You are on page 1of 4

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Mi telah lama dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat Cina dan Jepang sejak 5000-an tahun yang lalu. Bangsa Asia, khususnya masyarakat Indonesia telah menganggap mi sebagai salah satu makanan pokok. Berdasarkan jenisnya, mi digolongkan menjadi tiga, yaitu mi basah, mi kering dan mi instan. Di Indonesia, mi instan merupakan salah satu jenis mi yang populer. Rasanya yang lezat serta proses penyajian yang mudah dan cepat membuat mi instan digemari dan berpotensi besar sebagai salah satu bahan makanan substitusi parsial bagi makanan pokok beras. (http://www.eepinside.com, diakses pada tanggal 14 Maret 2009 ) Mi instan sebenarnya bentuknya sangat panjang, namun saat pemprosesan ia dilipat, digoreng dan dikeringkan dalam oven panas. Penggorengan inilah yang membuat mi mengandung lemak. Bahan baku utama mi instan memang tepung terigu, namun, selama proses pembuatannya, dipakai juga minyak sayur, garam, natrium polifosfat (pengemulsi, penstabil dan pengental), natrium karbonat dan kalium karbonat (keduanya pengatur keasaman), tartrazine (pewarna kuning). Kadang natrium polifosfat dicampur guar gum. Bahan lain misalnya karamel, hidrolisat protein nabati, ribotide, zat besi dan asam malat yang fungsinya tidak jelas. Selain minyak sayur, ada pula food additive, yaitu bahan-bahan kimia yang ditambahkan ke dalam proses pengolahan makanan, dengan tujuan agar makanan tersebut memiliki sifat-sifat tertentu. Bumbu mi, misalnya garam, gula, cabe merah, bawang putih, bawang merah, saus tomat, kecap, vetsin (MSG) serta bahan cita rasa (rasa ayam, rasa udang,

Universitas Sumatera Utara

rasa sapi) juga banyak menggunakan adiktif. Belum lagi stirofoam dalam mi gelas, yang dicurigai bisa menyebabkan kanker. Meski resiko kesehatan akibat adiktif tak langsung kelihatan, namun menurut Arlene Eisenberg, dalam buku What to Eat When You're Expecting, ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang banyak mengandung adiktif. Bagi balita, bahan-bahan yang sebenarnya tak dibutuhkan tubuh ini juga bisa memperlambat kerja organ-organ pencernaan. (http://ww.balita-anda.com, diakses tanggal 14 Maret 2008) Selain itu juga kandungan utama dari mi adalah karbohidrat. Lalu ada protein tepung (gluten), dan lemak, baik yang dari minyak sendiri maupun minyak sayur dalam sachet. Jika dilihat komposisi gizinya, mi memang tinggi kalori. Kelemahan dari konsumsi mi instan adalah kandungan natriumnya yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mi instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang ini yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1,05 persen dari bobot total mi per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita penyakit maag dan penderita hipertensi. (http://www.organisasi.org. diakses pada tanggal 14 Februari 2009) Sifat karbohidrat dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mi instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Ternyata mi instan bukan cuma kandungan nutrisinya yang kurang, tapi juga bisa merugikan bagi mereka-mereka yang mengkomsumsi, dan bisa menyebabkan kegemukkan. (http://www.djoehanz.blogspot.com diakses pada tanggal 14 Maret 2009)

Universitas Sumatera Utara

Salah satu cemaran logam yang terkandung didalam mi instan adalah logam Timbal (Pb). Menurut Standart Nasional Indonesia (SNI 01-3551-2000) Badan Standart Nasional tentang syarat mutu mi instan, cemaran logam yang terkandung dalam tiap bungkus mi instan maksimum 1,0 mg/kg. (SNI 01-3551-2000). Tahun 2000. Logam Timbal (Pb) yang terkandung di dalam mi instan terutama berasal dari pematrian dari bumbu-bumbu yang terkandung zat adiktif dan zat asam serta dari peralatan memasak yang terkandung bahan yang terbuat dari logam Timbal (Pb). Ataupun berasal dari air yang dipanaskan dengan peralatan memasak berbahan logam. (WHO,1996) Senyawa Pb yang masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman akan diikutkan dalam proses metabolisme tubuh. Namun demikian jumlah Pb yang masuk bersama makanan dan atau minuman masih mungkin ditolelir oleh lambung disebabkan oleh asam lambung (HCl) mempunyai kemampuan untuk menyerap logam Pb ini, pada kenyataanya Pb banyak keluar oleh tinja. (Darmono.2004) Dampak dari timbal sendiri sangat mengerikan bagi manusia, utamanya bagi anak-anak. Di antaranya adalah mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, memendekkan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, mempengaruhi perilaku dan intelejensia, merusak fungsi organ tubuh, seperti ginjal, sistem syaraf, dan reproduksi, meningkatkan tekanan darah dan mempengaruhi perkembangan otak. Dapat pula menimbulkan anemia dan bagi wanita hamil yang terpajan timbal akan mengenai anak yang disusuinya dan terakumulasi dalam ASI. Pada jaringan atau organ tubuh logam Pb akan terakumulasi pada tulang. Karena dalam bentuk ion Pb2+,

Universitas Sumatera Utara

logam ini mampu menggantikan keberadaan ion Ca2+ (kalsium) yang terdapat pada jaringan tulang. Meskipun jumlah Pb yang diserap oleh tubuh hanya sedikit ternyata logam Pb ini sangat berbahaya. Hal itu disebabkan senyawa-senyawa Pb dapat memberikan efek racun terhadap berbagai macam fungsi organ tubuh. (Palar.H.1994) I.2. Permasalahan Apabila kadar logam Timbal (Pb) yang terkandung didalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam produksi PT.Indoofod Sukses Makmur Tbk Divisi Noodle-Pabrik Jakarta melampaui standar baku mutu yang telah ditetapkan maka akan membahayakan atau bersifat toksik bagi tubuh konsumen.

I.3. Tujuan Analisa ini bertujuan untuk menentukan kadar logam timbal (Pb) yang terdapat di dalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam produksi PT.Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Noodle-Pabrik Jakarta, serta menganalisis apakah kadar logam timbal (Pb) yang terkandung di dalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam tidak melampaui standar baku mutu yang telah ditetapkan sehingga layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

I.4. Manfaat Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar logam timbal (Pb) yang terdapat di dalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam produksi PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Noodle-Pabrik Jakarta.

Universitas Sumatera Utara