehan aktiva umumnya mencerminkan nilai pasar pada saat aktiva diperoleh. Nilai sisa merupakan estimasi nilai realisasi pada saat aktiva tidak dipakai lagi. Dengan kata lain, nilai sisa ini mencerminkan nilai estimasi dimana aktiva dapat dijual kembali ketika aktiva tetap tersebut dihentikan dari pemakaiannya (pada saat estimasi masa manfaat aktiva berakhir). Besarnya estimasi nilai sisa sangat tergantung pada kebijakan manajemen mengenai penghentian aktiva tetap, dan juga tergantung pada kondisi pasar serta faktor lainnya. Bila perusahaan menggunakan aktivanya hingga secara fisik benar-benar usang dan tidak dapat memberi manfaat lagi, maka aktiva tersebut dapat dikatakan tidak memiliki nilai sisa. Namun, jika perusahaan

mengganti aktivanya setelah periode penggunaan yang relatif singkat, maka besarnya nilai sisa (yang tercermin oleh harga jualnya) secara relatif akan tinggi. Berdasarkan pandangan teoritis, setiap estimasi nilai residu harus dikurangkan dari nilai perolehan aktiva untuk mendapatkan nilai perolehan yang akan dialokasikan. Dalam praktek, seringkali nilai sisa diabaikan dalam menentukan beban penyusutan karena nilainya yang relatif kecil atau perhitungan yang pelik dimana manfaat yang didapat lebih rendah daripada waktu dan usaha yang dikorbankan untuk menaksir besarnya estimasi nilai sisa. Nilai sisa sifatnya adalah subyektif, dimana sangat tergantung pada kebijakan manajemen dari masing-masing perusahaan. Dalam menghitung besarnya beban penyusutan, umur ekonomis dapat diartikan sebagai suatu periode atau umur fisik dimana perusahaan dapat memanfaatkan aktiva tetapnya (masa manfaat) dan dapat juga berarti sebagai jumlah unit produksi (output) atau jumlah jam operasional (jasa) yang diharapkan diperoleh dari aktiva. Umur ekonomis aktiva dapat dinyatakan baik berdasarkan faktor estimasi waktu maupun faktor estimasi penggunaan. Faktor waktu dapat berubah periode bulanan atau tahunan, sedangkan faktor pemakaian sering berupa jumlah jam operasional atau jumlah unit produksi (output) yang dihasilkan dari aktiva tetap. Berdasarkan waktu yang dilampaui atau tingkat pemakaian inilah alokasi terhadap nilai perolehan aktiva dilakukan dengan suatu tarif alokasi yang telah ditentukan. Estimasi umur ekonomis memerlukan suatu pertimbangan (judgement) pihak manajemen yang pada umumnya berdasarkan pada pengalaman terhadap jenis-jenis aktiva yang serupa. Jadi, cara penentuan estimasi umur ekonomis sifatnya sama dengan cara untuk menentukan estimasi nilai residu, yaitu berdasarkan pertimbangan pribadi (subyektif). Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman: 122 – 124.
Artikel Terkait:

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap
Oleh Admin KeuLSM / Senin 21 Januari 2013 / 39 Tanggapan Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.

Salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap Penyusutan (depresiasi) merupakan salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap, dimana aktiva tetap akan mengalami ke-aus-an atau penurunan fungsi. Apa Itu Penyusutan (depresiasi) aktiva tetap ? Logika umum : Penyusutan merupakan cadangan yang nantinya digunakan untuk membeli aktiva baru untuk menggantikan aktiva lama yang sudah tidak produktif lagi . Bandingkan dengan yang dibawah ini : Logika Akuntansi : Penyusutan (Depreciation) adalah Harga Perolehan Aktiva Tetap yang di alokasikan ke dalam Harga Pokok Produksi atau Biaya Operasional akibat penggunaan aktiva tetap tersebut, atau ; Cost/Exepenses yang diperhitungkan (dibebankan) dalam Harga Pokok produksi atau biaya operasional akibat pengunaan aktiva di dalam proses produksi dan operasional perusahaan secara umum. Pencatatan (Jurnal) Atas Penyusutan : Bentuk Jurnalnya : [-Debit-]. Depreciation = xxxx [-Credit-]. Accumulated Depreciation = xxxx Saat pencatatan : Biasanya dicatat (dibukukan) pada saat penutupan buku (entah : akhir bulan, akhir kwartal, akhir tahun buku). Besar-nya : Dicatat sebesar nilai penyusutannya, tergantung berbagai faktor (lebih rincinya, lanjutkan ke sub pokok bahasan berikut ini…). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biaya Penyusutan

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost) Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan. Mengenai “Harga Perolehan” telah kita bahas secara rinci pada artikel sebelumnya, yang belum membaca, silahkan [-baca-] 2. Nilai Residu (Salvage Value) Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual pada saat penarikan/penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang. 3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time) Sebagian besar, aktiva tetap memiliki 2 jenis umur, yaitu : - Umur fisik : Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun fungsinya). - Umur Fungsional : Umur yang dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman (not fashionable), kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif (misalnya : furniture/mebeler, hiasan dinding, dsb).Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis. 4. Pola Penggunaan Aktiva Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat ke-aus-an aktiva, yang mana untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutan yang paling sesuai.

Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang. Metode-metode Penyusutan (Depreciation Method) Ada berbagai metode penyusutan, hanya beberapa metode saja yang biasa dipergunakan. Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling banyak dipergunakan, karena paling mudah dan paling relevan dengan perlakuan akuntansi. 1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method) Konsep dasarnya : Metode ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunaannya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva diarik dari penggunaannya.

Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk/jasa yang dihasilkan. Misalnya : bangunan, peralatan kantor. Formula :

Atau dengan menggunakan rate prosentase, dengan formula :

Contoh Kasus :

Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 1 Januari 2007 dengan harga Rp 8,000,000 ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun, dan apabila nanti ditarik diperkirakan besi tuanya dapat dijual seharga Rp 150,000. Tambahan informasi : Perusahaan menggunakan metode garis lurus. Beban penyusutan untuk tahun 2007, dihitungan dengan cara : Depreciation Cost = 12/12 x [(Rp 8,000,000-150,000) : 8] = Rp 981,250,Jika aktiva tetap tersebut diperoleh pada tanggal 05 Pebruari 2007, maka dihitung dengan cara = 11/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) : 8] Jika diperoleh pada tanggal 20 Pebruari 2007, maka dihitung 10/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) : 8] …….dan seterusnya Jika tanpa nilai residu, maka variable nilai residu tidak diperhitungkan (lihat formula di atas). Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut : [-Debit-]. Depreciation = Rp 981,250,[-Credit-]. Accumulated Depreciation = Rp 981,250,Jika aktiva tersebut diperoleh di awal tahun (01~14 Januari), maka tabel “Jadwal Penyusutan Aktiva ” selama umur ekonomisnya, akan menjadi sebagai berikut :

Bandingkan kedua tabel di atas : Bagian mana yang berbeda ?. Pada tabel pertama (dengan memperkirakan adanya salvage value), di akhir tahun ke-8, terlihat masih ada NILAI BUKU (Book Value) aktiva sebesar Rp 150,000, INILAH YANG DISEBUT NILAI RESIDU (Salvage Value) dimana jika aktiva tersebut dijual pada akhir penggunaannya nanti diperkirakan akan laku seharga Rp 150,000,-. Di sisi lainnya, biaya penyusutan yang dibebankan tidak sepenuhnya Rp 1,000,000 per tahunnya. Pada tabel kedua (dengan tidak memperkirakan adanya salvage value), pada akhir tahun ke-8, NILAI BUKU (Book Value) benar-benar Nihil (nol), artinya : perusahaan memperkirakan aktiva tersebut tidak akan menghasilkan arus kas (tidak bisa dijual) pada akhir masa penggunaannya nanti. Di sisi lain, penyusutan dibebankan sepenuhnya Rp 1,000,000 setiap tahunnya. 2. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method) Konsep Dasarnya : Aktiva tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa penggunaanya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di periode berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva tersebut. Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aktiva mesin produksi.

Formula :

Contoh Kasus : Mempergunakan contoh kasus sebelumnya….. Cari “rate penyusutan (d%)” terlebih dahulu, perhatikan perhitungan dibawah :

Dengan menggunakan rate di atas, yaitu sebesar 39%, “Jadwal Penyusutan” menggunakan Declining Balance Method dapat dibuat, seperti dibawah :

Memperhatikan table di atas, dapat dilihat bahwa dengan menggunakan Metode Saldo menurun (Declining Balance Method), salvage value di akhir tahun ke delapanpun hasilnya kurang lebih sama dengan jika menggunakan Metode Garis Lurus (Straight Line Method) yaitu Rp 150,000. Hanya saja, jika kita perhatikan pada kolom “Depreciation (penyusutan) nampak bahwa dengan menggunakan metode Saldo Menurun, harga perolehan yang dialokasikan ke dalam penyusutan (dibebankan pada Harga Pokok Penjualan) dialokasikan sebagian besar pada awal-awal penggunaan aktiva tersebut. Hal ini didasari oleh konsep yang dianut oleh metode ini, dimana suatu aktiva (khusunya mesin produksi) dianggap memberikan best performance diawal-awal penggunaannya. Jurnal pembebanan penyusutan pada methode ini sama saja dengan metode garis lurus. Catatan Penting : Dimungkinkan untuk menggunakan metode yang manapun untuk jenis aktiva yang manapun, yang terpenting : (-). Metode apapun yang dipergunakan, hendaknya diterapkan secara konsisten. (-). Jika perusahaan mengganggap perlu melakukan perubahan atas metode penyusutan yang diterapkan, hendaknya dicantumkan dalam penjelasan atas sistem akuntansi yang dipergunakan pada laporan keuangan, disertai dengan alasannya.
Artikel Terkait: Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Oleh Sri Astuti / Senin 12 Desember 2011 / Tanggapi? Sifat beban penyusutan tidak berbeda dengan beban yang mengakui pemanfaatan atas premi asuransi ataupun sewa yang dibayar dimuka selama periode berjalan. Beban penyusutan merupakan beban yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas (non cash outlay expence).

Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aktiva. Sifat beban penyusutan secara konsep tidak berbeda dengan beban yang mengakui pemanfaatan atas premi asuransi ataupun sewa yang dibayar dimuka selama periode berjalan. Beban penyusutan merupakan beban yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas (non cash outlay expence). Alokasi harga perolehan aktiva tetap dilakukan dengan cara mendebet akun beban penyusutan dan mengkredit akun akumulasi penyusutan. Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi, sedangkan akun akumulasi penyusutan akan terlihat dalam neraca. Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aktiva. Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban penyusutan periodik. Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi, sedangkan akun akumulasi penyusutan akan terlihat dalam neraca. Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban penyusutan periodik. Pada akhir tahun pertama aktiva dimanfaatkan, besarnya akumulasi penyusutan adalah sama dengan besarnya beban penyusutan selama tahun pertama pemakaian. Sedangkan pada akhir tahun ke dua, besarnya akumulasi penyusutan merupakan penjumlahan antara besarnya beban penyusutan untuk tahun pertama pemakaian dengan beban penyusutan untuk tahun ke dua pemakaian, dan seterusnya. Akun akumulasi penyusutan merupakan akun pengurang (contra account) dari akun aktiva yang bersangkutan. Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman: 121 – 122.