BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Total Productive Maintenance (TPM)
Total Productive Maintenance (TPM) adalah gabungan dari penerapan
pemeliharaan di Amerika Serikat dengan pengendalian kualitas di J epang
yang melibatkan unsur tenaga kerja. Hasil dari pengembangan sistem tersebut
di perusahaan antara lain adanya peningkatan efektivitas, penurunan
kerusakan mesin dan kesadaran operator di dalam pemeliharaan mesin
maupun produk dari hari ke hari. Total Produktive Maintenance (TPM)
cenderung mengarah ke perawatan oleh produksi yang mengikutsertakan
seluruh karyawan dalam kelompok- kelompok kecil, jadi dapat didefinisikan
arti TPM adalah kegiatan productive maintenance yang melibatkan semua
komponan utama dan pendukung secara total, bulat dan terarah. Di era
sekarang ini, ketika robot mulai memproduksi robot dan jam kerja produksi
berlangsung selama 24 jam non-stop maka tidak mustahil bahwa sebuah
perusahaan akan menggunakan jasa robot secara total. Dalam pembahasan
mengenai kualitas , masyarakat cenderung mengatakan bahwa kualitas
tergantung darI proses kerja, namun dengan perkembangan sistem robot yang
27
serba otomatis akan lebih sesuai jika dikatakan bahwa kualitas sangat
tergantung dari peralatan yang di dalamnya mencakup biaya, produktivitas,
persediaan, dan output produksi.
Perlengkapan produksi menjadi sangat canggih, kita dapat lihat dari
perlengkapan untuk sistem robotik dan perlengkapan untuk proses kerja yang
membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi dan juga pada perlengkapan kerja
yang memerlukan kecepatan, tekanan, dan suhu yang tinggi hal- hal inilah
yang memacu perkembanagn teknologi sekarang ini.
Penerapan TPM dalam sebuah perusahaan haruslah dimulai dari management
puncak yang diturunkan hingga ke line produksi, tujaun utama dari TPM
adalah tidak adanya kerusakan / breakdown dan tidak adanya cacat/ defect.
Ketika kerusakan dan cacat dapat dihilangkan maka umur pakai peralatan
kerja dapat meningkat sehingga biaya dapat ditekan, persediaan dapat
diminimumkan dan sebagai konsekuensinya produktivitas pekerja meningkat.
Terdapat lima elemen yang mendasari pengertian dari TPM, antara lain:
1. TPM bertujuan untuk memaksimalkan efektivitas dari peralatan (kerja).
2. TPM dibangun melalui sistem PM (Productive Maintenance) untuk
keseluruhan jangka hidup dari peralatam.
3. Penerapan TPM di lingkup engineering, operasional dan maintenance.
4. TPM melibatkan setiap karyawan dari puncak management sampai ke
operator lantai produksi.
28
5. TPM didasari dari penerapan PM dan motivasi dari management malalui
aktivitas kelompok- kelompok kecil yang berkesinambungan.
Dan juga terdapat delapan pilar TPM yaitu :
1. Perawatan Terencana
2. Focus Improvement
3. Skill up Training
4. Perawatan Mandiri
5. Quality Management
6. Maintenance Prevention Design
7. Dokumen dan Stabilisasi
8. Environmental Safety
Dapat dijabarkan satu persatu sebagai berikut:
a. Perawatan Terencana, adalah aktivitas perawatan/ perbaikan yang:
Pelaksanaan maintanance dilakukan sesuai dengan jadwal yang
disepakati.
Mempersiapkan semua kebutuhan umtuk melaksanakan PM, meliputi
metode, tools, oil/ lubrication, parts dll.
Melibatkan operator dalam kegiatan maintenance dan memberi porsi
(kecil dan sederhana) yang realistis.
Laporan PM sebagai potret kondisi saat itu.


29
Berikut gambar diagram untuk perawatan terencana:









Gb 2.1 DiagramPerawatan Terencana

b. Focus Improvement, dapat dilihat pada diagram di bawah ini:









Gb 2.2.Diagram Focus Improvement
Master
Schedule
PM
Report PM
CM
Plan
CM
Report CM
Indikasi gangguan
Failure notice
Penjadwalan
Personal
Tools
Spare part
Arsip
Definisi Masalah
Menganalisa Data
Analisa
sebab- akibat
Rencana Perbaikan
Memeriksa Hasil
Implementasi
Standarisasi
O
E
E
30
c. Skill up Training, meliputi kegiatan- kegiatan :
Penjelasan umum seputar spesifikasi mesin.
Cara pengoperasian mesin dan komponen utama dalam bekerja.
Program pemeriksaan rutin oleh operator.
Program preventive maintenance dasar berikut jadwal.
Kondisi operasional mesin dalam keadaan normal.
Kemungkinan- kemungkinan failure yang terjadi pada mesin.
Memotivasi operator untuk menaruh perhatian pribadi terhadap
operasi normal mesin (bunyi, kecepatan, panas, indikator gauge dll)
d. Perawatan Rutin, meliputi kegiatan:
Persiapan pengalihan pekerjaan maintenance dari bagian Maintenance
kepada operator secara terencana.
Standart baku prosedur perawatan yang meliputi tempat/ bagian,
metode, alat dan periode/ waktu.
Melengkapi peralatan/ mesin dengan petunjukan visual kontrol dan
sarana penunjang.
Perangkat monitoring/ supervisi langsung.
e. Quality Maintenance, manata dan memelihara kondisi prima untuk
mencapai zero defect.



31









Gb 2.3.Diagram Quality Maintenance
f. Maintenance Prevention Design
Jenis analisa atau aktivitas yang menitikberatkan pada menemukan
kerusakna mesin/ cacat produk selama masa peninjauan design dan
penetapan spesifikasi dengan menggunakan teknik- teknik preventive
maintenance.
g. Dokumen dan Stabilisasi
Prosedur standart, form, catatan dan informasi dihimpun ke dalam
standart system control quality (ISO).
Manfaat yang bias diraih diantaranya:
i. Sejarah/ riwayat mesin yang berisikan data- data:
Aktivitas PM dan data inspeksi.
Tabulasi breakdown dan penggantian sparepart.
Quality Defect
Kepresisian alat
Kondisi proses
Metode/ personel
Standarisasi
Set Up
Training
ZERO
DEFFECT
32
Improvement dan modifikasi yang telah dilakukan.
ii. Penjadwalan penyediaan spare part.
iii. Biaya maintenance.
iv. Penjadwalan pemeriksaan rutin berkelanjutan.
v. Pertimbangan investasi.
h. Environmental Safety.
Membangun sistem pengawasan dan proteksi lingkungan yang terintegrasi
mengacu pada:
Pencegahan kecelakaan akibat kecerobohan pelaksana (manusia).
Isolasi dan eliminasi bahaya dari mesin/ proses.
Penerapan SMK3.

2.2 Output Produksi Dengan Sistem TPM
Sasaran utama dalam peningkatan aktivitas produksi adalah meningkatkan
produktivitas dengan cara meminimaliasasi input dan memaksimalkan output.
Tidak hanya mementingkan jumlah, namun output produksi haruslah melihat
kualitas itu sendiri termasuk di dalamnya adanya penekanan biaya dan
pengiriman yang tepat waktu. Input terdiri dari tenaga kerja, mesin dan
material sedangkan output terdiri dari produksi/ production (P), kualitas/
quality (Q), biaya/ cost (C), pengiriman/ delivery (D), keamanan/ safety (S),
moral (M). TPM berusaha untuk memaksimalkan output (PQCDSM) dengan
cara memelihara kondisi ideal pengoperasian dan menjalankan peralatan
33
secara efektif. Untuk dapat mencapai efektivitas terhadap keseluruhan
peralatan maka metode TPM berfungsi untuk mengeliminasi ”enam
kehilangan besar” yang menjadi hambatan utama tidak tercapainya efektivitas,
diantaranya :
Down time:
1. Kegagalan peralatan, karena kerusakan.
2. Setting dan pengaturan mesin, seperti penggantian dies pada mesin
injeksi moulding.
Speed losses:
3. Waktu kosong atau berhenti karena hal- hal sepele, dikarenakan mesin
tidak bekerja secara normal.
4. Pengurangan kecepatan mesin, karena adanya perbedaan antara
kemampuan mesin dengan spesifikasi mesin.
Defect:
5. Cacat produk, karena adanya part mesin yang rusak sehingga
menyebabkan kualitas produk kurang baik.
6. Hasil yang berkurang, berasal dari mesin yang baru mulai jalan
produksi sampai kondisi mesin mulai stabil.




34
2.3 Overall Equipment Effectiveness (OEE) di dalam TPM
TPM merupakan sistem manajemen dalam perawatan peralatan, mesin,
utility dengan sasaran tercapainya zero breakdown, zero defect dan zero
accident. Zero breakdown berarti peralatan tidak pernah rusak, zero defect
berarti tidak ada produk yang rusak saat dibuat, dan zero accident berarti tidak
adanya kecelakaan verja yang mengakibatkan luka pada manusia maupun
kerusakan alat/ mesin.
Di TPM ada parameter yaitu OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang
mencakup tiga faktor yaitu Quality (mutu produk), Availibility (ketersediaan/
lamanya mesin bisa dipakai), dan Performance (kinerja dari mesin dalam
menghasilkan produk). Dengan mengetahui nilai dari OEE maka akan banyak
manfaat yang bisa diperoleh, misalnya:
Menjadi dasar pertimbangan apakah sudah perlu membeli mesin baru
atau tidak
Menjadi patokan kecepatan mesin yang kita tuntut dari penjual mesin
Menghindari pembelian mesin yang tidak tepat sehingga mubazir
Saat mesin baru yang dibeli sedang commisioning, maka data OEE
bisa menjadi patokan apakah mesin itu sudah sesuai permintaan kita
Mengetahui apakah produktivitas di pabrik sudah optimal atau belum
Sebagai sarana untuk improvement
35
Berapa nilai/ patokan dari perusahaan kelas dunia ?, perusahaan berkelas
dunia menurut Nakajima seharusnya mempunyai angka OEE >85% yaitu
perkalian dari Availibility >90%, Performance >95% dan Quality >99%.
Di dalam mencari nilai OEE terdapat beberapa langkah matematis yang
harus dilalui diantaranya :
NO OBJECTIVE PENJELASAN
1 Running Time Waktu selama mesin mulai dinyalakan sampai proses selesai atau
wakturesmi dari perusahaandimana mesin boleh berhenti beroperasi.
2 Official Down Time Merupakan waktu ketika mesin belumberjalan untuk melakukan
proses produksi
3 Loading Time Merupakan hasil pengurangan running time dengan official down time.
Untuk memperbesar loading time, maka running time harus diperbesar dan
official down time harus diperkecil.
4 Time Losses Merupakan waktu yangterbuangketika mesinberhenti karena adanya suatu
sebab/masalah.
5 Operating Time Merupakan hasil pengurangan antaraLoading Time denganTotal Time Losses
6 Speed Machine
Kecepatanmesin produksi dilihat dari output yangdihasilkan dalamsatuan
menit
7 Standart Cycle Time Waktu siklus standart mesin, diperoleh dari pembagiannominal 1 dengannilai
8 Theoretical Yield
Output mesin produksi secara teori, didapat dari perkalian antara operating
time
dengan speed machine
9 Actual Yield Aktual output produksi yangdihasilkan, berdasarkan pengamatan
10 Availibility
Merupakan hasil bagi antaraoperating time dengan loading time dari mesin
tsb
11 Performance Efficiencies
Merupakan pembagian antara actual yield yang telah dikalikan dengan
standard
cycle time dengan operating time.
12 Rate of quality product Sebagai rata-rata kualitas produk yang dihasilkan.
Besarnya nilai persentase rate of quality product ini dipengaruhi oleh jumlah
produk yang terpakai dan jumlah produk yangdibuang/di-reject
13 Overall equipment Efektivitas mesin secara keseluruhan, didapat dari perkalian antara availibility,
effectiveness (OEE) performance efficiencies dan rate of quality product
Semakin besar nilai persentase overall equipment effectiveness menunjukan
bahwa mesin dalamkeadaanyang semakin baik dan siap untuk produksi

36
Tabel 2.1 Tabel OEE dalam TPM

2.4 Diagram Tulang Ikan (Fishbone diagram)
Peningkatan proses melibatkan pengambilan tindakan pada penyebab
variasi. Dengan kebanyakan aplikasi praktis, jumlah kemungkinan penyebab
untuk masalah tertentu dapat sangat besar. Dr.Kaoru Ishikawa
mengembangkan metode sederhana dari menyajikan penyebab secara grafik
masalah kualitas tertentu. Metodenya disebut dengan beberapa nama: diagram
Ishikawa, diagram tulang ikan (fishbone digram) dan diagram sebab akibat.
Diagram sebab dan akibat adalah alat yang digunakan untuk mengatur dan
menunjukkan secara grafik semua pengetahuan yang dimiliki sebuah
kelompok sehubungan dengan masalah tertentu. Langkah- langkahnya adalah:
1. Mengembangkan bagan aliran dari wilayah ynag akan diperbaiki.
2. Mendefinisikan masalah yang akan diselesaikan.
3. Melakukan sumbang saran untuk menemukan semua kemungkinan
penyebab masalah
4. Mengatur hasil sumbang saran dalam kategori yang rasional
5. Membat diagram sebab akibat yang secara akurat menampilkan
hubungan dari semua data dalam setiap kategori.
Diagram sebab dan akibat kelas proses produksi menggunakan proses
produksi sebagai kategori atau cabang- cabang utama dari diagram. Proses
ditunjukkan digabungkan dengan garis horisontal, contoh jenis diagram ini :
37










Gb 2.4 Diagram Sebab dan Akibat dari kelas Proses Produksi

Penyebutan satu per satu penyebab dari sebab dan akibat hanya menunjukkan
semua sebab yang mungkin dari masalah tertentu yang dikelompokkan
menurut kategori yang rasional. J enis diagram sebab dan akibat ini siap
memberi kemungkinan untuk mendekatan sumbang saran yang sedang
digunakan.
Diagram sebab dan akibat memiliki sejumlah kegunaan. Penciptaan diagram
merupakan suatu pendidikan dengan sendirinya. Mengorganisasi pengetahuan
dari kelompok tersebut merupakan penuntun untuk diskusi dan sering kali
mengilhami untuk lebih banyak ide.




Subseba
b
MASALAH PROSES
-- Sebab B
--Sebab C
--Sebab D
Sebab A --
Sebab A --
-- Sebab B
PROSES
Sebab A --
Subsebab
Sebab A --
Sebab C --
38
2.5 Metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
FMEA atau analisis mode kegagalan dan efek adalah suatu prosedur
tersruktur untuk mengidentifikasi den mencegah sebanyak mungkin mode
kegagalan. Suatu mode kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam
kecacatan/ kegagalan dalam desain, kondisi di luar batas spesifikasi yang
ditetapkan, atau perubahan- perubahan dalam produk yang menyebabkan
terganggunya fungsi di dalam produk itu. Dengan menghilangkan mode
kegagalan, maka FMEA akan meningkatkan keandalan dari produk sehinggan
meningkatkan kepuasan pelanggan yang menggunakan produk tersebut.
Langkah- lqangkah di dalam membuat FMEA :
1. Mengidentifikasi produk/ jasa.
2. Mendaftarkan masalah- masalah potensial yang dapat muncul, efek dari
masalah- masalah potensial tersebut dan penyebabnya. Hindarilah masalah-
masalah sepele.
3. Menilai masalah untuk keparahan (severity), probabilitas (occurance) dan
detektabilitas (detection).
4. Menghitung “Risk Priority Number”, atau RPN yang menjadi penyebab dari
masalah tersebut dengan cara mengalikan ketiga variabel dalam poin 3 di atas
dengan demikian dapat dicari solusi prioritas yang harus dilakukan.
Untuk keterangan lebih lanjut tentang rating occurance, severity dan detection
dapat dilihat pada table di bawah ini :

39
Tabel 2.2 Definisi FMEA untuk rating Occurance
Sumber : Gasperz, 2002, p251
Tabel 2.3 Definisi FMEA untuk rating Detectability
Ranking Kriteri a Verbal Probabil i tas/ Kegagal an
1 Tidak mungkin penyebab ini mengakibatkan kegagalan 1 dalam 1000000
2 Kegagalan akan jarang terjadi 1 dalam 20000
3 1 dalam 4000
4 Kegagalan agak mungkin terjadi 1 dalam 1000
5 1 dalam 400
6 1 dalam 80
7 Kegagalan adalah sangat mungkin terjadi 1 dalam 40
8 1 dalam 20
9 Hampir dapat dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi 1 dalam 8
10 1 dalam 2
Catatan : probabilitas kegagalan berbeda- beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating
disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa
(engeneering judgement)
Ranki ng Kriteri a Verbal Ti ngkat Kej adian Penyebab
1 Metode pencegahan atau deteksi sangat efektif. 1 dalam 1000000
Tidak ada kesempatan bahwa penyabab akan muncul lagi.
2 Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi adalah 1 dalam 20000
3 sangat rendah 1 dalam 4000
4 Kemungkinan penyebab bersifat moderat, 1 dalam 1000
5 metode deteksi masih memungkinkan kadang- kadang 1 dalam 400
6 penyabab ini terjadi 1 dalam 80
7 Kemungkinan bahwa penyebab itu masih tinggi. 1 dalam 40
8 Metode pencegahan atau deteksi kurang efektif, 1 dalam 20
karena penyebab masih berulang lagi.
9 Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi sangat tinggi. 1 dalam 8
10 Metode deteksi tidak efektif. Penyebab akan selalu terjadi. 1 dalam 2
disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa
(engeneering judgement)
Catatan : tingkat kejadian penyebab berbeda- beda tiap produk oleh karena itu pembuatan rating
40
Sumber : Gasperz, 2002, p254

Tabel 2.4 Definisi FMEA untuk rating Severity

Sunber : Gasperz, 2002, p250






Ranki ng Kriteri a Verbal
1 Neglible Severity, kita tidak perlu lagi memikirkan akibat ini akan berdampak pada kinerja produk.
Pengguna akhir tidak memperhatikan kecacatan atau kegagalan ini.
2 Mild Severity, akibat yang ditimbulkan hanya bersifat ringan, pengguna akhir tidak
3 merasakan perubahan kinarja.
4 Moderate Severity, pengguna akhir akan merasakan akibat penurunan kinarja atau penampilan namun
5 masih berada dalam batas toleransi.
6
7 High Severity, pengguan akhir akan merasakan akibat buruk yang tidak dapat diterima, berada diluar
8 batas toleransi.
9 Potensial Safety Problem, akibat yang ditimbulkan adalah sangat berbahaya dan bertentangan
10 dengan hukum.
dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engeneering judgement)
Catatan : tingkat severity berbeda- beda tiap produk oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful