You are on page 1of 16

LAPORAN KIMIA BAHAN PANGAN “PENGAWET SINTETIK RHODAMIN B”

Disusun Oleh : Nama NPM Dosen : Nurfitriana : F1B010039 : Dwita Oktiarni, M.Si

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BENGKULU 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena saya dapat menyelesaikan makalah ini . Penyusunan makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Kimia Bahan Pangan tentang “Pengawet Sintetik Rhodamin B”. Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang masalah Pengawet Sintetik Rhodamin B dan bahaya yang ditimbulkan pada kesehatan. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan secara khusus tentang pengertian Rhodamin B, ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B, dan bahayanya bagi kesehatan. Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Tetapi penulis sangat mengharapkan agar pembaca dapat mengerti dan menambah wawasan untuk mengetahui tentangrhodamin B.

Bengkulu, Desember 2013

Nurfitriana

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang terpenting dan juga merupakan faktor yang sangat esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Tetapi betapapun menariknya penampilan, lezat rasanya dan tinggi nilai gizinya, apabila tidak aman dikonsumsi, maka makanan tersebut tidak ada nilainya sama sekali (Winarno dan Rahayu, 1994). Salah satu masalah pangan yang masih memerlukan pemecahan yaitu penggunaan bahan tambahan pangan untuk berbagai keperluan. Penggunaan bahan tambahan pangan dilakukan pada industri pengolahan pangan, maupun dalam pembuatan makanan jajanan, yang umumnya dihasilkan oleh industri kecil atau rumah tangga (Anonim, 2005). Makanan jajanan (street food) sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik dari perkotaan maupun pedesaan. Keunggulan dari makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat, serta cita rasanya yang cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Meskipun makanan jajanan memiliki keunggulan-keunggulan tersebut, ternyata makanan jajanan juga beresiko terhadap kesehatan karena penanganannya sering tidak higienis, yang memungkinkan makanan jajanan terkontaminasi oleh mikroba beracun maupun penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak diizinkan (Anonim, 2005). Rhodamin B adalah pewarna terlarang yang sering ditemukan pada makanan, terutama makanan jajanan. Rhodamin B, yaitu zat pewarna berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresan sebagai bahan pewarna tekstil atau pakaian. Jenis jajanan yang banyak dijumpai dan dicampuri dengan Rhodamin B, antara lain bubur delima, cendol, kolang-kaling, cincau dan kue-kue lainnya. Setelah dicampuri bahan ini makanan tersebut menjadi berwarna merah muda terang (Anonim, 2008; Anonima, 2006). Penggunaan Rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker. Namun demikian, bila terpapar Rhodamin B dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan terjadi gejala akut keracunan Rhodamin B (Yuliarti, 2007).

Aneka produk makanan dan minuman yang berwarna-warni tampil semakin menarik. Warna-warni pewarna membuat aneka produk makanan mampu mengundang selera. Meski begitu, konsumen harus berhati-hati. Pasalnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerap menemukan produk makanan yang menggunakan pewarna tekstil. Meski demikian, pilihan terbaik tentu saja tetap pewarna alami, karena tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh. Perlu diingat kalau penggunaan bahan tambahan seperti pelapis pada pewarna harus dipilih dari bahan-bahan yang halal.

1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut. 1. Apa yang dimaksud dengan pewarna makanan? 2. Apa yang dimaksud dengan rhodamin B? 3. Apa bahaya pemakaian rhodamin B pada makanan? 4. Bagaimana cara untuk mangetahui makanan yang mengandung rhodamin B?

1.2 Tujuan Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1. Mengetahui dampak penggunaan rhodamin B 2. Bahaya pemakaian rhodamin B pada makanan 3. Mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B 4. Menjelaskan tentang bahaya rhodamin B bagi kesehatan

1.3 Manfaat Manfaat makalah penyusunan adalah: 1. Penulis, menambah pengetahuan tentang pewarna makanan berbahaya yaitu rhodamin B 2. Pembaca, sebagai media informasi tentang bahaya dari formalin bagi kesehatan dan Dapat mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pewarna Makanan Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki tampilan makanan. Secara garis besar, pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetis. Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Ironisnya, di Indonesia terutama industri kecil dan industri rumah tangga makanan masih banyak menggunakan pewarna nonmakanan-pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil. Menurut Winarno (1995), yang dimaksud dengan zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki warna makanan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada makanan yang tidak berwarna agar kelihatan lebih menarik. Menurut PERMENKES RI No.722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau member warna pada makanan.

2.2 Pewarna Sintetik Di Negara maju, suatu zat pewarna buatan harus melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa dulu yang kadang-kadang berbahaya dan seringkali tertinggal dalam hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya (Cahyadi, 2006). Namun sering sekali terjadi penyalahgunaan pemakaian pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna tekstil dan kulit untuk mewarnai bahan pangan. Bahan tambahan pangan yang ditemukan adalah pewarna yang berbahaya terhadap kesehatan seperti Amaran, Auramin, Methanyl Yellow, dan Rhodamin B. Jenis-jenis makanan jajanan yang ditemukan mengandung bahan-bahan berbahaya ini antara lain sirup, saus, bakpau, kue basah, pisang goring, tahu, kerupuk, es cendol, mie dan manisan (Yuliarti,2007). Timbulnya penyalahgunaan bahan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan juga disebabkan karena harga zat pewarna untuk industri lebih murah dibanding dengan harga zat pewarna untuk pangan (Seto,2001). Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Beberapa contoh pewarna buatan yaitu :

· Warna kuning : tartrazin, sunset yellow · Warna merah : allura, eritrosin, amaranth. · Warna biru : biru berlian Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes adalah zat warna yang larut air dan diperjual belikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, minuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dan lain-lain. Lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dye pada bahan dasar, biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat. Tabel Pembagian pewarna sintetis berdasarkan kemudahannya larut dalam air. Pewarna Sintesis Nomor 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Rhodamin B Methanil Yellow Malachite Green Sunset Yelow Tatrazine Brilliant Blue Carmoisine Erythrosine Fast Red E Amaranth Indigo Carmine Ponceau 4R Warna Merah Kuning Hijau Kuning Kuning Biru Merah Merah Merah Merah Biru Merah Mudah larut di air Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan (Anonim, 2008). Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat

racun. Pada pembuatan zat pewarna organic sebelum mencapai produk akhir,harus melalui suatu senyawa antara dulu yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hal akhir, atau berbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang tidak boleh ada. Zat warna yang akan digunakan harus menjalani pengujian dan prosedur penggunaannya, yang disebut proses sertifikasi. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut. Tabel. perbedaan antara zat pewarna sintetis dan alami Nomor Pembeda Zat pewarna sintesis Zat Pewarna Alami

1.

Warna yang dihasilkan

Lebih cerah Lebih homogeny Banyak Lebih murah Tidak terbatas Stabil

Lebih pudar Tidak homogeny Sedikit Lebih mahal Terbatas Kurang stabil

2. 3. 4. 5.

Variasi warna Harga Ketersediaan Kestabilan

Dewasa ini keamanan penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih dipertanyakan di kalangan konsumen. Sebenarnya konsumen tidak perlu khawatir karena semua badan pengawas obat dan makanan di dunia secara kontinyu memantau dan mengatur zat pewarna agar tetap aman dikonsumsi. Jika ditemukan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, badan pengawas obat dan makanan akan mengevaluasi pewarna tersebut dan menyebarkan informasinya ke seluruh dunia. Pewarna yang terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, akan dilarang digunakan. Di Indonesia tugas ini diemban oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Baik zat pewarna sintetis maupun alami yang digunakan dalam industri makanan harus memenuhi standar nasional dan internasional. Penyalahgunaan zat pewarna melebihi ambang batas maksimum atau penggunaan secara ilegal zat pewarna yang dilarang digunakan dapat mempengaruhi kesehatan konsumen, seperti timbulnya keracunan akut dan bahkan kematian. Pada tahap keracunan kronis, dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan syaraf, gangguan organ tubuh dan kanker (Lee 2005).

2.3 Rhodamin B Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat d dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Rhodamin B sering diselahgunakan untuk pewarna pangan (kerupuk,maka (kerupuk,makanan ringan,es-es dan minuman yang sering dijual di sekolahan) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Rumus Molekul dari Rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479 g/mol.

Sifat fisik rhodamin B: • Berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu ungu-kemerah – merahan. • Tidak berbau • Titik leburnya pada suhu 1650C • Sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru kebiru-biruan biruan • Larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH • Berfluorensi kuat • Dapat menyerap ke dalam plastik, oleh karena itu harus disimpan dalam gelas

Pemerintah

Indonesia

melalui

Peraturan

Menteri

Kesehatan

(Permenkes)

No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamine B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa. Seb Sebagai agai contoh, rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat BPOM Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan (Anonimus 2006). Zat pewarna ini mempunyai banyak sinon sinonim, im, antara lain D and C Red no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine dan Brilliant Pink B. Rhodamine biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna bahan kain atau

pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh pabrik kertas. Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan. Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi hati atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006). Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun. Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil. Tanda-tanda Makanan yang Mengandung Rhodamine B adalah sebagai berikut: · Berwarna merah menyala, bila produk pangan dalam bentuk larutan / minuman berpendar atau berfotoluminesensi. · Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus). · Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter). Kita dapat mengenali ciri makanan yang menggunakan Rhodamin B, yaitu biasanya makanan yang diberi zat pewarna ini lebih terang atau mencolok warnanya dan memiliki rasa agak pahit. Disamping itu, apabila kita ingin melakukan pewarnaan makanan yang murah namun dengan tidak melibatkan zat-zat kimia yang dapat merusak kesehatan, kita dapat menggunakan daun suji (untuk pewarna hijau), daun jambu atau daun jati (warna merah), dan merah

kunyit (untuk pewarna kuning). Rhodamin B tidak merusak genetik atau keturunan dan juga tidak dapat menyebabkan anak-anak hiperaktif. Namun pada kenyataannya,kewaspadaan dari diri individu masimg-masing dalam memilih makanan tidaklah cukup. Pengawasan dari pemerintah setempat untuk mengawasi perdagangan serta keluar-masuknya bahan kimia juga sangat diperlukan. “Untuk mengantisipasi dampak keracunan dan meningkatkan keamanan pangan, rencana badan POM kedepan,akan membentuk Pusat Kewaspadaan dan Penanggulangan Keamanan Makanan di Indonesia (National Center Food Safety Alert and Respons). Tak kalah penting, badan POM perlu meningktkan koordinasi lintas sektor tentang pengelolaan dan pengamanan bahan kimia.”Sampurno-Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

mengungkapkan.

2.4 Bahaya Rhodamin B Pada Makanan Ciri-ciri makanan yang diberi Rhodamin B adalah warna makanan merah terang mencolok. Biasanya makanan yang diberi pewarna untuk makanan warnanya tidak begitu merah terang mencolok. Tanda-tanda dan gejala akut bila terpapar Rhodamin B : 1. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. 2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit. 3. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. 4. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda dan dapat terjadi pada saluran pencernaan. Tanda-tanda dan gejala kronis yang terpapar pada rhodamin B 1. Dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan syaraf 2. Mempunyai efek racun yang berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu organ kanker serta mengakibatkan gangguan fungsi hati. Bahaya Rhodamin B bagi Kesehatan Menurut WHO, rhodamin B berbahaya bagi kesehatan manusia karena sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Rhodamin B mengandung senyawa klorin (Cl). Senyawa klorin merupakan senyawa halogen yang berbahaya dan reaktif. Jika tertelan, maka senyawa ini akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan cara mengikat senyawa lain dalam tubuh, hal inilah yang bersifat racun bagi tubuh. Selain itu, rhodamin B juga memiliki senyawa pengalkilasi (CH3-CH3) yang bersifat radikal sehingga dapat berikatan dengan protein, lemak, dan DNA dalam tubuh.

Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamin B termasuk bahan karsinogen (penyebab kanker) yang kuat. Uji toksisitas rhodamin B yang dilakukan terhadap mencit dan tikus telah membuktikan adanya efek karsinogenik tersebut. Konsumsi rhodamin B dalam jangka panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati. Pada umumnya, bahaya akibat pengonsumsian rhodamin B akan muncul jika zat warna ini dikonsumsi dalam jangka panjang. Tetapi, perlu diketahui pula bahwa rhodamin B juga dapat menimbulkan efek akut jika tertelan sebanyak 500 mg/kg BB, yang merupakan dosis toksiknya. Efek toksik yang mungkin terjadi adalah iritasi saluran cerna. Jika hal tersebut terjadi maka tindakan yang harus dilakukan antara lain segera berkumur, jangan menginduksi muntah, serta periksa bibir dan mulut jika ada jaringan yang terkena zat beracun. Jika terjadi muntah, letakan posisi kepala lebih rendah dari pinggul untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernapasan (aspirasi paru). Longgarkan baju, dasi, dan ikat pinggang untuk melancarkan pernapasan. Jika diperlukan segera bawa pasien ke rumah sakit atau dokter terdekat. Hindari penggunaan rhodamin B dalam pangan dan hindari mengonsumsi makanan yang mengandung rhodamin B. Lebih lengkapnya, untuk mencegah efek jangka panjang dari rhodamin B akibat tertelan secara tidak sengaja, maka lebih baik dilakukan tindakan pencegahan dalam memilih pangan, dengan cara: 1. Lebih teliti dalam membeli produk pangan, misalnya dengan menghindari jajanan yang berwarna terlalu mencolok, terutama jajanan yang dijual di pinggir jalan. 2. Mengenali kode registrasi produk, misalnya produk pangan sudah terdaftar di Badan POM atau untuk pangan industri rumah tangga sudah terdaftar di Dinas Kesehatan setempat. 3. Tidak membeli produk yang tidak mencantumkan informasi kandungannya pada labelnya.

Tujuan penambahan Rhodamin B pada jajanan kue adalah untuk menambah kualitas dari kue tersebut dimana warnanya menjadi merah muda terang mencolok sehingga konsumen menjadi tertarik untuk membeli kue tersebut. Selain itu banyak penjual jajanan yang masih menggunakan Rhodamin B karena harganya relatif murah dan mudah didapat. Pewarna secara umum mengandung residu logam berat karena pada proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui

SK Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan. Akan tetapi, seringkali terjadi penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna untuk tekstil dan kertas dipakai untuk mewarnai bahan pangan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan tersebut antara lain disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan di samping itu, harga zat pewarna untuk industri jauh lebih murah dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk pangan. Lagipula warna dari zat pewarna tekstil atau kertas biasanya lebih menarik (Yuliarti, 2007). Penggunaan rhodamin B dalam makanan dapat mengakibatkan dampak yang membahayakan. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, rhodamin B akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker. Namun, dalam waktu singkat rhodamin B juga dapat meng-akibatkan gejala akut keracunan bila terpapar Rhodamin B dalam jumlah besar (Yamlean, 2011). Oleh karena itu, untuk mengontrol keberadaan rhodamin B di dalam makanan maka perlu dibuat sensor pendeteksi Rhodamin B. Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa dari penggunaan zat pewarna ini pada makanan dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati. Pada uji terhadap mencit, diperoleh hasil yaitu terjadi perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi atau disorganisasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma, batas antar sel tidak jelas, susunan sel tidak teratur dan sinusoid tidak utuh. Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka semakin berat sekali tingkat kerusakan jaringan hati mencit (Anonima, 2006). Untuk mengatasi penyakit kanker yang disebabkan oleh rhodamin B dapat dengan menggunakan obat alami yaitu daun sirsak yang mampu menyerang dan menghancurkan selsel kanker. dan xanthone pada kulit buah manggis yang bermanfaat sebagai antioksidan adalah alpha mangostin dan gamma mangostin. Kedua antioksidan ini berperan sebagai imunitas, antibiotik (ampisilin dan minosin), antikanker, Kandungan antioksidannya yang tinggi membuat manggis dikatakan sebagai antikanker. Pasalnya, dapat mendorong sel kanker untuk melakukan apoptosis atau pemusnahan sel kankernya. Selain itu, sifat kulit buah manggis adalah antiproliferasi yaitu menghambat pertumbuhan sel kanker.

2.5 Penyalahgunaan Rhodamin B Penyalahgunaan rhodamin B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi dilapangan dan diberitakan dimedia masa.Sebagai contoh, rhodamin B ditemukan dalam produk krupuk, jelli/agar-agar, aromanis dan minuman (Trestiati dalam Budianto, 2008), produk cabe giling, saos serta dalam terasi (Budianto, 2008). Masih banyak lagi produk makanan yang menggunakan zat pewarna rhodamin B yaitu dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Eddy Mudjajanto dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menemukan banyak penggunaan zat pewarna rhodamin B pada produk makanan industri rumah tangga seperti kerupuk, makanan ringan, terasi, arumanis, gipang, sirup, biscuit, sosis, makaroni goreng, minuman ringan, cendol, manisan, dan ikan asap (Mudjajanto dalam Wirasto, 2008). Beberapa produsen makanan dan minuman masih menggunakan zat warna sintesis rhodamin B yang dilarang tersebut untuk produknya dengan alasan zat warna tersebut memiliki warna yang cerah, praktis digunakan, harganya relatif murah, serta tersedia dalam kemasan kecil di pasaran sehingga memungkinkan masyarakat umum untuk membelinya (Djalil dkk dalam Wirasto, 2008 dan Budianto, 2008). Hasil dari beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna rhodamin B berbahaya bila digunakan pada makanan, sesuai hasil penelitian yang menemukan bahwa pada uji terhadap mencit dengan konsentrasi 150 ppm, rhodamin Bmenyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringandisekitarnya mengalami desintegrasi (Pipih & Juli dalam Djarismawati dkk, 2004), dan rhodamin B memiliki LD50 sebesar 89,5 mg/kg jika di injeksi pada tikus secara intravena (Merck Index dalam Utami dan Suhendi, 2009 dan Wirasto, 2008). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eddy Setyo Mudjajanto di IPB yang telah membuktikan bahwa zat pewarna rhodamin B banyak digunakan oleh produsen pada ikan asap (Mudjajanto dalam Wirasto, 2008).

2.6 Metode Analisis Penentuan Rhodamin B pada Makanan Ada beberapa metode analisis yang sering digunakan untuk penentuan rhodamin B, yaitu dengan teknik analisa kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisa kualitatif dilakukan dengan beberapa cara, yaitu cara reaksi kimia, cara kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis (KLT). Sedangkan untuk analisis kuantitatif rodamin B dilakukan secara spektrofotometer sinar tampak. Kelemahan dari cara ini adalah diperlukan fasilitas yang cukup canggih serta dituntut tersedianya berbagai pelarut organik, yang biasanya cukup mahal harganya. Di samping itu teknik tersebut juga memerlukan tenaga terampil yang professional (Kurniati,

2011). Oleh karena itu, perlu diciptakan alat analisis yang murah, cepat dan sederhana, dan memenuhi akurasi serta presisi tinggi. Hal ini dapat dipenuhi oleh metode potensiometri menggunakan elektroda selektif ion (ESI) sebagai sensor ion untuk mendeteksi rhodamin B. ESI adalah suatu sensor elektrokimia yang peka terhadap aktivitas ion larutan yang diukur, yang ditandai dengan perubahan potensial secara reversibel (Bailey, 1976). Metode ESI memiliki kelebihan yaitu cepat, teknik pengerjaannya mudah, instrumen yang sederhana, memiliki selektifitas yang memungkinkan digunakan untuk pengukuran, dan biayanya murah (Atikah, 2011).

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan Bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terdiri dari pewarna sintetis (buatan) dan pewarna natural (alami). Pewarna sintetis terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti tartrazin untuk warna kuning atau allura red untuk warna merah. Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Tanda-tanda Makanan yang Mengandung Rhodamine B adalah sebagai berikut: · Berwarna merah menyala, bila produk pangan dalam bentuk larutan / minuman berpendar atau berfotoluminesensi. · Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus). · Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter). merah

3.2 Saran Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung zat pewarna Rhodamin-B, karena dapat menyebabkan kanker, gangguan fungsi hati, kulit, mata, dan saluran pencernaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2006. Rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman di Makassar. Republika Kamis 5 Januari 2006. Anonimus. 2008. Kelebihan zat pewarna sintesis dibandingkan dengan pewarna alami . Republika Kamis 26 Januari 2008. Atikah, Kuniarsih, D., Sulistyarti, Potentiometric PVC Membrane Sensor for Thiocyanate Based on a Chitosan as a Carrier in a Coated-Wire Membrane Electrode. The Journal of Pure and Applied Chemistry Research. 2011: 33-40 Bailey, P.L. 1976. Analysis with Ion Selective Electrode. England: Heyden and Son Ltd Cahyadi.2006. Pewarna sintesis atau pewarna buatan. Kurniati, Tuti, 2011. Sensor Zat Warna Rhodamin B Bermembran Polimer Campuran PVC (Polyvinylchloride) – Plasticizer (DOP) dengan Kitosan Sebagai Carrier. [Skripsi]. Universitas Brawijawa, Malang Lee TA, Sci BH, Counsel. 2005. The food from hell: food colouring. The Internet Journal of Toxicology. Vol 2 no 2. China: Queers Network Research. Moehji. 1992. Pengertian makanan. Jakarta. Seto.2001. ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan. Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B dan auramine secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan. Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Winarno FG. 1995. Zat pewarna. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Winarno FG. 2004. Keamanan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Yuliarti, N. 2007. Awas Bahaya di Balik Lezatnya Makanan. Andi Offset. Yogyakarta.