You are on page 1of 1

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia mencatat bahwa perkembangan produk kosmetik dan obat tradisional di Indonesia memberikan hasil

yang terus meningkat, termasuk omzet penjualan. Benny Wachyudi, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur (BIM) Kemenperin, di Jakarta (Rabu, 4/9) mengatakan produk kosmetik dan obat tradisional di Indonesia dewasa ini telah memberikan hasil yang menggembirakan, baik dari kapasitas produksi, omzet penjualan, variasi produk, perolehan devisa, maupun penyerapan tenaga kerja. Benny menjelaskan nilai ekspor industri kosmetik meningkat dengan memperoleh Rp9 triliun, padahal nilai ekspor industri kosmetik pada 2011 baru sebesar Rp3 triliun. Dari segi omzet penjualan juga meningkat. Pihaknya memperkirakan, omzet penjualan industri kosmetik pada 2013 akan tumbuh sebanyak 15% dibandingkan omzet tahun 2012, yaitu Rp9,7 triliun. Sedangkan, dari segi tenaga kerja, kata Benny, Indonesia memiliki 760 industri kosmetik yang tersebar di wilayah Indonesia mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 75.000 tenaga kerja secara langsung dan 600.000 tenaga kerja di bidang pemasaran. “Dari data ini kita optimistis kinerja industri kosmetik ke depan tetap cerah,” tutur Benny. Benny juga optimistis kondisi perekonomian nasional yang kurang menguntungkan yang salah satunya ditandai dengan turunnya nilai tukar rupaih belum mempengaruhi kinerja industri kosmetik nasional. Tingginya permintaan dari dalam dan luar negeri menjadi salah satu alasan industri kosmetik tetap tumbuh. Lebih jauh lagi Benny mengatakan dari sisi kapasitas produksi, omzet, penjualan, variasi produk, perolehan devisa dan tenaga kerja sehingga dapat dijadikan sebagai industri andalan yang mampu menggerakkan roda perekonomian nasional. Selain ekspor, impor produk kosmetika Indonesia juga terus meningkat. Tercatat tahun 2012 impor kosmetik Indonesia mencapai Rp4,2 triliun. Nilai impor ini naik 20% dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp3,5 triliun. Benny menilai industri kosmetik dalam negeri mendapat tantangan berat dengan membanjirnya produk kosmetik impor. Dikatakan, kenaikan nilai impor kosmetika karena perdagangan bebas antara negara-negara Asia Tenggara sebagai dampak harmonisasi tarif. Selain itu, importir kosmetik juga melihat Indonesia sebagai pasar potensial. Kenaikan impor juga disebabkan importasi kosmetik yang tidak diproduksi di Indonesia. Benny menuturkan, tantangan lain yang dihadapi industri kosmetik dan obat tradisional adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi bahan baku di dalam negeri untuk meningkatkan daya saing produk. Namun, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Putri K Wardhani, menuturkan kalau setiap tahun pasar kosmetik dan toliletries di Tanah Air selalu saja dibanjiri produk impor, baik yang ilegal maupun legal. Yang mengagetkan adalah jumlah omzet dari produk impor ilegal tersebut menembus angka Rp15 – Rp16 triliun atau dengan kata lain 20% dari total omzet kosmetik dan toiletries yang mencapai Rp80 triliun pada tahun ini. Produk ilegal tersebut kata Putri masuk melalui pelabuhan tikus disekitar perbatasan negara kita. Putri juga mengatakan kalau problem industri kosmetik berasal dari ketentuan peredaran produk impor yang tidak memerlukan izin Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM). Hal ini dinilai sangat membahayakan konsumen Indonesia. Ditambah lagi, banyak kosmetik dan jamu Malaysia dan China yang beredar di pasaran. Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, dia berharap pemerintah memberikan perhatian khusus guna mendorong pertumbuhan industri kosmetik di dalam negeri. Masalah lain di industri kosmetik, menurut Putri, adalah aturan yang lemah dari Kementerian Kesehatan dan BPOM. Dikatakan, industri dalam negeri diharuskan melakukan promosi dan kemasan yang memberikan kejelasan kepada konsumen. Sementara produk asing dibebaskan untuk mengatakan apa saja saat promosi.