You are on page 1of 9

MENELUSURI AKAR HISTORIS ISLAM

DAN SOSIO RELIGIUS MASYARAKAT ARAB

Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam
Yang diampu oleh Drs. Samsul Munir Amin, MA

Disusun Oleh

Abaz Zahrotien

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI


UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2007
MENELUSURI AKAR HISTORIS ISLAM
DAN SOSIO RELIGIUS MASYARAKAT ARAB

A. PENDAHULUAN

Melacak akar sejarah adalah persoalan yang ada rumitnya adapula mudahnya.

Kemudahan yang didapatkan adalah sejarah Islam dapat ditelusuri secara tekstual melalui

naskah-naskah sejarah keislaman yang ada dan peranan regenerasi ulama yang tidak ada

berhentinya dari sejak zaman nabi hingga sekarang melalui pendidikan-pendidikan formal dan

non formal.

Pada sisi lain, menelusuri akar sejarah juga akan terbentur pada banyaknya manipulasi

esensi sejarah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Satu

permisalan, adanya ketimpangan sejarah atas perpecahan tiga aliran besar dalam Islam, yakni

Syi’ah (ahlul Bait), Murji’ah dan Khawarij yang masing-masing aliran ini membuat sejarah yang

menurut mereka benar dan pada kenyataannya antara satu sejarah dengan sejarah yang lain

saling berbenturan.

Analisis sejarah juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosio religius masyarakat.

Artinya, sejauh mana pengaruh agama islam terhadap masyarakat Arab dan menyentuh sisi

cultural mereka. Hal ini penting sebagai langkah awal untuk tolak ukur keberhasilan Islam

mempengaruhi nilai religiusitas masyarakat1.

Penjabaran tentang kehidupan social akan bergandengan dengan kehidupan dalam

ranah antropologis. Adanya keterkaitan secara social dan masyarakat Arab secara cultural inilah

yang kemudian akan membentuk perwatakan kolektif masyarakat. Ada semacam cirri khas dari

masyarakat tersebut. Satu permisalan, munculnya perwatakan seperti orang Jawa yang sopan

1 Dr. Badri Yatim, MA, 2001, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Press, Jakarta, hal 232
santun, orang Amerika yang arogan, orang Jepang yang memiliki semangat tinggi dan

sebagainya.

Pada makalah ini, penulis setidaknya akan menyentuh keterkaitan antara hal-hal

tersebut. Keterkaitan antara unsure-unsur sosio religius pra dan pasca munculnya islam.

B. MASYARAKAT ARAB PRA DAN PASCA ISLAM

Masyarakat Arab sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi Rasululullah banyak

tindakan yang tidak manusiawi muncul. Bayi yang lahir dengan jenis kelamin perempuan akan

dikubur hidup-hidup, berjudi dan mabuk-mabukan merupakan identitas mereka, perbudakan,

penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap kaum miskin dapat mudah dijumpai.

Sesembahan mereka berupa batu yang dipahat berbentuk berhala yang di letakkan di bangunan

suci Nabi Ibrahim, Ka’bah, yang mereka namai Latta dan ‘Uzza. Dan sederetan tindakan

jahiliyyah lainnya.

Dari fenomena yang kurang manusiawi di tengah-tengah masyarakat Arab ini,

Muhammad muncul sebagai orang yang berhati halus, jujur, berotak cerdas dan oleh

masyarakatnya Muhammad mendapatkan gelar Al Amin2. Muhammad yang merasa prihatin

dengan kondisi ini kemudian menyeret dirinya untuk merenungi dan menyendiri berkontemplasi

di gua Hira’

000000000000000000, sebuah gua yang berada di pegunungan berbatu di luar kota

Makkah.

Ditengah kontemplasinya yang dilakukan secara kontinyu (istiqamah), Jibril kemudian

atas perintah Allah menurunkan wahyu pertama yang membuat Muhammad merasa ketakutan.

2 Gelar Al Amin diterima oleh Muhammad sebelum ia diangkat menjadi Rasulullah. Al Amin adalah gelar yang
diberikan kepada orang yang jujur, menjaga amanat dan dapat dipercaya.
Asghar Ali Engineer3 mencatat dalam peristiwa penurunan wahyu pertama ini, bahwa wahyu

yang pertama kali secara esensial memang berwatak religius, namun tetap menaruh perhatian

lebih kepada fenomena sosial yang ada di sekitarnya.

Makkah yang ketika itu merupakan pusat perdagangan yang penting. Dimana secara

geografis Makkah menjadi kota yang paling diperuntungkan karena menjadi jalur perdagangan

dari Arabia Utara ke Arabia Selatan atau sebaliknya. Makkah menjadi jalur utama perdagangan

dan menjadi pusat pertemuan para pedagang dari kawasan Laut Tengah, Teluk Parsi, Laut Merah

melalui Jeddah. Pedagang dari Afrika pun banyak yang melakukan transaksi perdagangan

melalui rute Makkah ini. Dari keadaan inilah Makkah kemudian diuntungkan sebagai kota

penting yang menjadi pusat keuangan dari kepentingan internasional yang besar.

Seiring dengan perubahan kota Makkah menuju wilayah perdagangan internasional ini,

maka secara perlahan masyarakat arab tata nilai sosialnya sedikit demi sedikit bergeser ke arah

baru yang lebih praktis. Masyarakat yang sebelumnya lebih mengutamakan sentiment kesukuan

atau sentiment Klan untuk kemudian mengalami transisi sosial. Dan ternyata tidak hanya

perubahan pada wilayah kesukuan saja, tetapi juga perubahan terjadi pada wilayah kepercayaan

dan pandangan hidup masyarakat.

Masyarakat Badui yang tinggal di sekitar kota Makkah mungkin yang paling merasakan

pil pahit dari perubahan sosial dan ekonomi ini. Biaya hidup yang harus ditanggung oleh

masyarakat suku Badui dan suku-suku lainnya semakin meningkat karena pertumbuhan ekonomi

yang cepat ini.

Hal yang terjadi pada suku Badui ini berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi para

pedagang. Dimana ketika masyarakat Badui menderita karena tekanan ekonomi dengan biaya

hidup yang semakin tinggi, justru para pedagang di kota Makkah merasakan sebaliknya, mereka

3 Asghar Ali Engineer, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus Salim dkk, LKiS Jogjakarta, hal. 4
berlomba-lomba memperkaya diri dengan menjual komoditas perdagangan yang banyak disukai

oleh pangsa pasar.

Keadaan yang terlalu kacau balau ini, merupakan akar pusat yang menyebabkan

banyaknya konflik sosial di kota Makkah. Dimana dari persoalan kesenjangan ekonomi ini,

kemudian secara perlahan mulai menurun pada bidang sosial lainnya.

Para pedagang yang memegang kendali atas dunia perdagangan pada saat itu kemudian

melakukan berbagai cara untuk memusatkan kekayaan pada diri mereka masing-masing.

Berbagai koorporasi perdagangan kemudian muncul sebagai akibat dari keinginan untuk terus

memperkaya diri. Koorporasi ini selain untuk menguasai arus perdagangan dalam satu wilayah

juga untuk melakukan monopoli perdagangan sepenuhnya atas wilayah yang telah dikuasainya

itu.

Sebagai bentuk tandingan atau strategi banding atas kekuasaan ekonomi dalam

koorporasi itu, orang-orang miskin Makkah kemudian membentuk komunitas yang sama.

Tujuannya adalah untuk mengurangi dominasi ekonomi para pedagang yang monopolistic,

dimana system ini menjerat dan menyingkirkan secara perlahan kaum miskin. Komunitas ini

mereka namai sebagai al Fudul4 (Liga orang-orang tulus). Dalam pembentukan komunitas ini,

Muhammad turut serta menghadirinya dan menyatakan menyetujui dan mendukung berdirinya

komunitas kaum tertindas ini.

Selain untuk menjaga integritas perdagangan, komunitas ini juga bertugas untuk

mencegah keluarnya para pedagang Yaman dari kota Makkah. Hal ini disebabkan karena

pedagang Yaman merupakan para pedagang yang cerdas dalam managemen perdagangan antar

kota, sehingga apabila pedagang Yaman harus keluar dari Makkah, sebagai akibatnya, komunitas

al Fudul ini harus mengirimkan kafilahnya ke Yaman.

4 Sering dijumpai nama-nama lain untuk menyebut komunitas kaum tertindas ini selain Al Fudul.
Pedagang yang kaya raya menguasai secara sepenuhnya kehidupan sosial masyarakat

Makkah. Sehingga dari sini, selain menindas secara ekonomi, juga melakukan penindasan sosial

dengan pembudakan manusia. Orang-orang merupakan komoditas perdagangan yang dapat

diperjual belikan antar orang kaya untuk dieksploitasi tenaganya. Selain eksploitasi tenaga, untuk

budak wanita diperalat untuk memenuhi hasrat seksual para pedagang.

Nabi Muhammad setelah diangkat menjadi Rasul melakukan revolusi sosial masyarakat

Makkah, dengan tegas ia melawan setiap tindakan pemberhalaan terhadap batu, mengubur bayi

perempuan hidup-hidup, berjudi, penindasan ekonomi dan sosial dan sebagainya5. Revolusi ini

jelas tidak mudah dilakukan, hal ini dikarenakan tindakan jahiliyah merupakan sesuatu yang

telah masuk dalam lingkaran tradisi masyarakat Arab sehingga untuk merubah tradisi tersebut

akan mendapatkan perlawanan yang jauh lebih tegas dari serangan yang dilakukan Muhammad.

Nyawa Muhammad menjadi taruhan sebagai konsekuensi dari revolusi yang ia lakukan

bersama pasukannya. Ia tidak menyerah meskipun mendapatkan pertentangan dari setiap arah.

Sampai-sampai karena revolusi yang beliau lakukan membuatnya di usir dari Makkah dan

bersama-sama sahabatnya hijrah ke kota Madinah yang masih dalam wilayah Hijaz.

Di Madinah, Muhammad bersama-sama sahabatnya masih terus mendapatkan

desakkan dari berbagai pihak, tidak hanya kaum Quraisy di Makkah saja, tetapi wilayah-wilayah

luar Makkah dan Madinah yang mengetahui tentang kerasulan dan agama baru yang dibawa

Muhammad.

Al Qur’an di Madinah masih tetap turun dengan berbagai kondisi social dan kondisi

pribadi Muhammad yang berbeda-beda. Sering kali pula Allah menurunkan Ayat yang berisi

tentang cerita-cerita kenabian terdahulu untuk menjadi cermin oleh Muhammad dalam
5 Pada tahap awal Muhammad melakukan sosialisasi secara sembunyi-sembunyi tentang wahyu yang diperolehnya
kepada istri dan sahabatnya untuk mendapatkan dukungan dalam menyebarkan paham baru yag dia peroleh. Tahap
selanjutnya, Muhammad mulai menyebarkan Islam dengan terang-terangan sebagai agama yang hendak
memperbaiki moral (akhlaq) masyarakat.
menghadapi setiap serangan dari pihak luar. Ayat-ayat yang turun kemudian oleh nabi

dimanifestasikan dalam setiap gerakan dan perjuangan melawan desakan dan tantangan yang ia

terima6.

Disinilah peran hadits sebagai penerjemah dari Al Qur’an dapat di ketahui, bahwa apa

yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah hadits dan hadits tersebut merupakan

pengejawantahan dari apa yang dikatakan dalam Al Qur’an. Selain dalam bidang teknis, hadits

secara tekstual juga banyak yang mendukung revolusionisme Al Qur’an.

Misalnya saja, hadits tentang berperang melawan kebatilan, penindasan, kesewenang-

wenangan dan sebagainya banyak muncul dalam periode kehidupan nabi Muhammad, hadits

tentang berperang merupakan realisasi dari perintah jihad yang diperintahkan oleh Allah dalam

Al Qur’an.

Sampai pada wafatnya nabi Muhammad, perubahan di bidang politik dan budaya

banyak dilakukan dan banyak menyebar di berbagai negara. Revolusi terhadap budaya lain yang

tidak humanis di wilayah Negara lainpun ia lakukan dengan strategi yang halus dan manusiawi.

Perubahan social yang paling kentara adalah berubahnya pandangan hidup yang semula

berwatak imperialistic dan kolonialistik antara orang kaya dengan orang miskin sedikit demi

sedikit mulai terkikis, Islam yang dibawa Muhammad membawa ajaran agar orang kaya

menyantuni orang miskin. Diakui atau tidak, Islam saat ini merupakan gerakan yang sedang

melakukan revolusi total, dimana Islam mengibarkan bendera kiri (perlawanan) terahadap

system yang primitive.

C. PENUTUP

Ada semacam keterkaitan konstruski tata social masyarakat Arab pra Islam yang

6 Prof. Dr. H. Muchtar Yahya, 2003, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Pustaka Al Husna Baru, Jakarta, hal 251
kemudian membentuk perwatakan khas. Ini adalah satu hal yang untuk kemudian harus ditiru,

yakni masyarakat Arab ditengah konstelasi geo sosio antropologis politis ternyata tidak mampu

tersentuh oleh budaya lain yang masuk didalamnya meskipun Makkah menjadi pusat

perdagangan internasional.

Kemudian, perwatakan kolektif semacam ini, yang dinilai sangat bagus, sayangnya

tidak diikuti dengan tata religius yang tepat, sebagai dampaknya, masalah koordinasi internal

dalam masyarakat Arab tidak selesai, dan yang terjadi adalah pertempuran tidak sehat antara satu

komunitas (suku) dengan suku lainnya.


REFERENSI

Dr. Badri Yatim, MA, 2001, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Press, Jakarta

Prof. Dr. H. Muchtar Yahya, 2003, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Pustaka Al Husna Baru,

Jakarta

Asghar Ali Engineer, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus Salim dkk, LKiS

Jogjakarta