MEWUJUDKAN KELUARGA SEJAHTERA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Drs.

Nur Kholiq Tidak dapat kita pungkiri, sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan pembangunan sebuah bangsa. Hal ini terkait erat dengan fungsi keluarga sebagai wahana pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila pemerintah bersama-sama dengan segenap komponen masyarakat berkepentingan untuk membangun keluarga-keluarga di negara kita tercinta ini agar menjadi keluarga yang sejahtera yang dalam konteks ini kita maknai sebagai keluarga yang sehat, maju dan mandiri dengan ketahanan keluarga yang tinggi. Terlebih Badan Koordinasi Keluarga Berencana asional !BKKB " sebagai motor penggerak #rogram KB di $ndonesia, sekarang ini sangat berpihak pada upaya membangun keluarga sejahtera dengan %isi dan misinya yang telah diperbaharuhi, yakni &'eluruh Keluarga $kut KB& dan &(ewujudkan Keluarga Kecil Bahagia 'ejahtera&. Keluarga yang sejahtera, dengan demikian, tentu menjadi dambaan setiap orang untuk mencapainya. Bukan saja karena dengan mencapai tingkat kesejahteraan tertentu, seseorang akan dapat menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan karena tercukupi kebutuhan materill dan spirituilnya, tetapi dengan kondisi keluarga yang sejahtera setiap indi%idu didalamnya akan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang sesuai dengan potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki. (embangun keluarga sejahtera, telah banyak diupayakan oleh berbagai pihak, termasuk oleh semua keluarga di $ndonesia. #emerintah pun sebenarnya juga telah cukup lama memberi perhatian pada masalah ini. Terbukti, sejak tahun )**+ lalu, pemerintah telah mencanangkan &,erakan (embangun Keluarga 'ejahtera& dengan sasaran pokok keluarga #ra 'ejahtera dan K' $ alasan ekonomi yang sering dikategorikan sebagai keluarga miskin. amun banyak di antara mereka yang gagal. -aktanya, hingga saat ini, tidak kurang dari ./,+ juta keluarga di negeri ini tetap dalam kondisi kurang sejahtera, bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai pra syarat untuk dapat hidup secara layak. Bila kita cermati, salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan dan wawasan mereka tentang kesejahteraan itu sendiri, hingga mereka tidak tahu langkah-langkah apa yang efektif untuk mencapainya. Kurangnya wawasan dan pengetahuan tentang kesejahteraan termasuk dalam perspektif agama juga telah menyebabkan mereka memiliki pandangan yang keliru mengenai arti dari kesejahteraan itu sendiri. 0mumnya masyarakat masih menganggap bahwa keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang tercukupi kebutuhan materinya. 1alam arti, asalkan keluarga tersebut memiliki harta yang banyak, rumah yang besar dan mewah, kendaraan dan peralatan rumah tangga yang modern serta memiliki tabungan yang banyak, telah dianggap sejahtera hidupnya, tanpa memikirkan hal-hal yang bersifat psikis. Harus disadari bahwa pandangan tersebut adalah pandangan yang keliru. Karena kesejahteraan keluarga tidak hanya diukur dengan kecukupan materi saja. (asih banyak syarat lain yang harus dipenuhi. Kalau kita baca Bab $ #asal ) 2yat )) dari 0ndang 0ndang o )3 Tahun )**. tentang #erkembangan Kependudukan dan #embangunan Keluarga 'ejahtera, maka kita akan mengetahui bahwa keluarga yang sejahtera itu tidak hanya tercukupi kebutuhan materiilnya, tetapi juga harus didasarkan pada perkawinan yang sah, tercukupi kebutuhan spirituilnya, memiliki hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, antara keluarga dengan masyarakat sekitarnya, dengan lingkungannya dan sebagainya. itu semua diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan hidup sehingga hidupnya dapat tenteram dan nyaman tanpa rasa was-was. 1apat kita bayangkan, bagaimana mungkin sebuah keluarga mencapai kebahagiaan sejati walaupun berlebihan secara materi, namun selalu dikejar rasa berdosa atau bersalah karena harta yang ia makan dan ia gunakan merupakan hasil korupsi atau tindak kejahatan lainnya. 'ungguh, dalam keluarga tersebut yang ada hanya rasa was-was, takut, dan jiwa yang gersang

sehingga materi yang berlimpah hanya akan membuat hidupnya sengsara secara batiniah, dalam arti kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang sebenarnya tidak akan pernah tercapai. 1engan demikian, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup harus tercakup didalamnya adalah adanya rasa tenteram, aman dan damai. 'eseorang akan merasa bahagia apabila terpenuhi unsur-unsur tersebut dalam kehidupannya. 'edangkan sejahtera diartikan sebagai keadaan lahiriah yang diperoleh dalam kehidupan duniawi yang meliputi 4 kesehatan, sandang, pangan, papan, paguyuban, perlindungan hak asasi dan sebagainya. 5adi seseorang yang sejahtera hidupnya adalah orang yang memelihara kesehatannya, cukup sandang, pangan, dan papan. Kemudian diterima dalam pergaulan masyarakat yang beradab, serta hak-hak asasinya terlindungi oleh norma agama, norma hukum dan norma susila. 2gama $slam yang memiliki penganut terbesar di $ndonesia, memandang bahwa membangun keluarga sejahtera merupakan upaya yang wajib ditempuh oleh setiap pasangan !keluarga" yang diawali dengan perkawinan6pernikahan $slami. Karena perkawinan adalah hal mendasar dalam pembentukan keluarga $slam. Tanpa perkawinan sesuai ajaran6ketentuan agama, mustahil sebuah keluarga akan mencapai kesejahteraan yang diidamkan. abi (uhammad '27 sebagai utusan 2llah '7T yang menyebarkan agama $slam di bumi ini, memuji institusi tersebut sebagai bagian dari sunah beliau. 1engan demikian, sebuah perkawinan harus betul-betul direncanakan dengan baik. Termasuk dalam hal ini adalah dalam pemilihan pasangan hidup, yang bukan hanya sekedar atas pertimbangan kecantikan6kegantengannya atau pekerjaan dan status sosial ekonominya, tetapi juga agama dan bibit, bobot dan bebet nya. ,una memaknai perkawinan, 2l 8ur9an menggunakan istilah &(itsa:on ,holidhon& yang artinya perjanjian yang teguh6kuat. $stilah tersebut pertama-tama menunjuk pada perjanjian antara 2llah '7T dengan para abi dan ;asul. Tetapi dalam 'urat 2n isaa9 2yat .) menunjuk pada perjanjian nikah. 1engan demikian, 2l 8ur9an menunjukkan kesesuaian hubungan antara suami dan isteri, mirip dengan kesucian hubungan antara 2llah '7T dan manusia yang dipilihnya. (aka, perkawinan atau pernikahan dipandang sebagai tugas, dan anak-anak dilihat sebagai salah satu wujud berkah 2llah '7T bagi suami isteri. abi (uhammad '27 menyebut perkawinan sebagai &setengah ibadah&. #erkawinan bukanlah suatu perkara duniawi belaka, karena hukum yang mengatur tak hanya dari manusia, tetapi juga dari 2llah '7T sendiri. #erkawinan menurut $slam juga dipandang sebagai perjanjian timbal balik yang menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban pada suami dan isteri. #erkawinan adalah suatu persekutuan hidup demi pengesahan hubungan seksual serta untuk mendapatkan keturunan6anak. #erkawinan yang sembunyi-sembunyi atau kumpul kebo tidak dibenarkan sama sekali. 'uami harus menjadi pemimpin atau kepala keluarga yang bertanggung jawab atas nafkah dan kesejahteraan isteri maupun anak. 1alam agama $slam, keluarga sejahtera disubstansikan dalam bentuk keluarga sakinah. #engertian keluarga sakinah diambil dan berasal dari 2l 8ur9an, yang dipahami dari ayat-ayat 'urat 2r ;uum, dimana dinyatakan bahwa tujuan keluarga adalah untuk mencapai ketenteraman dan kebahagiaan dengan dasar kasih sayang. <aitu keluarga yang saling cinta mencintai dan penuh kasih sayang, sehingga setiap anggota keluarga merasa dalam suasana aman, tenteram, tenang dan damai, bahagia dan sejahtera namun dinamis menuju kehidupan yang lebih baik di dunia maupun di akhirat. 'ementara menurut Keputusan 1irektur 5endral Bimbingan (asyarakat $slam dan 0rusan Haji omor 16=)6)*** tentang #etunjuk #elaksanaan #embinaan ,erakan Keluarga 'akinah Bab $$$ #asal > dinyatakan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material yang layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antar anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, keta:waan dan akhlak mulia.

(encermati tahapan-tahapan dalam keluarga sakinah, kita dapat memahami bahwa secara umum konsep keluarga sakinah tidak jauh berbeda dengan konsep keluarga sejahtera yang secara eksplisit telah dicantumkan dalam 0ndang 0ndang omor )3 Tahun )**. tentang #erkembangan Kependudukan dan #embangunan Keluarga 'ejahtera. #aling tidak, unsur-unsur yang mendasar seperti perkawinan yang sah, terpenuhinya kebutuhan materiil dan spirituil yang layak, serta terjalinnya hubungan yang harmonis di antara anggota keluarga serta dengan masyarakat, telah menunjukkan kesamaan persepsi. Kesamaan persepsi tersebut akan terlihat jelas apabila kita mencermati indikator tahapan-tahapan keluarga sejahtera yang dimanifestasikan dalam bentuk Keluarga #ra 'ejahtera, K' $, K' $$, K' $$$ dan K' $$$ #lus. Hal ini dapat kita maknai, dalam konteks yang lebih luas, agama $slam telah memberikan kontribusi yang tidak ternilai harganya dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera di $ndonesia. Berbicara mengenai upaya mewujudkan keluarga sejahtera, tentu kita tidak akan lepas empat aspek yang menjadi bidang garapan pokok dalam Keluarga Berencana !KB" sebagaimana tercantum dalam pengertian KB menurut 0ndang 0ndang omor )3 Tahun )**. Bab $ #asal ) 2yat )., yakni #endewasaan 0sia #erkawinan, #engaturan Kelahiran, #embinaan Ketahanan Keluarga dan #eningkatan Kesejahteraan Keluarga. 1i sini agama $slam telah memberikan gambaran yang jelas di setiap aspek, yang secara langsung maupun tidak langsung mencerminkan dukungan positif agama $slam terhadap upaya mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Terkait dengan aspek #endewasaan 0sia #erkawinan, meskipun dalam $slam tidak ada ketetapan usia kawin, namun merujuk pada 2l 8ur9an 'urat 2n isaa9 2yat /, disyaratkan bahwa mereka yang melaksanakan perkawinan harus sudah cukup umur, dan telah cerdas !pandai" memelihara harta. Hal tersebut dapat kita terjemahkan bahwa perkawinan dalam $slam baru dapat dilaksanakan bila pria atau wanitanya telah mencapai kedewasaan !fisik maupun psikis". 'elain itu, sudah mampu mengatur ekonomi keluarga sebagai modal dasar untuk mencapai keluarga yang bahagia dan sejahtera. #ertimbangannya, usia kawin mengandung makna biologis, sosio-kultural, dan demografis. 'ecara biologis, hubungan kelamin dengan isteri yang terlalu muda !yang belum dewasa secara fisik" dapat menyebabkan nyeri kemaluan, cabikan dan robekan. ?agi pula, apabila terjadi kehamilan, maka hal itu akan membawa resiko besar terhadap si ibu maupun anak. 'ecara sosio-kultural, pasangan tersebut !terutama si istri" harus mampu memenuhi tuntutan sosial perkawinan, mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak. 0sia yag terlalu muda bisa menyebabkan tidak hadirya unsur yang disebutkan dalam 2l 8ur9an, yaitu hidup dalam ketenteraman !sakan". 'ecara demografis !kependudukan", usia kawin yang lebih tinggi merupakan salah satu cara dalam mengurangi kesuburan tanpa penggunaan kontrasepsi. 'ementara itu, terkait dengan aspek #engaturan Kelahiran, meskipun dalam $slam tidak ada pembatasan tentang jumlah anak yang dilahirkan, namun ada harus memperhatikan kualitasnya. 2l 8ur9an dalam 'urat 2l (a9idah ayat )33 telah mengingatkan kepada kita bahwa nilai terletak pada kualitas bukan kuantitas. abi (uhammad '27 sendiri sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim, menyadari bahwa mempunyai terlalu banyak anak tanpa sarana untuk merawat mereka merupakan cobaan yang besar. 'ementara itu, tokoh besar kaum mukmin $bn 92bbas, menyatakan bahwa mempunyai anak yang terlalu banyak akan membawa kepada kesulitan. 'ementara itu, upaya pengaturan kelahiran melalui penjarangan anak dalam $slam, tercermin dari 'urat 2l Ba:arah 2yat .>> yang menyatakan bahwa para ibu hendaklah menyusukan anakanaknya selama dua tahun penuh, terutama bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan. #ada ayat lain, penyapihan anak disebutkan berlangsung dua tahun !'urat ?u:man 2yat )+". $ni berarti, apabila dua tahun penyapihan itu ditambah dengan enam bulan yang merupakan waktu minimum kehamilan untuk dapat menghasilkan seorang anak dalam keadaan normal, maka jumlah seluruhnya menjadi tiga puluh bulan sebagaimana di sebutkan dalam 'urat 2l-2h:af 2yat )@. Beberapa ayat tersebut menjadi

bukti bahwa $slam menganjurkan penjarangan anak sehingga memungkinkan si ibu menyusui anaknya dengan makanan tambahan sesuai pertumbuhan si anak. 'elama periode ini, kehamilan baru dienggankan. abi (uhammad '27 sendiri telah memperingatkan wanita supaya tidak hamil di masa penyusuan anak, dengan menamakan hal itu al-ghail, ghailah, atau ghiyal !serangan kepada si anak". 0paya menjarangkan kelahiran anak ini secara langsung maupun tidak langsung berkaita erat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena dengan jarak anak yang cukup, orangtua khususnya ibu tetap dalam kondisi sehat dan akan lebih leluasa dalam bekerja mencari reAeki di jalan 2llah '7T. 'elanjutnya, terkait dengan aspek #embinaan Ketahanan Keluarga, 2gama $slam telah memberikan tuntunan dalam bentuk kewajiban dan tanggung jawab suami kepada isteri dan sebaliknya serta kewajiban dan tanggung jawab orangtua terhadap anakanaknya dan sebaliknya. Bila semua kewajiban dan tanggung jawab dari masing-masing pihak dapat dipenuhi niscaya keluarga akan berjalan tenteram, tidak ada perselisihan, percekcokan maupun kasus-kasus perselingkuhan, perAinaan yang dapat memperlemah ketahanan keluarga mereka, karena perceraian, terserang penyakit kelamin dan atau H$B62$1'. 2nak-anak juga tidak akan terlantar, sehingga kasus anak kelaparan, anak menjadi gelandangan atau kasus kenakalan anak6remaja dengan segala konsekuensinya dapat dihindari. Bentuk-bentuk kewajiban dan tanggung jawab suami adalah memimpin dan membimbing keluarga lahir batin, melindungi isteri dan anak-anak, memberikan nafkah lahir dan batin sesuai dengan kemampuan, mengatasi keadaan dan mencari penyelesaian secara bijaksana serta tidak bertidak sewenang-wenang. 'ementara bentukbentuk kewajiban dan tanggung jawab isteri adalah menghormati da mencintai suami, mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya, dan memelihara serta menjaga kehormatan rumah tangga. Terhadap anak, orangtua berkewajiban merawat dan mendidik sebaik-baiknya. Hal ini dapat dari )3 hak anak yang menjadi pencerminan dari kewajiban dan tanggung jawab orangtua, yaitu4 !)" Hak akan kesucian keturunan, !." Hak untuk hidup, !>" Hak atas keabsahan dan nama yang baik, !+" Hak akan penyusuan, tempat kediaman, pemeliharaan, termasuk perawatan kesehatan dan nutrisi, !@" Hak untuk pengaturan tidur yang terpisah, !/" Hak keamanan di masa depan, !=" Hak atas pendidikan agama dan perilaku yang baik, !C" Hak atas pendidikan dan latihan olah raga serta bela diri, !*" Hak atas perlakuan yang adil, !)3" Hak bahwa semua dana yang digunakan untuk menafkahi mereka hanya berasal dari sumber-sumber yang halal. 2yat-ayat 2l 8ur9an yang menguraikan tentang hak-hak anak tersebut dapat dilihat pada 'urat 2l-2n9am 2yat )@), 'urat 2l-$sra9 2yat >), 2l Ba:arah 2yat .>> dan beberapa hadist nabi. 2khirnya terkait dengan aspek #eningkatan Kesejahteraan Keluarga, 2gama $slam telah memberikan penuh pada seluruh keluarga untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Hal ini tidak saja tercermin dari 2yat-ayat dalam 2l 8ur9an, tetapi juga dalam Hadist. amun demikian, upaya mencari reAeki yang dilakukan hendaklah dengan cara yang halal. abi (uhammad '27 bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh 2l-Baiha:i antara lain sebagai hak anak atas oragtuanya ialah bahwa orangtua mengajarinya menulis, berenang, memanah dan hanya memberinya reAeki yang hahal. 1ari hadist tersebut kita dapat mengetahui bahwa semua dana dan sumber yang digunakan untuk nafkah anak-anak harus bersumber dari pendapatan yang sah dan halal. 'elanjutnya upaya pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya menurunkan kemiskinan, dalam $slam dianjurkan dengan meningkatkan ekonomi kerakyatan yang dilaksanakan dengan mengembangkan koperasi masjid, majelis taklim, ?(' 2gama dan Kelompok Keluarga 'akinah serta membentuk 1esa Binaan ,erakan Keluarga 'akinah. 1ari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa 2gama $slam sangat mendukung upaya membangun keluarga yang sejahtera. Bentuk dukungan ini bukan hanya sebatas pada upaya mendewasakan usia perkawinan, pengaturan kelahiran atau pembinaan ketahanan keluarga, tetapi juga upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga yang bersangkutan. 1an hal-hal tersebut telah dicontohkan oleh abi (uhammad '27, bukan sekedar ajakan melalui sabda-sabdanya, tetapi juga melalui contoh dalam kehidupan nyata. Karena abi (uhammad '27 adalah seorang pedagang yang ulet dan tangguh, sehingga kehidupan

keluarganya dalam kondisi bahagia dan sejahtera, yang tercermin dari riwayat kehidupan beliau sebagaimana disampaikan oleh sahabat-sahabat beliau dalam catatan