KASUS TUTORIAL KLINIK

I.

Identitas Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Stastus Pernikahan : Nn. Ulfi Fathoroni : 15 tahun : Perempuan : Islam : Pelajar, Kelas 1 SMA : Pondok pesantren gontor putri, JATIM : Belum menikah

II.

Keluhan Utama Nyeri pada wajah kiri

III.

Riwayat Penyakit Sekarang Sejak dua tahun yang lalu pasien sering merasa nyeri pada wajah bagian kiri. Pasien juga merasakan sering bersin-bersin pada pagi hari, dan mengeluarkan sekret bening. Sejak dua hari yang lalu pasien merasa nyeri wajah disertai rasa sakit di kepala, sehingga mengganggu aktifitas belajar di pondok pesantren. Pasien juga merasakan hidung kiri tersumbat. Gejala nyeri pada wajah memberat pada pagi hari, dan berkurang pada siang hari. Untuk pengobatan, pasien tiga bulan yang lalu telah menjalani operasi irigasi sinus. Operasi dilakukan dengan posisi duduk.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien sering mengalami bersin-bersin pada pagi hari sejak 2 tahun yang lalu, sekret yang keluar berwarna bening. Enam bulan yang lalu pasisen didiagnosis menderita sinusitis kronis oleh dokter THT, dan dilakukan operasi irigasi sinus.

Kepala Trauma Nyeri Kepala Sinkop Nyeri sinus 2. dan tidak memiliki riwayat asma. Hidung Trauma Epistaksis Pilek Nyeri Gejala Penyumbatan Sekret (-) (-) (+) (-) (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (+) (-) (+) . Mata Nyeri ikterik Radang Sekret Konjungtiva anemis Gangguan penglihatan 3. Pasien tidak memiliki riwayat gigi berlubang. Telinga Tuli Otorea Vertigo Tinitus Otalgia 4.Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan. V. Anamnesis Sistem 1.

Muskuloskeletal (-) (-) (-) : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn VI. Terdapat hipertrofi konka pada hidung kiri 3. VII. VIII. Urogenital 9.Gangguan penciuman 5. dan tidak berdebu. Kardiovaskular 7. Pasien memiliki kebiasaan makan teratur. Lingkungan tempat tinggal bersih. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Rhinoskopi didapatkan : 1. Pasien mengeluh sering bersin ketika bangun pagi. Mukosa hiperemis pada hidung kanan IX. Caldwell 2. Kebiasaan dan Lingkungan Pasien tinggal di pesantren Gontor Putri. Keluarga tidak memiliki riwayat alergi dan asma. Keluarga juga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi dan Diabetes Mellitus. Tenggorokan Nyeri Perubahan suara 6. Waters . Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Penunjang yang di sarankan adalah foto rongent 4 posisi : 1. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga tidak ada yang menderita keluhan serupa. Terdapat sekret pada Meatus Nasi Media 2. Integumentum 10. Digesti 8.

Rhinosinusitis XI. Terapi Farmakoterapi Paracetamol Amoxiclav Tremenza : 3x500mg : 3x500mg : 3x 60mg Metil Prednisolon : 1x 8mg Terapi Bedah 1.3. Bedah sinus endoskopi fungsional 2. Kultur biakan X. Lateral 4. CT-SCAN 6. Prognosis Ad sanam Ad vitam Ad fungsionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam . Diagnosis Banding 1. Submentovertikal 5. Prosedur operasi Caldwell-Luc XII. Sinusitis Maksilaris Kronik 2.

dan oleh karena itu menyebabkan predisposisi infeksi. Pada sinusitis akut perubahan patologik membrana mukosa berupa infiltrate polimorfonuklear. alergi hidung kronik. Penyebab tersering sinusitis maksilaris adalah infeksi saluran nafas atas karena virus.PEMBAHASAN I. DEFINISI Sinusitis maksilaris adalah peradangan atau inflamasi pada mukosa sinus maksilaris. dan disebut kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan. yang semuanya bersifat reversibel. campak. sehingga akan terjadi gangguan drainase dan ventilasi di dalam sinus. kongesti vascular dan deskuamasi epitel permukaan. yang mengakibatkan terjadinya kegagalan pengeluaran secret sinus. dan batuk rejan. Hanya 10% diakibatkan oleh radang pada gigi molar atau premolar. Kegagalan dalam mengobati sinusitis akut yang berulang akan menyebabkan regenerasi epitel permukaan bersilia yang tidak lengkap. PATOFISIOLOGI Secara ringkas pathogenesis dari terjadinya sinusitis maksilaris adalah adanya infeksi akan menyebabkan terjadinya edema di kompleks ostiomeatal. dan adanya corpus alienum. Sumbatan yang terus menerus menyebabkan hipoksia dan retensi lendir sehingga terjadi infeksi bakteri. Disebut sinusitis akut apabila gejalanya berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu. ETIOLOGI Sinusitis maksilaris adalah sinusitis yang paling sering terjadi. disebut sub akut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan. II. Sumbatan drainase dapat pula ditimbulkan oleh oleh perubahan struktur ostium sinus. Penyebab lain yang sering adalah karena menyelam dan fraktur tulang maksila dan tulang frontal. seperti rhinitis akut. atau lesi dalam rongga hidung misalnya hipertrofi adenoid. Faktor predisposisi terjadinya sinusitis maksilaris juga termasuk defiasi septum. III. Hal ini akan menimbulakan akumulasi lender yang kental yang merupakan media yang baik bagi peetumbuhan bakteri pathogen. tumor hidung dan nasofaring serta deviasi septum. Faktor predisposisi yang paling lazim adalah poliposis .

IV. Mukosa umumnya menebal. membentuk lipatan-lipatan atau pseudo polip. Selama eksaserbasi akut. diluar masa itu gejala sinusitis kronik berupa perasaan penuh pada hidung dan wajah dan hipersekresi yang sering kali mukopurulen. Disamping antibiotik dan dekongestan. gejalanya mirip dengan sinusitis akut.nasal. juga perlu diperhatikan predisposisi kelainan obstruktif dan keadaan alergi yang mungkin ada. Kadang-kadang terdapat nyeri kepala. dan keluhan-keluhan yang menonjol. GEJALA dan TANDA Gejala sinusitis kronik tidak jelas. Alergi juga dapat merupakan predisposisi infeksi karena terjadi edema mukosa dan hipersekresi. ada gejala faktor predisposisi seperti rhinitis alergika yang menetap. Mukosa sinus yang membengkak dapat menyumbat ostium sinus dan mengganggu drainase. Biasanya didapatkan pembentukan mikroabses. dan siklus seterusnya berulang. Namun. yang timbul pada rhinitis alergika. Batuk kronik dengan laryngitis kronik ringan atau faringitis seringkali menyertai sinusitis kronik. metaplasia. Epitel permukaan tampak mengalami deskuamasi. V. . Gambaran patologik sinusitis kronik adalah bersifat kompleks dan reversibel. Hidung biasanya sedikit tersumbat. Secara menyeluruh terdapat infiltrasi sel radang dan polimorfonuklerar dalam lapisan submukosa. dimana polip dapat memenuhi rongga hidung dan menyumbat total ostium sinus. Tindakan bedah diperlukan apabila terapi konservatif kurang memadai. dan jaringan granulasi bersama-sama dengan pembentukan jaringan parut. yang menyebabkan infeksi lebih lanjut yang selanjutnya menghancurkan epitel permukaan. PENATALAKSANAAN Pengobatan harus berupa terapi infeksi dan faktor-faktor penyebab infeksi secara berbarengan. regenerasi.

2) Mukokel     Kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus. namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita.VI. Kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris. setelah sistem vena. disebut kista retensi mukus. 3) Komplikasi Intra Kranial   Meningitis akut (komplikasi sinusitis yang terberat). mukoperiosteum sinus terinfeksi. KOMPLIKASI 1) Komplikasi orbita  Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus. adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium. maka terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. Proses ini timbul lambat. Gejala yang timbul sama dengan abses dura. Abses dura.   Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid. sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial. Biasanya tidak berbahaya. Abses otak.  Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful