Penggunaan Ampas Tahu Sebagai Pengganti Pakan Ikan Buatan Pabrik

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Bahasa Indonesia. Dosen Pengampu : Nanang Bustanul Fauzi, S.S.

Disusun Oleh : Wiwit Nor Indahsari (135080501111059)

Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang 2013

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Bahasa Indonesia dengan judul “Penggunaan Ampas Tahu Sebagai Pengganti Pakan Ikan Buatan Pabrik”. Kemudian dengan selesainya makalah ini, kami mengucapkan rasa terima kasih kepada dosen yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penyusun khususnya. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi di masa mendatang.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar........................................................................................................i Daftar isi..................................................................................................................ii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang……………………………………………………………......1 1.2. Rumusan masalah…………………………………………………..………. 1 1.3. Tujuan……………………………………………….……………………….2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pakan Ikan.......................................................................................................3 2.1.1 Pengertian Pakan Buatan...................................................................3 2.1.2 Jenis-Jenis Pakan Buatan...................................................................3 2.1.2.1 Pakan Tambahan.................................................................3 2.1.2.2 Pakan Suplemen..................................................................3 2.1.2.3 Pakan Utama.......................................................................4 2.2 Ampas Tahu.....................................................................................................4 2.2.1 Asal Ampas Tahu....................................................................................4 2.2.2 Nilai Gizi dan Potensi Ampas Tahu........................................................5 2.2.3 Pengolahan dan Pengawetan Ampas Tahu.............................................6 2.3 Pembuatan Pakan Ikan dari Ampas Tahu.......................................................6 2.3.1 Proses Pembuatan Silase ....................................................................6

2.3.2 Proses Fermentasi ..............................................................................8 2.4 Keuntungan Pembuatan Pakan Ikan dari Ampas Tahu...................................9 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan.....................................................................................................11 3.2 Saran................................................................................................................11 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pakan buatan terdiri atas beberapa jenis, salah satu pakan buatan yang paling banyak dikenal adalah jenis pelet, yaitu pakan yang berbentuk butiran. Permasalahan yang sering menjadi kendala yaitu penyediaan pakan buatan ini memerlukan biaya yang relatif tinggi, bahkan mencapai 60–70% dari komponen biaya produksi. Umumnya harga pakan ikan yang terdapat di pasaran relatif mahal. Alternatif pemecahan yang dapat diupayakan adalah dengan membuat pakan buatan sendiri melalui teknik sederhana dengan memanfaatkan sumber-sumber bahan baku yang relatif murah. Tentu saja bahan baku yang digunakan harus memiliki kandungan nilai gizi yang baik yaitu yang mudah didapat ketika diperlukan, mudah diolah dan diproses, mengandung zat gizi yang diperlukan oleh ikan, dan berharga murah. Misalnya ampas tahu adalah sisa industri yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Ikanikan rucah yang tidak bernilai ekonomis lagi, darah sapi potong yang terbuang, semua ini masih dapat menjadi sumber protein bagi ikan. Daun keladi yang biasanya tumbuh di sekitar kolam dapat juga digunakan sebagai pakan ikan. Potensi ampas tahu di indonesia cukup tinggi, kacang kedelai di Indonesia tercatat pada tahun 1999 sebanyak 1.306.253 ton, sedangkan Jawa Barat sebanyak

85.988 ton. Bila 50% kacang kedelai tersebut digunakan untuk membuat tahu dan konversi kacang kedelai menjadi ampas tahu sebesar 100%-112%, maka jumlah ampas tahu tercatat 731.501,5 ton secara nasional dan 48,153 ton di Jawa Barat (http//bisnisukm.com).

1.2 Rumusan masalah
1. Apakah pengertian pakan, fungsi dan jenis-jenisnya ? 2. Apa saja yang terkandung dalam ampas tahu sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan ? 3. Bagaimana cara pembuatan pakan ikan dengan ampas tahu sebagai bahan bakunya ? 4. Apa saja keuntungan dari membuat pakan ikan berbahan dasar ampas tahu

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pakan ikan, apa saja fungsi dan jenis-jenis pakan ikan 2. Agar kita bisa mengetahui kandungan pada ampas tahu untuk pembuatan pakan ikan 3. Untuk mengetahui bagaimana prosedur pembuatan pakan ikan dengan berbahan dasar ampas tahu 4. Untuk mengetahui keuntungan dari pembuatan pakan ikan berbahan dasar ampas tahu baik untuk ikan itu sendiri maupun untuk peternak ikan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pakan ikan
Pakan adalah makanan/asupan yang diberikan kepada hewan ternak (peliharaan). Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Zat yang terpenting dalam pakan

adalah protein. Pakan berkualitas adalah pakan yang kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya seimbang.

2.1.1 Pengertian Pakan Buatan
Dalam budidaya ikan, tidak ada yang lebih penting selain pengadaan pakan buatan yang baik dan memaksimalkan tingkat konsumsi pakan. Apabila tidak ada pakan yang dikonsumsi, ikan tidak akan mengalami pertumbuhan, bahkan akan mengalami kematian. Apabila pakan yang dikonsumsi kurang memadai, ikan tidak mampu mempertahankan kesehatannya. Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan sebaiknya pada pertimbangan kebutuhan nutrien ikan, kualitas bahan baku, dan nilai ekonomis. Dengan pertimbangan yang baik, dapat dihasilkan pakan buatan yang disukai ikan, tidak mudah hancur di dalam air dan aman bagi ikan.

2.1.2 Jenis-Jenis Pakan Buatan
Dalam budidaya ikan secara intensif, pakan buatan sengaja disediakan untuk memenuhi kebutuhan ikan. Berdasarkan tingkat kebutuhannya, pakan buatan dapat dibagi menjadi tida kelompok, yaitu : 2.1.2.1 Pakan Tambahan Pakan tambahan adalah pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan dari alam, namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh dengan baik sehingga perlu diberi pakan buatan sebagai pakan tambahan. 2.1.2.2 Pakan Suplemen

Pakan suplemen adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah komponen (nutrisi) tertentu yang tidak mampu disediakan oleh pakan alami. 2.1.2.3 Pakan Utama Pakan utama adalah pakan yang sengaja dibuat untuk meggantikan sebagian besar atau keseluruhan pakan alami. Fungsi pakan buatan sebagai pakan utama umumnya dijumpai dalam usaha budi daya ikan secara intensif.

2.1.3 Fungsi Pakan
Bagi semua makhluk hidup, pakan mempunyai peranan sangat penting sebagai sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan dan perkembangbiakan. Selain itu, pakan juga dapat digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk menghasilkan warna dan rasa tertentu. Fungsi lainnya diantaranya yaitu sebagai pengobatan, reproduksi, perbaikan metabolisme lemak dll. Namun pemberian pakan berlebih dapat membuat hewan peliharaan menjadi rentan terhadap penyakit, produktifitasnya pun akan menurun.

2.2 Ampas tahu 2.2.1 Asal Ampas Tahu
Ampas tahu merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan tahu yang banyak terdapat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Oleh karena itu untuk menghasilkan ampas tahu tidak terlepas dari proses pembuatan tahu. Pembuatan tahu terdiri dari dua tahapan : (1) Pembuatan susu kedelai, dan (2) penggumpalan protein dari susu kedelai sehingga selanjutnya tahu dicetak menurut bentuk yang diinginkan.

2.2.2 Nilai Gizi dan Potensi Ampas Tahu
Ditinjau dari komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein. Korossi (1982) menyatakan bahwa ampas tahu lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. Sedangkan Pulungan, dkk. (1985) melaporkan bahwa ampas tahu mengandung NDF, ADF yang rendah sedangkan presentase protein tinggi yang menunjukkan ampas tahu berkualitas tinggi, tetapi mengandung bahan kering rendah. Komposisi zat gizi ampas tahu dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Komposisi Zat Zat Makanan Ampas Tahu

Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas tahu juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).

2.2.3 Pengolahan dan Pengawetan Ampas Tahu
Ampas tahu memiliki kadar air dan protein yang cukup tinggi sehingga bila disimpan akan menyebabkan mudah membusuk dan berjamur. Menurut Prabowo, dkk., (1983) bahwa ampas tahu dapat disimpan dalam jangka waktu lama bila dikeringkan terlebih dahulu. Biasanya ampas tahu kering digunakan sebagai komponen bahan pakan unggas. Untuk memperoleh ampas tahu kering, dilakukan dengan menjemur atau memasukkannya ke dalam oven sampai kering, kemudian digiling sampai menjadi tepung (IMALOSITA-IPB, 1981). Bila mengawetkan ampas tahu secara basah dapat dilakukandengan pembuatan silase tanpa menggunakan stater. Terlebih dahulu ampas tahu dikurangi kadar airnya dengan cara dipres sampai kadar air mencapai kira-kira 75%. Lalu disimpan dalam ruang kedap udara atau plastik tertutup rapat supaya udara tidak dapat masuk. Setelah tertutup disimpan minimal 21 hari dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan dengan cara pembuatan silase dapat mengawetkan ampas tahu sampai 5-6 bulan (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, 1999). Pembuatan silase ampas tahu dapat dicampur dengan bahan pakan lain.

2.3 Pembuatan Pakan Ikan dari Ampas Tahu
2.3.1 Proses pembuatan Silase Menurut Cullison dan Lowrey (1987), silase adalah pakan hasil pengawetan dari bahan yang berkadar air tinggi, umumnya hijauan rumput, dibawah kondisi anaerob alam tempat yang disebut silo, sedangkan menurut Susetyo (1980) silase adalah bahan pakan yang telah disimpan dalam keadaan anaerob dengan maksud mempertahankan warna dan palatabilitasnya walaupun telah disimpan beberapa waktu lamanya.

Ensilase adalah proses pembuatannya sedangkan tempat pembuatannya dinamakan silo (Bolsen dan Sapienza, 1983). Proses pembuatan silase memerlukan waktu 2 sampai 3 minggu (Cullison dan Lowrey, 1987). Menurut Bath dkk (1985), pembentukan asam asetat berlangsung selama 3 sampai 5 hari pertama dan dilanjutkan dengan pembentukan asam laktat dan berhenti pada sekitar hari ke 20 dimana pH mencapai sekitar 4,0. Secara garis besar proses pembuatan silase terdiri dari empat fase (Bolsen dan Sapienza, 1983), yaitu :

1) Fase Aerob
Fase ini dimulai sejak bahan dimasukkan ke dalam silo. Untuk menghindari dampak negatif dari fase aerob ini, maka pengisian dan penutupan silo harus dilakukan dalam waktu singkat dan cepat.

2) Fase Fermentatif
Fase ni merupakan masa aktif pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat. Bakteri tersebut akan memfermentasi gula menjadi asam laktat disertai produksi asam asetat, etanol, karbondioksida, dan lain-lain. Masa fermentatif aktif berlangsung selama 1 minggu-1 bulan. Fermentasi gula yang cepat oleh bakteri penghasil asam laktat disebabkan oleh rendahnya pH akan menghentikan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan.

3) Fase Stabil.
Fase ini terjadi setelah masa aktif pertumbuhan bakteri asam laktat berakhir. Faktor utama yang berpengaruh pada kualitas silase selama fase ini adalah permeabilitas silo terhadap oksien. Tingkat kehilangan bahan kering dapat dikurangi jika silo ditutup dan disegel dengan baik sehingga hanya sedikit sekali aktivitas mikroba yang dapat terjadi pada fase ini.

4) Fase Pengeluaran Silase
Fase ini dimulai pada saat silo dibuka dan siasenya diberikan kepada ikan. Pada fase ini oksigen bebas akan mengkontaminasi permukaan silase yang terbuka, sehingga menyebabkan perkembangan mikroorganisme aerob. Tabel 2. Perbandingan komposisi ampas tahu dengan silase ampas tahu Protein Ampas Tahu Silase Ampas Tahu 24,02 % 27,99 % Air 90,18 % 83,18 % Serat Kasar 21,55% 21,42 % pH 3-4

Dilihat dari komposisinya, kandungan protein silase ampas tahu cukup tinggi, namun serat kasarnya juga cukup tinggi. Karena serat kasar cukup tinggi maka penggunaannya harus dibatasi. Ikan nila gift termasuk ikan omnivora yang cenderung

herbivora. Hasil penelitian Mudawanah (2005) menunjukkan bahwa penggunaan ampas tahu yang ditepungkan dalam pelet sebanyak 30% tidak menghambat pertumbuhan benih ikan gurame. Protein nabati dalam pelet komersial yang biasa digunakan adalah tepung kedele. Menurut Ensminger (1993) maksimal penggunaan tepung kedelai pada ikan adalah 50 %. Silase Ampas tahu merupakan hasil pengawetan ampas tahu, yang bahan asalnya dari kacang kedelai. Penggunaan silase ampas tahu 50% dalam pelet diharapkan dapat mengganti penggunaan tepung kedele dan tepung ikan yang masih merupakan bahan impor pada industri pelet komersial. 2.3.2

Proses Fermentasi

Pada tahap ini kami menggunakan mikroba Aspergillus niger. Miwandono dan Siregar (2004) mencatat bahwa pemanfaata mikroba A. niger dalam proses fermentasi mampu meningkatkan kadar protein dari 15,40% menjadi 23,40%, dan meningkatkan daya cerna bahan jika dimanfaatkan oleh ternak unggas. Tahap pertama yang dilakukan adalah menentukan perbandingan ampas tahu dan tepung tapioka. Masing-masing 100 gram bahan campuran ampas tahu dan tapioka ditingkatkan kadar airnya menjadi 70% dengan penambahan akuades kemudian dikukus selama 30menit, didinginkan dan diinokulasi menggunakan A. niger sebanyak 9 mL/100 g bahan (Kepadatan A. niger 101) kemudian diinkubasi pada suhu ruang secara aerob 4 hari dan diikuti dengan sistem anaerob selama 3 hari. Umumnya pada saat proses fermentasi terjadi pelepasan molekul air. Pada percobaan diatas selama proses fermentasi terjadi penurunan kadar air yang tidak cukup tajam berkisar 13,05% - 29,72%. Pada penelitian Azwar dan Melati (2009), penurunan molekul air pada proses fermentasi tepung maggot terjadi penurunan kadar air cukup tajam yaitu berkisar 76,49% hingga 69,91%. Penurunan kadar air terjadi untuk setiap proses fermentasi hal tersebut disebabkan oleh adanya perubahan senyawa kompleks menjadi senyawa lebih sederhana. Untuk cara paling mudah yaitu dengan menggunakan starter. Sebelumnya persiapkan bahan-bahan pembuatan pakan lele dari Ampas Tahu sebagai berikut: 1. Ampas Tahu 5 Kg, yang harganya berkisar Rp. 150/kg 2. Dedak Halus 5 Kg, yang harganya berkisar Rp. 800/kg 3. Tepung Ikan 1 Kg, yang setiap kilogramnya diperkirakan Rp. 5000 4. Tetes Tebu/Molases 1 liter, yang harga tiap liternya diperkirakan Rp. 1500/L 5. Probiotik(EM4-Perikanan) : 200 ml, yang harga tiap liternya diperkirakan Rp. 20.000/L. Artinya setiap pembelian dapat digunakan 5 kali pemakaian.

6. Ragi Tempe 2 sdm, yang harganya berkisar Rp. 15.000/500 g. Disimpulkan, satu bungkus ragi dapat digunakan untuk berpuluh-puluh kali pemakaian. Setelah seluruh bahan dicampur dan diaduk rata kemudian dimasukkan ke dalam drum/ember/kantong plastik yang diberi lobang udara dengan menggunakan selang untuk mengalirkan gas/udara yang ujungnya ditutup plastik atau bekas gelas air mineral tetapi jangan terlalu tertutup rapat (sebagian terbuka untuk keluar masuknya oksigen). Kemudian simpan dan dibiarkan selama +/- 5 hari agar terjadi proses fermentasi secara alami. Setelah di fermentasi 5 hari, pakan sudah bisa dimanfaatkan. 2.4 Keuntungan pembuatan pakan dr ampas tahu Pada pembuatan tahu secara tradisional dilakukan secara manual, sehingga akan dihasilkan ampas tahu dengan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan secara mekanis. Ampas tahu biasanya berasal dari kacang kedele yang telah dimasak, sehingga ampas tahu mempunyai nilai biologis yang lebih tinggi daripada biji kedelai itu sendiri (Winarno, 1985). Ampas tahu memiliki daya tahan yang rendah, karena ampas tahu segar masih mengandung kadar air tinggi yaitu sekitar 84,5 persen dari bobotnya. Ampas tahu basah akan segera menjadi rusak dalam waktu 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ikan. Masalah ini dapat ditangani dengan cara dijemur atau di dalam oven lalu digiling sehingga menjadi tepung, namun dalam pelaksanaannya banyak mengalami kendala. Ampas tahu kering mengandung kadar air sekitar 10,0 – 5,5 persen (Pulungan dkk. 1984). Usaha peningkatan daya awet ampas tahu selama penyimpanan, dan sekaligus peningkatan nilai gizi ampas tahu perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pemberian dalam ransum ikan. Salah satu usaha adalah dengan pembuatan silase. Bolsen dan Sapienza (1993) mengemukakan bahwa dalam pembuatan silase akan berlangsung proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Bahan makanan yang telah mengalami fermentasi biasanya mempunyai nlai gizi yang lebih tinggi dari asalnya. Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas tahu merupakan pakan alternatif yang sedang diminati para petani. Pakan ampas tahu selain biaya produksinya rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas tahu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan pakan ampas tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan

ampas tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal. Penggunaan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi konsumen pengkonsumsi daging ikan yang pembudidayaan secara sex reversal dengan hormon untuk proses sexreversal. Dampak dari penggunaan hormon untuk proses sexreversal ini antara lain jumlah hormon untuk proses sexreversal dalam tubuh organisme penmgkonsumsi akan berlebih, sehingga sifat kejantanan dari organisme akan lebih mendominasi. Hal ini sangat berbahaya bagi manusia, misalnya wanita karena mengkonsumsi ikan yang disexreversal dengan hormon dapat menghilangkan ciri kewanitaannya, begitu juga pada laki-laki. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk perkiraan harga bahan-bahan pembuat pakan ikan menggunakan ampas tahu total adalah Rp. 21.000 dan menghasilkan pakan lebih dari 5 kg. Sedangkan apabila kita menggunakan pakan buatan pabrik, yang harganya di perkirakan sekitar Rp. 5000 per 250 -500 gramnya. Bandingkan saja dari segi biayanya. Selain itu juga, menggunakan pakan buatan sendiri tidak menyebabkan kotoran berlebihan pada kolam. Gizi pada ikan juga terpenuhi dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan sebaiknya pada pertimbangan kebutuhan nutrien ikan, kualitas bahan baku, dan nilai ekonomis. Dengan pertimbangan yang baik, dapat dihasilkan pakan buatan yang disukai ikan, tidak mudah hancur di dalam air dan aman bagi ikan. Jenis-jenis pakan buatan ada tiga,

yaitu : 1) Pakan Tambahan, 2) Pakan Suplemen, dan 3) Pakan Utama.
Ampas Tahu berpotensi sebagai pakan buatan untuk ikan. Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Salah satu cara memanfaatkan ampas tahu sebagai pakan ikan adalah dengan proses silase atau juga bisa dengan proses fermentasi. Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas tahu merupakan pakan alternatif yang sedang diminati para petani. Pakan ampas tahu selain biaya produksinya rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas tahu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan pakan ampas tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal. 3.2 Saran Selain biaya produksinya murah, ampas tahu juga mengandung banyak protein. Meskipun memiliki kadar air yang berlebihan, namun bisa diatasi dengan dikeringkan, dioven atau difermentasi. Namun hal tersebut tidak mengurangi nilai gizi dari ampas tahu. Seperti sudah dijelaskan keuntungan membuat pakan dari ampas tahu, semoga menjadi pertimbangan para petani ikan untuk memanfaatkan ampas tahu sebagai pakan buatan. Karena hal ini juga dapat membantu mengurangi limbah pembuatan tahu yang berlebihan.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E dan Evi L. 2005. Pakan ikan dan perkembangannya. Yogyakarta : Kanisius. Melati, I., Zafril I A, dan Titin K.2010. Pemanfaatan Ampas Tahu Terfermentasi Sebagai Subtitusi Tepung Kedelai dalam Formulasi Pakan Ikan Patin. Bogor : Balai riset Perikanan Budidaya. Nasution, E Z. 2006. Studi Pembuatan Pakan Ikan dari Campuran Ampas Tahu, Ampas Ikan, Darah sapi Potong, dan Daun Keladi yang Disesuaikan dengan Standar Mutu Pakan Ikan. Jurnal Sains Kimia, 10 (1). Medan : 40–45. Setyono, 2010;2 dan 5. Diktat Mata Kuliah Aquaculture Engenering. Malang : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Peternakan UMM Tarmidi, A R. 2002. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Bandung : Univirsitas Padjajaran URL : http://id.wikipedia.org/wiki/Pakan diakses pada tanggal 4 Januari 2014 pukul 9.39 WIB. URL : http://lositasustri.blogspot.com/2012/10/kandungan-protein-pada-pelet-ikanyang.html diakses pada 5 januari 2014 pukul 9.04 WIB.