You are on page 1of 9

PEMBELAJARAN FISIKA YANG MENYENANGKAN

PADA TOPIK GERAK PARABOLA DENGAN


VISUALISASI BAHAN AJAR
BERBANTUAN KOMPUTER
In Uncategorized on 28 April 2008 at 10:45 am
Pristiadi Utomo
SMK Negeri 11 Semarang
Tulisan ini hendak menyajikan bahan ajar fisika pada topik gerak peluru secara konsep
maupun visualisasi yang dapat diajarkan kepada kelas di ruang multimedia secara network
sehingga dapat diakses oleh komputer siswa. Para siswa dapat belajar interaktif bersama guru
maupun secara mandiri. Bahan ajar ini harus disiapkan terintegrasi dalam rencana pembelajaran.
Bahan ajar ini bukan satu-satunya media pembelajaran melainkan salah satu media pembelajaran
yang di setup oleh guru sebagai fasilitator yang utama. Jadi bahan ajar ini tidak dapat
menggantikan peran guru.
Bahan ajar interaktif ini dikembangkan guru menggunakan microsoft power point dengan
software macromedia flash MX 2004 dan di sana sini dilengkapi animasi-animasi unduhan dari
internet. Sehingga dapat diproyeksikan selama pembelajaran atau dapat diakses siswa melalui
komputer.
Pembelajaran Fisika di sekolah pada topik gerak peluru memerlukan penyajian konsep
teori dan visualisasi agar pemahaman pada siswa lebih konkrit. Secara konsep siswa mampu
memahami lintasan gerak parabola beserta ukuran-ukuran kinematisnya seperti jarak, ketinggian
yang ditempuh, kecepatan dan arahnya yang dapat ditentukan formulasinya. Visualisasi dan
konsep gerak peluru sudah beberapa dibuatkan software pembelajarannya misalnya pesona
fisika, physics class room, dan sebagainya di pasaran. Namun tidak semua guru fisika maupun
sekolah di tempat mengajarnya dapat menyediakan sarana software tersebut.
Upaya guru untuk mengoptimalisasi visualisasi konsep kinematika gerak peluru dapat
dengan jalan mengunduh dan merangkai materi animasi dari download internet. Di sana banyak
juga dijumpai copy right dari para ilmuwan yang konsisten mengembangkan pembelajaran fisika
interaktif. Namun hal tersebut memerlukan biaya pula. Oleh karena itu upaya terdekat guru
adalah membuat bahan ajar interaktif sendiri dengan program software yang mudah diperoleh
seperti power point, macro media flash, adobe premiere dan sebagainya.

Penerapan ilmu fisika pada saat ini sudah menjadi ilmu yang mengglobal dalam berbagai disiplin

ilmu. Artinya ilmu ini dapat ditemukan dalam berbagai kajian fenomena kehidupan dunia.

Cakupan penelaahan ilmu fisika meluas dari jagad mikro sampai jagad makro. Mulai dari benda-

benda kecil sampai benda-benda besar. Ilmu fisika banyak membantu kajian-kajian disiplin ilmu

seperti fisika dalam ekonomi atau ekonofisika, fisika kedokteran, fisika olah raga atau fisika

sport. Konsep-konsep dasar mekanik, fluida, kinetik, kalor, optik, dan sebagainya banyak dipakai
di bidang olah raga seperti atletik, badminton, bowling, dan sepak bola. Sehingga pengembangan

ilmu fisika berbasis multimedia interaktif sangat perlu dioptimalkan.

Penerapan ilmu fisika pada saat ini sudah menjadi ilmu yang mengglobal dalam berbagai disiplin

ilmu. Artinya ilmu ini dapat ditemukan dalam berbagai kajian fenomena kehidupan dunia. Oleh

karena itu ilmu ini merupakan dasar dari pengkajian dan penelaahan berbagai fenomena

kehidupan tersebut. Dengan dasar ilmu ini pula manusia di dunia sanggup menginterpretasikan

kejadian atau benda yang berada di luar logika manusia atau hal-hal yang ajaib di mata

masyarakat. Oleh karena itu ilmu fisika banyak diminati oleh masyarakat yang memiliki rasa

keingintahuan tinggi atas peristiwa-peristiwa alam dalam kehidupan. Berkembangnya biofisika,

ekonofisika, kimiafisika dan fisikasport merupakan contoh nyata dari kebutuhan disiplin ilmu-

ilmu lain terhadap fisika.

Peranan ilmu fisika bagi dunia kehidupan sejak dulu memang sudah dikenal sebagai

dasar penelitian para ilmuwan. Sebagai bukti mereka berhasil menemukan berbagai teknologi

dalam perkembangan dunia. Mereka bisa melayang di udara, bisa membuat pesawat yang

menjelajahi planet-planet, menemukan teknologi komunikasi, bahkan mereka dapat

menghancurkan dunia dengan ilmu tersebut, misalnya menemukan bom atom dari rumus

Einstein E = mc2, dan banyak lagi penemuan lain. Dengan demikian menunjukkan bukti kuat

bahwa fisika mampu terintegrasi atau terpadu dalam bidang-bidang lain.

Wawasan pendidikan fisika pada tingkat SD adalah terpadu dalam pembelajaran sains,

tingkat SMP adalah terpadu namun terpisah dari pembelajaran biologi dan kimia, pada tingkat

SMA terpisah namun masih bersifat umum, dan di tingkat Perguruan Tinggi adalah terpisah dan

sudah bersifat spesialisasi. Pembelajaran Sains terpadu sebenarnya belum dijumpai, yang di SD

hanya memadukan pengetahuan Sains saja, di SMP masih terpisah tidak berani memadukan. Jadi

pendekatan pembelajaran Sains terpadu sulit dilaksanakan. Ada upaya mengaitkan Sains,
Teknologi, Masyarakat, Lingkungan yang dapat dipandang sebagai tantangan dan ada

peluangnya.

Tempo dulu pembelajaran cenderung materi sentris sehingga terpisah dengan kenyataan

di lapangan. Pembelajaran fisika siswa mendapat nilai 9, namun di rumah bila lampu mati, kabel

setrika putus, siswa tidak bisa berbuat apa-apa. Jika siswa disuapi saja, maka kreativitasnya tidak

muncul. Tidak ada minat, rasa tertarik, kreativitas dalam pembelajaran. Wawasan siswa

terpotong-potong atau mati atau menjadi dead knowledge. Langkah kita sebagai guru harus

menghindari dead knowledge. Dead knowledge juga masih banyak di masyarakat kita. Tempe

misalnya di sini paling lama tiga hari lalu membusuk. Di Jepang ada tempe kaleng, asli seperti

tempe di Indonesia, pelaut-pelaut yang kangen tempe dapat menemukannya di kapal. Tempe

kaleng juga dikembangkan di Afrika (Simbabwe, Afrika Selatan) karena diyakini ada zat yang

dihasilkan tempe dapat mencegah kanker.

Guru semestinya mengembangkan pembelajaran terpadu tanpa meninggalkan alokasi waktu,

dan jangan bertele-tele/nggladrah. Praktek harus diadakan dan tidak harus di dalam kelas,

bisa juga dalam bentuk tugas, atau proyek. Dalam teori kontruktivisme konsep dibentuk oleh

siswa sendiri. Dalam kontruktivisme diperkenankan siswa membuat konsep yang salah,

namun banyak guru yang tidak rela hal itu. Kesalahan-kesalahan dalam sains tidak selalu

membawa kesengsaraan.

Untuk meminimalisasi kesalahan konsep, guru dapat mengembangkan media bahan ajar

yang di dalamnya terdapat konsep dan visualisasi bahan ajar sehingga mudah dipahami siswa

dengan benar. Optimalisasi penggunaan bahan ajar berbasis multimedia semacam ini akan

menyenangkan siswa dan berpeluang mendatangkan hasil belajar yang meningkat baik kognitif,

afektif maupun psikomotorik. Para Guru dapat membuat evaluasi dalam ketiga aspek itu, tidak

melulu kognitif saja. Permasalahan yang diangkat pada makalah ini adalah dapatkah media
bahan ajar menghasilkan keterampilan proses selama pembelarajan fisika. Makalah ini

membahas tentang pembelajaran fisika yang menyenangkan pada topik gerak parabola dengan

visualisasi bahan ajar berbantuan komputer.Kinematika adalah mengkaji gerak benda tanpa

memperhitungkan gaya-gaya yang bekerja pada benda itu. Beberapa asumsi penyederhanaan

yang digunakan dalam membahas gerak parabola dalam kajian ini adalah bahwa gesekan udara

dan rotasi bumi tidak mempengaruhi selama benda bergerak

1. Gerak Parabola dalam Bidang Vertikal tanpa Percepatan Gravitasi Bumi

Gerak parabola dalam bidang vertikal dalam pembahasan ini dianggap terjadi pada ruang

hampa, tanpa adanya pengaruh percepatan gravitasi atau planet-planet yang lain. Jika sebuah

benda melakukan gerak lurus beraturan ke arah sumbu x dan gerak lurus berubah beraturan tanpa

kecepatan awal ke arah sumbu y, maka lintasan benda tersebut akan berbentuk suatu parabola

terbuka ke atas.

Gerak beraturan:

Pada arah mendatar berlaku gerak beraturan dengan kecepatan Vx konstan.

Komponen jarak tempuh mendatar :

X = Vx . t

Gerak berubah beraturan :

Pada arah vertikal berlaku gerak berubah beraturan dengan kecepatan awal nol Vo = 0

Komponen jarak tempuh mendatar :

Y = ½ at 2

Kecepatan benda di titik seberang setelah selang waktu t dihitung dengan menghitung Vx yang

merupakan kecepatan arah sumbu X (konstan / GLB) dan Vy yang merupakan kecepatan arah

sumbu Y dengan Vo = 0 (GLBB).

1. Gerak Parabola pada Bidang Vertikal dengan Percepatan Gravitasi


Jika sebuah bola dilemparkan ke atas dari titik 0 dengan sudut α dan dengan kecepatan

awal Vo, maka bola dapat dianggap mengalami dua gerakan pada sumbu X dan Y yang saling

tegak lurus.

- arah sumbu X : gerak beraturan dengan kecepatan Vox

- arah sumbu Y : gerak berubah beraturan dengan kecepatan awal Voy dan sepanjang perjalanan

bola, bola memperoleh perlambatan g.m/s 2

Beberapa persamaan yang berhubungan dengan gerak bola adalah :

Sumbu X :

Vox = Vo . cos θ

Sumbu Y :

Voy = Vo . sin θ

Jarak mendatar yang ditempuh bola pada t sembarang :

X = Vocos α.t

Ketinggian pada t sembarang :

Y = Vosin α.t – ½ gt2

Persamaan kecepatan dan arah gerakan partikel :

Vx = Vo . cos θ

Vy = Vo . sin θ – g . t

Kecepatan total bola menggunakan teorema Phitagoras.

Arah lintasan bola terhadap horizontal adalah:

tan α = Vy/Vx

Keterangan :

Vo = kecepatan awal (m/s)


Vox = kecepatan awal pada sumbu x (m/s)

Voy = kecepatan awal pada sumbu y (m/s)

Vx = kecepatan pada sumbu x (m/s)

Vy = kecepatan pada sumbu y (m/s)

V = kecepatan pada suatu saat (m/s)

x = kedudukan atau posisi pada sumbu x (m)

y = kedudukan atau posisi pada sumbu y (m)

α = arah gerakan partikel (°)

θ = sudut elevasi (°)

g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)

1. Dinamika Benda yang Bergerak Parabola

Pada umumnya gerak sebuah benda tegar, misalnya bola sepak bola, dapat diuraikan atas

gerak pusat massa benda terhadap suatu acuan yang diam, misalnya permukaan tanah dan gerak

benda terhadap suatu garis atau sumbu yang melewati pusat massa benda. Jika gaya berat (gaya

gravitasi) adalah satu-satunya gaya yang bekerja pada bola maka pusat bola bergerak dalam

lintasan parabolik pada sebuah bidang vertikal. Gerakan ini merupakan gerakan melengkung

tetapi dalam arah vertikal ke bawah, tidak menyamping. Untuk selang waktu yang sangat pendek

dan kecepatan yang besar lengkungan parabolik tersebut mendekati bentuk garis lurus.

Gerakan kedua berupa gerak spin, yaitu gerak melingkar terhadap suatu sumbu putar.

Kombinasi kedua gerak ini yang memungkinkan bola membelok ke arah samping kiri atau

kanan. Jadi contoh tendangan pisang dari pemain-pemain bola terkenal seperti Carlos atau

Beckam merupakan tendangan yang membuat bola memiliki kedua macam gerak di atas.

Pada saat bola ditendang dan melayang di udara dengan spin/putaran bola, maka selama

melawan aliran udara, menurut prinsip Bernoulli pada kedua sisi bola terjadi tekanan yang
berbeda. Perbedaan tekanan ini menghasilkan gaya yang dikenal sebagai gaya Magnus, atau

kadang dikenal juga sebagai gaya angkat/lift.

Bola, yang berputar dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam di udara, akan mengalami
gaya Magnus ke arah kiri. Fenomena ini terjadi akibat tekanan udara di kiri bola lebih rendah
dari sisi yang lain.

Keterangan :

Vn = arah aliran udara


FM = gaya magnus
A = Titik pada bola yang mengalami tekanan rendah
B = Titik pada bola yang mengalami tekanan tinggi
Oleh karena kecepatan udara di sekitar bola relatif terhadap bola sama besar tetapi berlawanan
arah dengan kecepatan titik-titik pada bola yang dekat dengan udara tersebut maka besar
kecepatan udara di sekitar titik A lebih besar daripada besar kecepatan udara di sekitar titik B.
Dengan memandang bahwa kerapatan udara di sekitar kedua titik sama maka menurut hukum
Bernoulli untuk fluida tekanan udara di sekitar titik A lebih rendah daripada tekanan udara di
sekitar titik B. Dengan kata lain bola mendapatkan tekanan udara yang lebih besar pada bagian di
sekitar B daripada bagian di sekitar A. Karena tekanan adalah gaya per satuan luas maka bola
mengalami gaya dorong, yang dinamakan gaya Magnus, dari arah B ke A.

Kemahiran membuat ‘tendangan pisang’ (swing) bola secara fisika dapat diperhitungkan

dengan tepat dan akurat. Dapat diandaikan bahwa suatu tendangan bebas misalnya berjarak 25 m

dari gawang, dan bola ditendang dengan kecepatan 25 m/s, dalam hal ini menyebabkan spin bola

pada frekuensi 10 putaran/s. Dengan mengandaikan kerapatan udara 1,2 kg/m dan diameter bola
3

menurut ketentuan FIFA 0,22 m, dengan mengasumsi koefisien lift sebesar 1,23 maka gaya

angkat (lift) atau gaya magnus dapat dihitung sebagai berikut.

F = C . ρ. D f . v = 1,23 x 1,2 x 0,22 x 10 x 25 = 3,93 N


M L
3. 3

Percepatan bola dapat dihitung dari rumus F = m.a.

Standar massa bola oleh FIFA antara 0,410 kg – 0,450 kg atau dirata-rata 0,430 kg.

F = m.a maka a = F/m = 3,93 / 0,430 = 9,14 m/s 2


Waktu terbang bola diperkirakan 1 detik maka kurva belokan (swing) bola dapat dihitung sebagai

berikut.

s = v .t + ½ at = 0 + ½ x 9,14 x 1 = 4,57 m
o
2 2

Dalam peristiwa tumbukan antara kaki dengan bola diperoleh bahwa kecepatan bola

tergantung pada massa kaki pemain, dan massa bola serta koefisien restitusi. Rumus untuk

menentukan kecepatan bola adalah sebagai berikut.

vbola = vkaki

Dimana v adalah kecepatan, M adalah massa kaki, m adalah massa bola, e adalah

koefisien restitusi dengan perkiraan realistis e = 0,5.

Jika 1 + e = 1,5 dan = 0,8 maka bentuk sederhana dari kecepatan bola adalah

vbola = 1,2 vkaki

Hal inilah yang akan diperhitungkan Pemain untuk menendang dengan kecepatan kaki 20,8 m/s

agar mendapatkan kecepatan bola 25 m/s.

Untuk mencapai tujuan optimalisasi multimedia interaktif digunakan metode penelitian

studi pustaka dan pembuatan media ajar menggunakan software Microsoft power point maupun

macromedia flash MX 2004 dan Dreamweaver . Pengintegrasian bahan ajar ini dengan bahan

ajar pendukung lain ke dalam rencana pembelajaran (RP).

Untuk menguji coba bahan ajar tersebut diujicobakan di satu kelas dan dikonsultasikan ke

guru fisika yang lain untuk mendapat masukan guna perbaikan-perbaikan yang perlu.

Dengan penyajian pembelajaran yang dikemas dengan bantuan multimedia interaktif

dapat mendatangkan pembelajaran yang lebih menyenangkan bagi siswa, lebih menarik minat

dan motivasi para siswa terbukti dari munculnya interaksi siswa dengan media pembelajaran,

komunikasi yang intens antara siswa dengan guru dan antar siswa selama diadakannya diskusi.
Namun demikian keterampilan proses dan problem solving terhadap aplikasi

permasalahan masih memerlukan proses perhitungan dalam pengawasan guru. Pada akhirnya

diharapkan diperoleh hasil belajar siswa yang lebih meningkat. Sedangkan manfaat bagi guru

akan lebih memudahkan penyampaian materi pembelajaran karena disertai dengan presentasi

yang mendukung materi sehingga siswa akan lebih mudah memahami secara konkrit konsep-

konsep fisika yang disampaikan sekaligus siswa dapat lebih mengaktualisasi konsep sains

dengan teknologi serta lingkungan dan masyarakatnya.

KESIMPULAN

1. Media bahan ajar fisika ini dibuat bukan untuk melepaskan tanggung jawab guru

mengajar namun teknologi multimedia dapat mempunyai potensi besar dalam

memfasilitasi proses pembelajaran siswa.

2. Media bahan ajar fisika ini membuktikan bahwa guru bukan sumber belajar satu-satunya,

dan dapat menyegarkan guru akan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan

menyenangkan.

3. Media pembelajaran ini pemanfaatannya harus tunduk pada rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP).

4. Media pembelajaran ini bersifat komplementer dengan sumber-sumber belajar lain.

Possibly related posts: (automatically generated)


• ALTERNATIF REPRODUKSI
• Mengapa Internet Sangat Perlu untuk Pembelajaran ?
• Teaching Physics, in The Class
• Bola, Wasit, dan Budaya Hukum
▶ View 3 Comments