KEPANITERAAN KLINIK SENIOR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD HUSEIN (07101001280)

Dokter Pembimbing :

dr. JONES Sp.An dr.SABAR Sp.An

RSUD Dr. DJASAMEN SARAGIH PEMATANG SIANTAR

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, anugerah dan kasih setia-Nya yang membantu penyusun sehingga paper “PERSIAPAN PRE ANESTESI” dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Paper ini dibuat untuk memenuhi persyaratan melaksanakan kepaniteraan klinik senior di SMF. Ilmu Anestesi RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar. Dalam penyusunannya diusahakan bahan rujukan selain diambil dari buku ilmu anestesi juga diambil dari Internet guna mendapatkan informasi yang lebih luas. Namun penyusun juga menyadari sepenuhnya paper ini masuh memerlukan pembenahan mengingat kapasitas penyusun yang masih harus terus belajar dan membenah diri untuk lebih baik lagi, karena itu penyusun dengan senang hati menerima segala bentuk kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan paper ini di masa yang akan datang. Penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada pembimbing dr. Sabar S Napitu, Sp.An dan dr. Jones Sp.An atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior serta dalam penyusunan paper ini. Akhirnya semoga paper ini dapat menambah kasanah ilmu pengetahuan kita dalam bidang anestesi sehingga dapat digunakan nantinya di masyarakat, Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati segala usaha kita.

Pematangsiantar, September 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................... a. Latar Belakang ................................................................ b. Manfaat ........................................................................... c. Tujuan .............................................................................. BAB II TINJAUAN TEORITIS .................................................... a. Definisi ...........................................................................
BAB III PERSIAPAN PRE ANESTESIA. .....................................................

i ii 1 1 1

2 2
10

BAB IV KESIMPULAN ............................................................... DAFTAR PUSTAKA ....................................................................

12 13

I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pemeriksaan rutin pre anestesi, baik atas dasar indikasi sesuai gambaran klinis pasien ataupun tidak, telah menjadi bagian praktek klinik selama bertahun-tahun. Tujuan pemeriksaan tersebut adalah melakukan identifikasi kondisi yang tidak terduga yang mungkin memerlukan terapi sebelum operasi atau perubahan dalam penatalaksanaan operasi atau anestesia perioperatif; menilai penyakit yang sudah diketahui sebelumnya, kelainan, terapi medis atau alternatif yang dapat mempengaruhi anestesia perioperatif; memperkirakan komplikasi pascabedah; sebagai dasar pertimbangan untuk referensi berikutnya; pemeriksaan skrining. Kepustakaan terakhir tidak merekomendasikan secara adekuat tentang penilaian keuntungan ataupun bahaya klinis pemeriksaan rutin prabedah. Pada saat ditemukan hasil abnormal atau positif, persentase pasien yang mengalami perubahan pada penatalaksanaannya bervariasi. Terminasi kata “rutin” tidak jelas dan memerlukan klarifikasi. Satu pengertian pemeriksaan rutin adalah semua pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan peraturan yang ada, peraturan tersebut tidak pernah diubah oleh para klinisi. Dalam pengkajian tentang pemeriksan rutin prabedah oleh unit HTA Inggris, pengertian rutin adalah pemeriksaan yang ditujukan bagi individu yang sehat, asimptomatik, tanpa adanya indikasi klinis spesifik, untuk mengetahui kondisi yang tidak terdeteksi dengan riwayat klinis dan pemeriksaan fisik. Berdasarkan pengertian tersebut, jika seorang pasien ditemukan memiliki gambaran klinis spesifik dengan pertimbangan bahwa pemeriksaan mungkin bermanfaat, maka didefinisikan bahwa pemeriksaan tersebut atas dasar indikasi bukan pemeriksaan rutin. Di lain pihak telah disepakati oleh para konsultan dan anggota American Society of Anesthesiologists (ASA) bahwa pemeriksaan pre anestesi sebaiknya tidak dilakukan secara rutin. Pemeriksaan prabedah dapat dilakukan secara selektif untuk optimalisasi pelaksanaan perioperatif. Indikasi dilakukannya pemeriksaan harus berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari rekam medik, anamnesis, pemeriksaan fisik, tipe dan tingkat invasif operasi yang direncanakan dan harus dicatat.2 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanpa adanya indikasi klinis, kemungkinan menemukan hasil abnormal yang bermakna pada pemeriksaan laboratorium, elektrokardiografi dan foto toraks kecil. Hasil abnormal yang tidak diharapkan tidak mempengaruhi prosedur operasi. Adapun cara untuk menilai kesulitan pada saat melakukan Intubasi yaitu dengan melihat penampakan Faring posterior pada tes Mallampati.

B. MANFAAT Dari riwayat klinis dan pemeriksaan fisik dapat ditentukan pasien sehat yang tepat untuk menjalani operasi, dan memilih pemeriksaan prabedah yang diperlukan. Alasan mengapa para dokter dan perawat tetap melakukan pemeriksaan pra anestesi tanpa dipilih dengan baik adalah mereka percaya bahwa riwayat klinis dan pemeriksaan fisik tidak sensitif dan mungkin pemeriksaan rutin pra anestesi dapat melindungi mereka dari isu medikolegal. Setiap pemeriksaan pra anestesi harus dilakukan dengan alasan tepat sehingga membawa keuntungan bagi pasien dan menghindari efek samping potensial. Keuntungan yang didapat termasuk waktu pelaksanaan anestesia atau pemakaian sumber yang dapat meningkatkan keamanan dan efektivitas proses anestesia selama dan sesudah operasi. Efek samping potensial yang dapat terjadi termasuk intervensi yang dapat menyebabkan luka, ketidaknya-manan, keterlambatan atau biaya pengeluaran yang tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

C. TUJUAN Tujuan dilakukannya pemeriksaan pre anestesi adalah untuk menilai status kesehatan pasien dan segala penyulit sebelum dilakukannya tindakan anestesi agar perawat / dokter anestesi dapat mempersiapkan semua kebutuhan untuk tindakan tersebut. 1. Mahasiswa dapat menilai status kesehatan fisik pasien pre anestesi menurut American Society of Anesthesiologists (ASA). 2. Mahasiswa dapat mengetahui penyulit saat dilakukannya tindakan anestesi umum (intubasi) dengan Skor Mallampati.

II TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi a. Penilaian Status Fisik Menurut ASA Skala yang paling luas adalah digunakan untuk memperkirakan resiko yaitu klasifikasi status fisik menurut ASA. Tujuannya adalah suatu sistem untuk menilai kesehatan pasien sebelum operasi. Pada tahun 1963 American Society of Anesthesiologists (ASA) mengadopsi sistem klasifikasi status lima kategori fisik; sebuah kategori keenam kemudian ditambahkan.

Kelas ASA I akan dioperasi.

Status Fisik Seorang pasien yang normal dan sehat, selain penyakit yang

Seorang pasien dengan penyakit sistemik ringan sampai ASA II sedang. Seorang pasien dengan penyakit sistemik berat yang belum ASA III mengancam jiwa. Seorang pasien dengan penyakit sistemik berat yang ASA IV mengancam jiwa. Penderita sekarat yang mungkin tidak bertahan dalam waktu 24 jam dengan atau tanpa pembedahan, kategori ini ASA V meliputi penderita yang sebelumnya sehat, disertai dengan perdarahan yang tidak terkontrol, begitu juga penderita usia lanjut dengan penyakit terminal.

b. Penilaian Tampakan Faring dengan Skor Mallampati

   

Dalam anestesi, skor Mallampati, juga Mallampati klasifikasi, digunakan untuk memprediksi kemudahan intubasi. Hal ini ditentukan dengan melihat anatomi rongga mulut, khusus, itu didasarkan pada visibilitas dasar uvula, pilar faucial. Klasifikasi tampakan faring pada saat mulut terbuka maksimal dan lidah dijulurkan maksimal menurut Mallampati dibagi menjadi 4 grade : Grade I : Pilar faring, uvula, dan palatum mole terlihat jelas Grade II : Uvula dan palatum mole terlihat sedangkan pilar faring tidak terlihat Grade III : Hanya palatum mole yang terlihat Grade IV : Pilar faring, uvula, dan palatum mole tidak terlihat

III

PERSIAPAN PRE ANESTESIA
Semua pasien yang dijadwalkan akan menjalani tindakan pembedahan harus dilakukan persiapan dan pengeloaan perioperasi dengan optimal. Kunjungan preanestesi pada tindakan bedah elektif dilakukan 1 – 2 hari sebelumnya dan pada bedah darurat dilakukan dalam waktuyang sesingkat mungkin. Kunjungan ini bertujuan untuk mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik dan obat-obatan anestesi yang sesuai untuk digunakan serta menentukan klasifikasi yang sesuai menurut ASA. Kesalahanyang terjadi akibat tindakan ini tidak dilakukan akan meningkatkan resiko pasien terhadap morbiditas dan mortalitas perioperasi.Tujuan yang ingin dicapai dengan dilakukannya pengelolaan preoperasi termasuk didalamnya adalah sebagai berikut : • • Mengkonfirmasikan bahwa tindakan bedah yang akan dilakukan terhadap penderita akan memberikan hasil yang optimal dengan segala resikonya. Dapat mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin terjadi dan memastikan bahwa fasilitas dan tenaga yang ada cukup terlatih untuk melakukan perawatan perioperasi yang memuaskan. Memastikan bahwa penderita dipersiapkan dengan tepat untuk pembedahan dengan mempertimbangkan faktor-faktor penyulit yang mungkin ada yang dapat meningkatkan resiko buruk dari hasil tindakan. Mendapatkan informasi yang tepat tentang merencanakan teknik anestesi yang tepat. keadaan pasien dan dapat

• •

Meresepkan atau melakukan premedikasi dan/atau obat-obatan profilaksis spesifik lainnya yang mungkin diperlukan. Persiapan sarana (alat dan obat)Persiapan ini meliputi persiapan obat-obat anestesia, obat pendukung anestesia dan obat resusitasi. Adapun peralatan yang disiapkan adalah : o o o mesin anestesi laryngoscope Endo Tracheal Tube (inutbasi oral dewasa no.7,8,intubasi nasal dewasa 5 s/d6,5).kinking bisa tertekuk,non kinking sulit tertekuk. Dipakai jika ETT yangsudah terpasang memerlukan mobilisasi. Digunakan pada operasi posisi sulit Spuit/syringe pump untuk mengisi balon udara Mandrain untuk mempertahankan bentuk ETT Forceps McGill untuk menjepit dan memimpin ujun ETT masuk ke trachea pada intubasi nasal, untuk mengambil benda asing Bag Valve untuk membantu memasukkan O2 ke paru2 melalui jalan nafas Stetoscope untuk memastikan ketepatan letak ETT Oral & nasal airway untuk menahan lidah jatuh ke belakang , membuka dan mempertahankan jalan nafas Plester untuk fiksasi Gel pelumas ETT

o o o o o o o o

o

o

Laryngeal Mask untuk membuka dan mempertahankan jalan nafas,hanya sampai di depan lubang trakea, sungkupnya menutupi daerah laring sehingga membantu mencegah aspirasi dan keluarnya O2 yang dimasukkan, digunakan apabila intubasi sulit/tidak berhasil dilakukan. Alat-alat penunjang :  alat pengisap (suction)  sandaran infus  sandaran tangan  bantal  tali pengikat tangan

SARANA OBAT, meliputi : • obat anestesi :    •obat resusitasi •obat penunjang anestesi :     obat premedikasi obat induksi obat anestesi volatil / abar

pelumpuh otot anti dot hemostatika obat lain sesuai dengan jenis operasi.

PERSIAPAN PASIEN Persiapan pasien dapat dilakukan mulai di ruang perawatan (bangsal), dari rumah pasien ataupun dari ruang penerimaan pasien di kamar operasi. Bergantung dengan berat ringannya tindakan pembedahan yang akan dijalankan serta kondisi pasien.Pasien dengan operasi elektif sebaiknya telah diperiksa dan dipersiapkan oleh petugas anestesi pada H-2 hari pelaksanaan pembedahan. Sedangkan pasien operasi darurat, persiapannya lebih singkat lagi. Mungkin beberapa jam sebelum dilaksanakan pembedahan.Pasien dianamnesa tentang penyakit yang dia derita, penyakit penyerta, penyakit herediter, pengobatan yang sedang dia jalani, riwayat alergi, kebiasaan hidup (olahraga, merokok,minum alkohol dll). Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (laboratorium dan radiologi).

PERSIAPAN PEMBEDAHAN

Secara umum, persiapan pembedahan antara lain : o o o o o Pengosongan lambung : dengan cara puasa, memasang NGT. Pengosongan kandung kemih. Informed consent (Surat izin operasi dan anestesi). Pemeriksaan fisik ulang Pelepasan kosmetik, gigi palsu, lensa kontak dan asesori lainnya.

o

Premedikasi secara intramuskular ½ - 1 jam menjelang operasi atau secara intravena jika diberikan beberapa menit sebelum operasi.Lama puasa pada orang dewasa kira-kira 6-8 jam, anak-anak 4-6 jam, bayi 2 jam (stop ASI).Pada operasi darurat, pasien tidak puasa, maka dilakukan pemasangan NGT untuk dekompresi lambung.Persiapan operasi harus optimal dan sempurna walaupun waktu yang tersedia amat sempit.Keberhasilan anestesi sangat ditentukan oleh kunjungan pra anestesi.

KUNJUNGAN PRA ANESTESI Kunjungan (visite) pra anestesi bertujuan :         Mengetahui riwayat penyakit bedah dan penyakit penyerta, riwayat penyakit sekarang dan penyakit dahulu. Mengenal dan menjalin hubungan dengan pasien. Menyiapkan fisik dan mental pasien secara umum (optimalisasi keadaan umum). Merencanakan obat dan teknik anestesi yang sesuai. Merancang perawatan pasca anestesi. Memprediksi komplikasi yang mungkin terjadi. Memperhitungkan bahaya dan komplikasi. Menentukan status ASA pasien.

Secara umum, tujuan kunjungan pra anestesi adalah menekan mobiditas dan mortalitas. ANAMNESIS a. riwayat anestesi dan operasi sebelumnya b. riwayat penyakit sistemik (diabetes melitus, hipertensi, kardiovaskuler, TB, asma) c. pemakaian obat tertentu, seperti antidiabetik, antikoagulan, kortikosteroid,antihipertensi secara teratur. Dua obat terakhir harus diteruskan selama operasi dan anestesi, sedangkan obat yang lain harus dimodifikasi d. riwayat diet (kapan makan atau minum terakhir. jelaskan perlunya puasa sebelum operasi) e. kebiasaan-kebiasaan pasien (perokok berat, pemakai alkohol atau obat-obatan) f. Riwayat penyakit keluarga Dalam anamnesis, dilakukan :    Identisikasi pasien Riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, riwayat alergi. Riwayat anestesi dan pembedahan yang lalu.

Ketika pasien menyatakan alergi terhadap suatu obat/zat, maka petugas anestesi perlu mengkonfirmasi apakah kejadian tersebut betul-betul alergi ataukah hanya rasa tidak enak setelah penggunaan obat tersebut.Alergi perlu diwaspadai karena alergi dapat menimbulkan bahaya besar seperti syok anafilaktik dan edema angioneurotik. Narkotika dan psikotropika (terutama sedatif) saat ini sudah sering disalahgunakan oleh masyarakat awam. Hal ini perlu diwaspadai oleh petugas anestesi.

Oleh karena itu, dalam anamnesis, petugas harus mampu memperoleh keterangan yang jujur dari pasien.Pada pasien dengan operasi darurat, mungkin di Instalasi Gawat Darurat dia telah mendapatkan narkotika dan sedatif, namun petugas di IGD terlupa menuliskan di buku rekammedis pasien. Agar tidak terjadi pemberian yang tumpang tindih, sebaiknya petugas anestesi juga menanyakan hal tersebut kepada petugas IGD

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG Pemeriksaan Fisik berpatokan pada B6: 1. Breath meliputi keadaan jalan nafas, bentuk pipi dan dagu, mulut dan gigi, lidah dan tonsil. Apakah jalan nafas mudah tersumbat? Apakah intubasi akan sulit? Apakah gigi pasien ompong atau gigi palsu atau mempunyai rahang yang kecil yang akan menyulitkan laringoskopi? Dan lain lain. 2. Blood meliputi tekanan nadi, pengisian nadi, tekanan darah, perfusi perifer. Nilai syok atau perdarahan.Lakukan pemeriksaan jantung 3. Brain GCS meliputi adakah kelumpuhan saraf atau kelainan neurologist. Tandatanda TIK 4. Bladder meliputi produksi urin. pemeriksaan faal ginjal 5. B o w e l m e l i p u t i p e m b e s a r a n h e p a r . B i s i n g u s u s d a n p e r i s t a l t i k u s u s . c a i r a n b e b a s d a l a m p e r u t a t a u m a s s a abdominal? 6. Bone meliputi kaku kuduk atau patah tulang? Periksa bentuk leher dan tubuh. kelainan tulang belakang? Pemeriksaan Fisik pada prinsipnya dilakukan terhadap organ dan bagian tubuh seperti :  .Keadaan umum : berat badan, tinggi badan, tanda-tanda vital  Status gizi : obesitas, kaheksia  Status psikis  S i s t e m i k  K e pa la l eh er :  Mulut : bentuk lidah, derajat Mallampatiii.  Gigi geligi : gigi palsu, gigi goyah.  Mandibula : bentuk mandibula. .  Hidung : tes patensi lubang hidung, obstruksi.  Leher : bentuk leher (kesan : pendek / kaku), penyakit di leher (sikatrik, struma, tumor) yang akan menyulitkan intubasi.  Aksesori : lensa kontak.     Toraks (Jantung dan paru) : tanda-tanda penyakit pernapasan dan sirkulasi. Abdomen : sirosis, kembung Ekstremitas : melihat bentuk vena, tanda-tanda edema. Tulang belakang /vertebra : jika akan dilakukan anestesi subarakhonoid ataupun epidural. Apakah ada skoliosis, athrosis, infeksi kulit di punggung ?  S i s t e m p e r s a r a f a n . Abdomen yang kembung bisa disebabkan oleh udara atau cairan (sirosis). Kembung pada bayi akan berakibat fatal karena bayi akan kesulitan untuk bernapas. Sehingga perlu penatalaksanaan pra bedah terhadap bayi yang kembung.Jantung harus diperiksa secara teliti, apakah terdapat penyakit jantung ? Jika ada, apakahmasih dalam fase kompensasi atau dekompensasi ? Jantung yang dalam fase kompensasi,masih relatif aman untuk dianestesi.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang terdiri dari periksaan laboratorium dan radiologi. Pemeriksaan laboratorium terbagi menjadi pemeriksaan rutin dan khusus.Data laboratorium yang harus diketahui diantaranya : a. b. c. d. e. f. hemoglobin (minimal 8% untuk bedah elektif) leukosit hitung jenis golongan darah clotting time dan bleeding time Jika usia > 40 tahun, perlu diperiksa elektrolit (terutama natrium dan kalium), ureum,kreatinin. g. Urinalisis : tes reduksi, tes sedimen. Sedangkan pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan lainnya yang diperlukan diantaranya foto toraks, EKG pada pasien berusia > 40 tahun atau bila ada sangkaan penyakit jantung,Echokardiografi (wajib pada penderita jantung), dan tes faal paru (spirometri).Jika diperlukan, pasien dikonsulkan ke bagian lain (penyakit dalam, jantung, dll) untuk memperoleh gambaran kondisi pasien secara lebih spesifik. Konsultasi bukan untuk memintakesimpulan / keputusan apakah pasien ini boleh dianestesi atau tidak. Keputusan akhir tetap beradaa di tangan anestetis.Setelah kondisi pasien diketahui, anestetis kemudian dapat meramalkan prognosa pasien serta merencakan teknik dan obat anestesi yang akan digunakan.

IV KESIMPULAN DAN SARAN

Sebelum dilakukannya anestesi dalam setiap tindakan operasi sebaiknya dokter dan perawat anestesi melakukan evaluasi atau penilaian dan persiapan pra anestesi pada pasienpasien yang akan melakukan tindakan operasi. Selain itu perlu diperhatikan pertimbangan-pertimbangan anestesi seperti anamnesa pasien, mengetahui riwayat pasien sangatlah penting, yang termasuk riwayat adalah indikasi prosedur operasi, informasi mengenai anestesi sebelumnya, dan pengobatan saat ini.Pemeriksaan fisik pasien yang harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati tapi focus, perhatian ekstra ditujukan untuk evaluasi terhadap jalan napas, jantung, paru, dan pemeriksaan neurologi dan juga dilakukan evaluasi resiko perdarahan dan thrombosis serta evaluasi jalan nafas (mallampati). Pemeriksaan umum seperti tanda vital, kepala dan leher, precordium, paru-paru, abdomen, ektremitas, punggung dan neurologi. Pemeriksaan penunjang juga dilakukan jika ada indikasi tertentu yang didapatkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik. Setelah itu baru dilakukan pengklasifikasian status fisik pasien menggunakan ASA ( American Society of Anaesthesiologist) yang merupakan klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai status fisik pasien praanestesi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Protap pemasangan ETT (Endotrakeal tube) available from:http://www.scribd.com/doc/58779525/17/Pengertian-Intubasi/ 2. Refrat anestesiologi http://www.google.com/Refrat-anestesiologi.htm 3. Munro J, Booth A, Nicholl J. Routine preoperative testing: a systematic review of the evidence. Health Technol Assessment 1997;I(12). 4. American Society of Anesthesiologists. Practice advisory for preanesthesia evaluation. Anesthesiology 2002;96:485-96. 5. Stehling L. New concepts in transfusion therapy. International Anaestesia Research Society 1998. Review Course Lectures.h. 62-5. 6. www.google.com