P. 1
Ocular Trauma

Ocular Trauma

|Views: 15|Likes:
ocular trauma
ocular trauma

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dessy Vinoricka Andriyana on Feb 04, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2015

pdf

text

original

BAB II

LAPORAN KASUS
2.1. Anamnesis

2.1.1. Identitas Pasien Nama Usia Alamat Pekerjaan : Ny. J : 54 tahun : Jalan Trikora, RT. 16 : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan Terakhir : SMP Agama 2.1.2. Keluhan Utama Air mata berdarah 2.1.3. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengaku mata kanannya mengeluarkan airmata bercampur darah sesaat setelah mata kanan pasien menghantam stang sepeda 1 hari SMRS. Pasien mengaku hantaman yang mengenai mata kanan pasien tersebut sangat keras, sehingga menyebabkan kelopak mata pasien bengkak, penglihatan mendadak menurun, nyeri bola mata hebat, dan mata mengeluarkan air bercampur darah. Kurang lebih 1 jam setelah kejadian, pasien mengeluh nyeri pada bola mata semakin hebat, menjalar sampai kepala kanan hingga pasien mengalami mual muntah, dan darah yang keluar dari mata tidak mau berhenti. Sebelum datang ke IGD RSUD AWS, pasien sempat mendapat pertolongan di IGD RS Dirgahayu, diberi obat tetes, kemudian di perbolehkan pulang. : Islam

2.1.4. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak memiliki riwayat diabetes, tekanan darah tinggi, maupun alergi obat. 2.2. Pemeriksaan Fisik

2.2.1. Status Generalis Keadaan Umum : Kesadaran Status Gizi : : Baik Komposmentis Kesan baik

Tanda-Tanda Vital Tekanan Darah : Nadi Respirasi Suhu : : : 130/ 80 mmHg 82 kali/ menit 18 kali/ menit 37,2°C per aksiler

Cephal, colli : Normocephal, tidak tampak pernafasan cuping hidung, tidak terdapat pembesaran KGB Thoraks : Bentuk dada normal, gerakan nafas simetris, sonor di seluruh lapang paru, suara nafas vesikuler, S1 S2 tunggal reguler, tidak ada suara nafas dan jantung tambahan. Abdomen Ekstremitas : Tidak distended, peristaltik usus normal, supel, timpani : Tidak ada edema pada keempat ekstremitas, tidak ada tofus, clubbing finger dan kelainan bentuk lainnya, akral hangat, waktu pengisian kapiler < 2 detik 2.2.2. Status Oftalmologi 1. Ketajaman Penglihatan

Palpebra Superior dan Inferior OD Edema Ekimosis Nyeri tekan Blefarospasme Ektropion Entropion Trikiasis Sikatriks Fissura palpebra Ptosis Ada Ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS .OD Visus Koreksi Addisi Distansia pupil 1/60 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan > 5/60 OS Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan 2. Kedudukan Bola Mata OD Strabismus Eksoftalmus Enoftalmus Gerakan bola mata Ada. Supersilia OD Warna Distribusi Hitam Normal Hitam Normal OS 4. fiksasi inferolateral Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS Menurun pada gerakan Baik ke semua arah ke arah medial 3.

Sklera OD OS . Konjungtiva Tarsalis Superior dan Inferior OD Hiperemis Edema Sekret Sikatriks Anemis Kemosis Ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS 6. Konjungtiva Bulbi OD Sekret Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar Pterigium Pinguekula Nevus Pigmentosus Nodul Corpus alienum Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS 7. Sistem lakrimalis OD Hiperemis Edema Benjolan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS 8.Hordeolum Kalazion Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 5.

Pupil OD Letak Sentral Sentral OS . Iris OD Warna Sinekia Koloboma Coklat tua Tidak ada Tidak ada Coklat tua Tidak ada Tidak ada OS 12. Bilik Mata Depan OD Kedalaman Kejernihan Hifema Hipopion Dalam Jernih Tidak ada Tidak ada Dalam Jernih Tidak ada Tidak ada OS 11. Kornea OD Kejernihan Permukaan Infiltrat Sikatriks Ulkus Arkus senilis Edema Tes Placido Jernih Licin Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak dilakukan Jernih Licin Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak dilakukan OS 10.Warna Ikterik Nyeri tekan Putih Tidak ada Tidak ada Putih Tidak ada Tidak ada 9.

6.3. Resume Wanita usia 54 tahun datang ke IGD RSUD AWS dengan keluhan mata kanan terus mengeluarkan airmata bercampur darah setelah terhantam stang sepeda. lambat Bulat Positif 13. dan mual muntah. Fundus Okuli Pemeriksaan fundus okuli tidak dilakukan 2. Penatalaksanaan Infus manitol 20% 350 cc dalam 24 jam Timolol eye drop 3 x gtt II OD Ciprofloxacin eye drop 3 x gtt II OD Asam mefenamat 3 x 500 mg . didapatkan VOD 1/60. dan penurunan refleks pupil OD. ekimosis periorbita dekstra. Lensa OD Kejernihan Letak Shadow test Jernih Di tengah (-) Jernih Di tengah (-) OS 14. Keluhan tersebut disertai dengan penglihatan yang turun mendadak. 2. 2. Dari pemeriksaan oftalmologi. laserasi konjungtiva OD.4. nyeri bola mata kanan yang menjalar sampai kepala kanan.Bentuk Refleks cahaya Bulat Positif. Diagnosis Kerja Trauma tumpul okuli dekstra dengan laserasi konjungtiva dan parese nervus okulomotorius dengan keterlibatan pupil.

4 Trauma tumpul biasanya terjadi karena kecelakaan di rumah. ledakan. cedera olahraga.3. kekerasan. Definisi Trauma Tumpul Okuli Trauma tumpul merupakan trauma pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda tidak keras dengan ujung tumpul. yaitu terjadinya tekanan akibat trauma diteruskan pada arah horisontal di sisi yang berseberangan sehingga jika tekanan benda mengenai bola mata akan diteruskan sampai dengan makula.4 Gambar 3.1. dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat sehingga terjadi kerusakan pada jaringan bola mata atau daerah sekitarnya.1 Trauma tumpul dapat bersifat Coupe maupun Counter Coupe.3. Gambar anatomi bola mata . dan kecelakaan lalu lintas.1.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.

Selanjutnya closed globe injury dibedakan menjadi contusio dan lamellar laceration. Definisi trauma Okuli menurut BETT 5 3. perforasi. Menurut Birmingham Eye Trauma Terminology definisi trauma pada mata dapat didasarkan pada tabel berikut5: Tabel 3. Closed globe adalah trauma yang hanya menembus sebagian kornea. Sedangkan open globe injury dibedakan menjadi rupture dan laceration yang dibedakan lagi menjadi penetrating. maupun ruptur.1. Klasifikasi Trauma Okuli Menurut klasifikasi BETT trauma okuli dibedakan menjadi closed globe dan open globe. dan perforating. sedangkan open globe adalah trauma yang menembus seluruh kornea hingga masuk lebih dalam lagi.5 .2. laserasi.Trauma okuli tumpul dapat berupa non-peroforasi. IOFB.

yang keduanya memiliki potensi . Skema diagram alur mengenai trauma okuli Menurut skema diatas.2. Klasifikasi Trauma Okuli Menurut BETT 5 Sumber lain menyatakan klasifikasi trauma okuli sebagai berikut: Bagan 3. secara garis besar trauma okuli dibagi menjadi dua yaitu trauma okuli non perforans dan perforans.Bagan 3.1.

mampu menimbulkan efek atau komplikasi jaringan seperti pada kelopak mata. 3. Manifestasi Trauma Okuli Gejala klinis yang dapat terjadi pada trauma mata antara lain 6.3.menimbulkan ruptur pada perlukaan kornea. konjungtiva. uvea. retina. 2. iris dan pupil. kornea. Penurunan visus dalam waktu yang mendadak .8 : 1. Hematoma pada palpebra juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami fraktur basis kranii. 3. Memar pada sekitar mata Memar pada sekitar mata dapat terjadi akibat hematoma pada palpebra. papil saraf optik dan orbita secara terpisah atau menjadi gabungan satu kejadian trauma jaringan mata. Trauma tumpul mampu menimbulkan trauma okuli non perforans yang dapat menimbulkan komplikasi sepanjang bagian mata yang terkena (bisa meliputi mulai dari bagian kornea hingga retina). Perdarahan atau keluar cairan dari mata atau sekitarnya Pada trauma mata perdarahan dapat terjadi akibat luka atau robeknya kelopak mata atau perdarahan yang berasal dari bola mata. Selain berdasarkan efek perforasi yang ditimbulkan trauma okuli juga juga bisa diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya yaitu: Trauma tumpul (contusio okuli) (non perforans) Trauma tajam (perforans) Trauma Radiasi    Trauma radiasi sinar inframerah Trauma radiasi sinar ultraviolet Trauma radiasi sinar X dan sinart terionisasi Trauma Kimia Trauma asam Trauma basa Trauma okuli non perforans akibat benda tumpul dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras (kencang) ataupun lambat. Pada trauma tembus caian humor akueus dapat keluar dari mata. lensa.7.

Sehingga menimbulkan nyeri kepala. benda asing pada segmen anterior bola mata menyebabkan jalur sinar yang masuk ke dalam mata menjadi tidak teratur. Hal ini dapat menyebabkan penglihatan ganda pada pasien. Karena iris robek maka bentuk pupil menjadi tidak bulat. Penyebab lain fotopobia pada pasien trauma mata adalah lumpuhnya iris. erosi kornea. Nyeri dan rasa menyengat pada mata Pada trauma mata dapat terjadi nyeri yang disebabkan edema pada palpebra. yang kedua akibat terlepasnya lensa atau retina dan avulsi nervus optikus. 9. Sakit kepala Pada trauma mata sering disertai dengan trauma kepala. 4. 7. Mata bewarna merah Pada trauma mata yang disertai dengan erosi kornea dapat ditemukan pericorneal injection (PCI) sehingga mata terlihat merah pada daerah sentral. terasa ada yang mengganjal pada mata Pada trauma mata dengan benda asing baik pada konjungtiva ataupun segmen anterior mata dapat menyebabkan mata terasa gatal dan mengganjal. Jika terdapat benda asing hal ini dapat menyebabkan peningkatan produksi air mata sebagai salah satu mekanisme perlindungan pada mata. 8. . 5. Penglihatan ganda Penglihatan ganda atau diplopia pada trauma mata dapat terjadi karena robeknya pangkal iris. Hal ini dapat pula ditemui pada trauma mata dengan perdarahan subkonjungtiva. contohnya hifema. Mata terasa Gatal. Pandangan yang kabur dan ganda pun dapat menyebabkan sakit kepala. 6. yang pertama terhalangnya jalur refraksi akibat komplikasi trauma baik di segmen anterior maupun segmen posterior bola mata. hal ini menimbulkan silau pada pasien.Penurunan visus pada trauma mata dapat disebabkan oleh dua hal. Fotopobia Fotopobia pada trauma mata dapat terjadi karena dua penyebab. Peningkatan tekanan bola mata juga dapat menyebabkan nyeri pada mata. Pertama adanya benda asing pada jalur refraksi.

Edema konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva. Selanjutnya untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada palpebra. Edema konjungtiva Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik (edema) pada setiap kelainan termasuk akibat trauma tumpul. terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Berikut ini dijelaskan lebih lanjut tentang beberapa manifestasi klinis yang dapat muncul akibat trauma benda tumpul pada okuli diantaranya antara lain: 1.6.7 2. Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk seperti kacamata hitam (racoon eye) yang sedang dipakai. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur bulbus okuli. 2.Lumpuhnya iris menyebabkan pupil tidak dapat mengecil dan cenderung melebar sehingga banyak sinar yang masuk ke dalam mata. Hematoma subkonjungtiva Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat dibawah konjungtiva. trauma tumpul atau pada keadaan pembuluh darah yang mudah pecah. Pecahnya pembuluh darah ini bisa akibat dari batuk rejan. Bila palpebra terbuka dan konjungtiva secara langsung terekspose dengan dunia luar tanpa dapat mengedip maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva. Hematoma palpebra Hematoma palpebra merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. 2.6.7 . Hematoma palpebra merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul okuli.6.7 3. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk kedalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Penanganan pertama dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan. 2. seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera.

2. 2. Pola tanda goresan vertikal di kornea mengisyaratkan adanya benda asing tertanam di permukaan konjungtiva tarsalis di kelopak mata atas. Anestesi topikal diberikan dengan hati-hati karena dapat menambah kerusakan epitel. Edema kornea Edema kornea dapat meberikan keluhan berupa penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membran basal.4.6. Erosi kornea Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea.3. karena hal ini dapat memperlambat penyembuhan. mata berair. 1.6. Epitel akan sukar menutup dikarenakan terjadinya pelepasan membran basal epitel kornea sebagai sebagai tempat duduknya sel basal .7 5. dan dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea permanen. Dalam waktu singkat epitel sekitar dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel tersebut. menutupi kerusakan lebih lanjut.9 Erosi rekuren biasanya terjadi akibat cedera yang merusak membran basal. fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh. Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya serbukan sel radang dan neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea. Erosi di kornea menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasakan sewatu mata dan kelopak mata digerakkan. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam.7 Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. yang lebih tepatnya jangan pernah memberi larutan anestetik topikal kepada pasien untuk dipakai berulang setelah cedera kornea.3. Pemakaian berlebihan lensa kontak menimbulkan edema kornea. Pada kornea akan terlihat adanya defek epitel kornea yang bila diberi fuorosein akan berwarna hijau .Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak. Kornea dapat terlihat keruh.

Pada daerah inilah iris sering terlihat seperti peripheral iris tears (iridodialisis).7 7.6. Perubahan bentuk pupil maupun perubahan ukuran pupil akibat trauma tumpul tidak banyak mengganggu . Saat mata kita berkontak dengan benda asing.7 6. Pupil biasanya tidak bereaksi terhadap sinar. Lubang pupil pada pangkal iris tersebut merupakan lubang permanen karena iris tidak mempunyai kemampuan regenerasi. 10 Hal ini mudah terjadi karena bagian iris yang berdekatan dengan badan silier gampang robek. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat pertumbuhan epitel baru dan mencegah infeksi skunder. 1 Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah. Saat mata tertekan maka iris perifer akan robek pada akarnya dan meninggalkan crescentic gap yang berwarna hitam tetapi reflek fundus masih dapat diobservasi. Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi dan merasakan silau karena gangguan pengaturan masuknya cahaya ke pupil. Dapat digunakan lensa kontak lembek pada pasien dengan erosi rekuren pada kornea dengan maksud untuk mempertahankan epitel berada ditempatnya. Umumnya membrane basal yang rusak akan kembali normal setelah 6 minggu. Ini alasannya mengapa titik cedera yang paling sering terjadi adalah pada temporal bawah pada mata. Iridoplegia Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul pada uvea sehingga menyebabkan pupil menjadi lebar atau midriasis.6. 1. Iridodialisa Iridodialisis adalah keadaan dimana iris terlepas dari pangkalnya sehingga bentuk pupil tidak bulat dan pada pangkal iris terdapat lubang. Permukaan kornea perlu diberi pelumas untuk membentuk membran basal kornea. Pupil terlihat tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler. Pemberian siklopegik bertujuan untuk mengurangi rasa sakit ataupun untuk mengurangi gejala radang uvea yang mungkn timbul. maka mata akan bereaksi dengan menutup kelopak mata dan mata memutar ke atas.epitel kornea. 3.

Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan terbentuknya hifema. grade IV: menutupi 3/4-seluruh COA Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas. Tanda-tanda klinis lain berupa tekanan intraokuli (TIO) normal/meningkat/menurun.7.3. Penglihatan pasien akan sangat menurun dan bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan dan dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Trauma tumpul sering merobek pembuluh-pembuluh darah iris atau badan siliar dan merusak sudut kamera okuli anterior. Darah di dalam cairan dapat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat (hifema). grade II: menutupi 1/3-1/2 COA 3. bentuk pupil normal/midriasis/lonjong. Hifema Hifema adalah darah di dalam bilik mata depan (camera okuli anterior/COA) yang dapat terjadi akibat trauma tumpul sehingga merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya.tajam penglihatan penderita. kadang diikuti erosi kornea.11 9.3. akbat danya darah yang berada di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil mata yang mengecil yang mengakibatkan visus menurun. Sebaiknya . Glaukoma akut terjadi apabila jaringan trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau apabila pembentukan bekuan darah menyebabkan sumbatan pupil. 1. Pada mata akan terlihat mata merah.4 Hifema dibagi dalam 4 grade berdasarkan tampilan klinisnya 11 : 1. Pada iridodialisis akan terlihat pupil lonjong. pelebaran pembuluh darah perikornea. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. 6. grade III: menutupi 1/2-3/4 COA 4. Iridosiklitis Yaitu radang pada uvea anterior yang terjadi akibat reaksi jaringan uvea pada post trauma. grade I: menutupi < 1/3 COA (Camera Okuli Anterior) 2.4 8. 1.

Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak. Subluksasi Lensa Subluksasi Lensa adalah lensa yang berpindah tempat akibat putusnya sebagian zonula zinii ataupun dapat terjadi spontan karena trauma atau zonula zinii yang rapuh (sindrom Marphan). Luksasi Lensa Posterior Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah fundus okuli. bilik mata depan dalam dan iris tremulans. 12. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Edema Retina dan Koroid Terjadinya sembab pada daerah retina yang bisa diakibatkan oleh trauma tumpul. Penanganan yaitu dengan menyuruh pasien istirahat. edema kornea. 13. 10. 11. Muncul gejala-gejala glaukoma kongestif akut yang disebabkan karena lensa terletak di bilik mata depan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata. Penglihatan akan . Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Terdapat injeksi siliar yang berat. lensa di dalam bilik mata depan. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada. maka lensa akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih miopi. Edema retina akan memberikan warna retina lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. Mata menunjukan gejala afakia. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangnya karena lensa mengganggu kampus. Pada edema retina akibat trauma tumpul mengakibatkan edema makula sehingga tidak terdapat cherry red spot.pada mata diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan midriatika. Luksasi Lensa Anterior Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa masuk ke dalam bilik mata depan. Penglihatan pasien akan menurun. Lensa yang cembung akan membuat iris terdorong ke depan sehingga bisa mengakibatkan terjadinya glaukoma sekunder.

Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina.normal kembali setelah beberapa waktu. biasanya terjadi perdarahan subretina akibat dari ruptur koroid. Jack J. Avulsi papil saraf optik Saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul. Ablasi Retina Yaitu terlepasnya retina dari koroid yang bisa disebabkan karena trauma. Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang. Pada pemeriksaan fundus kopi akan terlihat retina berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terangkat dan berkelok-kelok. Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. terlihat adanya selaput yang seperti tabir pada pandangannya. 16. dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius. perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunya daerah makula oleh sel pigmen epitel. 14. Penderita perlu dirujuk untuk menilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya (Ilyas. Katarak traumatik Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi ataupun tumpul terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun. Penderita akan mengalami penurunan tajam penglihatan yang sangat drastis dan dapat terjadi kebutaan. 17. Pada pasien akan terdapat keluhan ketajaman penglihatan menurun. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya . Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat. Bila ruptur koroid terletak atau mengenai daerah makula lutea maka akan terjadi penurunan ketajaman penglihatan. 15. 2003. Ruptur Koroid Ruptur biasanya terletak pada polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik. 2005).

Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan.katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata depan. ablasi retina. yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanafilaktik. Keadaan ini dapat disertai perdarahan. 3. uveitis atau salah letak lensa. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder.4 Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan bercampur makrofag dengan cepatnya. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan apa yang disebut sebagai cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elsching. Bila terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma. 3.1 Pada katarak trauma apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Manifestasi Trauma Okuli .2. uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. 3.4 Gambar 3.4 Pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya.

3. Harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat memalu. Manifestasi trauma Okuli 3. 1 Pada anamnesis kasus trauma mata ditanyakan mengenai proses terjadi trauma. atau ledakan. Perlu ditanyakan pula berapa besar benda yang mengenai mata dan bahan benda tersebut apakah terbuat dari kayu. bawah dan bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata. Apabila terjadi penurunan penglihatan. besi atau bahan lain. dan pemeriksaan penunjang. samping atas. 12 . bagaimana arah datangnya benda yang mengenai mata tersebut apakah dari depan. ditanyakan apakah pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau sesudah kecelakaan.Gambar 3. Harus dicatat apakah gangguan penglihatan bersifat progresif lambat atau timbul mendadak. Anamnesis harus mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan segera sesudah cedera. benda apa yang mengenai mata tersebut. Apakah trauma disertai dengan keluarnya darah dan rasa sakit dan apakah sudah dapat pertolongan sebelumnya. yaitu dimulai dari anamnesis. Ditanyakan juga kapan terjadinya trauma. pemeriksaan fisik. Diagnosis Trauma Okuli Untuk menegakkan diagnosis trauma okuli sama dengan penegakan diagnosis pada umumnya. mengasah.4.

keadaan umum terlebih dahulu diperiksa. diskriminasi dua titik dan defek pupil aferen. Dilakukan inspeksi konjungtiva bulbi untuk mencari adanya perdarahan.Pada pemeriksaan fisik. Apabila bola mata tidak rusak. karena 1/3 hingga ½ kejadian trauma mata bersamaan dengan cedera lain selain mata. luka. luka dan abrasi 4. Pada pemeriksaan bedside. Pemeriksaan oftalmologis dimulai dengan pengukuran ketajaman penglihatan (visus). Kamera okuli anterior: kedalaman. perdarahan 6. benda asing. Periksa motilitas mata dan sensasi kulit periorbita. Apabila tidak tersedia slit lamp. fungsi. Ukuran. dan abrasi. 2. kaca pembesar. Pupil: ukuran. atau oftalmoskop langsung pada +10 (nomor gelap) dapat digunakan untuk memeriksa adanya cedera di permukaan tarsal kelopak dan segmen anterior. Inspeksi konjungtiva: perdarahan/tidak 5. Oftalmoskop langsung dan tidak langsung digunakan untuk . bentuk dan reaksi terhadap cahaya (dibandingkan dengan mata yang lain) 7. konjungtiva palpebra. dan adanya defek pupil aferen. jantung dan paru serta ekstremitas. Apabila didapatkan gangguan penglihatan parah. diskus optikus dan retina. Selanjutnya pemeriksaan mata dapat dimulai dengan 12: 1. maka kelopak. Untuk itu perlu pemeriksaan neurologis dan sistemik mencakup tanda-tanda vital. korpus vitreus. status mental. adanya enoftalmos dapat ditentukan dengan melihat profil kornea dari atas alis. 1 Permukaan kornea diperiksa untuk mencari adanya benda asing. Lakukan palpasi untuk mencari defek pada tepi tulang orbita. bentuk. Menilai tajam penglihatan. diskriminasi dua titik. dan reaksi terhadap cahaya dari pupil harus dibandingkan dengan mata yang lain untuk memastikan apakah terdapat defek pupil aferen (RAPD) di mata yang cedera. maka senter. dan forniks. Pemeriksaan permukaan kornea : benda asing. termasuk inspeksi setelah eversi kelopak mata atas. dan lakukan palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita. Oftalmoskop: menilai lensa. bila parah: diperiksa proyeksi cahaya. Pemeriksan motilitas mata dan sensasi kulit periorbita. maka periksa proyeksi cahaya. dapat diperiksa secara lebih teliti. kejernihan. Kedalaman dan kejernihan COA dicatat. atau laserasi. 3.

3. antiemetik. dengan restriksi makan dan minum.5. dan obat lain yang diberikan ke mata yang cedera harus steril. menutupi . Pemeriksaan darah lengkap. Tetrakain dan fluoresens tersedia dalam satuansatuan dosis individual yang steril. hingga MRI. status kardiologi. karena dapat meningkatkan secara transient tekanan di dalam bola mata sehingga mengingkatkan kecenderungan herniasi isi intraocular. dan antitoksin tetanus harus diberikan sesuai kebutuhan. radiologi dapat ditambahkan jika akan dilakukan tindakan tertentu yang membutuhkan pemeriksaan penunjang tersebut. Penatalaksanaan Trauma Okuli Apabila jelas tampak ruptur bola mata. Anak juga lebih baik diperiksa awal dengan bantuan anestesi umum yang bekerja singkat. Anestesi topikal diberikan dengan hati-hati karena dapat menambah kerusakan epitel. discus optikus. 1. Pada semua kasus trauma mata. karena hal ini dapat memperlambat penyembuhan.mengamati lensa. Dokumentasi foto bermanfaat untuk tujuan-tujuan medikolegal pada semua kasus trauma eksternal.10 Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. 1. zat warna. dan retina. korpus vitreous. 1 Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain USG mata. Sebelum pembedahan jangan diberi obat sikloplegik atau antiobiotik topikal karena kemungkinan toksisitas pada jaringan intraocular yang terpajan. Induksi anestesi umum jangan menggunakan obat-obat penghambat depolarisasi neuromuskular. Analgetik. mata yang tampak tidak cedera juga harus diperiksa dengan teliti.12 Pada cedera yang berat. ahli oftalmologi harus selalu mengingat kemungkinan timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat manipulasi yang tidak perlu sewaktu berusaha melakukan pemeriksaan mata lengkap. CT scan. Perlu diperhatikan bahwa pemberian anestetik topical. maka manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai pasien mendapat anestesi umum. yang lebih tepatnya jangan pernah memberi larutan anesteik topikal kepada pasien untuk dipakai berulang setelah cedera kornea. Berikan antibiotik parenteral spektrum luas dan pakaikan pelindung Fox (atau sepertiga bagian bawah corong kertas) pada mata.

3 Hifema harus dievakuasi secara bedah apabila tekanan intraokular tetap tinggi (>35 mmHg selama 7 hari atau 50 mmHg selama 5 hari) untuk menghindari kerusakan syaraf optikus dan perwarnaan kornea. Apabila timbul glaukoma. Dosisnya adalah 100 mg/kg setiap 4 jam sampai maksimum 30 g/h selama 5 hari. 1. Mata diperiksa secara berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder. asetazolamide 250 mg per oral empat kali sehari dan obat hiperosmotik (manitol. 1 Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut di bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata. glaukoma. Perdarahan ulang terjadi pada 16-20% kasus dalam 2-3 hari. Penyulit ini memiliki resiko tinggi menimbulkan glaukoma dan perwarnaan kornea. diberi koagulansia (antifibrinolitik oral/injeksi) dan mata ditutup. 3.kerusakan lebih lanjut. Pada pasien yang gelisah dapat diberikan obat penenang. kloramfenikol dan sufasetamid tetes mata. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam. Beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa penggunaan asam aminokaproat oral untuk menstabilkan pembentukan bekuan darah menurunkan resiko perdarahan ulang. atau bercak darah di kornea akibat pigmen besi. Untuk mencegah terjadinya infeksi dapat diberikan antibiotika spektrum luas seperti neosporin. dan dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea permanen. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka dapat diberikan sikloplegik aksi-pendek seperti tropikamida.4 Epitel yang terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. 1 1. Hifema Penanganan awal pada pasien hifema yaitu dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala (semi fowler). gliserol. maka penatalaksanaan mencakup pemberian timolol 0.25% atau 0. sorbitol).10 Pasien yang jelas memperlihatkan hifema yang mengisi lebih dari 5% kamera anterior diharuskan bertirah baring dan harus diberikan tetes steroid dan sikloplegik pada mata yang sakit selama 5 hari. Apabila pasien mengidap .5% dua kali sehari. maka bisa diberikan bebat tekan pada pasien selama 24 jam.3.4 Untuk mengurangi rangsangan cahaya dan membuat rasa nyaman serta lebih tertutup pada pasien.4. 3.

4 Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan.4 2. 1 Parasentesis atau pengeluaran darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea. Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan. Hifema spontan pada anak sebaiknya dipikirkan kemungkinan leukimia dan retinoblastoma. Kemudian dilakukan iridektomi perifer. Tidak dilakukan usaha untuk mengeluarkan bekuan dari sudut kamera anterior atau dari jaringan iris.hemoglobinopati. Dibuat sebuah insisi kecil di limbus untuk menyuntikkan bahan viskoelasti. maka besar kemungkinan cepat terjadi atrofi optikus glaukomatosa dan pengeluaran bekuan darah secara bedah harus dipertimbangkan lebih awal. glaukoma skunder. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan keluar. 3. dan dan sebuah insisi yang lebih besar 180 derajat berlawanan agar hifema dapat didorong keluar. dengan teknik sebagai berikut: dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Instrumen-instrumen vitrektomi digunakan untuk mengeluarkan bekuan di sentral dan lavase kamera anterior. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologik. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit.Kadang-kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi perdarahan atau hifema baru yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang. bercak darah di kornea akan hilang secara perlahan dalam periode sampai setahun. Dimasukkan tonggak irigasi dan probe mekanis di sebelah anterior limbus melalui bagian kornea yang jernih untuk menghindari kerusakan iris dan lensa. Cara lain untuk membersihkan kamera anterior adalah dengan evakuasi viskoelastik. Glaukoma dapat timbul belakangan setelah beberapa bulan atau tahun akibat penyempitan sudut. Iridoplegia . Dengan sedikit perkecualian. hifema penuh dan berwarna hitam atau setelah 5 hari tidak terlihat tandatanda hifema berkurang. 3.

rektus superior. III ditandai oleh: 1) M. Luksasi Lensa posterior Pada luksasi lensa posterior. oblikus inferior 3) Kelumpuhan saraf parasimpatis yang menyebabkan pupil yang lebar (midriasis) yang tidak bereaksi terhadap cahaya dan konvergensi. Levator Palpebrae lumpuh. mata akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia. 3. misalnya pada neuropati diabetic. atau mata yang sakit diperban. 3. Untuk mencegah silau sebaiknya pasien memakai kacamata gelap. yaitu berupa glaukoma fakolitik dan uveitis fakotoksik.0 Dioptri untuk melihat jauh. misalnya oleh aneurisma a.Iridoplegia akibat trauma akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Parese Nervus Oculomotor13 Gangguan total pada N. Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat untuk terjadinya kelelahan sfingter dan diberi roboransia. m. Hal ini mengakibatkan sikap bola mata ialah tertarik ke luar dan ke bawah. rektus lateralis (diinervasi oleh N VI) dan oblikus superior (N IV). maka terjadi gangguan pada reaksi pupil. Pada parese N III yang disebabkan oleh tekanan. Bila luksasi lensa telah menimbulkan komplikasi sebaiknya secepatnya dilakukan ekstraksi lensa. rektus inferior. Beberapa penyebab gangguan N III: Vaskuler (pupil tidak terlibat):  Diabetes melitus . Pada parese N III yang disebabkan oleh gangguan aliran darah. bilik mata depan dalam dan iris tremulans.4 3. dan m. bagian serabut N III yang terutama terkena ialah yang letaknya di tengah sehingga reaksi pupil tidak terganggu. mengakibatkan ptosis 2) Paralisis otot m. Pasien akan melihat normal dengan lensa + 12. komunikans posterior atau oleh herniasi. Lensa yang terlalu lama berada pada polus superior dapat menimbulkan komplikasi akibat degenarasi lensa.6. yaitu m. maka yang terutama terkena ialah bagian pinggir dari N III yang mengandung serabut parasimpatis. m. Dua otot mata lainnya tidak ikut lumpuh. rektus internus.

misalnya pada : Herniasi Aneurisma Tumor Trauma Defisiensi vit B1 .       Infark Arteritis Tekanan (kompresi).

Diakses tanggal 14 Januari 2014 12. CJW. Sheppard J. Yanoff. Ophthalmology. Ophtalmology.emedicinehealth. Penerbit: FKUI. Asbury T. Kuhn F. Sidarta. edisi 2. Jack.com/ophthalmology/anterior. Hal 137-139. 2001.com/2009/10/11/trauma-tumpul-okuli/. Sanitato JJ. 2004. Balai Penerbit FK UI. diakses tanggal 14 Januari 2014 9. Morris R. 2006. Edisi Ketiga: Trauma Mata. Penerbit: FK Unair. J. 5. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Duker JS. 2008. Jakarta. MO: Mosby 7. Ilmu Penyakit Mata. M.htm. BETT: The Terminology of Ocular Trauma 6. Nurwasis. Teks Book 10. Widya Medika 2.com/eye_injuries/article_em. dkk. Trauma Tumpul Okuli. JS and Augsburger. 1998. http://belibis- a17. JJ. Ditjen Binkenmas. 416-419. 2012. Balai Penerbit FK UI. Louis. Alih bahasa: Oftalmologi Umum ed. 2nd ed. Ilyas. et al. Diakses tanggal 14 Januari 2014 13. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Penyakit Mata: Hifema pada Rudapaksa Tumpul. Duker. http://emedicine. Depkes RI. Crouch E. 2004:1391-1396 8. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Mo: Elsevier. Hasil Survey Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 3. St Louis. Surabaya. Hyphema. Witherspoon CD. Jakarta 4. 1995. 11. 2010. p. Eye Injuries. Rahman A. Ilyas. Clinical Oftalmologi: third edition. General Ophthalmology. 14. 2005. Twanmoh JR. 2nd ed. . Yanoff M. http://www.DAFTAR PUSTAKA 1. Hal 259-276. Jakarta. Jakarta.medscape. Sidharta. 2009. 2009. Lumbantobing. St.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->