You are on page 1of 6

MAKALAH STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

ANGIOSPERMAE
(MIKROSPOROGENESIS)

DISUSUN OLEH : 1. ALDILA DINAR DAHNIAR 2. PHIKA AINNADYA HASAN 3. YUINAR H411 09 259 H411 09 260 H411 09 291

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

Defenisi Angiospermae Angiosperme merupakan kelompok dari tumbuhan spermatophyta atau lebih dikenal dengan tumbuhan berbiji. Angiospermae disebut tumbuhan berbiji tertutup karena bijinya dilindungi oleh daun buah (Ashari. S,. 1998). Karakteristik Tumbuhan Berbiji Tertutup Adapun karakteristik dari tumbhan berbiji terttup adalah (Ashari. S,. 1998) :   Hidup sebagai pohon, perdu, semak, merambat atau herba/terna Daun pipih dan lebar dengan susunan tulang daun menyirip, menjari, melengkung atau sejajar  Memiliki bunga sejati dengan perhiasan bunga berupa kelopak dan mahkota bunga dan alat perkembangbiakannya berupa putik dan benang sari  Angiospermae mempunyai pigmen fotosintesis berupa klorofil dan pati sebagai cadangan makanannya.   Pada tumbuhan ini juga dijumpai xilem dan floem. Pada Angiospermae terjadi pergiliran keturunan antara generasi sporofit dan gametofit. Generasi sporofit bersifat dominan, ukurannya lebih besar dan masa hidupnya lebih lama. Generasi gametofit tereduksi, ukurannya kecil, masa hidupnya lebih singkat dan bergantung pada generasi sporofit. Gametofit jantan yang belum dewasa berupa serbuk sari yang berkembang di dalam kepala sari. Gametofit betina terdiri atas embrio yang terdiri atas beberapa sel.  Angiospermae memiliki bunga yang berperan dalam adaptasi reproduksi. Pada bunga terdapat daun kelopak, daun mahkota, benang sari dan putik. Daun kelopak berfungsi untuk melindungi bunga, daun mahkota berfungsi sebagai penarik serangga penyerbuk, benang sari menghasilkan mikrospora yang berkembang menjadi serbuk sari dan selanjutnya akan menghasilkan sperma. Di dalam putik terdapat bakal biji

yang mengandung megaspora. Pada sebagian besar Angiospermae megaspora membelah secara mitosis tiga kali untuk membentuk delapan nukleus haploid dalam tujuh sel, salah satu di antaranya adalah sel telur.  Penyerbukan pada angiospermae terjadi bila serbuk sari sampai ke kepala putik. Proses ini dapat terjadi dengan bantuan angin, hewan penyerbuk atau manusia.  Ciri yang khas pada kelompok tumbuhan ini adalah proses pembuahan ganda. Pertama antara sel telur dan sperma, hasil fusi keduanya akan menghasilkan zigot. Kedua, antara sperma dan sel induk endospermae, hasil fusi keduanya menghasilkan endosperma. Untuk pertumbuhannya, embrio memerlukan zat makanan. Zat ini diperoleh dari endosperma atau dari kotiledon. Setelah terjadi proses pembuahan yang menghasilkan zigot dan endosperma di dalam bakal biji, maka bakal biji tersebut akan berkembang menjadi biji, sedangkan bakal buah yang mengandung biji akan berkembang menjadi buah. Definisi Gametogenesis Tumbuhan Gametogenesis tumbuhan merupakan proses dari sel kelamin yang mengandung kromosom berjumlah diploid (2n) dan haploid (n) yang kemudian mengalami pembelahan sel dan diferensiasi. Tujuan dari proses gametogenesis tumbuhan adalah untuk membentuk gamet haploid (n) dewasa yang siap untuk melakukan peleburan dengan gamet dari lawan jenisnya, serta membentuk individu tumbuhan baru (Imanullah, 2004). Pembagian Gametogenesis Tumbuhan Sama dengan proses gametogenesis secara umum, gametogenesis tumbuhan terbagi menjadi dua, yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Spermatogenesis atau sering kali disebut mikrosporogenesis merupakan proses pembentukan sel kelamin jantan atau inti sel sperma.

Adapun oogenesis atau disebut juga megasporogenesis merupakan proses pembentukan sel kelamin betina atau inti sel telur atau ovum. Di dalam proses gametogenesis, terjadi pembelahan mitosis maupun meiosis (Imanullah, 2004). Gametogenesis tumbuhan atau proses pembentukan gamet yang terjadi pada tumbuhan, khususnya tumbuhan biji meliputi dua langkah, yaitu (Imanullah, 2004) :

Mikrosporogenesis (terjadi pada bunga jantan) Megasporogenesis (terjadi pada bunga betina) Pada makalah ini, kami akan membahas lebih lanjut mengenai mikrosporogenesis.

Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut : Tanaman berbiji memiliki siklus hidup yang bergilir antara generasi gametofit dengan generasi sporofit, dan tidak membutuhkan air untuk proses fertilisasi gamet-gamet. gametofit tumbuh dalam sporofit yang disebut conus atau runjung pada tanaman gymnospermae, dan bunga pada tanaman angisopermae (Antony, 2006). Mikrosporogenesis yaitu proses gametogenesis tumbuhan pada bunga jantan. Gametofit jantan terdapat dalam struktur kecil yang disebut serbuk sari. Sperma dalam serbuk sari tidak membutuhkan air untuk membuahi telur, bahkan serbuk sari bisa mencapai gametofit betina dengan perantaraan angin, serangga atau hewan kecil. proses ini disebut polinisasi (penyerbukan) (Elisa, 2004). Pada proses ini kepala sari atau antera menghasilkan serbuk sari atau mikrospora. Sel induk mikrospora membelah diri secara miosis menjadi empat nukleus baru dengan dinding pemisah sehingga menjadi empat bagian sel mikrospora yang disebut tetrad. Pada pembelahan meiosis I, mikrosporofit yang berkromosom diploid (2n) membelah menghasilkan dua sel haploid (n). Pada pembelahan meiosis II diperoleh empat mikrospora haploid (n) yang siap untuk melebur (Elisa, 2004).

Benang sari terdiri dari kepala sari (antera) dan tangkai Sari (filamon). Kepala sari merupakan organ yang sangat penting karena di dalamnya terdapat mikrosporangia. Yang merupakan tempat berkembangnya gametofit jantan. Pada umumnya suatu antera trdiri dari 2 ruang sari (teka) dan masing-masing memiliki dua ruang lokuli. Lokuli berisi mikrospora disebut sporangium. Pada awal kepala sari muda didalam lokulomentum (yaitu dibawa epidermis) tersusun dari jarigan prenkimatis yang homogeny. Sebelum sel-sel induyk mikrospora menjadi mikrospora maka sel-sel ini akan mengalami pembelahan meosis. Pada pembelahan meosis I menghasilkan dua sel, dan [ada pembelahan ini terjadi reduksi jumlah kromosom yaitu terdiri dari 2n kromosom menjadi n kromosom untuk masing-masing sel yang dihasilkan yaiut butir polen. Megasporangium dikelilingi oleh jaringan sporofit yang disebut integumen. Integumen dan struktur yang terdapat di dalamnya (mengasporangium, megaspora) disebut ovula (Antony, 2006). Mikrospora berkecambah di dalam jaringan sporofit dan menjadi serbuk sari. keseluruhan dari mikrogametofit (serbuk sari) di transfer ke daerah sekitar megagametofit melalui proses polinisasi (penyerbukan). Angin atau hewan kadangkala menyempurnakan proses transfer tersebut. Ketika serbuk sari mecapai gametofit betina, ia membuat struktur berupa memanjang dalam megasporangium yang disebut buluh serbuk sari hingga mencapai sel telur. Sperma si transfer melalui struktur ini menuju sel telur. Keuntungan dari proses ini adalah sperma tidak membutuhkan air (berenang)untuk mencapai sel telur seperti tanaman yang tidak berbiji (Elisa, 2004).

DAFTAR PUSTAKA

Ashari. S,. 1998. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Imanullah, 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-Buahan Komersial. Bayu Media, Malang. Jawa Timur. Antony, 2006. Meningkatkan Keunggulan Bebuahan Tropis Indonesia. Penerbit Andi. Yogyakarta. Elisa, 2004. Pembungaan dan Produksi Buah I. www.elisa ugm.ac.id (diakses tanggal 21 januari 2009 pukul 14.30 WIB).