P. 1
SNO INFID - SEPTEMBER 2013 - MDGs dan Agenda Pembangunan Post 2015

SNO INFID - SEPTEMBER 2013 - MDGs dan Agenda Pembangunan Post 2015

|Views: 14|Likes:
Published by infid
SNO INFID - SEPTEMBER 2013 - MDGs dan
Agenda Pembangunan Post 2015
SNO INFID - SEPTEMBER 2013 - MDGs dan
Agenda Pembangunan Post 2015

More info:

Published by: infid on Jan 15, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2014

pdf

text

original

HAL

ANALISIS UTAMA

HAL
LApORAN UTAMA

HAL
KILAS INFID

HAL
KILAS MEdIA

HAL
PuSTAKA

HAL
KEGIATAN MITRA

Short News Overview InFiD
SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01

S N O infid
infid@infid.org @infidjkt
www.infid.org Infid Jakarta

2

4

5

5

6

6

MDGs dAN AgENdA PEmBANgUNAN POST 2015
OLEH HAMONG SANTONO, INFID

T

AHUN lalu, akhir bulan Juli 2012, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf sebagai co-chairs High Level Panel of Eminent Persons (HLP-EP) on Post 2015 Development Agenda. HLP-EP memiliki 23 anggota dan 1 ex-officio. Tugas utama HLP-EP adalah memberikan rekomendasi kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk Agenda Pembangunan Pasca-2015. Setelah bekerja lebih dari satu tahun, HLPEP telah menyampaikan laporannya, berisi 12 Tujuan termasuk penurunan kemiskinan ekstrem, pemberdayaan kaum perempuan, tata kelola pemerintah yang baik, dan kerja sama global yang lebih baik. Pada akhir bulan Mei 2013, HLP-EP telah menyampaikan rekomendasinya kepada Sekretaris Jenderal PBB dalam sebuah dokumen yang berjudul “A New Global Partnership: Eradicate Poverty And Transform Econo-

mies Through Sustainable Development” (lihat http://bit.ly/12JWdco Agenda pembangunan Pasca-2015 memiliki makna penting bagi stakeholders pembangunan, termasuk CSO Indonesia. Karena kemungkinan besar prioritas pembangunan dan arah pembangunan yang nanti disepakati dalam dokumen pembangunan pasca-2015 akan menjadi acuan pembangunan di semua negara negara termasuk Indonesia.

Perjalanan MDGs
APA yang telah terjadi dan apa capaian MDGs 13 tahun kemudian? Laporan PBB tahun 2013 tentang MDGs menyatakan kemiskinan ekstrem di tingkat global telah berkurang dari 47% pada 1990 menjadi 22% pada 2010. Capaian tersebut dipandang sebagai salah satu keberhasilan dari MDGs. Sayangnya, penurunan jumlah kemiskinan ekstrem tidak merata baik di antara negara,

wilayah, dan kelompok sosial. Sementara itu, permasalahan ketimpangan (inequality) kembali muncul dalam perdebatan pembangunan. Lima persen penduduk termiskin di Amerika, mendapatkan 35 kali lebih banyak daripada penduduk termiskin di Zambia, setelah disesuaikan dengan harga relatif (Milanovic, 2011). Sedangkan di Indonesia, angka rasio ini mencapai 0,41 pada tahun 2011, tertinggi di era reformasi. 20 persen penduduk terkaya di Indonesia menguasai 48,42% pendapatan nasional, sementara 40% penduduk termiskin di Indonesia hanya menguasai 16,85% pendapatan nasional. Selain soal capaian MDGs yang tidak merata dan meningkatnya ketimpangan, MDGs juga dinilai membutuhkan waktu yang lama untuk diseminasi dan implementasi. Ini disebabkan oleh pendekatan top-down dalam penyusunan MDGs yang menjadikan kepemilikan multipihak atas MDGs menjadi rendah. Kelemahan-kelemahan yang melekat pada MDGs menjadi pertimbangan utama bagi pe-

ANALISIS UTAMA pENGANTAR
PEMBACA yang budiman. Karena berbagai alasan, penerbitan SNO INFID telah lama tertunda. Sementara itu, banyak hal penting telah terjadi, yaitu membanjirnya jutaan informasi. Melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter dalam frekuensi yang tidak pernah berhenti. Akan tetapi, kemampuan mengolah dan memaknai informasi menjadi jauh lebih penting. Penting kiranya sebuah produk informasi dikemas untuk menangkap makna yang terjadi, memahami pola-pola yang berkembang, dan yang terpenting, menyuarakan suara dan perspektif CSO Indonesia. Kali ini SNO INFID terbit lagi dengan semangat baru. Semangat baru itu adalah SNO akan terbit dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris (di masa lalu hanya dalam bahasa Inggris). Selain itu, kami akan berupaya untuk menyajikan hasil kerja anggota dan jaringan INFID baik berupa buku, pertemuan atau pelatihan, dan menyajikan tema utama berupa analisa berita. Misalnya dalam edisi ini soal Hak Asasi Manusia (Review oleh Komite HAM PBB atas Indonesia) dan Pembangunan MDGs dan Post-MDGs/ Post-2015) Kami di sekretariat INFID berjanji sejak tahun ini, SNO akan hadir secara reguler 3 sampai 4 kali dalam setahun. Dengan senang hati, kami menunggu saran dan masukan Anda. n nyusunan agenda pembangunan global yang baru (Agenda Pembangunan Pasca-2015). Beberapa inisiatif kemudian dilakukan oleh PBB antara lain membentuk UN System Task Team, High Level Panel of Eminent Persons, dan Open Working Group on Sustainable Development Goals. Keseluruhan proses tersebut juga dilengkapi dengan konsultasi tematik dan konsultasi nasional di 60 negara yang diselenggarakan oleh badan-badan PBB. Semua dilakukan untuk memastikan Agenda Pembangunan Pasca-2015 menjadi inklusif, partisipatif, dan mampu mengakomodasi kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam pembangunan.

SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01 | SNO-INFID

2

INFID dan Agenda Pembangunan Pasca-2015
INFID dan CSO Indonesia lainnya sejak awal telah mengawal proses dan subtansi penyusunan agenda pembangunan Pasca-2015 terutama melalui mekanisme HLP-EP. CSO Indonesia telah hadir dalam beberapa pertemuan HLP-EP seperti pertemuan London (November 2012) dan Monrovia (Januari 2013). CSO Indonesia juga berupaya memastikan keterlibatan, memperkuat suara dan usulan kelompok masyarakat yang terpinggirkan melalui konsultasi dengan kelompok perempuan, miskin kota, dan masyarakat adat serta melakukan kegiatan diplomat briefing. Tidak hanya itu, INFID juga menyelenggarakan “Konsultasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Agenda Pembangunan Pasca-2015” pada tanggal 22-23 Januari 2013. Konsultasi

ini merupakan upaya untuk membangun posisi bersama CSO untuk mempengaruhi arah dan prioritas dokumen yang disusun oleh HLP-EP yaitu Agenda Pembangunan Pasca-2015. Sebanyak 130 peserta hadir, yang merupakan perwakilan CSO dari beberapa daerah di Indonesia. Dalam konsultasi ini, dihasilkan dokumen “Deklarasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Pembangunan Pasca-2015”. (Cek http://bit.ly/14CvPCB). Tahun ini, pada saat berlangsungnya pertemuan HLP-EP di Bali (25-27 Maret 2013), INFID bersama dengan Kemitraan menyelenggarakan CSO Preparatory Meeting pada tanggal 23-25 Maret 2013, sebagai bagian dari upaya CSO Indonesia dan global dalam mempengaruhi HLP-EP dalam penyusunan Agenda Pembangunan Pasca-2015. Tidak kurang dari 300 peserta hadir, yang merupakan perwakilan CSO Indonesia dan global. Pertemuan CSO global ini telah menghasilkan dokumen Communique Bali yang berisi usulan-usulan kepada Panel Tingkat Tinggi mengenai prioritas dan kebijakan yang lebih layak dan baik, yang harus dimasukkan dalam laporan Panel Tingkat Tinggi untuk Agenda Pembangunan Pasca-2015 (http:// www.worldwewant2015.org/fr/node/331231). Usulan-usulan CSO secara garis besar berisi tiga hal utama yaitu pendistribusian kekuasaan, kesejahteraan, dan sumber daya yang adil--antara si kaya dan si miskin, lakilaki dan perempuan, dan sebagainya, lantas skala perubahan kebijakan yang memungkinkan perubahan terjadi, serta dukungan pendanaan yang dibutuhkan untuk mencapai Agenda Pembangunan Pasca-2015. n

INdONESIA WATCH
w Desember tahun lalu, PBB mengadopsi resolusi yang mendorong pelaksanaan Jaminan Kesehatan Universal. Cek dokumennya di sini http://bit.ly/128s1Xh w Human Rights Watch merilis laporan 61 halaman mengenai Kegagalan Sektor Kehutanan di Indonesia dan Dampaknya Terhadap Hak Asasi Manusia. Laporan lengkap di sini http://bit.ly/146IIWh w Pemerintah diminta merevisi UU Ormas yang disahkan pada Juli lalu. Human Rights Watch berpendapat UU tersebut langkah mundur yang memberi batasan tak perlu pada kelompok sipil. Cek rilisnya http://bit.ly/17m7oIk w Freedom House memberikan status “Bebas” atau Free untuk Indonesia atas Indikasi Kebebasan Sipil dan Politiknya. Cek laporan lengkap LSM yang berbasis di Amerika di sini http://bit.ly/13p4sve w Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih di bawah rata-rata capaian pembangunan dunia. Indeks Pembangunan Manusia Badan PBB untuk Pembangunan UNDP ada di sini http://bit.ly/aefpJ0 w Negara-negara Asia, termasuk Indonesia perlu belanja lebih besar lagi untuk program jaminan sosial. Berita mengenai hal tersebut dan Indeks Perlindungan Sosial versi Bank Pembangunan Asia (ADB) bisa dilihat di sini http://bit.ly/17T1Bym w Badan PBB untuk anak-anak UNICEF merilis laporan soal disparitas pencapaian MDG’s yang terkait anak dan perempuan di level nasional dan daerah di Indonesia. Publikasinya ada di sini http://uni.cf/1bLoguG w Indeks Persepsi Korupsi Indonesia menempatkan Indonesia pada peringkat 118 di antara 176 negara atau dalam kategori jajaran bawah. Indeks dipublikasi Transparancy International. Cek http://bit.ly/ QJjbeQ w Birokrasi yang berbelit dan korupsi masih menjadi dua problem yang menghambat daya saing bisnis di Indonesia. Cek laporan lengkap The Global Competitiveness Report 2012-2013 di sini http://bit.ly/ Oa82nb w Dalam pernyataan pers bersama, organisasi internasional Civicus bersama dengan INFID dan Walhi menyatakan UU Ormas adalah kemunduran yang membatasi kebebasan berkumpul. Cek selengkapnya http://bit.ly/16VYctT
n

ANALISIS UTAMA DARI JENEWA UNTUK JAKARTA:

SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01 | SNO-INFID

3

REKOmENdASI KOmITE HAM PBB UNTUK INdONESIA
OLEH HiLMAN HANdONi, INFID

S

EtELAH 15 tahun reformasi, dan 68 tahun ulang tahun kemerdekaan, Indonesia perlu lebih kuat lagi mewujudkan komitmennya untuk melindungi Hak Asasi Manusia. Hal itu mengemuka dari sidang forum Universal Periodic Review (UPR) Komite HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada Juli 2013 lalu. Sidang kali ini membahas perkembangan dan usaha Indonesia dalam memenuhi dan memaju-

Indonesia punya catatan prestasi, tapi juga banyak pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan.
kan Kovenan Hak Sipil dan Politik (ICCPR)—kovenan yang telah diratifikasi Indonesia pada 2005. Indonesia punya catatan prestasi, tapi juga banyak pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan. Komite HAM PBB telah mencatat kemajuan kebijakan dan proses legislasi yang positif. Di antaranya adopsi Rencana Aksi Nasional HAM periode 2011-2014 dan pemberlakuan UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak. Indonesia juga meratifikasi sejumlah instrumen internasional seperti konvensi mengenai perlindungan bagi pekerja migran dan keluarganya pada 2012, konvensi anti-kejahatan terorganisasi transnasional dan protokol untuk mencegah, menekan, dan menghukum perdagangan manusia pada 2009, dan konvensi mengenai hak-hak orang dengan disabilitas pada 2011. Akan tetapi, Komite HAM juga mengeluarkan tak kurang dari 24 butir rekomendasi yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia (http:// www2.ohchr.org/english/bodies/hrc/docs/co/ CCPR-C-IND-CO-1_en.doc). Selain penyelesaian terhadap pelanggaran HAM masa lalu, seperti kasus Munir dan penghilangan paksa pada kurun 1997-1998, beberapa sikap dan rekomendasi Komite HAM yang penting adalah sebagai berikut, 1. Komite HAM mengingatkan Indonesia bahwa Kovenan mengikat sebuah negara secara keseluruhan, termasuk pemerintah daerah. Hal ini terkait dengan adopsi kebijakan syariah di Aceh yang menerapkan hukuman cambuk dan membaca alquran sebagai syarat menjadi pejabat publik. Komite menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan HAM. 2. Komite mendesak agar pemerintah mengambil langkah konkret untuk mencegah dan mengusut penggunaan kekerasan dan pembunuhan di luar hukum oleh aparat keamanan. Hal ini terkait dengan meningkatnya kasus penggunaan kekerasan dan pembunuhan di luar hukum untuk menghadapi protes dan pembangkang politik seperti yang terjadi di Papua dan Bima, Nusa Tenggara Barat. 3. Pemerintah harus melindungi dan memberikan kompensasi pada korban penyerangan yang berbasis agama, seperti yang terjadi pada kelompok Ahmadiyah dan Syiah. Komite juga merekomendasikan penyelidikan dan hu-

kuman terhadap pelaku penyerangan 4. Komite mendesak agar pemerintah merevisi UU Ormas 2013 dan memastikan agar tidak menabrak Kovenan. UU Ormas menurut Komite HAM membatasi dengan berlebihan kebebasan berekspresi dan berkumpul, baik terhadap organisasi lokal maupun asing. 5. Komite prihatin dengan praktik poligami dan batasan umur minimal menikah, yaitu 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Pemerintah diminta untuk merevisi aturan hukum dan menghapus praktik pernikahan dini. Komite juga meminta pemerintah untuk mencabut Peraturan Menteri Kesehatan No 1636 Tahun 2010 yang melegalkan sunat perempuan. 6. Komite merekomendasikan agar paling tidak kejahatan narkoba tidak dihukum dengan hukuman mati. Karena kejahatan ini tidak memenuhi kriteria “kejahatan serius” seperti yang tercantum dalam kovenan.

Tak sinkron, kurang kapasitas
LAHiRNYA keprihatinan dan rekomendasi dari Komite HAM paling tidak bersumber dari dua hal. Yang pertama tidak cukupnya kapasitas aparat negara. Dan yang kedua tidak sinkronnya kebijakan di tingkat nasional dan di tingkat daerah dengan standar universal yang terangkum dalam Kovenan. Ketidaksinkronan bisa terlihat dalam penerapan kebijakan syariah di Aceh. Praktik hukuman cambuk atau persyaratan bisa membaca alquran untuk menjadi pejabat publik di Aceh menurut Komite melanggar HAM. Tapi pemerintah pusat tidak mengambil tindakan terkait hal tersebut dengan dalih pelaksanaan otonomi daerah untuk Aceh.

kan lokal dan nasional. Di beberapa daerah, seperti di Papua dan di Bima, Nusa Tenggara Barat aparat keamanan masih memakai pola lama, yaitu memakai kekerasan dan pembunuhan di luar hukum dalam menghadapi aksi-aksi protes dan pembangkangan politik. Ini juga menunjukkan kelemahan kendali negara terhadap aparatnya di lapangan. Terlihat aparat keamanan belum punya kompetensi dan pemahaman yang baik terhadap HAM. Sementara itu ketidakcakapan terlihat dalam penyusunan UU Ormas. DPR tidak mereken butir-butir dalam Kovenan yang ditabrak oleh UU Ormas, yang dinilai Komite membatasi kebebasan berekspresi dan berkumpul. Dalam kasus lain, alih-alih melarang sama sekali, pemerintah malah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 1636 Tahun 2010 yang melegalkan sunat perempuan. Penjelasan delegasi Indonesia, bahwa legalisasi diperlukan untuk membatasi sunat perempuan yang dilakukan secara tradisional tidak bisa diterima. Karena menurut Komite, praktik sunat perempuan harus dihentikan dalam segala bentuknya. Indonesia juga masih belum memasukkan pernikahan dini dalam kebijakan dan regulasinya. Praktik ini berimplikasi sangat serius kepada hak dan martabat kaum perempuan dan remaja perempuan Indonesia. Seperti kekerasan dalam rumah tangga dan kematian ibu-anak. Soal hukuman mati, pemerintah masih belum memahami apa yang dimaksud dengan “kejahatan serius” dalam Kovenan, sehingga tetap menjatuhkan hukuman mati pada kejahatan narkoba. Kejahatan yang menurut Komite tidak masuk kategori “kejahatan serius”.

Indonesia Bisa
REKOMENdAsi Komite HAM dalam UPR adalah hasil dialog konstruktif antara Komite HAM PBB dengan negara yang ditinjau. Rekomendasi menawarkan tindakan dan kebijakan yang mudah dilakukan tanpa beban keuangan yang tinggi dan tanpa semangat menghukum. Misalkan penguatan institusi Komisi Kepolisian Nasional dalam kasus kekerasan dan pembunuhan di luar hukum, moratorium hukuman mati, atau mencabut peraturan terkait sunat perempuan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Menteri Hukum dan HAM perlu segera bergerak cepat membuat tindakan dan langkah yang tegas dan terukur. Koordinasi dengan kementerian lain dan pemerintah daerah sungguh mendesak. Dengan menindaklanjuti rekomendasi, Indonesia tidak cuma mendapatkan reputasi dan citra internasional. Sebagai negara demokratis, anggota Community of Democracy, Penggerak Bali Democracy Forum (BDF), dan anggota G-20, serta anggota ASEAN paling demokratis, Indonesia memiliki segala kepentingan untuk menjadi contoh dan teladan. Membaiknya kondisi HAM juga berarti manfaat berupa keadaan yang lebih baik yang dirasakan oleh setiap dan semua warga Indonesia baik laki-laki dan perempuan. n

Lahirnya keprihatinan dan rekomendasi dari Komite HAM paling tidak bersumber dari dua hal. Yang pertama tidak cukupnya kapasitas aparat negara. Dan yang kedua tidak sinkronnya kebijakan di tingkat nasional dan di tingkat daerah dengan standar universal yang terangkum dalam Kovenan.
Komite HAM mengingatkan bahwa Kovenan mengikat sebuah negara secara keseluruhan. Termasuk provinsi-provinsi dan aparat negara, dan cabang-cabang pemerintahan di bidang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pemerintah juga harus memastikan pelaksanaan Kovenan di seluruh wilayahnya, termasuk Aceh. Artinya pemerintah harus konsisten dan mensinkronkan kebija-

LApORAN UTAMA

SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01 | SNO-INFID

4

FLAgShIp FORUm, BERLIN JERmAN

S

AAt ini, sejumlah negara berkembang sudah bertransformasi menjadi aktor regional dan global dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dan kondisi politik yang kian stabil. Ambil contoh India, Brazil, Mexico, Indonesia dan Afrika Selatan. Keberhasilan tersebut membuka peluang kemitraan baru untuk menjawab tantangan dalam pembangunan global. Untuk itulah Kementerian Federal Jerman Untuk Urusan Kerjasama Ekonomi dan Pemban-

gunan (BMZ) mengadakan forum “Flagship Forum: The Rise Of The South and New Development Partnership” di Berlin, 13 -14 Juni 2013 (http://bit.ly/13Djo92) INFID terlibat dalam kegiatan workshop dengan topik tantangan yang dihadapi, tata kelola dan kemitraan global dan mengelola transformasi global. Dalam event itu INFID melihat perlunya penguatan suara Negara berkem-

bang/Negara selatan di lembagalembaga multilateral sehingga suara dan posisinya semakin kuat. Khusus untuk kerjasama bilateral Indonesia – Jerman, INFID memandang perlunya sebuah mekanisme yang transparan, akuntabel serta melibatkan pihak –pihak yang berkepentingan langsung dalam proses kerjasama pembangunan ke depan. Cek laporan lengkap http://bit.ly/15NTe3Z n

I

COmmUNITY Of DEmOcRAcY. ULAANBATAR, MONgOLIA
forum ini diniatkan untuk membuka kontak dan jaringan kerja dengan CSO yang bergerak dalam bidang HAM dan demokrasi di Asia. Dan sebagai langkah awal, dalam pertemuan terpisah, INFID juga terlibat sebagai salah satu anggota panitia perancang persiapan Asia Democracy Network (ADN) yang akan diluncurkan tahun ini. Jaringan ini bertujuan untuk mengefektifkan kegiatan pemajuan demokrasi di tingkat regional. Mewakili aspirasi CSO lainnya, INFID juga berbincangbincang dengan Menteri Luar Negeri RI Marty

NFID menghadiri pertemuan Community of Democracy (CD) di Ulaanbatar, Mongolia 27-29 April 2014. Pertemuan setingkat menteri luar negeri ini dihadiri oleh lebih dari seribu peserta dari 104 negara demokratis di dunia beserta perwakilan CSO, pemuda, perempuan, dan dunia bisnis. Selain memberikan anugerah Geremek Award kepada Aung San Su Kyi, pertemuan ini juga menghasilkan deklarasi Mongolia (Cek http:// bit.ly/11kylxH). Partisipasi INFID yang pertama kali dalam

Natalegawa, menyampaikan pesan agar CSO bisa memiliki struktur konsultasi resmi dalam Bali Democracy Forum (BDF) yang akan digelar Oktober ini di Bali. Cek laporan lengkap http://bit.ly/17xQxlE n

C20 SUmmIT, MOScOW, RUSIA

S

EBAGAi bagian dari advokasinya di bidang pembangunan, INFID menghadiri Civil20 Summit yang diadakan di Moscow 13 sampai 14 Juni 2013. Kegiatan dihadiri oleh CSO dari berbagai negara anggota G20 ditambah pewakilan dari Nepal dan Kazakstan. Presiden Rusia, Vladimir Putin mendorong pelibatan CSO di G20 secara resmi dengan tujuan menformulasikan rekomenda-

si yang akan diberikan pada pertemuan kepala pemerintahan pada September 2013. Perwakilan CSO mengusulkan “inclusive” masuk dalam framework G20 selain tiga pilar yang sudah ada yaitu Strong, Sustainable, dan Balanced Growth. Beberapa kajian yang dilakukan CSO dari 10 negara menunjukkan ketimpangan meningkat di sebagian besar negara kecuali Brazil dan Korea Selatan. Bukti-bukti di lapangan juga menunjukkan ketimpangan bisa menghambat pertumbuhan

ekonomi. Oleh karena itu, penting buat G20 memasukkan “inclusive” agar pertumbuhan yang dihasilkan berkualitas. (Cek rekomendasi lengkap di http://bit. ly/15FFQ3a) Pada kesempatan tersebut, INFID masuk dalam task force Inequality yang dipimpin Maria Lariova dari IORI, Moscow. Task force inilah yang merumuskan rekomendasi untuk framework G20. Kehadiran INFID pada kegiatan ini untuk persiapan rekomendasi CSO. Cek laporan lengkap http://bit.ly/1dz9lXQ n

WORLd HUmAN RIghTS CITY FORUm, GWANgjU, KOREA

I

NFID terlibat aktif sebagai anggota kelompok ahli dalam pembahasan pedoman mengenai kota hak asasi manusia dan menjadi juri lomba esai HAM internasional dalam rangkaian acara World Human Rights City di Gwangju, 18-27 Mei 2013. Pertemuan World Human Rights City diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Gwangju dan dihadiri lebih dari 500 orang yang datang dari

45 negara dan 122 kota di seluruh dunia. Seminar dan workshop dalam acara ini membahas aneka topik yang terkait dengan pedoman pelaksanaan HAM di sebuah kota. Kota Gwangju bermetamorfosis dari sebuah kota yang diperintah rezim represif militer menjadi kota demokratis berkat pergerakan yang dilakukan mahasiswa dan pelajar pada kurun 1980-an. Kota ini mengembangkan berbagai indikator agar layak disebut sebagai kota hak asasi manusia (cek lengkap­ nya di sini http://bit.ly/155g2Yb) Forum juga memberi anugerah kepada lembaga-lembaga global. Dalam forum ini Majalah Tempo dari Indonesia dan lembaga advokasi HAM HIJOS dari Argentina menerima the Gwangju Prize for Human Rights Special Award 2013. Cek laporan lengkap http://bit.ly/17C0PVF n

KILAS INFID | KILAS MEDIA

SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01 | SNO-INFID

5

PERINgATAN 100 TAhUN YAp ThIAm HIEN

R

AtUsAN orang berkumpul di YLBHI untuk mengingat 100 tahun Yap Thiam Hien, yang jatuh pada Mei 2013. INFID, yang juga dibidani oleh almarhum, ikut dalam peringatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Yap Thiam Hien: Pejuang Lintas Batas karya Josef P. Widyatmadja. Dalam acara tersebut, sahabat dan para tokoh ikut memberikan testimoni mengenai peran penting dan reputasi almarhum yang masyhur. Cek website resmi http://bit.ly/19buxRP n

POLIcY DIALOg
KILAS MEDIA

Opini INFID mengenai RUU Ormas

A

WAL Juni INFID bersama dengan Koalisi CSO Indonesia untuk Agenda Pembangunan Pasca-2015 mengadakan policy dialog bersama dengan Toferry Primanda Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri. Dalam pertemuan disampaikan pandangan CSO Indonesia mengenai Laporan High Level Panel yang dipimpin salah satunya oleh Presiden RI. Beberapa celah teridentifikasi, tapi target tak boleh dikurangi. n

MEsKi mendapat tentangan luas, DPR-RI akhirnya mengesahkan UU Ormas awal Juli ini. UU ini dinilai multi-tafsir, lebih bersemangat membatasi aktivitas masyarakat sipil, dan terlalu berat sanksinya (Cek lebih lengkap di sini http://bit. ly/YmGXwZ) Pemerintah mestinya membuktikan “prestasi” internasionalnya di bidang demokrasi dengan menaikkan level relasinya dengan CSO misalkan dengan dukungan finansial, bukan dengan “menghadiahkan” pengetatan aturan hukum ala UU Ormas. Simak sikap INFID dalam kolom yang dipublikasi di Harian Kompas http://bit.ly/1b4DApj n

Opini INFID mengenai Agenda Pembangunan Post2015
MEsKi dinilai lebih partisipatif dalam penyusunannya, Laporan High Level Panel of Eminent Persons on the Post-2015 Development Agenda masih menyisakan celah yang perlu diperbaiki. Laporan dinilai tidak kuat dan mengikat dalam upaya mengatasi isu ketimpangan. Selain itu, Laporan juga tidak mempunyai target dan indikator untuk melindungi dan mempromosikan hak-hak warga Negara migran. Cek tulisan opini INFID di The Jakarta Post http://bit.ly/ZZuSSc n

D

LOmBA KARYA TULIS ASEAN
ALAM rangka hari jadinya yang ke28, INFID bersama dengan Sekretariat Jenderal ASEAN Kementerian Luar Negeri, dan Pusat Studi ASEAN Universitas Indonesia mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah. Lomba berhadiah total 29 juta ini dimaksudkan untuk mencari solusi-solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup warga ASEAN. Peng­ umuman lomba di http://bit.ly/15X3Ltd

Pengungsi Syiah ditemui Presiden
PREsidEN Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya menerima korban pengungsi syiah yang mengayuh sepeda ke Jakarta. Menurut para pengungsi yang bertemu, Presiden menjamin mereka pulang ke rumahnya pada Idul Fitri ini (Cek beritanya http://bit.ly/12F3iv4). Dua hari berselang Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djoko Suyanto membantah ada jaminan tersebut sembari menegaskan pemerintah akan merelokasi pengungsi secara permanen jika rekonsiliasi tidak tercapai. (Cek beritanya http://bit.ly/12YOO5K) n

n

puSTAKA | KEGIATAN MITRA

SEPTEMBER 2013 | NOMOR 01 | SNO-INFID

6

…DAN LAHIRLAH LBH

KEGIATAN MITRA SEHAMA 2013, KontraS

Editor: Irawan Saptono, Tedjabayu Penerbit: YLBHI 2012

SEJARAH Lembaga Bantuan Hukum yang dijuluki “lokomotif demokrasi” tertuang dalam buku Verboden Honden En Inlanders Dan Lahirlah LBH. Ada 100 halaman lebih catatan sejarah LBH, ditulis peneliti Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Irawan Saptono yang dilanjutkan dengan serpihan tulisan dari tokoh-tokoh yang pernah bergabung di LBH. Hasilnya adalah cerita pasang-surut aktivitas pembelaan, organisasi dan peranan LBH dalam mendorong penguatan masyarakat sipil. n

KOMisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan atau KontraS kembali menggelar Sekolah HAM untuk Mahasiswa atau SEHAMA angkatan V pada Agustus-September 2013. Di sekolah ini, mahasiswa menerima teori dari para praktisi dan langsung mempraktikkan teori di lapangan. SEHAMA mengembangkan dan mempraktikkan wacana HAM di kalangan mahasiswa, sebagai garda depan perubahan dengan kekuatan intelektualnya. Sejak 2009, “sekolah” yang berlangsung selama 3 pekan ini, sudah melahirkan lebih dari 100 alumni. (Cek info lengkap di sini http://bit. ly/Jd71bC) n

Evaluasi 4 tahun UU Pelayanan Publik, Yappika
MEsKi sudah berusia empat tahun, masih sedikit masyarakat yang mengetahui keberadaan UU Nomor 25 Tahun 2009. Hal tersebut terungkap dalam diskusi Evaluasi Empat Tahun Implementasi UU Pelayanan Publik pada 24 Juli 2013 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3). Aspek lain yang juga mendapat perhatian dalam diskusi adalah belum terlihat jelas bagaimana mekanisme dan prosedur partisipasi masyarakat. (Unduh makalah lengkap diskusi ini di sini http://bit.ly/13knVKY) n

YAp THIAM HIEN PEJuANG LINTAS BATAS

Diskusi Jampersal, Cakrawala Timur
LSM yang berbasis di Surabaya Cakrawala Timur memaparkan hasil riset tentang pela­ yanan kesehatan ibu dan anak melalui program Jaminan Persalinan di Kabupa­ ten Jember dalam seminar yang dihelat pada 4 Juni 2013. Periset Khanis Suvianita men­ yebut program ini belum banyak diketahui masyarakat, bahkan oleh petugas ke­ sehatan dan kader posyandu yang menjadi garda depan pelayanan untuk ke­ sehatan ibu dan anak. Selain ketidaktahuan, riset juga mengungkapkan ada perbedaan kua­ litas pelayanan, pungutan liar, dan akses yang jauh dari permukiman yang membuat masyarakat enggan untuk mengakses layanan ini. Selain itu juga ada hambatan yang datang dari budaya kawin dini dan kepercayaan terhadap persalinan tradi­ sional yang masih cukup tinggi. n

Editor: Josef P Widyatmadja Penerbit: Libri (Imprint BPK Gunung Mulia)

KUMPULAN tulisan mengenai dan yang terinspirasi dari laku dan idealisme Pak Yap, begitu Yap Thiam hien akrab dipanggil, terangkum dalam buku Yap Thiam Hien Pejuang Lintas Batas. Para penulis, di antaranya Todung Mulya Lubis, Albert Hasibuan, Usman Hamid, dan Maria Ulfah Anshor, berbagi refleksinya dalam topik tulisan yang meliputi kemajemukan bangsa, penegakan hukum dan kemanusiaan, serta spiritualitas dan keagamaan— wilayah yang merangkum pribadi Pak Yap. n

Konsorsium Nasional Difabel di Forum PBB
IBU Risnawati Utami dari Konsorsium Nasional Untuk Hak-hak Penyandang Disabilitas berbagi pengalaman advokasinya pada tema pembangunan post-2015 dalam sesi partisipasi masyarakat sipil di forum PBB; 6th Session of the Conference of States Parties to the Convention on the Rights of Persons with Disabilities, 17-19 Juli 2013 di Markas PBB di New York. Bersanding dengan Amina Mohammed, penasihat khusus Sekretaris Jenderal PBB bidang Perencanaan Pembangunan Pasca-2015, Risna menceritakan bagaimana puluhan organisasi yang bergerak dalam isu disabilitas membangun konsorsium nasional untuk mengadvokasi isu difabel. Dan hasilnya, konsorsium ini dilibatkan dalam dialog bersama pemerintah Indonesia mengenai agenda pembangunan pasca-2015. (Cek http://bit.ly/152i64o) n

INTERNATIONAL NGO FORUM ON INDONESIA DEVELOPMENT (INFID) STAF PELAKsANA: Executive Director Sugeng Bahagijo, Program Manager Beka Ulung Hapsara, Program Officer MDG’s and Post-2015 Hamong Santono, Program Officer G-20 Siti Khoirun Nikmah, Program Officer Human Rights and Democracy Hilman Handoni, Assistant Program Officer Jeckson Robinson, IT Officer Suwarno Joyomenggolo, Admin and HRD Florence, Finance and Accounting Manager Misnawati, Finance Officer Sri Sumarni, Accounting Officer Doddy Kurniawan, Operational Officer Sabarno, Wasiton

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->