Generalisasi dan Diskriminasi Mari kita lihat sekali lagi pada kasus pembuka studi/pembelajaran kita.

Tim gugup ketika ia mengikuti tes/ujian Aljabar II, Hal Ini adalah sikap yang dipelajari sebagai hasil dari kondisi klasik (dijelaskan dari kalimat “wiggly”-nya). Ia juga menjadi gugup ketika ia mengikuti ujian Kimia, walaupun Dia tidak pernah mendapatkan hasil yang buruk dari ujian – ujian itu. Ketakutannya tergeneralisasi atau menjadi umum pada Kimia. Generalisasi terjadi ketika stimulus yang berhubungan dengan suatu kondisi stimulus memunculkan semua kondisi respon dengan sendirinya. Sains (Ilmu) fisik berhubungan dengan aljabar, Jadi ujian Kimia secara stimuli berhubungan dengan Ujian Aljabar, dan hal – hal itu memunculkan kondisi respon – kegugupan. Proses itu juga dapat berlangsung dengan cara lain. Siswa yang datang untuk menghubungkan sekolah dengan perhatian dari seorang guru mungkin meiliki reaksi yang sama dibandingkan kelas lain, aktivitas klub atau perkumpulan, and fungsi yang berhubungan dengan sekolah. Kelas lain dan kegiatan klub berhubungan dengan ruangkelas guru, yang mana merupakan kondisi stimulus dan melalui generalisasi , hal – hal itu memunculkan kondisi respon dengan sendiri. Kebalikan dari generalisasi adalah diskriminasi. Diskriminasi adalah kemampuan untuk memberi respon berbeda ke yang berhubungan tapi tidak memiliki stimuli yang mirip. Contohnya, Tim gugup selama ujian Kimianya, tapi tidak saat ujian Bahasa Inggris dan Sejarah. Ia membedakan antara Bahasa Inggris dan Aljabar. Contohnya, dan perbedaan responnya. Penghapusan Kebiasaan Dalam kasus pembelajaran kita, Tim melakukan hal yang lebih baik sejak ia bekerja dengan Susan dan merubah kebiasaan belajarnya. Dalam waktu tertentu, Jika ia melanjutkannya dan berhasil, maka rasa gugupnya akan menghilang atau kondisi responnya akan hilang. Extinction(Penghapusan Kebiasaan) terjadi ketika suatu kondisi stimulus terjadi berulang – ulang dengan ketiadaan dari stimulus tak bersyarat. Dalam kasus Tim, melakukan ujian berulang – ulang (stimulus bersyarat/berkondisi) terjadi tanpa kegagalan (kondisi tak bersyarat) dalam waktu tertentu tidak akan menghasilkan kegelisahan( respon bersyarat/dengan kondisi).

Hubungan Kelas (Classroom Connection) Terapkan Kontak/hubungan di kelasmu
1. Berhati-hatilah dalam mempertimbangkan bentuk fakta yang datang dari murid yang mana yang akan ia pertanggungjawabkan. Sediakan review frekuensi dan telusurilah untuk memperkuat hubungan/kontak pada fakta-fakta.  Guru sekolah dasar akan melakukan dalam beberapa menit setiap pagi untuk mereview fakta kesulitan perkalian dalam aktivitas penelusuran dan latihan sederhana.  Guru sejarah ingin murid-muridnya untuk mengingat beberapa tanggal penting. Ia mengidentifikasi tanggal-tanggal dan maknanya pada suatu bahan dan memberitahu murid-muridnya bahwa mereka berhak/bertanggungjawab untuk tahu informasi itu. Ia mereview bahan-bahannya dengan mereka secara berkala sebelum mereka diberi ujian.

Menerapkan Kondisi Klasik di Kelasmu

2. menyediakan lingkungan yang nyaman dan hangat sehingga kelas akan terasosiasi/berhubungan dengan perasaan positif.  Guru kelas 1 menyapa setiap muridnya dengan senyum ketika mereka masuk ke kelas pada pagi hari. Ia berusuaha secara berkala untuk bertanya kepada mereka tentang hewan peliharaan, keluarga, atau kehidupan personal mereka.  Guru SMP akan membuat sebuaha hukum yang dipertahankan dan ditegakkan yang melarang siswanya untuk mengejeknya dalam cara apapun, khususnya ketika mereka berada di dalam diskusi kelas atau menjawab pertanyaan dari guru. Ia menjadikan rasa saling menghargai sebagai hal yang prioritas di kelasnya. 3. Ketika bertanya kepada siswa, buat mereka dalam situasi yang aman dan atur hasilnya untuk memastikan respon balik yang positif.  Guru kota kelas 4 mencoba agar semua muridnya berpartisipasi dengan melakukan hal – hal berikut L a. Ketika menyebut responden yang enggan atau siswa dengan pencapaian rendah, ia memulai dengan pertanyaan seperti “Apa yang kau perhatikan dari masalahnya?” dan “Bagaimana kau membedakan kedua contoh itu?” Itu adalah pertanyaan yang apapun jawabannya tetap sesuai. b. Ketika murid tidak dapat atau tidak ingin menjawab, Ia mendorong mereka sampai mereka memberikan jawaban yang dapat diterima. (Teknik mendorong efektif dibahas dalam Chapter 12). c. Ia memanggilnya semua murid di kelasnnya sehingga berada di kelasnya menjadi berhubungan dengan merespon dan membuat usaha. 4. Menyediakan murid-muridnya dengan latihan dalam situasi kegelisahan potensial yang dapat timbul.  Guru SMA akan berhadapan dengan tes/ujian kegelisahan dengan secara spesifik serta tepat, yaitu informasi apa yang siswa perlu pertanggungjawabkan dalam tes. Ia memberi contoh untuk berlatih dan menyediakan kesempatan yang cukup untuk menghadapi masalah sebelum ujian.  Ketika guru menengah sosial menghadapi murid –murid yang gelisah yang akan melakukan presentasi pada seluruh kelas, ia akan membuatnya datang dan membuat presentasinya sendiri sehingga mereka dapat berlatih dan ia dapat menyediakan penentram dan dukungan. Persyaratan Instrumental Sejauh ini, diskusi kita telah berjalan dari pasangan S-R sederhana, yang dapat kita terapkan pada pembelajaran fakta (hubungan), ke hubungan S-R yang lebih kompleks (Kondisi bersyarat), dan kita telah menggunakan hubungan ini dalam menjelaskan reaksi perasaan dan fisiologis ke akitivitas kelas dan kejadian lain. Penjelasan ini masih memadai, bagaimanapun, karena orang – orang sering membuat atau memulai sikap – sikap, bukan sekedar merespon stilmuli. Dengan kata lain, orang – orang “mengoperasi” dalam lingkungan mereka. Yang mana merupakan sumber dari kata Persyaratan Instrumental.

Penjelasan ini akan membawa kita ke kerja yang dipopulerkan oleh B.F Skinner (1904 – 1990), suatu sikap pskilogis yang berpengaruh di pertengahan 1960-an yang sangat hebat hingga kepala departemen fisiologis di akhir tahun 1960-an mengedintifikasikan ia sebagai psikologis paling berpengaruh pada abad 20 (Myers, 1970). Skinner percaya bahwa respon ke stimuli yang spesifik menjelaskan sebagian kecil dari seluruh sikap. Ia menyarankan sebaliknya bahwa sikap lebih dipengaruhi dari konsekuensi dari aksi daripada kejadian yang mendahului aksi. Konsekuensi adalah hasil (stimulus) yang terjadi setelah sikap yang mempengaruhi sikap masa depan. Contohnya, pujian guru setelah siswa menjawab adalah konsekuensi. Hasil test dan ujian adalah konsekuensi, sebagai pengakuan dari kerja yang menarik perhatian dan teguran untuk sikap yang tidak layak. Kondisi instrumental dan klasik sering membingungkan. Untuk membantu mengklarifikasikan perbedaanya, Perbandingan keduanya diperlihatkan dalam tabel 6,1. Dari tabel, anda bisa melihat bahwa pembelajaran terjadi sebagai hasil dari pengalaman kondisi instrumental dan klasik namun tipe sikap berbeda dan sikap dan stimulus berlangsung secara berlawanan dengan keduanya. Mari kita berpindah pada diskusi detail dari kondisi instrumental dan perbedaan dari konsekuensi sikap yang ditampilkan dalam 6.2 Penguatan(Reinforcement) Penguatan adalah peningkatan frekuensi atau durasi dari sikap. Penguatan terjadi di kelas ketika murid diberi pujian, belaian, atau tambahan 5 menit untuk istirahat. Ada 2 jenis penguatan ; positif dan negatif. Penguatan Positif. Penguatan Positif(PR) adalah peningkatan sikap sebagai hasil dari penyajian pelajar dengan stimulus. Ketika bekerja dengan manusia, kita sering melihat apa yang disajikan untuk dihargai dan diinginkanm tapi peningkatan dalam hal siswa –siswa yang bermain kasar memerlukan teguran, contohnya Postive Reinforcement(PR). Konsekuensinya disebut pendorong dan sesuatu yang bertindak sebagai pendorong ketika sikap mengikuti peningkatan frekuensi atau durasi. Contohnya, Sergio menulis cerita dan gurunya berkomentar”Aku sangat menyukai tulisanmu Sergio, tata bahasa dan tanda bacamu sangat akurat, dan penjelasanmu sangat jelas.” Jika Tabel 6.1 Kondisi Klasik Kondisi Instrumental Sikap Tidak sukarela (Orang tak Sukarela (Orang dapat dapat mengontrol mengontrol sikapnya) sikapnya) Urutan Sikap mengikuti stimulus Sikap mendahului stimulus ( Konsekuensi) Bagaimana Pembelajaran Stimuli netral Konsekuensi perilaku Terjadi berhubungan dengan mempengaruhi perilaku stimuli tak bersyarat selanjutnya Peneliti Utama Pavlov Skinner (Researcher Key) Tabel 6.2

Konsekuensi Perilaku jelas.” Jika tulisan Sergio terus meningkat, komentar guru tersebut berperan sebagai pendorong positif. Guru yang memuji dari segala sisi mungkin pendorong yang umum di kelas. Nilai yang bagus, hasil ujian yang tinggi, “wajah bahagia” pada anak – anak kecil, bukti-bukti yang dapat dibayar dengan hak-hak istimewa, bintang pada papan buletin, dan pujian berperan sebagai pendorong positif bagi siswa. Demikian pula,pandangan penuh perhatian dari siswa, pertanyaan siswa-siswa, hasil ujian siswa yang tinggi, pujian dari murid dan orang tua berperan sebagai pendorong positif bagi guru, Pendorong Negatif, tidak semua pendorong bernetuk konsekuensi yang dihasilkan setelah perilaku. Pendorong negatif (NR) adalah peningkatan sikap yang merupakan hasil dari menghindari/menghilangkan stimuli/respon (Skinner, 1953). Contoh di kelas yaitu “Oke semuanya. Kalian telah melakukan pekerjaan dengan baik dengan menyerahkan PRmu pekan ini sehingga kalian tidak perlu mengerjakan tugas kalian pada akhir pekan. Kita akan melakukannya pada hari Senin.” Keinginan dari guru tersebut ialah agar terjadi peningkatan dimana kelak murid-muridnya akan mengerjakan PR dengan menyingkirkan tugas akhir pekan. Dengan memperhatikan bahwa walupun istilah negatif muncul di label, hasil NR ialah peningkatan dalam hal frekuensi dari perilaku, bukannya pengurangan. Guru juga menggunakan NR ketika ia berkata”Jika semuanya duduk diam di tempatnya ketika bel berbunyi, kita akan makan siang, tapi jika tidak kita akan melewatkan waktu makan siang kita” dengan menunjukkan perilaku yang dikehendaki, murid-murid dapat menghindari konsekuensi (melewatkan waktu makan siang). Perhatikan jika NR digunakan, akan muncul salah satu dari 2 kondisi yaitu: 1. Pelajar berada dalam situasi yaitu sebelum menunjukkan perilaku yang diinginkan. 2. Pelajar dapat menghindari konsekuensi. Contoh pada pekerjaan rumah,siswa rutin melakukan tugas selama akhir pekannya. mereka tidak berada dalam kondisi dimana lebih mementingkan usaha dengan teliti,tidak ada lagi yang akan dihilangkan oleh guru. Dalam contoh makan siang, murid-murid dengan cepat menjadi diam – menunjukkan perilaku yang diinginkan – demikian menghindari konsekuensi (melewatkan waktu makan siang). Kedua situasi itu adalah contoh dari NR(Negative Reinforcement). Prinsip Premak Band jazz Don Zentz siswa suka memainkan beberapa dari yang modern, komposisi upbeat jazz-rock tapi kurang antusias tentang beberapa standar. “Tidak, jangan „Mood Indigo‟ lain”. Mereka protes ketika ia mengangkat lembaran musik untuk musik klasik Duke Ellington. “Lakukanlah hal dengan baik sekali lagi dan kita akan memainkan „Watermelon Man‟”.Ia melawan. “Oke! Ayo kita lakukan!” mereka berteriak. Dalam kasus ini, guru itu menggunakan Prinsip Premack, yang dinamakan berdasarkan David Premack (1965), orang pertama yang mendeskripsikannya. Juga disebut “Hukum Nenek”/”Grandma‟s Rule” (“Pertama makan sayurmu , dan kau boleh

makan makanan penutup). Prinsip/Hukum Premack mengatakan aktivitas yang lebih sering atau disukai dapat digunakan sebagai pendorong untuk melakukan aktivitas yang jarang dilakukan dan kurang disukai. Murid-murid Tuan Zent‟s lebih memilih untuk memainkan “Watermelon Man” daripada “Mood Indigo”, sehingga ia menggunakannya sebagai pendorong untuk memainkan lagu yang kurang disukai. Ketika murid-murid geografi ingin melakukan proyek peta mereka dan gurunya berkata “Baiklah, bila secepat mungkin kalian mengidentifikasi bujur dan lintang dari 5 kota yang telah kuberikan, kalian boleh memulai proyek peta kalian”. Ia juga menggunakan Prinsip Premack. Yang diberikan(it affords) kedua pihak, guru dan murid berbagai pendorong yang instruksional berhubungan dan mudah dikelola. Hukuman Pendorong negatif dan positif adalah konsekuensi yang memperkuat perilaku. Namun, Beberapa konsekuensi, memperlemah perilaku atau mengurangi frekuensi. Konsekuensi yang dihasilkan dengan pengurangan perilaku disebut hukuman. Hukuman Presentasi. Dari 6.2 , anda dapat melihat bahwa hukuman presentasi(PP) terjadi ketika perilaku pelajar berkurang sebagai hasil dari yang disajikan dengan konsekuensi. Hukuman presentasi bermaksud , ketika murid harus mengambil sampah di ruang makan karena bermain kasar yang berlebihan, atau ketika guru secara verbal menegur siswa karena perilaku yang salah. Memungut sampat dan teguran adalah punishers (penghukum). Hukuman Penghapusan. Dalam 6.2 diilustrasikan ada 2 jenis hukuman. Padahal hukuman presentasi adalah melemahnya perilaku dengan menunjukkan konsekuensi, pengurangan perilaku dengan menghilangkan stimulus atau ketidakmampuan untuk mendapatkan dorongan positif disebut Hukuman Penghapusan (RP). Bersamaan dengan dorongan negatif, pelajar berada dalam situasi sebelum konsekuensi; namun, tidak seperti pendorong negatif, hukuman penghapusan mengurangi bukannya meningkatkan perilaku. Aplikasi kontroversial yang cukup umum dari RP disebut time-out. Murid yang berbuat salah akan dikeluarkan dari kelas dan secara fisik diisolasi dibelakang lemari arsip atau suatu pembatas lain. Secara rasional ialah, bahwa mengeluarkan dari kelas menghilangkan kesempatan murid untuk meraih dorongan positif, sehingga isolasi adalah bentuk hukuman penghapusan. Dalam kasus lain,siswa dikirim ke kelas siswa lain atau ditahan sepulang sekolah. Dalam kasus penahanan, kesempatan siswa untuk bermain dan berinteraksi dengan temannya terambil. Ketika tidak digunakan berlebihan, time-out dapat menjadi teknik manajemen yang efektif (Skiba & Raison, 1990; A.White & Bailey, 1990). Mari mempertimbangkan aplikasi lain pengelolaan guru dari hukuman penghapusan.
Bette Ponce telah memiliki masalah pengelolaan dengan murid kelas duanya. Untuk mencoba menyelesaikan masalah ini, ia memberikan setiap murid kelas duanya sebuah paket kecil berisi 3 slip kertas setiap pagi ketika mereka masuk ke ruangan. Setiap kali murid melanggar salah satu aturan kelas, sebuah slip kertas akan diambil dari paket siswa. Bette kemudian memanggil orang tua dari murid yang telah kehilangan seluruh slipnya selama hari itu. Kehilangan seluruh slip kertas pada hari kedua hasilnya ialah penahanan selama setengah jam.

Bette juga mengkombinasikan PR dengan program. Murid yang memiliki 10 atau lebih slip yang tersisa pada paketnya pada akhir pekan dapat menukarnya dengan waktu beas dan penghargaan lain.

Teknik Bette kadang-kadang disebut biaya respon, aplikasi hukuman penghapusan dengan mengambil dorongan yang telah diberikan. Siswa Bette diberikan beberapa slip kertas, yang mana akan hilang ketika melanggar aturan. Denda lalu lintas, dicabutnya SIM pengemudi, penalti 10 yard pada permainan football, dan kehilangan waktu bebas kelas sebelumnya adalah contoh dari biaya respon. Dorongan dan Hukuman:Hasil Penelitian. Apa dampak jangka panjang dari penggunaan dorongan atau hukuman pada pelajar? Apa hukuman dibenarkan? Apakah itu harus dilakukan? Apakah itu bekerja? Pekerjaan yang dilakukan disekitar 1950-an mengindikasikan bahwa hukuman hanya akan secara sementara melemahkan perilaku yang tak dikehendaki (Sears, Maccoby & Levin, 1957), namun penemuan ini kemudian dibantah. (J.Johnson 1972), Jika hukumannya cukup parah, perilaku dapat ditekan, dan hukumannya hanya dibenarkan pada kasus ekstrim. Siswa pengganggu yang kronis dan parah tidak memiliki hak untuk menghancurkan lingkungan kelas bagi siswa yang ingin belajar, dan jika pilihan yang ada hanya menghilangkan si pengganggu, aksi ini patut. Ingat, bahwa hukuman tidak mengajarkan perilaku yang dikehendaki; ini hanya menekan perilaku yang tidak dikehendaki. Siswa tetap harus diajarkan mengenai sikap yang benar/tepat. Penilaian yang peka dan profesional dibutuhkan dalam penggunaan hukuman. Sebagai contoh, jika hukuman secara rutin diberikan, siswa menjadi kurang terpengaruh pada hukuman. Gurunya dapat menjadi musuh, dan murid yang dihukum mungkin menyamaratakan kemusuhan mereka pada kelas, guru lain dan sekolah (Jenson, Sloan & Young, 1988). Suatu Sistem pengelolaan kelas berdasarkan hukuman akan cacat dan perlu diperiksa kembali. Banyak pimpinan pendidikan menegaskan dorongan positif. Contohnya, Semua orang mendengar pepatah “Menangkap mereka menjadi baik”. Peneliti yang melakukan sebuah survey mengenai pendekatan pengelolaan yang sukses menyimpulkan bahwa sistem yang mefokuskan pada perilaku positif jauh lebih unggul dari yang penekanan pengurangan pada perilaku yang tidak layak (R.Williams, 1987). memfokuskan secara eksklusif pada perilaku positif bukanlah obat mujarab. Namun, Setelah semua konsekuensi permusuhan dihilangkan. Beberapa murid sebenarnya menjadi lebih mengganggu(Pfiffer,Kasen & O‟Leary 1985 : Rosen. O‟Leary, Joyce,Conway, & Pfiffer, 1984). Solusi yang mungkin penggabungan aturan kelas dengan konsekuensi yang jelas. Kita akan membahas masalah ini lebih lanjut dalam Chapter 10). Pendorong positif juga harus digunakan secara hati-hati sebagai bentuk motivasi. Penelitian menunjukkan bahwa, bila diberikan tanpa pandang bulu, hal itu dapat berkurang dari motivasi hakiki dan secara negatif mempengaruhi pandangan siswa dalam latihan kelas (Harter, 1978;Morgan,1984). Kita memeriksa masalah ini secara detail pada chapter 9.

Instrumental Bersyarat : Penerapan /Aplikasi Pada bagian sebelumnya, kami memperkenalkan konsep penting terlibat dalam Instrumen Bersyarat dan mulai memeriksa beberapa penerapan kelas. Kita pindah sekarang ke hal yang lebih sistematik pada aplikasi/penerapan tersebut. Generalisasi dan Diskriminasi. Kita memeriksa generalisasi dan diskriminasi ketika kita membahas kondisi klasik, dan sekarang kita pertimbangkan hal itu dari instrumental bersyarat. Sebagai contoh, ketika murid TK melihat bentuk seperti pada 6.3 a mereka belajar untuk berkata “persegi”. Mirip, setelah membedah hiu, kodok dan janin babi, murid biologi mengenal masing-masing jantungnya. Jantungnya mirip tapi tidak sama. Ikan hiu memiliki 2 bilik, kodok memiliki 3 bilik dan babi memiliki 4 bilik. Namun, murid –murid mempelajari bahwa itu semua adalah jantung meskipun dengan perbedaan. Mereka telah menggeneralisasikannya. Dengan kondisi klasik, generalisasi adalah memberikan respon yang sama pada stimuli yang mirip namun tidak sama. Responnya secara sukalera, namun, bukannya secara terpaksa-dan hal itu merupakan kondisi klasik – dan hasil dari dorongan. Sebagai contoh, anak kecil didorong untuk menyebut bentuk pertama pada 6.3b sebagai persegi namun diberitahukan “tidak, itu persegi” ketika ia berkata bahwa bentuk kedua adalah persegi. Umpan balik seperti itu membantunya belajar untuk membedakan antara 2 bentuk. Demikian juga, siswa Biologi yang mengenal perbedaan antara jantung kodok dan hati kodok juga diskriminatif(membedakan). Diskriminasi adalah kemampuan untuk memberikan respon yang berbeda hingga mirip tapi bukan stimuli yang sama. Contoh umum dari pentingnya diskriminasi terjadi dalam membaca latihan kesiapan yang mana anak-anak belajar merespon secara berbeda pada p dan q atau b dan d dan huruf yang berhubungan lainnya. Mereka mempelajari diskriminasi ini melalui dorongan dan umpan balik. Generalisasi dan Diskriminasi, Peran dari Umpan Balik. Kebutuhan untuk menggeneralisasi dan mendiskriminasi sudah jelas. Pada satu sisi, ini akan tidak mungkin, contohnya bagi anak-anak untuk mempelajari tiap bentuk individu yang mereka hadapi; untuk membantu mereka, bentuk dikategorikan dalam konsep seperi persegi,lingkaran dan persegi panjang. Pada sisi yang lain, jika mereka tidak dapat mendiskriminasikan antara konsep, dunia akan menjadi kompleks dan membingungkan. Peran guru dalam proses ini ialah menyediakan umpan balik. Umpan balik adalah informasi tentang akurasi atau kelayakan dari respon, dan hal itu sudah secara konsisten berhubungan dengan pembelajaran siswa (Brophy & Good, 1986; Rosenshine & Stevens, 1986). Umpan balik yang efektif memiliki 4 unsur esensial yaitu : 1. Bersifat segera 2. Bersifat spesifik 3. Menyediakan informasi yang benar bagi pelajar 4. Memiliki nada emosi positif (Brophy & Good, 1986; J.Murphy, Weil, & McGreal, 1986) Untuk mengilustrasikan ide ini, mari kita memeriksa 3 contoh; Mr.Dennis Jo Mr.Dennis : Bentuk apa yang muncul , Jo? : Persegi. : tidak cukup, bantu ia , …Steve?

Ms.West Jo Ms.West

: Bentuk apa yang muncul, Jo? : Persegi : Bukan, itu persegi panjang, apa gambar selanjutnya Albert?

Ms.Baker : Bentuk apa yang muncul , Jo? Jo : Persegi Ms.Baker : Tidak, ingat, persegi memiliki panjang sisi yang sama. Apa yang kau perhatikan dari panjang sisi sisi pada gambar ini? Dalam membandingkan 3 contoh, anda bisa melihat umpan balik bersifat segera pada tiap kasus tapi umpan balik Mr.Dennis tidak memberikan Jo informasi tentang jawabannya selain bahwa itu salah; tidak dijelaskan secara spesifik dan tidak disediakan informasi yang benar. Ms.Baker, secara kontras, menyediakan spesifik, informasi yang benar dalam umpan baliknya. Contoh-contoh itu tidak menyediakan tentang nada emosional dari umpan balik. Nada emosional positif mengartikan bahwa guru mendukung dalam respon mereka terhadap jawaban murid. Umpan balik yang kasar, kritsi dan sarkasme mengurangi pembelajaran dan motivasi siswa. Pujian.Mungkin, bentuk paling umum dari umpan balik guru ialah, pujian dapat teradaptasi dalam berbagai situasi mengajar. Karena alasan ini dan peneliti mengungkapkan beberapa hal menarik yang berhubungan dengan pujian, kami akan memeriksanya di bagian ini. Pertama, pujian digunakan kurang sering dari yang banyak guru percaya. Brophy (1981) menemukan bahwa pemujian untuk jawaban yang benar terjadi kurang dari lima kali tiap waktu kelas dan pujian untuk berkelakuan baik sebenarnya sangat jarang, satu kali setiap 2 jam atau lebih di sekolah dasar dan semakin berkurang setiap siswa semakin bertambah usia. Kedua, pujian cenderung bergantung pada tipe siswa- yang meraih sesuatu yang tinggi, berkelakuan baik, penuh perhatian- sebagai kualitas dari jawaban yang bagus. Guru memuji siswa pada dasar dari ekspektasi jawaban yang mereka terima sebanyak yang mereka dengar. Ketiga, pujian yang efektif mencakup setiap karakteristik dari umpan balik efektif namun melewati batas (lihat 6.4;Brophy,1981) .Sebagai contoh, dengan semua hal dalam hidup, jika pujian dirasa tidak jujur, maka hal itu/pujian akan kehilangan kredibilitasnya. Pujian untuk usaha dan jawaban mendadak menjangkitkan bahwa usaha dan pemikiran orisinil itu dinilai; Ini merupakan indikator dari suasana positif kelas. Akhirnya, dengan semua hal dalam mengajar, penilaian secara hati-hati dibutuhkan. Contohnya, jika setiap jawaban yang dikehendaki dipuji secara spesifik, pujian akan mulai terdengar bermuluk-muluk dan dibuat-buat, dan aliran dari pelajaran dapat terganggu. Sebagai guru, anda harus menilai pujian umum dan campuran pujian spesifik yang layak. Rosenshine (1987), menawarkan solusi pada masalah ini. Ia menggagaskan bahwa pujian untuk jawaban siswa yang dibawakan secara percaya diri haruslah sederhana dan umum. Kebalikannya, pujian bagi jawaban murid yang benar namun sementara haruslah spesifik dan menyediakan informasi. Mari lihat bagaimana ini bekerja di kelas.

Mrs. Banbart Tanya

Mrs.Banbart

: Bagaimana arah dari laut saat lepas pantai di Chile mempengaruhi curah hujan di Gurun Chilean? : (percaya diri) arusnya datang dari selatan, sehingga airnya dingin. Udara diatas air lebih tebal daripada udara di atas tanah , sehingga udara yang melewati tanah menjadi hangat dan itu tidak hujan. : Yes, Deskripsi yang baik Tanya.

Kebalikannya, jika Tanya mengatakan secara esensial hal yang sama namun terdengar tentatif dan tidak pasti, Mrs.Banbart merespon dengan pernyataan sebagai berikut: Mrs. Banbart : Sangat bagus, Tanya. Kamu mengenal/tahu bahwa udara akan menjadi hangat apabila ia berpindah ke daratan. Ini karena air diatas air dingin, disebabkan oleh air dingin itu sendiri yang datang dari selatan. Analisis yang bagus.

Pujian yang spesifik pada kasus pertama tidak dibutuhkan karena siswa memberika jawaban dengan jelas dan penuh percaya diri. Jika jawaban tanya tentatif, bagaimanapun, pujian yang spesifik akan menekan informasi penting dan membantu mengurangi ketidakpastian. Fleksibilitas dalam pujian juga dibutuhkan. Anak-anak menikmati pujian yang diberikan secara terbuka di depan kelas dan mereka cenderung mengambil pujian sebagai nilai nominal tanpa memperhatikan kebenarannya (Stipek,1984). Siswa dengan kegelisahan yang tinggi dan mereka yang berasal dari golongan SES-rendah cenderung untuk bereaksi lebih positif pada pujian daripada melakukan pasangan(?) yang lebih percaya diri dan menguntungkan. Dalam usaha mereka untuk meraih kebebasan, bagaimanapun, murid SMP sering bereaksi lebih baik pada pujian yang diberikan secara tenang dan individu. Pujian harus cocok dengan prestasi. Pujian tak terkendali yang diberikan bagi setiap jawaban kehilangan kredibilitasnya walaupun guru itu tulus. Hal ini khususnya benar dengan murid yang lebih tua. Mereka mengabaikan pujian yang mereka lihat sebagai pujian yang tidak valid dan menafsirkannya , diberikan pada tugas yang mudah yang mengindikasikan bahwa guru itu mengharapkan sesatu yang rendah dari mereka (Emmer,1988;Good,1987a) Mari kita lihat pada beberapa penerapan tambahan dari dorongan positif

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful