P. 1
Analisis Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Masalah Aborsi)

Analisis Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Masalah Aborsi)

|Views: 718|Likes:
MULIDA HAYATI

MULIDA HAYATI

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Jurnal Ranying Bunu, Vol.3, No.

1, Mei 2008

Analisis Pasal 15 ...(Mulida Hayati) 81-87

Analisis Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Masalah Aborsi) Oleh : Mulida Hayati Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangkaraya Abstrak Pekembangan tehnologi yang semakin pesat mengakibatkan tingginya tingkat kejahatan dengan modus operandi baru. Demikian pula dibidang kesehatan, dimana Undang-Undang yang seharusnya melindungi malah dapat menimbulkan tindak pidana (tentang aborsi) akibat pasal yang tidak ada kejelasan, keserbatercakupan dan keterpaduan antara ketentuan yang satu dengan yang lainnya. Hal ini seharusnya segera disikapi oleh pemerintah dengan merefisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

PENDAHULUAN Latar Belakang Seiring dengan kemajuan tehnologi arus informasi tidak dapat dibendung lagi, maka terjadilah pertukaran budaya maupun perilaku. Sesuatu yang di daerah lain lazim dilakukan, berangsur-angsur diikuti oleh daerah lain yang sebelumnya dianggap tabu. Didalam pergaulan sehari-hari kita diberikan kebebasan baik itu untuk mengeluarkan pendapat, mendapatkan pekerjaan maupun memilih pasangan. Sudah menjadi kodrat alam bahwa manusia itu diciptakan untuk hidup berpasang-pasangan antara pria dan wanita. Dalam perkembangannya timbul rasa ingin melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni yang disebut dengan perkawinan. Perkawinan untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia, sejahtera dan tentunya untuk mendapatkan keturunan guna melanjutkan ke generasi berikutnya.

Dalam perkawinan adakalanya manusia mendapatkan keturunan yang dikehendaki, tetapi ada juga tanpa perkawinan yang sah manusia mendapatkan keturunan. Kalau dari perkawinan yang tidak sah (hubungan gelap, tindak pemerkosaan, dan lain-lain) kadangkala jabang bayi yang dikandung perempuan digugurkan. Tidak menutup kemungkinan pengguguran kandungan juga dilakukan oleh ibu-ibu yang telah resmi menikah dengan alasan-alasan yang hanya dijadikan pembenar atas tindakan yang salah (melanggar hukum). Permasalahan Pengguguran kandungan yang sering juga disebut dengan Aborsi bukanlah salah satu jalan/cara yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah. Di dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 15 disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Sementara tindakan medis 81

ISSN : 1904 - 4107

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->