SiNdRoM NefRoTiK

Oleh: Dr.Ulfa Primadhani Pembimbing: Dr. Indra Saputra,Sp.A,M.Kes Dr, Sabar, Sp.A

IDENTIFIKASI


 


Nama : Moreno Umur : 3 tahun Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kebangsaan : Indonesia Alamat : Jl. HM.Yusuf Nasir RT 04 Kel. W.Pura,Jambi Selatan MRS : 5 Juni 2012

ANAMNESIS
(alloanamnesis dengan ibu dan ayah penderita, 5 Juni 2012)  Keluhan Utama : Bengkak pada seluruh tubuh  Keluhan tambahan : batuk pilek

±5 bulan SMRS timbul bengkak di kelopak mata. Penderita dibawa ke dokter umum dan diberikan obat antibiotik dan penurun demam. bengkak dirasakan terutama saat bangun tidur dan berkurang saat siang hari. tidak terdapat kelainan pada BAK dan BAB. keluhan berkurang. .Riwayat Perjalanan Penyakit ±1 tahun SMRS demam tidak terlalu tinggi. batuk pilek ada. naik turun dan tidak disertai mengigil.

kulit bernanah tidak ada. Penderita dibawa ke RSUD Raden Mataher dan dirawat atas indikasi kerusakan ginjal selama 1 bulan. mual muntah tidak ada. BAB agak cair. berwarna kuning dan nyeri saat BAK tidak ada. frekuensi 4x/ hari. lendir dan darah tidak ada. . tiap kali BAB ¼-1/2 gelas. sesak tidak ada. warna kuning. Penderita dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang dengan kontrol rutin dan diberi obat rutin tapi keluarga tidak dijelaskan obat tersebut obat apa. keadaan tersebut disertai batuk pilek. Beberapa bulan kemudian. bengkak dirasakan mulai menjalar dari kedua mata hingga ke perut dan kedua tungkai kaki. BAK penderita biasa.

bengkak pada kelopak mata pada pagi hari dan berkurang di siang hari. sebanyak ± 2-3 sdm. pusing. Frekuensi BAK berkurang menjadi 2-3 kali/ hari. Sesak nafas ketika penderita duduk. pusing dan demam. kulit bernanah tidak ada. warna kuning keruh. tidak ada nyeri saat BAK. tidak ada nyeri saat BAK. warna kuning keruh. Nafsu makan seperti biasa. kadang kala hanya menetes. Frekuensi BAK berkurang menjadi 2-3 kali/ hari. ±1 hari SMRS pasien dibawa oleh kedua orangtuanya ke UGD RSUD H. BAB seperti biasa. sebanyak ± 2-3 sdm. penderita kembali mengalami batuk pilek dan demam. Bengkak pada seluruh tubuh minimal. ±3 hari SMRS. . BAB seperti biasa. mual muntah tidak ada. kadang kala hanya menetes.Abdul manaf dengan keluhan bengkak pada kelopak mata menjalar keseluruh tubuh disertai batuk pilek.

Riwayat Penyakit Dahulu dan Riwayat Keluarga  Riwayat Penyakit Dahulu – Riwayat korengan sebelumnya disangkal – Riwayat batuk pilek dalam 3 hari yang lalu ada. .  Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.

dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ibu penderita berusia 35 tahun dengan pendidikan terakhir SLTP.  Kesan sosial ekonomi: sosial ekonomi kurang. pendidikan terakhir SLTP yang bekerja sebagai wiraswasta. Ayah penderita berusia 51 tahun.  .Riwayat Sosial Ekonomi Penderita adalah anak pertama.

6 bulan Bubur nasi : 6 bulan Nasi biasa : 1 tahun. lahir langsung menangis dengan BBL 2500 gram .sekarang Riwayat Kelahiran Lahir ditolong bidan. cukup bulan. spontan.Riwayat Perkembangan Berbalik : 3 bulan Tengkurap : 4 bulan Duduk : 6 bulan Merangkak : 6 bulan Berbicara : 12 bulan Berdiri : 12 bulan Berjalan : 14 bulan Riwayat Makan ASI : lahir – sekarang Bubur susu : 4 .

isi dan tegangan cukup Pernapasan : 42 x/menit Temperatur : 38.3 oC Tekanan darah : 100/60 mmHg Berat badan : 15 kg .5 x 100% = 91.PEMERIKSAAN FISIK  Pemeriksaan Umum Keadaan umum : Sakit Sedang Sensorium : Compos Mentis Nadi : 90 x/menit.20% = 12 kg Tinggi badan : 97 cm Lingkar perut : 60 cm Status Gizi BB/U : 12/17 x 100% = 70.6 % TB/U : 97/105.9 % BB/TB : 12/15 x 100% = 80% Kesan : KEP I Persentil Tekanan Darah : Sistolik Diastolik 50% 89 48 90% 103 53 95% 107 57 99% 114 71 .

edema palpebra +/+ Telinga : sekret (-) Hidung : sekret (+). ronkhi (-). konjungtiva anemis -/-. RC +/+ N. retraksi (-) Palpasi : Stemfremitus kanan = kiri Perkusi : Redup pada basal kedua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler melemah pada basal kedua lapangan paru. isokor. NCH (-) Tenggorok : faring hiperemis (-) Leher : JVP tidak meningkat. wheezing (-) . pembesaran KGB (-) Thoraks Paru-paru Inspeksi : Bentuk simetris. Pemeriksaan Khusus Kepala: Rambut Mata : hitam. sulit dicabut : pupil bulat.

Jantung Inspeksi Palpasi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : pulsasi (-). gallop tidak ada : cembung : lemas. iktus (-). irama regular. murmur tidak ada. thrill (-) : HR 96 x/menit. hepar dan lien sulit dinilai : undulasi (+) : Bising usus (+) normal Lipat paha dan genitalia: edema scrotum (+) minimal pembesaran KGB (-) Extremitas : edema pretibial +/+ . voussur cardiaque (-) : iktus (-).

  Pemeriksaan Neurologis Fungsi Motorik Tungkai Kanan Tungkai Kiri Luas +5 Eutoni + normal + normal Lengan Kanan Luas +5 Eutoni Lengan Kiri Luas +5 Eutoni Pemeriksaan Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Luas +5 Eutoni - Reflek fisiologis + normal + normal Reflek patologis - .

Fungsi sensorik : Dalam batas normal  Fungsi nervi craniales : Dalam batas normal  GRM : Kaku kuduk tidak ada  .

6 mg/dl : 3 mg/dl : 0.4 mg/dl Sero-Imunologi ASTO CRP ::- .6 mg/dl : 2.2 gr/dl : 7000/mm3 : 2/4/0/31/57/10 Urine Rutin Sel epitel Leukosit Eritrosit Silinder (noktah) Protein : 4-6/lpb : 2-3/lpb : 0-1/lpb : 0-1/lpb : ++  Kimia Klinik BSS : 117 mg/dl Cholesterol total : 313 mg/dl Ureum Creatinin Protein total Albumin Globulin : 20 mg/dl : 0.PEMERIKSAAN PENUNJANG  Darah rutin Hb Leukosit Hitung jenis : 12.

 DIAGNOSIS BANDING – Sindroma Nefrotik + Infeksi Saluran Nafas Atas+ tersangka ISK – GNAPS + Infeksi Saluran Nafas Atas + tersangka ISK  DIAGNOSIS KERJA Sindroma Nefrotik + Infeksi Saluran Nafas Atas+ tersangka ISK .

Pemeriksaan urinalisa 2 kali seminggu Rencana Mantoux test Rencana rontgen thorax Balans cairan/24 jam Follow up vital sign. Retriksi cairan 360 cc/hari Furosemide 2 x 12 mg Amoksisilin 3 x 125 mg Prednison 2x15mg. . Diet protein normal 24mg/ hari.PENATALAKSANAAN              Tirah baring Diet rendah garam 1-2 gr/hr. Setelah 15-30 menit masuk infus albumin beri furosemid 12mg IV. Albumin rendah garam 20-25% 12gr/hari. berat badan dan lingkar perut.

PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam  Quo ad functionam : dubia ad bonam  .

FOLLOW UP .

TINJAUAN PUSTAKA .

5 mg)  hiperkolesterolemia > 200 mg/dl  kadang-kadang disertai hipertensi. azotemia . hematuria.Batasan Sindroma nefrotik  kumpulan gejala terdiri:  edema  proteinuria massif (> 40 mg/m2/jam atau proteinuria +3 atau lebih )  hipoalbuminemia ( < 2.

SN Kongenital 3.5.3. Penyakit vaskulitis sitemik: SLE. Leukemia 3. probenesid. penisillamin.2. Penyakit metabolik : Diabetes mellitus. Hepatitis B. AIDS. Penyakit infeksi: Malaria. amiloidosis .purpura Henoch Schonlein 3. 2. SN primer /idiopatik. Hodgkin.1.4.Etiologi 1. Intoksikasi obat/logam berat. pasca infeksi Streptokokus 3. Timbal 3. SN sekunder berhubungan dengan penyakit-penyakit tertentu. Keganasan : Tumor Wilms. 3.

Klasifikasi Berdasarkan etiologi  Sindroma nefrotik primer  Sindroma nefrotik kongenital  Sindrom nefrotik sekunder Berdasarkan kelainan histopatologi  SN kelainan minimal (SNKM)  Glomerulosklerosis segmental fokal (GSF)  Glomeruloproliferatif (GNP). Glomerulonefritis proliferatif mesangial (GMPN). GNP. GNMP. dan GNM) atau SN sekunder . glomerulonefritis fokal (GNF). gomerulonefritis sklerosis (GNS)  Glomerulonefritis membranoproliferatif ( GNMP)  Glomerulonefritis membranosa (GNM)  GNK lanjut Berdasarkan respon terhadap terapi steroid  Steroid responsif (umumnya SNKM)  Steroid dependen (umumnya juga SNKM)  Steroid non responsif (umumnya GS.

Di Indonesia dilaporkan 6 per 100.EPIDEMIOLOGI      Sindrom nefrotik merupakan manifestasi glomerulopati yang paling sering ditemukan pada anak. Anak laki-laki lebih sering menderita kelainan ini dibandingkan anak perempuan dengan perbandingan 2:1.000 anak per tahun. Di negara berkembang insidensnya lebih tinggi.000 per tahun (Alatas et al. Hampir 50% penderita mulai sakit saat berusia 1-4 tahun. 15 kali lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan pada dewasa. Pada anak-anak paling sering timbul pada usia 18 bulan sampai 4 tahun. 2005). 75% mempunyai awitan sebelum berusia 10 tahun. Sindroma ini bisa terjadi pada segala usia. . Insidens SN pada anak dalam kepustakaan di Amerika Serikat dan Inggris adalah 2-4 kasus baru per 100.

Gangguan gastrointestinal 3.MANIFESTASI KLINIS 1. Gangguan fungsi psikososial . Edema 2. Gangguan pernafasan 4.

trombosit.PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :  Urinalisa. hitung jenis. LED) • Kadar albumin dan kolesterol plasma • Kadar ureum. bila dicurigai lupus eritematosus sistemik pemeriksaan ditambah dengan komplemen C4. dapat berupa urin 24 jam.  Pemeriksaan darah: • Darah rutin (Hemoglobin. hematokrit. • Kadar komplemen C3. leukosit. ANA (anti nuclear antibody). bila perlu biakan urin  Protein urin kuantitatif.  Tes Mantoux (sebelum terapi steroid dimulai) . kreatinin serta kliren kreatinin.

hematuria.Usia > 6 tahun dengan manifestasi sindroma nefritis .C3 menurun secara persisten . C4 bila dicurigai SLE (sindroma nefrotik sekunder).  Biopsi ginjal dengan indikasi: . C3. . ds anti DNA.Steroid resisten / relaps sering (selama atau pasca terapi steroid) . leukositosis.Pemeriksaan atas indikasi  Foto toraks. leukosituria dan silinderuria  ANA. EKG bila dijumpai edema berat + dispneu  ASTO dan C3 bila dijumpai tanda-tanda nefritis  CRP dan biakan urine bila dijumpai LED ↑.Usia < 1 tahun.

dapat ditemukan edema di kedua kelopak mata. Pemeriksaan Fisik. Kadang-kadang hipertensi ditemukan. perut. tungkai atau adanya ascites atau edema skrotum atau labia. . yang dapat disertai hematuria mikroskopis. Pada pemeriksaan fisik. atau seluruh tubuh yang dapat disertai penurunan jumlah urin.Diagnosis Diagnosis SN dibuat berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah bengkak di kedua kelopak mata. tungkai. Pada pemeriksaan darah didapatkan hipoalbuminemia. Keluhan lain juga dapat ditemukan seperti urin bewarna kemerahan. Pemeriksaan Penunjang Pada urinalisis ditemukan proteinuria masif (proteinuria 3+ sampai 4+).

5 g/dl). hipoalbuminemia (kadar albumin serum  2.05 – 0.5 g/dl).  Sekunder bila ditemukan penyebab  Kortikosteroid responsif: urin bebas protein (<4 mg/jam/m2 LPT) atau negatif/trace dengan pemeriksaan asam sulfosalisilat 3 hari berturut-turut  .Dasar diagnosis SN: edema. hipoproteinemia (kadar protein serum  5. proteinuri masif (kadar proteinuri  0. hiperkolesterolemia (kadar kolesterol serum  200 mg/dl).1 g/kgBB/ 24 jam atau +++ pada pemeriksaan semi kualitatif  SNI : bila etiologi tidak diketahui  SN kongenital bila gejala-gejal ditemukan 3 bulan pertama dari kehidupan.

Steroid dependen: Proteinuria (+2) muncul 3 hari berturut-turut selama pengobatan alternating.    SN resisten : Remisi tidak terjadi `setelah akhir minggu kedelapan pengobatan steroid alternating Relaps jarang : Proteinuria +2 .+3 muncul kembali ( kurang dari 2 kali ) dalam setahun setelah pengobatan steroid dihentikan Relaps sering: Proteinuria muncul 2 kali dalam 6 bulan atau 3 kali dalam setahun setelah pengobatan steroid dihentikan. . atau 2 minggu setelah pengobatan steeroid alternating berakhir.

Kelainan hormon dan mineral . Kelainan koagulasi dan tendensi trombosis d.KOMPLIKASI a. Hipovolemia b. Infeksi c.

Bila remisi terjadi antara minggu ke 5 sampai dengan akhir minggu ke 8. steroid alternating dilanjutkan 4 minggu lagi.  Remisi (-) sampai akhir minggu ke 8  steroid resisten . dosis alternating 40 mg/m2/hr (2/3 dosis initial) selang sehari pada pagi hari sudah makan selama 4 minggu lalu stop.Penatalaksanaan Pengobatan inisial  Dosis inisial prednison atau prednisolon 60 mg/m2/hari atau 2 mg/kgbb/hari (BB ideal) maksimal 80 mg/hari selama 4 minggu  Remisi (+) pada 4 minggu pertama.

Diet rendah garam (1-2 gram/hari) hanya diperlukan selama anak menderita edema. Diuretik  Restriksi cairan(30 ml /kgBB/hari) diperlukan selama ada edema berat. bila diperlukan dikombinasikan dengan spironolakton (antagonis aldosteron. Pada pemakaian diuretik lebih lama dari 1-2 minggu perlu dilakukan pemantauan elektrolit darah (kalium dan natrium).Dietetik  Diet protein normal sesuai dengan RDA (Recommended Dailiy Allowances) yaitu 2 gram/kgBB/hari. diuretik hamat kalium) 2-3 mg/kgBB/hari. . Biasanya diberikan loop diuretik seperti furosemid 1-2mg/kgBB/hari.

eritromisin. 2 kali sehari. . sampai edema berkurang. dan bila ditemukan tanda infeksi segera diberikan antibiotik Antibiotika diberikan bila:  Edema anasarka + laserasi kulit → amoksisilin. tetapi perlu dipantau secara berkala.Antibiotik profilaksis  Di beberapa negara. pasien SN dengan edema dan ascites diberikan antibiotik profilaksis penicilin oral 125250 mg. Di Indonesia tidak dianjurkan pemberian antibiotik profilaksis. atau sefaleksin  Infeksi → antibiotika yang diberikan disesuaikan dengan derajat berat infeksi  Bila terjadi infeksi varicella → asiklovir 80 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis → 7-10 hari sedang pengobatan kortikosteroid stop sementara.

hanya 4 – 5% menjadi gagal ginjal terminal. pada pengamatan selama 20 tahun GSFS 25% menjadi gagal ginjal terminal dalam 5 tahun SN primer (SNKM) /kortikosteroid responsif umumnya baik Kortikosteroid non responsif prognosis kurang baik.Prognosis      SNKM . pada GNMP 50% 11 tahun setelah diketahui SN sekunder tergantung penyakit primer . mortalitas pada jenis GSF 50% 16 tahun setelah diketahui.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful