You are on page 1of 24

Evolusi Pertahanan Indonesia, Dengan berakhirnya Perang Dunia II, maka peta bumi politik Asia Tenggara berubah total. Sebuah bangsa di Asia Tenggara, yaitu bangsa Indonesia telah memproklamirkan sendiri kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian sesudah itu barulah bangsa-bangsa lainnya di Asia Tenggara seperti Filipina, Birma, Vietnam, Malaysia, dan Singapura berturut-turut mendapat kemerdekaannya secara damai. Di Cina, Chiang Kai Shek dengan Kuo Min Tang-nya berhasil membersihkan daratan Cina dari pendudukan dan pengaruh Jepang, yang kemudian pada tahun 1949 diusir oleh kaum Komunis di bawah pimpinan Mao Che Tung sehingga Chiang Kai Shek dengan Kuo Ming Tang-nya lari ke Taiwan. Kebangkitan nasionalisme begitu hebatnya sehingga memunculkan negaranegara baru di forum hubungan antar bangsa-bangsa dan membuka dimensi baru dalam pola pergolakan dunia.

Ditinjau dari segi teknologi dan ekonomi, pada umumnya negaranegara baru tersebut memiliki kedudukan yang rawan. Di samping itu masing-masing negara baru tersebut selain menghadapi masalah dalam negerinya sendiri, juga terpaksa menghadapi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh pertentangan dan persaingan ideologi dan strategi global kekuatan-kekuatan raksasa dunia yang selalu berusaha meluaskan pengaruhnya di kalangan negara-negara baru itu. Dari berulang kali timbulnya perubahan peta bumi politik di kawasan Asia Tenggara sepanjang sejarah umat manusia, dapatlah dijadikan pelajaran yang dapat disimpulkan bahwa yang merupakan faktor penentu terhadap eksistensi bangsa adalah apa yang disebut Ketahanan Nasional dari bangsa itu sendiri. Oleh karena Ketahanan Nasional itu menentukan kelangsungan hidup suatu bangsa, maka perlu bahkan harus terus-menerus ditingkatkan agar bangsa itu tetap hidup dan berwibawa serta disegani oleh bangsa lain.

Politik Hukum Bela Negara, Ketahanan Nasional mempunyai bidang-bidang yang disebut Astagatra, yang salah satu di antaranya adalah gatra atau bidang pertahanan dan keamanan nasional yang disingkat dengan “Hankamnas”. Gatra ini harus selalu dipelihara dan ditingkatkan agar negara dapat tetap terus melaksanakan pembangunan nasionalnya dalam keadaan tertib, damai, aman, dan tenteram dengan kemampuan sendiri dapat menanggulangi dan mengatasi segala macam tantangan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar sehingga dapat disegani oleh negara lain.

Mempelajari soal-soal yang berhubungan dengan perang, yang merupakan bagian utama dari masalah Hankamnas, bukan disebabkan atau terdorong oleh sesuatu kegemaran, perang, tetapi terdorong oleh pemikiran-pemikiran untuk meningkatkan Hankamnas dalam kerangka usaha peningkatan Ketahanan Nasional atau kalau kita merasa diri berkewajiban mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan perang/Hankam tidak hanya menyangkut soal-soal yang berhubungan dengan persiapan perang, mengatasi akibat perang, daya upaya untuk menghindari perang, dan bukan menghapuskan/mencegah perang dalam segala bentuknya mulai dari perang dingin sampai pada perang umum, serta juga menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Hal lain yang mendorong untuk mempelajari masalah Hankamnas adalah adanya kecenderungan ke arah penguasaan negara dan masyarakat oleh angkatan bersenjata di negaranegara yang belum maju atau negara-negara yang dikatakan dengan istilah yang kurang enak didengar yaitu under developed countries. Kecenderungan tersebut secara objektif dapat dipahami, sebab pada umumnya angkatan bersenjata di negara-negara yang belum maju itu mempunyai organisasi, pengetahuan, dan kemahiran anggota-anggota, peralatan yang masih minim

Politik dan strategi nasional terdiri dari beberapa komponen, yaitu politik dan strategi di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, Hankam. Tiap-tiap bidang merupakan bagian integral dari keseluruhan politik dan strategi nasional dan bersifat saling mengisi, saling mendukung dalam hubungan secara biologik-organik. Dengan demikian jelaslah bahwa Polstrahankamnas merupakan bagian integral dan tidak dapat dipisahkan dari politik dan strategi nasional secara keseluruhan. Khusus mengenai hubungan Polstrahankamnas dengan politik luar negeri dapat dikemukakan sebagai berikut :

Politik Hankamnas mengandung unsur-unsur : a. Pernyataan cita-cita dari bangsa dan negara. b. Pembinaan dan penggunaan secara totalitas potensi Hankamnas. c. Pencapaian tujuan Hankamnas dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
Sedangkan strategi Hankamnas mengandung unsurunsur : a. Seni dan pengetahuan. b. Pengembangan dan penggunaan kekuatan Ipoleksom. c. Diperlukan baik pada waktu perang maupun pada waktu damai. d. Penjamin tercapainya tujuan Hankamnas dalam rangka pencapaian tujuan nasional.

Ada pun politik luar negeri adalah merupakan bagian pelaksanaan politik nasional dalam bidang tertentu untuk mencapai tujuan nasional dalam bidang itu sehingga dicapai kebulatan tujuan nasional. Dari uraian tersebut di atas dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa politik strategi Hankamnas maupun politik luar negeri mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai tujuan nasional. Selain itu politik strategi Hankamnas juga berperan membina dan mengembangkan kekuatan nasional serta mempergunakannya untuk memberikan dukungan kepada politik luar negeri, karena suatu diplomasi yang tidak didukung oleh suatu kekuatan tidak akan ada artinya dan sama sekali tidak akan mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan nasional.

Ditinjau dari segi sarana, masing-masing mempergunakan sarana Ipoleksos untuk menjalankan fungsinya. Jadi dalam penggunaan sarana, politik dan strategi Hankamnas dengan politik luar negeri mempunyai kesamaan, kedua-duanya menggunakan Ipoleksos sebagai sarana. Ditinjau dari segi penggunaannya, maka kesamaan yang ada ialah adanya saling mempengaruhi antara falsafah politik luar negeri dan politik Hankamnas. Kalau ini diproyeksikan di Indonesia, maka falsafah politik luar negeri yang bebas aktif mempunyai pengaruh terhadap falsafah politik dan strategi Hankamnas, yaitu defensif aktif dalam bidang pertahanan dan preventif aktif dalam bidang keamanan. Perubahan dari falsafah politik luar negeri dengan sendirinya akan melahirkan perubahan dalam falsafah politik dan strategi Hankamnas. Ditinjau dari segi penyusunan kekuatan Hankamnas, politik luar negeri dapat menjadi sarana untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari negara lain, sehingga akan dapat memperluas ruang lingkup (scope) dari politik strategi Hankamnas.

Sementara itu dengan mempergunakan ruang lingkup politik strategi Hankamnas yang lebih luas, pelaksanaan politik luar negeri akan dapat meningkatkan ketahanan nasional. Sebaliknya dengan kekuatan yang serba terbatas, akan serba terbatas pula ruang lingkup pelaksanaan politik luar negeri. Di sini kelihatan adanya hubungan timbalbalik yang erat antara politik strategi Hankamnas dengan politik luar negeri. Penyusunan kekuatan dalam bidang itu, tidak akan dapat hanya diselesaikan secara nasional saja, tetapi akan banyak dipengaruhi oleh kawasan di dunia internasional. Agar penyusunan kekuatan dapat segera disesuaikan dengan perkembangan internasional, maka politik luar negeri akan merupakan sarana yang sangat menentukan. Selain politik dan strategi Hankamnas harus pula diperhitungkan adanya pembinaan dan penyusunan kekuatan dalam bidang Ipoleksos.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsepsi Polstrahankamnas yang dimaksudkan di sini adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Faktor-faktor tersebut akan dapat mendukung atau mengganggu, menambah kelancaran atau menjadi hambatan auu rintangan. Faktor tsb al: a. Doktrin Doktrin Hankam yang ditetapkan dalam rangka pembinaan pelaksanaan Hankamnas adalah doktrin Hankamnas dan doktrin Perjuangan ABRI Catur Dharma Eka Karma. Menurut doktrin Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata) keselamatan negara dan bangsa ditentukan oleh faktor rakyat, yakni rakyat yang patriotik, militan, terlatih dan tersusun baik, kualitas rakyat dalam arti mental/jiwa, organisasi serta keterampilannya ditentukan oleh kualitas dan arti kekuatan Hankamnas yaitu ABRI.

b. Wawasan National Wawasan yang dianut di dalam doktrin Hankamnas ialah Wawasan Nusanutara berintikan kekompakan, kesatuan dan persatuan serta integrasi antara Pemerintah, Angkatan Bersenjata dan Rakyat.

c. Sistem Hankamrata Sesuai dengan pengertian pertahanan-pertahanan diperlukan suatu sistem yang merupakan perpaduan serasi Sistek dan Sissos, lebih-lebih kalau dihubungkan dengan perang mutakhir yang bersifat semesta dan menyangkut segala bidang kehidupan bangsa.
Sistem pertahanan dan keamanan berupa perpaduan serasi antara Sistek dan Sissos yang dirumuskan dan disusun bersumber pada falsafah hidup bangsa, pengalaman perjuangan dan kondisi serta situasi negara dan bangsa sehingga Sissos tersebut benar-benar dimengerti dan dihayati oleh bangsa Indonesia, agar Sissos tersebut merupakan sistem senjata yang ampuh dan cocok di samping Sistek.

Bagi negara berkembang terasa masih lemah di bidang Sistek, hal ini disebabkan karena : 1) Belum memiliki industri dan skill yang layak; 2) Masih banyak tergantung kepada negara lain; 3) Masa peralihan sosial budaya yang masih rawan.
d. Kondisi Geografis Kondisi geografis bumi Indonesia serta letak geografis di dunia mengandung faktor-faktor penentu strategis yang sifatnya relatif permanen. Garis-garis pantai yang panjang, laut teritorial beserta selat-selatnya yang menjadi alur pelayaran internasional, wilayah udaranya yang bisa dicapai dari banyak negara sekitarnya, dan wilayah perbatasan yang belum berkembang, mewujudkan sesuatu pada permasa-khan tetap atau hanya akan mengalami perubahan yang tidak cukup menonjol dalam waktu yang panjang.

Perkembangan sosial ekonomi, kepadatan penduduk yang sangat tinggi di daerah-daerah tententu dan sangat rendah di daerah-daerah lainnya mengandung pula permasalahan yang relatif permanen.

Semuanya itu memerlukan perhatian dari segi pertahanan dan keamanan secara terusmenerus.

e. Manusia Manusia merupakan faktor yang sangat menentukan (the man behind the gun), selain harus mempunyai fisik yang sehat dan kuat serta mental yang baik, keadaannya dimanifestasikan dalam moral yang tinggi, jiwa karsa yang tebal, terdapatnya integrasi ABRI, terdapatnya integrasi antara ABRI dan rakyat, pendidikan, identitas nasional. f. Masyarakat Suatu masyarakat merupakan kumpulan manusia yang masing-masing mempunyai sejumlah kepentingan-kepentingan. Tabrakan kepentingan selalu bisa terjadi, yang dapat menimbulkan perselisihan dan pertikaian, sehingga mengakibatkan gangguan terhadap keamanan umumnya dan ketertiban masyarakat khususnya. Oleh karena itu, upaya penertiban masyarakat secara terus-menerus akan merupakan kewajiban di bidang Hankamnas.

g. Material Perindustrian dalam negara berkembang yang masih di dalam taraf permulaan mengutamakan/mendahulukan peningkatan koordinasi dan sinkronisasi antara angkatan, serta antar industri pertahanan dengan industri sipil. Ketergantungan logistik kepada luar negeri belum memungkinkan standarisasi dan mempersulit pemeliharaan dan penggunaan alat peralatan yang ada.

h. Ekonomi Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional ditentukan oleh pelaksanaan dan hasil pembangunan nasional serta kemampuan pemerintah dalam membangkitkan kegairaha dan partisipasi seluruh rakyat dalam melaksanakan pembangunan tersebut. Semakin erat pertumbuhan ini, semakin besar pula sarana-sarana yang dapat disediakan untuk bidang Hankamnas dalam wujud anggaran belanja, khususnya anggaran belanja pembangunan. Budget yang tersedia menggambarkan keterbatasan kekayaan (resources), bagi negara maju budget yang disediakan untuk sektor Hankam dapat mencapai 6% dari pendapatan nasionalnya (GNP) pada zaman damai. Bagi negara berkembang harus diperhitungkan betul-betul yang mutlak diperlukan untuk investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi selama Pelita IV tidak akan mencapai tingkat yang memungkinkan diperbesarnya budget Hankamnas secara menonjol.

i. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangat cepat. Umumnya tingkat teknologi negara berkembang masih sangat ketinggalan, sehingga perlu diambil langkah yang kongkret serta akselerasi pertumbuhan untuk mengurangi jurang ketinggalan tersebut.

j. Manajemen Tingkat kemampuan manajerial masih rendah dengan sarana dan pengetahuan manajemen yang masih sangat sederhana diarahkan menuju kepada manajemen yang modern. Kini dalam taraf permulaan menuju ke sistem manajemen dengan komputerisasi di bidang administrasi umum dan khusus seperti personal, keuangan, material, dan sebagainya (Planning, Programming, Budgetting, dan System disingkat PPBS). Belum dipersiapkan untuk membina dan mengendalikan secara efisien dan ekonomis sesuatu kekuatan yang besar.

Kemampuan manajerial skill semua eselon masih perlu ditingkatkan terutama di bidang koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi (KISS). Kelangkaan sumber akan memerlukan tingkat manajemen tinggi. Melalui rencana pembangunan Hankamnas yang realistis pragmatis, maka manajemen tenaga manusila, material, keuangan, dan sebagainya harus senantiasa ditingkatkan.

k. Pengaruh Luar Negeri Pengaruh luar negeri ini di antaranya adalah dari negara-negara Amerika Serikat, Uni Soviet, Republik Rakyat Cina, Jepang, Australia, dan negara-negara Asia Tenggara khususnya negara-negara ASEAN.

Sejalan dengan gejala akomodasi dan detente antar negara besar tampak suatu pola umum, bahwa ketegangan dunia beralih ke wilayah negara yang sedang berkembang, yang disebabkan karena situasi dan kondisi masih sangat rawan sehingga mudah diganggu, dihambat atau dicampuri oleh kekuatan luar. Hal demikian itu menjadikan lebih peka terhadap usaha-usaha negara besar memperebutkan daerah pengaruh masing-masing. Untuk menjawab tantangan tersebut tiap negara berkembang harus meningkatkan Tannas umumnya dan Ketahanan Hankam khususnya, serta mengadakan kerja sama antar bangsa berkembang sehingga dapat diciptakan ketahanan regional yang cukup mantap.