BAB V PEMBAHASAN

5.1

Hubungan antara Faktor Lingkungan dengan Kejadian Diare Balita Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum dan tempat pembuangan tinja keluarga dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013. 5.1.a Hubungan antara Sumber Air Minum dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil analisis data secara statistik menunjukkan bahwa sumber air minum yang dikonsumsi ada hubungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak tahun 2013 dimana nilai p = 0,003. Data sumber air minum yang dikonsumsi responden masih tergolong sumber air yang terlindung sebanyak 72,8%. Namun dari 202 responden penelitian, didapatkan diare lebih banyak dengan

penggunaan sumber air minum yang tidak terlindung yaitu sebanyak 23 balita responden. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Irianto et, al (1994) yang menyimpulkan bahwa penyediaan air minum

berhubungan dengan kejadian diare pada balita dan merupakan faktor risiko kejadian diare. Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah penting berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air trecemar (DepKes RI, 2000). Berdasarkan hasil penelitian Sutomo (1987) disimpulkan bahwa ada hubungan antara sumber air minum yang dikonsumsi di

Untuk keperluan minum dan memasak sebagian ibu-ibu menampung air tersebut di tempat penampungan air. . saluran pembuangan air limbah. Sumur yang baik harus memenuhi syarat kesehatan antara lain. dan mencuci. 2005). Kondisi yang berlangsung secara lama dan berulang-ulang mengakibatkan kejadian diare pada balita dapat dikatakan tinggi pada responden yang menggunakan sumber air minum tidak terlindung. sumber air minum tidak terlindung seperti sumur. akan mematikan mikroorganisme yang ada dalam air tersebut. ibu terlebih dahulu memasak air minum sampai mendidih. Sumber air tidak terlindung. Menggunakan air minum yang tercemar. seperti ditampung pada tempat penampungan air (Depkes. jarak sumur dengan lubang galian sampah.rumah-rumah pada daerah pedesaan dan responden yang menggunakan air bersih memiliki kecenderungan lebih kecil menderita penyakit diare. sehingga tidak menimbulkan penyakit. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Jarak sumur dengan tempat pembuangan tinja lebih baik 10 meter atau lebih. tetapi air tersebut masih dapat tercemar oleh tangan ibu yang menyentuh air saat mengambil air. jarak sumur dengan lubang kakus. Air minum yang telah direbus sampai mendidih. Air yang diperoleh warga dijadikan sebagai air minum. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat penyimpanan di rumah. serta sumber-sumber pengotor lainnya. maka air harus dilindungi dari pencemaran. Sebaliknya responden yang tidak menggunakan air bersih memiliki kecenderungan menderita penyakit diare. Meskipun air minum tersebut ditampung di tempat penampungan air dan tertutup. dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diare pada balita. tetapi ada sebagian ibu yang langsung mengambilnya dari kran air. seperti sumur masih banyak digunakan sebagai sumber air utama bagi masyarakat di Kecamatan Cilandak. Menurut Sukarni (2002). untuk keperluan minum keluarga. harus memenuhi syarat kesehatan sebagai air bagi rumah tangga.

Pada penelitian ini jenis tempat pembuangan tinja dibedakan menjadi jenis jamban sehat dan jenis jamban tidak sehat. dan sumber air.3%) yang di rumahnya memiliki jenis tempat pembuangan tinja yang tidak sehat. Menurut Notoatmojo (2003). Jenis jamban tidak sehat yaitu jenis jamban tanpa tangki septik atau jamban cemplung dan rumah yang tidak memiliki jamban sehingga bila buang air besar mereka pergi ke sungai. Dari 60 balita yang mengalami diare. Jenis tempat pembuangan tinja tersebut termasuk jenis tempat pembuangan tinja yang tidak saniter. jamban leher angsa (angsa latrine) merupakan jenis jamban yang memenuhi syarat .003. Data penelitian menunjukkan responden yang telah memiliki tempat pembuangan tinja keluarga yang tidak sehat sebanyak 126 responden (62.b Hubungan antara Jenis Tempat Pembuangan Tinja Keluarga dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja keluarga dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 dimana nilai p = 0. Menurut Entjang (2000). Tempat pembuangan tinja juga merupakan sarana sanitasi yang penting dalam mempengaruhi kejadian diare. Sedangkan jenis jamban sehat yaitu jamban yang memiliki tangki septik atau lebih dikenal dengan jamban leher angsa. Membuang tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi dapat mencemari lingkungan pemukiman.1.4%). akan berdampak pada banyaknya lalat. tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. didapatkan 33 balita (16.5. Jenis tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan. tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya. syarat pembuangan tinja yang memenuhi aturan adalah tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya. dan tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat vector bertelur dan berkembangbiak. tanah.

1. Padahal menurut Depkes (2000).315. Hanya terdapat 4 responden (2%) saja . tinja balita juga berbahaya karena mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Mereka beranggapan bahwa tinja balita tidak berbahaya. sehingga apabila mereka buang air besar mereka menumpang di jamban tetangga. ke kebun atau pekarangan. buang air besar di sungai dekat rumah atau buang air besar di jamban cemplung yang ada di kebun dekat rumah. Lalat berperan dalam penularan penyakit melalui tinja (faecal borne disease). 2003). lalat senang menempatkan telurnya pada kotoran manusia yang terbuka.kesehatan.c Hubungan antara Jenis Lantai Rumah dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 dimana nilai p = 0. Tinja yang dibuang di tempat terbuka dapat digunakan oleh lalat untuk bertelur dan berkembang biak. yaitu sebanyak 198 responden (98%). Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Selain itu tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia. kemudian lalat tersebut hinggap di kotoran manusia dan hinggap pada makanan manusia (Soeparman dan Suparmin. masih ada sebagian ibu yang tidak membuang tinja balita dengan benar. Jamban leher angsa menurut Sukarni (2002). memiliki keuntungan antara lain aman untuk anak-anak dan dapat dibuat di dalam rumah karena tidak menimbulkan bau. Bila dilihat dari perilaku ibu. yang berfungsi sebagai sumbat sehingga bau dari jamban tidak tercium dan mencegah masuknya lalat ke dalam lubang. Tinja balita juga dapat menularkan penyakit pada balita itu sendiri dan juga pada orang tuanya. Data penelitian menunjukkan hampir seluruh responden memiliki jenis lantai rumah kedap air. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden diketahui masih ada sebagian masyarakat yang belum memiliki jamban pribadi. 5. mereka membuang tinja balita ke sungai.

dan peristiwa kesehatan.2 Hubungan antara Faktor Sosiodermografi dengan Kejadian Diare Balita Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor sosiodermografi yaitu pencucian alat makan dan kebiasaan cuci tangan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa syarat rumah yang sehat adalah jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. 5. Aktifitas balita yang bermain di lantai rumah yang tidak kedap air menyebabkan terjadinya kontak antara lantai rumah dan tubuh balita. Usia merupakan salah satu variable yang dipakai untuk memprediksi perbedaan dalam hal penyakit. Sedangkan lantai rumah yang tidak kedap air sangat memungkinkan lantai menjadi sarang kuman. Data penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 152 responden (75. Keadaan ini menyebabkan terjadinya diare.2.a Hubungan antara Usia Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 dimana nilai p = 0. menjadikan kegiatan untuk mengasuh dan merawat balita terbatas. . 5.712. kondisi.yang menggunakan lantai tidak kedap air dan keempat balita responden tersebut tidak mengalami diare. yang menunjukkan usia ibu tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Irianto (1996).2. untuk dapat menjadi pencetus terjadinya diare pada balita.b Hubungan antara Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 dimana nilai p = 0. debu. (widyastuti 2005) 5.2%).367. Dengan adanya aktivitas di luar rumah.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Pitono.e Hubungan antara Pencucian Alat Makan dan Cuci Tangan dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara pencucian alat makan dan kebiasaan cuci tangan pada kejadian diare balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 dimana nilai p = 0. apabila seseorang terbiasa mencuci tangan terutama pada waktu-waktu penting maka ia akan meminimalkan masuknya kuman melalui tangan. yang menunjukkan tidak ada hubungan status pekerjaan ibu dengan lamanya diare yang dialami balita dengan nilai p > 0.9 Hal ini dikarenakan tangan merupakan salah satu media masuknya kuman penyebab penyakit ke dalam tubuh. Pola asuh yang dilakukan kepada balita selain dari ibu (responden) juga dari keluarganya pengasuhan.d Hubungan antara Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 5. 5. didapatkan 23 responden (11. Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang juga menyatakan bahwa adanya hubungan antara kebiasaan cuci tangan ibu dengan kejadian diare pada anak. Pada hasil penelitian Mansyah (2005).05. juga menunjukkan faktor status ibu bekerja atau tidak bekerja tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare pada balita.3%) yang melakukan pencucian alat makan dan kebiasaan cuci tangan yang kurang baik.2. et al. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan signifikan antara kebiasaan cuci tangan dengan kejadian diare pada anak.responden kemungkinan dibantu oleh keluarganya. sebagian besar ibu yang menjadi responden masih memiliki sehingga kemungkinan terjadi perubahan pola . Namun.2.2.c Hubungan antara Pendidikan dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Cilandak Tahun 2013 5. Dengan demikian.000. (2006).5. Data penelitian menunjukkan dari 40 balita yang mengalami diare.

8 kali pada perilaku ibu yang tidak mencuci tangan. mereka hanya terbiasa mencuci tangan apabila tangan mereka terlihat kotor saja. . (EHP. Sedangkan menurut Kirana (2005). sebelum memegangi bayi. responden hanya dua waktu melakukan mencuci tangan pakai sabun dalam kegiatan sehari-harinya yaitu pada waktu sebelum/sesudah makan dan setelah buang air besar. Pencucian alat makan yang kurang baik juga mempengaruhi kejadia diare pada balita. Perilaku pencegahan diare anak balita dalam mencuci tangan pakai sabun dengan cara yang benar dan dilakukan dengan waktuwaktu yang tepat serta menggunakan air yang tidak tercemar sangatlah berperan dalam menggurangi penyebaran penyakit infeksi dan sangat efektif untuk mencegah penyakit diare dan penyakit lainnya terhadap anak balita. Dari hasil penelitian. Kebiasaan ini akan mengurangi resiko terjadinya diare 40 persen. 1999).kesadaran yang rendah untuk mencuci tangan. Pada responden didapatkan banyak yang mencuci alat makan dengan cara direndam bukan dengan air mengalir. setelah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan. kebiasaan mencuci tangan juga mempunyai daya ungkit yang besar terhadap penurunan angka kejadian diare. cara praktis untuk mencegah penyakit diare adalah dengan mencuci tangan dengan sabun. setelah buang air besar. Hasil penelitian yang dilakukan Thoyib (1997). menemukan bahwa kejadian diare pada anak dibawah 2 tahun adalah 21. Padahal tangan yang terlihat bersih belum tentu bebas dari kuman penyebab penyakit. Dalam mencuci tangan pakai sabun ada lima waktu penting menurut panduan pencegahan diare yaitu sebelum makan.