You are on page 1of 3

C.

Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengelolaan Kelas Dalam pelaksanaan pengelolaan kelas akan ditemui berbagai faktor pendukung dan penghambat. 1. Faktor Pendukung.

Faktor Pendukung dalam pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru dalam pengelolaan kelas, manajemen sekolah, partisipasi siswa dalam kelas. Komponen ketrampilan pengelolaan kelas terbagi menjadi dua bagian, yaitu ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal (Djamarah dan Aswin: 200 , 209). Ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan kondisi belajar yang optimal diantaranya adalah ketrampilan sikap tangap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Adapun ketrampilan yang termasuk kategori kedua adalah ketrampilan merubah suasana yang kurang kondusif dalam pembelajaran karena ada ulah seorang siswa atau sekelompok siswa kepada suasana yang lebih kondusif. Untuk itu ketrampilan pada aspek ini lebih menekankan kepada strategi guru dalam merubah tingkah laku siswa yang bermasalah. Manajemen sekolah yang dimaksud adalah kemampuan pihak sekolah dalam memfasilatasi sarana yang dapat mendukung terciptanya kondisi pembelajaran yang menguntungkan. Adapun partispasi siswa adalah keinginan siswa untuk tetap mengikuti alur permainan atau proses pembelajaran yang telah disepakati bersama. Semakin besar partispasi aktif dan positif yang ditampilkan oleh siswa, semakin besar pula kemungkinan guru berhasil dalam mengelola kelas dengan baik. 2. Faktor Penghambat Sedangkan hambatan dalam pengelolaan kelas tersebut bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena faktor fasilitas (Rohani: 2004, 157) a. Faktor Guru Faktor penghambat yang datang dari guru dapat berupa hal-hal sebagai berikut: Pertama, tipe kepemimpinan guru. Guru selain berperan sebagai pengajar dan pendidik, ia juga mempunyai peran lain. Menurut Mulyasa (2005, 37) ada 14 peran yang dimiliki oleh guru, salah satunya adalah peran guru sebagai pelatih. Untuk itu, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, guru juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya dan mempengaruhi "memimpin" mereka untuk menjadi seorang individu yang berhasil. Keberhasilan guru tersebut sangat dipengaruhi oleh tipe kepemimpinannya. Guru yang kurang demokratis atau otoriter bisa menumbuhkan sikap atau tingkah laku yang kurang kondusif dari peserta didik. Jika hal itu telah terjadi maka tipe kepemimpinan guru turut membantu dalam bermunculnya sumber masalah pengelolaan kelas. Kedua, kepribadian guru. Guru yang akan berhasil dalam melaksanakan tugasnya, dituntut memiliki kepribadian yang kuat dan kepercayaan diri yang tinggi. Indikator seorang guru telah memiliki kepribadian yang kuat adalah ia senantiasa bersikap sabar, hangat, adil, objektif dan fleksibel dalam menanggapi keluhan atau masalah yang dihadapi peserta didik, sehingga terbinanya hubungan yang harmonis dan kekeluargaan di antara guru dan peserta didik. Sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan

suasana relasi yang tidak harmonis sehingga terwujudlah masalah baru dalam pengelolaan kelas. Ketiga, metode mengajar guru. Guru yang kurang memperhatikan dalam memilih strategi yang tepat dan menarik dalam sebuah pembelajaran bisa menjadi pemicu munculnya masalah dalam pengelolaan kelas. Kemungkinan masalah yang muncul diantaranya peserta didik menjadi bosan, malas sehingga mereka banyak melanggar peraturan sekolah. 13 Keempat, pemahaman guru tentang psikologi perkembangan peserta didik. Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya, mungkin karena tidak tahu caranya ataupun karena beban mengajar guru yang diluar batas, kemampuannya yang wajar karena mengajar diberbagai sekolah sehingga guru datang kesekolah semata-mata untuk mengajar. b. Faktor Peserta Didik Faktor lain yang dapat merupakan hambatan dalam pengelolaan kelas adalah faktor peserta didik. Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tahu hak-haknya sebagai bagian dari satu kesatuan masyarakat disamping mereka juga harus tahu akan kewajibannya dan keharusan menghormati hak-hak orang lain dan teman-teman sekelasnya. Peserta didik harus sadar bahwa kalau mereka menggangu temannya yang sedang belajar berarti tidak melaksanakan kewajiban sebagai anggota satu masyarakat kelas dan tidak menghormati hak peserta didik lain untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kegiatan pembelajaran. Kekurangsadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota suatu kelas atau suatu sekolah dapat merupakan faktor utama penyebab masalah pengelolaan kelas. Aspek motivasi belajar mempunyai peranan yang penting bagi guru dalam menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menggembirakan. Menurut Purwanto sebagaimana dikutip oleh Nopita Sipriani motivasi mempunyai fungsi, yaitu : 14 1. Mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak yang memberikan energi kepada seseorang untuk melakukan tugas. 2. Menentukan arah perbuatan, yakni kea rah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. 3. Menyeleksi perbuatan, aykni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.(Purwanto: 1998, 70).

Berdasarkan fungsi motivasi tersebut, jelas anak yang tidak mempunyai motivasi belajar akan sulit untuk mencapai keberhasilan dalam belajar dan membantu guru dalam membangun interaksi sosial yang saling menguntungkan.

c. Faktor Fasilitas Faktor fasilitas merupakan penghambat dalam pengelolaan kelas. Faktor tersebut meliputi: Pertama, Jumlah peserta didik dalam kelas. Kelas yang jumlah peserta didiknya banyak sulit untuk dikelola. Jumlah peserta didik dalam satu kelas di SD yang mencapai rata-rata 30-40 orang peserta didik merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan kelas. Kedua, Besar ruangan kelas. Ruang kelas yang kecil dibandingkan dengan jumlah peserta didik dan kebutuhan peserta didik untuk bergerak dalam kelas merupakan hambatan lain bagi pengelolaan. Demikian pula halnya dengan jumlah ruangan yang kurang dibandingkan dengan banyaknya kelas dan jumlah ruangan khusus yang dibutuhkan seperti laboratorium, auditorium, ruang kesenian, ruang gambar, ruang olah raga dan sebagainya yang memerlukan penanganan tersendiri. 15 Ketiga, ketersediaan Alat. Jumlah buku yang kurang atau alat lain yang tidak sesuai denang jumlah peserta didik yang membutuhkannya akan menimbulkan masalah pengelolaan dalam kelas. d. Faktor keluarga Tingkah laku peserta didik di kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Keluarga yang bersipat otoriter biasanya akan melahirkan anak yang mempunyai sikap suka menyendiri, mengalami kemunduruan/kematangan, ragu-ragu dalam semua tindakan serta lambat berinisiatif. Siswa yang berasal dari keluarga yang demokratis mempunyai kecenderungan lebih dapat menyesuaikan diri, fleksibel, emosi stabil dan mempunyai rasa tanggungjawab. Sedangkan siswa dari keluarga yang liberal mempunyai kebiasaan bebas bertindak dan berbuat, bersikap agresif tak ada kompromi dan selalu mempunyai sifat selalu curiga