You are on page 1of 5

PLATO PERGI KESEKOLAH

Oleh Abaz Zahra

Konsep Plato (abad ke-5 SM) tentang pendidikan, kaitannya mengenai filsafat

pengetahuannya yang menjabarkan sedikit banyak tentang awal dari pengetahuan,

agaknya masih menarik juga untuk di kaji. Meskipun beberapa kritikus Plato banyak

yang menyerang filsafatnya ini dengan satu asumsi bahwa Plato terlalu mengunggulkan

alam immaterial sehingga rasionalitas terhadap filsafatnya hampir tidak mendominasi.

Kritik yang masuk terhadap Plato, khususnya tentang teorinya mengenai

pengeetahuan ini, kebanyakan datang dari filosof beraliran rasional. Ambil contoh saja

misalnya, Rene Descartes (1596-1650) dan Immanuel Kant (1724-1804). Meskipun

rentang waktu antara Plato dan para pengkritiknya jauh tenggangnya. Namun ternyata

disini terbukti bahwa konsep yang di kembangkan Plato mampu bertahan lama.

Pengetahuan, menurut Plato, adalah konsep mengingat kembali terhadap

informasi-informasi yang sebelumnya telah diperoleh. Artinya, setiap pengetahuan yang

kita ketahui atau yang sedang kita pelajari, sebenarnya telah kita ketahui sebelumnya.

Mengkaji Plato tidak terlepas dari konsepnya tentang pemisahan antara Jiwa

dan badan dan hal-hal substansial lainnya terkait dengan itu, termasuk juga turunan dari

keduanya. Plato dalam hal ini sangat jeli memandang, bahwa, menurutnya, Jiwa (atau

dalam bahasanya Hegel disebut Ruh) adalah sesuatu yang terpisah dari badan, sesuatu

yang mandiri, bebas dari alam materi dan tidak terikat dengan hukum materi apapun.

Keberadaan jiwa sebagai sesuatu yang independen tentunya berpengaruh

terhadap proses pendewasaan jiwa itu sendiri. Di dalam alam immaterial, tempat tertinggi
dimana jiwa ditempatkan, jiwa berhubungan dan berinteraksi dengan alam ide (suatu

realitas yang bebas dari alam materi). Dalam alam immaterial ini selain berinteraksi

dengan alam ide, jiwa juga mengetahui keberadaaan ide, secara sederhana dapat

dikatakan bahwa jiwa, dalam pandangan Plato, ketika berada di alam Immaterial telah

mengetahui segala informasi dan pengetahuan.

Jiwa yang telah matang berkembang di alam immaterial dengan segala

informasi yang diperolehnya kemudian ‘turun’ ke alam materi untuk melakukan

integralisasi dengan badan. Disini ada penyatuan antara hal yang bersifat immaterial dan

hal yang bersifat immaterial.

Pengaruh yang paling besar terhadap kedewasaan jiwa ini ketika bersatu dengan

badan adalah segala informasi yang telah diperoleh jiwa di alam immateri sebelumnya

hilang secara serta merta. Pengetahuan yang bersifat immaterial yang didapat

sebelumnya, entah karena terjadi sebab apa kemudian terlupa oleh jiwa.

Bersatunya jiwa dan badan, meskipun persatuan ini oleh Plato dianggap sebagai

sesuatu yang tetap terpisah, seiring perkembangannya akan mulai memulihkan

pengetahuannya, secara perlahan-lahan sesuai tahapannya akan mengingat kembali

realitas-realitas immaterial dan material yang telah diketahui sebelumnya dari alam ide.

Proses pemulihan pengetahuan ini dilakukan melalui penginderaan gagasan-gagasan (ide)

tertentu dan hal-hal particular.

Sebab, kata Plato, semua konsep dan hal-hal particular itu adlah bayangan dan

pantulan dari alam ide dan realitas-realitas azali. Di dunia yang didalamnya jiwa itu

pernah hidup. Jika ia telah menginderai suatu ide tertentu, pindahlah ia seketika ke

realitas ideal yang telah diketahuinya sebelum ia dikaitkan dengan badan.


Dalam analisis tentang Plato dan pengingatan kembali ini, Muhammad Baqir

Ash Shadr, memberikan deskripsi menarik bahwa, pengetahuan kita mengenai manusia

universal – yaitu ide tentang manusia secara universal- tak lain adalah pengingatan

kembali realitas abstrak yang telah kita lupakan. Kita hanya dapat mengingatnya kembali

dengan menginderai manusia tertentu atau individu tertentu yang mencerminkan realitas

abstrak itu di alam materi.

Intinya, konsepsi-konsepsi umum yang ada sekarang ini merupakan sesuatu

yang diingat kembali dari alam ide melalui penginderaan. Konsepsi umum muncul jauh

sebelum penginderaan. Penginderaan berfungsi sebagai pelacak dan pencari titik dan

simpul konsepsi umum. Pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal particular

dalam alam indera. Tetapi ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak

tersebut.

Realitas Pendidikan ala Plato Hari Ini

Plato, secara implisit mendeskripsikan tentang bahwa pendidikan yang ada

sekarang ini merupakan proses pengingatan kembali konsepsi-konsepsi umum yang

muncul di alam ide. Sekolah dan lembaga pendidikan yang ada merupakan lembaga yang

merangsang penginderaan untuk mencapai realitas pengetahuan rasional.

Pendidikan kita hari ini, mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga

perguruan tinggi, lebih mengutamakan kompetensi antar peserta didik, dan tentunya ini

berkembang tidak hanya kompetensi antar peserta didik tetapi kompetensi antar lembaga

pendidikan. Pemacuan kerangka berpikir antar peserta didik ini diharapkan mampu

menjawab kegagalan atau ketidaksempurnaan (unperfected) dari kurikulum yang telah


ada sebelumnya. Pengutamaan kompetensi antar peserta didik ini mengingatkan kita pada

hukum rimba, siapa yang kuat maka ia yang berkuasa. Dalam wilayah pendidikan,

konsep hukum rimba berupa siapa yang cerdas maka ia yang menguasai, berkembang

pesat. Aspek penilaian dari sisi ini berpengaruh pada perkembangan intelektual peserta

didik yang terus di pacu dengan model pendidikan yang terus mencoba dikembangkan.

Bagus memang, bahwa sekolah, dalam konsepsi Plato, adalah proses

pengingatan kembali, dimana realitas yang telah diketahui di alam ide mencoba digali

lagi melalui pemacuan intelektual peserta didik. Namun menyisakan banyak persoalan

yang harus dibenahi. Maksudnya, system pendidikan yang ada harus segera dibenahi

untuk mendapatkan suatu system yang tepat tidak hanya mengunggulkan dan

mengagungkan kompetensi peserta didik. Masih ada aspek lain yang harus disentuh

dalam hal pendidikan.

UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas belum menjamin sepenuhnya

keberhasilan pendidikan. Karena pendidikan sesungguhnya tidak hanya seperti yang

Plato katakan, yakni proses mengingat kembali, tetapi ada aspek substansial lain yang

perlu untuk dikaji.

Hari ini ketika kita melihat realitas pendidikan di lapangan, banyak sekolah

yang mencoba menjadi sekolah standar internasional, sekolah standar nasional dan

seterusnya. Semua lembaga pendidikan baik negeri ataupun swasta berlomba mengejar

predikat diatas. Dan pemerintah, khususnya yang menangani bidang pendidikan, selalu

berdiri paling depan untuk menyukseskannya. Back up dari dinas pendidikan terkait hal

ini terlihat jelas.


Seandainya kita list dari satu daerah, adanya sekolah yang telah sesuai standar

internasional dan atau nasional hampir satu banding seratus. Artinya pemerintah yang

memback up lebih terhadap sekolah standar, yang katanya menjamin intelektual peserta

didiknya, memarginalkan sekolah-sekolah yang sesungguhnya telah marginal.

Kembali ke persoalan Plato yang akan bersekolah, proses pengingatan kembali

melalui penginderaan membawa kita pada metode belajar peserta didik. Artinya karena

pendidikan merupakan proses pengingatan kembali maka metode belajarpun seharusnya

hampir sama dengan strategi mengobati orang amnesia yang mencoba mengingat kembali

apa-apa yang diingat sebelumnya yang entah karena sesuatu hal akhirnya terlupa.

Model pembelajaran berupa tenaga pendidik yang terus menerus berpidato

(orasi) agaknya kurang begitu tepat, persoalannya peserta didik tidak dituntut untuk aktif

mengeluarkan pendapatnya.

Proses mengingat kembali harus melibatkan secara aktif peserta didik dalam

proses pembelajaran. Ini penting mengingat pengingatan kembali membutuhkan

rangsangan inderawi, dimana indera manusia yang ada harus dituntut untuk beraktivitas,

tidak hanya indera pendengar saja yang aktif, tetapi indera lainnya juga harus berfungsi

aktif agar model pengingatan kembali dapat terlaksana.