You are on page 1of 87

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KINERJA GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KRUENG

BARONA JAYA

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar MAGISTER PENDIDIKAN pada Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

OLEH KHAIRANI NIM 0909200050020

UNIVERSITAS SYIAH KUALA PROGRAM PASCASARJANA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2013

2 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat serta tuntutan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global semakin tinggi, hal ini menempatkan dunia pendidikan memegang posisi yang sangat strategis untuk memenuhi tuntutan tersebut. Lembaga pendidikan menengah diharapkan dapat menyelenggarakan program-program terbaik bagi generasi yang akan datang sehingga mareka mampu menjadi anggota masyarakat masa depan yang berkualitas serta mampu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang

berkualitas,bidang pendidikan memegang peranan yang penting. Dengan pendidikan diharapkan kemampuan, mutu pendidikan dan martabat manusia Indonesia dapat ditingkatkan. Upaya meningkatkan SDM dilakukan melalui upaya sadar lewat jalur pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan,perubahan dan pembaharuan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dapat menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi era global. Lembaga pendidikan menengah dan pedidikan menengah atas merupakan salah satu lembaga pendidikan yang diharapkan dapat berpartisipasi dalam mencetak

3 SDM yang mengusai basic knowledge yang siap memasuki peguruan tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut maka salah satu faktor untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan kinerja sekolah perlu dibangun budaya organisasi di sekolah. Budaya sekolah dapat diartikan sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Sekolah merupakan suatu organisasi, dan budaya yang ada di tingkat sekolah merupakan budaya organisasi. Resep utama budaya organisasi adalah interpretasi kolektif yang dilakukan oleh anggota-anggota organisasi berikut hasil aktivitasnya. Budaya organisasi yang dimaksudkan disini ini adalah aspek-aspek non fisik, misalnya komitmen kerja, pola komunikasi, sikap terhadap pekerjaan, semangat kerja, sikap terhadap sesama, harapan, kepercayaan dan norma-norma serta nilainilai kejujuran, keadilan dan kebenaran yang dirasakan oleh guru selaku anggota organisasi sekolah. Budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang

mengarahkan perilaku anggota organisasi. Budaya selalu mengalami perubahan, hal ini sesuai dengan peranan sekolah sebagai agen perubahan yang selalu siap untuk mengikuti perubahan yang terjadi. Maka budaya organisasi sekolah diharapkan juga mampu mengikuti, menyeleksi, dan berinovasi terhadap perubahan yang terjadi. Karena kebudayaan dan pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan karena saling mengikat. Budaya itu hidup dan berkembang karena proses pendidikan, dan pendidikan itu hanya ada dalam suatu konteks kebudayaan. Yang ada dalam arti kurikulum adalah sebagai rekayasa dari pembudayaan suatu

4 masyarakat, sedangkan proses pendidikan itu pada hakekatnya merupakan suatu proses pembudayaan yang dinamik. Budaya organisasi dapat dikatakan baik jika mampu menggerakkan seluruh personal secara sadar dan mampu memberikan kontribusi terhadap keefektifan serta produktivitas kerja yang optimal. Dengan demikian budaya organisasi sekolah sebagai bagian kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formulanya untuk menciptakan norma perilaku pelaku organisasi dan menentukan arah organisasi secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan organisasi sekolah. Dalam persefektif Administrasi pendidikan keberhasilan organisasi sekolah untuk meningkatkan prestasi dan hasil pendidikan yang bermutu tidak hanya di tentukan oleh fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, (P4) saja tetapi juga di tentukan oleh implementasi fungsi-fungsi manajemen tersebut dalam bentuk tindakan nyata yaitu budaya organisasi sekolah. Pendekatan budaya organisasi sekolah mengikat anggota organisasi sekolah untuk mengacu satu tujuan yaitu tujuan sekolah, otonomi daerah membawa dampak kepada organisasi bentukan budaya baru bagi organisasi sekolah yang sesuai dengan konteks sekolah kewilayahan. Budaya organisasi meningkatkan pemahaman kepada warga sekolah tentang hakekat tugas fungsi sekolah dalam masyarakat, strategi yang di yakini sebagai asumsi ,dan nilai di tanam pada setiap anggota dalam organisasi sehingga memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi. Budaya organisasi merupakan jati diri sekolah, sehingga ketika orang luar melihat kinerja sekolah dapat dilihat dari sikap dan tindakan yang dilakukan dalam

5 bentuk manifestasi perilaku anggota organisasi, pembentukan budaya organisasi dibutuhkan peran kepala sekolah yang kuat untuk mewarnai berbagai aktivitas organisasi. Apakah budaya organisasi berorientasi pada tugas kebersamaan dan birokratik sangat bergantung pada bagaimana kepala sekolah dan anggotanya

memainkan peranan, budaya kerja ideal yang dibutuhkan untuk mencapai prestasi siswa standar nasional yang telah di tetapkan. Sekolah harus mengembangkan budaya organisasi yang bermutu dan meminimalkan budaya organisasi yang kurang bermutu yang menjadi penentu keberhasilan sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, budaya organisasi sekolah yang bermutu menjadi pedoman melakukan tindakan dalam setiap kegiatan baik kegiatan individu maupun kegiatan organisasi, budaya organisasi yang sebagai pendukung keberhasilan kinerja organisasi sekolah lebih terbentuk melalui manajemen berbasis sekolah terutama dalam upaya perbaikan–perbaikan pengelolaan sekolah yang lebih efektif dan efisien serta produktif. Peran budaya organisasi sekolah adalah untuk menjaga dan memelihara komitmen sehingga kelangsungan mekanisme dan fungsi yang telah disepakati oleh organisasi dapat merealisasikan tujuan-tujuannya. Budaya organisasi yang kuat akan mempengaruhi setiap perilaku. Hal itu tidak hanya membawa dampak pada keuntungan organisasi sekolah secara umum, namun juga akan berdampak pada perkembangan kemampuan dan efektivitas kerja guru itu sendiri. Nilai-nilai budaya yang ditanamkan pimpinan akan mampu meningkatkan kemauan, kesetiaan, dan kebanggaan serta lebih jauh menciptkaan efektivitas kerja. Hal ini sesuai dengan

6 pandangan Greenberg dan Baron (Wibowo, 2010: 51) tentang peranan budaya organisasi berikut ini: Budaya memberikan rasa identitas, semakin jelas persepsi dan nilai-nilai bersama organisasi didefinisikan, semakin kuat orang dapat disatukan dengan misi organisasi dan merasa bagian penting darinya. Budaya membangkitkan komitmen pada misi organisasi, apabila terdapat strong culture, orang merasa bahwa mereka menjadi bagian dari yang besar, dan terlibat dalam keseluruhan kerja organisasi. Budaya memperjelas dan memperkuat standar perilaku. Budaya membimbing kata dan perbuatan pekerja, membuat jelas apa yang harus dilakukan dan kata-kata dalam situasi tertentu,terutama berguna bagi pendatang baru. Pada kenyataannya budaya organisasi sekolah selama ini belum seluruhnya menunjukkan positif, masih ditemukan kebiasaan organisasi yang tidak baik, kaku dan miskin atas inovasi. Budaya organisasi sekolah seperti ini ditunjukkan melalui personil yang melaksanakan tugas tampak kurang produktif, realitas ini menunjukkan bahwa budaya organisasi sekolah menjadi permasalahan karena masih terdapat praktik yang kurang etis yakni mengesampingkan norma bersama yang ada dalam berprilaku personil disekolah belum sepenuhnya dilaksanakan. Selain itu, berkaitan dengan terwujudnya prestasi belajar siswa yang tinggi, hal itu juga tidak terlepas dari kinerja guru yang berada di organisasi sekolah tersebut. Kinerja guru pada dasarnya terfokus pada perilaku guru di dalam pekerjaannya. Sedangkan perihal efektivitas kerja guru dapat dilihat sejauh mana kinerja tersebut dapat memberikan pengaruh kepada anak didik. Secara spesifik tujuan kinerja juga mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pembelajaran dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik.

7 Guna mewujudkan guru yang mempunyai kinerja yang tinggi, maka perlu dikembangkan dengan segala potensi yang dimiliki guru. Pengembangan guru dimaksud ialah suatu usaha untuk memajukan guru baik dari rekrutmen, kedisiplinan dan prestasi kerja maupun peningkatan keterampilan dan kemampuan. Budaya organisasi dan kinerja guru bila dikembangkan dengan baik maka akan menjadi pendorong para guru dan sekaligus menjadi bahan masukan bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan tugas mendidiknya. Pada konteks ini guru sebagai anggota organisasi sekolah akan lebih mudah mencapai efektivitas kerja yang tinggi jika ia mempunyai perilaku dan komitmen. Menyadari bahwa dirinya tidak hanya sebagai anggota dari organisasi sekolah tetapi juga paham terhadap tujuan organsiasi sekolah tersebut. Dengan demikian seorang guru akan dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi yang pada akhirnya dapat berbuat dan bekerja sepenuhnya untuk keberhasilan organisasi sekolah. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan adalah prestasi belajar siswa. Namun terkadang ada beberapa siswa dapat mengalami hal-hal yang menyebabkan ia tidak dapat belajar atau melakukan kegiatan selama proses pembelajaran sedang berlangsung. Mungkin juga, si siswa dapat belajar atau melakukan kegiatan selama proses pembelajaran sedang berlangsung, namun tidak maksimal. Faktor penyebabnya dapat berasal dari dalam diri si anak sendiri dan dapat juga dari luar seperti iklim dan kondisi sekolah juga termasuk cara mengajar dan motivasi dari guru.

8 Prestasi belajar siswa sebagai sumber daya manusia adalah suatu kekuatan atau kemampuan dari siswa untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat materi atau non materi, baik yang bisa dinilai dengan uang ataupun tidak. Dengan adanya prestasi belajar siswa yang tinggi, maka segala apa yang diprogramkan sekolah di dalam tujuannya untuk mencapai tujuan umum akan segera tercapai. Akan tetapi, tidak semua siswa itu mempunyai kualitas belajar yang tinggi, pasti ada berbagai macam tingkat prestasi yang dimiliki oleh para siswa. Oleh karenanya sekolah harus berupaya menciptakan suasana dan budaya yang menyenangkan sehingga siswa termotivasi dan terpacu untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Selain itu prestasi siswa juga dapat ditingkatkan melaui program–program pendidikan yang telah ditetapkan sekolah dalam kegiatan meningkatkan kualitas dari siswanya, salah satunya adalah dengan strategi pembelajaran yang tepat dan inovatif yang dilakukan guru demi mencapai prestasi belajar siswa yang baik. Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Krueng Barona Jaya merupakan salah satu sekolah yang terletak di wilayah Aceh Besar. Berdasarkan penelitian awal peneliti, diperoleh permasalahan tentang prestasi belajar siswa yang masih berkategori sedang pada sekolah tersebut hal ini terlihat pada nilai akhir siswa kelas dua belas (XII) Tahun Pelajaran 2010/2011, baik nilai ujian nasional (UN) maupun nilai sekolah (NS). Dari data kelulusan terlihat bahwa dari 173 siswa cuma 20 orang yang mendapatkan nilai akhir delapan keatas, dan yang lain rata-rata nilai tujuh dan ada beberapa orang yang bernilai enam. Padahal menurut pengamatan peneliti

9 lingkungan, budaya organisasi, jumlah guru dan sarana prasarana sekolah sangat mendukung dalam meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal. Sejalan dengan pernyataan tersebut, dengan melihat pentingnya budaya organisasi dan kinerja guru, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Budaya Organisasi Dan Kinerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Krueng Barona Jaya Aceh Besar”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah “Bagaimanakah pengaruh budaya organisasi dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan tersebut dan memperhatikan variabel penelitian, maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan pengaruh budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya Aceh Besar. 2. Tujuan Khusus Sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1. Pengaruh budaya organisasi terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. 2. Pengaruh kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar.

10 3. Pengaruh budaya organisasi dan kinerja guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Secara teoritis penelitian ini bermanfaat sebagai bahan kajian untuk mengembangkan konsep-konsep administrasi pendidikan terutama mengenai konsepkonsep tentang budaya organisasi sekolah, kinerja guru dan prestasi belajar siswa. 2. Manfaat Praktis Sedangkan manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat bermamfaat bagi: a. Kepala Dinas Pendidikan Kab. Aceh Besar, dalam memberikan kontribusi pemikiran yang dapat dijadikan bahan masukan dalam penentuan prioritas program pendidikan daerah berkaitan dengan budaya organisasi sekolah dan kinerja guru. b. Kepala Sekolah, dalam menciptakan budaya sekolah yang baik dan dalam upaya pembinaan kinerja guru sehingga prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan secara maksimal. c. Pengawas, dalam memberikan informasi yang dapat dijadikan bahan acuan pengawasan mutu pendidikan dan pembinaan kinerja guru. d. Guru, untuk meningkatkan mutu dan produktivitas pendidikan serta kualitas kinerja mengajamya. E. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

11 Hipotesis 1: Terdapat pengaruh positif dan signifikan budaya organisasi terhadap prestasi belajar siswa pada SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Hipotesis 2: Terdapat pengaruh positif dan signifikan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Hipotesis 3: Terdapat pengaruh positif dan signifikan dari budaya organisasi dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar F. Penelitian Terdahulu yang Relevan Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang relevan dengan permasalahan pada penelitian penulis diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Mustafa (2006: 78) tentang pengaruh motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap prestasi belajar siswa. Tingkat disiplin guru sudah relatif baik namun masih perlu ditingkatkan di masa yang datang. Sedangkan prestasi siswa memperlihatkan peningkatan dibandingkan sebelumnya. Kesimpulan tersebut diambil dengan didasari oleh oleh beberapa alasan tertentu dan dapat dipertanggung jawabkan melalui kajian lapangan. Kaitan dengan penelitian penulis adalah kesamaan variabel yaitu prestasi belajar siswa. Handayani (2007:80), melakukan penelitian tentang pengaruh kepuasan kerja dan kreativitas guru terhadap prestasi belajar siswa. hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kreativitas guru dengan prestasi belajar siswa, dan terdapat hubungan positif dan signifikan

12 antara kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Selanjutnya secara bersama terdapat hubungan positif dan signifikan antara kreativitas guru dan kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Carroline (2011:62) melakukan penelitian tentang pengaruh kemampuan professional dan motivasi kerja guru terhadap prestasi belajar siswa. hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kemampuan professional dengan prestasi belajar siswa, dan terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi kerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Selanjutnya secara bersama terdapat hubungan positif dan signifikan antara kemampuan professional dan motivasi kerja guru terhadap prestasi belajar siswa.

13

BAB II BUDAYA ORGANISASI, KINERJA GURU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA A. Budaya Organisasi 1. Pengertian budaya organisasi Budaya atau kebudayaan hanya terdapat dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk budaya. Dengan kata lain kebudayaan hanya terdapat dalam kehidupan sosial atau kehidupan bersama dalam kebersamaan yang disebut masyarakat. Dalam kenyataannya tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan dan tidak ada kebudayaan diluar sebuah masyarakat. Sehubungan dengan hal itu Schein (Wibowo, 2010: 15) menyatakan pengertian budaya adalah: Suatu pola asumsi dasar yang ditemukan dan dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu karena mempelajari dan menguasai masalah adaptasi eksternal dan integral internal, yang telah bekerja dengan cukup baik untuk dipertimbangkan secara layak dan karena itu diajarkan pada anggota baru sebagai cara yang dipersepsikan, berfikir dan dirasakan dengan benar dalam hubungan dengan masalah tersebut. Menurut Fahmi (2010: 46) budaya adalah “ Hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bahagian dari tata kehidupan sehari-hari”. Adapun penerapan budaya tersebut di dalam organisasi menjadi budaya organisasi. Dalam hal ini Sutrisno (2010 ; 2) mendefinisikan budaya organisasi sebagai “Perangkat sistem nilai-nilai (values), keyakinan-keyakinan (beliefs) atau norma-

14 norma yang telah lama berlaku, disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah

organisasinya”. Menurut Kreitner dan Kinicki (Wibowo, 2010:17) budaya organisasi merupakan nilai-nilai dan keyakinan bersama yang mendasari identitas perusahaan. Sedangkan menurut Fahmi (2010: 47) budaya organisasi adalah suatu kebiasaan yang telah berlangsung lama dan dipakai serta diterapkan dalam kehidupan aktivitas kerja sebagai salah satu pendorong untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan dan manajer perusahaan. Selanjutnya Robbin ( Wibowo, 2010:17) menyatakan bahwa budaya organisasi itu adalah sebuah persepsi umum yang dipegang oleh anggota organisasi, suatu sistem tentang keberartian kebersamaan. Lebih lanjut Wahab (2008: 297) menyatakan bahwa budaya organisasi (termasuk sekolah) adalah “ Shared orientations that hold the unit together and give together and give it a distinctive identity”. Hal tersebut bisa diartikan sebagai Orientasi bersama yang memegang unit bersama-sama dan memberikan bersamasama dan memberikan identitas yang berbeda. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dalam budaya yang kuat, keyakinan dan nilai dipegang teguh, dibagi luas dan menjadi perilaku organisasi. Budaya dimanivestasikan dalam norma-norma, nilai yang dibagikan dan asumsi-asumsi dasar dengan tingkat kedalaman dan abstraksi yang berbeda. Dari berbagai definisi tersebut di atas pada prinsipnya budaya organisasi merupakan nilai, anggapan, asumsi, sikap dan norma perilaku yang telah melembaga

15 kemudian mewujud dalam penampilan, sikap dan tindakan, sehingga menjadi identitas dari organisasi tertentu. Budaya organisasi mengarah pada kualitas lingkungan internal organisasi yang dialami orang yang berada di dalamnya. Budaya organisasi sebagai keadaan lingkungan kerja yang dipersiapkan oleh para anggotanya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan diasumsikan berpengaruh terhadap motivasi serta perilaku anggotanya. Budaya organisasi biasanya tidak tertulis tetapi keberadaannya sangat menentukan kehidupan organisasi. Budaya berhubungan erat dengan kekuasaan dalam membentuk sistem nilai organisasi. Kekuasaan dan budaya organisasi mencakup faktor manusia, yakni non rasionalitas, kepentingan yang beragam, koalisi dominan, keuasaan dan otoritas serta keyakinan, tata nilai dan persepsi umum yang berteman”. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya organisasi adalah suatu keadaan yang berlaku dalam lingkungan kerja yang mengatur anggotanya untuk taat terhadap segenap nilai, norma dan aturan yang sudah ditetapkan dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Organisasi Budaya organisasi mempunyai pengertian sebagai aturan main yang ada didalam perusahaan yang akan menjadi pegangan dari “masyarakat organisasi” dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berperilaku didalam organisasi tersebut.

16 Budaya organisasi dapat dibangun melalui berbagai macam sumber, baik dari internal maupun eksternal organisasi. Dapat pula karena ditanamkan oleh pendiri, pengalaman yang dibawa oleh para pemimpin berikutnya, maupun sumber daya manuasia lain yang dibawa masuk dalam ke dalam orgasisasi. Vecchio (Wibowo, 2010:65) mengidentifikasi adanya empat faktor yang dapat mempengaruhi budaya organisasi, yaitu: 1) Keyakinan dan nilai-nilai pendiri organisasi dapat menjadi pengaruh kuat pada penciptaan budaya organisasi. 2) Norma sosial organisasi juga dapat memainkan peran dalam menentukan budaya organisasi. 3) Masalah adaptasi eksternal dan sikap terhadap kelangsungan hidup merupakan tantangan bagi organisasi yang harus dihadapi anggotanya melalui penciptaan budaya organisasi. 4) Masalah integrasi internal dapat mengarahkan pada pembentukan budaya organisasi. Dari pandangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sumber budaya organisasi terutama berasal dari keyakinan, nilai-nilai, norma-norma, adaptasi dan integrasi internal. Keempat sumber budaya organisasi ini sangat berpengaruh kuat terhadap pembentukan dan penciptaan organisasi sehingga harus dapat dipertahankan dan dikembangkan secara maksimal. Sementara itu, menurut Baron (Wibowo, 2010:65) ada tiga sumber yang dapat menciptakan budaya organisasi, yaitu: 1) Company founder (pendiri perusahaan). 2) Experimence with the environment (pengalaman dengan lingkungan). 3) Contach with others (kontak dengan orang lain). Dari pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber budaya organisasi terutama berasal dari pendiri organisasi yang memiliki kemampuan berdasar

17 pengalaman melakukan adaptasi dan integrasi dengan lingkungan internal dan eksternalnya. 3. Budaya Organisasi Sekolah Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Kalaupun terdapat perbedaan mungkin hanya terletak pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan karakateristik dari para pendukungnya. Nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah, tentunya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah itu sendiri sebagai organisasi pendidikan, yang memiliki peran dan fungsi untuk berusaha mengembangkan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya. Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada pemikiran Spranger (Suryabrata, 2010: 101), maka setidaknya terdapat enam jenis nilai yang seyogyanya dikembangkan di sekolah. Dalam tabel 1 berikut ini dikemukakan keenam jenis nilai dari Spranger beserta perilaku dasarnya. Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger No 1 2 3 4 5 6 Nilai Ilmu Pengetahuan Ekonomi Kesenian Keagamaan Kemasyarakatan Politik/kenegaraan Perilaku Dasar Berfikir Bekerja Menikmati keindahan Memuja Berbakti/berkorban Berkuasa/memerintah

Sumber : Modifikasi dari Sumadi Suryabrata. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sebagaimana telah digambarkan dalam pengetian di atas bahwa budaya sekolah terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual, keyakinan, nilai-nilai, sikap dan

18 kebiasaan yang terbentuk dalam sekolah. Bentuk budaya sekolah secara intrinsik muncul sebagai suatu fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan sikap, perilaku yang hidup dan berkembang dalam sekolah pada dasarnya mencerminkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas dari warga sekolah. Lebih khusus lagi Beare (Suryabrata, 2010: 48) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua kategori, yakni unsur kasat mata dan unsur yang tidak kasat mata. Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau barkaitan atau mencerminkan apa yang tidak kasata mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup atau yang di anggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Dan itu harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih kongkrit yang akan di capai oleh sekolah. Sedangkan unsur yang kasat mata masih menurut Beare (Suryabrata, 2010: 48) dapat termenifestasi secara konseptual yang meliputi : 1)visi,misi, tujuan dan sasaran, 2) kurikulum, 3) bahasa komunikasi, 4) narasi sekolah, 5) narasi tokoh-tokoh, 6) struktur organisasi, 7) ritual, 8) upacara, 9) prosedur belajar mengajar, 10)peraturan sistem ganjaran/ hukuman, 11) layanan psikologi sosial, 12) pola interaksi sekolah dengan orang tua, masyarakat dan yang meteriil dapat berupa : fasilitas dan peralatan, artifiak dan tanda kenangan serta pakaian seragam. Unsur-unsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan terbagi sebagai berikut : a. Kultur sekolah yang positif

19 Kultur sekolah yang positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar. b. Kultur sekolah yang negatif Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misalnya dapat berupa: siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukan kerja sama dalam memecahkan masalah. c. Kultur sekolah yang netral Yaitu kultur yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif tehadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain. Selanjutnya karakteristik budaya organisasi di sekolah, yaitu terdiri dari: obeserved behavioral regularities; (2) norms; (3) dominant value. (4) philosophy; (5) rules dan (6) organization climate. Karakteristik di atas dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Obeserved behavioral regularities; budaya organisasi di sekolah ditandai dengan adanya keberaturan cara bertindak dari seluruh anggota sekolah yang dapat diamati. Keberaturan berperilaku ini dapat berbentuk acara-acara ritual tertentu, bahasa umum yang digunakan atau simbol-simbol tertentu, yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh anggota sekolah.

20 (2) Norms; budaya organisasi di sekolah ditandai pula oleh adanya norma-norma yang berisi tentang standar perilaku dari anggota sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Standar perilaku ini bisa berdasarkan pada kebijakan intern sekolah itu sendiri maupun pada kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Standar perilaku siswa terutama berhubungan dengan pencapaian hasil belajar siswa, yang akan menentukan apakah seorang siswa dapat dinyatakan lulus/naik kelas atau tidak. Standar perilaku siswa tidak hanya berkenaan

dengan aspek kognitif atau akademik semata namun menyangkut seluruh aspek kepribadian. Sedangkan berkenaan dengan standar perilaku guru, tentunya erat kaitannya dengan standar kompetensi yang harus dimiliki guru, yang akan menopang terhadap kinerjanya. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu: a. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. b. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan. c. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

21 d. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. (3) Dominant values; jika dihubungkan dengan tantangan pendidikan Indonesia dewasa ini yaitu tentang pencapaian mutu pendidikan, maka budaya organisasi di sekolah seyogyanya diletakkan dalam kerangka pencapaian mutu pendidikan di sekolah. Nilai dan keyakinan akan pencapaian mutu pendidikan di sekolah hendaknya menjadi hal yang utama bagi seluruh warga sekolah. Pada aspek input, mutu pendidikan ditunjukkan melalui tingkat kesiapan dan ketersediaan sumber daya, perangkat lunak, dan harapan-harapan. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut. Sedangkan pada aspek proses, mutu pendidikan ditunjukkan melalui pengkoordinasian dan penyerasian serta pemanduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Sementara, dari aspek out put, mutu pendidikan dapat dilihat dari prestasi sekolah, khususnya prestasi siswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. (4) Philosophy; budaya organisasi ditandai dengan adanya keyakinan dari seluruh anggota organisasi dalam memandang tentang sesuatu secara hakiki, misalnya tentang waktu, manusia, dan sebagainya, yang dijadikan sebagai kebijakan organisasi. Jika kita mengadopsi filosofi dalam dunia bisnis yang memang telah

22 terbukti memberikan keunggulan pada perusahaan, di mana filosofi ini diletakkan pada upaya memberikan kepuasan kepada para pelanggan, maka sekolah pun seyogyanya memiliki keyakinan akan pentingnya upaya untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. (5) Rules; budaya organisasi ditandai dengan adanya ketentuan dan aturan main yang mengikat seluruh anggota organisasi. Setiap sekolah memiliki ketentuan dan aturan main tertentu, baik yang bersumber dari kebijakan sekolah setempat, maupun dari pemerintah, yang mengikat seluruh warga sekolah dalam berperilaku dan bertindak dalam organisasi. Aturan umum di sekolah ini

dikemas dalam bentuk tata- tertib sekolah (school discipline), di dalamnya berisikan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga sekolah, sekaligus dilengkapi pula dengan ketentuan sanksi, jika melakukan pelanggaran. (6) Organization climate; budaya organisasi ditandai dengan adanya iklim organisasi. Di sekolah terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus dapat menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah, melalui berbagai penataan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya. Berkaitan dengan budaya sekolah Deal ( Wahab, 2008: 298) mengatakan bahwa sekolah yang efektif mempunyai budaya yang kuat dengan karakteristik sebagai berikut:

23 a) Nilai yang dibagi dan konsensustentang “ bagaimana kita mengerjakan sesuatu di sini”. b) Kepala sekolah sebagai pahlawan yang menanamkan nilai-nilai inti. c) Ritual-ritual berbeda yang menanamkan keyakinan yang dibagikan secara luas. d) Pegawai sebagai pahlawan situasional. e) Ritual-ritual sebagai akulturasi dan pembaharuan budaya. f) Ritual yang signifikan untuk memperingati dan mentransform nilainilai inti. g) Keseimbangan antara inovasi dan tradisi dan antara otonomi dan control. h) Partisipasi yang luas dalam ritual-ritual budaya. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa pentingnya membangun budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan kinerja sekolah. Agar budaya organisasi yang dibutuhkan untuk pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi (sekolah) tidak sekedar menjadi slogan namun terbagi dan tertanam dalam diri individu-individu dalam organisasi maka budaya organisasi harus dikembangkan. Upaya untuk

mengembangkan budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan tugas kepala sekolah selaku leader dan manajer di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah hendaknya mampu melihat lingkungan sekolahnya secara holistik, sehingga diperoleh kerangka kerja yang lebih luas guna memahami masalah-masalah yang sulit dan hubungan-hubungan yang kompleks di sekolahnya. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya.

24 B. Konsep Kinerja guru Kinerja merupakan artikulasi terdekat dari kata atau istilah bahasa Inggris performance. Kata kinerja sering diartikan dengan unjuk kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja atau penampilan kerja. Kinerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kemampuan dan motivasi. Kinerja juga bisa diartikan prestasi yang dapat dicapai oleh seseorang atau organisasi berdasarkan kriteria dan ulut ukur tertentu. Dibawah ini akan dijelaskan tentang pengertian kinerja guru, faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja, penilaian kinerja dan indikator kinerja. 1. Pengertian Kinerja Guru Kinerja diterjemahkan sebagai hasil kerja atau prestasi kerja yang dicapai seseorang. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 570), “kinerja dinyatakan sebagai sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja”. Jadi kinerja sama dengan job performance, yakni hasil yang dicapai oleh seseorang menurut standar yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Menurut Bastian ( Fahmi: 2010: 2), “Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi”. Smith (Usman 2007:74) menyatakan “performance atau kinerja merupakan hasil kerja dari suatu proses”. Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya berupa prestasi.

25 Selanjutnya dari perspektif administrasi pendidikan, definisi kinerja dapat dikemukakan sebagaimana pendapat pakar berikut: menurut Usman (2007:74),

“kinerja merupakan unjuk kerja seseorang dalam melakukan tugas-tugas yang telah dipercayakan kepadanya sesuai dengan fungsi dan kedudukannya”. Menurut Fahmi (2010:2) “Kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama satu periode tertentu”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja dapat diartikan suatu tindakan atau kegiatan yang ditampilkan oleh seseorang dalam melaksanakan aktivitas tertentu, yang dapat dimaknai bahwa ia merupakan suatu prestasi kerja yang dicapai oleh seseorang dan hasilnya memenuhi persyaratan kualitas, baik jumlah maupun kecepatan, sesuai dengan rencana awal sebelum melakukan pekerjaan. Kinerja guru akan nampak pada situasi dan kondisi kerja sehari-hari dalam melaksanakan pembelajaran. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran akan menggambarkan bagaimana ia berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja adalah akumulasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yaitu keterampilan, upaya, dan sifat-sifat keadaan eksternal. Keterampilan dasar yang dibawa seseorang guru dalam pembelajaran dapat berupa pengetahuan, kemampuan, kecakapan interpersonal dan keterampilan teknis. Menurut Wibowo (2011:7) “ Kinerja adalah melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut”. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa kinerja adalah hasil yang dicapsi seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan. Dari semua peandangan dan pendapat tentang kinerja yang dipaparkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam mengartikan suatu kinerja, berbagai ahli memiliki pendapat berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kepentingan masing-

26 masing. Namun rumusan mereka pada hakikatnya memiliki kesamaan arti. Dalam kaitan ini, secara sederhana kinerja dapat diartikan unjuk kerja sebagai hasil dari suatu proses. Unjuk kerja ini didasarkan atas deskripsi dan spesifikasi suatu pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Jadi kinerja merupakan perwujudan yang sinergik dari kemampuan dan motivasi dalam pekerjaan. Dengan demikian kinerja seseorang akan terlihat dari produktivitasnya dalam melaksanakan pekerjaannya. Dari berbagai definisi yang dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang diberikan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semakin mutu hasil kerja guru dalam melaksanakan pembelajaran, maka semakin baik pula kinerjanya dalam sekolah yang akhirnya akan berkontribusi bagi peningkatan kinerja sekolah secara keseluruhan. Selanjutnya berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja mengajar guru adalah sejauh mana kemampuan kerja atau hasil kerja yang diperlihat oleh guru dalam proses pelaksanaan tugas dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan berdasarkan persyaratan- persyaratan tertentu. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru barus memiliki pengetahuan, keterampilan serta sikap yang baik. Guru mampu dan terampil melaksanakan tugas mengajar dengan baik, apabila guru memiliki kemampuan profesional, yaitu terpenuhinya 10 kompetensi profesional guru. Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan tersebut, maka dimensi dan indikator kinerja mengajar guru dapat dilihat dari aspek-aspek kompetensi profesional seorang guru dalam mengajarnya, yaitu dengan diwujudkan

27 dengan indikator-indikator sebagai berikut: (a) menguasai bahan, (b) mengelola program belajar mengajar; (c) mengelola kelas; (d) menggunakan media sumber; (e) menguasai landasan kependidikan; (f) mengelola interaksi belajar mengajar; (g) memlai prestasi belajar siswa untuk kepentingan pengajaran; (h) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (i) mengenal dan

menyelenggarakan admimstrasi sekolah; (j) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. 2. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Kinerja menunjukan suatu penampilan kerja seseorang dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam suatu lingkungan tertentu termasuk dalam organisasi. Dalam kenyataannya, banyak faktor yang mempengaruhi prilaku seseorang, sehingga bila diterapkan pada pekerja, maka bagaimana dia bekerja akan dapat menjadi dasar untuk analisis latar belakang yang mempengaruhi. Sutermeister (Usman, 2007:74) mengemukakan bahwa: “Kinerja merupakan hasil perpaduan dari kecakapan dan motivasi, dimana masing-masing variabelnya dihasilkan dari sejumlah faktor lain yang saling mempengaruhi”. Secara matematik dapat dirumuskan dan dirinci definisi kinerja sebagai berikut : “Job Performance = Ability x motivation”. Faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja adalah “Faktor kemampuan (ability) = pengetahuan (knowledge) + keterampilan (skill), dan faktor motivasi (motivation) = sikap (attitude) + situasi kerja (situation)”. Dari pendapat di atas ada dua dimensi utama yang sangat berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Kedua dimensi itu adalah: kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Artinya, Seseorang akan bekerja secara profesional bila memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan memiliki motivasi untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, seseorang tidak akan bisa bekerja secara

28 profesional bila hanya memenuhi salah satu diantara dua aspek tersebut, misalnya kemampuan saja atau motivasi saja. Untuk lebih jelas dibawah ini akan dirincikan tentang faktor kemampuan dan faktor motivasi yang mempengaruhi kinerja guru. a. Faktor Kemampuan Kemampuan (ability) diartikan sebagai kesanggupan seseorang dalam melaksanakan aktivitas terhadap tugas atau pekerjaan yang diembannya yang mencapai sasaran dan memperoleh hasil. Usman (2007:75)

menyebutkan,”Kemampuan merupakan hasil perpaduan antara pendidikan, pelatihan dan pengalaman”. Pernyataan ini menegaskan, bahwa untuk dapat melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan maka seseorang harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas tersebut. Pengetahuan dan keterampilan dimaksud dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik melalui berbagai pelatihan-pelatihan dan penataran ( in-service training dan on-service training), atau pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman yang panjang dan dalam waktu yang lama saat melaksanakan tugas. Menurut Mitchell (Usman, 2007: 77), kemampuan meliputi beberapa aspek, yaitu: “(1) mutu pekerjaan (quality of work), (2) Ketepatan waktu (promptness), (3) inisiatif (initiative), (4) kemampuan (capability), dan (5) komunikasi

(communication)”. Kelima aspek ini dapat dijadikan ukuran dalam mengadakan pengkajian tingkat kemampuan seseorang. Kemampuan personal erat kaitannya dengan cara mengadakan penilaian terhadap pekerjaan seseorang. Dalam hal ini, pilihan seseorang terhadap suatu pekerjaan akan melahirkan komitmen yang harus dipatuhi. Komitmen ini erat

29 kaitannya dengan tanggung jawab moral seseorang terhadap keputusan yang diambilnya terhadap suatu hal, khususnya dalam pekerjaan. Indikator yang menunjukkan komitmen seseorang terhadap pekerjaannya akan terlihat dari kemampuannya untuk menempatkan kepentingan pekerjaan tersebut diatas kepentingan pribadinya. b. Faktor Motivasi Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) kepala sekolah dan guru terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan sekolahnya. Mereka yang bersikap positif (pro) terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud mencakup antar lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pemimpin, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja. Robin, S (2006: 213) juga menyatakan terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:” 1) Tanggung jawab, 2) Komitmen, 3) Disiplin, 4) Motivasi”. Tanggung jawab guru yang utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar siswa yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik sehingga tumbuh minat dan nafsu untuk belajar. Guru bukan saja bertanggung jawab terhadap aspek pengetahuan tetapi juga terhadap aspek mendidik kepribadian anak dalam hal disiplin, tanggung jawab dan mandiri. Komitmen guru sangat menentukan keberhasilan sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Kesungguhan guru terhadap tugas mengajar diimplikasikan melalui kesungguhan kerja terhadap tugas untuk kemajuan dalam pendidikan, untuk meningkatkan prestasi belajar. 3. Penilaian Kinerja

30 Penilaian kinerja merupakan satu tugas yang paling penting untuk dilakukan dengan tujuan adanya perbaikan, peningkatan dan pengembangan produktivitas kerja. Setiap personal pada posisi atau jabatannya dituntut untuk bekerja secara tertentu sesuai dengan hakikat tugasnya. Dalam melaksanakan tugas secara tertentu sesuai dengan hakikat tugasnya. Dalam melaksanakan tugas secara tertentu itulah mereka dinilai, terutama sejauhmana mereka mempunyai konstribusi terhadap pencapaian-pencapaian tujuan organisasi dan potensi-potensi apa yang masih dapat aktual untuk ditingkatkan dan dikembangkan untuk kepentingan organisasi. Sehingga, dibutuhkanlah penilaian kinerja personal sebagai rangkaian kegiatan tindak lanjut dari penugasan personal pada jabatan tertentu. Kinerja yang baik akan terwujud dalam bentuk produktivitas dan kualitas kerja yang dapat diukur. Dalam menilai kinerja seseorang, dibutuhkan suatu sistem, standar, dan tujuan yang jelas digunakan dalam penilaian. Jadi, apabila diterjemahkan ke dalam standar kerja, pengukuran seperti ini berarti memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengetahui tingkat kinerjanya. Penilaian prestasi kerja merupakan suatu proses yang dinamis serta memerlukan bimbingan atau pengarahan yang aktif, analitis dan penuh pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Menurut Usman (2007:105), alasan pentingnya dilakukan penilaian kinerja adalah sebagai berikut: (1) Sebagai masukan pokok dalam penerapan sistem reward dan punishment yang bersifat formal. (2) Sebagai kriteria untuk melakukan validasi tes, (3) Memberikan umpan balik kepada pegawai sehingga dapat berfungsi sebagai wahana pengembangan pribadi dan karir. (4) Menentukan tujuan program pelatihan, dan

31 (5) Membantu dan mendiagnosa masalah-masalah organisasi. Dengan demikian, melalui penilaian kinerja akan diketahui, apakah seorang karyawan dalam melaksanakan tugas telah mencapai performa yang maksimal sehingga akan berimbas kepada kinerja organisasi. Berkaitan penilaian kinerja, Mulianto (2006:291) menegaskan, “Penilaian prestasi kerja dilakukan dalam rangka memperoleh masukan yang tepat dan objektif untuk menunjang keberhasilan dalam mengambil keputusan berkenaan dengan karyawan yang bersangkutan”. Pendapat ini didukung Robert (Fahmi, 2010:65) yang menyatakan bahwa “ Penilaian kinerja merupakan proses mengevaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaan mereka ketika dibandingkan dengan satu set standar, dan kemudian mengomunikasikan informasi tersebut ”. penilaian yang dilakukan tersebut nantinya akan menjadi bahan masukan yang berarti dalam menilai kinerja yang dilakukan dan selanjutnya dapat dilakukan perbaikan, atau yang biasa disebut perbaikan yang berkelanjutan. Penilaian kinerja yang baik tentu harus dapat memberikan gambaran yang akurat tentang yang diukur. Artinya, penilaian tersebut benar-benar menilai prestasi pekerjaan yang telah dicapai. Hasil penilaian kinerja yang menggambarkan kompetensi dan prestasi kerja seseorang akan dapat diperoleh secara benar apabila penilaian yang dilakukan mempunyai standar yang jelas, dapat digunakan kapanpun oleh siapapun dan relevan dengan maksud penilaian. Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa penilaian prestasi kerja merupakan suatu proses yang dinamis serta memerlukan bimbingan atau pengarahan yang aktif, analistis dan penuh pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, penilaian prestasi kerja dalam pelaksanaannya harus diselenggarakan secara jujur, konsisten, objektif dan bersikap membantu serta harus dilihat dan diletakkan sebagai tanggung jawab langsung dari pimpinan dimana

32 pimpinan harus secara teratur dan terus menerus mendorong mereka yang mempunyai prestasi kerja baik. Sebaliknya, bagi mereka yang mempunyai prestasi kerja kurang baik, maka pimpinan harus secara tegas berupaya untuk memperbaiki dan membina, bahkan jika perlu memberikan sanksi yang edukatif. 1. Indikator Penilaian Kinerja Penilaian kinerja guru difokuskan kepada usaha meningkatkan kinerja guru, indikator penilaian guru yang perlu diperhatikan dalam kinerja guru adalah Kepribadian guru secara umum, pemahaman guru terhadap visi, misi dan tujuan sekolah, kualitas kerja guru, kemampuan mengelola proses pembelajaran, dan pengembangan profesi guru. Selanjutnya prinsip penilaian kinerja guru, yaitu: ”Adanya kepercayaan antara kepala sekolah ke guru senior yang lain dan guru yang sedang dinilai, guru secara jujur dapat mengakui perlunya bantuan, dan dorongan, penilaian (kepala sekolah dan staf pengajar senior) harus seorang yang benar-benar profesional dan disegani karena memiliki kemampuan yang lebih. Menurut Hasibuan (2010: 94), terdapat beberapa unsur yang dinilai dalam kinerja, yaitu sebagai berikut: “a) Kesetiaan; b) Prestasi Kerja ; c) Kejujuran; d) Kedisiplinan; e) Kreativitas; f) Kerja sama; g) Kepemimpinan; h) Kepribadian; i) Prakarsa; j) Kecakapan/ketrampilan; k) dan tanggung jawab”. Lebih rinci unsur-unsur yang dinilai dalam kinerja bisa dijelaskan sebagai berikut: Kesetiaan dicerminkan oleh kesediaan guru menjaga dan membela sekolah didalam maupun diluar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab. Prestasi kerja adalah menilai hasil kerja, baik kualitas maupun kuantitas yang

33 dapat dihasilkan oleh karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya. Kejujuran adalah Menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain, seperti bawahannnya. Selanjutnya kedisiplinan adalah menilai disiplin guru dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan kepadanya. Kreativitas adalah menilai kemampuan guru dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menyelesaikan pekerjannya, sehingga bekerja lebih berdaya guna dan berhasil guna. Kerja sama adalah menilai kesediaan guru berpartisipasi dan bekerja sama dengan guru lainnya, vertikal atau horizontal, didalam maupun diluar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik. Kepemimpinan adalah menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawahannya untuk bekerja secara efektif. Kepribadian menilai sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai, memberi kesan menyenangkan,

memperlihatkan sikap baik, dan penampilan yang simpatik serta wajar dari guru tersebut. Prakarsa adalah menilai kemampuan berfikir yang orisinil dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberi alasan, mendapatkan kesimpulan, dan membuat keputusan penyelesaian masalah yang dihadapinya. Kecakapan/ketrampilan adalah menilai kecakapan karyawan dalam menyatukan dan menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat dalam penyusunan kebijaksanaan dan didalam manajemen. Dan Tanggung jawab adalah menilai kesediaan guru dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dapat dipergunakannya,

34 perilaku serta hasil kerja dari bawahannya. Berdasarkan penilaian di atas, penilaian kinerja dapat diartikan sebagai proses penilaian dan pengukuran tentang pencapaian kemampuan guru secara individu pada lingkungan guru tempat mengajar, mendidik anak. C. Indikator Kinerja Indikator kinerja atau performance indicators kadang-kadang dipergunakan secara bergantian dengan ukuran kinerja (performance measures), tetapi banyak pula yang membedakan. Menurut Wibowo (2009: 161) yaitu: “ terdapat tujuh indikator kinerja. Dua diantaranya mempunyai peran sangat penting, yaitu tujuan dan motif”. Ketujuh indikator tersebut dapat terlihat seperti gambar 2 dibawah ini: Gambar 2. Indikator kinerja
competence motive standard feedback goals

means

opportunity

Sumber: Paul Harsey, Kenneth H.Blanchard, dan Dewey E. Johnson (Wibowo, 2011:102)

Kaitan diantara ketujuh indikator tersebut dijelaskan sebagai berikut: Tujuan merupakan keadaan yang berbeda yang secara aktif dicari oleh seorang individu atau organisasi untuk dicapai. Tujuan merupakan sesuatu keadaan yang lebih baik yang ingin dicapai. Standar mempunyai arti penting karena memberitahukan kapan suatu tujuan dapat diselesaikan. Standar merupakan ukuran apakah tujuan yang diinginkan dapat dicapai. Tanpa standar, tidak dapat diketahui kapan suatu tujuan tercapai. Kinerja seseorang dikatakan berhasil apabila mampu

35 mencapai standar yang ditentukan atau disepakati bersama antara atasan dan bawahan. Sedangkan umpan balik merupakan masukan yang dipergunakan untuk mengukur kemajuan kinerja, standar kinerja dan pencapaian tujuan. Dengan umpan balik dilakukan evauasi terhadap kinerja dan sebagai hasilnya dapat dilakukan perbaikan kinerja. Selanjutnya alat atau sarana merupakan faktor penunjang untuk pencapaian tujuan. Tanpa alat atau sarana, tugas pekerjaan spesifik tidak dapat dilakukan dan tujuan tidak dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya. Tanpa alat tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan. Kompetensi merupakan persyaratan utama dalam kinerja. Kompetensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalankan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik. Kompetensi memungkinkan seseorang mewujudkan tugas yang berkaitan dengan pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Motif merupakan alasan atau pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Peluang adalah dimana pekerja perlu mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan prestasi kerjanya. Terdapat dua faktor yang menyumbangkan pada adanya kekurangan kesempatan untuk berprestasi, yaitu ketersediaan waktu dan kemampuan untuk memenuhi syarat. Kinerja guru adalah seperangkat perilaku nyata ditunjukkan guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya. Indikator-indikator kinerja guru menurut Rebore (Usman, 2012:95) menyangkut dengan: “(1) kinerja pembelajaran, (2) kinerja profesional, dan (3) kinerja personal”.

36 Dari indikator diatas, kinerja guru dalam penelitian ini menggunakan ketiga indikator kinerja tersebut dengan menggabungkan beberapa poin yang dianggap sesuai dengan fokus penelitian. Menurut Usman (2012:95-96) kinerja pembelajaran diuraikan sebagai berikut: (a) Merencanakan dan mengorganisasikan pengajaran: (1) pelajaran direncanakan dengan baik, (2) seperangkat sasaran yang pasti dan partisipasi siswa, (3) memberikan tugas yang jelas, (4) memahami pedoman dan menggunakan pedoman itu dalam proses belajarmengajar, (5) menyiapkan pembelajaran baik kepada kelompok maupun individu. (b) Kemampuan menjelaskan dan mengajukan pertanyaan: (1) mengajukan pertanyaan yang membangkitkan daya pikir, (2) memberikan penjelasan yang jelas tentang bahan ajar, (3) menghadapkan siswa pada beberapa pandangan, (4) sadar akan penolakan dan penerimaan pendapat siswa. (c) Menstimulasi belajar melalui aktivitas yang inovatif dan sumber belajar: (1) menggalakkan diskusi kelas, siswa bertanya, dan demonstrasi siswa, (2) menggunakan bermacam-macam alat peraga dan sumber belajar. (d) Menunjukkan pengetahuan dan antusias terhadap mata pelajaran yang diajarkan: (1) menunjukkan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diajarkan, (2) antusias. (e) Menyiapkan suasana kelas yang kondusif untuk belajar: (1) menjaga lingkungan yang sehat dan fleksibel untuk belajar, (2) menjaga peralatan dan bahan pembelajaran. (f) Memelihara catatan yang sesuai dan teliti: (1) memelihara catatan tentang kemajuan siswa. (g) Mempunyai hubungan yang baik dengan siswa: (1) memahami dan bekerja dengan siswa sebagai individu, (2) menggalakkan hubungan yang saling menghormati dan bersahabat, (3) menggunakan bahasa yang positif dengan siswa dan jauh dari rasa ejekan. (h) Berinisitiatif pengelola kelas dengan disiplin yang baik: (1) dikembangkan aturan tatatertib siswa dan guru selalu mengawasinya, (2) dikembangkan aturan keselamatan dan guru selalu mengawasinya. Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa poin-poin di atas sangat penting dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan kinerja pembelajarannya. Dengan meningkatnya kinerja pembelajaran guru diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran itu sendiri sehingga prestasi belajar siswa juga meningkat.

37 Sedangkan kinerja professional Menurut Usman (2012:96) diuraikan sebagai berikut: (a) Pengakuan dan penerimaan tanggung jawab di luar kelas: (1) berpartisipasi dalam aktivitas sekolah, (2) kadang-kadang dengan sukarela mengerjakan tugas tambahan, dan (3) ikut menjadi panitia di sekolah (b) Hubungan di sekolah: (1) bekerjasama dengan baik dan menyenangkan dengan kawan sekerja, administrasi, dan dengan personel lainnya. (c) Hubungan dengan masyarakat luar: (1) bekerja sama dengan baik dan menyenangkan dengan orang tua siswa, dan (2) menjalankan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat. (d) Pertumbuhan professional dan visi: (1) menerima kritik yang membangun, (2) partisipasi dalam seminar, workshop, dan belajar, dan (3) mencoba metode dan bahan baru, (e) Pemanfaatan pelayanan staf: (1) memanfaatkan layanan yang tersedia dengan baik ( perpustakaan), (f) Mengerti pola pertumbuhan dan perilaku siswa pada tahap-tahap perkembangan dan dapat menguasai situasi yang terjadi: tidak berharap akan adanya kesamaan perilaku siswa, tetapi masing-masing siswa mempunyai perbedaan individu, (g) Sopan santun: (1) menjaga penggunaan data yang rahasia, dan (2) mendukung profesi mengajar. Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa poin-poin di atas sangat penting dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan kinerja profesionalnya. Semakin professional seorang guru maka semakin bagus kinerja yang akan ditampilkannya sehingga ini akan berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Selanjutnya uraian kinerja personal menurut Usman (2012: 97) adalah sebagai berikut: (a) Kesehatan dan gairah: (1) mempunyai record kehadiran yang baik, (2) selalu gembira, dan (3) menunjukkan sikap yang humoris, (b)Berbicara: (1) artikulasi bicaranya baik, menggunakan grammar dengan benar, (2) dapat didengar dan dimengerti oleh siswa seluruh kelas, dan (3) berbicara pada tingkat pengertian siswa, (c) Cara berpakaian dan kerapian: (1) selalu rapi, ketepatan dalam memenuhi tugas: (1) hadir di kelas tepat pada waktunya, (2) menjalankan tugas tepat pada waktunya, dan (3) membuat laporan tepat pada waktunya.

38

Uraian kinerja personal di atas sudah seharusnya dimiliki oleh setiap guru sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu semangat dan optimis. Dengan adanya suasana gembira maka guru selalu termotivasi dalam meningkatkan kinerjanya. Menurut Uno (2007: 19), kompetensi kinerja profesi keguruan (generic teaching competencies) dalam proses pembelajaran atau pengajaran minimal memiliki indikator sebagai berikut: “Merencanakan Sistem pembelajaran;

melaksanakan sistem pembelajaran, mengevaluasi sistem pembelajaran, dan mengembangkan sistem pembelajaran”. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan formal dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses pembelajaran sebagian besar belajar peserta didik ditentukan oleh peranan guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola proses pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang lebih optimal. Jadi keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. D. Prestasi Belajar Siswa Dalam kegiatan apapun prestasi merupakan tujuan yang ingin di capai, termasuk didalam prestasi belajar siswa. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi

39 yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Untuk melihat prestasi belajar mencakup tiga ranah atau bidang tujuan bidang tujuan tersebut dilakukan pengukuran atau evaluasi. Pengukuran berupa suatu deskripsi kuantitatif tentang prestasi yang di berikan oleh seseorang siswa dalam rangka evaluasi produk, pengukuran tentang prestasi yang di berikan oleh seorang siswa memegang peranan penting pengungkapan dan pengukuran hasil belajar, merupakan hasil penyusunan deskreptif baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Dibawah ini akan diuraikan pengertian prestasi belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. 1. Pengertian Prestasi Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.

40 Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Syah Muhibbin (2005:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar s ebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat

41 biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. a. Faktor Intern Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. a). Kecerdasan/intelegensi Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk

menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Slameto (2006:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.” Muhibbin (2008:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”

42 Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar. b). Bakat Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Purwanto (2009:28) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.” Selain itu menurut Muhibbin (2008:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan indivedu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.” Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut. c). Minat Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Mulyasa (2009:93) minat adalah

43 “kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu”. Selanjutnya Slameto (2006:57) mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa senang.” Kemudian Sardiman (2007:76) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.” Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya. d). Motivasi Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang

44 anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.

motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini Sardiman (2007:77) mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.” Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar. Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif. b. Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (2006:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.” a). Keadaan Keluarga

45 Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.” Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (2006:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertamatama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.” Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar. b). Keadaan Sekolah Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang

46 baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasilhasil belajarnya. c). Lingkungan Masyarakat Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya. Dari uraian di atas jelas bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa termasuk budaya organisasi disekolah dan kinerja guru yang keduanya merupakan faktor ekstern. Dengan budaya sekolah yang bermutu dan kinerja guru yang tinggi diharapkan dapat menjadi sumber motivasi bagi siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

47

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hal ini dikarenakan tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai budaya organisasi, kinerja guru dan prestasi belajar siswa. Menurut Sugiyono (2008:29) statistik deskriptif adalah “statistik yang berfunfsi untuk mendeskripsikan atau member gamnbaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan berlaku umum”. Pengambilan data deskriptif ini dapat dilakukan melalui kegiatan observasi non partisipatif dan partisipatif, wawancara, studi dokumentasi, rekaman foto atau video. Jenis penelitian deskriptif ini memfokuskan pada pengungkapan hubungan kausal antar variabel, yaitu budaya organisasi (X1) kinerja guru (X2) prestasi belajar siswa(Y). Penelitian ini juga menuntut ketelitian, ketekunan dan sikap kritis dalam menjaring data dan sumbernya, untuk itu diperlukan kejelasan sumber data yaitu

48 populasi dan sampel dan sisi homogenitas, volume dan sebarannya. Karena data hasil penelitian berupa angka-angka yang harus diolah secara statistik, maka antar variabel-variabel yang dijadikan objek penelitian harus jelas korelasinya sehingga dapat ditentukan pendekatan statistik yang akan digunakan sebagai pengolah data yang pada gilirannya hasil analisis dapat dipercaya (reliabilitas dan validitas), dengan demikian mudah untuk digeneralisasikan sehingga rekomendasi yang dihasilkan dapat dijadikan rujukan yang cukup akurat. B. Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian ini adalah SMAN 1 Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan pelaksanaan penelitian ini dilakukan dari tanggal 22 Juni s/d 20 Desember 2012. C. Populasi dan Sampel Penelitian “Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif dan karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifatsifatnya “(Sudjana, 2005:6). Sedangkan sampel adalah “ Bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi” (Sugiyono, 2008:62). Pada umumnya pengertian deskriptif dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri 1 krueng barona jaya yang berjumlah 70 orang. Karena terbatasnya jumlah populasi, maka keseluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian, sehingga metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sensus atau sampel jenuh.

49 D. Instrumen Menurut Riduwan (2010: 98) instrumen pengumpulan data adalah ”alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya”. Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, seperti angket, daftar cocok (checklist), skala, pedoman wawancara, lembar pengamatan dan sebagainya. Senada dengan hal tersebut Arikunto (2010: 192) juga menyatakan bahwa ”Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan metode tertentu”. Berpedoman pada pendapat di atas maka dalam penelitian ini instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah angket/kuesioner dan tabel (daftar nilai siswa). Menurut Arikunto ( 2010: 194) Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Selanjutnya menurut Riduwan (2010: 99) bahwa angket dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a. Angket terbuka (angket tidak berstruktur) ialah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya. b. Angket tertutup (angket berstruktur) adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda silang atau tanda checklist. Berdasarkan pernyataan di atas maka kuesioner/ angket yang cocok digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah jenis angket tertutup karena sesuai dengan keterangan diatas bahwa angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden hanya memberikan tanda ceklis (centang) pada kolom atau tempat yang sesuai.

50 E. Uji Validitas dan Reliabilitas Analisis instrument penelitian dimaksud adalah salah satu bentuk alat ukur yang digunakan untuk menguji apakah instrument penelitian ini memenuhi syaratsyarat ukur yang baik atau tidak dengan standar metode penelitian. Suatu instrument dikatakan baik apabila instrumen tersebut memiliki tiga persyaratan umum, yaitu: valid, reliable dan praktis. 1. Validitas Butir Soal Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Arikunto (2010: 168) validitas adalah ”Suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid dan sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah”. Dari pernyataan tersebut maka untuk menganalisis validitas dari budaya organisasi sekolah dan kinerja guru digunakan korelasi Pearson Product Moment dengan pengolahan SPSS. Untuk menguji validitas setiap butir soal, skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total. Sebuah soal akan memiliki validitas yang tinggi jika skor soal tersebut memiliki dukungan yang besar terhadap skor total. Dukungan setiap butir soal dinyatakan dalam bentuk korelasi sehingga untuk mendapatkan validitas suatu butir soal digunakan rumus korelasi. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson, dan Interpretasi besarnya koefisien korelasi adalah rhitung > rtabel maka soal tersebut valid. 2. Reliabilitas Tes

51 Menurut Sukardi (2008:127) “reliabilitas sama dengan konsistensi atau keajekan”. Suatu instrument penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Dengan kata lain suatu alat ukur (instrumen) dikatakan memiliki reliabilitas yang baik bila alat ukur itu memiliki konsistensi yang handal walaupun dikerjakan oleh siapapun (dalam level yang sama), di manapun dan kapanpun berada. Reliabilitas adalah ketetapan hasil tes apabila diteskan pada subjek yang sama, dan untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil. Reliabilitas tes dihitung dengan menggunakan metode Alpha yaitu metode mencari reliabilitas internal dengan menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran. Rumus yang digunakan adalah Alpha Cronbach, hal ini sesuai dengan pendapat Sukardi (2008:133) yang menyatakan bahwa “Alfa Cronbach digunakan ketika pengukuran tes sikap yang mempunyai item standar pilihan ganda atau dalam bentuk tes esai”. Suatu alat ukur disebut reliabel apabila nilai koefesien Cronbach (α) atau ralpha > r
tabel.

Koefisien tinggi menunjukkan reliabilitas tinggi dan sebaliknya koefisien

rendah menunjukkan reliabilitas rendah. Jika instrument itu reliabel, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks korelasinya(r) sebagai berikut: Antara 0,800 – 1,000 : sangat kuat Antara 0,600 – 0,799 : tinggi Antara 0,400 – 0,599 : cukup tinggi Antara 0,200 – 0,399 : rendah Antara 0,000 – 0,199 : sangat rendah (Riduwan, 2010: 110) F. Teknik Pengumpulan Data

52 Ridwan (2007:38) mengatakan bahwa “teknik pengumpulan data merupakan alat-alat ukur yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian. Data yang akan dikumpulkan dapat berupa angka-angka, keterangan tertulis, informasi lisan dan beragam fakta yang berhubungan dengan fokus penelitian yang diteliti”. Sehubungan dengan pengertian teknik pengumpulan data dan wujud data yang akan dikumpulkan, maka dalam penelitian ini digunakan teknik angket. Pada penelitian ini data dan informasi dikumpulkan dari responden menggunakan angket (kuesioner) berupa pertanyaan sebagai alat pengumpul data. Kuesioner adalah “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui” (Arikunto, 2007:140). Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data dari responden mengenai budaya organisasi sekolah, kinerja guru, dan prestasi belajar siswa pada SMA N I Krueng Barona jaya. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala yaitu “merupakan kumpulan dari pernyataan atau pertanyaan yang pengisiannya oleh responden dilakukan dengan memberikan tanda centang pada tempat yang sudah disediakan dengan alternatif jawaban yang disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang” (Arikunto, 2007:105). Angket disebarkan pada responden dalam hal ini sebanyak 70 responden. Pemilihan dengan model angket ini didasarkan atas alasan bahwa: (a) responden memiliki waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan, (b) setiap responden menghadapi susunan dan cara pengisian yang sama atas pertanyaan yang diajukan, (c) responden mempunyai kebebasan memberikan

53 jawaban, dan (d) dapat digunakan untuk mengumpulkan data atau keterangan dan banyak responden dan dalam waktu yang tepat. Melalui teknik model angket ini akan dikumpulkan data yang berupa jawaban tertulis dan responden atas sejumlah pertanyaan yang cliajukan di dalam angket tersebut. Indikator-indikator yang merupakan penjabaran dari variabel budaya organisasi (X1) dan kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y) merupakan materi pokok yang diramu menjadi sejumlah pernyataan di dalam angket. G. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan adalah korelasi sederhana dan korelasi ganda. Analisis ini untuk mengetahui hubungan antara variabel X1 dengan Y dan X2 dengan Y dan X1 dan X2 terhadap Y. Analisis Korelasi yang digunakan adalah (PPM) Pearson Product Moment, perhitungan analisis Pearson Product Moment ini

dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS 17,0. Sedangkan secara manual rumus Pearson Product Moment adalah: (Sugiyono, 2008:228) Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dan harga (-1 r  + 1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan arti harga r akan dikonsultasikan dengan interpretasi Nilai r sebagai berikut. Antara 0,800 – 1,000 : sangat kuat Antara 0,600 – 0,799 : tinggi Antara 0,400 – 0,599 : cukup tinggi Antara 0,200 – 0,399 : rendah Antara 0,000 – 0,199 : sangat rendah (Sugiyono, 2008:231)

54 Pengujian lanjutan yaitu uji signifikansi yang berfungsi apabila peneliti ingin mencari makna hubungan variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi PPM tersebut diuji dengan Uji Signifikansi dengan rumus:

Dimana : t = Nilai r = Koefisien korelasi hasil n = Jumlah responden. (Sugiyono, 2008:230) Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien diterminan. Koefisien determinasi adalah kuadrat dan koefisien korelasi PPM yang dikalikan dengan 100%. Dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel X mempunyai kontribusi atau ikut menentukan variabel Y. Derajat koefisien determinasi dicari dengan menggunakan rumus: KP = r2 x 100% Dimana : KP = Nilai Koefisien Diterminan r = NiLai Koefisien Korelasi. Untuk mengetahui hubungan antara variabel X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap variabel Y digunakan rumus korelasi ganda sebagai berikut:
R X1 X 2Y 
2 2 rX  rX  2 rX1Y . rX 2Y . rX1 X 2 1Y 2Y 2 1  rX 1X 2

 



(Sugiyono, 2008: 233)

Pengujian

signifikansi

terhadap

koefisien

korelasi

ganda

dengan

menggunakan rumus uji F berikut:

55

Dimana: R = Koefisien korelasi ganda k = Jumlah variabel independent n = Jumlah anggota sampel (Sugiyono, 2008: 235) H. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Hasil Uji Validitas Instrumen Berdasarkan hasil perhitungan uji validitas diperoleh data sebagai berikut: a) Hasil Uji Variabel Budaya Organisasi Sekolah (Variabel X1)

Tabel 3.1 Hasil Perhitungan Uji Validitas Budaya Organisasi Sekolah (Variabel X1) No Item (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 rhitung (2) 0.765
0.266 0.315 0.765 0.419 0.765 0.765 0.466 0.296

rtabel (3) 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240

Keputusan (4) Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

56 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
0.478 0.744 0.534 0.404 0.508 0.243 0.281 0.654 0.501 0.395 0.744 0.410 0.511 0.500 0.275 0.317 0.190 0.295 0.267 0.334 0.383

0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240

Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid

Berdasarkan Tabel di atas, dari 30 butir/ ítem instrumen untuk variabel budaya organisasi sekolah (X1) ada 1 soal dinyatakan tidak valid, yaitu soal nomor 26. Soal ini dinyatakan tidak valid karena nilai rhitung -nya lebih kecil dari rtabel.

57 Selanjutnya, butir soal 26 ini tersebut skornya tidak dipakai dalam perhitungan análisis pengujian hipótesis. Dengan jumlah instrumen 29 yang valid untuk variabel budaya organisasi sekolah (X1) ini, maka batas skor maksimum yang diperolehnya adalah 29 x 5 = 145 b) Hasil Uji Variabel Kinerja Guru (Variabel X2) Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Uji Validitas Kinerja Guru (Variabel X2) No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 rhitung
0.638 0.415 0.826 0.254 0.638 0.415 0.826 0.276 0.826 0.261 0.826 0.458 0.638 0.638 0.826 0.458 0.240

rtabel 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240

Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

58 18 19 20 21 22 23 24 25
0.323 0.089 0.536 0.264 0.826 0.320 0.826 0.638

0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240 0,240

Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Berdasarkan Tabel di atas, dari 25 butir/ ítem instrumen untuk variabel kinerja guru (Variabel X2) ada 1 soal dinyatakan tidak valid, yaitu soal nomor 19. Soal nomor 19 ini dinyatakan tidak valid karena nilai rhitung -nya lebih kecil dari rtabel. Selanjutnya, soal nomor 19 tersebut skornya tidak dipakai dalam perhitungan análisis pengujian hipótesis. Dengan jumlah instrumen 24 yang valid untuk variabel kinerja guru (X2) ini, maka batas skor maksimum yang diperolehnya adalah 24 x 5 = 120. 2. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Pengujian terhadap koefisien reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk melihat konsistensi jawaban butir-butir pernyataan yang diberikan oleh responden. Perhitungan reliabilitas ini dilakukan dengan metode belah dua, yaitu

mengkorelasikan skor total ganjil dengan genap. Rumus yang digunakan adalah Alpha Cronbach.

59 Perhitungan dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS 17,0. Hasilnya lebih besar dari r tabel. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Riduwan bahwa sebuah alat ukur disebut reliabel apabila koefisien cronbach (α) adalah lebih besar dari r tabel.

Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas diperoleh data sebagai berikut: Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Instrumen No 1 2 Variabel Budaya Organisasi Sekolah (X1) Kinerja Guru (X2) ralpha 0,902 0,922 Rtabel 0,232 0,232 Keputusan Reliabel Reliabel

Menurut Sugiyono (2008:135) jika koefisien korelasi reliabilitas positif dan signifikan , maka instrumen dapat dinyatakan reliabel . jika koefisien r hitung lebih besar daripada nilai r tabel Product Moment maka reliabilitasnya tinggi (reliabel). Sedangkan jika koefisien r hitung lebih kecil daripada nilai r tabel Product Moment. maka reliabilitasnya rendah ( tidak reliabel). Dengan demikian maka dari hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen ternyata kedua variabel berada diatas nilai r tabel seperti dalam tabel di atas. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi sekolah (X1) dan kinerja guru (X2) semuanya memiliki reliabilitas yang

60 tinggi.dengan demikian kedua instrumen ini dinyatakan handal sehingga memenuhi dasar pengambilan keputusan hasil penelitian. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini di susun hipótesis teoritik sebagai berikut: a. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang dan signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya. Ha : Terdapat pengaruh yang dan signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya. b. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya. Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya.. c. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya. Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya.

61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan di uraikan berkenaan dengan hasil penelitian dan pembahasan. A. Hasil Penelitian Pada bagian ini disajikan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis jawaban dari kuesioner. Adapun kuesioner yang diberikan secara langsung kepada responden yaitu sebanyak 70 orang. Kuesioner yang telah disebarkan kepada responden tersebut, semua dikembalikan dan diperoleh hasil akhir kuesioner seperti yang akan di bahas dibawah ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Untuk melakukan analisis data penelitian menggunakan analisis korelasi sederhana dan analisis korelasi ganda. 1. Pengaruh Budaya Organisasi Sekolah terhadap Prestasi Belajar Siswa Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa budaya organisasi sekolah berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

62 Pengaruh ini khususnya dalam motivasi siswa dalam belajar sehingga di peroleh prestasi siswa bagus. Secara umum gambaran budaya organisasi sekolah dapat dilihat pada lampiran deskriptif. Gambaran umum budaya organisasi sekolah di SMA Krueng Barona Jaya adalah seperti tergambar dalam grafik berikut:

Gambar 4.1 Grafik Deskripsi Budaya Organisasi Sekolah Berdasarkan tabel dan grafik di atas, dapat di simpulkan bahwa rata-rata skor budaya organisasi sekolah adalah 4,27 dan berkategori baik. Sebelum dianalisis tentang apakah ada pengaruh budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa, perlu dianalisis data statistik deskriptif. Data deskriptif ini dimaksud untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam

63 penelitian homogen atau tidak, sehingga akan berpengaruh pada validitas data yang digunakan. Untuk mengetahui homogenitas dan validitas data ini dianalisis dari nilai rata-rata (mean) yang dibandingkan dengan standar deviasi pada setiap variabel.Statistik untuk kedua variabel yang dihasilkan dari pengolahan data melalui program SPSS 17.0 diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel Descriptive Statistics Mean Std. Deviation Budaya Organisasi Sekolah 4,27 0,658

N 70

Berdasarkan data deskriptif pada tabel di atas, diketahui bahwa dari jumlah sampel yang diteliti adalah 70 responden, di dapat mean untuk X1 = 4,27 dan standar deviasinya = 0,658. Dengan nilai standar deviasi semuanya lebih kecil dengan nilai mean, hal ini menggambarkan bahwa data variabel yang dihasilkan dari penelitian ini lebih homogen. Artinya bahwa temuan peneliti diperoleh dari sumber yang sama, dan ini menunjukkan validitas data yang dihasilkan. Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut, selanjutnya dapat dilakukan pengujian hipotesis penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah; terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Untuk pengujian hipotesis tersebut menggunakan analisis korelasi. Hasil pengolahan data melalui program SPSS 17.0,diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 4.0 Correlation untuk hubungan X1 terhadap Y

64

Budaya Organisasi Sekolah Budaya Organisasi Sekolah Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Prestasi Belajar Siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 . 70 .690(**) .000 70

Prestasi Belajar Siswa .690(**) .000 70 1 . 70

Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa besarnya hubungan variabel budaya organisasi sekolah (X1) terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada matrik korelasi yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,690 Pada kolom Y dan baris X1 atau (R X1Y). hal ini menunjukkan pengaruh yang kuat dari budaya organisasi sekolah (X1) dengan prestasi belajar siswa (Y). Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya hubungan variabel X1 terhadap Y atau koefisien determinan r2 x 100% = (0,690)2 x 100% = 47,61%, sisanya 52,39% ditentukan oleh variabel lain diluar penelitian. Untuk mengetahui signifikansi hasil korelasi atau hubungan tersebut, dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa. 2. Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Pengujian dilakukan dengan satu pihak, maka pengambilan keputusannya didasarkan pada angka probabilitas, dengan ketentuan: a. Jika probabilitas ≥ 0,05 maka Ho diterima.

65 b. Jika probabilitas ≤ 0,05 maka Ho ditolak. Dari data Tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat signifikan koefisien korelasi dua pihak (2- tailed) dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,000. Oleh karena probabilitas ini berada jauh di bawah angka 0,050, maka Ho ditolak atau Ha diterima. Hal ini berarti ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa. 2. Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sebagaimana telah banyak dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa Kinerja Guru (X2) merupakan daya dorong yang beraktivitas bagi seseorang untuk memberikan kontribusi yang sebesar mungkin demi keberhasilan dirinya sendiri atau organisasi dalam mencapai tujuan kerja sehinggga menghasilkan hasil kerja yang berkualitas. Secara keseluruhan variabel kinerja guru pada SMA Krueng Barona Jaya adalah seperti pada Tabel lampiran.

66

Gambar 4.2 Grafik Deskripsi Kinerja Guru Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor kinerja guru adalah 4,3 atau berkategori sedang. Untuk menemukan ada tidaknya pengaruh kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa perlu dianalisis data statistik deskripsif. Data deskripsi ini dimaksud untuk dapat mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian homogen atau tidak sehingga akan berhubungan pada validitas data yang digunakan. Untuk mengetahuhi homogenitas dan validitas data ini dianalisis dari nilai rata-rata (Mean) yang dibandingkan dengan standar deviasi pada setiap variabel. Statistik untuk kedua variabel yang dihasilkan dari pengolahan data melalui program SPSS 17.0.

Tabel 4.1 Descriptive Statistics Mean Kinerja Guru 4,3 Std. Deviation 0,667 N 70

67

Berdasarkan data deskriptif pada tabel di atas, diketahui bahwa dari jumlah sampel yang diteliti adalah 70 responden, di dapat mean untuk X2 = 4,3 dan standar deviasinya = 0,667. Dengan nilai standar deviasi semuanya lebih kecil dengan nilai mean, hal ini menggambarkan bahwa data ketiga variabel yang dihasilkan dari penelitian ini lebih homogen. Artinya bahwa temuan peneliti diperoleh dari sumber yang sama, dan ini menunjukkan validitas data yang dihasilkan. Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut, selanjutnya dapat dilakukan pengujian hipotesis penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah; terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Untuk pengujian hipotesis tersebut menggunakan analisis korelasi. Hasil pengolahan data melalui program SPSS 17.0,diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2 Correlations untuk Hubungan X2 terhadap Y

Kinerja Guru Kinerja Guru Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Prestasi Belajar Siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 . 70 .730(**) .000 70

Prestasi Belajar Siswa .730(**) .000 70 1 . 70

68 Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa besarnya pengaruh variabel kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada matrik korelasi yang di hitung dengan koefisien korelasi adalah 0,730 pada kolom Y dan baris X2 atau (RX2Y) .hal ini menunjukkan pengaruh yang kuat antara kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y). Sedangkan untuk mengatakan besar kecilnya kontribusi (sumbangan) variabel X2 terhadap Y atau koefisien determinan = r2 x 100% atau = (0,730)2 x 100% = 53,29%, sisanya 46,71% ditentukan oleh variabel lain diluar penelitian. Untuk mengetahui signifikansi hasil korelasi atau hubungan tersebut, dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Pengujian dilakukan dengan satu pihak, maka pengambilan keputusannya didasarkan pada angka probabilitas,dengan ketentuan: Jika probabilitas ≥ 0,05 maka Ho diterima. Jika probabilitas ≤ 0,05 maka Ha ditolak Dari data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat signifikan

koeffisien korelasi satu sisi (1-tailed) dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,000.Oleh karena probabilitas ini berada jauh di bawah angka 0,050, maka Ho ditolak atau Ha diterima, yakni ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa.

69 3. Pengaruh Budaya Organisasi Sekolah dan Kinerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Berdasarkan hasil pengamatan data di sekolah, berikut ini gambaran tentang prestasi belajar siswa diperoleh dapat dilihat pada lampiran.

Gambar 4.3 Grafik Deskripsi Prestasi Belajar Siswa Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor prestasi belajar siswa adalah adalah 4,24 atau berkategori sedang. Untuk menemukan ada tidaknya pengaruh budaya organisasi dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa, perlu dianalisis data statistik deskriptif. Data deskriptif ini dimaksud untuk dapat mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian homogen atau tidak sehingga akan berpengaruh pada validitas data yang digunakan. Untuk mengetahui homogenitas dan validitas data mi dianalisis dan nilai rata-rata (Mean) yang dibandingkan dengan standar deviasi pada setiap variabel.

70 Statistik untuk ketiga vaniabel yang dihasilkan dan pengolahan data melalui program SPSS 17.0. adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Descriptive Statistics Mean Std. Deviation Budaya Organisasi Sekolah Kinerja Guru Prestasi Belajar Siswa 4,27 0,658

N 70

4,3 4,24

0,667 0,55

70 70

Berdasarkan data deskriptif pada tabel di atas, diketahui bahwa dari jumlah sampel yang diteliti adalah 70 responden, didapat mean untuk X1 = 4,27 dengan standar deviasinya = 0,658 dan mean X2 = 4,3 dengan standar deviasinya = 0,667, dan mean Y = 4,24 dengan sthndar deviasinya = 0,55. Dengan nilai standar deviasi semuanya Iebih kecil dengan nilai mean, hal ini menggambarkan bahwa data ketiga vaniabel yang dihasilkan dan penelitian ini Iebih homogen. Artinya, bahwa temuan penelitian diperoleh dan sumber yang sama, dan mi menunjukkan validitas data yang dihasilkan. Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut, selanjutnya dapat dilakukan pengujian hipotesis penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah: terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Tabel 4.4 Correlation untuk hubungan X1, X2 terhadap Y

71

Budaya Organisasi Sekolah Budaya Organisasi Sekolah Kinerja Guru Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Prestasi Belajar Siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 . 70 .504(**) .000 70 .690(**) .000 70

Kinerja Guru .504(**) .000 70 1 . 70 .730(**) .000 70

Prestasi Belajar Siswa .690(**) .000 70 .730(**) .000 70 1 . 70

Untuk pengujian hipotesis tersebut digunakan rumus korelasi ganda dengan dua prediktor, yakni dua variabel X, yakni budaya organisasi sekolah (X1) dan kinerja guru (X2) serta satu variabel Y yaitu prestasi belajar siswa. Hasil pengolahan data diperoleh hasil sebagai berikut:
R X1 X 2Y 
2 2 rX  rX  2 rX1Y . rX 2Y . rX1 X 2 1Y 2Y

 
2 X1 X 2



1 r

Dari hasil di atas, diketahui bahwa besarnya korelasi ganda R harganya lebih besar dari korelasi individual rx1y rx2y. Pengaruh variabel budaya organisasi sekolah(X1) dan kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada hasil di atas diperoleh R sebesar 0,787 (RX1X2Y). Hal ini menunjukkan pengaruh yang

72 sangat kuat antara budaya organisasi sekolah (X,) dan kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y). Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya kontribusi (sumbangan) variabel X1X2 terhadap Y atau koefisien determinan masing-masing adalah = r2 x 100 % atau (0,82)2 x 100 % = 67,24 % dan sisanya sebesar 32,76 % ditentukan oleh variabel lain. Untuk mengetahui signifikansi hasil korelasi atau hubungan tersebut, dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa.. Ha = Terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa.. Pengujian signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda digunakan uji F sebagai berikut:

73 Dari hasil di atas didapat nilai F hitung = 67,3. Sedangkan harga F tabel dengan taraf kesalahan 5 % ditemukan = 3,98. Di sini terlihat bahwa F hitung lebih besar dari F tabel (Fhitung
>

Ftabel). Karena Fhitung

>

Ftabel maka H0 ditolak dan Ha

diterima. Jadi koefisien korelasi ganda yang ditemukan adalah signifikan. Dengan kata lain terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Dasar pengambilan keputusan tersebut adalah dengan membandingkan nilai F1 sebagai berikut: • Jika nilai Fhitung ≥ Ftabel, maka Ho ditolak artinya koefisien korelasi signifikan. • Jika nilai Fhitung ≤ Ftabel maka Ho diterima artinya koefisien korelasi tidak signifikan.

B. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Prestasi Belajar Siswa Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Krueng Barona Jaya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik dan kondusifnya budaya organisasi di sekolah maka akan berdampak kepada meningkatnya prestasi belajar siswa. Temuan ini juga membuktikan bahwa budaya organisasi sekolah yang terdiri dari sub lingkungan harmonis warga sekolah, harapan dan optimisme warga sekolah, kebersihan dan keasrian lingkungan sekolah mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa.

74 Dari hasil penelitian budaya organisasi sekolah pada umumnya sudah baik, namun ada beberapa hal yang masih belum mencapai seperti yang diharapkan. Dalam pengamatan penelitian ditemukan bahwa hubungan kepala sekolah dengan guru juga siswa sudah baik, walaupun masih ada beberapa guru dan siswa yang masih enggan dengan keberadaan kepala sekolah. Hubungan komunikasi dengan warga sekolah sudah terjalin dengan baik, kepala sekolah selalu berusaha mengembangkan suasana bersahabat, saling terbuka dan komunikatif. Kepala sekolah sering memberikan perhatian kepada guru yang datang terlambat dan tidak disiplin dalam melaksanakan tugas, dan juga mengawasi piket dalam memberikan tindakan atau hukuman kepada siswa yang terlambat. Selain itu, hubungan

interpersonal guru pada umumnya sudah baik, walaupun masih terdapat beberapa di antara guru dan staf yang tidak harmonis. Kepedulian guru dalam membina perilaku siswa lumayan tinggi dan dan rata-rata guru juga melaksanaan remedial untuk siswa yang bermasalah dalam bidang akademik. Ditinjau dari segi lokasi dan tempat SMA Krueng Barona Jaya lumayan strategis karena terletak dipinggir kota yang jauh dari kebisingan sehingga pembelajaran yang berlangsung disekolah sangat tenang ditambah dengan kerindangan pohon dan drainase air yang bagus membuat warga sekolah sangat nyaman. Tatanan ruang kelas dan ruangan lainnya juga lumayan baik, ketersediaan buku di perpustakaan sudah mencukupi jumlah siswa, dan penggunaan media pembelajaran yang berbasis ICT juga sudah mulai diterapkan walau masih terbatas

75 pada pelajaran tertentu saja. Secara keseluruhan faktor budaya organisasi sekolah terlihat sudah baik namun masih ada kelemahan-kelemahan yang harus dibenahi seperti masih kurangnya kesadaran siswa untuk menjaga semua sarana dan prasarana sekolah yang sudah ada, seperti perawatan pada sarana MCK yang masih belum maksimal. Selanjutnya Mulyasa (2009:23) menyatakan bahwa “budaya organisasi sekolah atau iklim sekolah yang kondusif mencakup beberapa hal di antaranya: “ 1) Lingkungan yang aman, nyaman dan tertib, 2) Ditunjang oleh optimisme dan

harapan warga sekolah, 3) Kesehatan sekolah dan 4) kegiatan-kegiatan yang berpusat pada perkembangan peserta didik”. Dari pendapat di atas dapt disimpulkan bahwa budaya organisasi sekolah akan tercipta dengan baik dan dapat menjadi budaya yang bermutu apabila sekolah dapat memenuhi dan mempertahankan kondisi sebagai berikut: lingkungan yang nyaman, warga sekolah yang optimis, sekolah yang sehat dan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan sesuai dengan perkembangannya. Dengan terciptanya kondisi-kondisi tersebut maka sangat mendukung siswa dalam mengikutu proses pembelajaran. Apabila proses pembelajaran berjalan dengan baik dimana para siswa belajar dengan semangat dan antusias yang tinggi maka dengan sendirinya hal ini akan berdampak positif terhadap prestasi belajarnya. Fasilitas sarana dan prasarana belajar yang memadai merupakan salah satu faktor yang menunjang budaya organisasi sekolah dan iklim sekolah yang kondusif

76 sehingga meningkatkan hasil pembelajaran hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyasa (2009:156): Iklim belajar yang kondusif harus ditunjang oleh berbagai fasilitas belajar yang menyenangkan, seperti sarana, laboratorium, pengaturan lingkungan, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antara peserta didik dengan guru dan di antara peserta didik itu sendiri, serta penataan organisasi dan bahan mengajar secara tepat yang sesuai dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik. Sehingga fasilitas belajar yang baik akan menunjang dan dapat membangkitkan semangat belajar siswa dan dapat menumbuhkan aktifitas serta kreativitas peserta didik dalam belajar.” Mencermati hal tersebut di atas jika budaya organisasi sekolah bagus dan kondusif terus dijaga serta dipertahankan oleh semua warga sekolah maka hal tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal. 2. Pengaruh Kinerja Guru terhadap Prestasi Belajar Siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang

signifikan antara kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa SMAN Krueng Barona Jaya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kinerja seorang guru maka akan memberikan dampak yang kuat terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Secara empiris kinerja guru mempengaruhi prestasi belajar siswa, sehingga kinerja guru perlu ditingkatkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan cara setiap guru meningkatkan kinerja pembelajaran, kinerja profesional dan kinerja personalnya. Pengaruh guru dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi memang cukup besar, karena guru merupakan sosok manusia yang harus menjadi idola para siswanya. Ini berarti setiap bentuk yang diberikan guru akan selalu dikerjakan oleh para siswa karena mereka sudah terikat secara psikologis dengan guru mereka. Tugas

77 dan tanggung jawab guru berkaitan erat sekali dengan kemampuan yang disyaratkan untuk memangku jabatan guru, sehingga dia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Disamping itu, peningkatan prestasi belajar siswa sangat di pengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, proses pembelajaran harus berlangsung dengan baik, berdaya guna dan berhasil guna. Dan hal ini akan terjadi apabila didukung oleh guru yang mempunyai kompetensi dan kinerja yang tinggi. Guru adalah ujung tombak dan pelaksana terdepan pendidikan disekolah. Salah satu faktor yang menjadi tolak ukur keberhasilan sekolah addalah kinerja guru. kinerja guru dimaksud adalah hasil kerja guru yang terefleksi dalam cara merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses belajar mengajar (PBM) yang intensitasnya dilandasi oleh etos kerja, serta disiplinprofesional guru dalam proses pembelajaran. Tugas guru bukan hanya mengajar semata, tetapi dimulai dari proses perencanaan sampai dengan penilaian. Tugas tersebut tidak mudah dilakukan, apabila guru tidak mempunyai komitmen dan etos kerja yang tinggi. Dari uraian di atas jelas bahwa kinerja guru sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. karena itu kinerja guru pada SMA negeri 1 Krueng Barona jaya perlu ditingkatkan lagi agar prestasi belajar siswa bisa meningkat sesuai dengan target yang diharapkan. Dari hasil penelitian kinerja guru SMA Negeri 1 Krueng barona Jaya sudah lumayan bagus tapi masih harus ditingkatkan lagi terutama kinerja pembelajaran

78 guru dalam menentukan metode mengajar yang tepat dalam setiap proses belajar mengajar. 3. Pengaruh Budaya Organisasi dan Kinerja Guru terhadap Prestasi Belajar Siswa. Hasil pengujian dari ketiga hipotesis penelitian ini, menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang mempunyai kontribusi yang positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu budaya organisasi sekolah dan kinerja guru, baik secara sendiri-sendiri (parsial) maupun bersama-sama (simultan). Hubungan keduanya menunjukan arah yang positif dan masing masing memberikan pengaruh yang signifikan. terhadap prestasi belajar siswa. Arah positif yang ditunjukkan korelasi tersebut mempunyai makna bahwa budaya organisasi sekolah yang baik dan bermutu dan kinerja guru yang baik, akan berdampak terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa. Dengan demikian, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal diperlukan adanya budaya organisasi sekolah yang baik dan bermutu dan juga kinerja guru yang baik. Hasil penelitian ini membuktikan atau membenarkan pendapat Muhibbin (2005: 132) tentang faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang terdiri dari” Faktor internal (faktor dari dalam siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa). dan faktor pendekatan belajar (approach to learning)”. Dimana faktor internal meliputi keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Dan faktor eksternal terdiri kondisi lingkungan disekitar siswa, baik lingkungan sosial seperti: keluarga, guru, staf, masyarakat dan teman. Maupun lingkungan non sosial seperti: rumah, sekolah, peralatan dan alam. Sedangkan untuk faktor pendekatan belajar terdiri dari: pendekatan tinggi, pendekatan sedang dan pendekatan rendah.. Artinya makin baik

79 dan bermutu budaya organisasi sekolah dan kinerja guru maka hasil belajar siswa semakin baik juga. lmplikasinya ditemukan bila melihat dari indikator dalam ketiga faktor tersebut, jelaslah bahwa budaya organisasi sekolah dan kinerja guru termasuk kedalam faktor-faktor yang memepengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu makin baik budaya organisasi sekolah dan kinerja guru maka proses belajar belajar semakin baik dan juga hasil belajar siswa pun semakin baik. Ini menunjukkan pula bahwa budaya organisasi sekolah dan kinerja guru sangat mempunyai peranan dalam proses peningkatan prestasi belajar siswa, khususnya kinerja guru dalam kegiatan proses belajar mengajar. Selanjutnya, adanya pengaruh yang positif budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa dalam penelitian ini merupakan indikasi yang menggambarkan sangat pentingnya usaha atau upaya-upaya yang harus dilakukan kepala sekolah dan guru. Upaya-upaya atau usaha kepala sekolah yang dimaksud dikhususkan pada usaha dalam menciptakan budaya organisasi sekolah yang baik dan bermutu dan melakukan usaha-usaha yang dapat mernbangkitkan atau meningkatkan kinerja guru yaitu dengan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan ataupun kesulitan-kesulitan guru dalam lingkungan sekolah dengan memfasilitasi, memperhatikan kebutuhan, menciptakan suasana yang mendukung dan sebagainya sehingga kinerja guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar betul-betul meningkat dan rnenghasilkan apa yang menjadi tujuan pendidikan. Disamping itu juga dalam meningkatkan kinerjanya guru perlu lebih kreatif dan inovatif terhadap perkembangan jaman dalam menciptakan suasana pembelajaran yang berkualitas.

80 Selain itu iklim sekolah yang kondusif dapat diciptakan dengan membudayakan silaturrahmi di antara para penghuni sekolah, misalnmya bersalaman tiap pagi dan sesudah belajar. Para guru juga harus dibiasakan untuk melakukan pembelajaran dengan baik, harus siap menjadi fasilitator pembelajaran, yang tidak hanya duduk, menyuruh peserta didik mencatat, atau hanya mendiktekan bahan pembelajaran. Lingkungan (iklim) belajar yang aman dan tertib tidak selalu identik dengan keberadaan dan kondisi fisik sekolah beserta fasilitasnya, tetapi lebih mengacu kepada tata hubungan sosial dan psikologis yang harmonis dalam lingkungan sekolah. Selanjutnya budaya mutu merupakan sikap yang harus tertanam dalam sanubari semua warga sekolah sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Perilaku ingin menjadi lebih baik secara terus menerus harus menjdi kebiasaan warga sekolah dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, harus ada sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan. Sistem mutu tersebut harus mencakup berbagai aspek mulai dari struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, prosedur, proses sampai hasil pekerjaan, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang ada. Jajaran manajemen, terutama kepala sekolah, perlu terus menerus mendorong tumbuh kembangnya budaya mutu bagi seluruh warganya. Untuk kepentingan tersebut menurut Mulyasa (2009:105), beberapa hal berikut dapat digunakan: a. Gunakan informasi tentang kualitas untuk perbaikan berkesinambungan (continuous improvement), bukan untuk mengadili. b. Biasakan agar setiap warga sekolah senantiasa bersilaturrahmi dan saling membantu memecahkan masalah satu sama lain.

81 c. Terapkan sistem penghargaan (rewards) atau sanksi (punishments) atas setiap hasil yang dicapai, secara tepat waktu dan tepat sasaran. d. Jadikan kolaborasi, sinergi, dan kompetisi yang sehat, sebagai basis untuk menumbuhkan kerja sama yang harmonis. e. Ciptakan kondisi yang membuat warga sekolah merasa aman dan nyaman terhadap pekerjaannya. f. Tanamkan atmosfir keadilan (fairness) secara proporsional dan professional sehingga imbal jasa sepadan dengan nilai pekerjaan. g. Tanamkan rasa memiliki pada semua warga sekolah terhadap tugas dan tanggung jawabnya, serta terhadap sekolahnya. Guru sebagai tenaga berpendidikan memiliki tugas menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, membimbing, melatih, mengolah, meneliti dan

mengembangkan serta memberikan penalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesional, kepribadian dan kemasyarakatan. Guru juga menunjukkan fleksibilitas yang tinggi yaitu pendekatan deduktif dan gaya memimpin kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat menunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasilhasil belajarnya. Dari semua uraian di atas sangat jelas bahwa budaya organisasi sekolah dan kinerja guru sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga kedua faktor ini harus senantiasa diperhatikan dan ditingkatkan agar prestasi belajar siswa yang dihasilkan sesuai dengan target yang diharapkan. BAB V PENUTUP

82

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah disajikan pada bab sebelumnya, maka berikut ini dikemukakan beberapa kesimpulan, implikasi serta saran berikut: A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh positif dan signifikan budaya organisasi sekolah (X1) terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada SMAN Krueng Barona Jaya. Budaya organisasi sekolah dapat dilihat dari indikator: lingkungan harmonis warga sekolah, harapan dan optimisme warga sekolah, kebersihan dan keasrian lingkungan sekolah. Besarnya pengaruh variabel budaya organisasi sekolah terhadap prestasi bealajar siswa adalah 0,690 koefisien korelasi ini menunjukkan pengaruh yang kuat. Kontribusi variabel budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa sebesar 47,61 % sedangkan sisanya 52,39 % ditentukan oleh variabel lain. Pada tingkat signifikan koefisien korelasi satu sisi (1-tailed) dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,00 atau 0. Karena probabilitas jauh dibawah 0,01 atau 0,05, maka pengaruh antara budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa signifikan. 2. Terdapat pengaruh positif dan signifikan kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada SMAN Krueng Barona Jaya. Kinerja guru dapat dilihat dari indikator: Tanggung jawab, melaksanakan tugas dengan baik, punya komitmen yang tinggi dalam mengajar, menguasai kelas dan materi ajar, dan

83 mampu memotivasi siswa dalam belajar. Besarnya pengaruh variabel kinerja guru terhadap prestasi bealajar siswa adalah 0,730 koefisien korelasi ini menunjukkan pengaruh yang kuat kinerja guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y). yang artinya bahwa semakin tinggi kinerja guru maka semakin tinggi pula prestasi belajar siswa. Kontribusi variabel kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa sebesar 53,29 % sedangkan sisanya 46,71 % ditentukan oleh variabel lain. 3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan budaya organisasi sekolah (X1) dan kinerja guru (X2) secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada SMAN 1 Krueng Barona Jaya. Besarnya pengaruh variabel budaya organisasi sekolah (X1) dan kinerja guru (X2) secara bersama-sama terhadap prestasi bealajar siswa (Y) dapat dilihat dari koefisien korelasi nilai r = 0.82 koefisien korelasi ini menunjukkan pengaruh yang kuat. Budaya organisasi sekolah dan kinerja guru memberikan kontribusi secara simultan terhadap prestasi belajar siswa sebesar 67,24 % yang artinya bahwa semakin tinggi budaya organisasi sekolah dan kinerja guru secara bersama-sama maka semakin tinggi pula prestasi belajar siswa. B. Implikasi Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, berikut ini

peneliti sampaikan beberapa implikasi yang mungkin dapat timbul, yaitu: 1. Adanya pengaruh budaya organisasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa dilihat dari indikator keteladanan pimpinan, kedisiplinan siswa dan guru, kebersihan lingkungan sekolah, keramahtamahan warga sekolah, keharmonisan

84 hubungan antara warga sekolah dan tingginya harapan serta optimisme warga sekolah. Apabila hal ini dapat dijalankan dengan baik oleh warga sekolah baik kepala sekolah, guru dan siswa maka akan berimplikasi pada keinginan mengajar dan belajar yang tinggi yang menghasilkan kualitas pembelajaran yang optimal dan bermakna sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 2. Adanya pengaruh kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa dilihat dari indikator tanggung jawab, melaksanakan tugas dengan baik, punya komitmen yang tinggi dalam mengajar, menguasai kelas dan materi ajar, dan mampu memotivasi siswa dalam belajar. Ketika hal ini dapat dipenuhi maka akan berimplikasi kepada keinginan untuk mengajar yang baik dan ini memberi dampak positif pada proses belajar mengajar sehingga berpengaruh pada prestasi belajar siswa yang secara langsung dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut. 3. Adanya pengaruh budaya organisasi sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa terlihat dari indikator-indikator yang telah diuraikan di atas. Dengan adanya budaya organisasi sekolah yang baik dan kinerja guru yang tinggi akan memberi dampak pada prestasi belajar siswa. Dalam hal ini peran kepala sekolah juga sangat menentukan untuk menciptakan budaya organisasi sekolah yang baik dan peningkatan kualitas kinerja guru sehingga bisa menciptakan kenyamanan dalam belajar dan bisa meningkatkan motivasi siswa belajar yang berakhir pada peningkatan prestasi belajar siswa.

85 C. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan implikasi di atas, ada beberapa hal yang dijadikan saran antara lain kepada: 1. Guru agar selalu meningkatkan kinerjanya yang sudah melaksanakan tugas selama ini dengan baik agar selalu mengikuti perubahan-perubahan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan perkembangan IPTEK dan IMTAQ sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat secara signifikan. 2. Kepala sekolah harus berusaha untuk melakukan terobosan dalam upayanya menciptakan budaya organisasi sekolah yang baik dan bermutu serta mampu memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya, karena selain sebagai seorang kepala sekolah juga dituntut sebagai motivator. Perlunya upaya-upaya untuk menciptakan budaya organisasi sekolah yang baik dan bermutu serta memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya adalah agar siswa bisa merasa nyaman dan bersemangat dalam belajar sehingga bisa memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya. 3. Siswa agar selalu bersikap baik dan sopan, memanfaatkan dan menjaga fasilitas belajar dengan baik serta diharapkan untuk selalu termotivasi dalam belajar sehingga prestasi belajar bisa ditingkatkan dengan maksimal. 4. Dinas terkait agar selalu memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah dalam menciptakan budaya sekolah yang baik dan bermutu dan juga kebutuhan guru dalam upaya untuk meningkatkan kinerjanya. DAFTAR PUSTAKA

86 Riduwan (2008). Aplikasi Statistika dan Metode Penelitian untuk Administrasi dan Manajemen . Bandung: Dewa Ruchi. Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. ______(2005). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Carroline, (2011). Pengaruh Kemampuan Professional Dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Tesis pada Universitas Syiah Kuala, tidak diterbitkan. Fahmi, Irham. (2010). Manajemen Kinerja Teori dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta Hamalik, Oemar (2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Handayani (2007). Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Kreativitas Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Tesis pada Universitas Syiah Kuala, tidak diterbitkan. Hasbullah, (2006). Otonomi Pendidikan ( Kebijakan Otonomi daerah dan Implikasinya Terhadap Penyelenggara Pendidikan). Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hasibuan, M. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara. Mulianto, Sindu dkk. (2006). Panduan Lengkap Supervisi Diperkaya Persfektif Syariah. Jakarta: PT Alex Media Kumpotindo. Mulyasa. E. (2008). Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah). Jakarta: Bumi Akasara. Mustafa (2006) Pengaruh Motivasi Kerja Dan Disiplin Kerja Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Tesis pada Universitas Syiah Kuala, tidak diterbitkan. Robbin, S. (2006). Perilaku Organisasi. Klaten: PT. Intan Sejati. Sardiman, AM. (2005). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Siagian, P. Sondang (2005). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. Slameto. (2005). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudjana.(2005). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

87 Sugiyono,( 2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung : Alfabeta. Sukardi. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi aksara Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Sutarto,( 2007). Dasar – dasar Organisasi, Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Sutrisno Edy,( 2010). Budaya Organisasi, Jakarta : Kencana Prenata Media Group. Syah, Muhibbin. (2005). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya. Syah, Muhibbin. (2005). Psikologi Belajar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Taliziduhu Ndraha. ( 2005). Budaya Organisasi. Jakarta : PT Rineka Cipta. Thoha, Miftah,( 2008). Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta : Raja grafindo Persada. Undang – undang Nomor 19 tahun 2005 tentang Guru Dosen. Uno, H.B. (2008). Profesi Kependidikan. Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Usman, Husaini,( 2009,). Manajemen, Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara. Usman, Nasir,( 2007). Manajemen Peningkatan Kinerja Guru, Bandung : Mutiara Ilmu. Wahab, Abdul aziz,( 2008). Anatomi Organisasi dan Kepemimpinan , telaah terhadap organisasi dan Pengelolaan Organisasi Pendidikan, Bandung : Alfabeta. Wibowo. (2009). Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajawali Pers. Wibowo,( 2010) Budaya Organisasi (Sebuah Kebutuhan Untuk Meningkatkan Kinerja Jangka Panjang). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Winkel. W. S. (2009). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi