You are on page 1of 13

REFERAT PERDARAHAN POSTPARTUM

OLEH DIAZ RANDANIL 1102009081

PEMBIMBING: DR HJ HELIDA ABBAS Sp.OG

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI KEPANITERAAN RSUD DR SLAMET GARUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Pada persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum. dan infeksi. Perdarahan pascapersalinan adalah perdarahan yan masif yang berasal dari tempat implantasi plasenta.3 Resiko kematian ibu karena adanya komplikasi pada masa kehamilan dan proses persalinan yang sering terjadi adalah perdarahan. Perdarahan pascapersalinan bila tidak mendapat penanganan yang semestinya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu sertaa proses penyembuhan kembali. partus lama. Perdarahan bersama-sama infeksi dan gestosis merupakan tiga besar penyebab utama langsung dari kematian maternal. eklamsia. 1. Adanya resiko dari Retensio Plasenta yang menyebabkan kematian ibu sehingga mendorong penulis untuk mengkaji permasalahan dengan memaparkan lewat laporan kasus ini sebagai wujud perhatian dan tanggung jawab dalam memberikan kontribusi pemikiran pada berbagai pihak yang berkompeten dengan masalah tersebut guna mencari solusi yang terbaik dari permasalahan.PENDAHULUAN 1. komplikasi aborsi. Seringkali sectio cesarean menyebabkan perdarahan yang lebih banyak. harus diingat kalau narkotik akan mengurangi efek vasokonstriksi dari pembuluh darah. . Sebagian besar kasus perdarahan terjadi karena retensio plasenta yang merupakan salah satu penyebab utama tingginya angka kematian ibu. robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab dari kematian ibu disampin perdrahan karena hamil dan abortus. karena semua persalinan baik pervaginam ataupun perabdominal (section cesarea ) selalu disertai perdarahan. selama ataupun sesudah persalinan. Perlu diingat bahwa perdarahan yang terlihat pada waktu persalinan sebenarnya hanyalah setengah dari perdarahan yang sebenarnya. Suatu perdarahan dikatakan fisiologis apabila hilangnya darah tidak melebihi 500 cc pada persalinan pervaginam dan tidak lebih dari 1000 cc pada sectio cesarea. 1 Jika kita berbicara tentang persalinan sudah pasti berhubungan dengan perdarahan.1 Latar Belakang Yang paling dikenal sebagai tiga penyebab klasik kematian ibu disamping infeksi dan preeklampsia adalah perdarahan.

sesak napas.8% Epidemiologi 1. serta tensi <90 mmHg dan nadi > 100/menit) maka penanganan harus segera dilakukan. robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya dan meruoakan salah satu penyebab kematian ibu disamping perdarahan karena hamil ektopik dan abortus1.PERDARAHAN POSTPARTUM Pengertian Perdarahan Postpartum Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir).0. Insiden Angka kejadian perdarahan postpartum setelah persalinan pervaginam yaitu 5-8 %. Laserasi jalan lahir 4% .60% 2. Kelainan darah 0. 2. pucat.5% . Retensio plasenta 16% .1 Penyebab Perdarahan Postpartum Penyebab perdarahan Postpartum antara lain : 1. Klasifikasi Perdarahan Postpartum Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu : . limbung.5% 5. berkeringat dingin. Perdarahan postpartum adalah perdarahan yan masif yan berasal dari tempat implantasi plasenta. Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang lebih dari normal.24% 4. Sisa plasenta 23% . kurangnya layanan transfusi. apalagi telah menyebabkan perubahan tanda vital (seperti kesadaran menurun. dan hampir semua tranfusi pada wanita hamil dilakukan untuk menggantikan darah yang hilang setelah persalinan. Peningkatan angka kematian di Negara berkembang Di negara kurang berkembang merupakan penyebab utama dari kematian maternal hal ini disebabkan kurangnya tenaga kesehatan yang memadai. Perdarahan postpartum adalah penyebab paling umum perdarahan yang berlebihan pada kehamilan. Atonia uteri 50% .17% 3. kurangnya layanan operasi.

dan lain-lain. tekanan darah rendah. atau sisa plasenta yang tertinggal. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi. penyusutan rahim yang tidak baik. ekstrimitas dingin. Diagnosis Perdarahan Postpartum Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut ini : Tabel 1 Diagnosis Perdarahan Post Partum Gejala dan Tanda Penyulit Diagnosis Kerja Atonia uteri darah atau pada posisi akan aliran . Gejala klinik berupa perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat. gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%.Uterus tidak berkontraksi dan Syok lembek. retensio plasenta.1. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri. 2. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan pascapersalinan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. robekan jalan lahir dan inversio uteri. Gejala Klinik Perdarahan Postpartum Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Terbanyak dalam 2 jam pertama. Bekuan Perdarahan segera setelah anak serviks lahir telentang menghambat darah keluar Darah segar mengalir segera Pucat setelah bayi lahir Uterus berkontraksi dan keras Plasenta lengkap Lemah Menggigil Robekan jalan lahir Plasenta belum lahir setelah 30 Tali pusat putus akibat Retensio plasenta menit Perdarahan segera Uterus berkontraksi dan keras traksi berlebihan Inversio uteri akibat tarikan Perdarahan lanjutan Plasenta atau sebagian selaput Uterus berkontraksi Retensi sisa plasenta . sisa plasenta. denyut nadi cepat dan kecil.

Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan. melebar. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan perdarahan pascapersalinan. Partus lama . robekan jalan lahir dan inversio uteri Penyebab Perdarahan Postpartum Primer a. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan . Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri. sisa plasenta. retensio plasenta. dengan adanya susunan otot seperti tersebut diatas.tidak lengkap Perdarahan segera Uterus tidak teraba Lumen vagina terisi massa Tampak tali pusat (bila tetapi tinggi fundus tidak berkurang Neurogenik syok Pucat dan limbung Inversio uteri plasenta belum lahir) Sub-involusi uterus Anemia Endometritis atau sisa fragmen plasenta Nyeri tekan perut bawah dan Demam pada uterus Perdarahan sekunder (terinfeksi atau tidak) Perdarahan Postpartum Primer Pengertian Perdarahan Postpartum Primer Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Setelah partus. Atonia Uteri Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh.1 Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat : 1. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus oleh pembuluh darah. lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. jika otot berkontraksi akan menjepit pembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan.

1 Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar. d. atau karena versi ekstraksi. trauma forseps atau vakum ekstraksi. maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. robekan spontan perineum. Plasenta merekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus sampai di bawah peritoneum (plasenta perkreta). tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Jika ada bagian plasenta yang hilang. uterus harus dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan. Anestesi lumbal Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan. Robekan Jalan Lahir Pada umunya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Anestesi yang dalam 5. c. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva) 2. b. Plasenta belum lepas dari dinding uterus disebabkan : 1. Perdarahan postpartum yang terjadi segera jarang disebabkan oleh retensi potonganpotongan kecil plasenta. Sisa Plasenta Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal. Multiparitas 4. yaitu memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta. sehingga terjadi lingkaran kontriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi. dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus. Inspeksi plasenta segera setelah persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin. disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III. Retensio Plasenta Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir .1 . seperti pada hamil kembar. Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus desidua sampai miometrium (plasenta akreta) 3. Plasenta sudah lepas. akan tetapi belum dilahirkan.2. Hal tersebut disebabkan: 1 1. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan. Plasenta belum lepas dari dinding uterus 2. hidramnion atau janin besar 3.

Akan tetapi. e. Sebab inversio uteri yang tersering adalah kesalahan dalam memimpin kala III. Inversio Uteri Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri.Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Menurut perkembangannya inversio uteri dibagi dalam beberapa tingkat: 1. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat arterill atau pecahnya pembuluh darah vena. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. untuk sebagian besar terletak di luarvagina. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum. Uterus dengan vagina semuanya terbalik. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk ke dalam vagina 3. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan spekulum setelah sumber perdarahan diketahui dengan pasti. terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah plasenta keluar. tetapi belum keluar dari ruang tersebut 2. serviks. vagina. perdarahan dihentikan dengan melakukan ligasi. Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. dan robekan uterus (ruptura uteri). Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. yaitu menekan fundus uteri terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta yang belum terlepas dari insersinya. Peristiwa ini jarang sekali ditemukan. dapat secara mendadak atau terjadi perlahan . seringkali timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok . apabila kelainan itu sejak awal tumbuh dengan cepat.

Dalam kala III uterus jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum plasenta lepas dari dindingnya. yakni menghentikan perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat perdarahan. dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan penguat rahim (uterus tonikum). golongan darah dan bila mungkin tersedia donor darah. sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinannya. setelah bahu depan bayi lahir dengan tekanan pada fundus uteri plasenta dapat dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. Sesudah plasenta lahir hendaknya diberikan 0. Apabila sebelumnya penderita sudah mengalami perdarahan postpartum. Setelah plasenta lahir perlu ditentukan apakah disini dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir. Mencegah atau sekurangkurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting.Penanganan Perdarahan Postpartum Primer Pencegahan Perdarahan Postpartum Primer Penanganan terbaik perdarahan postpartum adalah pencegahan. Kunjungan pelayanan antenatal bagi ibu hamil paling sedikit 4 kali kunjungan dengan distribusi sekali pada trimester I. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin. kadar Hb. Namun salah satu kerugian dari pemberian ergometrin setelah bahu depan bayi lahir adalah kemungkinan terjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gemelli yang tidak diketahui sebelumnya. dan dua kali pada trimester III. segera dilakukan tindakan untuk mengeluarkannya4. Jika plasenta belum lahir (retensio plasenta). Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik. persalinan harus berlangsung di rumah sakit. Sepuluh satuan oksitosin diberikan intramuskulus segera setelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta.2 mg ergometrin intramuskulus. keadaan umum. Setelah ketuban pecah kepala janin mulai membuka vulva. Pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir dua hal harus dilakukan. Kadangkadang pemberian ergometrin. sekali trimester II. kematian janin dalam uterus dan solusio plasenta. namun sudah dimulai sejak wanita hamil dengan antenatal care yang baik. Sambil mengawasi persalinan. Penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegah perdarahan postpartum. Anemia dalam kehamilan harus diobati karena perdarahan dalam batas-batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah anemia. Kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan yang banyak. .Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan secara dini. infus dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan ampul methergin atau kombinasi 5 satuan sintosinon (sintometrin intravena).

3. . Dengan melakukannya hanya selama kontraksi rahim. muntah dan sakit perut2. muntah. mual. Syntometrine (campuran ergometrine dan oxytocin) ternyata lebih efektif dari oxytocin saja. untuk memungkinkan intervensi manajemen aktif lain. Memberikan obat uterotonika (untuk kontraksi rahim) dalam waktu dua menit setelah kelahiran bayi Penyuntikan obat uterotonika segera setelah melahirkan bayi adalah salah satu intervensi paling penting yang digunakan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan. Prostaglandin juga efektif untuk mengendalikan perdarahan. maka mendorong tali pusat secara hati-hati ini membantu plasenta untuk keluar. Diperkirakan penjepitan tali pusat secara dini dapat mencegah 20% sampai 50% darah janin mengalir dari plasenta ke bayi. sambil secara bersamaan memberikan tekanan ke atas pada rahim dengan mendorong perut sedikit di atas tulang pinggang. Namun. Menjepit dan memotong tali pusat segera setelah melahirkan Pada manajemen aktif persalinan kala III. Melakukan penegangan tali pusat terkendali sambil secara bersamaan melakukan tekanan terhadap rahim melalui perut Penegangan tali pusat terkendali mencakup menarik tali pusat ke bawah dengan sangat hatihati begitu rahim telah berkontraksi. Obat uterotonika yang paling umum digunakan adalah oxytocin yang terbukti sangat efektif dalam mengurangi kasus perdarahan pasca persalinan dan persalinan lama. tali pusat segera dijepit dan dipotong setelah persalinan. Tegangan pada tali pusat harus dihentikan setelah 30 atau 40 detik bila plasenta tidak turun. dan tekanan darah tinggi. syntometrine dikaitkan dengan lebih banyak efek samping seperti sakit kepala. tetapi secara umum lebih mahal dan memiliki bebagai efek samping termasuk diarrhea. dan dapat mempunyai pengaruh anemia zat besi pada pertumbuhan bayi. Berkurangnya aliran darah mengakibatkan tingkat hematokrit dan hemoglobin yang lebih rendah pada bayi baru lahir.Manajemen Aktif Kala III Manajemen aktif persalinan kala III terdiri atas intervensi yang direncanakan untuk mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan kontraksi rahim dan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan dengan menghindari atonia uteri. tetapi tegangan dapat diusahakan lagi pada kontraksi rahim yang berikut2. komponennya adalah2: a. c. Satu kemungkinan manfaat bagi bayi pada penjepitan dini adalah potensi berkurangnya penularan penyakit dari darah pada kelahiran seperti HIV2. Penjepitan segera dapat mengurangi jumlah darah plasenta yang dialirkan pada bayi yang baru lahir. b.

proteinuria). menunda kehamilan. T yang kedua adalah terlalu tua artinya hamil di atas usia 35 tahun. Wanita dengan pendidikan lebih tinggi cenderung untuk menikah pada usia yang lebih tua. sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan terutama perdarahan akan lebih besar. Selain itu. mereka juga tidak akan mencari pertolongan dukun bila hamil atau bersalin dan juga dapat memilih makanan yang bergizi. Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah). dan meningkatkan kesehatannya. preeklampsia (tekanan darah tiggi. Perubahan atau tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan ini didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran. Menurut BKKBN (2007) bahwa jika ingin memiliki kesehatan reproduksi yang prima seyogyanya harus menghindari “4 terlalu” dimana dua diantaranya adalah menyangkut dengan usia ibu. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). BBLR dan cacat bawaan. fistula vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina). pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir. fistula retrovaginal (keluarnya gas dan tinja dari vagina) dan kanker leher rahim. Risiko yang mungkin terjadi jika hamil pada usia terlalu tua ini antara lain adalah terjadinya keguguran. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna.Beberapa Faktor yang Memengaruhi Perdarahan Postpartum Primer 1. perdarahan. preeklampsia. bayi lahir sebelum waktunya. eklampsia. timbulnya kesulitan persalinan karena sistem reproduksi belum sempurna. mau mengikuti Keluarga Berencana (KB). timbulnya kesulitan pada persalinan. T yang pertama yaitu terlalu muda artinya hamil pada usia kurang dari 20 tahun. dan mencari pelayanan antenatal dan persalinan. 2. Adapun risiko yang mungkin terjadi jika hamil di bawah 20 tahun antara lain keguguran. Umur Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. . Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun.Pendidikan Menurut Depkes RI (2002). eklampsia . umumnya terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah. dimana seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih rasional. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. oedema.

Menurut Moir dan Meyerscough (1972) yang dikutip Suryani (2008) menyebutkan jarak antar kelahiran sebagai faktor predisposisi perdarahan postpartum karena persalinan yang berturutturut dalam jangka waktu yang singkat akan mengakibatkan kontraksi uterus menjadi kurang baik. infeksi dan pernah mengalami perdarahan antepartum dan postpartum. Jarak Antar Kelahiran Jarak antar kelahiran adalah waktu sejak kelahiran sebelumnya sampai terjadinya kelahiran berikutnya.3. Riwayat Persalinan Buruk Sebelumnya Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Pada paritas yang rendah (paritas 1) dapat menyebabkan ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan sehingga ibu hamil tidak mampu dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan. rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik. Anemia Menurut World Health Organization (WHO) anemia pada ibu hamil adalah kondisi dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 11. Sedangkan semakin sering wanita mengalami kehamilan dan melahirkan (paritas lebih dari 3) maka uterus semakin lemah sehingga besar risiko komplikasi kehamilan.0 gr%. 4. lebih tinggi kematian maternal. kematian janin. Kehamilan dalam keadaan ini perlu diwaspadai karena ada kemungkinan terjadinya perdarahan pasca persalinan. sectio caesarea. Paritas Paritas merupakan faktor risiko yang memengaruhi perdarahan postpartum primer. sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Selama kehamilan berikutnya dibutuhkan 2-4 tahun agar kondisi tubuh ibu kembali seperti kondisi sebelumnya. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan. 5. Bila jarak antar kelahiran dengan anak sebelumnya kurang dari 2 tahun. Lebih tinggi paritas. 6. persalinan dan nifas. Jarak antar kelahiran yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi kehamilan. Riwayat persalinan buruk ini dapat berupa abortus. eklampsi dan preeklampsi. Bila riwayat persalinan yang lalu buruk petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan yang akan berlangsung. Risiko pada paritas dapat ditangani dengan asuhan obstetrik yang lebih baik. . Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. persalinan sulit atau lama. janin besar.

multipara dan grandemultipara. sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Menurut Prawirohardjo (2002).0 gr% disebut tidak anemia 2. yaitu pada trimester I dan trimester III. . Bertambahnya sel darah merah masih kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma darah sehingga terjadi pengenceran darah. paritas dapat dibedakan menjadi primipara.9 gr% disebut anemia ringan 3. Hb < 6.Volume darah ibu hamil bertambah lebih kurang sampai 50% yang menyebabkan konsentrasi sel darah merah mengalami penurunan.0 gr% . Paritas adalah keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat hidup (Dorland.9 gr% disebut anemia sedang 4. Primipara Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak yang cukup besaruntuk hidup di dunia luar. 1. Hb 9.10. Perbandingan tersebut adalah plasma 30%. 2002). Hasil pemeriksaan dengan alat sahli dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Anemia juga menyebabkan peningkatan risiko perdarahan pasca persalinan. Hb 7.8.0 gr% . 3 Multipara Multipara adalah wanita yang telah melahirkan anak lebih dari satu kali. Hb > 11. Pemeriksaan dan pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Selama hamil diperlukan lebih banyak zat besi untuk menghasilkan sel darah merah karena ibu harus memenuhi kebutuhan janin dan dirinya sendiri dan saat bersalin ibu membutuhkan hemoglobin untuk memberikan energi agar otot-otot uterus dapat berkontraksi dengan baik. Pengaruh Paritasterhadap Perdarahan Postpartum Primer Paritas atau para adalah wanita yang pernah melahirkan bayi (Manuaba. Keadaan ini tidak normal bila konsentrasi turun terlalu rendah yang menyebabkan hemoglobin sampai <11 gr%.9 gr% disebut anemia berat Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan. Rasa cepat lelah pada penderita anemia disebabkan metabolisme energi oleh otot tidak berjalan secara sempurna karena kekurangan oksigen. Meningkatnya volume darah berarti meningkatkan pula jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah sehingga tubuh dapat menormalkan konsentrasi hemoglobin sebagai protein pengankut oksigen. 1998). Anemia dapat mengurangi daya tahan tubuh ibu dan meninggikan frekuensi komplikasi kehamilan serta persalinan.

Prawirohardjo. Jakarta: 2010 . Dupont C. New Technique to Halt Postpartum Hemorrhage. PENERBIT BUKU KEDOKTERAN EGC..75(6):875-882 5. Dalam : NEJM Journal Watch. Sebab yang paling umum dari perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pascapersalinan atau yang biasa disebut perdarahan postpartum primer adalah kegagalan rahim untuk berkontraksi sebagaimana mestinya setelah melahirkan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Postpartum Hemorrhage.idpogiuploaddownloadfile069c96ee68511a430e96bbee91144068pr otappenatalaksanaanperdarahanpascasalinprotappenatalaksanaanperdarahanpascasali n. Dalam : American Academy of Family Physician 2007 Mar 15. Carson. p298-306 6. 3. Yiadom. Pada paritas tinggi (lebih dari 3).medscape. Ilmu Kebidanan. plasenta yang tertinggal dan uterus yang turun atau inversi. Prevention and Management of Postpartum Hemorrhage. http://www. Dec 20.or. 8.SINOPSIS OBSTETRI. fungsi reproduksi mengalami penurunan. Mei 2]. Pamela L Dyne. Kayem G. Maame Yaa A B. 2011. Medscape Reference. Sandra Ann. Oxytocin during labour and risk of severe postpartum haemorrhage: a population-based.pogi. Smith. Anderson. Mousa. Dalam : British Medical Journal. Kematian maternal lebih banyak terjadi dalam 24 jam pertama postpartum yang sebagian besar karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Perdarahan Pascapersalinan. JAKARTA. Dari beberapa sebab perdarahan tersebut. June 7.pdf 4. . Edisi ke 4.Duncan. Rustam. Belghiti J. 343:d7400. BMJ 2011. [serial online] [cited 2012. Vol. otot uterus terlalu regang dan kurang dapat berkontraksi dengan baik sehingga kemungkinan terjadi perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar 1. Blum. 2012. cohort-nested case– control study.. Etches. Dalam : Chief Editor.Postpartum Hemorrhage in Emergency Medicine. J. salah satu faktor pemicunya adalah paritas. Treatment For Primary Postpartum Haemorrhage – A Cochrane Systematic Review. Pada paritas yang rendah (paritas 1). 2. Sarwono. persalinan dan nifas. 522 – 529. Mochtar. HA. MD more. Janice M. et al. Dalam :Chief Editor. John R. menyebabkan ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan sehingga ibu hamil tidak mampu dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan.4 Grandemultipara Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan. Ronald M Ramus. MD. 1998.com/article/796785-overview#showall 9. 2007 7. Available form: http://emedicine.