1

CASE REPORT AND CLINICAL SCIENCE SESSION

P4A0 umur 44 tahun,

Oleh : Tri Agung Sanjaya 0918011100

Preceptor : Dr.dr. Anto Sawarno, Sp.OG (K)

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD JENDERAL AHMAD YANI METRO 2013

1

2

I. LAPORAN KASUS

Tanggal masuk: 11 Juni 2013 Pukul: 17.30 WIB Ruangan: Resti

No. Rekam Medis : 186583 P4A0

A. IDENTITAS

Nama Umur Agama Pendidikan Suku Alamat Pekerjaan

: Ny. S : 44 tahun : Islam : SMA : Jawa : 22 Hadimulyo, Metro : Ibu Rumah Tangga

Nama suami Nama Umur Agama Pendidikan Alamat Perkerjaan

: Tn. S : Tn. H : 50 tahun : Islam : SMA : 22 Hadimulyo, Metro : Buruh

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama Keluhan Utama Keluhan tambahan : Perdarahan yang lebih banyak dari normal : Penglihatan menjadi kabur, berkunang - kunang

2

3

Riwayat Penyakit Sekarang (LOKKKMM) Lokasi Onset Kualitas : Pervaginam : Sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit : Perdarahan tersebut berupa darah merah segar dan encer Cairan keluar awalnya jumlahnya banyak, lama-lama menjadi sedikit. Kuantitas Kronologis : 5-7 kali ganti pembalut : Ny.S, datang dengan kondisi pucat dan lemas, Ny S juga

mengeluhkan perdarahan pada pukul 12.00 wib. Perdarahan yang dialami pasien dirasakan saat menstruasi dengan perdarahan yang lebih banyak dari biasanya. Perdarahan tersebut bisa berlangsung + satu minggu. Perdarahan tersebut berupa darah merah segar, pasien bisa berkali - kali ganti pembalut karena perdarahan yang banyak tersebut. Akhirnya pasien dibawa ke RSUD Ahmad Yani Metro.

Menyertai Mempengaruhi Riwayat Menstruasi Menarche Siklus haid Jumlah Lama

::-

: 14 tahun : 28 - 29 hari, teratur : 2x ganti pembalut : 6 - 7 hari

Riwayat Perkawinan Pernikahan pertama dan sudah berlangsung ± 23 tahun (menikah saat usia 21tahun

Riwayat Kehamilan, Persalinan yang Lalu Ny S memiliki 4 orang anak, semuanya dilahirkan dengan cara pervaginam, anak yang pertama lahir pada tahun, anak yang kedua lahir pada tahun 2002 anak yang ketiga lahir 2004, pada tahun anak yang keempat lahir pada tahun 2006.Tidak ada yang prematur.

3

asma. Riwayat Keluarga Berencana Pasien belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun. selain itu pasien juga pernah datang untuk kedua kalinya karena kondisi lemas dan pucat disertai perdarahan dengan Hb: 3. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita darah tinggi.Pasien pernah diperiksa USG dan dikatakan bahwa terdapat adanya benjolan/masa pada pemeriksaan tersebut. ginjal dan asma.minuman keras. Pasien menyangkal jika di keluarga ada yang menderita penyakit jantung. penyakit jantung. C. kencing manis. PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan Umum Kesadaran Status Emosional Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu : 130/70 mmHg : 84 x/menit : 20 x/menit : 36. ginjal.4 Riwayat Operasi Pasien tidak pernah memiliki riwayat operasi. dan kencing manis. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien menyangkal mempunyai penyakit darah tinggi.4 0C : Baik : Compos Mentis : Stabil 4 . Pasien tidak punya kebiasaan merokok dan minum . Pasien pernah masuk RSUD Ahmad Yani Metro dikarenakan pembengkakan pada kakinya.4 g/dl.

striae livide (-). murmur (-). nyeri tekan (-) Pemeriksaan Dalam  Anogenital : Inspeksi : Vagina / Vulva / Uretra : Tidak edem (Normal)  Inspekulo : perdarahan aktif (-) D. Palpasi : Perut datar. Rhonki (-).5 Muka Edema : Tak Konjungtiva Sklera Mata Leher Dada Paru Jantung Pinggang Ektremitas Odema tangan dan jari Odema tibia. wheezing (-) : BJ I-II Murni. striae albicans (-). kaki Varices tungkai Refleks patela kanan Reflek patela kiri Abdomen Bekas Pembesaran perut Asites : tidak ada bekas luka operasi : (+) : tak : Tak : Tak : Tak : dalam batas normal : dalam batas normal : anemis : tidak ikterik : Dalam batas normal : simetris : vesikuler (+). PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : cek darah lengkap 5 . gallops (-) : tidak ada nyeri Status Obstetri/Ginekologi Pemeriksaan Luar Abdomen:   Inspeksi: perut (+).

1 31.8 Ribu/µl Juta/µl g/dl % fl pg g/dl Ribu/µl % fl 5-10 3.73 6.05 12-16.1 77 24.3 3.6 2.8 80 25 31.4-14.2 276 18 6.5 37-48 80-92 27-31 32-36 150-450 12.4 7.6 Selasa 11 Juni 2013 Jenis Pemeriksaan Hematologi Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit RDW MPV 3.08-5.4 7.3-9 Hasil Satuan Nilai Normal Sabtu 15 Juni 2013 Jenis Pemeriksaan Hematologi Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit RDW MPV 3.6 21.58 9 28.05 12-16.3-9 Hasil Satuan Nilai Normal 6 .9 Ribu/µl Juta/µl g/dl % fl pg g/dl Ribu/µl % fl 5-10 3.4-14.08-5.1 237 13 8.5 37-48 80-92 27-31 32-36 150-450 12.

IVFD RL 20 gtt/ menit 3.15 WIB       Sudah tidak ada perdarahan sekarang Perdarahan terakhir tanggal 10 Juni 2013 Konjungtiva anemis Tifut tak teraba Nyeri tekan abdomen ( –) KU baik 7 . Sp.7 E. Transfusi PRC sampai Hb > 10 gr/dl 5. tanda vital ibu. Pro konsul dr. perdarahan pervaginam 6. DIAGNOSIS P4A0 44 tahun. DJJ. Perbaikan KU 2.OG HASIL KONSUL DOKTER SPESIALIS OBSGYN Tangggal 15 Juni 2013 Colposcopy: susp. anemia e. Ca Cerviks stadium II-III endofilik DD/mioma geburt S/Biopsi serviks telah dilakukan PA tunggu hasil FOLLOW-UP PASIEN DI BANGSAL 12 Juni 2013 Jam 06.c AUB F. TATALAKSANA ATAS INDIKASI Medikamentosa 1. His. Kalnex 1 amp/8 jam 4. Saran:observasi KU ibu.

T : 36. N: 72 x/menit. anemia e. T : 0 36.c AUB Penatalaksanaan 1. IVFD RL 20 gtt/ menit 8 . Kalnex 1 amp/8 jam 4. RR: 22 x/menit.c AUB Penatalaksanaan 1.8 C Diagnosis P4A0 44 tahun. RR: 38 x/menit.8   Vital Sign TD : 110/60 mmHg. Perbaikan KU 2. Perbaikan KU 2. 0C Diagnosis P4A0 44 tahun. Transfusi PRC sampai Hb > 10 gr/dl 13 Juni 2013 Jam 06. IVFD RL 20 gtt/ menit 3. N: 96 x/menit.00 WIB        Sudah tidak ada perdarahan sekarang Batuk pilek Konjungtiva anemis Tifut tak teraba Nyeri tekan (–) KU baik Vital Sign TD : 120/68 mmHg. Inj. anemia e.

Perbaikan KU 2. RR: 21 x/menit.3 C Diagnosis P4A0 44 tahun. Inj Kalnex 500 mg/8 jam 4. N: 72 x/menit.c AUB Penatalaksanaan 1.9 3. T : 0 36.00 WIB       ada perdarahan sejak dini hari jumat 14 juni 2013 (Perdarahan terakhir tanggal 10 Juni 2013) Konjungtiva anemis Tifut tak teraba Nyeri tekan (–) KU baik Vital Sign TD : 120/60 mmHg. Inj /8 Ampisillin 1 gr jam 5. IVFD RL 20 gtt/ menit 3. Transfusi PRC sampai Hb > 10 gr/dl 15 Juni 2013 Jam 06.10 WIB  Mengaku mengeluarkan flek .flek perdarahan pagi ini 9 . anemia e. Kalnex 1 amp/8 jam 4. Transfusi PRC sampai Hb > 10 gr/dl 14 Juni 2013 Jam 06.

Ca Cerviks stadium II-III endofilik DD/mioma geburt S/Biopsi serviks telah dilakukan PA tunggu hasil Diagnosis P4A0 44 tahun.c AUB + susp. Tampon vagina 2x24 jam Inj Kalnex 500 mg/8 jam (6x) Inj Ampisillin /12 jam (6x) Bila perdarahan (-) boleh pulang 16 Juni 2013 Jam 06. anemia e. Ca Cerviks Penatalaksanaan 1. 3. N: 76 x/menit. RR: 20 x/menit.10      Konjungtiva anemis Tifut tak teraba Nyeri tekan (–) KU baik Vital Sign TD : 120/80 mmHg.1 0 C Pemeriksaan Penunjang Colposcopy: susp. 4. 2.15 WIB      Mata anemis Tifut tak teraba Nyeri tekan – KU baik Perdarahan(-) 10 . T : 36.

c AUB + susp. RR: 27x/menit. Tampon vagina 2x24 jam 2. Tampon vagina 2x24 jam 2.15 WIB     Nyeri tekan – KU baik Perdarahan (-) Vital Sign TD : 120/80 mmHg. anemia e. Ca Cerviks Penatalaksanaan 1. T: 38.11  Vital Sign TD : 120/70 mmHg. Inj Ampisillin /12 jam (6x) 4. Inj Kalnex 500 mg/8 jam (6x) 3. Inj Ampisillin /12 jam (6x) 4. N: 88 x/menit. anemia e. Ca Cerviks Penatalaksanaan 1. Bila perdarahan (-) boleh pulang (Pasien pulang dengan KU baik) 11 . RR: 27x/menit. Bila perdarahan (-) boleh pulang 17 Juni 2013 Jam 06. N: 88 x/menit. Inj Kalnex 500 mg/8 jam (6x) 3.1 0 C Diagnosis P4A0 44 tahun. T: 37.c AUB + susp.5 0 C Diagnosis P4A0 44 tahun.

pemeriksaan fisik didapatkan hasil Inspeksi vagina. Apakah penanganan pada kasus ini sudah tepat? Penanganan pada kasus ini kurang tepat karena hanya berpusat pada perbaikan KU saja II.12 ANALISIS KASUS 1. Ca Cerviks stadium II-III endofilik dengan diagnosa bandingnya mioma geburt 2. Perdarahan tersebut bisa berlangsung + satu minggu. Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat? Pasien ini telah didiagnosis kurang tepat. Perdarahan yang dialami pasien dirasakan saat menstruasi dengan perdarahan yang lebih banyak dari biasanya.vulva dan uretra : tidak edem sedangkan inspekulo : perdarahan aktif sudah tidak ada. didapatkan keluhan utama yaitu kondisi pucat dan lemas. Ny S juga mengeluhkan perdarahan. TINJAUAN PUSTAKA 12 . Perdarahan tersebut berupa darah merah segar. karena dari anamnesa. pemeriksaan penunjang pada Colposcopy susp.

Perkiraan kehilangan darah dalam siklus haid yang normal 13 . Definisi AUB Siklus menstruasi normal berlangsung selama 28 ± 7 hari. Kelainan pada perdarahan menstruasi yang dijelaskan oleh sejumlah istilah. aliran berlangsung 4 ± 2 hari. DUB biasanya ditandai dengan semakin beratnya aliran dengan atau tanpa perdarahan terobosan. durasi aliran atau jumlah darah yang hilang. Ini mungkin terjadi dengan atau tanpa ovulasi. dan kehilangan darah rata-rata adalah 40 ± 20 ml.3 Untuk memahami perdarahan uterus abnormal.1 Perdarahan uterus abnormal (AUB) didefinisikan sebagai perubahan frekuensi menstruasi.13 A. dengan durasi rata-rata aliran darah dari 2-8 hari. Namun pola perdarahan abnormal seringkali sangat membantu dalam menegakkan diagnosa secara individual. Ada variabilitas siklus yang berbeda di kalangan wanita. Perdarahan uterus disfungsional (DUB) adalah diagnosis pengecualian ketika tidak ada patologi panggul atau sebab medis yang mendasari. keteraturan dan jumlah kehilangan darah. masalah-masalah serviks atau uterus (leiomioma) atau kanker. berbagai komplikasi kehamilan. Interval siklus khas bervariasi 21-35 hari. Perdarahan Uterus Abnormal dapat disebabkan oleh faktor hormonal. penting untuk meninjau siklus menstruasi normal. serta etiologi Menorrhagia (hypermenorrhoea) didefinisikan sebagai siklus berat perdarahan menstruasi yang terjadi selama beberapa siklus berturut-turut selama masa reproduksi. tergantung pada ada atau tidak adanya aliran darah.2 lebih dari 60 ml kehilangan darah tiap bulan dapat mengakibatkan anemia defisiensi zat besi dan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Secara objektif menorrhagia didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 80 ml per siklus. penyakit sistemik. kelainan endometrium (polip).

progesteron meningkatkan sekresi kelenjar dan pembuluh darah secara. Estrogen bertindak untuk meningkatkan ketebalan dan vaskularisasi dari lapisan endometrium.3 Metode lama untuk memperkirakan kehilangan darah telah sangat tidak akurat. yang berfungsi sebagai umpan balik negatif pada FSH. sel-sel granulosa ovarium memproduksi progesteron selama sekitar 14 hari tapi sukar kecuali kehamilan didirikan. Investigasi lain yang harus dipertimbangkan meliputi: thyrotropin stimulating hormone. ketika gejala lain dari disfungsi tiroid. yang menyebabkan sejumlah kecil produksi progesteron. Siklus menstruasi diatur oleh sumbu hipotalamus hipofisis-. beberapa folikel ovarium mulai berkembang. Diagnosis AUB Pemeriksaan perut dan panggul menyeluruh sangat penting. Fase folikuler (paruh pertama siklus) adalah variabel panjang. B. merangsang LH 34-36 jam sebelum folikel pecah dan ovulasi. umpan balik estradiol pada penyebab hipofisis peningkatan sekresi LH. Di bawah pengaruh FSH. dan profil koagulasi saat menorrhagia hadir pada masa pubertas atau jika ada klinis kecurigaan untuk koagulopati. Selama fase ini. Fase luteal (dari saat ovulasi dengan menstruasi) cukup konstan pada 14 hari. Sitologi serviks harus diperoleh jika diindikasikan. yang memungkinkan semua kecuali satu atau dua folikel dominan untuk bertahan.14 adalah antara 30 dan 80 mL. Ovarium kemudian menghasilkan lebih banyak estrogen dengan stimulasi ini. Produksi pulsatil GnRH dari hipotalamus menyebabkan sekresi FSH dan LH dari hipofisis. prolaktin. folikel stimulating hormone dan luteinizing hormon untuk memverifikasi status menopause atau mendukung diagnosis penyakit ovarium polikistik. Pemeriksan darah lengkap (CBC ± feritin) diperlukan untuk menentukan derajat anemia. progesteron hari 21 hingga 23 untuk verifikasi status ovulasi. 14 . Setelah ini terjadi. Penarikan steroid seks dengan involusi korpus luteum dalam peluruhan endometrium dan perdarahan menstruasi.

untuk mengidentifikasi lesi anatomi mencurigakan pada vulva. Sebuah riwayat seks harus diperoleh.8 ovarium polikistik. 15 . uretra). Pertanyaan harus memperoleh informasi tentang waktu. khususnya. perdarahan yang tidak teratur.6 Sampling endometrium harus dipertimbangkan dalam semua wanita di atas 40 tahun dengan perdarahan abnormal atau wanita yang beresiko tinggi terkena kanker endometrium. 1. onset baru berat. dengan perhatian khusus untuk kemungkinan trauma atau kekerasan dalam rumah tangga. termasuk pemeriksaan panggul. rektum. dan penyakit ginjal atau hati. keputihan. galaktorea dan penurunan berat badan yang dramatis baru-baru ini. bahkan jika pasien secara aktif mengalami perdarahan. durasi dan jumlah perdarahan. Wanita premenopause: Pendarahan berlebihan atau tidak teratur Pada semua wanita. dan demam juga penting untuk diselidiki. dokter harus mencari tanda-tanda sistemik. Sebuah pemeriksaan fisik secara menyeluruh sangat penting.7 termasuk: nulliparitas dengan riwayat infertilitas. Riwayat medis yang relevan lainnya harus dicari. penting untuk mengetahui sejarah menyeluruh untuk membedakan antara berbagai etiologi perdarahan . obesitas (≥ 90 kg).15 Penilaian endometrium dilakukan untuk mendiagnosis keganasan atau kondisi pra-ganas dan untuk mengevaluasi pengaruh hormonal endometrium. dan meraba rahim untuk ukuran dan kelembutan. vagina. 9 a riwayat keluarga kanker endometrium dan kolon. 7 dan tamoxifen therapy. Selain itu.11 Hal ini juga penting untuk mengevaluasi endometrium histopatologi pada wanita yang tidak memiliki perbaikan dalam pendarahannya. Sebuah tinjauan gejala difokuskan dianjurkan juga. Fokus pemeriksaan adalah untuk mengidentifikasi apakah ada alternatif sumber perdarahan (yaitu. Gejala terkait.10. Spencer dkk. karena ini dapat menunjukkan etiologi endokrin. terakhir 142 studi untuk menentukan nilai dari metode evaluasi endometrium di wanita dengan AUB. seperti sakit perut. pertanyaan tentang intoleransi suhu. 7. 1. Data tidak mendukung seragam Rekomendasi untuk endometrium evaluation. termasuk riwayat perdarahan diatesis. atau leher rahim.

dan perdarahan vagina abnormal adalah gejala yang paling sering. 3. Kanker endometrium adalah yang paling umum pada perempuan sebagai bentuk keganasan saluran kelamin. dan hyperplasia endometrium. polip endometrium (penyebab umum perdarahan peri-dan pasca menopause). dapat menyebabkan perdarahan intermenstrual. Penyakit Serviks 16 . Ini adalah komplikasi umum yang terkait dengan operasi caesar. memar.9 Mereka paling sering menyebabkan siklus menstruasi yang teratur tapi berat (menorrhagia). melakukan pemeriksaan tiroid dan. menghitung indeks massa tubuh (BMI). sarkoma uterus hanya mewakili sebagian kecil dari rahim tumor.Intrauterine device (IUD) sering menghasilkan perdarahan uterus abnormal. serta pemasangan AKDR. tetapi juga dapat hadir sebagai perdarahan intermenstrual.10 pertumbuhan rahim jinak lainnya di diferensial meliputi adenomiosis (kelenjar endometrium infiltrasi dinding miometrium). aborsi spontan atau terapeutik. presentasi yang biasa mereka adalah bahwa perdarahan abnormal. Endometritis. dan yang paling sering berhubungan dengan kehamilan. Fibroid intramural dan submukosa dapat merusak endometrium dan cukup untuk menyebabkan menorrhagia pada sepertiga perempuan. Penyakit uterus Masalah anatomi atau struktural dari rahim atau lapisan yang dapat menyebabkan perdarahan abnormal. tetapi juga dapat terjadi setelah persalinan spontan vagina. 2. Sebaliknya. atau sebagai cepat tumbuh fibroid.16 termasuk hirsutisme. terjadi pada sekitar 20% wanita usia 35. yang merupakan infeksi pada lapisan rahim. dan galaktorea. dalam pengaturan yang sesuai. Uterine fibroid atau leiomyomata adalah tumor panggul yang paling umum pada wanita.

000 wanita Kanker leher rahim atau karsinoma serviks adalah penyakit akibat tumor pada daerah mulut Rahim akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya. atau jaringan kelenjar endoserviks pada exocervix tersebut. Hal ini merupakan keganasan dari serviks yang ditandai denga adanya perdarahan lewat jalan lahir atau vagina. Ectropian.25/100.17 Kebanyakan Etiologi serviks sering dihubungka dengan perdarahan intermenstrual ringan. atau herpes simpleks (HSV) infeksi. Kanker serviks biasanya ditandai dengan perdarahan abnormal vagina. juga dapat dikaitkan dengan perdarahan postcoital.000 kasus baru 1. Polip serviks adalah pertumbuhan jinak yang sering menyebabkan perdarahan postcoital. Karsinoma serviks uteri merupakan keganasan yang sering dijumpai pada wanita. tetapi gejala tidak muncul sampai tingkat lanjut. Etiologi Karsinoma serviks 17 . yaitu sebesar 6% dari seluruh keganasan pada wanita dan pada tahun 1994 ditemukan lebih kurang 15. Diagnosis temuan penting ini sering tertunda karena dokter menunda atau menghindari Pap smear karena pasien mengalami perdarahan. sedangkan di negara-negara berkembang penyakit ini masih menempati urutan pertama di antara penyakit kanker lainnya yang dialami olehwanita. dimana tanda dan diagnose pasti dapat ditegakkan dengan menggunakan pap smear 1. Chlamydia trachomatis. C.negara Eropa Timur dan Tengah insidensi karsinoma serviks uteri invasif sebesar 15 . Di Amerika serikat karsinoma serviks uteri merupakan keganasan genitalia wanita yang masih sering ditemukan. Servisitis disebabkan oleh berbagai organisme menular. Trichomonas vaginalis. Di negara-negara maju keganasan ini menempati urutan ketiga setelah kanker payudara dan kanker endometrium 13. Di negara . termasuk Neisseria gonorrhea.

26 Riwayat Ginekologis Walaupun usia menarke atau menopause tidak mempengaruhi risiko kanker serviks. hamil di usia muda dan jumlah kehamilan atau manajemen persalinan yang tidak tepat dapat pula meningkatkan risiko. wanita dengan pasangan seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. pasangan dari pria dengan kanker penis juga akan meningkatkan risiko kanker serviks. Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan. HPV tipe 16 dan 11 berhubungan erat dengan displasia ringan yang sering regresi.26 Karakteristik Pasangan Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung tetapi sekarang hanya dihubungkan dengan penurunan faktor risiko. Merokok Sekarang ini ada data yang mendukung rokok sebagai penyebab kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa pada serviks (bukan adenoskuamosa atau adenokarsinoma). Selain itu. hubungan infeksius HPV serviks dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang menunjukkan displasia ringan atau sedang. dimana beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat hubungan seksual dan risiko penyakit ini.18 Hubungan seksual Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual. Sesuai dengan etiologi infeksinya. Mekanisme kerja bisa 18 . dan deteksi antigen HPV dan DNA dengan lesi servikal.26 Agen infeksius Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab neoplasia servikal. HPV tipe 16 dan 18 dihubungkan dengan displasia berat yang jarang regresi tapi sering progresif menjadi karsinoma insitu. Studi kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan kanker serviks lebih sering menjalani seks aktif dengan pasangan yang melakukan seks berulang kali.

sehingga tampaknya seperti ulkus denga jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.19 langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah ditunjukkan pada perokok atau melalui efek imunosupresif dari merokok) menyatakan wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki risiko tinggi memperoleh lesi prakanker tingkat tinggi. Stadium preklinik Tidak dapat dibedakan dengan cervitis chronica biasa b. Bila tubuhnya ke dalam jaringan cerviks disebut inverting atau endophytic. Stadium setengah lanjut (moderately advanced stage) Pada stadium ini. 3. Teraba sebagai indurasi yang keras. keras. Stadium lanjut (advanced stage) Pada stadium ini terjadi pengrusakan pada jaringan seviks. lebih tinggi dari sekitarnya dan mudah berdarah. Daerah tersebut terlihat sebagai daerah yang granuler. pada batas kedua jenis epitel. d. yaitu13 : a. c. Klasifikasi Klinis Karsinoma serviks Ada beberapa macam klarifikasi. yaitu sebagai berikut 13: 19 .tetapi yang paling banyak penganutnya ialah yang dibuat oleh FIGO (The International Federation of Gynecology and Obstetrics). Stadium permulaan (early stage) Sering tampak sebagai lesi disekitar asbum externum. Bentuknya seperti blaemcool. Vagina di sekitarnya jadi keras. 26 2. juga ligamentum latum sebagai akibat infiltrasi jaringan Cad an juga karena infeksi. infeksi telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir parsio. Bentuk ini disebut everting atau exophitic. Kadang-kadang permukaannya ditutup oleh pertumbuhan yang papiler. Stadium Karsinoma serviks Secara makroskropi kanker serviks dibagi menjadi beberapa stadium.

20 . dari tepat asalnya. secara klinis terlihat atau tidak. dan dimensi kedua. dibuat pemeriksaan Stadium Ia1 Invasi stroma secara mikroskopik minimal Stadium Ia2 Lesi ditentukan dan secara dapat mikroskopik diukur Batas atas invasi tidak >5 mm basal epitel.20 Karsinoma pra invasif Stadium O Karsinoma in situ/karsinoma intra epitel Karsinoma invasif Stadium I Karsinoma hanya terbatas pada serviks (perluasan ke uterus diabaikan) Stadium Ia Karsinoma diagnosis berdasarkan mikroskopik pre klinis. Lesi yang lebih besar dianggap stadium Ib Stadium Ib Lesi dengan dimensi > stadium Ia2. dengan penyebaran horisontal tidak melebihi 7 mm. permukaan atau kelenjar.

21 Stadium II Karsinoma meluas melebihi serviks. didapatkan daerah bebas kanker antara tumor dengan dinding pelvis Tumor mencapai 1/3 bawah vagina Semua kasus atau dengan non hidronefrosis fungsi ginjal Stadium IIIa Belum meluas ke dinding pelvis Stadium IIIb Meluas ke dinding pelvis. tetapi belum melebar ke dinding Stadium IIa Karsinoma belum jelas ke parametrium Stadium IIb Karsinoma sudah mencapai parametrium Stadium III Karsinoma sudah meluas ke dinding pelvis Pada sudah pemeriksaan tidak rektal. dan atau hidronefrosis atau non fungsi ginjal Stadium IV Karsinoma sudah meluas melebihi pelvis atau secara klinis sudah meliputi mukosa kandung kemih atau rektum 21 .

Janin tumbuh dalam tubuh rahim (bagian atas). Sao Paulo. Bagian dari leher 22 . Leher rahim menghubungkan tubuh rahim ke vagina (jalan lahir). Radiol Brasil 40(3). MayJune 2007) Leher rahim adalah bagian bawah rahim (rahim) disebut serviks uterus.22 Stadium IVa Stadium IVb Meluas ke organ sekitar Meluar ke organ yang jauh (Sumber gambar: Camisao CC dkk.

Karsinoma sel skuamosa paling sering mulai di mana exocervix bergabung endoserviks. Dua jenis sel ini bertemu di suatu tempat yang disebut zona transformasi. Sekitar 80% sampai 90% dari kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa. squamous intraepithelial lesion dan displasia. Sebaliknya. Kanker serviks dan pra-kanker serviks diklasifikasikan berdasarkan bagaimana mereka terlihat di bawah mikroskop. Ada 2 jenis utama dari kanker serviks: karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. 14 jenis sel utama yang menutupi leher rahim adalah sel skuamosa (pada exocervix) dan kelenjar sel (pada endoserviks). dan jarang terjadi pada wanita yang lebih muda dari 20 tahun . di bawah mikroskop. kanker jenis ini terdiri dari sel-sel yang seperti sel-sel skuamosa. Kebanyakan kanker serviks mulai di zona transformasi Kebanyakan kanker serviks dimulai pada sel-sel yang melapisi leher rahim. Kanker serviks cenderung terjadi pada usia pertengahan. termasuk cervical intraepithelial neoplasia (CIN). Kebanyakan kasus ditemukan pada wanita yang kurang dari 50 tahun. selsel normal dari leher rahim pertama secara bertahap mengembangkan prakanker perubahan yang berubah menjadi kanker. Sel-sel ini tidak tiba-tiba berubah menjadi kanker. Lebih dari 20% kasus serviks kanker ditemukan pada wanita di atas 65 tahun. Namun kanker ini jarang terjadi pada wanita yang telah mendapatkan tes rutin untuk skrining kanker serviks sebelum mereka 65 tahun. Dokter menggunakan beberapa istilah untuk menggambarkan perubahan pra-kanker. 23 . Perubahan ini dapat dideteksi dengan tes Pap dan diobati untuk mencegah kanker dari berkembang. Banyak wanita yang lebih tua tidak menyadari bahwa risiko terjadinya kanker serviks masih karena usia.23 rahim paling dekat dengan tubuh rahim disebut endoserviks. Bagian sebelah vagina adalah exocervix (atau ectocervix). Kanker ini berkembang dalam selsel skuamosa yang menutupi permukaan exocervix tersebut.

Perdarahan spontan saat defekasi dapat pula ditemukan. pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. maka penderita akan mengalami anemia. Perdarahan ini dapat pula muncul setelah melakukan hubungan seksual akibat tergesernya tumor pada waktu koitus. Gambaran Klinis Karsinoma Serviks Kanker serviks umumnya tidak memunculkan gejala hingga sel-sel serviks yang abnormal dan mengganas mulai menginvasi jaringan sekitarnya. Pada wanita yang telah menopause. perdarahan abnormal ini yang menjadi keluhan utama dan membawa mereka pergi ke dokter. Pasien dapat mengeluhkan nyeri yang berat.24 4. lelah dan gejala konstitusional lainnya. Jika terjadi perdarahan kronik. Adanya perdarahan abnormal pervaginam saat defekasi perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma serviks uteri tingkat lanjut. Dengan kata lain. Dalam hal demikian. Disaat ini terjadi. Nyeri dapat dirasakan saat penderita melakukan hubungan seksual. Hal ini terjadi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala. yaitu perdarahan spontan yang terjadi di antara dua siklus menstruasi. keputihan juga merupakan gejala yang sering ditemukan. Gejala-gejala hematuria atau perdarahan per rektal timbul bila tumor sudah menginvasi vesika urinaria atau rektum. Nyeri di pelvis atau di 24 . Warnanya pun menjadi kekuningan. gejala yang umum muncul adalah perdarahan pervaginam yang abnormal. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. kehilangan berat badan. gejala baru muncul bila telah terjadi kanker invasif. Perdarahan menstruasi dapat menjadi lebih lama dan lebih banyak daripada biasanya. Selain perdarahan abnormal.

dan yang paling sering berhubungan dengan kehamilan. banyak penelitian telah diterbitkan yang dukungan perubahan direkomendasikan skrining yang sesuai dengan usia serta pengelolaan hasil skrining abnormal. Beberapa lesi dapat tersembunyi di kanal bagian endoserviks.25 hipogastrium dapat disebabkan oleh tumor yang nekrotik atau radang panggul. namun dapat diketahui melalui pemeriksaan bimanual.Penurunan angka kematian 25 . Skrining Karsinoma serviks telah berhasil menurunkan insiden kanker serviks dan kematian. kini menempati urutan ke-14 . Pada pemeriksaan fisik dapat terlihat lesi pada daerah serviks. Nyeri di epigastrium timbul bila penyebaran mengenai kelenjar getah bening yang lebih tinggi. Bila muncul nyeri di daerah lumbosakral maka dapat dicurigai terjadi hidronefrosis atau penyebaran ke kelenjar getah bening yang meluas ke akar lumbosakral. yang terdiri dari 80% sampai 90% dari kanker serviks kanker. yang merupakan infeksi pada lapisan rahim. untuk pertama kalinya. 13 Sejak saat itu. Semakin lebar diameter lesi maka semakin sempit jarak antara tumor dengan dinding pelvis 5. dapat menyebabkan perdarahan intermenstrual. tetapi juga dapat terjadi setelah persalinan spontan vagina. Intrauterine device (IUD) sering mengakibatkan perdarahan uterus abnormal. sebagai penyebab kematian paling sering kanker pada wanita. 15-17 Sejak diperkenalkannya sitologi serviks di Amerika Serikat di tengah dari abad ke-20. Endometritis. kanker serviks. rekomendasi yang tergabung manusia papillomavirus (HPV) tes DNA. Pedoman The American Cancer Society (ACS) untuk deteksi dini kanker serviks terakhir ditinjau dan diperbarui pada tahun 2002. Skrining berkualitas tinggi dengan sitologi (Papanicolaou) telah nyata mengurangi angka kematian akibat kanker serviks sel skuamosa. serta pemasangan AKDR. aborsi spontan atau terapeutik. Ini adalah komplikasi umum yang terkait dengan operasi caesar.

dan spermisida) berpe ran untuk proteksi terhadap agen virus. HPV18 menyebabkan proporsi yang lebih besar dari kanker kelenjar. Proteksi vaksin ini bertahan sampai 5 tahun. yaitu produk kuadrivalen HPV 6/11/16/18 dan bivalen HPV 16/18.21 adenosquamous daripada 6.26 melalui pemeriksaan adalah karena peningkatan deteksi kanker invasif pada tahap awal. yang mengurangi kejadian keseluruhan kanker invasif. Pada tahun 2012. Kedua vaksin ini sangat imunogenik dan ditoleransi dengan baik. ketika tingkat kelangsungan hidup 5 tahun adalah sekitar 92% ) deteksi dan pengobatan lesi preinvasif. karsinoma sel dan karsinoma skuamosa. diafragma.20 jenis HPV 16 adalah genotipe HPV yang paling karsinogenik dan menyumbang sekitar 55% sampai 60% dari semua serviks cancers. penggunaan kontrasepsi barier (kondom.6 Serangkaian kasus epidemiologi telah menunjukkan bahwa hampir 100% kasus kanker serviks tes positif untuk HPV. Pencegahan primer berupa menunda onset aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signnifikan. dan sekunder. HPV18 adalah genotipe HPV yang paling karsinogenik.170 kasus kanker serviks invasif akan didiagnosis.26 26 . adenokarsinoma. Sekitar 10 genotipe HPV lainnya menyebabkan sisa 25% sampai 35% dari kanker serviks. dan diperkirakan 4220 perempuan akan die. Pencegahan Kanker Serviks Pencegahan kanker serviks terdiri atas pencegahan primer. Vaksinasi ini lebih bermanfaat bila diberikan pada wanita yang belum pernah terinfeksi HPV. Vaksin ini akan menurunkan tetapi tidak mengeliminasi resiko untuk mengalami kanker serviks. dan menyumbang sekitar 10% sampai 15% dari serviks kanker. Sekarang ini telah tersedia dua vaksin terbaru HPV L1. diperkirakan 12.

Tindak pencegahan terakhir ini bertujuan untuk mencegah munculnya komplikasi akibat penyakit ini. Namun.26 Sirkumsisi pada pasangan seksual juga merupakan tindak pencegahan primer karena mampu menurunkan risiko kanker serviks. DAFTAR PUSTAKA 27 . Hasil tes Pap’s yang negatif sebanyak tiga kali berturut -turut dengan selisih waktu antar pemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. dianjurkan untuk melakukan tes Pap setiap tahun pada pasien dengan risiko sedang. Selain itu. Imunisasi ini lebih bermanfaat bila diberikan pada wanita yang belum pernah terinfeksi HPV. bagaimanapun juga vaksinasi tidak dapat menggeser tindakan deteksi dini dan tidak semua wanita dianjurkan melakukan imunisasi ini. Sedangkan tindak pencegahan tersier diperuntukkan bagi wanita yang mengalami kanker serviks. 27 Untuk pasien (pasangan hubungan seksual) yang level aktivitasnya tidak diketahui. sekarang telah tersedia vaksin imunisasi HPV untuk pencegahan kanker serviks.27 Pencegahan Sekunder terdiri untuk pasien dengan risiko sedang dan pasien risiko tinggi.

Gibson M.Abnormal uterine bleeding in the reproductive years. et al.The accuracy of transvaginal ultrasonography in the diagnosis of endometrial abnormalities. Body weight: Estimation of risk for breast and endometrial cancer. Obstet Gynecol 1991.Vercellini P. Potters AE. 10. 2. Reproductive health and polycystic ovary syndrome.Am J Obstet Gynecol 1999. 8. American Cancer Society guideline for the early detection of cervical neoplasia and cancer. Oncology 1997.Whitehead MI. Hallberg L.Am J Med 1995. Risk of endometrial cancer after tamoxifen treatment. Endometrial assessment re-visited (a review). 11. Menstrual blood loss: a population study. American Cancer Society.Variations at different ages and attempts to define normality. CA Cancer J Clin. Obstet Gynecol Surv 1980. Hogdahl A. Spencer CP.Transvaginal ultrasonography versus hysteroscopy in the diagnosis of uterine submucous myomas. Ballard-Barbash R. Heinz AP.77:745-8. Obstet Gynecol 1996. 7. J Am Assoc Gynecol Laparoscop 1999. Sowter M. Oncology 1997.106:623-32. Zanotti F. 5.Verry J. Morgan RW. Benign and hyperplastic endmetrial changes associated with tamoxifen use. Fedele I.11: 25-33. Runowicz CD. 2002.35:597-618. Brioschi D. Farquhar CM. Bingers NY. Diikuizen FP.28 1.1:35-7. 9.98:67-75.45:320-51. Br J Obstet Gynecol 1999. Baranyai J. Dorta M. Gibor Y. Barakat RR.6:391-428. 28 . Part 1: pathogenesis and clinical investigations.An evaluation of risk factors for endometrial hyperplasia in premenopausal women with abnormal menstrual bleeding. 4. Brolmann HA. Munro MG. 12. Swanson CA.87:345-9. Lethaby A.181:525-9. Solomon D.63:437-41. Bianchi S. 52: 342-362. 6. Saslow D.Acta Obstet Gynecol Scand 1996. Rybo G.Am J Clinical Nutrition 1996. Cohen JM.Anemia and menstrual blood loss. 3. Nilsson L.

Int J Cancer. 2006. 2010. Zack M. 24( suppl 3): S3/11-25. 1997. Spitzer M. Edisi Ketiga. Wright TC Jr. Winkjosastro. Bray F. CA Cancer J Clin. 2006 American Society for Colposcopy and Cervical PathologySponsored Consensus Conference. Human papillomavirus is a necessary cause of invasive cervical cancer worldwide. 1999. 71: 159-165. 8: 755-763. Human papillomavirus genotype attribution in invasive cervical cancer: a retrospective crosssectional worldwide study. 29 . Ponten J. International incidence rates of invasive cervical cancer after introduction of cytological screening. et al. Hanifa. et al. Wilkinson EJ. ed. Retrospective International Survey and HPV Time Trends Study Group. 2006 consensus guidelines for the management of women with abnormal cervical screening tests. 2006. 2012. Ilmu Kebidanan. 189: 12-19. 348: 518-527. 2012. Siegel R. et al. Cancer statistics. 2003. Jacobs MV. In: Winkjosastro. Gustafsson L. Naishadham D. Manos MM. 1997. 20.. Hanifa. Vaccine.29 13. Jemal A. Lancet Oncol. Munoz N. Bergstrom R. 31-44. Chapter 2: The burden of HPV-related cancers. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. International Agency for Research on Cancer Multicenter Cervical Cancer Study Group. 11: 1048-1056. Gustafsson L. N Engl J Med. 16. GA: American Cancer Society. Dunton CJ. 21. Massad LS. Atlanta. Walboomers JM. 2007. Ponten J. International incidence rates of invasive cervical cancer before cytological screening. de Sanjose S. 18. Solomon D. Adami HO. Parkin DM. Adami HO. J Low Genit Tract Dis. Anatomi dan Fisiologi Alat-Alat Reproduksi. de Sanjose S. Bosch FX. 62: 10-29: 19.. American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2012. 15. Alemany L. Epidemiologic classification of human papillomavirus types associated with cervical cancer. J Pathol. 22. 2012. 11: 201-222. 14. 17. Cancer Causes Control. Quint WG.

27. Human papillomavirus and cervical cancer. 2007.oxfordjournals. Jones J. N Engl J Med. Adv Data. Wright TC Jr. Available from: http://bmb.org/cgi/content/abstract/88/1/59. Imam. Adding a test for human papillomavirus DNA to cervical-cancer screening. [Accessed 12 Maret 2010] 30 . Castle PE. Lancet. United States. HPV vaccines: are they the answer? British Medical Bulletin: 88(1): 59-74. Stanley. 370: 890-907. 2005: 1-55. Rodriguez AC. 2002. Mosher WD. Margaret. Rasjidi. 24. Sexual behavior and selected health measures: men and women 15-44 years of age. Schiffman M. 26. Chandra A. 2008. 25. 348: 489-490.30 23. 2003. Schiffman M. Deteksi Dini Kanker Mulut Rahim. Jeronimo J. Wacholder S. 2009.