You are on page 1of 24

BAB 1 KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga Alamat Lengkap Bentuk keluarga

: Tn. S : Randusari RT 02 RW 30 Mojosongo, Jebres : Nuclear family

Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah Nama Kedudukan L/P Umur (tahun) 1 2 3 Tn. S Ny. S Sdr. F KK Istri Anak ke-2 L P P 64 44 16 SMP SLTA SMA Swasta Swasta Pelajar Penderita Pendidikan Pekerjaan Ket

(Data Primer: 4 Juni 2013)

Kesimpulan: Keluarga Tn. S adalah nuclear family yang terdiri atas 4 orang. Terdapat satu orang sakit yaitu Tn. S, yang berusia 64 tahun. Diagnosa klinis penderita adalah ankilostomiasis dengan anemia. Pendidikan terakhir penderita adalah SMP. Penderita saat ini memiliki penghasilan dari warung kelontong yang berada di depan rumahnya. Penderita tinggal di rumah bersama istri dan seorang anaknya. Anaknya yang pertama (Sdr. M) merantau ke Jakarta untuk kuliah. Untuk membiayai kuliahnya ini, Sdr. M juga bekerja paruh waktu ketika berada di luar jam kuliahnya.

BAB II STATUS PENDERITA

A. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Agama Status Tanggal pemeriksaan : Tn. S : 64 tahun : Laki-laki : Islam : Menikah : 4-7 juni 2013

B. ANAMNESIS 1. Keluhan utama: Lemah, letih, lesu, pusing, dada berdebar 2. Riwayat Penyakit Sekarang: Sejak bulan November tahun 2012, pasien mengeluh mudah lelah, merasa lemas, pusing dan dada berdebar-debar. Karena keluhan yang dirasakan bertambah berat, pasien memeriksakan dirinya ke dokter praktik swasta. Dari dokter praktik swasta, pasien dirujuk untuk melakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Hasil laboratorium menunjukkan kadar Hb pasien sangat rendah, sehingga mengharuskan pasien untuk di rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Saat dirawat pasien mendapatkan transfusi darah sebanyak 6 kantong. Satu setengah bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien bekerja sebagai mandor di pembangunan sebuah instansi pendidikan, dimana lokasinya berada di tengah sawah. Selama bekerja, pasien menggunakan alas kaki berupa sendal atau sepatu kats, dan bukan sepatu boots. Sebelum keluhan yang dirasakan timbul, pasien mengaku tidak pernah mengeluh mual, muntah, atau gatal-gatal di bagian tubuh tertentu. Hanya saja pasien mengaku sering merasa kram di bagian betis dalam sebulan terakhir sebelum masuk rumah sakit

Setelah keluar dari RS yang pertama, satu setengah bulan kemudian yaitu Januari 2013, pasien kembali dirawat di RSDM dan mendapatkan transfusi kembali sebanyak 6 kantong. Pada saat perawatan yang kedua inilah, pasien didiagnosis ankilostomiasis (penyakit cacing tambang) karena berdasarkan pemeriksaan feses yang dilakukan terdapat telur cacing tambang. Pasien diijinkan keluar dari RSDM setelah satu minggu dirawat dan terdapat peningkatan Hb menjadi 8,1 gram/dl. Pasien

mendapatkan obat jalan yaitu Pirantel selama satu bulan. Lima minggu setelah keluar dari RS ini yaitu bulan Maret 2013, pasien kembali dirawat inap di RSDM dengan keluhan lemas dan pusing seperti sebelumnya. Hasil laboratorium menunjukkan kadar Hb nya yang rendah, yakni 4,3 gram/dl. Pada saat rawat inap yang ketiga ini, pasien mendapatkan transfusi sebanyak 10 kantong dan dari hasil pemeriksaan ulang feses sudah tidak ditemukan adanya telur cacing tambang. Pasien tetap diberikan obat pirantel pamoat dan sulfas ferosus selama satu bulan. Pasien juga mengaku mengkonsumsi obat xinxe setelah keluar dari rumah sakit. Pada tanggal 4 Juni 2013, pasien kembali dirawat inap di RSDM setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb sebesar 4,5 gram/dl. Hasil pemeriksaan penunjang berupa rontgen thorax

menunjukkan adanya gambaran kardiomegali. Sampai tanggal 7 Juni 2013, pasien telah mendapatkan transfusi darah sebanyak 2 kantong. 3. Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah didiagnosis suspek batu ginjal sekitar sepuluh tahun yang lalu. Pasien belum pernah menderita penyakit yang sama pada tahuntahun sebelumnya. Riwayat hipertensi, DM dan hiperkolesterolemia disangkal. 4. Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat penyakit cacing tambang Riwayat hipertensi Riwayat DM : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat kanker Riwayat penyakit jantung 5. Riwayat Kebiasaan:

: disangkal : disangkal

Pasien memiliki kebiasaan merokok selama 20 tahun, kemudian berhenti sejak 10 tahun yang lalu. Sebelumnya, pasien juga rutin mengkonsumsi kopi, kemudian berhenti sejak didiagnosis suspek batu ginjal. Sebagai gantinya, pasien rutin mengkonsumsi air putih dari air sumur yang direbus. Pasien suka minum jamu-jamuan seperti brotowali dan sambiloto. Setiap kali akan makan, pasien mencuci tangannya terlebih dahulu. Pasien juga mengenakan alas kaki setiap keluar dari rumah. Pasien jarang melakukan olahraga sehari-hari dan tidak pernah buang air besar sembarangan. 6. Riwayat Perkawinan dan Sosial Ekonomi: Pasien adalah seorang laki-laki berusia 64 tahun dan sudah menikah. Jarak usia antara pasien dengan istri cukup jauh yakni 20 tahun. Pasien merupakan tulang punggung di keluarganya. Semenjak sakit, pasien bekerja membantu istrinya di sebuah warung kelontong. Penghasilan pasien tidak pasti, sehingga pasien sering dibantu oleh keponakankeponakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 7. Riwayat Gizi: Pasien makan sehari tiga kali, dengan nasi, sayur dan lauk pauk seadanya, seperti telur, tahu, tempe, dan terkadang daging. Pasien jarang makan buah-buahan dan tidak suka mengkonsumsi sayuran mentah seperti lalapan. Pasien membatasi porsi makannya agar tidak berlebihan. Nafsu makan pasien tidak berubah setelah sakit.

C. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan Umum Baik, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi baik. 2. Tanda Vital T: 120/80 mmHg, N: 120x/menit, RR: 25x/menit, T: 36,5 per aksiler

3. Status Gizi

4. Mata 5. Mulut

: konjungtiva pucat (+/+), sklera ikterik (-/-)

Bibir pucat (-), bibir kering (-), papil lidah atrofi (-), gusi berdarah (-), gigi tanggal (-) 6. Telinga Membran timpani intak, sekret (-) 7. Tenggorokan Tonsil membesar (-), faring hiperemis (-), dahak (-) 8. Leher JVP tidak meningkat, trakea di tengah, KGB tidak membesar 9. Thoraks - Cor : Inspeksi : ictus cordis tak tampak Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat Perkusi : batas kiri atas batas kanan atas batas kiri bawah : SIC II LPSS : SIC II LPSD : SIC V LAA

batas kanan bawah : SIC IV LPSD batas jantung kesan melebar Auskultasi: BJ III intensitas normal, regular, bising (-) Pulmo : Inspeksi: pengembangan dada kanan = dada kiri Palpasi:fremitus raba kanan = kiri Perkusi:redup SIC II-IV/ redup SIC III-IV A uskultasi:suara dasar vesikuler (+ N/-), ronkhi basah kasar (-/-), wheezing (-/-) 10. Abdomen: Inspeksi: dinding perut sejajar dinding dada,

Auskultasi: bising usus (+) normal Perkusi: timpani di seluruh lapang perut Palpasi: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba 11. Ekstremitas : oedem (-), plantar dan palmar pucat 12. Sistem Collumna Vertebralis Inspeksi: deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-) Palpasi: nyeri tekan (-) Perkusi: nyeri ketok kostovertebra (-) 13. Sistem genitalia: dalam batas normal 14. Sistem genitourinaria : Nyeri saat BAK (-), BAK darah (-) 15. Pemeriksaan Neurologik Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif Fungsi Sensorik Fungsi motorik : K 5 5 5 5 T N N N N RF +2 +2 RP - - : : : dalam batas normal. dalam batas normal dalam batas normal

+2 +2

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab darah (4 Juni 2013) : o Hb 4,5 mg/dl (hasil dari Puskesmas) 4,1 mg/dl (hasil dari RSDM) o Eosinofil 7,5% (N : 0,0 4%) o Limfosit 17,1 % (N : 22 44%) Ro thorax (4 Juni 2013) : CTR > 50% dan ada kesan infiltrasi minimal di apeks paru

E. DIAGNOSIS Ankilostomiasis F. PENATALAKSANAAN 1. Medikamentosa Penderita diberikan pirantel pamoat dan sulfas ferosus selama 1 bulan oleh pihak RS. 2. Non Medikamentosa Penderita membatasi kegiatannya agar dapat istirahat cukup, makanmakanan yang bergizi terutama sayuran hijau, serta membiasakan diri mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

G. FLOWSHEET FOLLOW UP Tabel 2. Tabel Follow Up Penderita Tgl S O KU: Baik, CM dada T : 120/80 mmHg RR: 20x/menit N: 96x/menit S: 36,5
0

04/06/ Pusing, 2013 lemas,

Ankilostomiasis Terapi medikamentosa disertai non C medikamentosa terapi

berdebardebar

(periaksiler) Hb: 4,5 mg/dl 05/06/ Pusing, 2013 lemas, KU: baik, CM dada T : 130/90 mmHg RR: 20x/menit N: 90x/menit S: 36,3
0

Ankilostomiasis Terapi medikamentosa disertai non C medikamentosa terapi

berdebardebar

(periaksiler)

06/06/ Pusing, 2013 lemas,

KU: baik, CM dada T : 120/80 mmHg

Ankilostomiasis Terapi medikamentosa

berdebardebar

RR: 20x/menit N: 90x/menit S: 36,4


0

disertai non C

terapi

medikamentosa

(periaksiler)

Keterangan: S= Subjective O= Objective A=Assesment P= Plan

BAB III IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK 1. Fungsi Biologis Keluarga Tn. S adalah nuclear family yang terdiri atas 4 orang. Terdapat satu orang yang sakit yaitu Tn. S berusia 64 tahun, yang tinggal bersama istri (Ny. S, 44 tahun) dan satu orang anaknya yaitu Sdr. F (16 tahun). Sedangkan anak pertamanya (Sdr. M, 19 tahun) merantau dan kuliah di Jakarta. Secara umum keluarga ini tampak sehat, bahagia, saling menyayangi dan mendukung jika dalam kesulitan. 2. Fungsi Psikologis Hubungan yang terjadi antar anggota keluarga cukup baik, akrab, dan jarang terjadi perselisihan. Komunikasi antar anggota keluarga terjalin baik. Mereka saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain. Hubungan pasien denga n saudara-saudaranya cukup baik, terbukti mereka memberi perhatian kepada penyakit pasien dengan menanyakan

perkemban gan penyakitnya, serta menjenguk pasien jika pasien dirawat inap di rumah sakit. 3. Fungsi Sosial Penderita dan keluarga hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Tn. S cukup baik berinteraksi dengan anggota masyarakat. Istri Tn.S masih sering berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat seperti arisan dan kegiatan hajatan di lingkungannya. 4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari usaha warung kecil-kecilan yang hasilnya tidak pasti, kurang lebih sebesar 500.000 rupiah per bulan. Namun, untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak keluarga Tn.S mendapat bantuan dari keluarganya. Apabila mengalami kesulitan ekonomi, pasien sering dibantu oleh saudara-saudaranya. Untuk pembiayaan pendidikan anak pertama Tn. S mengandalkan usaha mandiri yang dilakukan oleh anak

pertamanya. Karena selain kuliah, Sdr. S juga bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Jika sakit, keluarga pasien biasanya berobat ke Puskesmas. Pembiayaan kesehatan dengan menggunakan PKMS yang dalam

pengajuannya pasien juga mendaftar sebagai masyarakat tidak mampu di kelurahannya. 5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi Pasien cukup terbuka kepada anggota keluarganya, sehingga bila mengalami kesulitan atau masalah, pasien akan menceritakannya untuk mencari solusi bersama-sama. Pasien jarang mengeluh, dan menerima keadaan dirinya dengan ikhlas Simpulan : Fungsi holistik keluarga Tn. S umur 64 tahun yang mengalami gangguan adalah fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan.

B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE) Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. Adaptation Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, penerimaan, dukungan, dan saran dari anggota keluarga yang lain. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut.

10

Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

Skoring : Hampir selalu/sering Kadang kadang Hampir tak pernah/jarang : 2 poin : 1 poin : 0 poin

Tabel 3. Daftar APGAR Score Kode A A.P.G.A.R Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Keterangan : <5 buruk, 6-7 cukup, 8-10 baik 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 1 Tn. S 2 Ny.S 2 Sdr.F 1

11

Tabel 4. Fungsi Fisiologis Keluarga Tn. S No. 1. 2. 3. Tn. S Ny. S Sdr. F Nama A.P.G.A.R. score 10 10 5 Sumber : Data primer,4 Juni 2013

(10+10+5) Fungsi fisiologis keluarga = 3 Simpulan: Fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga Tn. S termasuk dalam kategori keadaan baik. = 8,33 (Baik)

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M) Fungsi patologis dari keluarga Tn. S dinilai dengan menggunakan S.C.R.E.E.M sebagai berikut :

SUMBER SOCIAL CULTURAL

PATOLOGI Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Menggunakan aturan-aturan sesuai masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dan menggunakan bahasa Jawa sehari-harinya

KET -

RELIGION

Menjalankan ibadah secara teratur dan ikut pengajian setiap minggu sekali

ECONOMY EDUCATIO N MEDICAL

Penghasilan di bawah UMR Tingkat pendidikan keluarga tergolong menengah ke bawah Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga Ny. S selalu pergi ke Puskesmas

+ +

Sumber : Data Primer, 4 Juni 2013


12

Simpulan: dalam keluarga Tn. S fungsi patologis yang positif pada bagian ekonomi dan edukasi.

D. GENOGRAM Fungsi genetik dinilai dari genogram keluarga Diagram 1. Genogram Keluarga Tn. S

Tn. S 64 tahun Penderita cacing tambang


Sdr. F 16 tahun
b

Ny. S 44

tahun
Sdr. Z
19 tahun

Keterangan: : Laki-laki hidup : Perempuan hidup atau : Laki-laki/perempuan meninggal : Penderita : Tinggal serumah

Simpulan : Tidak ditemukan adanya hubungan antara keturunan dengan penyakit

ankilostomiasis yang diderita oleh Tn.S.

13

E. FUNGSI HUBUNGAN INTERAKSI KELUARGA Diagram 2. Pola Hubungan Interaksi Keluarga Tn.S
Tn. S Ny.S

Sdr. F

Sdr. Z

Sumber : Data Primer, 4 Juni 2013 Keterangan : : hubungan baik : hubungan tidakbaik

Simpulan: Hubungan antara Tn.S dengan seluruh anggota keluarganya harmonis.

F. FUNGSI PERILAKU 1. Pengetahuan Secara keseluruhan pendidikan keluarga penderita dapat dikatakan cukup memadai. Keluarga cukup sadar akan akibat yang ditimbulkan oleh anemia akibat infeksi cacing tambang sehingga penderita rutin kontrol, menjaga kebersihan makanan minuman serta lingkungannya, dan menggunakan alas kaki saat bepergian keluar rumah. 2. Sikap Sanitasi keluarga Tn. S sudah cukup baik, namun lingkungan di sekitarnya yang dekat dengan tempat pembuangan sampah Kota Surakarta kurang mendukung. Ventilasi rumah dan pencahayaan baik. Sikap penderita dan keluarganya cukup kooperatif untuk kesembuhan penderita dengan rajin mengingatkan untuk kontrol ke pelayanan kesehatan dan istirahat. Keluarga ini menggunakan air sumur dalam yang letaknya 300 meter dari septic tank

14

dirumahnya untuk mandi, mencuci baju, masak, dan minum. Untuk keperluan masak dan minum keluarga Tn. S merebus air dari sumur hingga mendidih. 3. Tindakan Keluarga Tn. S cukup perhatian dengan mengingatkan penderita untuk rutin kontrol dan meminum obat serta istirahat.

G. FAKTOR NON PERILAKU 1. Lingkungan Rumah yang dihuni oleh keluarga Tn.S adalah rumah permanen yang sudah layak huni. Rumah penderita cukup nyaman untuk ditinggali dengan dinding rumah sudah terbuat dari tembok dan alas rumah sudah menggunakan keramik, namun untuk dapur masih beralaskan tanah. Kebersihan di dalam rumah cukup dijaga dengan baik dilihat dari kamar tidur yang bersih dan rapi serta ruang tamu yang bersih, kemudian ventilasi serta pencahayaan di dalam rumah baik. Namun, lingkungan sekitar rumah pasien kurang baik karena banyak binatang-binatang peliharaaan tetangga, seperti sapi-sapi yang dilepas sehingga kotoran-kotoran sapi tersebar di jalanan dekat rumahnya. Selain, itu disamping rumah pasien terdapat kandang ayam dan ayam-ayamnya dilepas sehingga kotoran-kotorann tersebar dekat rumahnya.

Diagram 3. Faktor perilaku dan non perilaku


Sikap: Perhatian keluarga terhadap penyakit penderita cukup baik Pengetahuan: Pengetahuan keluarga cukup Tindakan: Keluarga rutin mengingatkan Tn.S. untuk periksa ke puskesmas

Tn. S

Lingkungan: Kondisi pencahayaan dan ventilasi rumah cukup memadai

15

Keterangan: : Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku

Simpulan : Faktor perilaku keluarga dan non perilaku keluarga sudah cukup baik. Faktor-faktor ini berpengaruh postitif terhadap kesembuhan Tn.S.

H. FAKTOR INDOOR Rumah berukuran 8 x 6m2,terdiri dari sebuah warung, 1 ruang tamu dan tempat sholat, 2 kamar tidur, 2 kamar mandi dengan jamban, 1 dapur, 3 gudang. Dinding rumah menggunakan tembok. Lantai menggunakan keramik, namun untuk bagian rumah yang belakang tempat dapur dan kamar mandi masih beralas tanah. Atap rumah menggunakan genteng. Ventilasi dan pencahayaan baik. Terdapat kandang ayam di samping rumah.

Diagram 4. Denah Rumah Tn. S

Kandang ayam

Warung

j a l a n

Ruang tamu Dan tempat sholat

dapur

Gudang warung

Kamar tidur

Kamar tidur

Gudang

Kamar mandi

g u d a n g

Simpulan: Faktor indoor rumah Tn. S kurang baik.

16

I.

FAKTOR OUTDOOR Rumah keluarga Tn. S di daerah Mojosongo dekat dengan tempat pembuangan akhir sampah Kota Surakarta. Penduduknya cukup padat. Antara satu rumah dengan lainnya terpisahkan oleh tembok. Disamping rumah terdapat kandang ayam dan tetangga disekitarnya banyak yang memelihara sapi. Jalanan sudah diaspal, namun banyak kotoran-kotoran sapi tersebar. Simpulan : Faktor outdoor Tn. S kurang baik.

17

BAB IV DIAGNOSTIK HOLISTIK PENDERITA

Penderita,

Tn.

S,

63

tahun,

nuclear

family,

dengan

diagnosis

ankilostomiasis. Dari segi psikologis, hubungan penderita dan keluarga termasuk harmonis. Komunikasi dengan keluarga inti (istri dan anak) yang dijalin oleh penderita tergolong baik, bahkan penderita juga masih menjalin hubungan yang baik dengan keluarga kakak dan adiknya. Dari segi ekonomi, keluarga Tn. S termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah, hal ini terlihat pernyataan keluarga Tn. S bahwa mereka ikut mendaftar untuk membuat surat keterangan tidak mampu di kelurahan setempat. Dari segi sosial, Tn. S selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan lingkungan sekitar dan tetangga yang diwujudkan melalui keterlibatannya dalam pengajian yang sering diadakan di lingkungan tempat tinggal. Tingkat pengetahuan Tn. S mengenai kesehatan dan penyakit yang dialaminya tergolong cukup baik. Tn. S cukup rajin mencari tahu mengenai keadaan penyakitnya pada dokter yang merawatnya dan mampu memahami informasi yang diterimanya itu dengan baik. Kondisi sanitasi rumah Tn. S cukup baik dengan kondisi ruang tamu yang bersih, kamar mandi dan jamban bersih. Namun, sanitasi lingkungan luar rumah Tn. S kurang baik.

Diagnosis Biologis Tn. S, 64 tahun menderita ankilostimiasis.

Diagnosis Psikologi Tidak ada gangguan psikis maupun mental yang diderita Tn. S. Kondisi spiritual Tn. S cukup baik.

Diagnosis Sosial, Ekonomi, dan Budaya 1. Kondisi sanitasi rumah pasien tergolong cukup baik. Namun, kondisi sanitasi lingkungan sekitar pasien kurang memadai.

18

2. Tingkat pengetahuan mengenai penyakit yang diderita Tn. S cukup baik. 3. Status ekonomi Tn. S tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah. Keluarga Tn. S dengan penghasilan tidak tetap yang cukup untuk pemenuhan kebutuhannya sehari-hari juga mendaftar sebagai

masyarakat tidak mampu di kelurahannya untuk mendapat bantuan biaya kesehatan. 4. Hubungan Tn. S dengan lingkungan sekitar baik dibuktikan dengan masih aktifnya Tn. S dalam pengajian dan hajatan yang diadakan di lingkungan rumahnya.

19

BAB V PEMBAHASAN DAN SARAN KOMPREHENSIF

A. Pembahasan Penderita, Tn.S, 64 tahun, merupakan kepala keluarga dari keluarga yang berbentuk nuclear family. Menurut Sudiharto (2007), nuclear family adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi. Dalam keluarga Tn. S, terdapat tiga anggota keluarga lain yaitu Ibu S sebagai istri serta Sdr. F dan Sdr. Z sebagai anak kandung. Keluarga Tn. S telah menjalankan fungsi-fungsi keluarga sesuai dengan kriteria WHO dengan baik. Fungsi biologis keluarga Tn. S diwujudkan dengan adanya keturunan yang dibesarkan dan dirawat dengan baik oleh Tn. S dan istrinya. Fungsi psikologis dan sosialisasi keluarga Tn. S diwujudkan dengan terjalinnya komunikasi dan perhatian yang baik antar anggota keluarga. Fungsi ekonomi diwujudkan dengan adanya usaha warung sebagai sumber pendapatan keluarga Tn.S yang hasilnya diperkirakan cukup terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Fungsi pendidikan diwujudkan dengan memberikan pendidikan normatif di rumah serta berusaha menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat perguruan tinggi, walaupun tingkat pendidikan Tn. S sebatas SMP. Kondisi fisiologis keluarga Tn. S yang baik juga dapat dilihat dari skor APGAR 8,33. Sementara fungsi patologis keluarga Tn. S positif terdapat masalah di ekonomi karena penghasilannya yang tidak tetap dan pendidikan Tn. S yang menengah ke bawah. Keluarga Tn. S tinggal di rumah yang bersih tapi belum bisa memenuhi semua kriteria rumah sehat. Ada tiga hal yang dilihat dalam penilaian rumah sehat menurut Depkes RI 2002, yaitu komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, dan kelompok perilaku keluarga. Jendela dan ventilasi ruang tamu di rumah keluarga Tn. S cukup bagus namun masih ada satu kamar yang tidak ada jendelanya. Sarana sanitasi di rumah Tn. S cukup bagus dengan adanya air bersih dari sumur, kamar mandi berjamban yang bersih, dan sarana

20

pembuangan kotoran yang jauh dari sumur. Perilaku keluarga Tn. S juga cukup bagus dalam melakukan sanitasi yang dapat dilihat dari kondisi ruang tamu, kamar tidur, serta kamar mandi yang bersih, walaupun dapur dan gudang agak berantakan. Kondisi rumah dan perilaku keluarga Tn. S yang sudah cukup baik tidak didukung oleh kondisi lingkungan sekitar yang sanitasinya kurang diperhatikan. Hal ini dikarenakan daerah tempat tinggal Tn.S merupakan daerah yang dekat dengan tempat pembuangan akhir sampah Kota Surakarta. Selain itu kondisi mata pencahariaan tetangga sekitar rumah Tn. S banyak pula yang didukung dengan beternak sapi. Para peternak sapi tidak begitu memperhatikan sanitasi lingkungan dengan membiarkan sapi-sapinya merumput di daerah pemukiman warga sehingga banyak kotoran sapi di dekat rumah warga. Keadaan ini sempat diduga mencemari air dan menjadi sumber penularan penyakit cacing tambang yang diderita Tn. S. Namun, berdasarkan penelitian di air dan pemeriksaan di warga sekitar tidak ditemukan bukti pendukung dugaan tersebut. Kemungkinan sumber penularan cacing tambang dapat dipengaruhi riwayat kebiasaan Tn. S yang tidak memakai alas kaki tertutup seperti sepatu boot saat bekerja di lapangan daerah persawahan. Diagnosis biologis Tn. S adalah ankilostomiasis dengan anemia. Diagnosis ini ditegakkan melalui pemeriksaan hemoglobin darah dan pemeriksaan feses yang dilakukan pada bulan Januari 2013. Tn. S kemudian diberi obat Pirantel. Obat ini bekerja dengan mempengaruhi neuromuskuler cacing menyebabkan spasmus dan pengerutan otot cacing sehingga dapat dikeluarkan dari saluran intestinal manusia (Gunawan, 2007), sehingga ketika rawat inap untuk yang ketiga kalinya yaitu Maret 2013 hasil pemeriksaan feses sudah menunjukkan hasil negatif telur dan cacing tambang. Walaupun hasil pemeriksaan sudah negatif, keadaan Tn. S masih anemis dan pada Juni 2013 Tn. S kembali masuk rumah sakit karena lemah dan kadar hemoglobin yang kembali rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan masih adanya bekas luka gigitan cacing tambang di usus yang dapat menyebabkan anemia lebih berat (Gandahusada, 2000).

21

Pengetahuan Tn. S mengenai penyakit yang dideritanya tergolong cukup baik. Walaupun tingkat pendidikan Tn. S hanya sebatas SMP, Tn. S mampu memahami penjelasan dokter mengenai penyakitnya ini dengan baik. Tn. S dan keluarga cukup rajin mencari informasi mengenai penyakitnya dari keterangan dokter serta petugas kesehatan setempat, sehingga sikap antisipasi Tn. S dan keluarga dalam menangani masalah yang dialami Tn. S juga cukup baik. Keadaan psikologis dan spiritiual Tn. S cukup baik dalam menghadapi masalah yang dialaminya yang juga didukung oleh sikap istri dan keluarga adik-adiknya. Kondisi keluarga yang harmonis serta bantuan dari keluarga besar (adik-adik Tn. S serta Ny. S) merupakan bentuk dukungan keluarga yang dapat mempengaruhi perbaikan kesehatan Tn. S (Sadock, 2010).

B. Saran Komprehensif 1. Promotif Pasien dan keluarga pasien disarankan untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dengan memperhatikan prinsip sanitasi rumah sehat yaitu beberapa di antaranya adalah jamban bersih, membuang sampah di tempatnya dan memusnahkannya cukup jauh dari rumah, serta menjaga kebersihan rumah dari kotoran hewan ternak. Kebersihan diri diperhatikan dengan mandi teratur serta mencuci tangan dan kaki setelah berkativitas di luar. Kesehatan diri juga diperhatikan dengan asupan makanan yang higienis dan bergizi cukup. 2. Preventif Edukasi yang dapat diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit yang sama di anggota keluarga Tn. S lainnya adalah : a) Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan menggunakan air dan sabun. b) Memotong kuku secara teratur karena kuku panjang dapat menjadi tempat bermukim larva cacing.

22

c) Memakai alas kaki bila berjalan di tanah, dan memakai sarung tangan bila melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah. d) Membilas sayur mentah dengan air mengalir sebelum dimasak. e) Menggunakan air bersih untuk keperluan makan, minum, dan mandi. f) Menutup makanan dengan tutup saji untuk mencegah debu dan lalat mencemari makanan tersebut. g) Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. 3. Kuratif Saran yang dapat diberikan pada penderita dan keluarganya antara lain memberikan anjuran kepada penderita untuk meneruskan pengobatan yang diterimanya dan rajin kontrol. 4. Rehabilitatif Pasien disarankan untuk istirahat cukup, mengurangi aktivitas fisik berat, rajin mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang terjaga kebersihannya serta daging yang kaya zat besi. Keluarga juga disarankan terus memberi perhatian pada penderita dalam menjalankan terapi medikamentosa dan non-medikamentosa secara teratur serta memberi dukungan psikologis untuk membantu perbaikan kondisi pasien.

23

DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada, Srisasi. 2000. Parasitologi Kedokteran Edisi III. Jakarta : Gaya Baru.

Gunawan, 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kementrian Kesehatan RI. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Pedoman Pengendalian Cacingan.

Sadock B.J. dan Sadock V.A (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta : EGC, pp: 191-5.

Sudiharto.

2007.

Asuhan

Keperawatan

Keluarga

dengan

Pendekatan

Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20424% 20ttg%20Pedoman%20Pengendalian%20Cacingan.pdf

24