Apakah Yang Bisa Dilakukan Bila Batuk Karena Captopril?? dr. Bagus H.

Kuncahyo

Sejak ditemukannya captopril tahun 1977, beserta obat golongan Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor lainnya (enalapril, lisinopril, ramipril dll) telah digunakan secara luas untuk pengobatan hipertensi, gagal jantung kongestif dan infark miokard (IM).
1,2,3

Banyak penelitian klinis menunjukkan bahwa captopril menurunkan angka sakit (morbiditas) dan angka
1

kematian (mortalitas) pada pasien gagal jantung kongestif. Beberapa studi juga menduga bahwa captopril efisien dalam mencegah pembengkakan (remodelling) jantung kiri setelah IM dan gagal jantung kongestif.

Sistem Renin Angiotensin Aldosteron (RAAS) Renin disekresi oleh sel jukstaglomerular di dinding arteriol aferen dan glomerolus ke dalam darah bila aliran ke ginjal menurun (akibat turunnya tekanan darah atau adanya stenosis arteri ginjal), bila terdapat deplesi (penurunan) natrium dalam tubuli ginjal dan atau bila terdapat stimulasi adrenergik (melalui reseptor β1). Renin yang merupakan enzim proteolitik, akan memecah angiotensinogen ( α-globulin yang disintesis dalam hati dan beredar dalam darah) menjadi angiotensin I (AI). AI yang relatif tidak aktif akan dikonversi oleh ACE yang terikat pd endotel yang menghadap lumen(lubang) di seluruh sistem pembuluh darah menjadi angiotensin II (AII) yang sangat aktif. AII bekerja pada reseptor di otot polos pembuluh darah, korteks adrenal, jantung dan sistem saraf pusat (SSP) untuk menimbulkan kontriksi arteriol dan venula, stimulasi sintesis dan sekresi aldosteron, stimulasi jantung dan simpatis dan efek di SSP berupa konsumsi air dan peningkatan sekresi antidiuretik hormon (ADH). Akibatnya terjadi peningkatan resistensi perifer, reabsorbsi natrium dan air, serta peningkatan denyut dan curah jantung. Peningkatan tekanan darah ini mengaktifkan mekanisme umpan balik yang mengurangi sekresi renin (lihat gambar).

Gambar Renin angiotensin aldosteron system (RAAS) dan lokasi kerja penghambatannya. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor (termasuk captopril) memiliki dua aksi vasodilator, utamanya pada sistem renin angiotensin dan berikutnya efek pada pemecahan bradykinin yang

memproteksi pembuluh darah. Angiotensin receptor blocker (ARBs) menghambat reseptor angiotensin II subtype 1 (AT-1). Aliskiren yang merupakan renin inhibitor dapat menghambat seluruh RAAS yang mempunyai efek buruk berupa

peningkatan pembentukan prorenin. (ALDO, aldosteron; AT2, angiotensin II receptor subtype 2; BP, blood pressure; HF, heart failure; HPT, hypertension; MI, myocard infarction) (Opie,2008)

ACE juga adalah enzim kininase II yang menginaktifkan bradikinin. Bradikinin merupakan vasodilator arteriol sistemik yang poten, kerjanya melalui produksi EDRF (endothelial derived relaxing factor) dan prostaglandin oleh sel-sel endotel vaskuler.

Mekanisme Antihipertensi Captopril mengurangi pembentukan AII sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron yang menyebabkan ekskresi natrium dan air, serta retensi kalium. Akibatnya terjadi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Kadar plasma AII dan aldosteron menurun sedangkan kadar plasma Angiotensin I (AI) dan aktivitas renin plasma (PRA) meningkat karena mekanisme kompensasi. Hambatan inaktivasi bradikinin oleh penghambat ACE meningkatkan bradikinin dan prostaglandin vasodilator sehingga meningkatkan vasodilatasi akibat hambatan pembentukan AII (lihat gambar).
2

Tetapi captopril mempunyai efek samping, yang paling sering adalah batuk dan angioedema.

1,2

Batuk yang

disebabkan captopril kira-kira 10-20% dari pasien yang memakainya. Efek samping batuk lebih banyak muncul pada wanita, bukan perokok dan ras Cina. Batuk ini mungkin muncul kapan saja mulai dari hitungan hari sampai beberapa bulan setelah minum obat pertama.
1,4 1,2

Sifat batuk ini biasanya muncul setelah 2 minggu pemakaian, berupa batuk kering seperti rasa geli
4

atau digaruk di tenggorokan, biasanya muncul di malam hari dan menghilang segera setelah obat dihentikan (biasanya 1-4 minggu). Efek samping batuk ini tidak tergantung dosis obat. Kejadian batuk menetap yang sulit dijelaskan, menjadi
1,2

keterbatasan obat ini

sehingga banyak yang enggan mengkonsumsi obat ini padahal efek mencegah pembengkakan

jantungnya belum tergantikan. Captopril yang dapat menyebabkan batuk belum dapat diterangkan secara jelas. Akumulasi bradikinin diduga punya peranan penting pada efek samping ini. Terakumulasinya bradikinin dan substansi P di saluran napas atas atau paru-paru akibat pemecahannya ikut dihambat captopril diduga kuat sebagai penjelasan efek samping batuk tersebut. Predisposisi genetik diperkirakan mendasari beberapa polymorphism pada gen ACE yang menyebabkan beberapa individu menjadi batuk.
1,4

Apakah Yang Bisa Dilakukan Bila Batuk Karena Captopril?? 1. Untuk menentukan apakah batuk kronis disebabkan captopril atau ACE inhibitor lain, maka obat tersebut harus dihentikan tanpa memperhatikan onset batuk maupun awal minum obat. Diagnosis ditegakkan bila batuk membaik biasanya dalam 1-4 minggu setelah dihentikan. Tetapi ada yang baru membaik setelah 3 bulan. 2. 3. Penghentian obat merupakan terapi yang paling efektif bila batuk tersebut karena captopril atau ACE inhibitor lain. Meskipun telah terbukti batuk itu membaik dengan penghentian captopril, ACE inhibitor tetap dapat dicoba ulang pemberiannya 4. Bila penghentian ACE inhibitor bukan merupakan pilihan, terapi farmakologis termasuk sodium cromoglycate, thophyline, sulindac, indomethacin, amlodipin, nifedipin, ferrous sulfate dan picotamide yang bertujuan menekan batuk dapat dicoba 5. Pada pasien yang persisten atau intoleran terhadap ACE inhibitor, terapi harus diganti. Dapat dengan ARB bila memang indikasi, atau agen kelompok lain yang sesuai.
4

Sudah dapatkah anda membedakan batuk anda karena efek samping captopril atau bukan?. Jika keuntungan berupa menurunnya angka mortalitas dan morbiditas masih lebih menguntungkan daripada sekedar batuk kering, maka tidak ada salahnya anda meneruskan captopril tersebut. Alternatif lain captopril tersebut dapat dikombinasi dengan obat yang telah terbukti mampu menekan batuk seperti beberapa obat yang telah disebutkan diatas. Tetapi konsultasi dengan dokter anda tetap diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut.

Referensi 1. Mukae, Shuji et al. 2000. Bradykinin B2 Receptor Gene Polymorphism Is Associated With Angiotensin Converting Enzyme Related Cough. Journal of American Heart Association 2. 3. Setiawati, Arini et al. 2000. Antihipertensi. Farmakologi dan Terapi edisi 4; 337-340. Bagian Farmakologi FKUI Opie, Lionel H. 2009. Inhibitors of Angiotensin Converting Enzyme, Angiotensin II Receptor, Aldosterone and Renin. Drugs For The Heart 7 edition; 112-159 4. Dipinigaitis, Peter V. 2006. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor induced Cough: ACCP Evidence Based Clinical Practice Guidelines. Official Journal of the American College of Chest Physicians.
th