Bale Meten

Bangun rumah yang paling awal dibangun dalam perumahan, type bangunan sake kutus diklasifikasikan sebagai bangunan madia dengan fungsi tunggal sebagai tempat tidur yang disebut bale meten. Komposisinya berada di sisi kaja natah (halaman tengah) menghadap kelod berhadapan dengan sumanggem/bale delod. Dalam proses membangun rumah bale meten merupakan bangunan awal. Jaraknya delapan tapak kaki dengan pengurip angandang diukur dari tembok pekarangan sisi kaja. Selanjutnya bangunan yang lainnya di bangun dengan jarak yang diukur dari bale meten. Bentuk bangunan segi empat panjang, dengan ukuran 5 m x 2,5 m, dengan tinggi lantai sekitar 1,2 m dengan empat atau lima anak tangga kearah natah lantai lebih tinggi dari bangunan lainnya untuk estetika. Konstruksi terdiri delapan tiang yang dirangkai empat empat menjadi dua balai-balai. Masing-masing balai-balai memanjang kaja kelod dengan kepala kearah luan kaja. Tiang-tiang dirangkaikan dengan sunduk waton/selimar likah dan galar. Stabilitas konstruksi dengan sistim lait pada pepurus sunduk dengan lubang tiang senggawang tidak ada pada bale sekutus. Bangunan dengan dinding penuh pada keempat sisi dan pintu keluar masuk kearah natah. Bagian bagian bangunan : a. Bebaturan. Bagian bawah atau kaki bangunan yang terdiri dari jongkok asu sebagai pondasi tiang, tapasujan sebagai perkerasan tepi bebaturan. Bebaturan merupakan lantai bangunan, undag atau tangga sebagai lintasan naik turun lantai kehalaman. Satuan modul adalah a musti setinggi genggaman tangan sampai keujung ibu jari ditegakkan + 15 cm . Sloka kelipatan adalah watu untuk bebaturan perumahan, kelipatan rubuh dihindari. Sloka kelipatan adalah candi watu segara gunung rubuh, dihitung dari bawah. Bahan bangunan yang digunakan, jongkok asu sebagai pondasi alas tiang disusun dari pasangan batu alam atau batu buatan perekat pasir semen. Pasangan bidang tegak tepi lantai bebaturan pasangan batu cetak, batu bata atau batu alam, kini lantai menggunakan bahan-bahan produk industri . b. Tembok. Tembok dan pilar-pilarnya dibangun dengan pola kepala badan kaki, dihias dengan pepalihan dan ornamen bagian-bagian tertentu. Tembok tradisional dibangun terlepas tanpa ikatan dengan konstruksi rangka bangun. Tembok tidak terpengaruh bila terjadi goncangan pada konstruksi rangka atau konstruksi rangka tidak terpengaruh bila konstruksi tembok roboh. Bahan bangunan yang digunakan, dari pasangan batu bata, batu padas jenis-jenis batu alam yang sesuai bahan tembok . c. Tiang (Sesaka). Tiang yang disebut Sesaka adalah elemen utama dalam bangunan tradisioanl, Penampang tiang bujur sangkar dengan sisi-sisi sekitar 11,5 cm panjang tiang sekitar 250 cm. Bahan yang dipakai untuk tiang adalah kayu dengan kelas-kelas kwalitas dari kelompok kelempok tertentu yang diidentikkan dengan personal kerajaan. Kayu untuk bahan bangunan perumahan ditentukan raja kayu ketewel (kayu nangka), patih kayu jati. Penempatannya pada bagian konstruksi disesuaikan dengan kehormatan kedudukan perangkat kerajaan. d. Lambang/Pementang, Lambang adalah balok belandar sekeliling rangkaian tiang , lambang rangkap yang disatukan, balok rangkaian yang dibawah disebut lambang yang diatas disebut sineb. Rusuk-rusuk bangunan tradisional disebut iga-iga, pangkal iga-iga dirangkai dengan kolong atau dedalas yang merupakan bingkai luar bagian atap. Ujung atasnya menyatu dengan puncak atap yang disebut dedeleg. Untuk mendapatkan bidang atap, lengkung, kemiringan dibagian bawah lebih kecil dari bagian atas. dibuat rusuk bersambung yang disebut gerantang. Konstruksi atap dengan sistim kampiyah difungsikan untuk sirkulasi udara selain udara yang melalui celah antara atap dan kepala tembok. Penutup atap menggunakan alang-alang atau atap genteng. Hiasan-hiasannya berpedoman pada aturan tata hiasan yang umum berlaku untuk masing-masing elemen. Keseluruhan konstruksi rangka bangunan membentuk suatu kesatuan stabilitas struktur yang estetis fungsional. Hubungan elemen-elemen konstruksi dikerjakan dengan sistim pasak, baji.
Posted by Yan bawa at 19:12 No comments: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Sunday, 3 November 2013

Bangunan Tempat Menyimpan
Bangunan-bangunan tempat penyimpanan dalam keluarga, kesatuan-kesatuan sosial, dadia, banjar dan desa memiliki benda-benda bersama yang perlu disimpan. Yang terbanyak memerlukan tempat penyimpanan adalah padi sebagai bahan makanan dan sebagai bibit tanaman. Untuk bangunan tempat penyimpanan padi disebut lumbung dengan type-type : Kelumpu, Kelingking, Jineng dan Gelebeg masing- masing dengan daya tampung tertentu. Adanya keperluan untuk menyimpan padi pada masing-masing tingkat kehidupan, ada bangunan-bangunan lumbung keluarga, lumbung dadia, lumbung banjar, lumbung desa dan lumbung-lumbung sosial organisasi tertentu. Yang terbanyak adalah lumbung keluarga yang ada hampir pada setiap perumahan. Bangunan-bangunan tempat menyimpan lainnya adalah Gedong simpan dalam berbagai bentuk dan fungsinya yang digunakan untuk menyimpan sarana, perlengkapan dan peralatan upacara ritual. Di bale banjar ada pula bangunan bale gong untuk menyimpan tempat gamelan gong. Dipantai wilayah kerja nelayan ada bangunan-bangunan tempat menyimpan perlengkapan dan peralatan nelayan yang disebut bangsal, sesuai type konstruksi bangunannya. Ada bangsal jukung untuk menyimpan jukung, ada bangsal bidak untuk menyimpan bidak atau layar jukung atau layar perahu layar.

Ada pula bangsal atau bada/kandang untuk menyimpan ternak, bangsal atau badan penyu, badan sampi, badan celeng, badan bebek untuk tempat mengandangkan masing-masing ternak dirumah, dekat atau luar rumah.

Posted by Yan bawa at 01:14 No comments: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Saturday, 2 November 2013

Tempat Ibadah (Pura)

Tempat ibadah atau tempat pemujaan adalah bagunan-bangunan suci yang di bangun di tempat suci atau tempat-tempat yang disucikan, untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dan dewadewa sebagai manifestasi dari Tuhan. Dalam berbagai bentuk dan fungsi pemujaanya, tempat ibadah disebut Pura. Pura dalam berbagai bentuk dan fungsi pemujaannya terdiri dari beberapa bangunan yang di tata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga zone. Zone utama disebut jeroan tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan. Zone tengah disebut jaba tengah tempat persiapan dan pengiring upacara. Zone depan disebut juga jaba sisi tempat peralihan dari luar ke dalam pura . Dalam bentuk sederhana hanya ada jeroan atau jeroan dan jabaan. Pura yang besar ada pula yang dibagi menjadi beberapa zone.

Bangunan Pura umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju kearah ketimur demikian pula pemujaan dan persembahnyannya menghadap ke timur kearah terbitnya matahari. Komposisi massamassa bangunan Pura berjajar utara-selatan atau kaja kelod di sisi timur, menghadap ke barat dan sebagian di sisi kaja menghadap kelod. Bale pawedan dan bale piyasan di sisi barat menghadap ketimur halaman pura di tengah. Pekarangan Pura dibatasi tembok batas (penyengker) pekarangan. Pintu masuk di depan atau dijabaan memakai candi bentar dan pintu masuk ke Jeroan memakai Kori Agung ada berbagai macam bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Pura sebagai tempat pemujaan melaksanakan ibadah agama ada dari keluarga terkecil sampai lingkungan wilayah terbesar. Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai manifestasinya ada beberapa macam pura. Pura untuk pemujaan keluarga, Pura unntuk pemujaan Desa, Pura untuk pemujaan profesi dan Pura untuk pemujaan ummat dari seluruh wilayah.

Posted by Yan bawa at 23:44 No comments: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

Bangunan Tempat Musyawarah
Masyarakat Bali dalam kehidupannya diatur dalam ikata-ikata keluarga, ikatan banjar dan ikatan desa yang terbentuk dalam desa adat dan desa dinas atau desa administratif. Masing-masing ikatan dalam menata kehidupannya

dibutuhkan musyawarah sehingga dibutuhkan suatu tempat untuk bermusyawarah sesuai dengan ruang yang dibutuhkan. Bangunan tempat musyawarah adalah bangunan-bangunan terbuka dengan bentangan ruang-ruang yang cukup luas sesuai dengan jumlah pemakainya. Pelataran ruang dalam mudah dihubungkan dengan ruang-ruang lain dan ruangruang luar. Bangunan juga mudah dialih fungsikan sehubungan dengan fungsi-fungsinya yang serbaguna. Nama bangunan tempat musyawarah : 1. Bale Banjar . Bangunan balai banjar berfunngsi utama untuk tempat musyawarah. Kegiatankegiatan adat agama dan bentuk-bentuk sosial lainnya juga dilakukan di balai banjar bila melibatkan sebagian ataun seluruh anggota banjar. 2. Bale Pemaksan. Kesatuan keluarga besar yang terbentuk dalam ikatan Sanggah atau Pemerajan Kawitan. Dadia atau Paibon membentuk ikatan keluarga yang disebut pemaksan. Tempat pemaksan melakukan pertemuan-pertemuan atau musyawarah di Bali bale pemaksan menempati tempat di jaba sisi. Musyawah di bale pemaksan diadakan menjelang upacara odalan atau pujawali di sanggah atau pemerajan untuk memusyawarahkan pelaksanaan upacara. 3. Wantilan. Bangunan wantilan merupakan perkembangan dari ruang-ruang yang luas. Bangunan wantilan dibangun dengan konstruksi utama empat tiang utama, dua belas tiang jajar sekeliling sisi atau lebih. Atap wantilan umumnya bertingkat yang disebut metumpang. Bangunan terbuka ke empat sisi, lantai datar atau berterap rendah di tengah. 4. Bale Sumanggen. Didalam pekarangan pura, perumahan atau banjar diperlukan bangunan serbaguna yang disebut bale sumanggen. Berbagai aktifitas musyawah, persiapan upacara, pelaksanaan upacara dan kegiatan-kegiatan adat lainnya dapat dilakukan dibale sumanggen. Untuk fungsinya yang serbaguna bale sumanggen terbuka pada keempat sisinya.

Posted by Yan bawa at 18:25 No comments: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Saturday, 26 October 2013

Bale Delod

Dalam komposisi bangunan rumah saka kutus ini menempati letak bagian kelod yang juga disebut Bale delod, dalam proses pembangunan bale delod letaknya dari bale meten diukur dengan menggunakan tapak kaki dengan pengurip angandang tergantung dari kecenderungan penghuni rumah. Bale delod difungsikan sebagai sumanggem, bangunan untuk upacara adat, tamu dan tempat bekerja atau serbaguna.

Bentuk bangunan segi empat panjang, dengan ukuran 355 m x 570 m, dengan tinggi lantai sekitar 0,8 m dengan tiga anak tangga kearah natah. Konstruksi terdiri delapan tiang tiga deret di depan dan ditengah dua deret dibelakang, dengan satu balai balai mengikat empat tiang hubungan balai balai dengan konstruksi perangkai sunduk waton dan empat tiang lainnya berdiri dengan senggawang sebagai stabilitas. Bangunan dengan dinding penuh pada luan sisi kangin dan sisi kelod dan terbuka kearah natah, konstruksi atap limas. Bagian bagian bangunan : a. Bebaturan. Bagian bawah atau kaki bangunan yang terdiri dari jongkok asu sebagai pondasi tiang, tapasujan sebagai perkerasan tepi bebaturan. Bebaturan merupakan lantai bangunan, undag atau tangga sebagai lintasan naik

turun lantai kehalaman. Satuan modul adalah a musti setinggi genggaman tangan sampai keujung ibu jari ditegakkan + 15 cm . Sloka kelipatan adalah watu untuk bebaturan perumahan, kelipatan rubuh dihindari. Sloka kelipatan adalah candi watu segara gunung rubuh, dihitung dari bawah. Bahan bangunan yang digunakan, jongkok asu sebagai pondasi alas tiang disusun dari pasangan batu alam atau batu buatan perekat pasir semen. Pasangan bidang tegak tepi lantai bebaturan pasangan batu cetak, batu bata atau batu alam, lantai menggunakan bahan-bahan produk industri . b. Tembok. Tembok dan pilar-pilarnya dibangun dengan pola kepala badan kaki, dihias dengan pepalihan dan ornamen bagian-bagian tertentu. Tembok tradisional dibangun terlepas tanpa ikatan dengan konstruksi rangka bangun. Tembok tidak terpengaruh bila terjadi goncangan pada konstruksi rangka atau konstruksi rangka tidak terpengaruh bila konstruksi tembok roboh. Bahan bangunan yang digunakan, dari pasangan batu bata, batu padas jenis-jenis batu alam yang sesuai bahan tembok . c. Tiang (Sesaka). Tiang yang disebut Sesaka adalah elemen utama dalam bangunan tradisioanl, Penampang tiang bujur sangkar dengan sisi-sisi sekitar 10 cm panjang tiang sekitar 250 cm. Bahan yang dipakai untuk tiang adalah kayu dengan kelas-kelas kwalitas dari kelompok kelempok tertentu yang diidentikkan dengan personal kerajaan. Kayu untuk bahan bangunan perumahan ditentukan raja kayu ketewel (kayu nangka), patih kayu jati. Penempatannya pada bagian konstruksi disesuaikan dengan kehormatan kedudukan perangkat kerajaan , di puncak konstruksi dibagian tengah dan dibawah. Bentuk hiasan tiang dari yang paling sederhana kayu dolken , sampai tiang berhiaskan ornamen berukir. d. Lambang/Pementang, Lambang adalah balok belandar sekeliling rangkaian tiang , lambang rangkap yang disatukan, balok rangkaian yang dibawah disebut lambang yang diatas disebut sineb. Balok tarik yang membentang ditengah-tengah mengikat jajaran tiang tengah di sebut pementang. Balok yang mengikat pementang berakhir di atas tiang tengah di sebut tada paksi. Rusuk-rusuk bangunan tradisional disebut iga-iga, pangkal iga-iga dirangkai dengan kolong atau dedalas yang merupakan bingkai luar bagian atap. Ujung atasnya menyatu dengan puncak atap yang disebut dedeleg. Rusuk-rusuk yang menempati sudut sudut atap dari tiang-taiang sudut kepuncak disebut pemucu. Rusuk-rusuk yang menempati dipertengahan bidang atap kepuncak disebut pemade. Untuk mendapatkan bidang atap, lengkung, kemiringan dibagian bawah lebih kecil dari bagian atas. dibuat rusuk bersambung yang disebut gerantang. Raab adalah penutup atap bahan yang dipakai genteng pres. Hiasan-hiasannya berpedoman pada aturan tata hiasan yang umum berlaku untuk masing-masing elemen. Keseluruhan konstruksi rangka bangunan membentuk suatu kesatuan stabilitas struktur yang estetis fungsional. Hubungan elemen-elemen konstruksi dikerjakan dengan sistim pasak, baji dengan perkembangan arsitektur tradisional dibutuhkan menggunakan paku untuk penguat konstruksi.
Posted by Yan bawa at 20:46 1 comment: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Friday, 13 September 2013

Type Bangunan Rumah Tradisional Bali
Bangunan perumahan tradisional bali mempunyai beberapa type dari yang terkecil saka pat bangunan bertiang empat. Membesar bertiang enam, bertiang delapan, bertiang sembilan dan bertiang dua belas. Bangunan bertiang dua belas dikembangkan lagi dengan emper kedepan atau kesamping dengan tiang sejajar. Type bangunan Tradisional Bali: 1. Sakepat bangunan bertiang empat. Bangunan sakapat tergolong bangunan sederhana ukuran sekitar 3 m x 2,5 m. Konstruksi bertiang empat denah segi empat, satu balai balai mengikat tiang atau tanpa balai-balai. Atap dengan konstruksi pelana atau limasan. 2. Sakenem. Bangunan sakenem tergolong sederhana berbentuk segi empat panjang, dengan panjang sekitar tiga kalilebar .Ukuran bangunan sekitar 6 m x 2m, mendekati dua kali ukuran sakepat, Konstruksi bangunan terdiri enam tiang berjajar, tiga tiga pada kedua sisi panjang. Keenam tiang disatukan oleh satu balai-balai atau empat tiang pada satu balai- balai dan dua tiang di teben pada satu balai - balai dengan dua sakapandak. Hubungan balai-balai dengan konstruksi perangkai sunduk waton,likah dan galar. Konstruksi atap dengan pelana atau limasan 3. Sakutus. Bangunan tergolong madia bentuk bangunan segi empat panjang, dengan ukuran 5 m x 2,5 m. Konstruksi terdiri dari delapan tiang yang dirangkai empat empat menjadi dua balai-balai. Masingmasing balai memanjang kaja kelod dengan kepala kearah luan kaja. Tiang tiang dirangkaikan dengan sunduk waton/selimar, likah dan galar. Stabilitas konstruksi dengan sistem lait pada pepurus sunduk dengan lubang tiang, senggawang tidak ada pada bangunan sakutus. Sistem konstruksi atap dengan pelana. 4. Tiangsanga. Tergolong bangunan utama bentuk bangunan segi empat panjang, dengan ukuran sekitar 4 m x 5 m tiangnya sembilan. Konstruksi bangunan dengan satu balai - balai mengikat empat tiang di teben tiangnya tiga dengan senggawang sebagai stabilitas. Letak tiang masing-masing pada keempat sudut,tengah-tengah keempat sisi dan ditengan dengan kencut sebagai kepala tiang , Konstruksi atap atap dengan limasan dengan puncak dedeleg, penutup atap alang-alang atau genteng,

5. Sakaroras. Bangunan tergolong utama bentuk bangunan denah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 5 m x 5 m, Jumlah tiang dua belas buah, empat empat tiga deret dari luan keteben. Letak tiang empat buah masing-masing sebuah di sudut-sudut, empat buah masing-masing dua buah di sisi luan dan teben. Dua buah masing-masing di sisi samping dan dua buah di tengah dengan kencut sebagai kepala tiang. Dua balai-balai masing-masing mengikat empat-empat tiang dengan sunduk, waton/selimar dan likah sebagai stabilitas ikatan. Empat tiang sederet diteben dengan senggawang sebagai stabilitas tiang. Bangunan tertutup dua sisi terbuka kearah natah, Konstruksi atap atap dengan limasan dengan puncak dedeleg, penutup atap alang-alang atau genteng
Posted by Yan bawa at 08:20 No comments: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Location: North America
Friday, 6 September 2013

Rumah Tempat Tinggal
Di Bali Penyebutan Rumah tinggal ditentukan oleh fungsi kasta yang menempati rumah tersebut, Penyebutan rumah tinggal sesuai dengan tingkat kasta yang menempati yaitu Puri, Geria, Jero dan Umah. 1. Geria. Rumah tempat tinggal untuk kasta Brahmana, Sesuai dengan peranan Brahmana selaku pengemban bidang spiritual, maka bentuk dan pola ruang Geria sebagai rumah tempat tinggal Brahmana disesuaikan dengan keperluan - keperluan aktifitasnya. 2. Puri. Rumah tempat tinggal untuk kasta Kesatria yang memegang pemerintahan, yang umumnya menempati bagian kaja kangin di sudut perempatan agung di pusat desa. Bangunan - bangunan Puri sebagian besar mengambil type utama, Umumnya Puri dibangun dengan tata zoning yang berpola "Sanga Mandala" semacam Widegrid/papan catur berpetak sembilan. 3. Jero. Rumah tempat tingal untuk kasta Kesatria yang tidak memegang pemerintahan secara langsung, Bangunanbangunananya lebih sederhana dari pada Puri, sesuai fungsinya pola ruangjero dirancang dengan Triangga : Pemerajan sebagai parhyangan, Jeroan sebagai area rumah tempat tinggal dan jabaan sebagai area pelayanan umum atau halaman depan. 4. U m a h . Rumah tempat tinggal dari kasta Wesia atau mereka yang bukan dari kasta brahmana atau kesatria disebut umah. Unit - unit umah dalam perumahan berorientasi ke natah sebagai halaman pusat aktifitas rumah tangga. Komposisi masa - masa bangunan umah tempat tinggal menempati bagian - bagian utara, selatan, timur, barat membentuk halaman natah ditengah. Orientasi masa-masa bangunan kenatah ditengah. Dari kori pintu masuk pekarangan menuju natah barulah menuju ke bangunan yang akan dimasuki, demikian pula srirkulasi balik ke luar rumah. Sesuai dengan status sosial dari penghuninya yang sebagian besar adalah petani, maka rumah tempat yang disebut umah umunya berada dalam tingkatan madia, yang keadaan pertaniannya kurang menguntungkan umahnyapun berada dalam keadaan sederhana. Beberapa petani yang status sosialnya cukup tinggi umah tempat tinggalnya dapat dibangun dengan umah utama.Umah sebagai tempat tinggal sebagian penduduk umunya dalam keadaan madia, sebagian ada yang sederhana dan ada pula beberapa yang utama sesuai dengan keadaan penghuninya. 5. Kubu atau Pekubon. Rumah tempat tinggal di luar pusat permukiman, di ladang, di perkebunan atau tempattempat kehidupan lainya.Lokasi kubu tersebut tanpa dipolakan sebagai suatu lingkungan pemukiman, menempati unit-unit perkebunan, atau ladang - ladang yang berjauhan tanpa penyediaan sarana utilitas. Ada beberapa type rumah tradisionil bali yang merupakan susunan masa-masa bangunan di dalam suatu pekarangan yang dikelilingi tembok penyengker, batas pekarangan dengan kori pintu masuk kepekarangan. Masingmasing ruangan dapur tempat kerja, lumbung dan tempat tidur dibawah satu atap merupakan satu masa bangunan.

SEJARAH ARSITEKTUR DI INDONESIA
Posted on November 29, 2012 by ipin93

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam. Arsitektur Klasik Indonesia Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani. Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat. Arsitektur vernakular di Indonesia Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.

Arsitektur tradisional di Indonesia
Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya. Pengaruh Islam dalam Arsitektur Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam. Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak

berarti bahwa “Zaman Klasik” di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman “biadab” dan juga bukanlah awal dari “Abad Kegelapan”. Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. “New Era” selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi „gagal‟nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar -benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).

Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang
Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis. Gaya Belanda dan Hindia Belanda Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan. Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa, namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur tropis baru mereka dengan menerapkan bentukbentuk tradisional ke dalam cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi.

Gereja Blenduk dan Lawang Sewu bangunan, contoh dari arsitektur Belanda
Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang sangat panjang 1602 – 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan, dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia. Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di Indonesia. Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002). Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari

Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture. Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman, dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas. Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim setempat, rumahrumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa. Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai lagi. Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek. Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai “Indisch-Tropisch” yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi Belanda Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara. Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam. Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam artikel: “Semarangse kantoorgebouwen” atau Dua Office Building di Semarang Jawa Tengah: 1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu, jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom. Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5 m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap, ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela) 2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung. Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933)

Villa Isolla, salah satu karya arsitektur Belanda di Indonesia
Arsitektur Kontemporer Indonesia Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.

Rumah-rumah kontemporer di Indonesia
Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk atap joglo untuk bangunan modern. Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat, rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja, 1978) Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme, Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; “Kotak-kotak adalah Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern” (Atmadi, 1997). Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan hidup. Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat: „Purism‟, di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam. Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip tropis „nusantara‟ arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang lebih „Barat‟ dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal.