Judul Jurnal : Anticonvulsant therapy for status epilepticus Sumber : British Journal, 18 april 2007 Penulis

:

Kameshwar Prasad, Pudukode R. Krishnan,

Khaldoon

Al-Roomi

&

Reginald Sequera Department of Neurology, Neurosciences Centre, All India Institute of Medical Sciences, New Delhi, India, 1Department of Clinical Neurosciences, 2Department of Salmaniya Family Medical and Complex, Ministry of Health, 3Clinical

Community

Medicine

and

Pharmacology and Therapeutics, The Arabian Gulf University, Manama, Kingdom of Bahrain

Resume :

Status epileptikus adalah kondisi dimana terdapat aktivitas kejang yang kontinyu selama lebih dari 30 menit, atau kejang tanpa pemulihan kesadaran diantara dua periode kejang. Status epileptikus adalah sebuah kegawat darutatan medis dengan 8 % mortalitas pada anak, dan 30 % pada dewasa. Status epileptikus, bisa diklasifikasikan menjadi status epileptikus dengan kejang dan status epileptikus tanpa kejang. 12 – 30% dari orang dewasa yang didiagnosis epilepsy mengalami status epileptikus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan obat antikonvulsi yang lebih efektif atau lebih aman dari antikonvulsi lain atau placebo pada pasien dengan status epileptikus dan untuk menemukan evidence dari RCT dan untuk memberikan penerangan bagi penelitian selanjutnya terhadap status epileptikus. Metode yang

017 peserta yang memenuhi kriteria inklusi. 95% CI 0.63.45.39. Kedua lorazepam dan diazepam lebih baik dibandingkan plasebo untuk hasil yang sama.45. Dalam pengobatan kejang.86). Lorazepam lebih baik dari pada diazepam atau fenitoin tunggal untuk penghentian kejang dan menurunkan resiko dari kelanjutan status epilepticus yng memerlukan obat yang berbeda atau anestesi umum.64. Diazepam 30 mg gel intrarectal adalah lebih baik daripada 20 mg dalam status epileptikus pertanda untuk risiko kelanjutan kejang (RR 0. Dosis 30mg diazepam intrarektal lebih baik dari pada 20mg intrarektal . 95% confidence interval (CI) 0.62. Sebelas studi dengan 2. Lorazepam lebih baik daripada diazepam untuk mengurangi risiko kelanjutan kejang [risiko relatif (RR) 0. 0.digunakan adalah dengan menggunakan metode Randomized Controlled Trial pada pasien yang mengalami status epileptikus yang refrakter. 0. 0. Atau penggunaan fenitoin lebih diutmakan dari pada penggunaan Diazepam dalam penangan status epileptikus. 0. diazepam 30 mg gel intrarektal lebih baik daripada 20 mg untuk penghentian kejang tanpa peningkatan signifikan secara statistik dalam efek samping.88 ) dengan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam risiko efek samping. 95% CI 0.45.86).90] dan kebutuhan obat yang berbeda atau anestesi umum (RR 0.18. 95% CI 0. Lorazepam lebih baik daripada fenitoin untuk risiko kelanjutan kejang (RR 0. Aplikasi Untuk Kasus Aplikasi untuk kasus berdasarkan penelitian ini adalah diutamakan penggunaan Lorazepam dari pada diazepam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful