You are on page 1of 109

SINARX, HUKUM BRAGG DAN VEKTOR KISI BALIK

A. SinarX 1. Sinar-X Sinar X ditemukan pertama kali oleh Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895 sewaktu melakukan eksperimen dengan sinar katoda. Saat itu ia melihat adanya sinar yang keluar dari tube. Tidak lama kemudian ditemukanlah bahwa sinar tersebut adalah sinar baru atau sinarX. Sinar-X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang listrik, radio, inframerah panas, cahaya, sinar gamma, sinar kosmik dan sinar ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Penggunaan sinar x adalah sesuatu yang penting untuk diagnosa gigi geligi serta jaringan sekitarnya dan pemakaian yang paling banyak pada diagnostic imaging system. Perbedaan antara sinar dengan sinar elektromagnetik lainnya terletak pada panjang gelombang dimana panjang gelombang pada sinar x lebih pendek yaitu : 1 A = 1/100.000.000 cm = 10-8 cm. Lebih pendek panjang gelombang dan lebih besar frekuensinya maka energi yang berikan lebih banyak. 2. Sifat-Sifat Sinar-X Berikut ini adalah sifat-sifat Sinar-X: a. Mempunyai daya tembus yang tinggi. Sinar-Xdapat menembus buku 1000 halaman tetapi hampir seluruhnya terserap oleh timbal setebal 1,5 mm. Sinar-X juga dapat menembus tulang dan gigi. b. Mempunyai panjang gelombang yang pendek yaitu: 1/100.000.000 cm = 10-8 cm panjang gelombang yang kelihatan. c. Mempunyai efek fotografi. Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film setelah diproses di kamar gelap. d. Ketika tangan terpapari sinar-X di atas pelat fotografi, maka akan tergambar foto tulang tersebut pada pelat fotografi.

e. Mempunyai efek biologi. Sinar-X akan menimbulkan perubahanperubahan biologi pada jaringan. Efek biologi ini digunakan dalam pengobatan radioterapi. 3. Proses Terjadinya Sinar-X a. Di dalam tabung roentgen ada katoda dan anoda dan bila katoda (filament) dipanaskan lebih dari 20.0000C sampai menyala dengan mengantarkan listrik dari transformator, b. Karena panas maka electron-electron dari katoda (filament) terlepas, c. Dengan memberikan tegangan tinggi maka electron-elektron

dipercepat gerakannya menuju anoda (target), d. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target) sehingga terbentuk panas (99%) dan sinar-X (1%), e. Sinar-X akan keluar dan diarahkan dari tabung melelui jendela yang disebut diafragma, f. Panas yang ditimbulkan ditiadakan oleh radiator pendingin.

Gambar 3. Tabung Roentgen

Gambar. Skema proses terjadinya Sinar-X 4. Pengelompokkan Sinar-X Berdasarkan Proses Kejadiannya Berdasarkan proses kejadiannya, Sinar-X dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: a. Sinar-X Karakteristik, adalah perpindahan elektron yang terjadi setelah peristiwa eksitasi pada saat menumbuk target sehingga memancarkan energi berbentuk gelombang elektromagnetik dalam waktu yang singkat. b. Sinar-X Bremstrahlung, adalah sinar-X yang terjadi dikarenakan radiasi partikel bermuatan (beta atau elektron) yang

dibelokkan/dipantulkan oleh inti atom ketika memasuki atom tersebut, sehingga menghasilkan pancaran energi berbentuk gelombang elektromagnetik. 5. Manfaat dan Kerugian Sinar-X a. Manfaat Sinar-X 1) Pengobatan Dalam ilmu kedokteran, Sinar-X dapat digunakan untuk melihat kondisi tulang, gigi serta organ tubuh yang lain tanpa melakukun pembedahan langsung pada tubuh pasien. Biasanya, masyarakat awam menyebutnya dengan sebutan Foto Rontgen.

Sinar-X juga dapat memusnahkan sel-sel kanker, disebut dengan radioterapi. 2) Perindustrian Mengesan kecacatan dalam struktur atau bagian-bagian dalam mesin. Memeriksa retakan dalam struktur plastik dan getah. 3) Keamanan Pada gedung-gedung atau tempat-tempat penting (airport, hotel, mall, bahkan istana kepresidenan), pada saat akan masuk ke dalam gedung-gedung atau tempat-tempat penting pemeriksaan

menggunakan Sinar-X. b. Kerugian Sinar-X 1) Pemusnahan sel-sel dalam badan. 2) Perubahan struktur genetik suatu sel. 3) Penyakit kanker darah. 4) Kesan-kesan buruk seperti rambut rontok, kulit menjadi merah dan berbisul. B. Hukum Bragg Apabila suatu material dikenai Sinar-X, maka intensitas sinar yang direfleksikan oleh kisi kristal lebih rendah dari sinar datang. Hal ini disebabkan adanya penyerapan oleh material dan juga penghamburan oleh atom-atom dalam material tersebut. Berkas Sinar-X yang dihamburkan
3

tersebut ada yang saling menghilangkan karena fasanya berbeda dan ada pula yang saling menguatkan karena fasanya sama. Berkas Sinar-X yang saling menguatkan itulah yang disebut sebagai berkas difraksi. Hukum Bragg merupakan perumusan matematik tentang persyaratan yang harus dipenuhi agar berkas sinar-x yang dihamburkan tersebut merupakan berkas difraksi. Menurut Hukum Bragg, Bidang permukaan atom-atom dari suatu kristal bertindak sebagai cermin bagi sinar X. Bidang-bidang tersebut mampu merefleksikan sinar-sinar yang datang pada sudut yang sama dengan sudut incidence. Sinar-sinar refleksi digabungkan sesuai dengan Hukum Bragg:

Selisih lintasan=

Hasil interferensi pada detektor adalah bergantung pada beda fase antara 2 sinar difraksi yang berurutan

Hasil interferensi maksimum jika

Dimana: n adalah orde difraksi

adalah panjang gelombang d adalah jarak antara bidang-bidang atom dan adalah sudut diantara sinar yang masuk (atau keluar) dengan bidang atom. Contoh soal: 1. Sebuah Kristal tunggal garam dapur (NaCl) diradiasi dengan seberkas sinar-X dengan panjang gelombang 0,250 dan pantulan Bragg yang

pertama teramati pada sudut 45. Berapakah jarak antar atom bagi NaCl ? Penyelesaian: Diketahui: = 0,250 = 45 Ditanya: d...? Jawab: = 0,250 x 10-10 m

C. Vektor Kisi Balik Sel satuan Kristal dibangun oleh vektor-vektor basis , , dan . Untuk selanjutnya, kisi dalam ruang (real) tiga dimensi tersebut disebut kisi langsung (direct-lattice). Sebaliknya, dapat didefinisikan kisi balik (reciprocal-lattice) yang dibangun oleh vector basis dalam ruang balik yaitu , , dan , menurut hubungan: ( )

Sehingga, didapatkan berikut ini: ( )

Berdasarkan prinsip perkalian (dot) sehingga:

Jadi, vektor basis dalam ruang balik adalah: ( ( ) )

Vektor basis resiprok mendefinisikan vektor kisi resiprok. ) dengan vektor kisi resiprok (

Dengan satuannya yaitu 1/m. Hubungan jarak antar bidang ( | | ) adalah:

Perhatikanlah perbandingan kisi nyata dan resiproknya pada gambar di bawah ini:

Gambar perbandingan kisi nyata dan resiproknya Dari gambar diatas jelaslah bahwa: a. tegak lurus terhadap ; dan tegak lurus terhadap b. Setiap titik (hkl) dalam ruang resiprok trekait dengan perangkat bidang (hkl) dalam ruang nyata, dan c. Simetri kelompok titik dalam ruang resiprok sama dengan ruang nyata.

Difraksi, Brillouin Zone dan Faktor Struktur Kristal


A. DIFRAKSI Difraksi merupakan suatu peristiwa pembelokan atau pelenturan suatu gelombang. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah air yang

terhalang batu akan membelok, meskipun dipisahkan tembok suara di dalam ruangan sering kali masih bisa didengar oleh orang diluar ruangan, disekitar bayangan gelap ada pola terang, dan lain sebagainya.

Gambar 1. Contoh difraksi Syarat untuk terjadi suatu difraksi adalah : 1. gelombangnya harus koheren. 2. panjang gelombang lebih kecil dari lebar celah, dalam proses difraksi menggunakan gelombang elektromagnet dengan panjang gelombang yang pendek (10 -11 < <10 -9 meter). Panjang gelombang lebih pendek dari jarak antar atom yang menyusun material sehingga dapat menembus material. Macam-macam difraksi adalah : 1. Difraksi Fraunhofer 2. Jarak sumber-celah dan celah-layar jauh lebih besar dari lebar celah. sinar datang sejajar sumber gelombang jauh pola difraksi diamati di tempat

yang jauh dari sumber. Sinar yang terlibat dalam proses difraksi semuanya sejajar. 3. Difraksi fresnel 4. Jarak sumber-celah dan celah-layar lebih besar dari lebar celah. datang tidak sejajar sumber gelombang dekat sinar

pola difraksi diamati di

tempat yang tidak jauh dari sumber. Sinar yang terlibat dalam proses difraksi tidak sejajar 5. Difraksi Sinar X 6. Menggunakan sinar X ( panjang gelombang lebih kecil dari pada jarak antar atom yang menyusun material) Macam-macam difraksi yang telah dijelaskan diatas termasuk difraksi cahaya. Difraksi cahaya sulit diamati karena: 1. Biasanya sumber cahaya polikromatik sehingga pola difraksi yang ditimbulkan setiap gelombang cahaya saling tumpang tindih. 2. Sumber cahaya terlalu lebar sehingga pola difraksi yang dihasilkan masingmasing bagian akan saling tumpang tindih. 3. Cahaya tidak selalu koheren, sehingga polanya berubah-ubah selalu sesuai perubahan beda fasanya. Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang difraksi sinar x oleh kristal.

Sebuah set vektorvektor lattice resiprok menentukan kemungkinan arah pantulan sinar-x. Perhatikan gambar :

Selisih lintasan antara kedua sinar datang adalah : ......... (1) Jadi beda sudut fase antara kedua sinar datang adalah :

Dengan cara yang sama, beda sudut fase untuk kedua sinar difraksi adalah :

Beda sudut fase total antara kedua berkas sinar difraksi adalah :

............ (2) Sehingga gelombang/sinar difraksi dari elemen volume dV mempunyai vektor fase : .......... (3) 1. Amplitudo gelombang terdifraksi dari elemen volume dV adalah berbanding lurus dengan konsentrasi elektron lokal volume dV.
10

dan elemen

........... (4) 2. Amplitudo total (F) dari gelombang terdifraksi dalam arah adalah :

maka,

Subsitusi pers (4) ke (5) :

Jika vektor hamburan k sama dengan vektor kisi resiprok maka :

Proses terjadinya difraksi yang telah dijelaskan diatas adalah difraksi sinar-x oleh kristal. Untuk hamburan/difraksi . elastik, energi foton

sama dengan energi foton difraksi

Dengan demikian kondisi difraksi dapat ditulis :

Maka,

Sehingga kondisi difraksi :

11

Aplikasi metode difraksi sinar-x dalam bentuk pola difraksi karakteristik adalah : 1. Penentuan struktur kristal, fase-fase atau senyawa yang ada dalam suatu bahan atau campuran seperti batuan, lempung, bahan keramik, paduan logam, produk korosi dll. 2. Dalam bidang kimia, metode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi fasa-fasa atau senyawa dalam campuran. Analisis kualitatif dengan mengidentifikasi pola difraksi, analisis kuantitatif dengan menentukan intensitas puncaknya dimana intensitas lebih tinggi menunjukkan konsentrasi lebih tinggi. 3. Bahan logam antara lain analisis struktur kristal produk korosi, tegangan sisa dan tekstur. 4. Dalam bahan polimer, dapat memberikan informasi untuk menentukan derajat kristalinitas, orientasi dan menentukan aditif secara kualitatif dan kuantitatif. B. Brillouin Zone Zona Brillouin adalah representasi tiga dimensi dari nilai k yang diperkenankan. Sebagaimana telah dibahas, nilai kritis bilangan gelombang k tergantung dari sudut antara datangnya elektron dengan bidang kristal. Oleh karena itu dalam kristal tiga dimensi kkritis tergantung dari arah gerakan elektron relatif terhadap kisi kristal, dan kemungkinan adanya susunan bidang kristal yang berbeda.

Gambar 2: Gambaran satu dimensi Zona Brillouin pertama dan kedua

12

Kita lihat lebih dulu kasus satu dimensi. Jika jarak antar ion dalam padatan adalah a, kita dapatkan nilai kritis bilangan gelombang untuk kasus satu dimensi adalah (B.1) Daerah antara k1 dan +k1 disebut zona Brillouin pertama; antara +k1 dan +k2 serta antara k1 dan k2 disebut Zona Brillouin kedua, dan seterusnya. Gb.2 memperlihatkan situasi satu dimensi yang menggambarkan dua zona yang pertama. Elektron-elektron hanya bisa menempati zona-zona ini. Apabila suatu zona tidak terisi penuh sedangkan zona berikutnya kosong, maka situasi ini ekivalen dengan pita konduksi yang tidak terisi penuh. Pada kasus dua dimensi kita melihat gambaran nilai-nilai batas k pada sumbu koordinat x-y pada Gb.8.16.a. Karena baik bidang vertikal maupun horizontal dapat memantulkan elektron, maka kita memiliki relasi

..................(B.2)

Gambar 3: Gambaran Zona Brillouin

Pada kasus tiga dimensi, zona Brillouin untuk kisi kristal kubus sederhana relasi (B.2) berubah menjadi

13

................. (B.3) C. Faktor Struktur Kristal Kristal merupakan susunan atom-atom yang teratur dalam ruang tiga dimensi. Keteraturan susunan tersebut timbul karena kondisi geometris yang dihasilkan oleh ikatan atom yang terarah dan paking yang rapat. Sesungguhnya tidaklah mudah untuk menyatakan bagaimana atom tersusun dalam padatan. Namun ada hal-hal yang diharapkan menjadi faktor penting yang menentukan terbentuknya polihedra koordinasi atom-atom. Secara ideal, susunan polihdra koordinasi paling stabil adalah yang memungkinkan terjadinya energi per satuan volume minimal. Keadaan tersebut dicapai jika: 1. Kenetralan listrik terpenuhi 2. Ikatan kovalen yang diskrit dan terarah terpenuhi 3. Meminimalkan gaya tolak ion-ion 4. Atom disusun serapat mungkin Struktur kristal yang biasa teramati pada padatan dinyatakan dalam konsep geometris ideal yang disebut kisi-kisi ruang (space lattice) dan menyatakan cara bagaimana polihedra koordinasi atom-atom tersusun bersama agar energi dalam padatan menjadi minimal. Kisi-kisi ruang adalah susunan tiga dimensi titik-titik di mana setiap titik memiliki lingkungan yang serupa. Titik dengan lingkungan yang serupa itu disebut titik kisi (Lattice Point). Titik kisi dapat disusun hanya dalam 14 susunan yang berbeda yang disebut kisi-kisi Bravais; oleh karena itu atom-atom dalam kristal haruslah tersusun dalam salah satu dari 14 kemungkinan tersebut. 1. Struktur Kristal Sebuah kristal ideal disusun oleh satuan-satuan struktur yang identik secara berulangulang yang tak hingga di dalam ruang. Semua struktur kristal dapat digambarkan atau dijelaskan dalam istilah-istilah lattice (kisi) dan sebuah basis yang ditempelkan pada setiap titik lattice

14

(kisi). Lattice (kisi) adalah sebuah susunan titik yang teratur dan periodik di dalam ruang. Basis adalah sekumpulan atom-atom Jumlah atom dalam sebuah basis satu buah atom atau lebih.

15

VIBRASI KRISTAL
Dalam bab yang lalu, telah dibahas bahwa kristal tersusun oleh atom-atom yang diam pada posisinya di titik kisi. Sesungguhnya, atom-atom tersebut tidaklah diam, tetapi bergetar pada posisi kesetimbangannya. Getaran atom-atom pada suhu ruang adalah sebagai akibat dari energi termal, yaitu energi panas yang dimiliki atom-atom pada suhu tersebut.

A. Vibrasi kristal monoatomik


Terdapat dua mode vibrasi dari atom dalam kristal : 1. Vibrasi logitudinal merupakan mode vibrasi yang arah vibrasinya searah dengan arah rambatan 2. Vibrasi transversal merupakan mode vibrasi yang arah vibrasinya tegak lurus arah rambatan Sebuah kristal kubus sederhana monoatomik [100], [110], dan [111] yang bervibrasi mempunyai frekuensi gelombang elastis, ditinjau dari segi vektor gelombang akan merambat secara pararel dan tegak lurus terhadap arah vektor gelombang.

Setiap perpindahan bidang (S) dari posisi keseimbangannya akan mempunyai vekktor gelombang dengan tiga bentuk mode, yaitu: satu polarisasi longitudinal dan dua polarisasi transversal.

16

17

18

19

20

B.

Vibrasi kristal sederhana diatomik


Penyebaran fonon untuk kristal sederhana diatomik atau lebih akan memberikan arah penyebaran yang berbeda dibanding kristal monoatomik. Tiap polarisasi akan memberikan arah hubungan penyebaran terhadap k dengan pola dua cabang : akustik dan optikal. Sehingga akan diperoleh LA dan TA (longitudinal acoustic dan transversal acoustic), serta LO dan TO (longitudinal optik dan tranversal optik).

21

22

23

24

25

26

VIBRASI OPTIK DAN VIBRASI AKUSTIK PADA KRISTAL DIATOMIK

Vibrasi Optik dan Akustik Pada Kristal Diatomik Getaran Atom-atom Pada Kristal Diatomik 1. Penyebabnya : a. Gejala Thermal b. Perambatan Gelombang Elastik c. Perambatan Gelombang Elektromagnetik d. Perambatan Gelombang Zarah Kristal Diatomik Linier Seperti terlihat dalam sketsa diibawah ini Kristal diatomic linier terdiri dari untaian 2 jenis atom berbeda massa yang tersebar secara berkala dalam ruang. Untuk mudahnya diambil saja kasus dimana atom-atom dengan massa m1 dan m2 yang masing-masing mempunyai jarak x. Untuk mudahnya diandaikan bahwa hanya ada gaya Hooke dengan tetapan gaya F antara atom yang bersebelahan. Lihat gambar dibawah ini.

Persamaan gerak: F= m.a = c . x

m1

m2

m1

m2

m1

m2

Untuk massa m1:

27

{ { Dimana: }

Kedua rua dibagi dengan Akan didapat:


{ }

{ U U Untuk m2: ( (

} ) )

{ { Dimana: }

28

Kedua rua dibagi dengan Akan didapat:


{ }

V V V ( )

( ( ( V

) ) ) =0

Dari m1 dan m2 didapat a=U b= c= d=V sekarang kita cari determinannya: | | || | ( ( ) ) || | ( ( ) )

29

Determinannya = ad bc { { Ingat: } { ( } { ( ) ( )} )}

Maka, { { } } { { } }

Rumus abc:

Ingat: Maka:
( ) ( )

} {

)}

} {

)}

30

)
(

(
) (

(
)

} {

)}

} {

)}

( ( Grafik: Untuk

) ) ( )

( ( ( )

) ) ( )

31

Untuk ( ( ( ( ( ) ) ) ) ) ( ( ( ( ( ) ) ) ) ( ( ) ) )

Dengan cara yang sama ( ) ( )

Bila m1<m2

>

Bila m1>m2

<

yang terjadi adalah tidak ada celah terang yang artinya

untuk setiap energy selalu menghasilkan getaran.

32

Bila m1>m2 maka yang terjadi tidak ada celah terlarang yang artinya untuk setiap energy selalu meng hasilkan getaran. untuk vibrasi Kristal diatomic ( ) ( )

Untuk cabang optic [ ( ) {( ) }]

Untuk cabang akustik [ ( ) {( ) }]

Kecepatan Group Untuk cabang optic

[ (

{(

}]

33

[ (

{(

}]

[(

) Untuk cabang akustik

[ (

{(

}]

[ (

{(

}]

[(

34

HUKUM TERMO, KAPASITAS PANAS DAN HUKUM DULONG PETIT

A.

HUKUM TERMO Probabilitas thermodinamika Postulat mendasar dari statistic thermodinamik adalah bahwa semua kemungkinan microstate sebuah assembly terisolasi adalah kemungkinannya sama. Jumlah kemungkinan microstate yang sama yang berkaitan dengan k makrostate tertentu disebut probabilitas thermodinamika . probabilitas thermodinamik assembly sama dengan jumlah semua makrostate

probabilitas thermodinamik masing-masing makrostate. Teori statik bertujuan untuk menentukan jumlah partikel rata-rata , pada masing-masing level energy j assembly yang disebut jumlah okupasi level j . misalkan adalah angka okupasi level j dalam makrostate k . nilai rata-rata dengan

group angka okupasi level j, diperoleh dengan mengalikan

dengan jumlah replica dalam makrostate k , jumlahkan semua makrostate dan dibagi dengan jumlah total replica N. jumlah total replica sebuah assembli yang berada dalam makrostate k sama dengan produk dari jumlah replica N yang berada di suatu microstate dan jumlah microstate terdapat dalam makrostate tersebut. Sehingga

yang

Dan Dan karena N sama untuk semua makrostate, rata-rata group adalah

Sedangkan rata-rata waktu jumlah okupasi level j, ditentukan dengan


35

B.

KAPASITAS PANAS Menurut fisika klasik, getaran atom-atom zat padat dapat dipandang

sebagai osilator harmonik. Osilator harmonik merupakan suatu konsep/model yang secara makroskopik dapat dibayangkan sebagai sebuah massa m yang terkait pada sebuah pegas dengan tetapan pegas C. Untuk osilator harmonik satu-dimensi, energinya dapat dirumuskan :

Dengan : v = laju getaran osilator, x = simpangan osilator = frekuensi sudut getaran osilator

Untuk

atom

yang

bergetar :

Keseimbangan termal dengan energy rata-rata 1/2kBT, sehingga diperoleh rumusan energinya:
36

Jika kita mempunyai N atom yang mengalami osilasi maka rumusannya:


Untuk menghitung energy dengan memperhitungkan molaritas, maka rumusannya menjadi:

Dengan : N = jumlah atom n = jumlah mol NA = N/n R = NA.KB kB = konstanta Bolzman Kapasitas panas pada constant volum per mole
. /

Dari rumusan diatas terlihat bahwa menurut model fisika klasik, kapasitas panas zat padat tidak bergantung suhu dan berharga 3R. Hal ini sesuai dengan hukum Dulong-Petit yang hanya berlaku untuk suhu tinggi T (>300 K). Sedangkan untuk suhu rendah jelas teori ini tidak berlaku.

37

C.

HUKUM DULONG & PETIT Pada awal abad ke-19, dua ilmuwan Perancis mengumumkan hukum yang

akhirnya akan diberi nama setelah mereka. Hukum transaksi Dulong dan Petit dengan kapasitas kalor zat. Kemudian pada abad ke 19 itu akan terbukti sangat membantu dalam mengklarifikasi massa atom dan formula atom. Tabel di bawah ini berisi data yang Dulong dan Petit berdasarkan hukum mereka.

1)

Massa atom dakam g/mol dan kalor jenis dalam J/g0 C. (Untuk massa atom, oksigen adalah kunci untuk factor konversi 1 atom = 16,00 g/mol

2) Apakah ada hubungan antara kalor jenis dan massa atom? Jika demikian, apa itu? Cobalah merencanakan kalor jenis (c) dikali massa atom (m), maka ln (c.m), dan kemudian ln c .ln m. (Gunakan satuan SI dalam plot.) Merupakan hasil salah satu plot garis lurus? Jika demikian, perhatikan kemiringan m danintercept b y, dan menulis persamaan y = mx +c dihasilkan b dalam hal c dan m. Akhirnya, memecahkan persamaan yang untuk c sebagai fungsi dari m : yaitu hubungan antara kalor jenis dan massa atom. 3) Dulong dan Petit menyatakan hubungan dengan cara yang berbeda namun setara. Mereka mencatat bahwa hasil dari massa atom dan kalor jenis sangat hampir konstan. Selain itu, mereka mengakui bahwa produk mewakili kapasitas kalor atom (atau kapasitas kalor molar, seperti yang kita katakan). Dulong dan Petit mengatakan, "Atom-atom dari semua badan yang sederhana memiliki kapasitas yang sama persis untuk kalor."

38

Hukum Dulong-Petit, menyatakan bahwa kapasitas kalor satu gram-atom dari elemen adalah konstan, yaitu, begitu juga untuk semua elemen padat, sekitar enam kalori per atom gram . Hukum ini diformulasikan (1819) berdasarkan pengamatan oleh ahli kimia Prancis Pierre-Louis Dulong dan fisikawan Prancis AlexisThrse Petit. Jika panas spesifik dari elemen diukur, massa atom yang dapat dihitung dengan menggunakan hukum empiris ini, dan massa atom begitu banyak yang awalnya berasal. Kemudian itu dimodifikasi untuk hanya berlaku untuk unsur logam, dan kemudian masih-pengukuran suhu rendah menunjukkan bahwa kapasitas panas dari semua padatan cenderung menjadi nol pada temperatur rendah cukup. Hukum sekarang hanya digunakan sebagai pendekatan pada suhu intermediately tinggi

Kapasitas thermal zat padat Terdapat dua jenis energy thermal yang tersimpan dalam zat padat yaitu energy vibrasi atom-atom disekitar posisi kesetimbangannya dan energy kinetic yang dikandung elktron-elektron bebas. Salahsatu sifat thermal zat padat adalah panas pesifik yaitu kapasitas panas persatuan masa perderajat Kelvin.

Panas spesifik menurut dulong petit Menurut dulong petit panas spesifik padatan adalah hampir sama untuk semua unsure yaitu sebesar 6 cal/moleok. angka yang diperoleh dulong petit kemudian diteliti oleh Boltzmann, yang menyatakan bahwa hasil tersebut terjadi karena energy dalam padatan tersimpan dalam atom-atomnya yang bervibrasi. Energy atom-atom tersebut diturunkan dari teori kinetic gas. Molekul-molekul gas memiliki tiga derajat kebebasan dengan energy kinetic ratarata perderajat kebebasan dalam tiga dimensi adalah adalah dan energy permole

N adalah bilangan Avogadro.

Dalam padatan atom-atom saling terikat sehingga selain memiliki energy kinetic atom-atom juga memiliki energy potensial, sehingga energy rata-rata perderajat kebebasan menjadi KBT dan energy per mole padatan menjadi

39

Panas spesifik untuk volum konstan

40

MODEL EINSTEIN, DEBYE DAN KONDUKTIVITAS PANAS

A.

MODEL EINSTEIN Atom-atom kristal dianggap bergetar satu sama lain di sekitar titik

setimbangnya secara bebas. Getaran atomnya dianggap harmonik sederhana yang bebas sehingga mempunyai frekuensi sama ( ) sehingga di dalam zat padat

terdapat sejumlah N atom maka ia akan mempunyai 3N osilator harmonik yang bergetar bebas dengan frekuensi ( ). Kapasitas panas pada temperatur tinggi (T>>) Energi kristal berdasarkan fungsi distribusi planck yaitu Dengan menggunakan deret taylor maka persamaan di atas menjadi

Sehingga U dapat dinyatakan

Maka kapasitas panas

Dimana R adalah konstanta universal gas

Jadi kapasitas panas untuk temperatur tinggi menurut model Einstein adalah

41

(sesuai dengan eksperimen Dulong & Petit)

Kapasitas panas pada temperatur rendah (T<<) maka Bila maka model Einstein 3N

. . /

) . /

) . /

Temperatur khusus untuk Einstein Maka kapasitas panas model Einstein untuk T<<

42

) . /

) ( )

B.

MODEL DEBYE Pada model debye ini atom atom dianggap sebagai osilator harmonis yang

tak bebas, dimana gerakan atom atomnya dipengaruhi oleh atom tetangga. Model Debye ini merupakan penyempurnaan daripada model Einsten terutama pada T yang sangat kecil. Untuk T<< maka << berada pada cabang akustik. Model Debye untuk rapat keadaan density of state D didefinisikan jumlah keaadaan tiap rentang energy. Secara matematis dapat dituliskan deferensialnya adalah : D = atau dN = D d

Dari energy total yang telah didapatkan yaitu : * +

Karena disini kita akan mencari rapat keadaan dari Debye maka untuk energynya adalah :

D d

Untuk rapat keadaan dalam tiga dimensi N=

( Sehingga,

43

Karena V = L3 maka,

Dengan menggunakan turunan rantai maka, ( Misalkan, Jadi, , maka )

Sehingga energinya didapat

Sehingga limit dari integral diatas didapat : D

) ,

Dimana, (

)}

) (

44

{(

) (

)}

Misalkan :

Maka, ( )

( )

Bila didefinisikan :

dan

Sehingga ( )

45

( Dengan,

Jadi,

Untuk suhu tinggi T >> T >> Maka : = =

<< 1

Deret : + + + = =( =( = = = = =2( + + + + ( )=2( ) ) + + )( + + ). ) + ( )/

+ ..

46

<< 1 Jadi : Cv = Cv = Cv = ( )

( )

ingat x =

dimana

=R

Cv = 3R kapasitas panas model Debye untuk T >> Untuk suhu rendah T << T << Cv = ( )
1 1 integral parsial u dv = uv v du

misal

u= du = 4 dv = dx dx v = Misal : -1=u du = v= dx du = dx

v=- = Jadi : Cv = = ( ) ,
2

+4

dx
3

47

untuk T = 0 maka jika rumus =* +

=0 = dx

digunakan = dx =

=4* ( Rumus : Didapat p = 2 untuk p = 2 = Jadi : Cv = Cv = Cv = Cv = Cv = 234 ( ) , ( ) , ( ) ( ) = = =

)+

(Dari tabel Bernoulli)

( ) kapasitas panas model Debye untuk T <<

Koefisien pindah panas Koefisien pindah panas digunakan dalam perhitungan pindah panas konveksi atau perubahan fase antara cair dan padat. Koefisien pindah panas banyak dimanfaatkan dalam ilmu termodinamika dan mekanika serta teknik kimia.

di mana
48

Q = panas yang masuk atau panas yang keluar, W h = koefisien pindah panas, W/(m2K) A = luas permukaan pindah panas, m2 = perbedaan temperatur antara permukaan padat dengan luas permukaan kontak dengan fluida, K Dari persamaan di atas, koefisien pindah panas adalah koefisien proporsionalitas antara fluks panas, Q/(A delta t), dan perbedaan temperatur, penggerak utama perpindahan panas. Satuan SI dari koefisien pindah panas adalah watt per meter persegi-kelvin , W/(m2K). Koefisien pindah panas berkebalikan dengan insulasi termal. Terdapat beberapa metode untuk mengkalkulasi koefisien pindah panas dalam berbagai jenis kondisi pindah panas yang berbeda, fluida yang berlainan, jenis aliran, dan dalam kondisi termohidraulik. Perhitungan koefisien pindah panas dapat diperkirakan dengan hanya membagi konduktivitas termal dari fluida dengan satuan panjang, namun untuk perhitungan yang lebih akurat seringkali digunakan bilangan Nusselt, yaitu satuan tak berdimensi yang menunjukkan rasio pindah panas konvektif dan konduktif normal terhadap bidang batas. Korelasi Dittus-Boelter (konveksi paksa, forced convection) Korelasi yang khusus namun sederhana dan biasa digunakan pada berbagai aplikasi adalah korelasi pindah panas Dittus-Boelter untuk fluida dalam aliran turbulen. Korelasi ini dapat digunakan ketika konveksi adalah satu-satunya cara dalam memindahkan panas, tidak ada perubahan fase, dan tidak ada radiasi yang signifikan. Koreksi dari perhitungan ini 15%. Untuk aliran fluida pada pipa melingkar yang lurus dengan bilangan Reynolds antara 10000 dan 120000, ketika bilangan Prandtl di anara 0.7 dan 120, untuk titik yang jaraknya lebih dari sepuluh kali diameter pipa dan ketika permukaan pipa halus secara hidraulik, koefisien pindah panas antara fluida dan permukaan pipa dapat diekspresikan sebagai: , yang menjadi

di mana

49

= konduktivitas termal fluida = = diameter hidraulik

Nu = bilangan Nusselt bilangan Nusselt dapat dicari dengan: (korelasi Dittus-Boelter) di mana: Pr = bilangan Prandtl Re = bilangan Reynolds n = 0.4 untuk pemanasan (dinding lebih panas dari fluida yang mengalir) dan 0.33 untuk pendinginan (dinding lebih dingin dari fluida yang mengalir)[1].

Korelasi Thom Terdapat korelasi yang sederhana antara koefisien pindah panas dalam proses pemanasan fluida hingga mendidih (boiling process). Korelasi Thom adalah untuk aliran air yang mendidih dan jenuh pada tekanan di atas 20 MPa, dalam kondisi di mana molekul-molekul air yang mendidih lebih banyak mendominasi sepanjang konveksi paksa sedang terjadi. Konsep ini berguna untuk perkiraan kasar dari perbedaan temperatur yang mungkin terjadi pada fluks panas yang ditentukan. [2]

di mana: = kenaikan temperatur pada dinding di atas titik jenuh, K q = fluks panas, MW/m2 P = tekanan air, MPa perhatikan bahwa ini adalah rumus empiris yang khusus pada satuan tertentu yang diberikan pada rumus.

Koefisien pindah panas pada dinding pipa

50

Pada kasus pindah panas pada pipa yang melingkar, fluks panas bergantung pada diameter dalam dan diameter luar dari pipa, atau tebalnya. Namun jika tebal pipa sangat tipis jika dibandingkan dengan diameter dalamnya, maka perhitungannya:

di maka k adalah konduktivitas termal dari material dinding dan x adalah ketebalan dinding. Penggunaan asumsi ini bukan berarti mengasumsikan bahwa ketebalan dinding diabaikan, namun diasumsikan bahwa perpindahan panas adalah linier pada satu garis, tidak tersebar dari satu titik di pusat pipa ke segala arah penampang melintang pipa. Jika asumsi di atas tidak berlaku, maka koefisien pindah panas dapat dihitung dengan menggunakan:

di mana di adalah diameter dalam dan do adalah diameter luar.

Koefisien pindah panas gabungan Untuk dua atau lebih proses pindah panas yang bekerja secara paralel, koefisien pindah panas ditambahkan:

Untuk dua atau lebih proses pindah panas yang bekerja secara berantai pada garis lurus, koefisien pindah panas ditambahkan secara invers:

Misalnya, katakan ada sebuah pipa dengan fluida yang mengalir di dalamnya. Laju pindah panas antara fluida di bagian dalam pipa dengan permukaan luar pia adalah

di mana

51

Q = laju pindah panas (W) h = koefisien pindah panas (W/(m2K)) t = ketebalan dinding (m) k = konduktivitas termal dinding (W/mK) A = luas permukaan dinding (m2) = perbedaan temperatur. Aplikasi koefisien pindah panas Koefisien pindah panas banyak digunakan dalam perhitungan dan permodelan proses pengeringan, pengolahan makanan (misalnya penggorengan, pemasakan dengan manipulasi tekanan (puffing), dsb), hingga permodelan suhu udara di dalam bangunan (misalnya rumah tanaman atau greenhouse)

C. Konduktivitas termal Konduktivitas termal dari material adalah laju perpindahan panas dengan konduksi per satuan panjang per derajat Celcius. Hal ini dinyatakan dalam satuan W / m. C Ini pada dasarnya adalah ukuran dari tingkat di mana material dapat mengusir panas, dan ditentukan di bawah tekanan dan rata-rata di kisaran suhu melelehkan material. Nilai konduktivitas merupakan ukuran terhadap konsentrasi total elektrolit di dalam air. Kandungan elektrolit yang pada prinsipnya merupakan garam-garam yang terlarut dalam air, berkaitandengan kemampuan air di dalam menghantarkan arus listrik.Semakin banyak garam-garam yang terlarut semakin baik daya hantar listrik air tersebut. Air suling yang tidak mengandung garam-garam terlarut dengan demikian bukan merupakan penghantar listrik yang baik. Selain dipengaruhi oleh jumlah garam-garam terlarut konduktivitas juga dipengaruholeh nilai temperatur Konduktivitas dapat merujuk pada: Konduktivitas listrik , ukuran kemampuan bahan untuk membuat arus listrik Konduktivitas hidrolik , properti kemampuan bahan untuk mengirim air Konduktivitas termal, properti intensif bahan yang menandakan kemampuannya untuk membuat panas
52

Konduktivitas Rayleigh,menjelaskan kelakuan apertur mengenai aliran cairan atau gas Konduktivitas listrik adalah ukuran dari kemampuan suatu bahanuntuk menghantarkanarus listrik . Jika suatu beda potensial listrik ditempatkan pada ujung-ujung sebuah

konduktor ,muatan-muatanbergeraknya akan berpindah, menghasilkan arus listrik. Konduktivitas listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus terhadap kuat medan listrik : Pada beberapa jenis bahan dimungkinkan terdapat konduktivitas listrik yang anisotropik.Lawan dari konduktivitas litrik adalah resistivitas listrik atau biasa disebut sebagairesistivitas

Aplikasi konduktivity Meskipun kesulitan interpretasi teoritis, pengukuran konduktivitas digunakan secara ekstensif di banyak industry. Sebagai contoh, pengukuran konduktivitas digunakan untuk memantau kualitas dalam persediaan air publik, di rumah sakit, dalam air boiler dan industriyang bergantung pada kualitas air seperti pembuatan bir . Jenis pengukuran tidak ion-spesifik,kadang-kadang dapat digunakan untuk menentukan jumlahtotal padatan terlarutTDS) jika komposisi dari solusi dan perusahaan perilaku konduktivitas diketahui. Kadang-kadang, pengukuran konduktivitas dihubungkan dengan metode lain untuk meningkatkan sensitivitas deteksi jenis tertentu ion. Misalnya, dalam teknologi air boiler, maka blowdown boiler secara terus-menerus dipantau untuk "konduktivitas kation", yang merupakan konduktivitas air setelah itu telah melewati resin pertukaran kation. Ini adalah metode yang sensitif pemantauan anion kotoran dalam air boiler di hadapan kation kelebihan (yang dari agenalkalizing biasanya digunakan untuk pengolahan air). Sensitivitas dari metode ini bergantung pada mobilitas tinggi H + dibandingkan dengan mobilitas kation lain atau anion. Konduktivitas detektor biasanya digunakan dengan kromatografi ion.

53

Konduktansi elektrolit lemah dan kuat Pada penelitian ini pengukuran konduktivitas listrik untuk solusi ion dengan konsentrasi penurunan adalah ekstrapolasi ke nol konsentrasi untuk menentukan konduktivitas membatasi tiap jenis larutan pada konsentrasi nol. Konduktivitas dari tiga elektrolit kuat akan digunakan untuk menentukan konduktivitas membatasi suatu elektrolit lemah, asam asetat. Kemudian rasio dari konduktivitas eksperimental dengan konduktivitas membatasi akan digunakan untuk menentukan konstanta kesetimbangan asam asetat.

54

LEVEL ENERGI SATU DIMENSI DAN EFEK TEMPERATUR TERHADAP DISTRIBUSI FERMI-DIRAC

A. Level Energi Satu Dimensi Perhatikan partikel bermassa m berada di dalam sumur atau kotak potensial satu dimensi sepanjang L. ilustrasinya diberikan oleh gambar di bawah ini,

V=0 x 0 L

Karena V = 0, maka Persamaan Schrodingernya menjadi:

Atau dapat dituliskan

55

Sehingga Persamaan Schrodinger menjadi:

Solusi umumnya diberikan oleh fungsi

Syarat batas di x = 0, memberikan hubungan

yang berarti A = 0,

menjadi:

Syarat batas di x = L

Atau berarti atau

, hal ini berarti bahwa: , dengan n = 1,2,3 , sehingaa di dapat rumus

Dari hubungan E pada persamaan 4 dan nilai Energi untuk tingkat n:

Dengan nilai

56

B. Efek Temperatur terhadap Distribusi Fermi-Diract 1. Energi Fermi Sebelum kita membahas Distribusi Fermi-Dirac, kita akan membahas tentang Energi Fermi. Electron-elektron akan disebarkan (didistribusikan) diantara berbagai tingkat energy yang dimungkinkan (yang tersedia) dan dengan cara mematuhi Prinsip Pauli, yang menyatakan bahwa setiap tingkat energy hanya dapat ditempati oleh paling banyak sebuah electron, kecuali jka orientasi spin electron tersebut berbeda. Atau dengan kalimat lain prinsip Pauli menyatakan bahwa tidak mungkin dua buah electron menempati satu tingkat energy yang sama, kecuali jika spin kedua electron berbeda. Dalam sebuah zat padat, sebuah tingkat elektron dapat memiliki 2 buah bilangan kuantum, yaitu n dan ms yang masing-masing menyatakan bilangan kuantum utama dan bilangan kuantum (magnetik) spin. Untuk nilai n, ms memilki dua nilai yaitu dan -. Ini berarti bahwa setiap tingkat energi yang ditandai oleh nilai n, dapat memiliki dua keadaan. Dan hal ini berarti pula bahwa setiap tingkat energi itu dapat ditempati atau diisi oleh dua buah elektron, satu elektron memiliki spin up () dan satu lagi memiliki spin down (-). Jadi setiap tingkat energi digandakan dua kali (double degenerate). Artinya, setiap tingkat energi memiliki dua tempat electron, dan hal ini sejalan dengan Prinsip Pauli. Energi Fermi (Ef) dapat didefinisikan sebagai energi dari tingkat teratas yang terisi penuh elektron pada keadaan dasar.

57

Dalam setiap tingkatan energi Fermi (nf), maka ditempati dua buah elektron yaitu satu elektron memiliki spin up () dan satu lagi memiliki spin down (-). Sehingga, apabila ada N buah elektron maka tingkatan energi Fermi (nf) adalah Sehingga dapat dituliskan rumus Energi Fermi berdasarkan rumus Energi tingkat n dan nilai nf adalah sebagai berikut: ( ) menjadi, ( )

2. Efek Temperatur terhadap Distribusi Fermi-Dirac Seperti pada definisi Energi Fermi bahwa sebagai energi dari tingkat teratas yang terisi penuh elektron pada keadaan dasar(saat T = 0 K). Keadaan dasar ini maksudnya dalah saat T = 0 K, jika T > 0 K maka elektron akan mampu bertransisi (loncat) ke tingkat energi yang lebih tinggi. Pengaruh temperatur terhadap distribusi elektron ini diatur oleh fungsi distribusi yang dikemukakan oleh Fermi-Dirac, sehingga fungsi distribusi ini sering disebut Fungsi Distribusi Fermi-Dirac. Fungsi ini secara matematik ditulis sebagai berikut: Keadaan kosong berarti tidak ada partikel dan energi nol, sedangkan keadaan terisi satu partikel berarti berenergi. Fungsi partisinya:

Kosong

Terisi

58

Karena suatu keadaan mempunyai peluang untuk tidak ditempati dan peluang untuk ditempati berarti keadaan tersebut mempunyai nilai ratarata populasi. Populasi rata-rata untuk keadaan energi :

Sehingga didapat:

= Peluang untuk menemukan elektron di tingkat energi E E = Energi dari suatu tingkat energi = Energi potensial kimia KB T = Konstanta Boltzman = 6,626 x 10-34 Js = Temperatur (K)

59

Untuk T = 0 K E < Ef f(E) = 1 E > Ef f(E) = 0 Dengan kata lain, pada temperatur T = 0 K semua tingkat energi E < Ef (0) terisi penuh oleh elektron dan E > Ef (0) tidak terisi oleh elektron atau kosong.

Untuk T > 0 K E < Ef f(E) < 1 E = Ef f(E) = 1/2 E > Ef f(E) > 0 Hal ini berarti tingkat energi diatas Ef sudah terisi sebagian dan dibawah Ef menjadi kosong. Atau dari grafik dapat pula dijelaskan bahwa grafik tersebut menunjukan bahwa energi tingkat (E) semakin tinggi sehingga peluang untuk tetap diam semakin kecil dan peluang untuk loncat akan semakin besar. Sehingga energi tingkat (E) yang lebih tinggi dari Ef juga ada yang terisi (memilki peluang).

60

KONDUKTIVITAS LISTRIK, HUKUM OHM DAN RESISTIVITAS LISTRIK LOGAM

B. KONDUKTIVITAS LISTRIK Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan benda-benda yang tergolong isolator dan konduktor. Bahan konduktor adalah bahan yang mudah mengalirkan arus listrik, sedangkan bahan isolator adalah bahan yang sukar mengalirkan arus listrik. Gambar 1 adalah ilsutrasi sebuah kabel konduktor. Dalam kabel terdapat elektron-elektron yang bergerak bebas. Jika tidak ada beda potensial antara dua ujung kabel maka peluang elektron bergerak ke kiri dan ke kanan sama sehingga arus total yang mengalir dalam kabel nol. Jika diberikan beda potensial antara dua ujung kabel maka muncul medan listrik dalam kabel. Medan listrik menarik elektron-elektron bergerak dalam arah yang berlawanan dengan arah medan. Akibatnya elektron memiliki percepatan dalam arah yang berlawanan dengan arah medan.

Gambar 1.Ilustrasi kabel konduktor yang dialiri arus listrik Percepatan menyebabkan kecepatan elektron dalam arah berlawanan dengan medan bertambah. Tetapi karena dalam konduktor terdapat atomatom yang posisi rata-ratanya tetap tetapi selalu bergetar maka terjadi tumbukan antara elektron yang sedang dipercepat dengan atom-arom tersebut. Tumbukan tersebut melahirkan gaya gesekan pada elektron yang

berlawanan dengan arah gerak. Pada akhirnya elektron bergerak dengan kecepatan terminal tertentu. Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa kecepatan terminal elektron dalam konduktor berbanding lurus dengan kuat medan di dalam bahan, atau

61

v=E

........... (1)

dimana:

e = mobilitas muatan elektron dinyatakan dalam satuan m2/Vs


E = intensitas medan listrik dinyatakan di dalam satuan V/m

Perhatikan elemen kecil kawat sepanjang dx. Misalkan luas penampang kawat adalahA. Misalkan pula kerapatan elektron (jumlah elektron per satuan volum) adalah n. Volume elemen kawat adalah dV = Adx. Jumlah elektron dalam elemen volume adalah : dN = ndV = nAdx .......... (2) elektron

Karena satu elektron memiliki muatan e maka jumlah muatan dalam elemen volume adalah dQ = edN = neAdx Arus yang mengalir dalam kawat adalah .......... (3)

.......... (5) dimana : n= jumlah muatan listrik negative atau jumlah muatan elektron bebasper satuan volume e=muatanelektron = 1,602 x 10-19 C v = kecepatan aliran muatan =kecepatan perpindahan (drift velocity) (m/s) A= luaspenampangaliran (m2)

Satuanuntuk besaran aruslistrik di dalamsistem SI skala besar (MKS) adalahCoulumb per sekonatau Ampere (dengan simbol satuan A).

62

Kerapatan arus dalam kawat (arus per satuan luas penampang) adalah :

....... (7) Dengan = ne ....... 8

Persamaan (7) dinamakan hukumOhm intrinsik .

dimana: n = jumlah muatan negatif per satuan volume J = kerapatan arus A/m2

e = ne = 1,602 x 10-19 n C/m3 = kerapatan muatan listrik negatif


= e e = konduktivitas listrik (Ohm-1 m-1)
= ne yang dikenal dengan konduktivitas listrik. Konduktivitas listrik besar mengukur kemampuan maka bahan mengantarkan makin mudah listrik. Makin bahan konduktivitas tersebut tinggi

konduktivitas

mengantarkan

listrik. Konduktor memiliki Tabel 1. Konduktivitas listrik

sedangkan isolator memiliki konduktivitas rendah. Konduktivitas .m 3x104 1x106 3,5x107 6,1x107
-1

No 1 2 3 4 .

Nama Bahan Karbon Merkuri (Air raksa) Alumunium Perak

Dalam kesetimbangan termal, distribusi elektron berada dalam keadaan mapan (steady state) n (v)o yang tidak bergantung waktu. Dalam ruang kecepatan, distribusi n (v)o mempunyai simetri bola, dan dinamakan bola Fermi (dengan radius laju Fermi vF), serta permukaannya disebut
63

permukaan Fermi. Kecepatan electron bersifat acak, dan berkaitan dengan energi melalui ungkapan E = m v2 direpresentasikan oleh semua titik dalam bola. Arus total nol karena setiap electron yang berkecepatan v selalu berpasangan dengan yang berkecepatan v. Kecepatan elektron sangat besar di permukaan Fermi. Permukaan Fermi tidak begitu dipengaruhi oleh suhu. Bila suhu naik, hanya sedikit elektron yang melintasinya. Perlu diketahui bahwa pengukuran eksperimen menunjukkan bahwa permukaan Fermi berbentuk bola terdistorsi, sebagai akibat dilibatkannya interaksi elektron dan kisi. Hal ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya. Bila terdapat medan listrik, misalnya, elektron berubah menjadi searah sumbu -X, maka distribusi

. Perubahan ini mempunyai komponen posisi

dan waktu. Dalam hal ini bola Fermi bergeser ke arah (-X), seperti ditunjukkan oleh Gambar 2 berikut :

Gambar 2.a. Bola Fermi saat setimbang b. Pergeseran bola Fermi saat dikenakan medan

Diambil asumsi bahwa kecepatan pergeseran titik pusat oleh kehadiran medan luar ini sangat kecil bila dibandingkan dengan vrms. Bila homogen (besar dan arahnya), maka perubahan distribusi electron hanya
64

dipengaruhi oleh komponen waktu. Proses yang terjadi adalah adanya perubahan distribusi elektron karena pengaruh medan luar dan adanya proses hamburan yang ingin memulihkannya ke keadaan semula.

Soal : 1. Sebuah kawat alumunium mempunyai diameter 1,02 mm. Kawat ini mengangkut sebuah arus konstan sebesar 1,67 Ampere. Carilah besar kerapatan arus dan intensitas medan listrik kawat tersebut !

D. HUKUM OHM Dalam studi kita tentang konduktor, kita berargumen bahwa medan listrik didalam konduktor pada kondisi kesetimbangan harus nol. Jika tidak demikian, muatan-muatan bebas didalam konduktor akan bergerak. Arus didalam konduktor dihasilkan oleh medan listrik didalam konduktor ketika mendesakkan gaya pada muatan-muatan bebas. Gambar 2 memperlihatkan suatu segmen kawat dengan panjang l dan luas penampang A yang membawa arus I. Karena arah medan listrik dari daerah potensial lebih tinggi ke potensial lebih rendah (Vb ke Va), asumsikan bahwa l cukup kecil sehingga kita bisa
65

menganggap medan listrik yang melintasi segmen adalah konstan. Sehingga beda potensial V adalah : V = Vb Va = E. l ....... (9)

Gambar 2. Ilustrasi Hukum Ohm

Dari hukum Ohm intrinsik dapat diturunkan hukum Ohmmenjadi :

atau
I

AV
L

V R ........ (11)

dimana:

= hambatan listrik (Ohm),

L = Panjang konduktor A =Luas penampang konduktor (m2)

Soal : 1. Sebuah kawat perak sepanjang 50 m mempunyai diameter 1,05 mm. Kawat ini mengangkut sebuah arus konstan sebesar 2 Ampere. Berapa besar beda potensialkawat tersebut ?

E. RESISTIVITAS LISTRIK LOGAM Resistivitas listrik adalah kebalikan dari konduktivitas.Resistivitas listrik (juga dikenal sebagai resistivitas, hambatan listrik tertentu, atau

66

resistivitas volume) adalah ukuran seberapa kuat material menentang aliran arus listrik . Sebuah resistivitas rendah menunjukkan bahan yang mudah memungkinkan gerakan muatan listrik . Para SI unit listrik resistivitas adalah ohmmeteran m . Hal ini umumnya diwakili oleh huruf Yunani (rho). Bahan dengan resistivitas rendah adalah konduktor listrik yang baik dan bahan dengan resistivitas tinggi merupakan isolator yang baik. Kita mendefinisikan resistivitas sebuah material sebagai rasio dari besarnya medan listrik dan kerapatan arus :

Atau

Tabel 2. Resistivitas unsur sekitar suhu kamar

Elektron mengalami suatu tumbukan hanya karena ketidaksempurnaan keteraturan kisi. Ketidaksempurnaan tersebut dapat berupa (a) vibrasi kisi (fonon) dari ion di sekitar titik setimbang karena eksitasi termalnya, dan (b) semua ketidaksempurnaan statik, seperti ketidakmurnian atau cacat kristal. Jika
67

mekanisme keduanya dianggap saling bebas satu sama lain, maka dapatlah diungkapkan : ...... (14) dimana suku pertama ruas kanan disebabkan oleh fonon dan suku kedua oleh ketakmurnian. Menurut teori mekanika gelombang, electron bebas dalam kristal dapat bergerak tanpa kehilangan energi. Akan tetapi karena adanya pengotoran, dislokasi, dan ketidaksempurnaan kristal yang cukup banyak terjadi akan mengganggu pergerakan elektron sehingga material memiliki resistansi listrik. Adanya resistansi ini teramati sampai temperatur sangat rendah mendekati 0 K. Dalam metal, resistivitas listrik terdiri dari dua komponen, yaitu resistivitas thermal T) yang timbul karena terjadinya hambatan pergerakan elektron akibat vibrasi atom dalam kisi-kisi kristal, dan resistivitas residu r) yang timbul karena adanya pengotoran dan ketidak sempurnaan kristal. Resistivitas thermal tergantung temperatur sedangkan resistivitas residu tidak tergantung pada temperatur. Resistivitas total menjadi :

....... (15) Ungkapan ini disebut hukum Matthiessen. Tampak bahwa terdiri dari dua bentuk, yaitu : a. Resistivitas Termal(T) karena hamburan elektron oleh fonon, sehingga bergantung [ada suhu, dan b. Resistivitas residual (r) karena hamburan elektron oleh ketakmurnian (yang tidak bergantung pada suhu). Pada suhu sangat rendah, hamburan oleh fonon dapat diabaikan karena amplitudo sangat kecil; dalam hal ini f dan f = 0 sehingga (T) = r

berharga konstan dan nilainya sebanding dengan konsentrasi ketidakmurnian. Pada suhu yang cukup besar, hamburan oleh fonon menjadi dominan sehingga

68

(T)f(T). Pada suhu tinggi (termasuk suhu ruang), f(T) naik secara linier terhadap T sampai logam mencapai titik leleh. Tetapi, pada suhu rendah resistivitasnya sebanding dengan .

Keadaan di atas sesuai dengan data eksperimen untuk logam Na berikut : Pada T=0 K, berharga kecil konstan; sedangkan untuk suhu di atasnya naiksecara perlahan pada awalnya dan berikutnya secara linier terhadap T.Pada gambar disamping(290 K) =2,1.10-8 m. GejalapenyimpanganterhadaphukumMatthiessendisebutefek Misalnya, memilikihargaminimum pada suhurendah Kondo. pada

sejumlahketidakmurnian Fe yang dilarutkandalam Cu. Sifat anomali ini terjadi karena hamburan tambahan elektron oleh momen magnet dari pusat ketidakmurnian.

69

70

DINAMIKA ELEKTRON DALAM MEDAN MAGNET

A. Efek Hall Dalam logam terdapat hole dan elektron. Bila dua pita mengalami overlap satu terhadap yang lain, maka elektron berada pada pita bagian atas dan hole di bagian yang lebih rendah. Konstanta Hall saat elektron dan hole ada dalam waktu bersamaan diungkapkan oleh

........................................... dimana , Re = konstanta Hall untuk elektron Rh = konstanta Hall untuk hole e = konduktivitas listrik elektron h = konduktivitas listrik hole

(1)

Jika konsentrasi elektron sama dengan hole, ne=nh, maka besarnya Re sama dengan Rh, dan tanda R ditentukan oleh harga relatif konduktivitas e terhadap h. Harga e>h berarti bahwa elektron memiliki massa lebih kecil dan waktu hidup panjang, sehingga sumbangan elektron yang dominan dan R berharga negatif, dan sebaliknya. Jika pembawa muatan hanya elektron, maka Rh dan h berharga nol, sehingga R=Re. Hal ini didapat pada model elektron bebas. B. Resonansi Siklotron Dinamika elektron dalam medan magnet diungkapkan oleh

............................................... Perpindahan dalam waktu t dituliskan dalam bentuk

(2)

Momentum kristal berubah terhadap waktu karena kehadiran gaya Lorentz.

71

................................................. (3) Perpindahan tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh Mengingat ( ) dan .

adalah normal kontur energi dalam ruang , maka berarti k

terjadi pada sepanjang kontur energi, seperti ditunjukkan oleh Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Lintasan elektron sepanjang kontur energi dalam ruang k karena adanya medan magnet Karena elektron bergerak sepanjang kontur energi tetap, maka tidak terjadi proses penyerapan energi terhadap medan magnet. Gerakan elektron yang demikian bersifat siklis. Bila mempunyai perioda normal terhadap , maka gerak elektron

................................................. (4) dimana integrasi dilakukan sepanjang orbit tertutup elektron dalam ruang . Dengan demikian, ungkapan umum frekuensi siklotron untuk elektron Bloch ini adalah

................................................. (5)

72

Eksperimen resonansi siklotron dilakukan dengan mendatangkan berkas radiasi elektromagnetik pada daerah gelombang radio pada permukaan logam, yang sebelumnya telah dikenakan medan magnet B dalam arah tegak lurus berkas elektromagnetik, seperti disajikan oleh Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Eksperimen resonansi siklotron Radiasi elektromagnetik ini hanya mampu menembus sedalam skin depth pada permukaan logam. Elektron menyerap energi sinyal elektromagnetik. Resonansi terjadi antara gerak putar elektron karena dan energi gelombang radio yang diserapnya, serta elektron berada dalam daerah skin depth. Apabila frekuensi gelombang radio o, maka o = n c , dengan n adalah bilangan bulat. Apabila energi elektron mempunyai bentuk E=( berupa lingkaran, = /2m*), maka orbit elektron

m* dan k keduanya besarnya konstan sepanjang

kontur energi. Oleh karena itu dari pers.(5) diperoleh ungkapan frekuensi

.......................................... (6) yang sama dengan yang diperoleh oleh model elektron bebas. Resonansi siklotron, umumnya, digunakan untuk mengukur massa efektif elektron. Umumnya, frekuensi o besarnya tertentu dan medan magnet divariasi sehingga terjadi kondisi resonansi. Percobaan yang dilakukan oleh Azbel-Kaner (untuk bahan Cu) menyajikan data impedansi riil permukaan bahan terhadap medan magnet (dZ/dB) sebagai fungsi medan magnet (B), seperti Gambar 3. berikut.

73

Gambar 3. Spektrum resonansi siklotron Azbel-Kaner untuk bahan tembaga pada suhu T=4,2 K Absorbsi maksimum pada elektron dengan orbit terbesar terjadi pada permukaan Fermi yang penampang lintangnya tegak lurus B. Oleh karena itu dengan mengubah orientansi B, dapatlah diukur orbit elektron dalam berbagai arah, sehingga rekonstruksi permukaan Fermi dapat dibuat. Percobaan ini, umumnya, dilakukan pada suhu yang sangat rendah (sekitar 4 K) pada sampel yang murni dan berbentuk kristal tunggal, dan pada medan magnet yang sangat besar (sekitar 100 kG). Kondisi ini menyebabkan waktu tumbukan cukup panjang, dan frekuensi siklotron c cukup tinggi (daerah gelombang mikro), sehingga c>>1 terpenuhi dan skin depth cukup dalam.

1. Suatu kristal mempunyai kontur energi

Jika medan magnet tegak lurus terhadap bidang kontur, maka buktikan bahwa frkuensi siklotron adalah

Sumber : http://www.scribd.com/doc/100081563/Getaran-Dalam-Zat-Padat
74

TEORI PITA ZAT PADAT

A.

Pengertian Pita Energi 1. Pita energi adalah kumpulan garis pada tingkat energi yang sama akan saling berimpit dan membentuk pita 2. Tingkat- tingkat energi padat digambarkan dengan cara yang sama dengan atom tunggal. Interaksi anatar atom pada kristal hanya terjadi pada elektron bagian luar sehingga tingkat energi elektron pada orbit bagian dalam tidak berubah 3. Pada orbit bagian luar terdapat elektron yang sangat banyak dengan tingkat- tingkat energi yang berimpit satu sama lain 4. Berdasarkan asas Pauli, dalam suatu tingkat energi tidak boleh terdapat lebih dari satu elektron pada keadaan yang sama , maka apabila ada elektron yang berada pada keadaan yang sama akan terjadi pergeseran tingkat energi sehingga tidak pernah ada garis garis energi yang bertindihan.

B.

Jenis-Jenis Pita Energi 1. 2. Pita valensi adalah pita energi teratas yang terisi penuh oleh electron, pita konduksi adalah pita energi di atas pita valensi yang terisi sebagian atau tidak terisi oleh elektron. 3. Pada umumnya, antara pita valensi dan pita konduksi terdapat suatu celah yang disebut celah energi.

75

4. Konduktor Karena pita konduksi hanya terisi sebagian , maka elektron elektron pada pita konduksi dapat bergerak bebas. Pada saat ujung ujung konduktor dihubungkan dengan sumber tegangan listrik, akan terjadi aliran muatan ( aliran elektron pada pita konduksi ) sesuai dengan arah medan listriknya 5. Isolator pita konduksi tidak terisi oleh elektron , sedangkan celah energi antara pita valensi dan pita konduksi cukup besar ( sekitar 5 eV ) sehingga tidak ada elektron yang bergerak bebas . Oleh karena itu, apabila bahan isolator dihubungkan dengan sumber tegangan listrik , tidak akan terjadi aliran muatan 6. Semikonduktor Celah energi antara pita valensi dan pita konduksi pada isolator relatif kecil , yaitu sekitar 1,1 eV. Pada suhu rendah, semikonduktur akan berperilaku seperti isolator, begitupun sebaliknya.

Keterangan: P.V = Pita Valensi = pita energi yang terisi oleh elektron valensi P.K = Pita Konduksi = pita energi diatas pita valensi,yang akan terisi elektron konduksi E.g = celah energi = energi yang diperlukan elektron untuk loncat ke pita konduksi

76

Teori Pita Energi Untuk Zat Padat (Model Untuk Teori Pita Energi) Berdasarkan daya hantar listrik, zat padat dibedakan menjadi tiga jenis : Logam dan semi-logam, dengan 105 ohm-1m-1. Semikonduktor, dengan 10-5 ohm-1m-1 105 ohm-1m-1. Isolator, dengan 10-5 ohm-1m-1.

Tahanan Listrik resisivity : ohm-m) dipengaruhi oleh SUHU. Pada bahan LOGAM DAN SEMI-LOGAM resistivity akan MENINGKAT, tetapi pada bahan SEMIKONDUKTOR resitivity ini akan MENURUN seiring dengan kenaikan suhu. Untuk dapat menerangkan sifat daya hantar listrik zat padat diperlukan sebuah model. Model yang dikembangkan adalah MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI dan MODEL PITA ENERGI. MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI tidak bisa menjelaskan rentang nilai konduktivitas listrik zat padat yang lebar. Pada model ini potensial dari gugus ion diabaikan (V=0). MODEL PITA ENERGI dapat menjelaskan rentang nilai konduktivitas listrik zat padat yang lebar. Pada model ini potensial dari gugus ion tidak diabaikan atau adanya potensial berkala pada zat padat. Beberapa hal yang diperhatikan pada model PITA ENERGI: Adanya energi potensial periodik dalam keristal dengan keberkalaan kisi kristal. Fungsi gelombangnya untuk kisi sempurna (tanpa vibrasi termal, cacar geometri ataupun kimiawi). Merupakan teori elektron tunggal; hanya menelaah perilaku satu elektron saja yang manan elektron ini dipengaruhi oleh potensial periodik yang mempresentasikan semua interaksinya.

77

Dapat menggunakan persamaan Schroendinger untuk mengkaji informasi yang ada pada elektron tersebut dengan tetap mengikuti aturan sebaran FermiDirac untuk pengisian keadaan elektron.

Teorema yang dapat digunakan untuk menguraikan bentuk dan sifat fungsi Schroedinger untuk satu elektron dalam potensial berkala adalah Teorema Bloch. Fungsi-fungsinya dikenal dengan Funsi Bloch.

Teori Pita Energi Untuk Zat Padat (Teorema Bloch, Bentuk dan Sifat Fungsi ) Dalam Telaah Bloch potensial periodiknya merupakan superposisi dua potensial: 1. Potensial berkala dari kisi-kisi gugus-gugus atom atau ion. 2. Potensial yang berasal dari semua elektron terluar atom-atom kristal. Fungsi gelombang Schroedinger ketika ada potensial periodik untuk keberkalaan kisi adalah:

Merupakan fungsi yang memiliki keberkalaan kisi kristal

Gambaran

potensial

periodik

untuk

kisi

linier

monoatomik

Persamaan Schroedinger untuk elektron dalam kristal linier monoatomik dengan

Kesimpulan dari persamaan Schrondinger di atas adalah;

78

1. Jika

punya solusi untuk harga energi E, maka

juga punya solusi

E. Jika tedapat degenerasi maka 2. Dari syarat batas siklis Born-von Karmann didapat untuk elektron ruang kristal yang terbatas. 3. ntuk setiap X akan didapat yang berulang setelah N buah sel satuan.

Panjang kristal l=Na. Sehingga didapat; 4. Fungsi gelombang elektron bebas dalam satu dimensi adalah ; untuk potensial nol. Untuk potensial yang tidak nol fungsinya :

Dari fungsi

fungsi periodik

didapat a. Potesial bernilai riil, artinya

yang merupakan fungsi periodik dengan keberkalaan

sehingga didapat

79

Keduanya memiliki nilai eigen E, sehingga E(k)=E(-k) Vektor k dan vektor kisi G memiliki dimensi yang sama. Semua harga k yang tepat dapat dikembalikan ke selang harga k dalam daerah ini dinamakan Brillouin zone I. G.a = m.2 m = 0, G= Keterangan: G adalah vector kisi a = jarak untuk Kristal linier dengan jarak antara Kristal linier lainnya . Selang

Maka

80

Bagaimana batas vector gelombang dengan suatu electron? G.m= K = G . m + K serta Teorema Bloch Persamaan Schrodinger Teorema Bloch memberikan bentuk dan sifat umum solusi persamaan Schroedinger elektron dalam kisi periodik satu dimensi dan tidak memberikan solusi spesifik. Teori Pita Energi Untuk Zat Padat (Model Kronig-Penney) Model ini mengkaji perilaku elektron dalam kristal linier monoatomik dan memberikan indikasi adanya selang energi elektron yang diperkenankan dan yang tidak diperkenankan. Model Kronig Penney menelaah dalam gerak electron dalam suatu potensial berkala seperti gambar dibawah ini.

Model ini mempelajari perilaku elektron dalam potensial dengan periode (a+b). v(x) perode (a+b), dengan perincian potensial sebagai berikut:

81

a. V= 0 ; 0 < x < a b. V= ; -b < x < 0 Persamaan Schrodingernya;

Solusi persamaan ini dibatasi harga E < Vo dan dibataskan pada dua besaran riil, dan . teorema Bloch Dengan mensubstitusikan solusi umum dari ke persamaan schrodinger akan didapatkan;

Kita misalkan maka

menjadi

Maka persamaan diatas menjadi Sekarang kita misalkan menjadi


82

Kita dapatkan persamaan

dengan solusi dengan A, B, C dan D ditetapkan berdasarkan syarat batas. Sehingga didapat empat persamaan linier yang determinan solusinya tidak-sama dengan nol. Penyemaan determinan sama dengan nol akan didapatkan;

Sketsa lengkung

adalah

, garis-garis terputusnya adalah , kedua nilai itu merupakan

nilai maksimum dan minimum cos ka, yang selanjutnya menjadi selang dengan batasan ,maka terbatasnya harga pada nilai

tertentu juga membatasi energi yang dapat dimiliki oleh elektron. Dengan demikian model ini memberikan informasi pita-pita energi yang diperkenankan dan terlarang bagi elektron.

Kesimpulan umum dari lengkung

adalah;

83

1. Spektrum energi elektron terdiri dari beberapa pita energi. 2. Meningkatnya nilai akan memperlebar pita energi yang diperkenankan.

3. Bartambahnya P (bVo ), mempersempit lebar pita energi yang diperkenankan. 4. Jika P mendekati tak-hingga, artinya elektron berada dalam kotak potensial berdinding tak-hingga dengan leber a. 5. Jika P mendekati nol, artinya elektron berada pada keadaan elektron bebas. 6. Diskontinue E terjadi pada , yaitu pada

Di bawah ini adalah Sketsa ramalan harga energi elektron pada potensial periodik kristal monoatomik linier dan kaitan model Kroning-Penney dengan harga energi untuk elektron bebas dan elektron dalam kotak potensial berdinding tak-hingga.

84

Struktur level energi untuk derajat ikatan yang berbeda

Kesimpulan umum dari persamaan

adalah;

1. Harga a tidak dapat ditentukan secara pasti, tetapi dapat diperkirakan selanng nilai a yang diperbolehkan. 2. Diskontinuitas nilai a, terjadi pada coska bernilai +1 dan -1. yaitu saat

3. Selang

terlarang

harga

(a)

terlarang

tidak

ada

solusi

pada

. Sehinggga selang ini merupakan energi terlarang bagi elektron.

85

SEMIKONDUKTOR DAN PERANGKAT SEMIKONDUKTOR

A.

Semikonduktor Disebut semi atau setengah konduktor, karena bahan ini memang bukan konduktor murni. Bahan semikonduktor memiliki konduktivitas listrik yang berada diantara isolator dan konduktor. Sebuah semikonduktor bersifat sebagai isolator pada temperatur yang sangat rendah, namun pada temperatur ruangan bersifat sebagai konduktor. Bahan semikonduktor yang sering digunakan adalah silikon, germanium, dan gallium arsenide. Bahanbahan logam seperti tembaga, besi, timah disebut sebagai konduktor yang baik sebab logam memiliki susunan atom yang sedemikian rupa, sehingga elektronnya dapat bergerak bebas. Semikonduktor Intrinsik (murni) Silikon dan germanium merupakan dua jenis semikonduktor yang sangat penting dalam elektronika. Keduanya terletak pada kolom empat dalam tabel periodik dan mempunyai elektron valensi empat. Struktur kristal silikon dan germanium berbentuk tetrahedral dengan setiap atom memakai bersama sebuah elektron valensi dengan atom-atom tetangganya.

86

87

Semikonduktor Ekstrinsik (Tak Murni) Semikonduktor yang memperoleh pengotoran atau penyuntikan (doping) oleh atom asing.

1.

Semikonduktor tipe-n Bahan silikon diberi doping phosphorus atau arsenic yang pentavalen yaitu bahan kristal dengan inti atom memiliki 5 elektron valensi. Dengan doping, Silikon yang tidak lagi murni ini (impurity semiconductor) akan memiliki kelebihan elektron. Kelebihan elektron membentuk

semikonduktor tipe-n. Semikonduktor tipe-n disebut juga donor yang siap melepaskan elektron.Dengan cara yang sama seperti pada semikonduktor tipe-n,

88

2.

Semikonduktor tipe-p Kalau silikon diberi doping Boron, Gallium atau Indium, maka akan didapat semikonduktor tipe-p. Untuk mendapatkan silikon tipe-p, bahan dopingnya adalah bahan trivalen yaitu unsur dengan ion yang memiliki 3 elektron pada pita valensi. Karena ion silikon memiliki 4 elektron, dengan demikian ada ikatan kovalen yang bolong (hole). Hole ini digambarkan sebagai akseptor yang siap menerima elektron. Dengan demikian, kekurangan elektron menyebabkan semikonduktor ini menjadi tipe-p.

B. Perangkat Semi Konduktor Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini dimungkinkan karena bahan material yang menyusun sel surya berupa

89

semikonduktor. Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni jenis n dan jenis p. Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan elektron, sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif). Sedangkan semikonduktor jenis p memiliki kelebihan hole, sehingga disebut dengan p ( p = positif) karena kelebihan muatan positif. Caranya, dengan menambahkan unsur lain ke dalam semkonduktor, maka kita dapat mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan pada gambar di bawah ini.

Pada

awalnya,

pembuatan

dua

jenis

semikonduktor

ini

dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar listrik dan panas semikonduktor alami. Di dalam semikonduktor alami (disebut dengan semikonduktor intrinsik) ini, elektron maupun hole memiliki jumlah yang sama. Kelebihan elektron atau hole dapat meningkatkan daya hantar listrik maupun panas dari sebuah semikoduktor. Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si). Semikonduktor jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron (B), aluminum (Al), gallium (Ga) atau Indium (In) ke dalam Si. Unsur-unsur tambahan ini akan menambah jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n dibuat dengan menambahkan nitrogen (N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam Si. Dari sini, tambahan elektron dapat

90

diperoleh. Sedangkan, Si intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha menambahkan unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih dari 1 % dibandingkan dengan berat Si yang hendak di-doping. Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk sambungan p-n atau dioda p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan metalurgi / metallurgical junction) yang dapat digambarkan sebagai berikut. 1. Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung.

2. Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan elektron-elektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas sambungan awal.

3. Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p yang mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini akhirnya berubah menjadi lebih bermuatan positif..

Pada saat yang sama. hole dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang ada pada semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif.

91

4. Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion region) ditandai dengan huruf W. 5. Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena

keberadaannya di jenis semikonduktor yang berbeda. 6. Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah deplesi, maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor p dan elektron ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung berlawanan dengan perpindahan hole maupun elektron pada awal terjadinya daerah deplesi (nomor 1 di atas).

7. Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali kearah semikonduktor p akibat medan listrik E. Begitu pula dengan jumlah elektron yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi dengan mengalirnya kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan medan listrik E. Dengan kata lain, medan listrik E mencegah seluruh elektron dan hole berpindah dari semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang lain.

92

Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi listrik terjadi. Untuk keperluan sel surya, semikonduktor n berada pada lapisan atas sambungan p yang menghadap kearah datangnya cahaya matahari, dan dibuat jauh lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari yang jatuh ke permukaan sel surya dapat terus terserap dan masuk ke daerah deplesi dan semikonduktor p.

Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka elektron mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya elektron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron yang disebut dengan fotogenerasi elektron-hole (electron-hole photogeneration) yakni, terbentuknya pasangan elektron dan hole akibat cahaya matahari.

93

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol lambda sbgn di gambar atas ) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada sambungan pn berada pada bagian sambungan pn yang berbeda pula. Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana. Spektrum biru dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek hanya terserap di daerah semikonduktor n. Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrik E, elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu pula dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p. Apabila rangkaian kabel dihubungkan ke dua bagian semikonduktor, maka elektron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.

94

Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja sel surya secara umum, ilustrasi di bawah ini menjelaskan segalanya tentang proses konversi cahaya matahari menjadi energy listrik.

95

SUPERKONDUKTOR

1. Sejarah Superkonduktor Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911. Pada tanggal 10 Juli 1908, Onnes berhasil mencairkan helium dengan cara mendinginkan hingga 4 K atau 269oC. Kemudian pada tahun 1911, Onnes mulai mempelajari sifat-sifat listrik dari logam pada suhu yang sangat dingin. Pada waktu itu telah diketahui bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika didinginkan dibawah suhu ruang, akan tetapi belum ada yang dapat mengetahui berapa batas bawah hambatan yang dicapai ketika temperature logam mendekati 0 K atau nol mutlak. Beberapa ilmuwan pada waktu itu seperti William Kelvin memperkirakan bahwa elektron yang mengalir dalam konduktor akan berhenti ketika suhu mencapai nol mutlak. Dilain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes memperkirakan bahwa hambatan akan menghilang pada keadaan tersebut. Untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes kemudian mengalirkan arus pada kawat merkuri yang sangat murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil menurunkan suhunya. Pada suhu 4,2 K, Onnes mendapatkan hambatannya tiba-tiba menjadi hilang.Arus mengalir melalui kawat merkuri terus-menerus. Dengan tidak adanya hambatan, maka arus dapat mengalir tanpa kehilangan energi. Percobaan Onnes dengan mengalirkan arus pada suatu kumparan

superkonduktor dalam suatu rangkaian tertutup dan kemudian mencabut sumber arusnya lalu mengukur arusnya satu tahun kemudian ternyata arus masih tetap mengalir. Fenomena ini kemudian oleh Onnes diberi nama superkondutivitas. Atas penemuannya itu, Onnes dianugerahi Nobel Fisika pada tahun 1913.

96

2. Teori Superkonduktor 2.1. Pengertian Superkonduktor Berdasarkan bahasa konduktor artin ya suatu bahan yang dapat menghantarkan listrik dan super artinya luar biasa. Sehingga superkonduktor itu adalah suatu bahan yang bisa menghantarkan listrik dengan sangat hebat. Superkonduktor merupakan bahan material yang memiliki hambatan listrik bernilai nol pada suhu yang sangat rendah. Artinya superkonduktor dapat menghantarkan arus walaupun tanpa adanya sumber tegangan. Karakteristik dari bahan Superkonduktor adalah medan magnet dalam superkonduktor bernilai nol dan mengalami efek meissner. Resistivitas suatu bahan bernilai nol jika dibawah suhu kritisnya.

Gambar 1. Grafik hubungan antara resistivitas terhadap Suhu

2.2. Sifat Kelistrikan Superkonduktor Sebelum menjelaskan prinsip superkonduktor, akan lebih baik jika terlebih dahulu menjelaskan bagaimana kerja logam konduktor pada umumnya. Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis serta electron bebas. Ketika medan listrik diberikan pada bahan, elektron akan mendapat percepatan. Medan listrik akan menghamburkan elektron ke segala arah dan menumbuk atom-atom pada kisi. Hal ini menyebabkan adanya hambatan listrik pada logam konduktor.

97

Gambar 2. Keadaan normal Atom Kisi pada logam Pada bahan superkonduktor terjadi juga interaksi antara electron dengan inti atom. Namun elektron dapat melewati inti tanpa mengalami hambatan dari atom kisi. Efek ini dapat dijelaskan oleh Teori BCS. Ketika elektron melewati kisi, inti yang bermuatan positif menarik elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan elektron bergetar.

Gambar 3. Keadaan Superkonduktor Atom Kisi pada logam

Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron kedua akan mendekati elektron pertama karena gaya tarik dari inti atom-atom kisi lebih besar. Gaya ini melebihi gaya tolak-menolak antar elektron sehingga kedua elektron bergerak berpasangan. Pasangan ini disebut Cooper Pairs. Efek ini dapat dijelaskan dengan istilah Phonons. Ketika
98

elektron pertama pada Cooper Pairs melewati inti atom kisi. Elektron yang mendekati inti atom kisi akan bergetar dan memancarkan Phonon. Sedangkan elektron lainnya menyerap Phonon. Pertukaran Phonon ini mengakibatkan gaya tarik menarik antar elektron. Pasangan elektron ini akan melalu kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan.

2.3. Sifat Kemagnetan Superkonduktor Sifat lain dari superkonduktor yaitu bersifat diamagnetisme sempurna. Jika sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan magnet, maka tidak akan ada medan magnet dalam superkonduktor. Hal ini terjadi karena superkonduktor menghasilkan medan magnet dalam bahan yang berlawanan arah dengan medan magnet luar yang diberikan. Efek yang sama dapat diamati jika medan magnet diberikan pada bahan dalam suhu normal kemudian didinginkan sampai menjadi superkonduktor. Pada suhu kritis, medan magnet akan ditolak. Efek ini dinamakan Efek Meissner.

2.4. Efek Meissner Pada tahun 1933 Meissner dan Ochsenfeld, dua ahli fisika jerman menemukan bahwa superkonduktor menolak medan magnetik yang mengenainya. Gaya tolak tersebut dapat di ilustrasikan dengan gambar di bawah ini.

99

Ketika superkonduktor ditempatkan di medan magnet luar yang lemah, medan magnet akan menembus superkonduktor pada jarak yang sangat kecil dan dinamakan London Penetration Depth. Pada bahan

superkonduktor umumnya London Penetration Depth sekitar 100 nm. Setelah itu medan magnet bernilai nol. Peristiwa ini dinamakan Efek Meissner dan merupakan karakteristik dari superkonduktor. Efek Meissner adalah efek dimana superkonduktor menghasilkan medan magnet. Efek Meissner ini sangat kuat sehingga sebuah magnet dapat melayang karena ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila medan magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan material akan kehilangan sifat superkonduktivitasnya.

100

Gambar 5. Efek Meissner

2.5. Tipe tipe Superkonduktor Berdasarkan interaksi dengan medan magnetnya, maka

superkonduktor dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu Superkonduktor Tipe I dan Superkonduktor Tipe II. 2.5.1. Superkonduktor Tipe I Superkonduktor tipe I menurut teori BCS (Bardeen, Cooper, dan Schrieffer) dijelaskan dengan menggunakan pasangan elektron (yang sering disebut pasangan Cooper). Pasangan elektron bergerak sepanjang terowongan penarik yang dibentuk ion-ion logam yang bermuatan positif. Akibat dari adanya pembentukan pasangan dan tarikan ini arus listrik akan bergerak dengan merata dan superkonduktivitas akan terjadi.

Superkonduktor yang berkelakuan seperti ini disebut superkonduktor jenis pertama yang secara fisik ditandai dengan efek Meissner, yakni gejala penolakan medan magnet luar (asalkan kuat medannya tidak terlalu tinggi) oleh superkonduktor. Bila kuat medannya melebihi batas kritis, gejala

101

superkonduktivitasnya akan menghilang. Maka pada superkonduktor tipe I akan terus menerus menolak medan magnet yang diberikan hingga mencapai medan magnet kritis. Kemudian dengan tiba-tiba bahan akan berubah kembali ke keadaan normal.

2.5.2. Superkonduktor Tipe II Superkonduktor tipe II ini tidak dapat dijelaskan dengan teori BCS karena apabila superkonduktor jenis II ini dijelaskan dengan teori BCS, efek Meissner nya tidak terjadi. Abrisokov berhasil memformulasikan teori baru untuk menjelaskan superkonduktor jenis II ini. Ia mendasarkan teorinya pada kerapatan pasangan elektron yang dinyatakan dalam parameter keteraturan fungsi gelombang. Abrisokov dapat menunjukkan bahwa parameter tersebut dapat mendeskripsikan pusaran (vortices) dan bagaimana medan magnet dapat memenetrasi bahan sepanjang terowongan dalam pusaran-pusaran ini. Lebih lanjut ia pun dengan secara mendetail dapat memprediksikan jumlah pusaran yang tumbuh seiring meningkatnya medan magnet. Teori ini merupakan terobosan dan masih digunakan dalam pengembangan dan analisis superkonduktor dan magnet. Superkonduktor tipe II akan menolak medan magnet yang diberikan. Namun perubahan sifat kemagnetan tidak tiba-tiba tetapi secara bertahap. Pada suhu kritis, maka bahan akan kembali ke keadaan semula. Superkonduktor Tipe II memiliki suhu kritis yang lebih tinggi dari superkonduktor tipe I.

2.6 Kelompok Superkonduktor Berdasarkan nilai suhu kritisnya, superkonduktor dibagi menjadi dua kelompok yaitu : 2.6.1. Superkonduktor bersuhu kritis rendah Superkonduktor jenis ini memiliki suhu kritis lebih kecil dari 23 K. Superkonduktor jenis ini sudah ditinggalkan karena biaya yang mahal untuk mendinginkan bahan.

102

2.6.2. Superkonduktor bersuhu kritis tinggi Superkonduktor jenis ini memiliki suhu kritis lebih besar dari 78 K. Superkonduktor jenis ini merupakan bahan yang sedang dikembangkan sehingga diharapkan memperoleh superkonduktor pada suhu kamar sehingga lebih ekonomis. Contoh

Superkonduktor bersuhu kritis tinggi adalah sampel bahan YBa2Cu3O7-x. Bahan ini memiliki struktur kristal orthorhombik = 90

2.7. Suhu Pemadaman Suhu pemadaman merupakan batas suhu untuk merusak sifat superkonduktor. Artinya pada suhu ini superkonduktor akan rusak.

Pada grafik diatas dapat kita lihat bahwasanya makin tinggi suhu yang diberikan pada bahan superkonduktor, maka struktur Kristal

superkonduktor tidak lagi berbentuk ortorombik. Maka dengan adanya perubahan struktur kristal superkonduktor, suatu bahan akan kehilangan sifat superkonduktornya.

103

Grafik diatas menunjukan hubungan antara suhu kritis dengan suhu bahan superkonduktor. Jika suhu yang diberikan pada bahan Sumbu kristal superkonduktor makin besar, maka suhu kritis bahan akan mendekati nilai nol kelvin.

2.8.Sintesis Superkonduktor a. Sampel YBa2Cu3O7 Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sampel YBa2Cu3O7 adalah Y2O3, BaCO3, CuO. Langkah-langkah sintesis Sampel YBa2Cu3O7 diantaranya : 1.Persiapan bahan dengan komposisi awal dengan menggunakan perbandingan molar off-stokiometri. 2.Pencampuran dan penggerusan pertama di dalam mortar agate. Kalsinasi pada suhu 9400 C selama 24 jam. 3. Pendinginan pada suhu kamar. 4. Sintering pada suhu 9400 C. 5. Pendinginan dalam tungku.

b. Sampel BPSCCO-2223

104

Bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan sintesis bahan Sampel BPSCCO-2223 adalah Bi2O3, PbO, SrCO3, CuO, CaCO3. Langkahlangkah sintesis Superkonduktor Sampel BPSCCO-2223 terdiri dari : 1.Persiapan bahan dengan komposisi awal dengan menggunakan perbandingan molar off-stokiometri. 2.Pencampuran dan penggerusan pertama di dalam mortar agate. Kalsinasi pada suhu 8100 C selama 20 jam. 3. Penggerusan kedua. 4. Sintering pada suhu 8300 C. 5. Pendinginan dalam tungku.

Selama proses pembentukan sampel tersebut, sampel akan diujikan dengan yang diarahkan untuk mengendalikan pewaktuan dari proses sintering dengan suhu pilihan adalah 8300 C. Setelah proses sintering selesai dalam waktu yang berkesesuaian (30 jam, 60 jam, 90 jam), maka akan diadakan beberapa pengujian karakteristik sampel, yaitu: 1. Uji Efek Meissner 2. Uji X-ray Diffraction 3. Pengukuran Suhu Kritis (Tc) 4. Pengukuran Fraksi Volume (FV)

3. Perkembangan Superkonduktor Perkembangan peningkatan suhu kritis Tc pada superkonduktor ditunjukkan dalam grafik dibawah ini.

105

Gambar 11. Grafik Suhu Kritis terhadap tahun penemuan

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan dalam suhu kritis superkonduktor. Pada awalnya suhu kritis superkonduktor itu sangat rendah yaitu kurang dari 4,2 K untuk logam raksa, tetapi pada perkrmbangan selanjutnya suhu kritis dari superkonduktor itu meningkat secara perlahan lahan hingga mencapai suhu kritis tertinggi pada suhu 138 K untuk HgBaCaCuO. Penemuan yang berkaitan dengan superkonduktor terzjadi pada tahun 1933. Walter Meissner dan Robert Ochsenfeld menemukan bahwa suatu superkonduktor akan menolak medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan dalam medan magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam konduktor tersebut. Akan tetapi, dalam superkonduktor arus yang dihasilkan tepat berlawanan dengan medan tersebut sehingga medan tersebut tidak dapat menembus material superkonduktor tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak. Fenomena ini dikenal dengan istilah Diamagnetisme dan efek ini kemudian dinamakan Efek Meissner. Selanjutnya ditemukan juga superkonduktor-superkonduktor lainnya. Selain merkuri, ternyata beberapa unsur-unsur lainnya juga menunjukkan sifat superkonduktor dengan harga Tc yang berbeda. Sebagai contoh, karbon bersifat

106

superkonduktor dengan Tc 15 K. Hal yang ironis adalah logam emas, tembaga dan perak yang merupakan logam konduktor terbaik bukanlah superkonduktor.

Pada tahun 1986 Alex Mller and Georg Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di Rschlikon, Switzerland berhasil membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum, Barium, Tembaga, dan Oksigen yang bersifat superkonduktor pada suhu tertinggi pada waktu itu, 30 K. Penemuan ini menjadi spektakuler karena keramik selama ini dikenal sebagai isolator. Keramik tidak menghantarkan listrik sama sekali pada suhu ruang. Penemuan ini membuat keduanya diberi penghargaan hadiah Nobel setahun kemudian. Pada bulan Februari 1987, ditemukan suatu keramik yang bersifat superkonduktor pada suhu 90 K. Penemuan ini menjadi penting karena dengan demikian dapat digunakan nitrogen cair sebagai pendinginnya. Karena suhunya cukup tinggi dibandingkan dengan material superkonduktor yang lain, maka material-material tersebut diberi nama superkonduktor suhu tinggi. Suhu tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor saat ini adalah 138 K, yaitu untuk suatu bahan yang memiliki rumus Hg0.8Tl0. 2Ba2Ca2Cu3O8.33.

Bahan
Raksa Hg ( ) Timbal Pb Niobium nitrida Niobium-3-timah Al0,8Ge0,2Nb3 Niobium germanium Lanthanum barium tembaga oksida Yttrium barium tembaga oksida (12-3 atau YBCO)

Tc (K)
4,2 7,2 16,0 18,1 20,7 23,2 28

Ditemukan
1911 1913 1960-an 1960-an 1960-an 1973 1985

93

1987

107

Thalium barium kalsium tembaga oksida

125

1987

4. Aplikasi Superkonduktor Aplikasi Superkonduktor dalam kehidupan diantaranya : a. Kabel Listrik. Dengan menggunakan bahan superkonduktor, maka energi listrik tidak akan mengalami disipasi karena hambatan pada bahan superkonduktor bernilai nol. Maka penggunaan energi listrik akan semakin hemat.

b. Alat Transportasi Penggunaan superkonduktor dalam bidang transportasi adalah Kereta Listrik super cepat yang dikenal dengan sebutan Magnetik Levitation (MAGLEV).

108