You are on page 1of 10

REKONSTRUKSI PARADIGMATIK PUBLIK

ATAS PERKEMBANGAN KEPARIWISATAAN

Disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Pelajar dan Umum


Pada Wonosobo Expo 2007

Disusun oleh :
Abaz Zahrotien

LOMBA KARYA TULIS PELAJAR DAN UMUM


WONOSOBO EXPO 2007
2007

1
REKONSTRUKSI PARADIGMATIK PUBLIK
ATAS PERKEMBANGAN KEPARIWISATAAN

A. Pendahuluan
Membangun tatanan kepariwisataan yang ideal, tentunya tidak terlepas
dari faktor masyarakat sebagai subjek dan objek wisata. Ada kalanya masyarakat
meletakan posisi individualnya sebagai rekonstruktor kepariwisataan dengan aktif
menjadi objek atau subjek wisata, namun dibalik itu, masyarakat juga tidak sedikit
yang menempatkan peranannya sebagai dekonstrukor, yakni sebagai subjek yang
mencoba menghancurkan wisata dengan tindakan atau perlakuan tertentu.
Peranan semacam inilah yang kemudian membutuhkan redefinisi
sebagai bahan kajian mendalam yang digunakan sebagai pisau analisis atas
fenomena kondisi riil kepariwisataan. Sederhananya, perlu ada pembagian yang
jelas melalui kajian epistemologis, aksiologis dan ontologis terhadap masyarakat.
Sebagai pisau analisis, redefinisi terhadap masyarkat dekonstruktor dan
konstruktor ini berfungsi sebagai media yang digunakan untuk melakukan analisis
social, sedangkan sebagai upaya membaca fenomena kondisi riil kepariwisataan,
pembagian ini lebih bergerak pada ranah naratif dan deskriptif terhadap pariwisata
itu sendiri untuk menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Masyarakat terkait dengan bidang kepariwisataan, sebagaimana
disebutkan diatas, merupakan objek sekaligus subjek pariwisata. Dapat dikatakan
demikian mengingat masyarakat memiliki peranan ganda dalam bidang ini, yakni
sebagai individu atau kelompok yang menjadikan individu tersebut sebagai objek
wisata, dan individu atau kelompok yang memposisikan dirinya sebagai
pengunjung (wisatawan). Peran ganda inilah yang kemudian membutuhkan kajian
yang komprehensif dalam upaya revitalisasi bidang kepariwisataan dalam
khazanah sosio antropologis.
Ada hal menarik yang terjadi dalam internal masyarakat terkait dengan
bidang kepariwisataan, yakni adanya semacam pola hubungan yang mengarah
pada kohesifitas dan adhesifitas antara masyarakat dengan pariwisata, baik dalam

2
kondisi masyarakat sebagai objek, ataupun masyarakat sebagai subjek. Disinilah
kemudian diperlukan analisis dasar yang membedah nalar dan mainstream yang
terkonstruk dalam relung kesadaran public sebagai weltanschauungs.

B. Kohesifitas dan Adhesifitas


Ada kalanya masyarakat memiliki safe to belonging (rasa memiliki)
yang tinggi terhadap kondisi kepariwisataan yang ada disekitarnya, sehingga,
berangkat dari hal itu, masyarakat akan mempertahankan dan melestarikannya
sebagai manifestasi atas safe to belonging yang terbentuk dalam logika
kesadarannya. Secara sadar ataupun tidak, safe to belonging terbentuk secara
alamiah dalam pribadi masing-masing individu, dan tidak hanya pada bidang
kepariwisataan saja, tetapi di semua bidang, hanya saja yang membedakan antara
individu yang satu dengan individu yang lain adalah pada tingkatan kuantitasnya,
ada yang safe to belonging-nya besar, tapi yang kecil rasa memilikinya juga tidak
sedikit.
Pada wilayah ini, secara umum, individu yang memiliki safe to
belonging tinggi terhadap pariwisata, tentunya memiliki daya kohesi yang tinggi
pula. Artinya ada pola tarik menarik dan saling membutuhkan dan melengkapi
dalam interaksi keduanya. Individu membutuhkan pariwisata, oleh karenanya, ia
akan mengelola serta melestarikan tempat pariwisata dengan sebaik-baiknya,
kebutuhan ini bisa dalam bentuk timbal balik material dari subjek wisata ataupun
kebanggaan atas tempat wisata tersebut yang berwujud immaterial abstrak.
Simbiosis mutualisme yang di konstruk dalam interaksi antara individu
atau kelompok dengan objek pariwisata tentunya menjadi satu hal yang baik
ketika pola hubungan ini kemudian diejawantahkan dalam bentuk tindakan
konkrit dalam rangka membangun dan laing melengkapi antara satu dengan yang
lain.
Yang kemudian menjadi persoalan adalah, seringkali pola hubungan ini
justru dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai dasar kesalehan
social. Munculnya patologi social dalam hubungan ini berangkat dari adanya
kesenjangan antar individu yang hidup disekitar objek wisata yang kemudian

3
mencoba melakukan exploitation de I’home par I’home, sebuah penyelewengan
dengan melakukan eksploitasi antar individu, terlepas individu tersebut objek
ataupun subjek pariwisata.
Fenomena ini sering dijumpai dalam kehidupan kepariwisataan hari ini,
daya adhesi kemudian akan muncul dengan sendirinya ketika eksploitasi
individual ini muncul, dan biasanya, daya adhesi atau tolak menolak dalam
berhubungan ini lebih datang dari subjek pariwisata, yakni para wisatawan.
Contoh konkrit misalnya, di dalam tempat wisata, biasanya banyak
orang yang kurang begitu sopan bersikap, seringkali melakukan tindak pemerasan
yang disertai intimidasi, pencopetan barang-barang wisatawan, pelecehan seksual
dan seterusnya. Dari sinilah kemudian daya adhesi itu muncul, bahwa subjek
wisata (wisatawan) akan enggan ketika berkunjung ketempat wisata tersebut
untuk kedua kalinya ketika mengalami hal-hal semacam itu.
Dalam konteks local Wonosobo misalnya, tempat wisata seperti di
Kawasan Dieng Plateau, Telaga Menjer, Taman Wisata Kalianget dan beberapa
tempat lain seringkali banyak orang-orang yang kurang sopan bersikap
mengganggu ketenangan pengunjung, dan karena adanya intimidasi dari orang
tersebut, terkadang pengunjung tidak berani melaporkan kepada pihak yang
berwajib atau pengelola tempat wisata tersebut. Alasannya sederhana, yakni takut
ancaman yang di ultimatumkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab
tersebut.
Haqqy El Anshory1, koordinator Lembaga Seni dan Budaya Indonesia
(Lesbumi) Wonosobo yang juga menjadi presiden budayawan Wonosobo ketika
dihubungi menanggapi persoalan ini dengan cukup serius. Dia mengkhwatirkan
ketika keadaan seperti ini terus berlanjut, maka alih-alih mengembangkan
pariwisata yang terjadi justru wisatawan enggan berkunjung ketempat wisata
tersebut untuk kedua kalinya, demikian ungkap Dosen Fakultas Dakwah dan
Komunikasi Unsiq ini.
“Ya seperti itu keadaannya, premanisme ternyata masih marak dalam
kehidupan kepariwisataan kita hari ini, dan kendala semacam ini tidak bisa
1 Wawancara dengan Haqqy El Anshory di kediamannya, Kauman, Wonosobo pada hari Rabu, 19
Desember 2007 tentang persoalan kepariwisataan dan kebudayaan.

4
kemudian dengan mudah dilawan mengingat premanisme merupakan hal yang
sudah membudaya di lingkungan Wonosobo. Saya hanya khawatir pada nantinya
masyarakat tidak lagi bias “ Demikian tutur Haqqy El Anshori yang juga menjadi
Direktur Institute Sadar Nalar (Insan) ini.
Kekhawatiran yang dirasakan oleh Haqqy el Anshori ternyata cukup
beralasan, terbukti dengan banyaknya tindak premanisme yang sering terjadi di
objek wisata. Tingkat premanisme di Wonosobo terbilang cukup tinggi dengan di
dukung oleh persaingan antar Gank dan perebutan wilayah kekuasaan. Dampak
yang kemudian ditimbulkan adalah masyarakat menjadi resah ketika berada pada
kondisi seperti itu, yang kemudian dampak tersebut menurun pada rendahnya
minat masyarakat terhadap pengembangan bidang kepariwisataan.

B. Meraba Nalar dan Mainstream Publik


Secara garis besar, mainstream yang terbentuk dalam kesadaran masing-
masing individu, sebagaimana telah disebutkan dimuka, ada dua macam, yakni
nalar parsitipatoris dan nalar dekonstruktif.
Nalar parsitipatoris lebih menjurus pada bagaimana upaya public untuk
merasa bangga dan merasa memiliki terhadap segala aspek kepariwisataan dan
sebagai pengejawantahan atas itu semua, masyarakat berupaya untuk turut serta
membangun pariwisata itu dalam segala bidang.
Nalar semacam inilah yang hari ini sangat dirindukan keberadaannya,
perasaan memiliki, loyalitas, kebanggaan public terhadap segala aspek
kepariwisataan sangat rendah. Tidak lagi dapat dijumpai masyarakat yang ‘nguri-
uri’ kebudayaan sebagai objek wisata atau subjek wisata, masyarakat yang
melestarikan tradisi khazanah klasiknya yang banyak diminati orang dan lainnya.
Justru sekarang berbanding terbalik dengan semua itu, nalar
dekonstruktif hari ini lebih mendominasi, dimana masyarakat cenderung kurang
begitu memperhatikan aspek pengembangan bidang-bidang kepariwisataan dan
yang dilakukan adalah ‘menghancurkan’ tatanan kepariwisataan yang ada yang
telah terbangun sejak lama.
Penjualan arca di Solo beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa

5
loyalitas masyarakat terhadap kepentingan kepariwisataan ternyata sangat rendah.
Penghargaan yang diberikan oleh masyarakat secara umum terkontaminasi oleh
munculnya egoisme subjektif dari beberapa individu yang menginginkan
kesejahteraan atas dirinya sehingga rela menjual benda-benda pusaka.
Atau paling tidak yang lebih dekat dengan kondisi kita hari ini adalah
kondisi candi-candi di kawasan Dieng Plateau yang dulunya konon sangat megah
dengan banyak candi-candi berdiri tegar menantang langit, hari ini yang terjadi
tinggal beberap candi saja yang masih tersisa, itu saja dalam kondisi yang sangat
memprihatinkan, beberapa candi malah tidak diperkenankan pengunjung
memasuki kawasan candi tersebut karena konstruksi bangunannya telah lemah.
Dan nasib untuk candi-candi yang telah roboh sebelumnya, hari ini situs-
situs bersejarah ini ternyata banyak yang hilang bagian-bagian dari candi itu.
Bahkan beberapa diantaranya, berdasarkan pantauan dari pengamat benda-benda
bersejarah, bagian arca, patung, stupa, ataupun dinding candi Dieng ada yang
ditemukan di Thailand.
Pencurian terhadap benda-benda pusaka dan situs bersejarah di Dieng
menjadi satu contoh konkrit bahwa ternyata nalar dekonstruktif lebih dominan
pada masyarakat dibandingkan partisipasi masyarakat secara umum terhadap
pengembangan kepariwisataan.
Atau ketika melihat Telaga Menjer misalnya, yang dapat disaksikan
telaga menjer hari ini bukan lagi sebuah telaga yang tenang, sejuk dengan air yang
bening, udara yang menyegarkan, suasana alamiah yang mententramkan seperti
yang dapat disaksikan puluhan tahun silam. Hari ini, Menjer adalah tempat
memancing ikan dengan kondisi air yang penuh sampah di permukaannya,
bangunan-bangunan yang sebenarnya hendak mempermudah akses menuju
menjer ternyata malah digunkan untuk media graffiti oleh tangan yang tidak
bertanggung jawab, pagar pembatas keliling dijebol, jalan setapak banyak dirusak
dan lainnya.
Satu hal yang menunjukkan bahwa safe to belonging public terhadap
objek wisata Wonosobo ternyata sangat rendah sekali, sehingga, hanya untuk
menjaga dari apa yang telah tersedia baik secara alamiah ataupun buatan saja

6
sebagai media untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas ternyata
tidak mampu, bahkan justru merusaknya. Tidak ada rasa memiliki itu pada
masyarakat hari ini.
Oleh karenanya, dengan nalar yang demikian itu, perlu ada semacam
solusi kolektif untuk rekonstruksi nalar public. Menumbuhkan kesadaran
masyarakat secara keseluruhan untuk bagaimana menumbuhkan loyalitas dan
intimitas antara individu dengan bidang-bidang kepariwisataan. Dan inipun tidak
mudah, karena menyangkut kesadaran individu masing-masing secara luas yang
parahnya lagi, objek rekonstruknya megarah pada perubahan nalar. Satu pekerjaan
besar yang membutuhkan waktu bahkan sampai puluhan tahun.
Kesadaran kolektif ini dibangun atas pondasi kesadaran individual
masing-masing individu dalam komunitas. Membentuk kembali kesadaran
individual merupakan hal yang hanya dapat dilakukan sendiri oleh individu
tersebut. Tidak ada intervensi dari individu lainnya, kalaupun ada itu hanya
sebatas pemberian masukan-masukan atau kritikan-kritikan yang konstruktif.
Sedangkan proses penyadarannya dilakukan sendiri oleh individu tersebut.
Disinilah kemudian rekonstruksi nalar public mengalami hambatan yang
serius, dimana ada benturan dari individu-individu yang masih memberontak
terhadap upaya penataan kembali aspek-aspek kepariwisataan.
Ada satu hal yang masih menjadi harapan bersama dalam menyikapi hal
ini, yakni dalam naluri dasar manusia, dan pada kodrat alam yang ada pada diri
manusia, manusia pada dasarnya mencintai hal-hal yang indah, baik terhadap
keindahan seni ataupun keindahan alam2.
Kehidupan alam adalah keharmonisan yang menakjubkan dari hukum-
hukum alamyang dibuka untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk
menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil
ciptaan manusia, yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk
menciptakan sesuatu yang indah, sebuah karya seni.
Berangkat dari sinilah, kemudian rekonstruksi nalar kolektif
mendapatkan satu keyakinan untuk dapat terealisasi. Mengingat, bahwa keindahan
2 Drs. Abdul Kholiq, MA, 2003, Ilmu Budaya Dasar, LP3M Universitas Sains Al Qur’an
(Unsiq),Wonosobo, hal.118

7
itu pada dasarnya adalah alamiah, dan nalar alamiah itu telah dimiliki dalam
relung kesadaran dasar manusia. Oleh karenanya, rekonstruksi nalar ini lebih
bergerak pada upaya untuk mengingat dan menyadari kembali atas naluri dasar
yang dimiliki oleh manusia.
Dalam konsepsi mengingat kembali dan menyadari kembali, salah satu
elemen eksternal yang dibutuhkan adalah pendampingan, yakni adanya individu
lain yang memberikan stimulus untuk dapat memancing naluri dasarnya bangkit.
Untuk kemudian diproses secara lebih jauh dalam diri masing-masing individu3.
Dari kesadaran individu ini, memungkinkan munculnya kesadaran
kolektif secara menyeluruh, artinya, masing-masing individu dalam kolektifitas
tersebut telah selesai pada wilayah kesadaran individualnya sehingga
kebersamaan dalam kesadaran untuk memiliki nalar parsitipatoris terhadap aspek-
aspek pariwisata akan mudah dibangkitkan. Dampak positifnya, kepariwisataan
akan memiliki hubungan yang harmonis dengan masyarakat, tidak lagi ada
exploitation de I’home par I’home antara objek pariwisata dengan subjek
pariwisata.

C. Penutup
Pada titik tertentu, terkadang dalam memandang aspek kepariwisataan,
kita cenderung lebih menitikberatkan pandangan kita pada pembangunan
infrastruktur objek wisata dibandingkan dengan pembangunan sumber daya
manusia pariwisatanya. Meskipun sebenarnya pembangunan infrastruktur
memang diperlukan, namun pembangunan sumber daya manusia pariwisatanya
yang berperan sebagai subjek dan objek wisata sekaligus.
Peran ganda ini memungkinkan manusia, baik sebagai subjek ataupun
objek, menempatkan kembali posisi paradigmatiknya sebagai parsitipator
pembangunan pariwisata yang selama ini lebih cenderung pada tindakan
dekonstruksi.
Pembidikan sisi paradigmatik ini menuntut kesadaran individual yang
dilakukan secara menyeluruh oleh masing-masing individual dalam sebuah
3 Koentjoroningkrat, 1981, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, PT. Gramedia, Jakarta,
Hal. 148

8
komunitas pariwisata. Sehingga, dimungkinkan dari terbentuknya kesadaran
naluriah manusia ini, maka pola hubungan antara manusia dengan pariwisata akan
terjalin interaksi yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Pariwisata
dapat berkembang dengan parsitipasi manusia dan manusia dapat memperoleh
hasil secara material dan non material dari perkembangan kepariwisataan itu.

9
REFERENSI

Kholiq, Abdul, 2003, Ilmu Budaya Dasar, LP3M Universitas Sains Al Qur’an
(Unsiq),Wonosobo

Koentjoroningkrat, 1981, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, PT.


Gramedia, Jakarta

Wawancara dengan Haqqy El Anshory di kediamannya, Kauman, Wonosobo pada


hari Rabu, 19 Desember 2007 tentang persoalan kepariwisataan dan
kebudayaan.

10