ARSITEKTUR TRADISIONAL DALAM PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PAPUA

ARSITEKTUR TRADISIONAL DALAM PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN Dinegara berkembang, sejak dahulu masyarakatnya mempunyai apresiasi tinggi terhadap arsitektur. herbage tulisan, biku hasil kajian ilmiah, penelitian tentang arsitektur banyak sekali ditulis, diterbitkan, dibaca, dan aliran-alirannya diwujudkan dalam gaya bangunan sebagai kebesaran identitas mereka, tidak hanya oleh para arsitek, tetapi oleh kalangan luas dan herbage lapisan masyarakat. Disbanding dengan daerah lain, propinsi papua yang juga memiliki gaya arsitektur cukup khas yang mana bisa diangkat sebagai kebesaran dan kejayaan bagi orang papua sangat dilupakan. Pada bagian ini saya coba mengkaji keberhasilan, kesalahan dan kekurangan yang dilakukan guna mengangkat arsitektur tradisional papua dalam perkembangan pembangunan. Menjadi pelajaran saat ini dan waktu akan dating bahwa pembangunan yang telah dikembangkan sekarnag tidak mengerti kebudayaan dan tidak mencerminkan kepribadian budaya setempat serta tidak begitu mempertahankan identitas arsitektur setiap daerah di papua. Salah satu tolok ukur kemajuan budaya sebuah daerah dilihat dari aliran aristektur yang mana tampil dalam wajah dan fisik bangunan. Kecenderungan masyarakat dan pemerintah dalam mengadopsi gaya – gaya arsitektur luar seperti gaya arsitektur colonial, gaya arsitektur romawi, gaya arsitektur joglo, gaya arsitektur minang, dan.y.l. hal ini membuat arsitektur tradisional setiap suku bangsa di papua terlupakan. Ini merupakan suatu penjajahan kultur yang menindas budaya papua. Dengan semakin dilupakannya aliran – aliran arsitektur tradisional papua, maka ikut pula menghilang kebesaran citra, karsa, dan karya orang papua, karena sebagaimana dalam ungkapan bahasa semboyang arsitektur mengatakan bahwa; “arsitektur adalah gambaran jiwa raga dan roh seseorang”, inilah kebesaran yang terlupakan. Dengan demikian, ditekankan bahwa dalam mendisain pembangunan papua yang hormat budaya, maka diharuskan untuk mengangkat dan mengikutsertakan aliran arsitektur tradisional dalam mendirikan sebuah bangunan, kalaupun masyarakat tidak mengembangkannya, sebisamungkin gedung-gedung pemerintah tiap daerah wajib mengambil gaya dan corak arsitektur tradisional daerah setempat. Beberapa bentuk arsitektur tradisional papua yang cukup unik dan menggambarkan kebesaran orang papua seperti; bentuk bangunan rumah Honai, rumah tradisional Enjros tobati, rumah tradisional arfak, dan rumah tradisional harit di maybrat imian sawiat kabupaten sorong selatan. Suatu ungkapan kekesalan kini adalah bahwa daerahdaerah propinsi papua yang memiliki gaya arsitekturnya sendiri ini begitu didominasi oleh bangunan – bangunan dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena pemerintah Hindia Belanda lebih awal membangun papua dengan menerapkan aliran arsitektur colonial, sebagaimana hingga saat ini difungsikan sebagai gedung atau perkantoranperkantoran pemerintah daerah bahkan ada yang dijadikan sebagai rumah hunian masyarakat. Suatu pembunuhan karakter budaya arsitektur papua yang telah dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda di daerah propinsi papua. Dikabupaten Sorong Selatan, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1950, secara brutal membongkar rumah-rumah tradisional yang dibangun oleh orang maybrt imian sawiat sebagai bangunan terhormat seperti rumah sekolah dan gereja (samu k‟wiyon-bol wofle), dengan menerapkan larangan-larangan untuk tidak mengembangkan atau membangu bangunan-banguan tersebut kembali. Hal ini membuat orang maybrat imian sawiat kini kehilangan gaya dan aliran arsitektural mereka. Disisilain, pada tahun 1962, pemerintahan indoneisa telah masuk kewilayah papua, yang mana pada waktu itu disebut Irian Jaya dan menetap hingga sekarang dengan penerapan bangunan yang juga tidak mempedulikan aliran arsitektur lokal.

Kini aliran arsitektur dari daerah lain yang mendominasi wajah perkotaan di seluruh papua. Persoalannya bukanlah terletak pada kurangnya tenaga-tenaga arsitektur papua, tetapi keinginan daripada pemilik yang mana cenderung menginginkan gaya arsitektur lain ketimbang tidak menyadari akan gaya arsitekturnya yang tampak sederhana, berbobot, bergaya sendiri, dengan segala macam nilai yang terkandung didalamnya. Tampak jelas ketika kita berada diberbagai daerah; kabupaten sorong contohnya, gaya arsitektur yang mendominasi diwilayah pesisir sungai remu adalah gaya arsitektur bajo suku bugis, begitupun yang terdapat di pesisir pantai tehit, gaya arsitektur yang tampak mendominasi adalah arsitektur tradisional Bajo, orang bugis. Di jayapura, kini didominasi oleh arsitektur Asia, colonial, dan disisipi dengan gaya arsitektur minang. Dimanokwari, arsitektur arfak juga terlupakan dan kini wajah kota manokwari didominasi oleh aliran arsitektur colonial, asia dan disisipi oleh aliran arsitektur minang. Didaerah wamena yang gaya arsitektur tradisionalnya yang begitu terkenal di dunia (honai), masih juga tidak begitu diperhatikan, wajah kotanyapu masih terlihat hamparan wajah arsitektur pendatang semua. Merupakan salah satu pengikisan budaya bangsa. Arsitektur tradisional setiap daerah di propinsi papua merupakan kebesaran setiap suku bangsa tersebut, karena merupakan hasil ciptaan mereka yang sebenarnya. Proses akulturasi terhadap gaya arsitektur ini membuat orang papua semakin ditelanjangi dengan cara yang dipergunakan oleh penjajah. Dalam refleksi arsitektur tradisional papua yang telah kami analisis, merupakan suatu cara penjajahan terhadap budaya. Selain budaya-budaya lain dibuang, disisi yang lain kekayaan budaya dicuri serta diperdagangkan seperti ukiran, tarian dan corank budaya unik lainnya. Suatu kesimpulan daripada refleksi budaya papua “bahwa orang papua dulu sebelum penjajahan, disini diibaratkan seperti seorang gadis manis yang sedang direbut oleh beberapa orang, setelah ia berhasil direbut, bukan karena cantiknya saja yang menjadi rebutan, tetapi segala perhiasan yang dikenakan disekujur tubuhnya diambil oleh orang yang merebutnya setelah itu itu busana yang dikenakannyapun dilepaskan satupersatu dan dibuang, kini seorang nona cantik menjadi kehilangan harga dirinya karena semua yang ada padanya sebagai kebesaran telah hilang dan kini dia telanjang sampai-sampai mahkotanya turut diambil, tetapi bersyukur karena ia masih hidup. Walaupun ia masih hidup, dan ia mampu menciptakan busana yang baru, tetapi tidak semuanya dari bahan yang ia miliki tetapi dari bahan-bahan punya orang yang diambil dalam membuat busananya, karena semuanya serba palsu maka nilai dirinya kini berkurang”. Suatu penjajahan terhadap arsitektur-arsitektur papua yang sedang berlangsung. Semangat pembangunan yang ditunjukkan adalah semangat yang kami sebut egoisme membangun. Kata egoisme membangun disini saya gunakan karena konsep pembangunannya tidak menghargai apa yang disebut dengan potensi lokal (local potences), konsep pembangunannya begitu tertutup (closely building concept), memikirkan dirinya sendiri (egoism), walaupun ia berada di wilayah kekuasaan budaya lain, akan tetapi tetap menggunakan konsep budaya asing untuk diterapkan. Inilah sesuatu penjajahan budaya yang sedang diterapkan di propinsi papua, yang mana secara sinergis sedang mengikis selain arsitektur, budaya-budaya lainpun ikut terkikis. Arsitektur bagi sejarah manusia merupakan sebuah karya besar dan termasyhur yang pernah dibuat oleh nenekmoyang setiap sukubangsa didunia. Sedangkan bumi sendiri merupakan rumah yang dirancang dan dibangun oleh Tuhan, dan tak ada seorangpun yang mampu menciptakan planet bumi yang lain menyaingi atau melampaui yang diciptakan oleh Tuhan, begitupun ciptaan setiap suku bangsa tidak mungkin sama dan tidak seorang sukubangsapun yang berhak untuk menghilangkanm ciptaan orang lain. Sejarah perkembangan arsitektur suku

bangsa di propinsi papua mencakup dimensi ruang dan waktu yang tidak dapat ditentukan batasnya. Olehkarena itu dalam konsep pembangunan di propinsi papua, seharusnya dikonsepsikan sesuai dengan aliran arsitektur lokal yang ada disetiap daerah yang mendasar pada jenis bangunan dan terkait dengan fungsinya. Dikatakan demikian karena daerah-daerah di propinsi papua dengan konsep dan gaya aliran arsitekturnya selalu mempunyai aturan, makna dan fungsi yaitu; rumah suci, Rumah berkumpul, Rumah hunian, Rumah pendidikan. Sebenarnya Tidak begitu sulit dalam mengembangkan konsep pembangunan sekarang dengan menggunakan aliran arsitektur lokal. a.Keberhasilan Penerapan Konsep Arsitektur Tradisional Dalam Pembangunan Papua Suatu keberhasilan konsep arsitektur tradisional papua yang menonjol kerapkali hanya terlihat pada Gapura, ukiran-ukiran dan lukisan dinding. Untuk konsep arsitektur dalam gaya bangunan tidak begitu ditonjolkan atau samasekali tidak dipake dalam konsep pembangunan, walaupun beberapa daerah mampu manampilkan gaya arsitektur mereka seperti gaya arsitektur Enjros sentani yang dikembangkan di kota jayapura, dan honai wamena yang juga dikembangkan di kabupaten wamena, namun tetapi belum sepenuhnya mencapai 100%. Sedangkan didaerah kabupaten lain seperti kabupaten sorong selatan tidak pernah menampilkan gaya arsitektur harit, dan kabupaten manokwari dengan gaya arsitektur arfaknya tidak terlihat wajahnya di dalam konsep pembangunan. Diwamena dan jayapura telah berhasil dengan menampilkan wujud arsitektur tradisionalnya Karen ada kesadaran akan nilai-nilai yang terkandung. Sedang didaerah lainnya, kecenderungan dengan prinsip egoisme pembangunan sangat mendominasi, akhirnya nilai-nilai yang ada didaerah setempat terlupakan dan hilang dengan sendirinya. Bila dipandang dari konsep arsitekturnya, papua akan dikatakan sebagai daerah dengan keberhasilan membangun sendiri jikalau konsep aliran arsitektur yang dipakai dalam pembangunan dengan menggunakan konsep arsitektur tradisional. Karena disinilah papua akan terkenal dengan kebhinekaan gaya arsitektur tradisionalnya, papua akan disebut sebgai sebuah bangsa yang berjaya yang mana kejayaannya ditunjukkan melalui aliran-aliran arsitekturalnya. b.Kesalahan Konsep Pembangunan Tanpa Arsitektur Tradisional Bilamana kita berbicara mengenai konsep, maka kita berbicara tentang arah, kebijakan, cara, metode, yang ditampilkan dalam mengembangkan sesuatu ide yang dikonsepsikan. Berkaitan dengan konsep pembangunan, setiap manusia atau kelompok dan sukubangsa mempunyai metode atau konsepnya masing-masing dan berbeda, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan yang ada. Suatu kesalahan dalam konsepsi pembangunan yang serign ditemukan saat ini adalah, konsep pembangunan tanpa arsitektur lokal. Setiap suku bangsa di papua mempunyai aliran atau gaya bangunan arsitekturalnya yang unik, akan tetapi seringkali ketika dalam konsep pembangunan, aliran arsitektur tradisional ini tidak diingat (terlupakan) atau tidak dimunculkan dalam proses pembangunan. Padahal ketika kita berbicara mengenai arsitektur tradisional, kita telah berbicara tentang suatu jatidiri, idealisme, citra, rasa, karya, karsa suatu bangsa karena arsitektur tradisional adalah bagian dari kebudayaan manusia, berkaitan dengan herbage segi kehidupan seperti; seni, teknik, ruang/tata ruang. Perkembangan konsep pembangunan daerah saat ini cenderung mengesampungkan gaya arsitektur tradisional lokal (setempat) yang bila dikembangkan, mampu mengangkat kebesaran nama suatu daerah yang akan dikenal dan berjaya. Misalnya arsitektur Joglo, arsitektur Honai, arsitektur colonial, arsitektur bizantum, arsitektur minang, arsitketur fengsui, arsitektur harit, sudah ada di wilayahnya masing-masing sejak zaman keberadaan nenek moyangnya, dan berkembang bersama-sama dalam kehidupan mereka. Faktor-faktor yang

mempengaruhi sehingga arsitektur tradiaionl menjadi terlupakan adalah: 1.pengaruh aliran arsitektur luar dengan gaya, estetika dan bentuk yang moderen. 2.keinginan pemilik bangunan rumah yang cenderung menginginkan bentuk arsitektur model aliran lain. 3.pemerintah setempat tidak fasih dalam mengembangkan suatu konsep pembangunan dengan menggali kearifan lokal, sehingga arsitektur tradisional tidak dapat diperhatikan. 4. tenaga perancang dan ahli-ahli arsitektur yang tidak jeli dalam mengangkat aliran arsitektur tradisional untuk menterjemahkannya dalam bentuk moderen, sehingga arsitektur local tetap tersembunyi/hanya dalam baying-bayang tradisional aja. Kelengkapan Hidup Sejarah kehidupan manusia telah mencatat bahwa, manusia pertama nenek moyang kita; hidup sebagai pengembara atau manusia yang hanya mencari nafkah secara terus-menerus dan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Pada zaman ini, manusia tidak memiliki kelengkapan hidupnya seperti; api, kapak, dan busana. Hal ini diakibatkan karena mereka belum memiliki kamampuan mencipta. Sejarah orang maybrat imian sawiat telah memuat catatan perjalanan hidup mereka semenjak nenek moyang. Catatan ini juga sama dengan catatan sejarah perjalanan nenekmoyang manusia dari herbagai belahan dunia lainnya. Manusia maybrat imian sawiat mula-mula juga tidak memiliki kelengkapan hidup pada zaman ini, dan mereka sebagai manusia pengembara atau pencari nafkah dengan berpindah-pindah tempat. Dalam penelitian kami dibeberapa kampong pada tahun 2000 – 2001, yaitu dikampong; udagaga, makaroro, mogatemin, mugim, keyen, sengguer, moswaren, sedangkan penelusuran sejarah dan penelitian kami selanjutnya pada tahun 2004 dan 2007 dari wilayah; Ayamaru, sosian, temel, mapura, suwiam, yukase, segior, kartapura, sauf, sembaro, soroan, welek, pasir putih, malabolo, klamit, kladut, kambuaya, jitmau, kartapura, arus, kambufatem, susmuk, aifat, mare, karon, dan menyusuri sungai kamundan, mukamat, ayata, kamro, teminabuan, wehali, serbau, serer, tofot, haha, woloin, imian, dan wainslolo, ditemukan beberapa laporan tentang kelengkapan hidup manusia maybrat imian sawiat yaitu; A.Bahasa Sejarah perkembangan bahasa maybrat, bahasa sawiat, bahasa imian, tidak begitu diketahui keberadaannya semenjak kapan, akan tetapi untuk bahasa tubuh, sudah ada atau telah digunakan oleh menusia maybrat imian sawiat, primitive ketika jumlah keanggotaan mereka lebih dari satu orang. Bahasa tubuh merupakan bahasa komunikasi pertama yang telah dipakai oleh orang maybrat imian sawiat. B.Kapak Batu Orang maybrat imian sawiat mula-mula atau disebut manusia primitive, dalam kehidupan mereka, kelengkapan hidup yang pertamakali dikenal oleh orang maybrat imian sawiat adalah kapak batu (stone axe) “fra maãn” dalam sebutan bahasa maybrat. Data yang diambil tentang kapak batu (stone axe) tentang kelengkapan hidup manusia primitive maybrat imian sawiat, dikenal pada zaman batu. Sayangnya kapak batu (stone axe) ini tidak ditemukan wujudnya, karena telah dibuang/dimusnahakan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1950.y.l. dan lokasi atau kampong-kampong yang dihuni juga dibubarkan untuk digabungkan kekampong-kampong sekitar guna perluasan kampong. Mungkin sebaiknya kita kembali untuk membongkar lokasi-lokasi bekas kampong yang dibubarkan untuk pencarian benda-benda prasejarah yang dibuang. Manusia primitive maybrat imian sawiat pertama yang membawa kapak batu (stone axe) adalah Tiĩ Srowy di teminabuan, kemudian diambil oleh seorang manusia primitive yang bernama Woroh Simian, dan membawanya ke daerah Fayoh. Ketika itu woroh simian bertemu dengan seorang manusia primitive yang bernama Fhour Dyaman. Disinilah awal mula nenekmoyang orang maybrat imian sawiat mengenal kapak batu (stone axe). Dari uraian ini, jelaslah bahwa manusia maybrat imian sawiat pertama yang

mengenal dan memperkenalkan kapak batu (stone axe) adalah Tiĩt Sroey yang adalah manusia primitive/nenekmoyang yang hidup didaerah tehit (kini Teminabuan). C.Api – Tafoh – Sala (flame) Orang maybrat imian sawait primitive kemudian mengenal api „tafoh-sala‟ (flame), yang mana diperkirakan pada zaman batu. Api, pertamakali dikenal didaerah maybrat, api yang mana dikenal melalui fenomena alam, yaitu ketika terjadi gesekan antara pepohonan yang satu dengan pohon yang lainnya, dan menimbulkan percikan api sehingga menjadi bara api. Nama api (flame) yang pertama dikenal dalam bahasa primitive orang maybrat adalah; SSS, dan FUF. Ini adalah nama api yang dikenal pertama kali di zaman itu, karena ketika penemunya yang bernama tafoh yang kini namanya digunakan dalam sebutan api, (dalam bhs. maybrat). Ketika itu dia (tafoh) melihat percikan api yang timbul ketika gesekan pohon lalu menjadi bara api, dia (tafoh) lalu mendekatinya dan menyentuhnya dengan tangan, tetapi karena tangannya terbakar sehingga ia meringis kesakitan dengan mengeluarkan kata SSS, setelah itu, tafoh mendekatinya untuk keduakalinya dengan keinginan memadamkannya dengn cara meniupnya. Ketika ia mencoba untuk meniupnya dan bunyi nafas tiupannya yang terdengar FUF, oleh kerabat-kerabatnya yang bersama dengan dia, sehingga mereka menyebut api dengan nama FUF dengan menggunakan bahasa tubuh untuk mengatakan kepada kerabat yang lain tentang api. Dari penemuan ini, dipertahankan dan berkembang hingga zaman megalitik, yang mana manusia maybrat imian sawiat primitive mulai mengembangkan teknologi sederhana penghasil api (flame tecnology). Pada zaman ini, manusia maybrat imian sawiat yang begitu primitive, sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan. Pada zaman ini pula mereka mulai mencoba untuk meramu bahan-bahan untuk menciptakan api. Bahan-bahan yang digunakan pertamakali untuk pembuatan api adalah: a.Rotan (toŏ atu) b.Kayu (ara) c.Ampas dedaunan kering (hita gat) d.Cara kerjanya adalah; Rotan dililitkan pada batan kayu dan ampas dedaunan kering diletakan dibawah dan selanjutnya tali rotan ditarik kekiri dan kekanang dengan bergesekan pada dinding kayu secara bergantian selama beberapa menit dan ketika kayunya panas, maka menimbulkan percikan api yang jatuh pada ampas dedaunan kering sehingga menjadi bara api. Bahan yang digunakan kedua atau model kedua: a.Bambu (tbil/bron) b.Pecahan batu (fra habah) c.Ampas dedaunan kering (hita gat) Cara kerjanya adalah: pecahan batu digesekan pada dinding bamboo kering secara teratur berulang kali pada lokasi gesekan yang sama, sedangkan dibagian bawah disiapkan ampas dedaunan kering, setelah gesekan tersebut menghasilkan percikan api, yang jatuh pada ampas dedaunan kering itu sehingga menghasilkan bara api dalam beberapa menit. Bahan yang dibunakan ketiga, atau model ketiga: a.Pecahan kaca/beling botol (kusia habah) b.Bamboo (tbil/bron) c.Ampas kayu/dedaunan kering (ara magi/hita gaat) Cara kerjanya adalah: pecahan kaca/beling digesekan pada kulit bamboo kering secara teratur berulang kali kepada tempat gesekan yang sama dan beling dilapisi dengan ampas kayu, sehingga ketika percikan api keluar langsung pada ampas kayu yang ada dan menghasilkan bara api. Model teknologi pembuatan api yang ketiga dengan bahan kaca/beling, semenjak abad 16, ketika VOC masuk ke wilayah maybrat imian sawiat. Pada abad ini pula orang maybrat imian sawiat mengenal barang-barang pecah belah dan korek api. D.Busana Orang maybrat imian sawiat dalam proses hidupnya, ia baru mengenal busana kemudian setelah kelengkapan yang lain seperti kapak batu (stone axe), dan api (flame) dikenal. Sejarah orang maybrat imian sawiat mengungkapkan bahwa nenekmoyang mereka pada mulanya hidup dalam ketelanjangan tanpa busana. Akantetapi sedikit demi sedikit waktu memproses mereka dengan diimbangi otak dan nalar yang kian mulai berpikir untuk berkembang

menjadi manusia moderen, sehingga mereka mencoba untuk meramu segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hidup mereka yang mana ikut merubah hidup mereka dari kehidupan primitive hingga menjadi manusia moderen sekarang ini. Nenekmoyang orang maybrat imian sawiat yang pertama memakai busana cawat/cedaku (gitaut) adalah Hafra Hafuk. Kemudian diperkenalkan kepada anaknya yaitu Hefy Hafuk, dan selanjutnya Hefy Hafuk, memperkenalkannya kepada anaknya Saf Haafuk, (kini sesa dumufle). Bahan yang digunakan sebgai busana adalah kulit kayu (fijoh malak), yang berwarna Putih. Akan tetapi busana dari kulit kayu tersebut kemudian digantikan dengan bahan kain, pada abad ke-16, dimana orang Maybrat imian sawiat mengenalnya melalui para pedagang VOC. Sejarah orang maybrat imian sawiat dalam mengenal busana ini pada zaman dan tahun yang tidak diketahui.

Arsitektur Tradisional Lampung
Khasanah arsitektur tradisional Lampung bisa dibilang sebagai warisan leluhur budaya yang tidak akan dapat ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya. Selain ahli warisnya tidak merasa memiliki tradisi ini karena tidak pernah mempelajari kekayaan nilai yang melatarbelakangi pembangunannya, juga disebabkan factor domestic terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kemiskinan masyarakat adat di perkampungan-perkampungan negeri (kampung asli masyarakat adat Lampung) (baca: tulisan saya tentang Marga Smuong, Marginalisasi Masyarakat Adat di Media Indonesia edisi 3 Desember 2007), berimplikasi terhadap upaya mereka untuk melestarikan tradisi-tradisi warisan leluhur budayanya. Kondisi seperti ini sangat dirasakan masyarakat adat Lampung keturunan Buay Pernong di Kabupaten Lampung Barat. Rumah adat milik masyarakat adat di Pekon Batubekhak (baca=batu berak), daerah yang diyakini sebagai asal mula masyarakat adat Lampung, diperkirakan berusia 200—500 tahun, berdiri goyah pada fondasi tiang-tiang berdiameter 0,5—1 meter. Bangunan yang memiliki nilai sejarah arsitektur ini telah berulang-ulang direnovasi, namun renovasi justru menghilangkan nilai-nilai sejarahnya.

Akibat pengetahuan para “tukang” tentang tradisi arsitektur Lampung sangat rendah, bahkan tidak punya sama -sekali, membuat perubahan mendasar pada struktur-struktur bangunan. Tiang-tiang yang penuh ragam ornamen menggambarkan realitas kehidupan leluhur budaya masyarakat Lampung, dibuang dan diganti dengan tiang-tiang baru. Tiang asli dibiarkan melapuk dan dirubuki rayap atau dibakar seolah-olah tak ada nilai pentingnya bagi kehidupan saat ini. Atap rumah yang mestinya ijuk, diganti dengan seng, belum lagi struktur ruang dalam dan ornamen-ornamen luarnya. Rumah berbentuk persegi empat ini, berdiri di atas tiang-tiang, dan pintu masuk berupa tangga. Rumah ini awalnya bukan sekedar tempat tinggal bagi masyarakat adat keturunan Buay Pernong, melainkan sebuah bangunan penuh struktur simbolik yang mengandung nilai-nilai kebudayaan masyarakat penganutnya. Rumah ini merupakan perwujudan fisik dari masyarakat adat Buay Pernong, sebuah kosmologi cultural, dimana tergambar jelas stratifikasi masyarakat ini secara sosial. Dalam pandangan sejarah cultural sebagaimana diyakini sebagian masyarakat adat di Kabupaten Lampung, Buay Pernong dibandingkan buay-buay lainnya adalah perwujudan masyarakat yang memiliki kelas sosial lebih sejahtera dan hidup yang suka berpoya-poya. Sayang, pengetahuan masyarakat Lampung atas sejarah arsitekturnya sangat rendah. Tidak adanya penelitian yang konprehensif menyebabkan peninggalan leluhur budayaan ini sulit diwariskan, sehingga dikhawatirkan tradisi ini akan mengalami kepunahan yang apat merugikan para ahli warisnya. Padahal, sejarah sangat penting bagi manusia saat ini. Setiap arus waktu yang telah berlalu tak akan dapat lagi kembali, namun mengupayakan masa lalu untuk hadir di tengah-tengah kehidupan hari ini menjadi prestasi yang pantas dibanggakan guna merenungkan apa yang telah kita lakukan selama ini. Manusia, menurut Martin Heidegger (1889-1976), ditandai ciri historisitas (historicity). Manusia adalah subjek sekaligus objek sejarah. Di satu sisi, manusia terlahir dalam suatu kubangan sejarah tertentu yang akan terus membentuknya sepanjang waktu, sementara ia sendiri juga senantiasa berusaha melakukan pergulatan-pergulatan dalam bentuk inovasi-inovasi kreatif dalam rangka menampakkan jejak langkahnya di antara lorong-lorong sejarah. Historisitas ini tidak saja melekat pada level individu, juga berkait dengan tatanan kebudayaan suatu masyarakat. Kontinuitas

perkembangan suatu peradaban direkam dan dirawat dalam dan melalui pita sejarah. Dalam wadah sejarah itulah akar tradisi yang mewujud nilai-nilai luhur diseduh untuk merengkuh identitas bersama masyarakat. Tetapi dalam masyarakat Lampung, kesadaran terhadap sisi historisitas itu, baik dalam level individu maupun sosio-kultural, sama sekali tidak muncul dalam hal melestarikan arsitektur tradisional. Ini dapat dilihat dari pembangunan rumah-rumah baru sebagai upaya pelestarian tradisi arsitektur ini, hampir tidak pernah dilakukan sejak pertengahan abad ke-19. Masyarakat tradisional Lampung berhenti membangun rumah-rumah tradisional karena kolonialisme Belanda menerapkan hukum yang melarang melakukan penebangan pohon secara liar, sehingga rumah-rumah tradisional yang 100% bahan bakunya kayu, tidak bisa lagi dibangun. Kalau saat itu tetap ada masyarakat yang membangun rumah, mereka merupakan keluarga tokoh adat (saibatin) atau para pemilik kebun cengkih dan kopi yang memang mendapat perlakuan-perlakuan khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Namun, izin pembangunan rumah tradisional (sekaligus menjadi izin penebangan pohon) baru bisa keluar apabila si pemilik rumah menyetujui tawaran dari Pemerintah Hindia Belanda terkait penggunaan ornamen-ornamen khas Eropa (Belanda) pada rumah tersebut. Karena kebijakan politik Pemerintah Hindia Belanda inilah, banyak rumah di lingkungan masyarakat tradisional yang mulai mengenal penggunaan bahan tembaga (ini muncul pada ornamen untuk jendela), mengenal penggunaan semen untuk tangga, dan ornamen pada pagar dari besi campur tembaga yang dicor. Lama kelamaan ornamen-ornamen Eropa mulai banyak dipergunakan masyarakat, bukan saja karena kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda, melainkan juga karena ornamen-ornamen itu dianggap mewakili kelas sosial masyarakat. Semakin bergaya Eropa desain sebuah rumah, status ekonomi pemilik rumah tersebut dipandang semakin tinggi. Sebab, untuk menghasilkan bangunan bergaya Eropa, perlu tukang-tukang khusus yang didatangkan dari Meranjat (Sumatra Selatan) dan untuk membayar mereka setiap orang mesti mengeluarkan dana sekitar 25.000 Golden. Pengaruh arsitektur Eropa merupakan salah satu babakan dari perkembangan arsitektur tradisional Lampung. Dari penelitian yang penulis lakukan, pengaruh arsitektur Eropa yang paling bertanggung jawab atas punahnya tradisi arsitektur Lampung. Masa ini diperkirakan sekitar 1840 sampai sekarang, dimana pengaruh kebijakan kolonialisme Belanda tidak saja terasa pada kehadiran rumah-rumah di lingkungan perkotaan, tetapi juga di lingkungan kampung tua. Rumah-rumah yang ditemukan penulis di berbagai perkampungan negeri di pelosok-pelosok Provinsi Lampung, rata-rata dibangun pasca keluarnya kebijakan pemerinah Hindia Belanda soal “pelarangan penebangan pohon”, sekitar akhir abad ke-19. Bangunan yang berdiri sebelum larangan muncul, atau sebelum pengaruh kolonialisme Belanda tiba di lingkungan masyarakat adat Lampung sekitar decade 1700 atau akhir abad ke-17 sampai akhir abadke-19, sulit menemukannya. Padahal, bangunan pada priode inilah yang memiliki kekhasan tradisi arsitektur masyarakat Lampung. Rumah-rumah yang dibangun masih sederhana, baik pembagian ruang maupun bentuknya. Sebagaimana rumah-rumah tradisional yang ditemukan di Kepulauan Asia Tenggara dan sebagian daratan Asia, ciri khas berupa umpak, lantai yang ditinggikan sehingga membentuk kolong di bagia bawah lantai, atap berpuncak dengan bubungan yang dipanjangkan, dan ujung dinding muka keluar. Melihat ciri-ciri khas ini, bisa dikatakan bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung telah ada ribuan tahun jika titik asal mengacu pada tradisi arsitektur yang dibawa para pelaut Astronesia. Artinya, tradisi arsitektur masyarakat Lampung sudah muncul bahkan sebelum pengaruh budaya Hindu-Buda muncul pada abad ke-9 sampai abad ke-15. Sepanjang ribuan tahun jika titik asal tradisi arsitektur dari pelaut Astronesia, pastilah sebuah era yang sangat panjang dan meninggalkan nilai-nilai tradisi yang sulit untuk diubah oleh pengaruh budaya Hindu-Buda. Faktor inilah yang ditangkap para arkeolog ketika mereka menyimpulkan adanya tradisi arsitektur yang kuat dari masyarakat awal yang memengaruhi arsitektur Candi Borobudur atau Candi Lara Jonggrang. Artinya, meskipun arsitek pada masa Hindu-Buda (saat Candi Borobudur maupun Candi Lara Jonggrang) dibangun sangat dipengaruhi oleh bentuk-bentuk arsitektur India, namun kedua candi yang merupakan arsitektur klasik di negeri ini ternyata tidak sama

persis dengan arsitektur India karena dipengaruhi oleh budaya arsitektur masyarakat asli. Nilai Sejarah Dengan cara yang sama, arsitektur khas Lampung juga bisa ditelusuri jejak-jejaknya pada bangunan-bangunan yang ada saat ini. Rumah-rumah yang masih memiliki disain arsitektur tradisional dengan ciri umumnya denah berbentuk bujur sangkar (persagi), berbahan baku kayu, berdiri di atas umpak batu, lantai dinaikkan, bagian depan dimajukan, dan memiliki tangga masuk ke rumah, sedikit banyak pasti mengandung sejarah tradisi arsitektural Lampung. Rumah-rumah itu dapat dipergunakan untuk mengetahui sejarah kebudayaan masyarakat yang tinggal di bagian paling Selatan dari Pulau Sumatra ini. Karena rumah tradisional merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat, sehingga siapa pun yang mencoba memahaminya akan segera tahu bahwa kebudayaan Lampung sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan pelaut-pelaut Austronesia. Berbeda halnya dengan bangunan-bangunan tradisional yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Pulau Bali, yang segera dapat dipastikan sebagai ekspresi budaya masyarakat yang menganut kebudayaan India zaman Hindu-Budha. Bangunan-bangunan tersebut berdiri di atas tumpukan batu sebagaimana acap ditemukan dalam desain arsitektur bangunan candi dan tempat-tempat ibadah. Rumahrumah tradisional milik masyarakat Lampung, memiliki ciri khas berupa berdiri di atas tiang atau memiliki fondasi yang dinaikkan. Kita mengenal rumah semacam ini sebagai rumah panggung dimana rumah tersebut memiliki tiang-tiang tinggi berkisar 1,5 meter sampai 2 meter, sehingga membentuk sebuah kolong di bawah lantai. Hampir semua rumah tradisional yang ada di kawasan Pulau memiliki fondasi sedemikian rupa, sehingga secara filsofi fondasi serupa itu bukan khas rumah tradisional Lampung. Fondasi semacam ini pun sebetulnya bisa ditemukan di lingkungan masyarakat penganut kebudayaan Dayak Kenyah, Betawi, Jawa, Sumba. Bahkan, di hampir seluruh di kawasan Asia Tenggara dapat ditemukan rumah tradisional dengan fondasi semacam ini. Sebab itu, bisa disimpulkan bahwa fondasi rumah yang ditinggikan menyebar di beberapa tempat di kawasan Asia Tenggara, sedang kawasan ini kita tahu merupakan daerah penyebaran Austronesia. Dengan begitu, rumah tradisi masyarakat Lampung sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Austronesia. Dari simpul ini kita bisa melacak masyarakat seperti apa penganut kebudayaan Lampung, yang sudah barang tentu memiliki kemiripan-kemiripan dengan masyarakat penganut-penganut kebudayaan lain yang ada di Pulau Sumatra. Jika kita bandingkan dengan masyarakat di Sumatra Selatan, yang bersebelahan dengan Lampung, dalam soal tradisi membangunan rumah kedua penganut kebudayaan ini memiliki banyak kesamaan. Bahkan, rumah tradisional milik masyarakat Lampung hampir tidak bisa dibedakan dengan rumah tradisional milik masyarakat Palembang banyak ahli di Lampung yang membuat batasan bahwa rumah tradisional Lampung memiliki struktur dan bentuk atap yang berbeda dari rumah tradisional milik masyarakat Palembang yang khas berbentuk limas, sehingga rumah tradisional mereka disebut juga rumah limas. Tetapi batasan itu sangat picik, karena rumah tradisional yang atapnya berbentuk limas banyak ditemukan di lingkungan masyarakat Lampung, begitu juga sebaliknya. Jadi, soal bentuk atap yang berbeda tidak dapat menjadi patokan karena bentuk atap itu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan asli yang membawa dan memperkenalkan tradisi membangun rumah tersebut. Perbedaan bentuk atap rumah tidak mengandung filosofi apapun melainkan lebih dikaitkan pada kondisi alam dari daerah dimana rumah tersebut dibangun. Rumah bagi masyarakat tradisional sama seperti kerajaan, tetapi yang paling penting rumah pada awalnya berfungsi sebagai tempat berlindung dari segala bentuk gejala alam. Karena itu, khasanah arsitektur rumah-rumah tradisional muncul sebagai antisipasi manusia terhadap kondisi alam di lingkungannya, sehingga untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi masyarakat tradisional akan membangun bentuk atap yang membuat air hujan tidak merembes ke bagian dalam rumah. Faktor curah hujan ini menjadi pertimbangan karena sebagian besar atap rumah tradisional menggunakan ijuk atau alang-alang, yang daya tahannya sangat tergantung pada tingkat kekeringannya. Itu sebabnya, di beberapa masyarakat yang rumahnya memiliki fondasi bertiang tinggi, acap mengasapi atap rumahnya dengan cara membakar sesuatu di kolong rumah. Asap dipercaya dapat mengawetkan alang-alang dan ijuk.

Melihat struktur bangunan tradisional Lampung, sama artinya dengan melihat struktur simbol dari kebudayaan masyarakatnya. Jika defenisi kebudayaan seperti ditawarkan Geertz bahwa kebudayaan adalah seperangkat teks-teks simbolik, maka kesanggupan manusia untuk membaca teks-teks tersebut dipedomani oleh dan dalam struktur-struktur upacara yang bersifat metafor, kognitif, dan penuh dengan muatan emosi dan perasaan. Dengan begitu, penulis meyakini bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung sangat universal sebagai warisan masyarakat pelaut Austronesia, dan jejak-jejaknya bisa ditemukan di sebagian besar wilayah Nusantara.