P. 1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underprincing Saham Perusakan Yang Melakukan IPO Di Bursa Efek Indonesia

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underprincing Saham Perusakan Yang Melakukan IPO Di Bursa Efek Indonesia

|Views: 89|Likes:
Published by yoedhoe
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRINCING SAHAM PERUSAKAN YANG MELAKUKAN IPO DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Pekalongan

Disusun Oleh : Nama NPM : DANANG AJI KUSUMA : 04.0210.E

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEKALONGAN TAHUN 2008

1

2

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Perusahaan yang maju dan berkembang adalah suatu kebanggaan ter
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRINCING SAHAM PERUSAKAN YANG MELAKUKAN IPO DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Pekalongan

Disusun Oleh : Nama NPM : DANANG AJI KUSUMA : 04.0210.E

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEKALONGAN TAHUN 2008

1

2

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Perusahaan yang maju dan berkembang adalah suatu kebanggaan ter

More info:

Published by: yoedhoe on Sep 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRINCING SAHAM PERUSAKAN YANG MELAKUKAN IPO DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Pekalongan

Disusun Oleh : Nama NPM : DANANG AJI KUSUMA : 04.0210.E

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEKALONGAN TAHUN 2008

1

2

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Perusahaan yang maju dan berkembang adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya, apalagi menyenangkan sekali jika perusahaan tersebut bisa go public, dan melakukan IPO (Initial Public Offering), karena selain bisa menjadi besar akibat suntikan modal dari masyarakat juga perusahaan akan semakin dikenal (Widoatmojo, 2004 : 112). Suntikan modal yang dimaksud ada dua sumber, yang pertama dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan sedangkan dari luar perusahaan berupa penyertaan dalam bentuk saham (equity) (Sunariyah, 2004 : 36). Kemudian, yang menjadi problem bagi perusahaan, adalah sulitnya melakukan go public, karena perusahaan harus mempunyai kinerja yang baik untuk menarik investor, dan perusahaan harus memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan oleh BAPEPAM, baru setelah BAPEPAM meloloskan perusahaan yang telah memenuhi syarat maka perusahaan bisa menerbitkan saham, obligasi dan turunannya kemudian dijual kepada masyarakat (Widoatmojo, 2004 : 112). Mengingat pentingnya go public untuk pengembangan perusahaan, informasi yang dikeluarkan perusahaan merupakan aspek yang penting dalam usaha untuk menarik investor, karena informasi seperti informasi besaran atau ukuran perusahaan dan pelaporan mengenai umur perusahaan merupakan

3

cerminan

dari

kemampuan

perusahaan

dalam

mengelola

dan

mengalokasikan sumber dayanya (Febryani, 2003 : 4) Penentuan besaran atau ukuran perusahaan, biasanya investor akan melihat laporan keuangan perusahaan tersebut, dengan mengambil analisa Rasio Return On Investement dan Rasio Return On Equity. ROI diambil untuk menilai seberapa banyak pengembalian yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan atau investasi yang dimiliki perusahaan, dan ROE untuk mengukur pengembalian yang absolute yang akan diberikan perusahaan kepada para investornya, dan angka ROE yang bagus akan mengakibatkan tingginya harga saham (Walsh, 2003 : 56), sedangkan untuk pengukuran umur perusahaan, jumlah tahun dihitung sejak perusahaan tersebut berdiri sampai perusahaan tersebut melakukan penawaran saham di lantai bursa (Nurhidayati, 2002 : 240) Manfaat informasi, dalam hal ini besaran atau ukuran perusahaan sendiri bagi perusahaan adalah adanya penilaian mengenai reputasi perusahaan, apakah sesuai hasilnya dengan umur perusahaan, sehingga dapat memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan. Sedangkan manfaat bagi investor adalah didapatnya informasi mengenai besaran dan umur perusahaan, sehingga investor dapat menganalisis perusahaan mana yang akan digunakan untuk investasinya (Febryani, 2003 : 4).

4

Mengingat tajamnya kompetisi dan luasnya skala persaingan dewasa ini, apalagi di era globalisasi, go public merupakan jalan terbaik untuk mempertahankan kelangsungan bahkan meningkatkan skala perusahaan (Sawidji Widoatmodjo, 2004 : 3). Dalam situasi persaingan, yang tidak lagi berskala nasional, tetapi sudah memasuki tataran global, maka perusahaan yang masih dikelola secara privat atau malah dikelola keluarga tidak dapat diandalkan lagi untuk dapat ikut bermain. Modal dan jaringan pemasaran yang dimiliki oleh perusahaan privat sangatlah terbatas, kalau tidak mau dikatakan sangat kecil. Di samping itu, kemajuan teknologi informasi telah memaksa konsumen bersikap kritis. Bukan tidak mungkin lagi suatu saat konsumen akan melakukan tindakan yang merugikan perusahaan yang tidak go public, seandainya opini masyarakat sudah terbentuk untuk menilai bahwa perusahaan yang go public adalah perusahaan yang lebih memperhatikan masyarakat (Sawidji Widoatmodjo, 2004 : 3) Di dalam fenomena umum yang sering terjadi dihampir semua pasar modal di dunia pada saat melakukan penawaran perdana (IPO) termasuk di Indonesia, yaitu terjadinya underpricing. Underpricing merujuk pada suatu kondisi perusahaan baru go public atau pada saat penawaran umum perdana secara rata - rata harga sahamnya lebih rendah dibandingkan pada saat diperdagangkan di pasar sekunder (yang buat transaksi) (Sugiyanto, 2004 : 2).

5

Sudah banyak peneliti di Indonesia yang melakukan penelitian tentang underpricing, Siti Nurhidayati (2002) meneliti bahwa penawaran hipotesis asimetri informasi yang menjelaskan perbedaan informasi yang dimiliki oleh pihak - pihak yang terlibat dalam penawaran perdana, yaitu : emiten, penjamin emisi dan masyarakat pemodal. Penjamin emisi memiliki informasi tentang pasar yang lebih lengkap daripada emiten, sedangkan terhadap calon pemodal, penjamin emisi memiliki informasi yang lebih lengkap tentang (kondisi) emiten. Semakin besar informasi asimetri yang dihadapi oleh para calon pemodal semakin besar pula mereka akan mempenalti penawaran harga di pasar perdana yang akan memaksa penjamin emisi menawarkan saham dengan underpricing. Karena bursa efek merupakan tempat ditransaksikannya efek, maka pihak yang utama agar pasar modal bisa meakukan aktivitas adalah investor. Investor adalah personal atau institusional yang membelanjakan uangnya di pasar modal. jadi pada prinsipnya semua pihak bisa menjadi investor. Untuk investor personal biasanya dimiliki oleh investor-investor kecil, sedangkan investor institusional dimiliki oleh investor - investor besar atau lembaga (Widoatmodjo, 2004 : 65). Setelah proses IPO berjalan, biasanya yang kerap muncul dan dialami oleh perusahaan – perusahaan adalah terjadinya underpricing, dimana harga penawaran saham perdana ditetapkan lebih rendah dari harga pada hari pertama penutupan (Sugiyanto, 2004 : 3).

6

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat sebuah judul “FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG

MELAKUKAN IPO DI BURSA EFEK INDONESIA.” 1. 2. Identifikasi Masalah Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa utang maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity). Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go public. Untuk proses ini, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go public atau penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan BAPEPAM (Sunariyah, 2004 : 36). Sedangkan penyiapan dokumentasi awal untuk persiapan go public biasanya BAPEPAM akan melihat besaran atau ukuran perusahaan dan umur perusahaan calon emiten. Disini BAPEPAM akan mengetahui perjalanan perusahaan dari awal berdiri sampai melakukan go public, analisis keuntungan di masa datang dan reputasinya. Masyarakat pun akan mengetahui informasi mengenai perusahaan yang menjadi emiten karena

7

ukuran perusahaan dan umur perusahaan yang telah listing biasanya akan dipublikasikan yang sebelumnya telah diaudit sehingga masyarakat bisa menilai kinerja dari perusahaan – perusahaan yang ada dengan melihat informasi yang ada (Nurhidayati, 2002 : 416). Karena informasi besaran atau ukuran perusahaan dan umur perusahaan merupakan bagian dari kinerja perusahaan, maka disinilah investor akan memprediksi posisi keuangan dan perkembangannya di masa depan, antara lain mengenai pembayaran deviden, upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo. Untuk ukuran perusahaan investor melihat analisis Rasio Return On Investement (ROI) dan Rasio Return On Equity (ROE) (Husnan, 2004 : 74), sedangkan untuk umur perusahaan investor melihat jumlah tahun sejak perusahaan berdiri sampai dengan perusahaan melakukan go public (Nurhidayati, 2002 : 240). Memang, dalam perkembangaannya sulit diprediksi, tetapi hal ini justru akan menjadi nilai lebih bagi investor dalam memilih perusahaan yang go public (Febryani, 2003 : 4). Di dalam fenomena yang kerap muncul dan dialami oleh perusahaan – perusahaan yang telah memenuhi syarat melakukan IPO di bursa efek, dimana harga penawaran saham perdana ditetapkan lebih rendah dari harga perdagangan pertama salah satunya dipengaruhi oleh faktor asimetri informasi. Dimana informasi tentang perusahaan tidak tersebar merata di antara berbagai pihak yang berkepentingan dengan emisi saham perdana, seperti investor, dan pihak manajemen itu sendiri.

8

Ketidakmerataan informasi ini menimbulkan adanya ketidakpastian (ex ante uncertainty) sehingga menimbulkan underpricing saham

(Nurhidayati, 2002 : 421). 1. 3. Pembatasan Masalah Agar pembahasan tidak keluar dari pokok permasalahan, maka dalam penelitian ini penulis membatasi masalah pada pembahasan dari rasio ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia tahun 2002 - 2005. 1. 4. Perumusan Masalah Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apakah dari rasio ROI, ROE, dan umur perusahaan berpengaruh terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. 1. 5. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap Underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia tahun 2002 - 2005. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Penulis, Menambah wawasan keilmuan dan pemahaman tentang pengaruh dari ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap Underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia . 2. Bagi Instansi (Perusahaan),

9

Diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan perusahaan perusahaan dalam bidang Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia. 3. Bagi Fakultas, Menambah khasanah penelitian dalam bidang Pasar Modal tentang pengaruh dari ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap Underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. Untuk diteliti lebih lanjut bagi rekan - rekan mahasiswa akuntansi.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Hasil Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini penulis melihat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh : Sugiyanto, (2004), meneliti pengaruh informasi yang berkaitan dengan perusahaan, antara lain reputasi auditor, reputasi underwriter, pilihan metode akuntansi serta sinyal kepemilikan perusahaan terhadap tingkat underpricing saham perdana pada perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Jakarta. Dengan hasil faktor pilihan metode akuntansi penyusutan aktiva tetap dan sinyal kepemilikan perusahaan memiliki pengaruh terhadap tingkat underpricing saham. Sedangkan penelitian lain dilakukan oleh Siti Nurhidayati (2002), meneliti faktor – faktor yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat underpriced dari perusahaan – perusahaan yang melakukan IPO, dengan hasil adanya hubungan negatif antara besaran Perusahaan dengan tingkat underpriced. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Peneliti
Sugiyanto ( 2004 )

Judul
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham IPO di Pada Bursa Perusahaan Yang

Permasalahan
Apakah auditor, pilihan akuntansi sinyal kepemilikan perusahaan reputasi reputasi metode serta

Alat Analisis
Regresi Berganda,dengan X1= auditor X2= X3= metode Reputasi Pilihan underwriter Reputasi

Pembahasan
Sinyal berpengaruh terhadap kepemilikan signifikan underpricing

underwriter,

dengan Sig table 0,034.

11

Efek Jakarta.

berpengaruh terhadap underpricing

akuntansi X4= metode akuntansi Y= Underpricing pilihan

Siti

Nur

Analisis Faktor – Faktor Terhadap Tingkat Underpriced Pada Penawaran Perdana Bursa Jakarta. Di Efek Yang Berpengaruh

Apakah

auditor,

Regresi Berganda,dengan X1 = Reputasi auditor X2 = Reputasi underwriter X3 = Prosentase saham ditahan lama X4 X5 = = Umur Ukuran perusahaan perusahaan Y= Underpricing yang oleh

Tidak ada satu variabel pun yang sgnifikan terhadap underpricing,

Hidayati ( 2002 )

underwriter, prosentase saham yang ditahan oleh pemegang saham lama, perusahaan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap underpricing. umur &

karena nilai sig table dari hasil perhitungan lebih besar dari derajat kepercayaan (0,05).

pemegang saham

2. 2.

Landasan Teori 1. Signalling Theory Teori ini mengemukakan bahwa keputusan atau tindakan perusahaan untuk menawarkan sahamnya melalui IPO memberikan sinyal positif atau negatif kepada investor perusahaan dalam memilih investasinya karena sinyal tersebut biasanya tidak tersebar merata di antara berbagai pihak yang berkepentingan seperti investor, dan pihak manajemen itu sendiri. Ketidakmerataan informasi ini menimbulkan adanya

12

ketidakpastian

(ex

ante

uncertainty)

sehingga

menimbulkan

underpricing saham, sinyal tersebut dapat berupa ukuran perusahaan, umur perusahaan, dan reputasi perusahaan yang positif (Husnan, 2004 : 263) 2. Rasio Return On Investement dan Return On Equity Rasio Return On Investement (ROI) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pengembalian investasi, sedangkan Return On Equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pengembalian absolute yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham 3. Pengertian dan Peranan Pasar Modal Pengertian pasar modal sebagaimana pada umumnya adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, dalam hal ini yang diperjualbelikan adalah modal atau saham (Sumantoro, !990 : 9). Sedangkan peranan pasar modal pada suatu Negara menurut Sunariyah (2004 : 7) dapat dilihat dari lima segi berikut ini : 1). Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dan penjual untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjual – belikan. Ditinjau dari segi lain, pasar modal memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi sehingga kedua belah pihak dapat melakukan transaksi tanpa melalui tatap muka (pembeli dan penjual bertamu secara tidak langsung). 2). Pasar modal memberikan kesempatan kepada para pemodal untuk menentukan hasil (return) yang diharapkan. Keadaan tersebut akan

13

mendorong perusahaan untuk memenihi keimginan para pemodal. Pasar modal menciptakan peluang bagi perusahaan umtuk memuaskan keinginan para pemegang saham, kebijakan dividen dan stabilitas harga sekuritas yang relatif normal. 3). Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya. Dengan beroperasinya pasar modal para investor dapat melikuidasi surat berharga yang dimilik tersebut pada setiap saat. Apabila pasar modal tidak ada, maka investor terpaksa harus menunggu pencairan surat berharga yang dimilikinya sampai dengan saat likuidasi perusahaan. Keadaan semacam ini akan menjadikan investor kesulitan menerima uangnya kembali, bahkan tertunda – tunda dan berakibat menerima risiko rugi. 4). Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perkrmbangan suatu perekonomian. 5). Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transksi surat berharga. Bagi para pemodal, keputusan investasi harus didasarkan pada tersedianya informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

14

4. Saham 1. Pengertian Saham Di dalam bursa efek, saham tentu tidak asing lagi dalam telinga para pelakunya, definisi saham tersebut adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan. Surat berharga itu sendiri mengandung pengertian sesuatu yang mempunyai nilai dan tentunya diperjualbelikan (Jogiyanto, 2000 : 66). 2. Jenis Saham Saham pun menurut Jogiyanto (2000 : 67) ada tiga jenis, yaitu : 1. Saham biasa, yaitu saham yang dikeluarkan oleh

perusahaan yang pemegang sahamnya mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasional perusahaan 2. Saham preferen, yaitu saham yang memiliki sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Adapun macam saham prefferen dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Convertible Preferred Stock Convertible Preferred Stock adalah saham preferen yang didalamnya memungkinkan pemegangnya untuk menukar saham ini dengan saham biasa dengan rasio penukaran yang sudah ditentukan.

15

2. Callable Preferred Stock Callable Preferred Stock adalah hak perusahaan untuk membeli kembali saham dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa mendatang. 3. Floating Preffered Stock Floating Preffered Stock adalah saham preferen yang tidak membayar deviden secara tetap, tetapi tingkat deviden yang dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas treasury bill. 3. Saham Treasury, yaitu saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasury yang nantinya dapat dijual kembali. 5. IPO Proses penjualan saham biasa bagi perusahaan go public terlebih dahulu menjual sahamnya di pasar perdana. Sebelum melakukan penawaran perdana, perusahaan terlebih dahulu harus melakukan beberapa tahap persiapan. Salah satu tahap yang penting dalam persiapan emisi perdana adalah penetapan volume penawaran dan harga perdana. Beberapa pertimbangan dalam menetapkan harga perdana diantaranya adalah kondisi pasar, preferensi investor terhadap pasar modal, penetapan waktu penawaran. (Sawidji Widoatmojo, 2004 : 129)

16

6. Underpricing Pada umumnya harga saham pada waktu IPO dinilai terlalu rendah/ di bawah nilai perusahaan yang sebenarnya/ perusahaan melakukan underpricing. Underpricing adalah suatu kondisi dimana secara rata-rata harga perusahaan yang baru go public, biasanya dalam hitungan hari/ mingguan, lebih rendah dibandingkan dengan harga penawarannya (Siti Nurhidayati, 2002 : 415) Fenomena

underpricing merupakan hal umum yang terjadi di pasar perdana, dan ketika perusahaan memasuki bursa (pasar sekunder). Underpricing merupakan hasil dari ketidak pastian pada masa yang akan datang yang akan menyebabkan tumbuhnya resiko bagi semua yang terlibat di pasar modal khususnya investor. Resiko timbul karena adanya ketidakpastian yang menimbulkan keragu raguan seseorang (investor) mengenai kemampuannya untuk meramalkan hasil dimasa yang akan datang. Penetapan

underpricing pada harga perdana didasari beberapa tujuan, yaitu untuk membangun citra investor terhadap kualitas perusahaan dan memberikan signal yang berisi informasi tentang perusahaan yang sebenarnya terjadi pada underpricing ditandai dengan adanya pendapatan abnormal positif selama beberapa perdagangan setelah emisi pertama, terhitung sejak saham diperdagangkan di pasar sekunder (Siti Nurhidayati, 2002 : 416).

17

Fenomena underpricing merupakan yang umum terjadi di pasar perdana ketika perusahaan menawarkan pertama kalinya di bursa, perusahaan – perusahaan yang melakukan IPO biasanya memiliki prospectus (Sawidji Widoatmojo, 2004 :128). Menurut Sunariyah (2004 : 28) ada 4 jenis prospektus sesuai dengan aturan yang digariskan oleh BAPEPAM, yaitu : a. Prospektus awal Prospektus awal adalah dokumen tertulis yang memuat seluruh informasi dalam Prospektus yang disampaikan kepada

BAPEPAM kecuali informasi harga, tingkat bunga dan penjaminan emisi yang tidak dapat ditentukan sebelumnya. b. Info Memo Info memo adalah dokumen tertulis yang berisi informasi yang sama dengan prospectus awal ditambah dengan informasi lain yang bersifat material dan ditulis dalam bahasa selain bahasa Indonesia,misalnya bahasa Inggris. c. Prospektus Ringkas Dalam prospektus ringkas, baik prospectus awal maupun info memo hanya berfungsi untuk memberikan informasi mengenai perusahaan,dan bukan merupakan penawaran untuk menjual dan membeli saham.

18

d.Prospektus Lengkap Prospektus lengkap adalah prospectus yang diterbitkan dalam bentuk buku yang berisi informasi lengkap mengenai penawaran umum saham. Menurut Sawidji Widoatmodjo (2004 : 129) prospectus lengkap berisi : 1. Jadwal penawaran umum 2. Sejarah singkat perusahaan 3. Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga 4. Para pengelola (komisaris dan direksi) 5. Sruktur Organisasi 6. Pendapatan dari konsulyan hukum 7. Pendapat dari penilai 8. Laporan keuangan, yang sudah diaudit akuntan public 9. Proyeksi, yang dirinci per tahun 10. Kebijaksanaan dividen yang akan diambil emiten 11. Risiko, yaitu kemungkinan – kemungkinan yang

menyebabkan perusahaan tidak berhasil mencapai proyeksi sehingga menyebabkan investor akan merugi. Berikut adalah gambaran mengenai proses IPO hingga terjadi Underpricing : 1. Intern Perusahaan (menyiapkan Prospektus untuk pendaftaran) 2. Mendaftarkan ke BAPEPAM dengan membawa prospectus

19

3. BAPEPAM akan mengevaluasi prospectus 4. BAPEPAM akan meloloskan perusahaan, apabila memenuhi kriteria. 5. Penawaran saham perdana, yang melibatkan underwriter, investor dan manajemen perusahaan. 6. Informasi yang didapat manyebabkan underpricing. (Sunariyah, 2004 : 35). 2. 3. Kerangka Pemikiran Kata go public tentu tidak asing lagi dewasa ini, apalagi bagi kalangan keuangan. Kata ini mulai popular di Indonesia menjelang akhir dekade 1980 - an, yaitu saat pemerintah mengeluarkan paket Desember 1987, yang mempermudah perusahaan yang melakukan go public. Namun demikian, belum tentu istilah go public itu dimengerti secara benar bahkan saking populernya go public diberi makna bermacam – macam sesuai dengan kebutuhan yang menggunakannya. Dalam fenomena perusahaan yang melakukan go public dan melakukan penawaran perdana di lantai bursa (IPO) merupakan usaha perusahaan untuk mendapatkan dana segar dari masyarakat luas atau masyarakat pemodal dengan jalan menerbitkan saham baru. Pada saat melakukan IPO, harga yang ditawarkan dengan harga pada transaksi sesungguhnya terkadang tidak sesuai atau harga IPO lebih rendah dari harga yang sesungguhnya pada saat transaksi (harga penutupan) pada hari pertama/ pasar perdana hal inilah yang dinamakan

20

Underpricing, namun dalam perjalanan menuju IPO tentunya perusahaan harus mempunyai kinerja yang baik, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dan mengalokasikan sumber dayanya, baik dari informasi besaran atau ukuran perusahaan, manajemen perusahaan maupun informasi lainnya yang mendukung, misalnya umur perusahaan. Kinerja yang baik pun sangatlah sulit didapat, dari Rasio Return On investement dan Return On Equity misalnya, harus dapat ditampilkan dengan keadaan yang mempunyai signal baik, dari hal inilah penulis tertarik untuk meneliti hal ini, apakah dari cerminan kinerja perusahaan dapat mempengaruhi underpricing perusahaan yang melakukan di Bursa Efek Indonesia. Dari gambaran di atas, penulis membuat kerangka pemikiran sebagai berikut : Gambar Kerangka Pemikiran Faktor – faktor yang mempengaruhi Underpricing pada saham – saham yang IPO di Bursa Efek Indonesia. Return On Investement

Retun On Equity

Underpricing

Umur Perusahaan

21

2. 4.

Hipotesis Untuk Hipotesis pertama atau H1 : Secara simultan, diduga terdapat pengaruh yang signifikan ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. H1 : Secara simultan ROI, ROE, dan umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Untuk Hipotesis kedua atau H2 : Secara parsial, diduga terdapat pengaruh yang signifikan ROI, ROE, dan umur perusahaan terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. H2 : Secara parsial ROI, ROE, dan umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing.

22

BAB III METODE PENELITIAN 3. 1. Jenis dan Objek Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian yang akan digunakan untuk melihat pengaruh kinerja perusahaan dilihat dari ROI dan ROE, dan umur perusahaan terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia adalah bersifat korelasional yang bertujuan untuk

menemukan ada atau tidaknya pengaruh dari variabel independent (ROI, ROE dan umur perusahaan) terhadap variabel dependent (underpricing) (Sekaran, 2006 : 147). 2. Obyek Penelitian Obyek penelitian yang akan diteliti adalah saham – saham perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang mengalami underpricing dari tahun 2002 – 2005. 3. 2. Operasional Variabel Variabel-variabel yang akan digunakan adalah: a. Return On Investment (ROI), ROI adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pengembalian investasi. ROI = Laba Setelah Pajak x 100 % Total Investasi (Walsh, 2003 : 56)

23

b. Return On Equity (ROE), ROE adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pengembalian absulut yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham, ROE = Laba Setelah Pajak x 100% Total Equity c. Umur Perusahaan, Variabel umur perusahaan yang dipakai diukur dari jumlah tahun perusahaan dari saat pendirian sampai melakukan go public (Nurhidayati, 2002 : 420) d. Underpricing Underpricing adalah suatu kondisi dimana perusahaan yang baru go public atau pada saat penawaran umum perdana secara rata - rata harga sahamnya lebih rendah dibandingkan pada saat diperdagangkan di pasar sekunder. (Sugiyanto, 2004 : 2). Kemudian, rumus menghitung underpricing menurut Carter dan Manaster (1990 : 4) adalah sebagai berikut : Harga penutupan pada hari partama – harga perdana x 100% Harga Perdana 3. 3. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dengan cara observasi, yaitu melalui pencatatan langsung data-data yang dibutuhkan, tanpa melakukan komunikasi secara langsung dengan obyek atau individu yang diteliti (Indriyantoro, 2002 : 157). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (Sugiarto dkk, 2003 : 19), yaitu data yang diperoleh (Walsh, 2003 : 56)

24

dalam bentuk yang sudah jadi atau dalam bentuk publikasi media, seperti : www.Danamas.com,JSX Statistik 3. 4. Teknik Analisis Dalam penelitian ini, untuk menganalisis secara kuantitatif data yang telah diperoleh penulis menggunakan teknik analisis Regresi berganda dengan bantuan program Statistical Packaged For Social Science (SPSS) 11.0 for Windows. Langkah-langkah analisis yang akan dilakukan adalah: 1. Mengumpulkan data perusahaan yang mengalami Underpricing setelah proses IPO yang ada di Bursa Efek Indonesia dari periode Tahun 2002 - Tahun 2005. 2. Mengidentifikasikan data dengan menentukan Return On Investment, Return On Equity & Umur Perusahaan sebagai variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi dan Underpricing sebagai variabel tak bebas atau variabel yang dipengaruhi. 3. Menentukan persamaan regresi. Untuk menjelaskan variabel dependent dan variabel independent, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda, dengan persamaan sebagai berikut: Y= a+b1X1+b2X2+b3X3 Keterangan: Y X1 X2 = Underpricing = Return On Investment = Return On Equity (J. Supranto, 2001 : 189)

25

X3 a b

= Umur Perusahaan = Konstanta = Koefisien Regresi

4. Mengevaluasi persamaan regresi linier berganda. Sebelum persamaan regresi digunakan untuk memperkirakan nilai Y terlebih dahulu dipastikan apakah variabel independen dalam persamaan regresi berpengaruh terhadap variabel dependen dengan cara melakukan pengujian terhadap koefisien regresi. Besarnya persentase pengaruh semua variabel independent terhadap variabel dependen dapat diketahui dari besarnya koefisien determinasi (R2). 5. Uji hipotesis terhadap persamaan regresi berganda. Sebelum menggunakan persamaan regresi untuk proyeksi, maka terlebih dahulu perlu diadakan pengujian terhadap nilai b tersebut untuk melihat signifikansi nilai b. a. Uji hipotesis pertama, untuk menguji pengaruh secara

Simultan, 1) Kriteria penerimaan dan penolakan terhadap hipotesis Membandingkan F hitung dengan F tabel a). Jika F hitung > F tabel , maka hipotesis terdukung b). Jika F
hitung

< F

tabel

, maka hipotesis tidak terdukung

(Sulaiman, 2002 : 138) 2) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengujian hipotesis. b. Uji hipotesis kedua, untuk menguji pengaruh secara Parsial,

26

1) Kriteria penerimaan dan penolakan terhadap hipotesis Membandingkan t hitung dengan t tabel a). Jika t hitung > t tabel , maka hipotesis terdukung b). Jika t
hitung

< t

tabel

, maka hipotesis tidak terdukung

(Sulaiman, 2002 : 138) 2) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->