PERBANDINGAN ANTARA CEFUROXIME DAN COAMOXICLAV PADA PENGOBATAN SINUSITIS AKUT DENGAN SAMPEL POPULASI MASYARAKAT DI IRAN

PENDAHULUAN Sinusitis akut adalah infeksi saluran pernafasan yang paling sering terjadi pada populasi dunia. Tanda dan gejala yang tampak pada sinusitis akut diantaranya demam, nyeri kepala, nyeri wajah, hidung tersumbat, batuk dan adanya discharge purulen dari hidung. Gejala yang tidak lebih dari empat minggu disebut sebagai episode sinusitis akut sedangkan gejala yang lebih lama dari itu, disebeut sebagai sinusitis kronik. Infeksi sinus oleh bakteri paling banyak terjadi, dan juga sebagai penyebab utama terjadinya sinusitis akut atau sebagai komplikasi sekunder dari infeksi saluran pernapasan atas oleh karena virus atau rhinitis alergika. Akut sinusitis biasanya didiagnosis dan diterapi oleh dokter umum. Sejak munculnya tanda dan gejala dari sinusitis bakterial akut yang disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernafasan atas atau alergi, penggunaan antibiotik untuk pengobatan sangat dianjurkan.

Penelitian metaanalisis terbaru yang membandingkan antara antibiotik dengan placebo pada sinusistis akut ditemukan bahwa antibiotik lebih efektif untuk

mengurangi gejala klinik dari pada placebo. Bagaimanapun menyimpulkan penelitian bahwa ini juga secara

antibiotik

umum lebih efektif ketika sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis sinusitis akut. Sangat jarang dokter umum mempraktekan pemeriksaan bakteriologik untuk menentukan agen

pathogen penyebab, dan terapi antibiotik secara empirik biasanya diresepkan untuk mengobati sinusitis bakterial akut. Terapi antibiotik yang bersifat empirik seharusnya selalu menggunakan obat-obatan yang

sensitif terhadap agen pathogen yang umum menyebabkan Streptococcus sinusitis pneumonia, termasuk Haemophilus

influenza, dan Moraxella catarrhalis. Hampir 100% dari isolasi kuman Moraxella catarrhalis, dan mencapai 40% dari stran H.influenzae memproduksi betalactamase dan menunjukan penurunan

sensitifitas dari beberapa antibiotik golongan

gambaran opac dari radiografi. Gejala sinusitis yang kurang dari 30 hari juga dimasukan dalam (penghasil beta-lactam dan bukan penghasil beta-lactam). penebalan lapisan sebesar 24 mm. PASIEN DAN METODE Penelitian ini adalah penelitian single-blind random yang menggunakan tehnik tenggorokan. nyeri telinga. postnasal drip. lemas. dan organisme yang tidak menghasilkan beta-lactamse yang sering menjadi pathogen penyebab penyakit dalam sistem pernafasan. dan sinus fullness. pada tahun 2007. dan atau terdapat gambaran air fluid level pada satu atau kedua sinus maksilaris juga menjadi syarat penelitian. nyeri kepala. Sebagai tambahan. Kombinasi dari amoksisilin dengan inhibitor beta-lactamase yaitu potassium clavulanat secara in vitro samasama aktif dalam melawan organisme penghasil beta-lactamase. Pasien yang memenuhi syarat adalah pasien yang harus mempunyai lebih dari sama dengan dua gejala penyerta yaitu : rhinorea.beta-lactam. Gejala klinik lain yang dimasukan tetapi tidak merupakan gejala esensial adalah termasuk demam. yang masing-masing diberikan selama 10 hari pada pasien sinusitis bakterial akut dengan sampel populasi masyarakat di Iran. sakit penggunaan Cefuroxime 250mg dua kali sehari dengan Co-amoxiclav 500/125mg tiga kali sehari. Subjek penleitian ini berjumlah 99 pasien. dan bersifat stabil terhadap enzim beta-lactamase. . sakit gigi. termasuk bakteri phatogen yang secara umum berhubungan dengan sinusitis akut. dan batuk. nyeri wajah. Hal ini telah teruji secara in vitro dengan spekturm organisme yang luas dari organisme gram positif dan organisme gram negatif sistematik random sampling pada pasien rawat jalan klinik yang dilakukan oleh Iran University of Medical Science. Tehran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dari penelitian ini. Seluruh pasien diharuskan menulis inform konsen terlebih dahulu sebelum mengikuti penelitian. Cefuroxime adalah antibiotik oral dari Chepalosporin generasi ke dua. yang menunjukan gejala klinik diagnosis dari sinusitis akut. hidung tersumbat. tergabung dari pasien yang berumurr 12 tahun dan yang berumur lebih tua. yang memiliki kemampuan penetrasi yang tinggi terhadap jaringan sinus.

pasien yang mengalami neutropeni. lemas dan limfadenopati servikal. yaitu 6-8 hari setelah dimulainya pengobatan. pasien yang imunocompromised. Kriteria fullness. dan 2-5 hari setelah pengobatan dihentikan. Pada setiap menerima antibiotik lain selama penelitian. Pasien akan dievaluasi jika pasien termasuk dalam kriteria inklusi. memiliki hipersensitivitas teradap penisilin. nyeri wajah. pemeriksa akan menilai apakah Penelitian ini menggunakan The Statistical . kronik. batuk. cephalosporins. sakit tenggorok. pasien yang ikut dalam penelitian klinik selama satu bulan sebelumnya. gangguan ginjal. penilaian. postnasal drip. nasal kongesti. irigasi termasuk sinus pembedahan 7 hari tanda dan gejala penyerta sudah menghilang. sudah mendapatkan sesuai dengan jumlah tujuan pengobatan penelitan. juga pasien yang telah mendapatkan terapai antibiotik sistemik 7 hari sebelumnya. mempunyai gangguan hati yang bersifat sedang atau berat. atau pernah dilakukan operasi sinus satu bulan sebelumnya. dan sebelumnya belum pernah dilakukan penilaian penyakit keberhasilan terapi terhadap infeksi lain selain sinusitis. sinus selama sebelumnya. Respon klinik dari pengobatan akan dikelompokan berdasarkan keberhasilan eksklusi berikutnya adalah pasien yang membutuhkan terapi inisiasi menggunakan steroid. nyeri gigi. terapi (tanda dan gejala klinik berkurang secara signifikan pada 2-5 hari setelah pengobatan) dan kegagalan terapi (tidak ada perubahan pada tanda dan gejala klinik pada penilaian awal sesudah pengobatan atau tidak terdapat hubungan antara pengobatan yang diberikan dengan gejala yang muncul). atau antibiotik beta lactam. Pasien kemudian di acak untuk mendapatkan terapi baik cefuroxim 250mg (n=57) maupun co-amoxiclav (n=42) selama 10 hari. Dasar demografi dan karaktersitik lain dari pasien akan dibedakan setelah angka keberhasilan terapi dari cefuroxime dan co amoxiclav sudah di evaluasi setelah dilakukan pengobatan. Pasien kemudian akan dinilai selama dilakukan terapi. serta pasien yang hamil dan sedang menyusui. yang tidak memiliki riwayat gangguan gastrointestinal yang dapat menyebabkan gangguan absorbsi antibiotik. nyeri kepala. Gejala yang diniliai adalah rhinorrhea.Pasien di eksklusi dari penelitian jika mereka terdiagnosis atau memiliki riwayat sinusitis sinus. nyeri telinga.

dengan melihat kenyataan bahwa efikasi dari cefuroxime dan co amoxiclav dapat di bedakan. Keberhasilan terapi yang memuaskan ditemukan pada 86% dan 71. Karaktersistik demografi pasien dan frekuensi gejala klinik akan dibedakan diantara dua kelompok penelitian. (p>0. Perlu menjadi perhatian bahwa pasien yang diperkenalkan ke pasaran obat. secara runtut. Tidak ditemukan perbedaan statistik yang signifikan antar kedua kelompok berdasarkan umur.Package for the Social Sciences (SPSS) untuk menganalisis data. Temuan dari penelitian ini sangatsangat penting dalam pembangunan ekonomi negara berkembang seperti Iran. yang akan digunakan untuk mengevaluasi respon pengobatan. HASIL Dari total 99 pasien yang menderita sinusitis akut. perbaikan distribusi presentasi klinik. Dokter-dokter biasanya lebih mempertimbangkan cephalosporin generasi mendertita sinusitis bakterial akut ketika dibandingkan dengan inflamasi sinus yang . sinus DISKUSI Cefuroxime perusahaan telah farmasi diproduksi Iran dan oleh telah radiografi juga dipertimbangkan sebagai kriteria dalam penlitian lain. jenis kelamin. 57 pasien menerima ke tiga sebagai pilihan alternatif terapi. klinis dan angka kesembuhan dari masingmasing protokol pengobatan memiliki beberapa perbedaan dengan hasil penelitian sebelumnya. Sangat penting untuk memperkenalkan cefuroxime.005). Hal ini biasanya disebabkan oleh adanya ancaman resistensi antibiotik di sebuah Negara. ketika pasien yang menderita sinusitis akut tidak mendapatkan respon dengan terapi coamoxiclav. dan sehari.4% dari evaluasi klinik pasien yang diterapi dengan cefuroxim atau coamoxiclav. Kami percaya bahwa tidak memasukan sinus radiografi sebagai variabel di penelitian ini dapat menyebabkan angka kesembuhan menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian lain. Dalam penelitian ini. Hal ini juga perlu menjadi perhatian karena penggunaan cefuroxime hanya diberikan 2 kali sehari dibandingkan dengan co-amoxiclav yang diberikan 3 kali pengobatan cefuroxime dan 42 pasien menerima pengobatan co-amoxiclav. Hal ini mungkin berhubungan dengan kenyataan bahwa sebagai penambahan dari tanda dan gejala klinik.

peningkatan kepatuhan pasien dengan pengobatan cefuroxime jika dibandingkan dengan co- . gambaran radiografi sinus yang abnormal pada tanda dan gejala klinik penyakit dapat mengindikasikan adanya inflamasi yang parsisten atau pembersihan secret yang lebih lambat dari pada eliminasi infeksi bakteri. Lagi pula. Penemuan dari penelitian ini dapat mendukung hasil dari penelitian lain yang disebabkan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan. dan sudah tersedia dalam bentuk generik dalam beberapa tahun ini. Hal ini menjadi bermakna karena cefuroxime adalah antibiotik yang sudah lama berada di Negara ekonomi secara signifikan lebih efektif dari pada placebo pada pasien yang menderita sinusitis akut. karena pemantauan radiografi tidak digunakan berkembang. Secara khas. Sebagai penambahan. gambaran radiologinya mungkin masih bisa memberikan gambaran yang abnormal setelah menyelesaikan akan efikasi mendemonstrasikan antara cefuroxime ini perbandingan dengan co- amoxiclav. perlu menjadi pertimbangan bahwa sangat banyak antibiotik di Iran. Aktivitas spectrum yang luas dari cefuroxime. Penelitian menyimpulkan meta-analisis bahwa terapi terbaru antibiotik sinusitis akut dan daya tahan yang tinggi terhadap enzim beta-lactamase. Penelitian menunjukan evidence terbaru bahwa cefuroxime adalah terapi yang efektif untuk mengobati sinusitis akut. kenyataannya. yang yang mengalami resistensi dalam praktek pelayanan primer.kronik atau penebalan lapisan sinus yang kronik. tetapi penelitan tersebut menggunakan radiografi sebagai bukti adanya sinusitis. Lebih kepatuhan pasien lebih tinggi terhadap cefuroxime yang diminum dua kali sehari dibandingkan dengan co-amoxiclav yang diminum tiga kali sehari. Peneliti menyadari bahwa hal ini adalah salah satu dari kelemahan penelitian. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai kegagalan dalam pengobatan Pada berdasarkan gambaran radiologi. termasuk daya lawan yang baik terhadap agen pathogen utama penyebab pengobatan. peneliti memasukan pasien dengan perbaikan gejala yang didefinisikan sebagai keberhasilan terapi tetapi pemantauan secara radiografi tidak digunakan sebagai variabel. mengindikasikan bahwa cefuroxime adalah pilihan sinusitis yang sesuai untuk mengobati lanjut bakterial akut.

. hasil dari bahwa menunjukan penggunaan cefuroxim 250mg 2 kali sehari selama 10 hari memiliki efektivitas yang sama dengan penggunaan co- amoxiclav500/150mg selama 10 hari pada pengobatan sinusitis akut.amoxiclav dapat berguna untuk meminimalisasi resistensi antibiotik. Sebagai penelitian ini kesimpulan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful