LAPSUS : GANGGUAN ANXIETAS YTT (F41.9) I.

IDENTIFIKASI PASIEN

Nama Jenis kelamin Umur Status perkawinan Agama Suku Warga negara Alamat Pendidikan Pekerjaan

: Ny. H : Perempuan : 39 tahun : Menikah : Islam : Bugis : Indonesia : Jl. De tanto 1 : SD : IRT

Dikonsul dari interna ke jiwa tanggal : 18 juni 2013

II.

Riwayat penyakit A. Keluhan utama : cemas B. Riwayat gangguan sekarang  Keluhan dan gejala Pasien mengeluhkan sering merasa cemas dialami 10 bulan terakhir dan dirasakan memberat 10 hari terakhir. Pasien mencemaskan anaknya yang masih umur 6 tahun yang ditinggal dirumah bersama ayahnya, pasien mengaku kepikiran terus dengan anaknya itu padahal tidak terjadi apa – apa dengan anaknya dan ada ayahnya yang mengurus, pasien mengaku tidak tahu kenapa cepat sekali merasa cemas dan mengkhawatirkan anaknya yang baik – baik saja dirumah.pasien juga mengeluhkan terkadang sulit memulai tidur dan juga terkadang merasakan nyeri ulu hati, sakit kepala dan jantung berdebar – debar.  Hendaya / disfungsi Hendaya sosial (-) Hendaya pekerjaan (-)
1

4. Pasien mengaku mudah bergaul dan punya banyak teman. Riwayat masa dewasa    Riwayat pekerjaan Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan saat ini menjahit pakaian. 2 . Riwayat kehidupan pribadi 1. Riwayat sosial Pasien mempunyai banyak teman dan hubungan dengan tetangga baik. Riwayat masa kanak pertengahan ( 4 – 11 tahun) Pasien masuk SD usia 6 tahun dan tidak pernah tinggal kelas.Hendaya waktu senggang (+)   Faktor stressor psikososial Tidak jelas Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat fisik sebelumnya Trauma (-) Infeksi (-) Kejang (-) Merokok (-) alkohol (-) NAPZA ( -) C. Riwayat prenatal Pasien lahir di rumah sakit bersalin . E. 3. Riwayat gangguan sebelumnya Tidak ada D. hubungan dengan keluarga baik. Riwayat masa kanak (1 – 3 ) Pasien mendapat asi dari ibunya. Dan tidak ada keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Riwayat perkawinan Pasien sudah menikah selama 19 tahun dan memiliki 6 orang anak. Riwayat masa kanak akhir remaja ( 12 – 18 tahun) Setelah SD pasien tidak melanjutkan ke SMP karena alasan biaya. 5. pertumbuhan dan perkembangan baik sesuai usia. cukup bulan dan ditolong oleh bidan 2. Riwayat keluarga Pasien merupakan anak ke 5 dari 5 bersaudara .

2. spontan dan intonasi biasa 5. A. Persepsi pasien tentang dirinya dan kehidupannya. G. Keadaan afektif (mood). empati 1. III. Hubungan pasien dengan tetangga baik. Deskripsi umum 1. Penampilan : tampak seorang perempuan memakai daster dan sarung. Afek : kesan cemas 3. Pemeriksaan status mental. Fungsi intelektual 1. pengetahuan umum dan kecerdasan : sesuai taraf pendidikan. perawatan diri cukup dan wajah sesuai umur. 2. Perilaku dan aktifitas psikomotor : Baik 4. Daya konsenterasi : Baik 3. Situasi sosial sekarang. Kesadaran : Baik 3. Taraf pendidikan. Mood : cemas 2. Daya ingat  Jangka panjang : Baik  Jangka sedang : Baik  Jangka pendek : Baik  Jangka segera : Baik 3 . Orientasi    Waktu : baik Tempat : baik Orang : baik 4. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif B. perasaan. Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan pasien mau berobat untuk kesembuhannya. Empati : dapat dirabarasakan C. Pembicaraan : lancar. Pasien tinggal bersam a dengan suami dan anak – anaknya.F.

Produktivitas : cukup b. Ilusi : tidak ada 3. Gangguan persepsi 1. Daya nilai 1. Gangguan isi pikir : tidak ada F. Derealisasi : tidak ada E. Proses berfikir 1.5. Arus pikiran a. Hendaya berbahasa : tidak ada 2. Kemampuan menolong diri sendiri : cukup D. Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya. Autoanamnesis DM : aslamualaikum ibu. saya H dok DM : saya mau tanya – tanya dulu sama ibu. Uji daya nilai : baik 3. b. Pengendalian impuls : baik G. koheren c. Tilikan (insight) : tilikan 6 : pasien sadar bahwa dirinya sakit dan pasien mau berobat untuk kesembuhannya. Depersonalisasi : tidak ada 4. perkenalkan saya dokter muda fariz . Kontinuitas : relevan. Bisa bu? P : iya bisa dok 4 . Penialian realita : baik H. ibu namanya siapa? P : waalaikumsalam dok. Halusinasi : tidak ada 2. Isi pikiran a. Pikiran abstrak : baik 6. Bakat kreatif : menjahit 7. Normo sosial : baik 2. Preokupasi : pasien selalu memikirkan anaknya. I.

DM . siapa yang temani ibu disini ? P : itu ada anakku ( sambil menunjuk ke arah anaknya yang sedang tidur) DM : ibu berapa umurnya ? P : 39 tahun DM : apa pekerjaannya ibu P . DM : kenapa dengan anak ibu? P : tidak ada apa – apa sama dia cuman nda tahu kenapa saya memikirkan padahal sering juga dia kesini jenguk saya DM : ibu takut dia tidak ada yang urus ya? P : tidak juga karna ada ayahnya sama kakak – kakaknya yang lain dirumah DM : terus kenapa ibu cemas sekali? P : itu juga saya nda tahu kenapa 5 . karna saya sering merasa cemas DM : sudah berapa lama itu ? P : sudah sejak 10 bulan yang lalu. saya cuman ibu rumah tangga biasa DM : ibu sakit apa sampai dirawat disini ? P : ini dok nyeri ulu hati DM :terus kenapa sampai ibu di konsul ke bagian jiwa? P : iya dok. tapi 10 hari terakhir ini saya rasa kayak tambah cemas DM : kalau boleh tahu hal apa yang buat ibu rasa cemas? P : saya sering pikirkan anak bungsuku yang umur 6 tahun.

duduk saja atau kulanjutkan saja pekerjaan 6 . tapi biasa nda lama karna habis itu bisa tidur DM : terus apa lagi yang biasa ibu rasakan ? P : ini kadang rasa nyeri ulu hati. biasa kalau cemas kupirkan anakku baru sakit kepala sama jantung berdebar – debar. jantung berdebar – debar sama kadang sakit kepala juga DM : tapi itu ibu rasakan sering atau sekali – sekali saja P : tidak sering.DM : selain anak bungsu ada hal lain yang kita pikirkan? P : iya. saya juga kepikiran terus sama keponakanku yang lagi masuk rumah sakit daya DM : kalau boleh tahu keponakannya sakit apa? P : nda tahu juga cuman tadi ditelpon sama kakakku katanya anaknya masuk rumah sakit. DM : bagaimana tidurnya ibu? P : saya kadang malam tidak bisa tidur DM : kenapa ibu tidak bisa tidur? P : itu kalau ada yang kupirkan terus – terus pasti nda bisa tidur DM : bu itu kalau tidak bisa tidur. apakah ada yang mengganggu dipendengaran maupun penglihatan ibu? P : tidak ada dok DM : terus apa ibu bikin kalau tidak bisa tidur? P : biasa duduk – duduk bersandar dibantal saja. DM : hal apa yang biasa ibu lakukan untuk meenghilangkan rasa cemas? P : tidak ada biasa duduk .

semoga ibu cepat sembuh ya P : iya dok sama – sama 7 . mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahat ibu saya mohon pamit dulu ya bu.DM : kalau ibu sudah berapa lama berumah tangga ? P : sudah 19 tahun dok DM : berapa anaknya ibu ? P : 6 dok DM : kalau hubungannya ibu dengan keluarga yang lain bagaimana? Baik atau mungkin ada masalah? P : baik saja DM : terus di keluarganya ibu ada yang seperti ibu begini ? sering cemas juga P : tidak ada dok kayaknya saya sendiri DM : sebelumnya ibu pernah rasakan hal begini juga? P : belum pernah dok. Cuman 10 bulan terakhir ini baru kurasakan DM : sebelumnya ibu pernah ke dokter untuk periksakan diri masalah yang ibu hadapi ini? P : belum pernah dok DM : ibu selain sebagai ibu rumah tangga ada kegiatan lain yang biasa ibu lakukan? P : saya biasa menjahit juga dirumah DM : ibu saya rasa pertanyaan saya cukup.

pasien sadar dirinya sakit dan mendapatkan pengobatan. Pasien mencemaskan anaknya yang berusia 6 tahun yang tinggal bersama ayahnya dirumah karena pasien saat ini lagi dirawat di rumah sakit. Fungsi kognitif baik. afek kesan cemas.5 c. mood cemas.5mm. V.IV. pernapasan 20x/menit. wajah sesuai umur. Ingatan jangka panjang . Pasin juga mengeluhkan sulit tidur. pendek. Status internus Tekanan darah : 110/70 mmHg. dan segera baik.sedang. fungsi motorik dan sensorik dalam batas normal dan tidak ditemukan adanya refleks patologis.sakit kepala dan jantung berdebar – debar karena cemas memikirkan anaknya. VI. dan suhu 36. pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita sehingga pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa non psikotik. nyeri ulu hati. kernig sign (-). B. Pupil bulat isokor 2. Tilikan grade 6 . daya nilai baik. Rangsang menings : kaku kuduk (-). nadi : 80x/menit. Ikhtisar secara singkat Seorang perempuan 39 tahun dengan keluhan sering merasa cemas dialami 10 bulan terakhir dan dirasakan memberat 10 hari terakhir. empati dapat dirabarasakan. Evaluasi multiaksial  Aksis I Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental ditemukan adanya keluhan cemas dan terkadang disertai gangguan tidur. Status neurologis GCS : 15 (E4 M6 V5). Pada pemeriksaan status mental tampak perempuan memakai daster dan sarung. pikiran abstrak baik. pengendalian impuls baik. perawatan diri cukup. Pemeriksaan fisik dan diagnostik A. pada pemeriksaan status internus dan neurologi tidak ditemukan keluhan maka pasien dikatakan mengalami ganguan jiwa 8 . sakit kepala dan jantung berdebar – debar . Pasien dapat dipercaya.kesadaran baik.5 mm/2.kontinuitas relevan dan koheren. Pasien mengaku cemas sekali memikirkan anaknya padahal anaknya baik baik saja dan ada suaminya yang mengurus.

disabilitas ringan dalam fungsi. Daftar problem A. Prognosis Bonam Faktor pendukung : .rasa khawatir yang berlebihan.     Aksis II Ciri kepribadian tidak khas Aksis III Dispepsia Aksis IV stresor psikososial tidak jelas. gangguan tidur.Adanya keinginan pasien untuk sembuh Tidak ada riwayat dengan keluhan yang sama dalam keluarga Tidak terdapat gejala organic Faktor penghambat : Stressor psikososial tidak jelas. tetapi diduga terdapat ketidakseimbangan neorotransmiter. secara umum masih baik. pada pasien ini ditemukan terdapat gejala – gejala anxietas seperti cemas. jantung berdebar debar serta sakit kepala namun tidak menyeluruh dan tidak ada tanda – tanda gangguan panik dan depresi maka berdasarkan PPDGJ III di diagnosis Gangguan Anxietas YTT (F41. VIII. B. 9 . maka pasien memerlukan farmakoterapi. Psikologik Ditemukan hendaya ringan dalam fungsi sosial sehingga pasien memerlukan psikoterapi untuk menghilangkan gangguan anxietas.non psikotik non organik. Aksis V GAF scale pasien pada saat ini 70 – 61 beberapa gejala ringan dan menetap. VII.9). Organobiologik Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna.

Sesudahnya pasien akan merasa lega dan kecemasannya akan berkurang. Sosioterapi Memberikan pasien dorongan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mempercepat pemulihannya. Farmakoterapi Alprazolam 0. Psikoterapi Suportif Ventilasi : membiarkan pasien mengeluarkan isi hati sesukanya. 10 . Pembahasan / tinjauan pustaka Rencana terapi A. Konseling : memberi pengertian kepada pasien tentang penyakitnya dan memahami kondisi dirinya lebih baik dan menganjurkan pasien untuk berobat teratur.IX.5 mg 0-½-1 B. Follow up Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta menilai efektivitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan munculnya efek samping dari pengobatan yang diberikan. X. C. lalu pasien dapat melihat masalahnya dalam proporsi yang sebenarnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful