7

Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

BAB II KAJIAN TEORI TENTANG ILMU YANG BERKEMBANG DI PULAU JAWA

Di Nusantara tercinta ini, Pulau Jawa merupakan salah satu pulau di antara ribuan pulau yang tersebar di nusantara. Dilihat dari berbagai segi, pulau jawa memiliki kelebihan dibandingkan dengan pulau-pulau yang lain, sehingga dinamika masyarakat penduduknya lebih dinamis dan sangat kompleks. Kelebihan Pulau Jawa tersebut dilatarbelakangi oleh tiga hal utama, yakni historis, geografis, dan demografis. Secara historis kerajaan-kerajaan besar-kecil tersebar di Pulau Jawa, silih berganti dari abad ke abad, sehingga meninggalkan sejumlah warisan dalam berbagai bentuk, baik yang berwujud benda maupun nonbenda. Demikian juga dengan penjajah, perhatian mereka baik secara politis maupun ekonomis berfokus ke Pulau Jawa. Secara geografis, Pulau Jawa memiliki sejumlah gunung berapi yang aktif dan sering

menumpahkan laharnya, sehingga menyebabkan tanahnya subur dan sangat baik untuk bercocok tanam. Oleh karena itu, banyak penduduk yang bermukim di sini. Maka, berdasarkan kedua latar belakang di atas, penduduk Pulau Jawa relatif lebih banyak dibandingkan pulau-pulau yang lain. Berikutnya, bebagai aspek kehidupan pun berkembang di sini, termasuk

perkembangan ilmu pengetahuan. Karena di samping memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, bermacam-macam ilmu pun tumbuh dan berkembang dengan pesat sampai saat ini, baik yang bersifat akademik ilmiah, maupun yang bersifat religius dan mistis. Dari hasil telaah kami, di Pulau Jawa ini terdapat berbagai sumber ilmu yang bernilai tinggi, namun semakin lama semakin terlupakan karena kalah populer oleh ilmu-ilmu pengetahuan modern yang datang dari berbagai penjuru dunia, terutama

8
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

dari Barat. Sebagai bahan perandingan, berikut kami kemukakan sumber ilmu yang telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, yakni Wirid

Hidayat Jati warisan para Wali, Kidoeng Kaislaman (Buahna Iman Islam),
dan Tutungkusan Karuhun Sunda.

2.1

Wirid Hidayat Jati Wirid Hidayat Jati ini kami kutip dari buku karangan Raden Ngabehi

Ronggowarsito, seorang pujangga besar di keraton Surakarta yang diakui kehebatannya, terutama oleh masyarakat Jawa. Pesan dari penulisnya, untuk memahami buku ini pembaca harus sudah membekali diri dengan pengetahuan Al Quran dan Al Hadits agar tidak salah mengerti. Kami berpendapat, para praktisi ilmu dan mahasiswa penting untuk mengkaji ini dalam upaya mengembangkan wawasan keilmuan dari berbagai dimensi. Hidayat Jati ini pada dasarnya merupakan petunjuk sejati yang menjelaskan kedudukan ilmu ma’rifat yang lahir dari ajaran para Wali di tanah Jawa. Sepeninggal Kanjeng Susuhunan di Ampeldenta (Sunan Ampel), mereka bermaksud menjabarkan wiridan yang merupakan inti dari ajaran ilmu kesempurnaan masing-masing. Semula, para wali hanya mengajarkan ilmu masing-masing, seperti yang dikemukakan oleh R.Ng. Ronggowarsito (1997:7): Yang pertama: bersangkutan pada zaman awal berdirinya Negeri Demak para wali yang mau memberikan ajarannya hanya ada delapan: 1. Kanjeng Susuhunan di Giri Kedhaton ; ajarannya berupa ilham adanya Zat 2. Kanjeng Susuhunan di Tandhes: ajarannya uraian mengenai wahana zat 3. Kanjeng Susuhunan di Majagung: ajarannya mengenai gelaran keadaan zat 4. Kanjeng Susuhunan di Benang: ajarannya mengenai pembuka tata mahligai di dalam Baetulmakmur 5. Kanjeng Susuhunan di Tembayat: atas perkenan dan ijin Kanjeng Sunan Kalijaga menyampaikan wejangan mengenai pembka tata mahligai di dalam Baitul Mukaram

9
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

6. Kanjeng Susuhunan di Kalinyamat: ajarannya mengenai pembuka tata mahligai di dalam Baitulmukadas 7. Kanjeng Susuhunan di Gunungjati: ajarannya yaitu penetap kesentosaan iman 8. Kanjeng Susuhunan di Kajenar: memberikan ajaran tentang sasahidan atau persaksian. Kemudian, pada zaman Mataram, Kanjeng Sultan Agung

Anyakrakusumah, ke delapan ajaran itu hendak dihimpunnya dengan segenap perabotannya agar dapat meliputi maknanya semua. Ilmu-ilmu di atas dijabarkan menjadi satu ajaran saja. Setelah semua para ahli ilmu sepakat, Kanjeng Sultan memerintahkan kepada para ahli yang menguasai ilmu untuk menyampaikan wejangan demikian. Mengenai ajaran yang sudah dihimpun menjadi satu itu, isinya

sama berasal dari kutipan-kutipan dari semacam kitab-kitab tasawuf. Perkembangan selanjutnya, karena banyaknya guru yang mengajarkan ilmu di atas ada juga yang hanya mengajarkan ilmu perabotannya saja, bahkan ada yang hanya mengajarkan imju ma’rifat saja, ilmu gaib saja, ilmu talek saja (ilmu yang menjabarkan keajaiban). Sehingga apa yang sudah dihimpun menjadi satu, akhirnya terpisah-pisah lagi. Selanjutnya diperdalam lagi oleh Kyageng Muhammad Sirullah di Kedungkol, dan pada tahun 1779 Ronggosogoto wargosinuta mendapat ilham dari Tuhan Yang Maha Suci untuk menata kembali ilmu-ilmu ma’rifat serta menyampaikan tujuan dan maksud ajarannya sekaligus, mengikuti wejangan delapan macam yang dikumpulkan menjadi satu, dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, wejangan dari Kanjeng Susuhunan di Giri Kedaton,
wejangan ini disebut ilham atau bisikkan adanya zat, karena oleh yang menyampaikannya dibisikan di telinga kiri yang menjelaskan wahyu Tuhan yang Maha Suci kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, dengan terjemahan sebagai berikut:

”Sajatine ora ana apa-apa; awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji; kang ana dhingin iku ingsun, ora ana Pangeran

10
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Nanging Ingsun; sajatine Kang Maha Suci anglimputi ing Sifat Ingsun; anartani ing asman-Ingsun, amratandhani ing apngal Ingsun” (Sesungguhnya tidak ada apa pun: sebab ketika masih
berupa angkasa belum ada satu pun; yang ada mula-mula adalah Aku, Tiada Tuhan selain Aku; sesungguhnya Yang Mahasuci meliputi sifat-Ku, menyertai Nama-Ku, menunjukkan kepada perbuatan-Ku).

Kedua, wejangan oleh Kanjeng Susuhunan di Tandhes, dinamakan
uraian wahana Zat, oleh penjabarannya disampaikan urutan-urutan terjadinya Zat, Sifat, dan wahananya sebagaimana dijelaskan pada dalil ilmu yang kedua, kutipan dari kitab Dakaikalkhakaik (hakikatnya hakikat, kebenaran yang benar). Di sini dijelaskan wahyu yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, dengan terjemahan sbb:

”Sajatine ingsun Dat Kang Amurba Amisesa kang kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodrat-Ingsun, Ing kono wus kanyatan pratandhaning ApngalIngsun kang minangka bebukaning Iradat-Ingsun. Kang dhingin Ingsun anitahaken hayu aran Sajaratul yakin tumuwuh ing sajroning alam ngadammakdum ajali abadi. Nuli cahya aran Nur Muhammad, Nuli kaca aran Kandhi, Nuli sesotya aran Darah, Nuli dhindhing jalal aran Kijab. Iku kang minangka warananing KalaratIngsun”.(Sesungguhnya Aku Zat Yang Maha Kuasa, yang berkuasa
menciptakan segala sesuatunya, menjadikan seketika, sempurna atas Kodrat-Ku. Di situlah kenyataan menunjukkan af’al-Ku (perbuatan-Ku) yang merupakan pembuka Iradat-Ku. Yang pertama Aku menciptakan hayyu bernama Sajaratulyakin, tumbuh di dalam alam adam makdum ajali abadi. Kemudian cahaya bernama Nur Muhammad, Lalu kaca bernama Mirhatulkayai. Kemudian nyawa bernama roh illafi. Kemudian dinding agung bernama Kijab. Itu yang merupakan dinding kehadirat-Ku).

Ketiga, wejangan oleh Kanjeng Susuhunan di Majagung, yang
dinamakan gelar keadaan zat, sebab oleh pemberi wejangan dijabarkan tentang kenyataan unsur-unsur zat, sifat, yakni ketika Tuhan Yang Maha Suci hendak mewujudkan sifatnya. Penjabaran keadaan tersebut terdapat dalam kitab ketiga, kutipan dari kitab Bayan humirat mufakat dengan Kitab Bayan Alif. Dalam kitab tersebut dijelaskan wahyu Tuhan Yang Maha

11
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Suci kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah yang terjemahannya sebagai berikut:

Sajatine manungsa iku rahsaningsun Lan Ingsun iki rahsaning manungsa. Karana ingsun anitahaken Adam, asal saka anasir patang prakara ; 1 bumi, 2 geni, 3 angin, 4 banyu. Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun. Ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara; 1. Nur, 2. Rahsa, 3 Roh, 4 Napsu, 5 Budi. Iya iku minangka warananing Wajahingsun Kang Maha Suci”(Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini
rahasia manusia. Sebab Aku menciptakan Adam berasal dari unsur empat hal: 1. Bumi, 2. Api, 3. Angin, 4. Air, itu yang merupakan wujud sifat-sifat-Ku. Di situ Aku memasukkan Zat mahluk lima hal : 1. Nur, 2. Rahasia, 3. Roh, 4. Nafsu, 5. Budi, itu semua merupakan dinding wajah-Ku Yang Maha Suci).

Keempat, wejangan oleh Kanjeng Susuhunan di Benang, yang
dinamakan kebenaran atau bukti adanya Tuhan Yang Maha Luhur. Yaitu pembuka tata mahligai di dalam Baitulmakmur. Oleh pemberi wejangan dibukakan kodrat irodat Tuhan Yang Maha Suci yang hendak

mendudukkan mahligai Zat sebagai baitullah di dalam kepala manusia. Dalam kitab Insan Kamil dikemukakan tentang wahyu Tuhan Yang Maha Suci kepada Nabi Muhammad Rasulullah, pada ayat pertama yang terjemahannya sbb:

”Sajatine ingsun anata malige ana sajroning Betalmakmur, iku omah enggonineng Parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirahiku dimak, yaiku utek, kang ana antraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, nanging Ingsun Dat Kang nglimputi ing kahanan jati”(Sesungguhnya Aku menata
mahligai ada di dalam baitul makmur, itu adalah rumah tempat kesenangan-Ku, ada di dalam kepala Adam. Yang ada di dalam kepala itu dimak atau otak; yang ada di antara otak itu adalah manik; di dalam manik ada budi, di dalam budi ada nafsu; di dalam nafsu ada suksma, di dalam suksma ada rahasia; di dalam rahasia itulah Aku; tiada Tuhan selain Aku Zat Yang menguasai keadaan yang sesungguhnya).

12
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Kelima, oleh Kanjeng Susuhunan di Muria, wejangan ini merupakan
pembuka tata mahligai di dalam baitul mukaram. Oleh sebab itu, wejangannya merupakan pembuka kodrat irodat Tuhan Yang Maha Suci yang hendak mendudukkan mahligainya di dalam dada manusia. Hal ini terdapat dalam kitab yang kelima, yakni kitab Insan Kamil yang menjelaskan wahyu Tuhan Yang Maha Suci kepada Nabi Muhammad Rasulllah, ayat kedua terjemahannya sebagai berikut:

”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Betalmukaram, iku omah enggoning Lalaranganingsun, jumeneng ana ing dhadhaning Adam. Kang ana ing sajroning dhadha iku ati, kang ana ing antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, yaiku angen-angen, ajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku ingsun. Ora ana Pangeran, Anging Ingsun Dat Kang anglimputi ing kahanan jati” (Sesungguhnya Aku menata mahligai ada di dalam
Baitulmukaram, itulah rumah tempat larangan-Ku, berada di dalam dada Adam. Yang ada di dalam dada itulah hati, yang ada di antara hati itu jantung, di dalam jantung ada budi; di dalam budi ada ketegangan yakni angan-angan, di dalam angan-angan ada suksma, di dalam suksma itu rahasia, di dalam rahasia itu Aku. Tiada Tuhan selain Aku yang menguasai seluruh keadaan yang sebenarnya).

Keenam,

oleh

Kanjeng

Susuhunan

Kaliyamat,

dinamakan

kebenaran adanya Tuhan Yang Maha Suci, yakni pembuka tata mahligai di dalam Baitulmukadas, oleh pemejangannya membuka kodrat irodat Tuhan Yang Maha Suci yang mendirikan mahligai Zat, sebagai Baitullah ditata di dalam penis manusia. Inilah sesungguhnya juga menjadi petunjuk keadaan bukti satu-satunya, menandakan hadirat Zat Yang Maha Mulia, duduk tidak boleh berubah dari keadaanny yang sebenarnya. Di dalam kitab Insan Kamil ayat ketiga dikemukakan, yang terjemahannya sebagai berikut:

Sajatine Ingsun nata malige ana sajroning Betulmukadas, iku omah enggoning Pasuceningsun, jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutpah, yaiku mani sajroning mani iku madi,

13
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajeroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angin Ingsun Dat kang ngimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam akadiyat, wahdat, wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajesam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajatining sipat ingsun. (Sesungguhnya Aku
menata mahligai ada di dalam baitulmukadas, itulah rumah tempat bersuci-Ku, ada di dalam kelamin Adam; yang ada di dalam penis itu pelir, di antara buah pelir itu nutfah, yakni air mani di dalam mani itu madi, di dalam madi itu wadi/rahasia, di dalam wadi ada manikam. Di dalam manikam ada rahasia, di dalam rahasia itulah Aku; Tiada Tuhan selain Aku Zat yang menguasai keadaan yang sejati, ada di dalam nukat gaib, turun menjadi johar awal, di sana sebagai wahana alam akadiyat, wahdat, alam arwah, alam misal, alam ajesam, alam insan kamil, terjadinya manusia sempurna yakni sejatinya sifat-Ku)

Ketujuh, oleh Kanjeng Susuhunan di Gunungjati, yang merupakan
penetap kesentosaan iman, dimulai dengan membaca sahadat oleh karena wejangannya memberikan ilham yang merupakan penguat keyakinan kita untuk melaksanakan kebenaran hidup kita sendiri. Setelah membaca sahadat dilanjutkan dengan menuju i’tikad mencontoh sari cita sasmita yang berasal dari Kanjeng Nabi Muhammad yang disampaikan kepada Sayidina Ali yang terjemahannya :

Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan-utusan Ingsun.
(Aku bersaksi tiada Tuhan selain Aku dan bersaksi Aku sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku). Menurut Buku Wirid Hidayat Jati (halaman 35-36) penjelasan dari sahadat di atas adalah sebagai berikut: ”Yang dinamakan Tuhan itu adalah Zat hidup kita sendiri, sebab sesungguhnya segenap asya itu dihukum nafi semuanya. Maksud asya : tunggal, hanya satu. Arti nafi : tidak ada. Maka disebut tidak ada Tuhan, isbatnya yakin hanya zat hidup kita sendiri arti isbat; Tetap. Jadi tetapnya yang menyebut dengan yang disebut Tuhan itu tidak ada lainnya. Makna tunggal tanpa batas hanya selisih lahir dan batin saja.

14
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Yang dinamakan Muhammad itu adalah sifat cahaya kita. Maka dikatakan utusan, karena menjadi pegangan rahasia Zat. Tampak di dalam mata, seperti yang disebutkan dalam dalil Al Quran demikian terjemahannya : ”Sesungguhnya akan datang kepadamu, utusan Zat yang keluar dari dirimu sendiri yang Maha mulia, yang akan memberikan apa yang kau inginkan, bila yakin tentu akan mendapatkan ampunan dari Tuhan”.

Kedelapan, oleh Kanjeng Susuhunan di Kajenar, disebut wejangan
Sasahidan/Persaksian. Dari ajaran ini diminta untuk bersaksi kepada wahana keluarga kita. Yaitu adanya makhluk yang ada di alam dunia, seperti bumi, langit, rembulan, bintang, api, angin, air, dan lain sebagainya. Menurut wejangan ini, bersaksilah bahwa kita sekarang sudah bersedia mengakui menjadi Zat Tuhan Yang Maha Suci. Menjadi sifat Allah Yang sejati. Hal ini mencontoh dari cipta sasmita Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah yang disampaikan kepada Sayidina Ali,

terjemahannya sebagai berikut:

Ingsun anekseni ing Dat Ingsun dhewe, Satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, Lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan ingsun, Iya sajatine kang aran Allah iku badan-Ingsun, Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku rahsaningsun, Iya Ingsun kang Urip tan kena ing pati, Iya Ingsun kang eling tan kena ing lali Iya Ingsun kang langgeng ora kena gingsir ing kaanan jati Iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana, Ora kekurangan ing pangerti, Byar sampurna padhang tarawangan, Ora karasa katon apa-apa, Amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodrat Ingsun.
(Aku bersaksi kepada Zat-Ku sendiri, Sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, Dan Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, Sesungguhnya yang bernama Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul adalah rahasia-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku,

15
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Iya Aku yang hidup tidak kenal mati Iya Aku yang ingat tak kenal lupa Iya Aku yang abadi tidak kenal perubahan keadaan sejati Iya Aku yang waspada, tidak samar keoada masing-masing, Iya Aku yang perkasa, yang kuasa bijaksana, tidak kekurangan pengertian Byar, teranglah seketika, Tidak terasa apa-apa, Tidak ada tampak apa-apa, Hanya Aku, yang melingkupi di semua alam dengan kodrat-Ku. Pesan terakhir dari penulis buku Wirid Hidayat Jati ini, dalam mencari sasmita/firasat gaib seperti riwayat para ahli ilmu, agar mencapai martabat seperti yang diungkapkan di atas, lakukanlah hal-hal sebagai berikut: 1. Rajin suci bersungguh-sungguh, untuk menjauhkan durgandana, artinya bau yang tidak enak. 2. Mengurangi makan minum, untuk peleburan raga di kemudian hari 3. Mencegah tidur syahwat, untuk pelepasan jiwa kelak di kemudian hari 4. Mengurangi nafsu perkataan, untuk menghilangkan rahsa di kemudian hari Apabila sudah ilang rahsa/rahasianya, kabar sampai di akhirat kelak akan datang berupa cahaya gilang gemilang tanpa bayang-bayang atas keadaan kita yang sejati. Kita masuk ke dalam kategori Insan Kamil, yang dapat kembali kepada Allah sesuai dengan ungkapan ”Innalilahi wa inna

ilaihi roji’uun”, sehingga berada dalam keadaan sampuraning sampurna.
Penulis buku Wirid Hidayat Jati, dan juga kami kelompok ini belum merasakan sendiri apa yang digambarkan dalam uraian di atas, jadi segala sesuatunya kami serahkan kepada pikiran masing-masing. Wallahu alam. 2.2 Kidoeng Kaislaman (Buah Iman Islam) Menurut keterangan dalam buku yang penulis temukan, untuk memahami Kidoeng Kaislaman ini tidak sederhana, karena terlebih dahulu harus membaca buku-buku sebelumnya yang disebut Layang Moeslimin

16
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Moeslimat

jilid I s.d IV. Namun sayangnya kami belum menemukan,

sehingga yang dijadikan bahan kajian hanya buku Kidoeng Kaislaman ini. Dalam buku tersebut dikemukakan secara sistematis mulai dari uraian tentang Ma’rifat kepada Allah sampai dengan Hakékat Alam

Toejoeh. Pada awal pembahasan dikemukakan bahwa ”Awalloe dinni Ma’rifat toellahi ta’ala” yang artinya dalam bahasa Sunda ”Awal-awalna agama éta koedoe nyaho heula ka Allah ta’ala”. Dalam buku tersebut
dijelaskan bahwa manusia harus mengetahui kepada Allah agar amal ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah. Amal ibadah seseorang harus didasari ilmu, apabila tidak, manfaatnya hanya untuk dunia saja. Penjelasan lebih lanjut dari kata ma’rifat kepada Allah memberi arah kepada manusia agar dalam beribadah tidak cukup hanya mengetahui syarat dan rukun semata, melainkan harus dibarengi dengan mengetahui kepada Allah dan Rosulnya, yang akan berguna sebagai tempat atau gudang untuk menyimpan atau mengumpulkan amal ibadah manusia. Sebagai ilustrasi, jika kita mengumpul-ngumpul peralatan seperti kursi, lemari, meja, dan perabot rumah tangga lainnya, walaupun bagus dan harganya mahal tidak akan dirasakan kenyamanan dari semua itu jika kita tidak memiliki rumah untuk menyimpan barang-barang itu. Apakah akan dibiarkan berserakan di pekarangan? Sehingga akan kepanasan dan kehujanan, yang lama kelamaan akan rusak bahkan mungkin hancur. Apabila demikian adanya, tentu tidak jadi merasakan nikmatnya dari kepemilikan barang-barang itu. Apalagi jika kita punya tekad bahwa amal ibadah yang dilakukan untuk kepentingan akherat, maka ma’rifat kepada Allah semakin wajib. Karena akhirat merupakan tempat kembali bagi umat manusia. Apabila kita tidak tahu jalan ke arah itu, pada saat sakaratul maut tidak akan melihat apa-apa, dan di akhirat juga tetap buta, sehingga hanya kegelapan yang dirasakan. Jika demikian, kepada siapa meminta

17
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

pertolongan? Mau disimpan di mana apa yang sudah dikumpulkan di dunya dengan susah payah itu? Kelanjutan dari kewajiban ma’rifat kepada Allah, agar kita mengetahui jalan yang akan ditempuh kelak, kita harus berikhtiar sejak sekarang atau ”ditiung saméméh hujan”, harus bisa paéh samémeh paéh, jika tidak bisa paéh sajeroning hiroep tidak akan tahu jalan ke akhirat. Pandangan ini erat kaitannya dengan dalil ”Innalilahi wa inna ilaihi

roji’uun”
Pada halaman 24 dikemukakan ”Roejatoellahi ta’ala fie Doenja

bi’aenil qolbi” (Ningali hakekatna Allah ta’ala ti Doenya koe awasna Ati),
artinya oleh hakekatnya Rosululloh. Sesungguhnya manusia tidak ada yang sanggup untuk melihat Allah, karena manusia hanya dipakai tempat oleh Rosululloh untuk melihat Allah. Bagi wujud manusia yang telah dipakai tempat melihatnya Rosul kepada Allah, maka ia bisa bercerita bahwa ia mengetahui kepada Allah. Jadi, manusia itu dibawa mengetahui oleh nikmatnya Rosul. Maka apabila merasa bahwa dirinya selalu bersama-sama dengan sesuatu yang suci, insya Allah i’tikad dan perilaku sehari-hari juga akan suci, setan-setan tidak ada yang berani mendekat. Berkaitan dengan pandangan tersebut, penulis buku berpesan kepada pembaca sebagai berikut :

Koe sabab éta poma-poma pisan doeloer-doeloer anoe geus boga djalan Ma’rifatna, tékad djeung lakoe anoe goréng téh kudu di djaga bener-bener, oelah darapon njaho baé, tapi kudu djeung dibarengan koe lakoena djeung tékadna anoe hadé, sabab lamoen oerang ngalakonan pagawéan ma’siat ngalanggar hoekoem Sara, tangtoe oerang gantjang di bendonna koe Maha Soetji. Béda deui djeung anoe tatjan njaho..” (Oleh karena itu, hendaknya berhatihati sekali, bagi sodara-sodara yang telah memiliki jalan ma’rifatnya, i’tikad dan perilaku yang buruk harus benar-benar dijaga (dijauhi), jangan asal mengetahui saja, tetapi harus dibarengi dengan perilaku dan i’tikadnya yang baik, sebab jika kita melakukan suatu pekerjaan maksiat dengan melanggar hukum syara’, tentu kita cepat sekali mendapat murka Tuhan Yang Maha Suci. Berbeda dengan orang yang belum mengetahui).

18
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Apalagi bagi manusia yang sudah mengetahui kepada Allah, kita harus ingat perjanjian Goeroe Moersid bahwa ”Ibadah babarengan, doraka

pipisahan”. Selanjutnya, yang menarik dari buku Kidoeng Kaislaman ini
adanya pembahasan tentang Martabat Alam Toejoe yang mengemukakan tentang konsep Alam Kabir dan Alam Sagir, para ahli filsafat Yunani menyebutnya dengan istilah makro cosmos dan mikro cosmos. Pada zaman Yunani Kuno, ketika pemikiran filsafat belum berkembang karena terbelenggu oleh mitos, pemikiran alam semesta sangat terbatas. Kalau pun ada, argumentasi masih bersifat spekulatif, sehingga belum ada yang memberikan keterangan rinci tentang kejadian alam semesta. Ada juga para filsuf yang menduga-diduga bahwa asal mula alam semesta ini adalah air, to apeiron, api, angin, dan sebagainya (Hadiwijono,1980). Tetapi di samping tidak menyeluruh, juga tidak dijelaskan keterkaitannya dengan manusia. Pada buku ini, asal mula alam semesta dibahas melalui Martabat Alam Toejoe, yang dikait-kaitkan dengan nama Allah, Muhammad, dan Adam. Berikut kami kutip informasi awal tentang hal itu:

AJEUNA NERANGKEUN MARTABAT ALAM TOEJOE (Nganggo roetjatan engangna ketjap) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Alam Alam Alam Alam Alam Alam Alam Ahadiat Wachdiat Wahidiat Arwah Adjsam Misal Insan Kamil Hoeroep Hoeroep Hoeroep Hoeroep Hoeroep Hoeroep Hoeroep Al lah Moe ham mad A dam Allah

Moehammad Adam

Untuk lebih jelasnya, berikut dikemukakan ilustrasi tentang keterkaitan di antara ketujuh alam tersebut, yang dapat dijadikan acuan dalam memahami alam semesta dan proses penciptaannya.

19
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

A. Alam Ahadiat

A

B Alam Wachdat

B

G

G. Alam Insan Kamil

A
Beureum Koneng
C. Alam Wahidiat C

S M
Bodas

A
Hideung
F F. Alam Misal

ALAM BARJAH

E

E. Alam Ajsam

A
Seuneu
D. Alam Arwah D D

F
Angin

‘A
cai

L
Boemi
D D. Alam Arwah

Keterkaitan antara ketujuh alam di atas, merupakan rangkaian peristiwa agung yang menggambarkan “Inna lllahi wa inna ilaihi roji’uun”. Rangkaian dari huruf A, B, C, dan D merupakan skema “Inna lillaahi ” (Sesungguhnya semua berasal dari Allah), sedangkan rangkaian dari

20
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

hurup D, E, F, dan G merupakan skema “wa inna ilaihi rooji’uun (dan sesunggunya kepada Allah kita semua akan kembali). Penjelasan dari rangkaian gambar di atas adalah sebagai berikut: A. Alam Ahadiat Alam ini menunjukkan DAT laesa kamitslihi, yaitu dat yang tidak ada perumpamaannya. Dikatakan demikian karena saking Sucinya, dalam arti bersih tanpa sifat apa pun dengan, disertai dengan ungkapan

bila haefin bila makanin, sehingga Maha Suci yang tidak bisa
diumpamakan baik warna maupun tempat dan lainnya. B. Alam Wachdat Menjelaskan martabat yang Maha Suci bahwa pada alam ini Dat

Laesa Kamitslihi menjadi Dat Sifat, perwujudannya terang benderang yang
disebut JOHAR AWAL, Johar berarti cahaya, Awal berarti awal atau yang mula-mula. Jadi, inilah yang mula-mula ada, sebelum ada bumi, sebelum ada langit, sebelum ada manusia dan yang lainnya. Inilah yang dimaksud dengan Hakekat Muhammad, karena dalam keterangan yang lain dinyatakan bahwa yang pertamakali diciptakan Allah adalah Muhammad, berupa NUR (cahaya), yakni cahaya dari Yang Maha Suci. Menurut para Wali, bersatunya antara Dat dan Sifat merupakan karena di sini hakekat Allah dan Muhammad menyatu.

Sajatining Sahadat,

C.

Alam Wahidiat Menjelaskan martabat Asma Suci, proses kejadiannya dari Johar

Awal keluar empat cahaya, dalam buku tersebut pada halaman 30 dikemukakan bahwa keempat cahaya itu adalah : 1. 2. 3. 4. Naroen tjahja Beureum ( Api cahya Merah) Hawaoen tjahja Konéng (Angin cahya Kuning) Maoen tjahja Bodas (Air cahya Putih) Toeroeboen tjahja Hideung (Tanah cahya Hitam)

21
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Keempat cahaya tersebut dinamakan Nur Muhammad, sedangkan Muhammadnya sendiri Johar Awal tadi. Cahya empat macam ini disebut hakekat Adam, yakni Asma yang Maha Suci. Keempat asma tersebut, mengandung hakekat perwujudan nama Allah, dalam Buku Kidoeng

Kaislaman dijelaskan sebagai berikut:
Tjahja noe beureum djadi Hakékat lapad Alip Tjahja noe Koneng djadi Hakékat lapad Lam awal Tjahja noe Bodas djadi Hakékat lapad Lam ahir Tjahja noe Hideung djadi Hakékat lapad hé Djohar Awal djadi Hakekat lapad Tasdjid Sareatnya jadilah lapad Allah ( ‫ ,)ا‬yang menjadikan bibit tujuh bumi tujuh langit beserta seluruh isinya, bahkan manusia pun dari keempat cahya tersebut. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan atau keagamaan, bilangan empat dan lima ini sangat dominan. Istilah

dulur nu opat kalima pancer pun, yang dikenal di kalangan cendekiawan
Sunda Buhun berasal dari sini. Penulis buku ini mengaitkan juga keempat cahya tersebut dengan jumlah Rukun Islam lima perkara, solat wajib lima waktu, Khulafaur Rosidin, Imam Madhab, dan gerak pokok dalam solat.

D. Alam Arwah Menjelaskan martabatnya Af’al yang Maha Suci. Af’al berarti pekerjaan, jadi yang dimaksud adalah bagaimana Yang Maha Suci

bekerja menciptakan alam semesta ini. Penulis buku Kidoeng Kaislaman, mencoba mengajak kita menggunakan logika dalam memahami ini. Apabila Johar Awal diibaratkan energi Listrik, dan Nur Muhammad diibaratkan kaca dengan empat warna (merah, kuning, putih, dan hitam), maka ketika kaca tersebut disorot oleh Johar Awal keluarlah bayangan sebagai berikut: 1. Dari cahya merah menjadi api alam dunia 2. Dari cahya kuning menjadi angin alam dunia

22
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

3. Dari cahya putih menjadi air alam dunia 4. Dari cahya hitam menjadi tanah alam dunia Keempat unsur utama tersebut, atas kekuasaan dan kehendak Allah yang Maha Suci, jadilah Jagat Kabir. Dengan demikian, alam semesta ini kejadian dari Nur Muhammad. E. Alam Adjsam Di sini menjelaskan martabat manusia setelah jagat ini berdiri. Dalam buku Kidoeng Kaislaman halaman 32 dikemukakan bahwa ”Goesti

Noe Maha Sutji bade ngersakeun deui midamel Adam Madjadji, terus nimbalan ka Malaikat, miwarang toeroen ka alam Doenja, koedoe nyokot atji seuneu, atji angin, atji tjai, atji boemi”. Proses selanjutnya, setelah
keempat atji tersebut tersedia Atji boemi dijadikan kulit dan bulu Adam,

Atji seuneu dijadikan darah dan daging Adam, Atji Tjai dijadikan urat dan
tulang Adam, Atji Angin dijadikan otot dan sungsum Adam. Dengan kekuasaan Allah, menjelmalah serangkaian ruruf yang terdiri atas Mim,

hé, mim, dan dal yang menjadi kata Muhammad. Mim awal Muhammad
dilambangkan dengan kepala, He Muhammad dilambangkan dengan dada,

Mim akhir Muhammad dilambangkan dengan Pusar, dan Dal Muhammad
dilambangkan dengan kaki. Tetapi wujud Adam tersebut belum bisa bergerak, hanya tergolek tanpa daya. Kemudian diberi empat lubang, yakni mata, telinga, hidung, dan mulut. Selanjutnya keempat lubang tersebut disorot lagi oleh Nur Muhammad, maka wujud Adam yang diebut juga Jagat Sagir sekarang bisa bergerak (hidup), dengan demikian manusia itu hidup sareatnya karena ada cahya (Nur). Apabila cahya tersebut ditarik lagi oleh Allah, jasad tersebut (Jagat Sagir) akan cepat rusak bahkan membusuk dan kembali ke material asalnya (asal cai jadi cai, asal seuneu jadi seuneu, asal angin jadi angin, asal taneuh jadi taneuh). Demikian juga halnya dengan Jagat Kabir apabila cahyanya ditarik oleh Allah, maka Jagat

23
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Tersebut akan rusak, sehingga yang tertinggal adalah : Bumi tinggal gelapnya; Api tinggal panasnya ; Air tinggal dinginnya; dan Angin tinggal hawanya. Inilah embriyo yang akan menjadikan apa yang dinamakan neraka. Pertanyaannya, siapa yang akan tinggal dalam keadaan yang demikian (neraka)? Jawabannya adalah bagi Iblis dan kawan-kawannya, termasuk manusia yang tidak bisa kembali ke asalnya, dalam arti tidak tahu jalan untuk pulang kepada Allah, tidak memenuhi kaidah ”wa inna

ilaihi roji’uun”.
Kembali ke masalah Adam, proses kejadian manusia selanjutnya dilihat dari segi bahan baku sama saja, dalam arti berasal dari saripati

bumi (tanah), api, air, dan angin. Tentu saja prosesnya panjang sejalan
dengan sunatulloh yang mengatur tentang siklus alam dengan segala aspeknya. Dengan gambaran bahwa di muka bumi terdapat bermacammacam tumbuhan dan binatang, hidup dan kehidupannya ditopang oleh empat unsur tadi. Misalnya padi, ia tumbuh di tanah, tetapi tanah yang mengandung air, setelah tumbuh dan berdaun, kehidupannya yang normal memerlukan sinar matahari dan hembusan angin. Dengan air dan tanah bisa saja tumbuh, tapi lihat apabila daun tanpa disinari matahari atau tanpa udara, kehidupannya tidak sempurna. Kenyataan di lapangan, petani akan sangat kecewa jika tanaman padinya ”kahieuman” karena tidak berbuah dengan baik. Ini membuktikan bahwa keempat unsur tersebut sangat penting dalam pertumbuhan tanaman. Tahapan selanjutnya, tanaman dan binatang menjadi makanan sehari-hari bagi manusia, makanan yang dimakan oleh manusia akan dirubah melalui metabolisme tubuh menjadi sel darah merah, dari sel darah merah diambil saripatinya, sehingga menjadi air mani (sperma), dalam sperma itulah terdapat benih yang akan menjadi manusia baru. Dengan demikian, manusia tidak akan memiliki sperma apabila tidak

24
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

makan dan minum. Sementara tanaman lama tumbuh di tanah, lama memerlukan air, lama ditiup angin, dan lama terkena sinar matahari, dalam arti keempat unsur tersebut semuanya akan masuk ke dalam diri manusia, dan melahirkan manusia baru atas kehendak Allah. Terdapat satu hal yang harus juga diketahui, bahwa tanaman dan binatang saripatinya akan menyatu dengan manusia melalui proses makan minum. Oleh karena itu, kembalinya mereka kepada sang Maha Pencipta adalah melalui manusia. Suatu saat, apabila manusia ditarik cahyanya (nur) maka apabila roh bumi, roh api, roh air, dan roh angin tidak dibawa ke jalan Allah, maka mereka akan berubah. Bumi menjadi neraka kegelapan, api menjadi neraka panas, air menjadi neraka dingin, dan angin menjadi neraka yang menyengat nyawa manusia. Dengan kata lain, Allah tidak akan menyiksa manusia, yang menyiksa adalah amal perbuatan manusia itu sendiri karena tidak beriman dan tidak mengikuti jalan Allah.

F.

Alam Misal Menjelaskan martabat manusia yang sudah ma’rifat kepada Allah,

dan mengetahui asal wujud dirinya. Manusia demikian berarti ilmunya sudah sampai kepada tarap Asal, sifat asalnya cahya merah, kuning, putih, dan hitam, yang berarti pula sudah mengetahui ke mana ia akan kembali. Maka kelak apabila ia maninggal (maot) akan masuk surga, yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang sulit dibayangkan karena tidak ada perumpamaannya dan kekal abadi. G. Alam Insan Kamil Pada alam ini dijelaskan martabat manusia yang mendekati kepada kesempurnaan. Bagi manusia yang telah mengetahui Johar Awal, mengetahui sifatnya Allah, maka ia telah mencapai derajat Insan Kamil, yakni manusia yang sempurna, (maot), akan memperoleh nanti pada saat ia meninggal dunia kamil mukamil dalam atau

martabat

25
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Sampurnaning Sampurna. Habis rasanya, habis jasmaninya, kembali
menjadi Dat Laésa Kamistlihi lagi seperti tadi sebelum ia turun ke dunia fana. Ini yang dimaksud wa inna ilaihi roji’uun yang sesungguhnya.

2.3

Tutungkusan Karuhun Sunda Secara historis diduga bahwa terdapat berbagai metode yang

digunakan para leluhur dalam mewariskan nilai-nilai pendidikan kepada generasi penerus, antara lain melalui karya seni, baik seni sastra maupun bentuk seni lainnya. Misalnya dalam bentuk pupuh Pucung berikut ini “Utamana jalma kudu réa batur, keur silih tulungan, silih titipkeun nya diri,

budi akal lantaran ti pada jalma”. Melalui karya seni tersebut, secara tidak
langsung para leluhur memberikan nasihat abadi kepada penerus bangsa. Apabila direnungkan, di dalam karya tersebut terkandung nilai-nilai budaya tinggi, yakni pesan-pesan moral dan modal sosial yang sangat berharga dalam membangun masyarakat yang sepi paling towong rampog, karena nuansa masyarakat diwarnai dengan semangat gotong royong dan kasih sayang. Di samping itu, masih banyak kata-kata bijak yang mengandung makna filosofis yang sangat luas dan mendalam. Namun, untuk memfokuskan pembahasan ini, penulis mencoba mengangkat beberapa penggal ungkapan untuk direnungkan. Kata-kata bijak tersebut adalah

Mipit kudu amit;

Ngala kudu ménta;

Ati suci tuang halal; Ngadék

sacékna nilas saplasna; Ulah lanca-linci luncat mulang; Ulah udar tina tali gadang; dan Ulah sok ngalétak ciduh.
Bagi masyarakat Jawa Barat khususnya, ungkapan-ungkapan tersebut rasanya tidak asing lagi. Tetapi dalam penafsirannya akan berbeda-beda, bahkan mungkin ada yang menganggap sebagai

ungkapan biasa tanpa makna, sehingga tidak tertarik untuk mengkaji dan

26
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

merenungkan hal itu. Maka, penulis mencoba akan membedah penggalanpenggalan budaya tersebut menggunakan pendekatan Filsafat Ilmu . Menurut seorang sepuh yang pernah ngobrol dengan penulis, ungkapan-ungkapan tersebut sarat dengan nilai-nilai moral dan

mengandung setumpuk pesan bagi generasi penerus bangsa untuk dikaji dan direnungkan. Pada saat beliau menuturkan pendapatnya, tampak serius dan penuh harap, agar estafet pesan moral tersebut sampai kepada kita dan generasi selanjutnya. Semoga melalui tulisan ini secercah cahya mampu menerangi jiwa yang redup, bahkan mungkin telah gelap gulita terkubur tumpukan sejumlah persoalan hidup yang rumit melebihi rumitnya benang kusut yang tak berujungpangkal. Secara harfiah, kata mipit dan ngala pada ungkapan Mipit kudu

amit dan Ngala kudu ménta berarti mengambil, memetik, mengutip, atau
memungut. Dalam arti luas, mengandung makna bahwa apabila kita akan mengambil harta milik orang lain harus seizin pemiliknya. Barangsiapa yang berani melanggar kaidah tersebut, tentu akan memperoleh sejumlah akibat yang merugikan. Antara lain mendapat gelar pencuri, perampok, koruptor, atau istilah lainnya yang bersifat negatif. Selain itu akan

mempengaruhi kesucian jiwanya. Dengan kata lain, apabila ungkapan

mipit kudu amit dan ngala kudu ménta ini dilanggar, seseorang akan
kehilangan kesempatan untuk memiliki hati (jiwa) yang suci. Hati yang tidak suci berarti kotor, hati yang kotor akan lupa menggunakan akal dan pikirannya, sehingga akan menurunkan derajat kemanusiaan, bahkan mungkin lebih rendah dari derajat binatang. Dalam prakteknya, pemahaman terhadap ungkapan ini tercermin dalam sikap sehari-hari. Bagi seseorang yang mematuhi kaidah ini, tidak akan berani mengambil harta orang lain tanpa izin. Jangankan dalam jumlah besar, setetes air pun ia tidak akan meminumnya. Misalnya, pada saat terjadi hujan lebat, di mana kolam milik tetangga airnya tumpah ke

27
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

selokan dan ikannya berhamburan. Ia tidak berani menangkap ikan dan memakannya, ia tidak sampai hati menikmati lezatnya daging ikan

sementara pemiliknya menangis sedih. Betapa indahnya dunia yang fana ini, apabila dipenuhi oleh orang-orang yang senantiasa menjaga kesucian jiwanya, dengan tidak mengambil harta orang lain tanpa izin. Pepatah Sunda mengatakan

sepi paling towong rampog, nagara aman

kertaraharja akan tercipta dan maraknya kisah tentang para koruptor
tidak akan terdengar lagi. Kondisi yang diungkapkan di atas, terkait erat dengan kata bijak selanjutnya, yakni

ati suci tuang halal. Makna yang terkandung dalam

ungkapan tersebut adalah pentingnya menjaga hati dari i’tikad buruk. Sifat-sifat hasud, iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat lainnya yang akan mengotori jiwa harus dihindari. Sebaliknya, sifat-sifat terpuji seperti pemaaf, pengasih, penyayang, sabar, jujur, saling mencintai, dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan Allah SWT akan selalu menghiasi jiwanya. Orang-orang yang memiliki sifat terpuji, jiwanya akan bersih dan terbebas dari sifat perusak. Sifat dan sikap yang terpuji tersebut akan tercermin dalam pergaulan sehari-hari, termasuk di dalam memilih

makanan. Dengan maksud untuk menjaga kesucian jiwa, maka makanan pun akan selalu dipilih yang baik dan halal serta menjauhi makanan yang haram. Senada dengan firman Allah dalam Al Quran “Hai sekalian

manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi….”(QS Al Baqarah:169). Sinar terang dari sifat-sifat terpuji ini akan
menerangi kehidupan sepanjang masa dan membawa kedamaian

terhadap seluruh alam (bandingkan dengan konsep Islam tentang

rahmatan lil ‘alamiin). Orang-orang yang menganut kaidah ati suci tuang halal, tidak akan berani merusak alam sekehendak hatinya, bahkan ia
akan berusaha untuk memelihara, melindungi, melestarikan, mengolah,

28
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

dan memanfaatkan alam semesta sebagai sarana kebajikan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang melarang manusia untuk membuat kerusakan di muka bumi, karena manusia mendapat amanah yang cukup berat dari sang Maha Pencipta, yakni sebagai Kholifah dan ‘Abdullah. I’tikad untuk selalu memakan makanan yang halal, akan menghindarkan tatanan kehidupan manusia dari keserakahan, ketamakan, kekerasan, ketidakadilan, dan kekacauan. Manusia yang memiliki hati yang suci dan senantiasa memakan makanan yang halal, derajatnya akan selalu meningkat ke arah kesempurnaan hidup. Konsep insan kamil, bahkan mungkin kamil mukamil akan menjadi tujuan utama, demi meraih ridho Allah. Dalam hal ini, coba kita kaitkan dengan salah satu hikmah puasa yang merupakan salah satu ibadah umat Islam. Bagi seorang muslim yang meyakini akan arti ibadah puasa, meyakini pula akan dampak positif yang akan diterimanya. Dengan puasa, seseorang akan meningkat harkat dan derajat kehidupannya, tidak sekedar termasuk orang-orang yang beriman (mu’min), melainkan akan meraih juga gelar mutaqiin. Tentang hal ini, Allah telah memberikan ilustrasi yang sangat jelas bagi orang-orang yang mau berpikir dan menggunakan akalnya untuk memikirkan ayat-ayat Allah yang tersirat di alam semesta. Misalnya tentang seekor ulat yang semula menjijikkan, ditakuti, serakah, dan tak pernah pergi jauh dari batang pohon mampu berubah wujud dengan derajat yang lebih tinggi setelah menjalani puasa yang sungguh-sungguh. Ketika menjalani hidup sebagai ulat, ia tak pernah berhenti makan (rakus dan serakah), fisiknya ditakuti karena bertampang seram. Tetapi setelah puasa, wujudnya berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan disenangi banyak orang. Kemampuannya luar biasa, dapat terbang tinggi sekehendak hatinya. Ketika makan tidak serakah seperti dulu, tetapi hanya menghisap sari bunga yang manis

tanpa merusak bunga yang bersangkutan. Bahkan membawa berkah

29
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

dengan terjadinya proses penyerbukan yang bermanpaat bagi mahluk lainnya. Makanan yang halal dan yang haram telah jelas perbedaannya, namun diantara keduanya ada juga yang samar-samar sebagaimana sabda Nabi yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya sesuatu yang halal

itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar” (HR Bukhari dan Muslim).
Bagi orang yang memiliki kaidah ati suci tuang halal, akan diikuti oleh sikap tegas dan lugas dalam proses pengambilan keputusan. Sikap tersebut adalah ngadék sacékna nilas saplasna. Secara harfiah, ngadék berarti memotong, misalnya memotong kayu dengan menggunakan golok atau sejenisnya. Artinya sama dengan nilas, akan tetapi ada sedikit perbedaan dalam prosesnya.

Ngadék

dilakukan

berulang-ulang,

sedangkan nilas sekali tebas benda yang dipotong itu putus. Dalam arti luas, memotong kayu menggunakan alat yang tepat terhadap sasaran yang tepat pula. Makna yang terkandung di dalamnya adalah sikap tegas dalam pengambilan keputusan. Berarti bahwa keputusan yang diambil telah dipikirkan terlebih dahulu dengan matang, sehingga tidak

mendatangkan keraguan dan siap menerima apa pun akibatnya. Bandingkan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk meninggalkan keragu-raguan, dan dianjurkan pula untuk selalu

bertanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukan.

Nabi bersabda

:“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, kerjakanlah apa-apa

yang tidak meragukan kamu” (HR Tirmidzi). Bahkan lebih jauh lagi, umat
Islam wajib percaya akan datangnya hari kiamat, karena setiap individu akan diminta pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama menjalani hidup di dunia. Proses pengambilan keputusan yang lugas dan tegas, bukan hanya penting bagi para pemimpin dan pemegang kekuasaan, melainkan penting juga bagi semua orang, agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang samar

30
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

dan meragukan. Sikap yang tidak menentu dan penuh dengan keraguraguan merupakan awal dari suatu kehancuran. Apalagi jika dilaksanakan dengan tidak amanah. Namun, sikap tegas saja tidak cukup. Masih ada kata bijak sebagai lanjutan dari kata-kata sebelumnya. Sikap tegas dalam mengambil keputusan tidak berarti apa-apa tanpa diikuti oleh sikap yang konsisten dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, diikuti oleh kata-kata selanjutnya, yakni ulah lanca-linci luncat mulang. Yang dimaksud dengan

ulah lanca-linci luncat mulang adalah tidak boleh plin-plan, tidak memiliki
sikap mendua, melainkan tetap teguh terhadap satu keputusan. Ngomong

soré teu kapaké isuk adalah salah satu ciri orang yang suka lanca linci luncat mulang, pemikiran dan sikapnya bolak-balik tidak keruan yang
membuat orang lain menjadi bingung. Apabila sikap seperti ini dimiliki oleh seorang pemimpin besar, maka ribuan orang akan dirugikan, baik langsung maupun tidak langsung. Orang seperti ini tidak akan mampu menepati janji dengan baik, bahkan cenderung berhianat dan

mementingkan diri sendiri. Dalam berkelompok atau berorganisasi, orang dengan tipe ini akan menjerumuskan kawan sendiri. Oleh karena itu, leluhur Sunda mengajarkan agar ulah lanca-linci luncat mulang, tetapi harus tigin kana jangji, satia kana ucap sebagai salah satu indikator dari seorang satria pinunjul (SDM yang bermutu). Kiwari (sekarang), banyak orang yang mendambakan pigur pemimpin dari kalangan Satria pinunjul tersebut, tetapi karena masih misterius, orang menyebutnya Satria

Piningit.
Kata-kata bijak selanjutnya, yang merupakan bagian tak

terpisahkan dari kata-kata lainnya adalah ulah udar tina tali gadang. Udar artinya lepas, tali gadang pengertiannya sama dengan ikatan (tali pengikat). Dalam arti luas mengandung makna bahwa kita harus

memegang teguh semua komitmen yang telah disepakati bersama dalam

31
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

menjaga kesatuan dan persatuan. Selain itu, mengandung makna agar senantiasa taat dan patuh terhadap peraturan/perundang-undangan

(hukum) yang berlaku. Baik yang bersumber dari agama, hukum positif, hukum adat, maupun etika dan sumber lainnya. Dengan demikian, seseorang yang memahami arti ungkapan ulah udar tina tali gadang, dalam menjalani hidup dan kehidupannya akan senantiasa taat terhadap hukum. Sabda Nabi menyatakan bahwa “Ketaatan hanyalah untuk yang

baik” (HR Bukhari).
Kata-kata bijak selanjutnya adalah ulah sok ngaletak ciduh. Secara harfiah mengandung arti jangan menjilat ludah sendiri, namun tentu saja bukan dalam arti yang sesungguhnya (hanya kiasan). Yang dimaksud adalah jangan mengambil/menarik kembali apa-apa yang telah

dikeluarkan, diucapkan, atau diberikan kepada orang lain. Implikasinya, sebelum mengucapkan / memberikan / menyerahkan / menyampaikan sesuatu hendaknya dipikirkan terlebih dahulu secara matang. Pepatah lain yang mendukung ungkapan ini adalah ulah leuir pikir hawara biwir. Apalagi berkenaan dengan kebijakan publik, salah dalam mengambil atau mencabut

keputusan, tidak konsisten, dan terlalu cepat merubah

suatu kebijakan akan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dilihat dari segi manajemen tindakan yang diharapkan tersebut membutuhkan perencanaan (planning) yang matang. Berdasarkan kajian terhadap warisan para leluhur tersebut, nilainilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat dipergunakan untuk

memperkaya khasanah pengetahuan di bidang manajemen, khususnya berkaitan dengan etika, karena masalah-masalah etika sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai moral. Pentingnya etika, tidak hanya dalam manajemen sumber daya manusia, dalam manajemen lain pun tetap diperlukan, demikian pula dalam manajemen bisnis.

32
Kajian Filsafat Ilmu, 2009, Bab II

Oleh karena itu, dalam merancang sebuah sistem manajemen, para pakar dan semua pihak yang terlibat, sudah saatnya memikirkan bagaimana caranya agar nilai-nilai moral ini diintegrasikan ke dalam sistem sehingga dapat mewarnai sistem yang bersangkutan. Adapun sumber nilai-nilai moral, dapat diambil dari berbagai sumber, antara lain dari ajaran agama, hukum (misalnya dari Pancasila), filsafat, ilmu, pengetahuan, dan budaya. Penulis berasumsi dan berharap, proses manajemen yang diwarnai dengan nilai-nilai moral tersebut akan mendorong terciptanya masyarakat yang “ayem tengtrem kertaraharja, sepi paling towong rampog, sepiing

pamrih raméing gawé, gemah ripah loh jinawi, répéh rapih, henteu ripuh jeung ropoh”, serta senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Maknanya, kurang lebih sepadan dengan ungkapan “Baldatun toyyibatun

wa robbun ghofuur”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful