i

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dapat dikembangkan bahwa orang yang memiliki pertalian darah,
perkawinan yang sah baik itu suami/istri, anak laki-laki maupun perempuan
bisa mendapatkan warisan. Hal ini yang menimbulkan permasalahan dimana
kebanyak orang memiliki anak laki untuk mendapatkan warisan seperti jaman
jahiliyah sebelum masuknya islam. Hal ini diakibatkan kurangnya
pengetahuan mengenai mewarisi. Oleh karena itu kita harus mengerti dan
paham masalah waris mewarisi, hak waris dan lain-lain agar dapat kita
terapkan di dalam keluarga.
.
B. Tujuan Penulisan
1. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Fiqih pada
Jurusan PAI, STIT YAPTIP Kampus II Ujung Gading.
2. Dengan adanya makalah ini kami berharap bisa menambah ilmu
pengetahuan kita bersama tentang Metode Pembagian Harta Warisan dan
Contohnya.







i
BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Pembagian Harta Warisan
Para ulama-ulama yang ahli dalam urusan pembagian harta pusaka
telah mengatur kaidah berhitung yaitu diantaranya:
1. Metode usul masail ialah suatu cara menyelesaikan pembagian harta
pusaka dengan mencari dan menetapkan asal masalah dari fardh-fardh
para ahli waris. Metode ini adalah salah satu metode yang sering
dipakai oleh para ahli faraidh dalam menyelesaikan masalah pembagian
harta warisan.
2. Tashih Al-Masail ialah mencari angka asal masalah yang terkecil agar
dapat dihasilkan bagian yang diterima ahli waris tidak berupa angka
pecahan. Metode Tashih Al-Masail ini hanya digunakan apabila bagian
yang diterima ahli waris berupa angka pecahan. Oleh karena itu, langkah
ini hanya semata-mata untuk memudahkan perhitungan dalam pembagian
warisan.
3. Perhitungan Faraid
a. Jika hanya ahli waris yang dapat menghabiskan harta saja, tidak ada
yang mendapat ketentuan, maka harta pusaka dibagi rata antara mereka
menurut jumlah kepala, hanya untuk tiap-tiap laki-laki dua
kali sebanyak bagian tiap-tiap perempan.
b. Jika ahli waris adalah orang yang mendapat ketentuan, sedangkan dia
hanya sendiri saja, maka dia mendapat sebanyak ketentuannya saja.
c. Jika ahli waris yang mendapat ketentuan itu berbilang dua atau lebih,
maka hendaklah dilihat penyebut-penyebut ketentuan satu persatunya.
Kalau penyebutnya sama seperti suami dan saudara perempuan, tiap-
tiap orang dari keduanya mendapat ½ dari harta.
1



1
Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h.75
i
Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’ :
¯ ¯ª¬:·¯4Ò ÷-¯g^ 4` E´4O·>
¯ª¬:N_4Ò^eÒ¡ p)³ ¯¦-¯ }7¯4C
O}÷_-¯ /·.4Ò _ p)¯·· 4pº±
·;÷_·¯ /·.4Ò Nª¬:ÞU··
÷7+OO¯- O©g` =}-±4O·> _
}g` g³u¬4 lO·Og4Ò
¬--gONC .E_) uÒÒ¡ ¡-^¯E1
_ ·;÷_·¯4Ò ÷7+OO¯- O©g`
¯¦+^4O·> p)³ ¯ª-¯ }¬:4C
¯ª7¯-¯ /³·¯4Ò _ p)¯·· 4pº±
¯ª¬:·¯ /·.4Ò O}÷_ÞU··
÷}÷©<V¯- O©g` ®7+-±4O·> _
}g)` g³u¬4 lO·Og4Ò
¬]O÷O¬> .E_) uÒÒ¡
¡×^¯E1 ¯ p)³4Ò ¬]~E ¬N_4O
÷[4OONC ·-ÞUº± jÒÒ¡
¬EÒ¡4O^`- ¼N¡·.4Ò N®Ò¡
uÒÒ¡ ¬eu=q¡ ÷]7¯)U··
l³gÞ4Ò E©÷_u4g)`
+E÷³OO¯- _ p)¯·· W-EO+^~º±
4O·4-±Ò¡ }g` Elg¯·O ;e÷_··
+7.~º±4O¬= O)× g+¬U<1¯- _
}g` g³u¬4 lO·Og4Ò
_/=ONC .Ogj± uÒÒ¡ ·×^¯E1
4O¯OEN ¯´O.º_N` _ LO·Og4Ò
=}g)` *.- ¯ +.-4Ò v¦1)U4×
_¦1)UEO ^¯g÷
dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-
isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu
mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah
dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu
tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak,
Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan
sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-
hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak
meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang
i
saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja),
Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka
bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat
olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat
(kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at
yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha
Penyantun. (QS. An-Nisa’ : 12



i
Contoh :
1. Ahli waris terdiri dari atas ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu, maka
ibu mendapat 1/6, sedangkan dua orang saudara mendapat 1/3. Kelipatan
persekutuan kecil dari penyebut 3 dan 6 adalah 6. Pembagian antara
keduanya yaitu :
1x1/6=1/6 untuk ibu
1x2/6=2/6 untuk dua saudara seibu.
2. Ahli waris terdiri atas ibu, istri, dan anak laki-laki. Maka ibu mendapat
1/6, istri mendapat 1/8, dan anak laki-laki mengambil semua sisa.
Kelipatan persekutuan terkecil dari penyebut kedua ketentuan itu (6 dan 8)
adalah 24.
Cara melakukan pembagian antara mereka adalah :
1x4/24= 4/24 untuk ibu.
1x3/24=3/24 untuk istri.
1-(4/24+3/24)= 17/24 untuk anak laki-laki.
3. Ahli waris hanya terdiri atas ibu dan istri, maka ibu mendapat 1/3, dan istri
mendapat ¼. Kelipatan persekutuan terkecil dari penyebut 3 dan 4 adalah
12.
Cara melakukan pembagian antara keduanya :
1x4/12=4/12 untuk ibu
1x3/12=3/12 untuk istri
1-(2/12+3/12)= 5/12 adalah sisa yang harus diberikan kepada yang berhak
dengan jalan lain. Contoh-contoh tersebut tidak lain maksudnya adalah
untuk menerangkan bahwa apabila penyebut-penyebut dari beberapa
ketentuan itu berlainan maka hendaklah disamakan. berarti perlu dicari
persekutuan kelipatan terkecil dari beberapa penyebut ketentuen-ketentuan
yang ada pada ahli waris. Dalam hal pembagian warisan terdapat enam
ketentuan yaitu: 2/3, ½, 1/3, ¼, 1/6, dan 1/8.
2




2
Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Jakarta : Prenada Media, 1996), h. 105
i
B. Pembagian Sisa Harta
Apabila hanya ada ahli waris yang mendapat ketentuan saja, berarti
tadak ada yang dapat menghabiskan semua harta atau semua sisa, sedangkan
sesudah kadar ketentuan diberikan, harta masih ada sisanya. Sisa ini
hendaklah dibagi kembali kepada ahli waris yang ada itu. Pembagian kembali
antara mereka hendaklah menurut ketentuan masing-masing pula, kecuali
suami atau istri, keduanya tidak berhak lagi mengambil bagian dari sisa itu,
berarti keduanya tidak berhak mengambil lebih dari ketentuan masing-masing
yang telah ditetapkan dalam ayat al-qur’an.
Untuk membagi kembali sisa ini perlu memakai kaidah yang mudah,
agar sesuai dengan kehendak agama serta mudah menjalankannya dengan
seadil-adilnya.
1. Apabila yang mendapat pembagian hanya seorang saja, umpanya ahli
waris hanya ibu saja, maka semua harta pusaka hendaklah diberikan
kepadanya. Berarti 1/3 diberikan kepadanya dengan jalan ketentuan, dan
2/3 dengan jalan pembagian kembali (sisa).
2. Apabila yang mendapat pembagian kembali itu terbilang, 2 atau lebih
sedangkan derajat (tingkat) mereka sama, misalnya beberapa saudara
seibu, maka harta hendaknya dibagi rata diantara mereka ( berarti
dengan jalan ketentuan dan pembagian sisa)
3. Kalau yang mendapat pembagian sisa itu terbilang, sedangkan derajat
mereka tidak sama, hendaklah diambil jumlah ketentuan mereka satu
persatunya. Umpanya ahli waris itu seorang anak perempuan dan ibu,
maka anak perempuan mendapat ketentuan 1/2 dan ibu mendapat
ketentuan 1/6. Jadi, kita atur sebagai berikut :
1x3/6 = 3/6 untuk anak perempuan
1x1/6 = 1/6 untuk ibu.
Jumlah ketentuan 4, dan sisa 2/6. Perbandingan ketentuan 3 dan 1
diatur sebagai berikut :
2/6 x ¾ = 6/24 = ¼ untuk anak perempuan
2/6 x1/4 = 2/24 = 1/12 untuk ibu.
i
Jadi: 3/6 + 1/6 +1/4 +1/12= 6/12 +2/12+3/12+1/12=12/12, maka
habislah semua harta.
Kalau diantara ahli waris ada salah seorang dari suami atau istri, maka
bagian suami atau istri itu hendaklah dikeluarkan lebih dahulu, kemudian
sisanya dibagi antara ahli waris yang berhak mengambil sisa karena suami
atau istri tidak diizinkan mengambil lagi yang lebih dari ketentuan masing-
masing.
3


C. Penetapan Bagian-bagian Ahli Waris
Jika A mati meninggalkan beberepa ahli waris, yaitu sebagai berikut:
1. Ibu
2. Ayah
3. Suami
4. Kakek
5. Paman
6. Anak paman
7. Anak laki-laki
8. Anak perempuan
9. Saudara seibu atau seayah atau sekandung.
Diantara mereka mesti kita lihat siapa-siapa yang mendapat pusaka dan siapa-
siapa yang terhalang (mahjub).
Yang terhalang ialah:
1. Ibu : lantaran si mati meninggalkan anak dapat = 1/6
2. Ayah : lantaran si mati meninggalkan anak dapa = 1/6
3. Suami : lantaran si mati meninggalkan anak dapat = ¼
4. Anak laki-laki : anak laki-laki dan perempuan menjadi ashabah mendapat
sisa dengan pembagian, laki-laki dua bagian dan perempuansebagian.

3
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 2009), h.201
i
5. Anak perempuan : anak laki-laki dan perempuan menjadi ashabah
mendapat sisa dengan pembagian, laki-laki dua bagian dan perempuan
sebagian
4


D. Contoh Pembagian Warisan
Untuk mengetahui bagian masing-masing ahli waris ada beberapa
macam, tetapi yang termashur ada dua macam.
Pertama, dengan mengeluarkan bagian masing-masing ahli waris
(membagi jumlah harta dengan asal masalah), kemudian dikembalikan dengan
bilangan dari bagian setiap ahli waris.
Misalnya :
1. Seorang meninggal, dengan ahli waris terdiri dari istri, anak perempuan,
dan ibu bapak. Harta peninggalan berjumlah Rp 4.800.000,00
Asal masalah 24
Ahli waris furudh Bilangan
Istri
Anak
perempuan
Ibu
Ayah
1/8
½
¼
Ashabah
3
12
4
5

Bagian masing-masing : Rp 4.800.000,00 : 24 = 200.000,00
Jadi
- Istri : 3x Rp 200.000,00 = Rp 600.000,00
- Anak peremuan : 12x Rp 200.000,00 = Rp 2.400.000,00
-Ibu : 4x Rp 200.000,00 = Rp 800.000,00
- Ayah : 5xRp 200.000,00 = Rp 1.000.000,00

2. Seseorang meninggal dunia dengan ahli waris terdiri dari 4 anak
perempuan, 2 anak laki-laki, ayah, ibu, dan 3 saudara laki-laki sekandung.

4
Moh. Rifa’i, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, (Semarang : Toha Putra, 2001), h.526
i
Harta peninggalan sebesar Rp 6.000.000,00. Pembagiannya sebagai
berikut :
Asal masalah 6 atau 12
Ahli Furudh Bilangan
4 anak perempuan 4
2 anak laki 4
Ayah 1/6 2
Ibu 1/6 2
3 saudara laki kandung Mahjub -

Bagian masing-masing : Rp 6.000.000,00 : 12 = Rp 500.000,00
Jadi
- 4 anak perempuan = 4x Rp 500.000,00 = Rp 2.000.000,00
- 2 anak laki-laki = 4x Rp 500.000,00 = Rp 2.000.000,00
- Ayah = 2x Rp 500.000,00 = Rp 1,000.000,00
- Ibu = 2x Rp 500.000,00 = Rp 1.000.000,00
Kedua dengan mengalikan bilangan masing-masing ahli waris dengan
harta peninggalan, kemudian dibagi dengan Asal Masalah
Misalnya : Seseorang meninggal dunia dengan ahli waris terdiri dari saudara
kandung laki-laki, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, dan suami. Harta
warisan sejumlah Rp 12.000.000,00.
Pembagiannya sebagai berikut :
Asal masalah 12
Ahli waris Furudh Bilangan
2 saudara laki kandung
Cucu perempuan
Ibu
Suami
Ashabah
½
1/6
1/4
1
6
2
3


i
Jadi
- 2 saudara laki Sekandung : 1x12.000.000,00 =Rp 1.000.000,00
12
- Cucu perempuan Sekandung : 6x12.000.000,00 = Rp 6.000.000,00
12
- Ibu : 2x12.000.000,00 = Rp 2.000.000,00
12
- Suami : 3x12.000.000,00 = Rp 3.000.000,00
5

12


5
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, (Jakarta : Gema
Insani, 2001), h.105
i
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Para ulama-ulama yang ahli dalam urusan pembagian harta pusaka telah
mengatur kaidah berhitung yaitu diantaranya: Jika hanya ahli waris yang dapat
menghabiskan harta saja, tidak ada yang mendapat ketentuan, maka harta
pusaka dibagi rata antara mereka menurut jumlah kepala, hanya untuk tiap-tiap
laki-laki dua kali sebanyak bagian tiap-tiap perempuan, Jika ahli waris adalah
orang yang mendapat ketentuan, sedangkan dia hanya sendiri saja, maka dia
mendapat sebanyak ketentuannya saja, Jika ahli waris yang mendapat
ketentuan itu berbilang dua atau lebih, maka hendaklah dilihat penyebut-
penyebut ketentuan satu persatunya. Kalau penyebutnya sama seperti suami
dan saudara perempuan, tiap-tiap orang dari keduanya mendapat ½ dari harta.
Apabila hanya ada ahli waris yang mendapat ketentuan saja, berarti
tadak ada yang dapat menghabiskan semua harta atau semua sisa, sedangkan
sesudah kadar ketentuan diberikan, harta masih ada sisanya. Sisa ini hendaklah
dibagi kembali kepada ahli waris yang ada itu. Pembagian kembali antara
mereka hendaklah menurut ketentuan masing-masing pula, kecuali suami atau
istri, keduanya tidak berhak lagi mengambil bagian dari sisa itu, berarti
keduanya tidak berhak mengambil lebih dari ketentuan masing-masing yang
telah ditetapkan dalam ayat al-qur’an.

B. Saran
Kami sebagai penulis dari makalah ini mengharapkan serta menerima
kritikan dan saran dari mahasiswa/ mahasiswi demi memperbaiki isi makalah
–makalah ini, dengan mengucapkan terima kasih kami kepada bapak Dosen
yang telah memberi bimbingan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini
dengan baik dan benar.

i
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Pembagian Waris Menurut Islam, Jakarta : Gema
Insani, 2001

Rifa’i, Moh., Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : Toha Putra, 2001

Rofiq, Ahmad, Fiqh Mawaris, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007

Saebani, Beni Ahmad, Fiqh Mawaris, Bandung : CV. Pustaka Setia, 2009

Syarifuddin, Amir, Garis-garis Besar Fiqh, Jakarta : Prenada Media, 1996












i
KATA PENGANTAR

´¦¯O)´ *.- ^}4·uO·O¯-
´¦1gO·O¯-

Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT dan shalawat
kepada nabi Muhammad SAW dengan ridho-Nya juga pada kesempatan ini
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun dalam rangka melengkapi tugas Mata Kuliah Fiqih.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak dalam memberikan sumbangan fikiran, membantu dan membimbing penulis
dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua khususnya
pendidikan dimasa yang akan datang.


Ujung Gading, Oktober 2012
Penulis



(Kelompok VIII)






i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ..................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Metode Pembagian Harta Warisan.......................................... 2
B. Pembagian Sisa Harta ............................................................. 5
C. Penetapan Bagian-bagian Ahli Waris ..................................... 6
D. Contoh Pembagian Warisan .................................................... 7

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 10
B. Saran ....................................................................................... 10

DAFTAR KEPUSTAKAAN