PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DENGAN SISTEM VERMICOMPOSTING

Makalah Ilmiah Tugas Mata Kuliah Bioteknik Hewan

Disusun oleh : MUHAMMAD ILYAS G352070181

MAYOR BIOSAINS HEWAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah sampah dapat diatasi dengan cara mengolahnya menjadi bahan yang sangat berguna. Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan cara mendaur ulang sampah tersebut sehingga menjadi bahan-bahan yang dapat digunakan lagi.. Pengolahan sampah juga dapat dilakukan dengan cara pengomposan yang dapat menghasilkan zat hara atau kompos yang sangat berguna bagi kesuburan tanah serta pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Saat ini, cara pengolahan sampah yang kerap dikembangkan adalah pengomposan dengan bantuan cacing tanah atau yang lebih dikenal dengan istilah vermicomposting, karena cara tersebut telah terbukti lebih baik kualitas dan kuantitasnya daripada pengomposan konvensional. Sejumlah limbah industri telah diolah secara vermicomposting dan menghasilkan pupuk yang kaya nutrisi (Sundaravadivel 1995). Selain itu, vermicomposting juga merupakan system bioteknologi dengan biaya rendah untuk mendegradasi sampah organik (Hand et al. (1988). Makalah ini ditulis untuk mengetahui cara pengolahan sampah yang baik dengan system vermicomposting.

2

A. Sampah organik dan cara pengolahannya Secara umum, jenis sampah dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti dedaunan, ranting pohon, kayu, bangkai hewan dan sampah dapur. Sampah jenis ini dapat terdegradasi secara konvensional. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, besi, dan kaca tidak dapat terdegradasi secara konvensional. Sampah atau limbah padat dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu garbage dan rubbish (Davis dan Cornwell 1989). Garbage diartikan sebagai limbah hewan dan tumbuhan yang berasal dari pemeliharaan dan budidaya, penyiapan dan penjualan makanan. Limbah tersebut mengandung lebih banyak bahan organik yang mudah membusuk, lembab dan mengandung sedikit cairan. Garbage terdekomposisi dengan cepat terutama sekali dalam cuaca hangat dan mengeluarkan bau busuk. Rubbish mengandung aneka ragam limbah padat yang mudah dibakar atau tidak mudah dibakar, yang berasal dari rumah, pusat perbelanjaan dan kantor tetapi yang tidak termasuk garbage. Bahan yang mudah terbakar termasuk kertas, kain, karton, kotak, kayu, papan, ranting pohon dan lain sebagainya. Bahan yang tidak mudah terbakar dalam mesin pembakaran yaitu kaleng, logam berat, gelas, balok kayu dan lain sebagainya. Sampah-sampah tersebut dapat diolah dengan cara pengomposan untuk menghasilkan unsur hara bagi tanah dan pupuk organik bagi tanaman. Pengomposan adalah proses pembusukan secara konvensional atau dekomposisi bahan organik oleh beberapa mikroorganisme pada kondisi yang

3

terkendali (Misra et al. 2003). Menurut Nunes (1997), proses dekomposisi dibagi dalam dua bentuk; Anaeorobik dan Aerobik. Anaerobik adalah proses dekomposisi yang terjadi tanpa oksigen di dalam wadah yang tertutup rapat. Aerobik adalah proses dekomposisi yang terjadi dengan bantuan mikroorganisme yang tumbuh subur dengan oksigen. Sebagai hasil akhir dari proses dekomposisi adalah unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman dan dapat menyuburkan tanah, dikenal dengan istilah kompos. Kompos merupakan partikel tanah yang bermuatan negatif sehingga dapat dikoagulasikan oleh kation-kation dan partikel tanah untuk membentuk granulagranula tanah. Dengan demikian, penambahan kompos dapat memperbaiki struktur, tekstur dan lapisan tanah sehingga akan memperbaiki pula aerasi, absorbsi panas, kemampuan daya serap tanah terhadap air serta berguna untuk mengendalikan erosi tanah (Gaur 1983).

B. Prinsip dasar vermicomposting Vermicomposting adalah proses pengomposan secara bioteknologi sederhana yang menggunakan beberapa spesies cacing tanah untuk meningkatkan proses perombakan limbah dan menghasilkan hasil akhir yang lebih baik (Gandhi et al. 1997). Hand et al. (1988) mendefinisikan vermicomposting sebagai sistem teknologi pengomposan dengan biaya yang kecil untuk memproses atau mendegradasi sampah organik. Hasil akhir vermicomposting adalah vermicast atau vermikompos. Menurut Edwards (1998) dan Atiyeh et al. (2000)

4

vermikompos merupakan hasil degradasi bahan organik melalui interaksi antara cacing tanah dan mikroorganisme tanah. Vermicomposting berbeda dari

pengomposan konvensional dalam beberapa hal (Gandhi et al. 1997). Vermicomposting merupakan proses mesofilik, dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme dan cacing tanah yang aktif pada suhu 10-32oC. Proses ini lebih cepat dari pada pengomposan konvensional, karena bahan-bahan organik melewati sistem pencernaan cacing tanah. Vermicomposting mengubah sampah rumah tangga menjadi kompos (vermikompos) dalam 30 hari, menurunkan rasio C:N dan menahan N lebih banyak dari pada cara pengolahan kompos tradisional (Gandhi et al. 1997). Vermicomposting dan pengomposan konvensional memiliki cara dan hasil yang berbeda. Hasil penelitian Dominguez et al. (1997) menunjukkan bahwa pada proses vermicomposting sampah organik dapat didekomposisi dengan cepat oleh cacing tanah, menghasilkan bahan non toksik yang stabil dengan struktur bagus yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi terhadap kondisi tanah untuk pertumbuhan tanaman. Subler et al. (1998) membandingkan analisa kimia dan nutrisi antara kompos konvensional dan vermikompos, hasilnya adalah bahwa vermikompos cenderung memiliki nilai pH lebih rendah (6,80) daripada kompos konvensional (7,80), konsentrasi nutrisi lebih tinggi, terutama nitrogen (1,94%) dibandingkan dengan kompos konvensional (0,80%).

5

C. Kebutuhan cacing tanah Cacing tanah merupakan hewan bersegmen tanpa tulang belakang yang berukuran panjang, tipis, berbentuk silindris, tubuhnya simetri bilateral. Tubuhnya berwarna cokelat gelap, berkilauan dan dilapisi oleh kutikula halus. Cacing tanah merupakan hewan biseksual (hermaprodit) dan fertilisasi silang terjadi sesuai aturan. Kopulasi bisa terjadi selama 1 jam, lalu cacing berpisah. Kemudian klitelium masing-masing cacing mengeluarkan kokon dimana sel sperma masuk untuk membuahi sel telur. Lebih dari 3 kokon per cacing per minggu dihasilkan. Dari setiap kokon terdapat sekitar 10-12 anak cacing yang muncul. Pada

umumnya jangka waktu hidup seekor cacing tanah sekitar 3-7 tahun tergantung pada jenis spesies dan keadaan ekologinya (Sinha et al. 2002). Cacing tanah mengandung air sebanyak 70-95% dari bobot tubuhnya, sehingga kehilangan air merupakan masalah utama cacing tanah untuk mempertahankan fungsi-fungsi tubuhnya untuk bekerja secara normal (Minnich 1977). Menurut Lee (1985), cacing tanah menghendaki kondisi media yang sesuai dan berkecukupan pakan, terlindung dari cahaya, pH sekitar netral dan sirkulasi udara dan air yang baik. Untuk mencapai suhu dan kelembaban media yang optimum perlu dikontrol dengan penyiraman air. Peranan cacing tanah dalam pengomposan tidak terlepas dari peranannya yang memanfaaatkan bahan-bahan organik di sekitarnya sebagai bahan makanannya. Menurut Gaur (1992), peranan cacing tanah dalam penghancuran bahan organik adalah mempercepat perombakan dengan cara mengaduk bahan

6

organik, memakan bahan-bahan organik serta membuat liang-liang dalam massa bahan organik. Interaksi antara cacing tanah dan mikroorganisme merupakan faktor dominan yang penting dalam proses dekomposisi bahan organik dan mineralisasi. Cacing tanah yang sering digunakan untuk pengomposan adalah jenis Eisenia foetida dan Lumbricus rubellus. Kedua jenis cacing ini termasuk thermo toleran, yaitu organisme yang dapat bertahan hidup dalam suhu yang panas (Gaur 1983). Cacing tanah yang diletakkan pada suhu media yang sesuai akan memakan sampah dapur setengah dari berat badannya per hari. Dengan kata lain, dibutuhkan 1 kg cacing untuk 0,5 kg sampah makanan yang dihasilkan per hari.,

perbandingannya adalah 2:1. Dalam tiap minggu, 1 kg cacing dapat memproses 3,5 kg sampah. Jika kondisi pertumbuhan tidak cocok, maka kecepatan konsumsi makanan akan menurun (Hebert 2006). Untuk dapat bereproduksi dengan baik sehingga menghasilkan

vermikompos berkualitas tinggi, cacing tanah membutuhkan lima hal, yaitu: lingkungan hidup yang sesuai (bedding), sumber makanan, kelembaban dan aerasi yang cukup serta suhu yang sesuai (Munroe). Bedding adalah bahan yang dapat dijadikan sebagai habitat oleh cacing tanah. Habitat ini harus memiliki daya absorbansi yang tinggi sehingga dapat menjaga kelembahan dan suhu media cacing. Bedding dapat dirancang dengan menambahkan jerami, kertas koran, daun jagung, daun pisang dan bahan-bahan lainnya yang dapat menjaga kelembaban. Sumber makanan cacing tanah berupa bahan organik seperti sisa-sisa tumbuhan, bangkai hewan dan sampah makanan, selain itu dapat juga berupa

7

kotoran hewan ternak yang telah dikering anginkan selama tujuh hari. Dalam kondisi yang ideal, cacing dapat mengkonsumsi makanan seberat tubuhnya, bahkan bisa lebih per hari. Cacing tanah tidak memiliki organ pencernaan khusus untuk menghancurkan bahan makanannya, jadi bahan makanan harus dipotong kecil-kecil untuk membantu proses pencernaannya. Semakin kecil partikel makanan yang diberikan, maka semakin cepat proses pengomposan. Penambahan dua genggam pasir halus juga dapat membantu proses pencernaannya (Munroe). Cacing tanah bernapas dengan kulit, maka sangat membutuhkan kelembaban yang cukup pada medianya untuk dapat bertahan hidup. Menurut Kevin (1979), kelembaban yang dibutuhkan cacing tanah berkisar antara 50-80%. Domjnguez et al. (1997) menemukan bahwa kisaran kelembaban yang terbaik adalah antara 80-90%, dengan kisaran optimum sebesar 85%.. Kebutuhan cacing tanah akan kelembaban media bervariasi pada berbagai spesies dan daya adaptasi masing-masing spesies tersebut. Kelembaban media dapat dipertahankan dengan penambahan air pada media dan menyediakan bahan makanan yang mengandung banyak air. Cacing tanah membutuhkan oksigen untuk bernapas dan tidak dapat bertahan hidup dalam kondisi anaerob. Jika bahan makanan dalam media terlalu padat maka dapat mengurangi aerasi, sehingga dapat meneyababkan kematian pada cacing tanah. Masalah aerasi dapat diatasi dengan cara membalik media secara berkala agar terjadi peningkatan jumlah O2 dan penurunan jumlah CO2 pada media (Munroe)

8

Suhu media juga harus dikontrol untuk mengoptimalkan proses vermicomposting. Suhu media sebaiknya tetap dijaga pada kisaran 180C-270C (Razon et al. 1981). Menurut Munroe kisaran suhu 100C–150C efisien untuk proses vermicomposting, dan 150C–250C efisien untuk budidaya cacing tanah. Sama halnya dengan kelembaban, kebutuhan suhu media berbeda-beda tergantung dengan jenis cacing tanah dan daya adaptasinya. Selain dari lima hal tersebut, keberhasilan vermicomposting juga ditentukan oleh pH media. Untuk meningkatkan pH media perlu ditambah kapur atau kalsium carbonat (CaCO3). Menurut Waluyo (1993), penambahan kapur 0,3% dari berat campuran media akan menaikkan pH 0,14-0,39 dan pH tertinggi yang dicapai sebesar 7,91. Penambahan kapur 0,3% menghasilkan 170 butir kokon, sedangkan tanpa penambahan kapur rata-rata dihasilkan 142 butir kokon cacing tanah pada minggu keenam. Proses vermicomposting yang baik juga dipengaruihi oleh media cacing tanah itu sendiri. Waluyo et al. (1991) berhasil melakukan budidaya cacing tanah Eisenia foetida dengan media kotoran sapi, kambing dan campuran atara keduanya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa berat tubuh cacing tanah meningkat 79,5% dalam waktu 22 hari. Garg et al. (2005) melaporkan bahwa berat maksimum cacing tanah diperoleh dalam minggu keenam dengan media kotoran sapi, domba, kambing dan unta, sedangkan dengan media kotoran keledai, kuda, dan kerbau secara berturut-turut diperoleh dalam minggu ke 9, 10 dan 13. Perkembangan klitelum Eisenia foetida dalam media kotoran seluruh hewan terjadi pada hari ke 21 kecuali dalam media kotoran unta (hari ke 28) setelah

9

mulai percobaan. Produksi kokon oleh cacing tanah dimulai pada hari ke 28 dalam media kotoran kuda, keledai, domba dan kambing, dan pada hari ke 35 dalam media kotoran sapi, kerbau dan unta. Secara ringkas jumlah kokon yang dihasilkan per cacing tanah per hari dalam dalam media kotoran yang berbeda adalah: domba > sapi = kuda = kambing > unta > keledai > kerbau. Selanjutnya Garg et al. (2005) menyimpulkan bahwa kotoran sapi, kuda, domba dan kambing mendukung pertumbuhan dan reproduksi cacing Eisenia foetida, oleh karena itu dapat digunakan sebagai bahan makanan dalam proses vermicomposting sekala besar.

D. Gangguan dan penyakit Cacing tanah tidak terserang penyakit yang disebabkan oleh

mikroorganisme, tetapi oleh predasi yang dilakukan oleh vertebrata tertentu dan insekta. Berikut ini adalah beberapa hewan yang dapat menyebabkan gangguan dan penyakit bagi cacing tanah. Cacing tanah merupakan makanan bagi tkus. Jika tikus mendapat jalan masuk menuju tempat pembiakannya, maka akan kehilangan banyak cacing (Gaddie dan Donald 1975). Masalah ini biasanya terjadi pada sistem windrow atau sistem udara terbuka di lapangan. Hal ini dapat dicegah dengan meletakkan jaring kawat atau lapisan tanah liat yang bagus di bawah windrow. Hewan jenis burung atau unggas biasanya tidak menjadi masalah yang besar bagi cacing tanah, tetapi jika hewan tersebut menemukan tempat pembiakan cacing, mereka akan datang kembali terus menerus dan memakan cacing (Gaddie

10

dan Donald 1975). Masalah ini dapat diatasi dengan meletakkan penutup diatas windrow yang terbuat dari plastik atau kain. Penutup ini juga bermanfaat untuk menjaga kelembaban. Hewan jenis lipan atau kelabang memakan cacing tanah dan kokonnya. Masalah ini dapat diatasi dengan membasahi tempat biakan cacing untuk memaksa predator tersebut keluar menuju permukaan, sehingga dapat disingkirkan secara langsung (Gaddie dan Donald 1975). Selain daripada itu, jenis insekta seperti semut lebih bermasalah karena mereka memakan makanan cacing (Myers 1969). Semut paling suka dengan gula, jadi diusahakan agar makanan cacing tidak mengandung gula tinggi. Terdapat sejumlah jenis kutu yang muncul dalam operasi vermikultur dan vermicomposting, tetapi hanya satu jenis kutu yang sangat berbahaya yang berasal dari famili Hoplopleuridae, yaitu kutu merah yang bersifat parasit terhadap cacing. Kutu ini mengisap darah dan cairan tubuh dari cacing dan dapat juga mengisap cairan dari kokon (Sherman 1997). Pencegahan terbaik untuk masalah ini adalah dengan menjaga pH tetap netral atau diatasnya dan tingkat kelembaban di bawah 85%.

Gambar 1. Jenis-jenis hewan pengganggu cacing tanah

11

E. Tipe-tipe sistem vermicomposting Ada tiga tipe dasar sistem vermicomposting, yaitu windrow, bed atau bin dan flow-through reactor (Munroe). Pada sistem windrow, prinsipnya adalah penumpukan dalam bahan yang dikomposkan sejajar.

barisan

yang

disusun

Makanan cacing (sampah) diletakkan pada lapisan atas. Tumpukan secara berkala dibolak-balik untuk meningkatkan aerasi, menurunkan suhu apabila suhu terlalu tinggi, dan menurunkan kelembaban kompos,
Gambar 2. Vermicomposting sistem windrow (Dokumentasi M. Ilyas)

sistem ini sesuai untuk vermicomposting skala besar.

Sistem bed atau bin adalah sistem vermicomposting yang menggunakan wadah yang telah dilubangi bagian bawahnya untuk menjaga aerasi. Pada sistem ini makanan diletakkan di bagian sisi atas bedding dan secara berkala dibolak-balik seperti pada sistem windrow.
Gambar 3. Vermicomposting sistem bin (Dokumentasi M. Ilyas)

Bin

Pada sistem flow-through reactor, cacing ditempatkan di kotak yang tinggi, biasanya berbentuk bujur sangkar dan lebarnya tidak lebih dari tiga meter. Bahan makanan diletakkan di bagian atas dan hasilnya dipindahkan melalui saluran di bagian bawah. Istilah flow-through merujuk pada fakta bahwa cacing tidak pernah

12

terganggu di dalam medianya, bahan makanan masuk dari bagian atas kotak, mengalir melalui reaktor dan keluar dari bawah. Cara untuk mendorong bahan makanan keluar dari bawah biasanya menggunakan perangkat hidrolik. Tetapi sistem ini masih belum sering digunakan untuk keperluan vermicomposting karena membutuhkan teknologi dan biaya tinggi.

Bedding - koyakan kertas, dedaunan Sampah – dapur, kebun, pekarangan Bedding Sampah area yang paling hangat Engkol Pemanenan Vermikompos siap dipanen Pengisoliran

Jeruji besi

Area pemanenan

Gambar 4. Vermicomposting sistem flow-through reactor

13

F. Metode pemanenan cacing Pada umumnya pemanenan cacing dilakukan untuk menjual cacing kepada pihak yang membutuhkan atau untuk memulai pembudidayaan yang baru. Untuk melakukannya, maka cacing dipisahkan dari bedding dan vermikomposnya. Menurut Bogdanov (1996) terdapat tiga metode dasar yang dapat digunakan untuk memanen cacing tanah dalam proses vermicomposting, yaitu manual, migrasi dan mekanik. Metode manual adalah metode yang digunakan oleh para peternak cacing skala kecil, terutama bagi yang menjual cacing kepada homevermicomposting atau penjual umpan. Pada intinya, metode manual meliputi hand-sorting atau pemilahan cacing dari kompos secara langsung dengan menggunakan tangan. Proses ini dapat dipermudah dengan mengambil keuntungan bahwa menghindari dari cacing cahaya. kenyataan tanah Jika

bahan-bahan yang mengandung cacing ditumpuk di atas

Gambar 5. Pemanenan cacing dengan metode manual Dokumentasi M. Ilyas

permukaan yang rata dengan adanya cahaya di bagian atas,

cacing akan masuk dengan cepat ke bawah permukaan untuk menghindari cahaya, lalu pemanen dapat memindahkan lapisan kompos ke tempat yang lain. Proses ini dapat diulang beberapa kali sampai seluruh cacing berkumpul di bagian bawah dan siap untuk dipanen (Bogdanov 1996).

14

Metode migrasi didasarkan pada kecenderungan cacing tanah untuk berpindah ke bagian yang baru, baik untuk mendapatkan makanan baru maupun untuk menghindari kondisi yang tidak menguntungkan, seperti kekeringan atau cahaya. Tidak seperti metode manual, pada metode ini proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan kain kasa dan kotak kecil. Kotak dibentuk dengan kain kasa di bagian bawahnya (Bogdanov 1996). Ada dua pendekatan dalam metode ini, yang pertama sistem migrasi ke bawah, yaitu cacing tanah berpindah ke bagian bawah melewati kain kasa menuju container yang berisi tanah yang lembab. Setelah seluruh cacing melewati kain kasa, vermikompos di dalam kotak dipindahkan dan tumpukan cacing tanah dimasukkan ke dalam kotak yang lain. Pendekatan kedua adalah sistem migrasi ke atas, yaitu kotak yang berlubang bagian bawahnya diletakkan tepat di atas bedding. Di dalam kotak tersebut diisi dengan sedikit tanah lembab dan disebarkan makanan cacing seperti sampah dapur atau kotoran ternak. Kotak tersebut diangkat setelah cacing berpindah ke bagian atas menuju bahan-bahan makanan. Metode mekanik adalah metode yang paling cepat dan paling mudah untuk memisahkan cacing dari vermikompos (Bogdanov 1996). Pemanenan cacing dilakukan dengan menggunakan silinder berputar. Dinding silinder terdiri dari bahan-bahan kasa dengan ukuran lubang yang berbeda. Silinder diputar dengan mesin elektrik kecil yang

menempel di salah satu ujung silinder. Trommel dipasang di bagian sudut, di

Gambar 6. Silinder berputar untuk memanen cacing

15

ujung paling atas trommel yang berputar diletakkan cacing tanah dan beddingnya. Ketika silinder berputar, kotoran cacing jatuh melalui lubang kasa dan cacing melintas melewati ujung paling bawah ke dalam gerobak roda. Seiring dengan pemanenan cacing tanah, vermikompos juga dapat dipanen untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang mengandung humus yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

16

KESIMPULAN

Vermicomposting adalah proses pengomposan secara bioteknologi sederhana yang menggunakan beberapa spesies cacing tanah untuk meningkatkan proses perombakan limbah dan menghasilkan hasil akhir yang lebih baik. Hasil akhir vermicomposting adalah vermicast atau vermikompos. Terdapat beberapa macam hewan yang dapat menyebabkan gangguan dan penyakit bagi cacing tanah, yaitu: tikus, burung/unggas, lipan/kelabang, semut dan kutu. Dari kelima macam hewan tersebut, lipan/kelabang dan kutu yang paling berbahaya karena secara langsung dapat menyebabkan kematian pada cacing tanah. Ada tiga tipe dasar sistem vermicomposting, yaitu windrow, bed atau bin dan flow-through reactor (Munroe). Sistem flow-through reactor merupakan sistem vermicomposting yang paling jarang digunakan karena membutuhkan teknologi dan biaya tinggi.

17

DAFTAR PUSTAKA

Atiyeh RM, Dominguez J, Subler S, Edwards CA. 2000. Change ini biochemical properties of cow manure processed by earthworm (Eisenia andreii) and their effect on plant growth. Pedobiologia 44:709-24 Bogdanov P. 1996. Commercial Vermiculture: How to Build a Thriving Business in Redworms. Oregon: VermiCo Press. Davis ML, Cornwell DA. 1989. Introduction to Environmental Engineering. New York: MC Raw Hill Publ. Domjnguez J, Edwards CA, Subler S. 1997. A comparison of vermicomposting and composting. BioCycle 38:57-59. Edwards CA. 1998. The us of earthworm in the break down and management of organic wastes. In: Earthworm Ecology. Boca Raton: CRC Press. Garg VK, Chand S, Chhillar A, Yadav A. 2005. Growth and reproduction of Eisenia Foetida in various animal wastes during vermicomposting. Applied Ecology and Environmental Research 3:51-59. Gaddie R.E. (Sr.) and Donald E.D. 1975. Earthworms for Ecology and Profit. Volume 1: Scientific Earthworm Farming. Callifornia: Bookworm Publishing Company. Gandhi M, Sangwan V, Kapoor KK, Dilbaghi N. 1997. Composting of household wastes with and without earthworms. Environ Ecol 15:432–434. Gaur AC. 1983. Manual of Rural Composting. FAO. The United Nations, Rome. Hand P, Hayes WA, Frankland JC, Satchell JE. 1988, The Vermicomposting of Cow Slurry. Pedobiologia 31:199-209. Hebert M. 2006. Composting with worms. Cooperative Extension Service 1-4. Kevin H. 1979. Earthworm for Gardener and Fisherman. Discovery Soil, No 5. Sydney:.CSIRO Division of Soil. Academic Press. Lee KE. 1985. Earthworm: Their ecology and relationship with soil and land use. Sydney: CSIRO Division of Soil Adelaide. Academic Press. Minnich J. 1977. The Earthworms Book. USA: Rodale Press.

18

Misra RV, Roy RN, Hiraoka H. 2003. On-farm Composting Methods. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome. Munroe G. Manual of On-Farm Vermicomposting and Vermiculture. Organic Agriculture Centre of Canada. Myers R. 1969. The ABCs of the Earthworm Business. USA: Shields Publications, Eagle River. Nunes, K. 1997. The Good Compost Guide. EcoRecycle Victoria. Razon, CA, Razon BE. 1981. How to Raise Red Earthworm Profitably. Bereu of Animal Industry, Philippines. Sherman R. 1997. Controlling Mite Pest in Earthworm Beds. North Carolina Cooperative Extension Service, Raleigh, NC. Sinha RK, Herat S, Agarwal S, Asadi R, Carretero E. 2002. Vermiculture and waste management: study of action of earthworms Eisenia foetida, Eudrilus euginae and Perionyx excavatus on biodegradation of some community wastes in India and Australia. The Environmentalist 22:261268. Subler S, Edwards C, Metzger J. 1998. Comparing Vermicompost and Compost. BioCycle 39: 63-66. Sundaravadivel S, Ismail SA. 1995. Efficacy of biological filter unit in the treatment of distillery effluents. J Ecotoxicol Environ Mon 5:125-9. Waluyo D. 1993. Pengaruh Kapur Terhadap Perkembangan Tubuh dan Kliteum serta Kadar Protein dan Asam Amino pada Cacing Tanah Eisenia foetida Savigny. Tesis. Program Pascasarjana IPB, Bogor. Waluyo, Prawasti TS, Hidayat N. 1991. Pemanfaatan Kotoran Kambing, Sapi dan Ayam untuk Budidaya Cacing Tanah, Serta Koleksi dan Identifikasi Cacing Tanah di Daerah Bogor dan Sukabumi. Lembaga Penelitian IPB, Bogor.

19