Pani Zaristian Vaspintra Karl Marx dan Perdamaian Karl Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di Kota

Treves (Trieste, Trier), Provinsi Rhein di Prusia. Karl Marx muda mengalami sendiri masa-masa perkembangan awal kapitalisme dimana sawah-sawah mulai digusur untuk pendirian pabrik-pabrik, hingga para petani miskin yang kehilangan tanahnya terpaksa melamar bekerja di pabrik-pabrik. Banyak sumber mengatakan bahwa Marx senang bermain di Sawah ketika masa kecilnya dulu. Pengamatan yang dilakukannya sepanjang masa kecilnya itu, kelak dituangkan dalam analisis yang terinci mengenai perkembangan kapitalisme dan hubungannya dengan masalah pertanian. Marx muda mengikuti semua berita politik melalui koran yang ada di negerinya. Ayahnya, Heinrich Marx, adalah seorang yang terpandang di kalangan masyarakat Jerman, Marx mewarisi satu semangat mempelajari filsafat. Ayahnya yang terpelajar, meminati bacaan filsafat dari John Locke, terutama karya-karya awalnya yang sangat kental mengandung filsafat Materialisme, dan Diderot. Pembicaraan-pembicaraan yang ada di dalam keluarga inilah yang kelak membangkitkan minat Marx muda untuk mempelajari filsafat, terutama sekali materialisme. Pandangan Marx tentang perdamaian adalah adanya perjuangan kelas buruh yang sampai pada pengakuan akan perlunya dictator proletariat. Hal ini merupakan upaya untuk merealisasikan masyarakat tanpa kelas. Pola kemasyarakatan ini akan membentuk sistem sosialis dimana setiap orang akan diperlukan kemampuannya dan pada setiap orang akan diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Pemikirannya tersebut sangat dipengaruhi oleh pandanganya terhadap kapitalisme, dimana ia menganggap bahwa kapitalisme hanya akan memperbesar kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dalam pandangannya, masyarakat semacam ini tidak dapat hanya ditunggu, namun harus segera diciptakan. Untuk merealisasikan idenya tersebut, Marx kemudian mendemontrasikan keberadaan kelas-kelas sosial dalam fase sejarah dalam perkembangan akan kepemilikan faktor produksi. Perjuangan kelaa yang dilakukan pun ditujuan untuk membentuk kediktatoran proletariat, dimana akhirnya, sebagaimana ide yang digagas Marx, kediktatoran ini adalah sebagai bentuk transisi dari penghilangan semua jenis kelas sosial sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas. Seperti yang dicitacitakannya, perdamaian akan terwujud melalui mekanisme perwujudan konsep dan pandangan yang ia gulirkan.

Novitasari Dewi S. Peace Ideas of Thomas Aquinas

• •

Thomas Aquinas (terkadang juga disebut Thomas Aquino) adalah seorang teolog ternama. Beliau lahir di Roccasecca, Italia, sekitar tahun 1225. Ayahnya adalah Pangeran Landulf dari Aquino. Thomas Aquinas berasal dari keluarga penganut Katolik yang sangat taat. Oleh karena itu, pada umur 5 tahun ia sudah diserahkan ke Biara Benedictus di Monte Cassino untuk dididik menjadi biarawan kelak. Ajaran dan pandangan Thomas Aquinas banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, yang kemudian ia selaraskan dengan pandangan Alkitab. Dalam pandangan Aquinas, untuk menjustifikasi sebuah perang, dibutuhkan tiga hal. Pertama, adanya otoritas dari raja / penguasa. Kedua, adanya penyebab yang benarbenar jelas. Ketiga, memiliki maksud / tujuan yang benar. Dalam ajaran Aquinas, tujuan dari hidup manusia (keberadaan manusia di bumi) adalah untuk bersatu dan “bersahabat” dengan Tuhan. Tujuan besar ini membawa implikasi bagi hidup manusia. Aquinas menyatakan bahwa “kemauan” atau “niat” seseorang harus ditujukan untuk hal-hal yang baik, seperti beramal, perdamaian, maupun kesucian. Inilah cara untuk mencapai kebahagiaan. Thomas Aquinas' Quotes: • “Three things are necessary for the salvation of man : to know what he ought to believe, to know what he ougth to desire, to know what he ought to do.” • “There is nothing in this earth more to be prized than true friendship.” • “Friendship is the source of the greatest pleasures, and without friends even the most agreeable pursuits become tedious.” • “Because of the diverse conditions of humans, it happens that some acts are virtuous to some people, as appropriate and suitable for them, while the same acts are immoral for others, as inappropriate to them.” • “Good can exist without evil, whereas evil cannot exist without good...”

Sukmawani Bela Pertiwi Napoleon, Politics, Peace, and Power “I still love you, but in politics there is no heart, only head.” “He accepted peace as if he had been defeated.” “Power is my mistress. I have worked too hard in conquering her to allow anyone to take her from me, or even to covet her.” Napoleon Bonaparte, dua dari delapan bersaudara, (1769-1821) lahir pada 15 Agustus 1769 di Corsica, sebuah pulau di Laut Tengah di bawah kekuasaan Prancis, dari pasangan Carlo Buonaparte dan Leticia Ramolino Bonaparte yang sama sekali tidak berkecimpung di dunia militer. Thanks to his father's influence, Napoleon bersekolah di sekolah militer Brienne dan Ecole Militaire atas biaya Raja Louis XVI. Sejak itu kariernya di dunia militer melejit. Napoleon ikut menjadi tokoh sentral dalam revolusi bersejarah Eropa, Revolusi Prancis (1789-1799), yang menjatuhkan monarki absolut dan membangun sebuah negara demokratis. Dalam kepemimpinannya itulah, kita dapat melihat ide perdamaiannya yang secara implicit tampak dalam tujuan yang ingin dicapainya, yaitu mendirikan negara Eropa sebagai “federation of free people”. Untuk mencapai “perdamaian”nya itu, dia berperang menakhlukkan sebagian besar negara-negara Eropa dalam perang Napoleón (1799-1815). Di semua kekuasaannya itu, dia melakuan banyak perubahan, seperti penghapusan feodalisme dan perbudakan, adanya kebebasan beragama, dan dibentuknya konstitusi per negara. Napoleón juga sangat memperhatikan bidang pendidikan yang adil bagi warganya. Meskipun begitu, dia memerintah secara otoriter, kadang seperti tiran. Hal itu juga, ditambah dengan kekalahannya di Rusia, mendorong perlawanan dari negara-negara yang dikuasainya. Napoleón jatuh dan pada akhirnya diasingkan di Saint Helena hingga meninggal pada 5 Mei 1821.

Maria Yeni Wulandari “Amartya Sen” ”Sumber kehidupan telah cukup tersedia di dunia, sehingga tak boleh ada seorang pun yang lapar...” (Amartya Sen dalam The Poverty and Famines, 1981) Amartya Kumar Sen, adalah seorang ekonom terkenal dan juga seorang filsuf dari India. Ia lahir di Santiniketan, Bengal Barat, pada 3 November 1933. Ia pernah mendapat Nobel dalam bidang ekonomi atas karyanya dalam ekonomi kesejahteraan pada 1998 dan Bharat Ratna pada 1999. Pada 2003 ia juga dianugerahi Lifetime Achievement Award oleh Kamar Dagang India. Ia juga menjadi salah satu elite Profesor Universitas di Universitas Harvard. Pendidikan yang didapatnya di India pertama-tama di sistem sekolah dari Universitas Visva-Bharati, Kolese Presidency, Kolkata, dan di Sekolah Ekonomi Delhi, kemudian melanjutkan ke Kolese Trinity, Cambridge, memperoleh gelar BA pada 1956, lalu memperoleh gelar Ph.D. pada 1959. Ia pernah mengajar ekonomi di Universitas Calcutta, Universitas Jadavpur, Delhi, Oxford, Sekolah Ekonomi London, Harvard, dan menjadi master dari kolese Trinity, Cambridge antara 1997 dan 2004, kemudian kembali lagi ke Harvard. Ketenaran Sen ada pada karyanya mengenai kelaparan, perkembangan manusia, ekonomi kesejahteraan, dan lainnya. Kelaparan yang terjadi di Bengal tahun 1943, bukan semata-mata karena tidak ada pangan, tapi karena adanya inflasi di Calcutta tahun 1942. Ia juga tergugah oleh kelaparan dahsyat yang menewaskan hingga 100.000 orang di Bangladesh tahun 1974. Ia menentang bahwa kelaparan terjadi karena kelangkaan pangan. Karena ternyata kelaparan tidak ada hubungannya dengan panen, bahkan saat itu produksi justru tertinggi dibandingkan periode lainnya. Dan permasalahan ada pada kenaikan beras dunia yang mendongkrak harga beras lokal yang tak terjangkau oleh petani setempat. Sen menyimpulkan bahwa kelaparan bukan masalah cukup tidaknya bahan makanan, tetapi distribusi sumber daya. Distribusi sumber daya di negara demokratis terkait dengan sistem informasi, sehingga Sen percaya bahwa pers merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mengatasi persoalan pembanguan. Sen menulis banyak karya kritis mengenai wabah kelaparan tersebut. Melalui tulisantulisannya, ia mengetengahkan wacana bahwa pembangunan dunia ketiga harusnya dipahami sebagai perluasan kemampuan manusia, atau dengan kata lain sebagai proses peningkatan manusia bukan semata-mata peningkatan pendapatan per kapita nasional, sehingga perlu kebijakan yang lain. Lebih dari semua itu, setelah saya mencoba mencari-cari tahu siapa Amartya Sen, saya bisa menyimpulkan bahwa Amartya Sen tidak hanya ahli di bidang ekonomi dan filsafat saja, di mana ia begitu peduli terhadap kaum papa, juga membongkar masalah identitas yang menjadi pemicu konflik di India ketika terjadi wabah kelaparan, tetapi ia juga seorang yang penuh simpati dan memberikan perhatian pada segalanya, yang ada di dunia sekitarnya, pun ketika ada isu terorisme pada peristiwa WTC.

Anggia Permatasari John Lennon John Winston Lennon, seorang pria asal Inggris yang lahir pada 9 Oktober 1940, dikenal sebagai musisi rock, pencipta lagu, dan aktivis perdamaian. Lennon memulai karir bermusiknya bersama The Quarrymen, yang dibentuknya pada tahun 1957 bersama dengan Paul McCartney, dan diikuti dengan bergabungnya George Harrison dan Stuart Sutcliffe. The Quarrymen kemudian menjadi awal dari terbentuknya The Beatles, band yang melambungkan namanya sebagai musisi. Bersama The Beatles, Lennon berhasil mencetak hits-hits dan mencapai popularitas tertinggi dalam dunia musik, hingga ia sempat berkata bahwa The Beatles lebih popular daripada Yesus. Kata-katanya ini mengundang kontroversi dan akhirnya membuat The Beatles sempat dicekal di radio-radio. Setelah itu muncul aksi protes dan pembakaran album The Beatles, barulah Lennon meminta maaf di hadapan publik. Sayangnya perjalanan Lennon bersama The Beatles harus berhenti tahun 1970. Dengan alasan tidak cocok lagi menjadi “pendamping” McCartney, Lennon mengundurkan diri, membubarkan The Beatles, dan memilih untuk bersolo karir. If someone thinks that love and peace is a cliche that must have been left behind in the Sixties, that's his problem. Love and peace are eternal. And so this is Xmas for black and for white, for yellow and red, let's stop all the fight. All we are saying is give peace a chance. If everybody wished for peace instead of another television set, then there would be peace. Lennon juga dikenal sebagai aktivis perdamaian. Selain menyampaikan pikirannya tentang perdamaian melalui quotes-quotes tersebut diatas, ia juga mewujudkan pemikirannya melalui lagu “Give Peace a Chance” dan “Imagine” yang dipopulerkannya saat bersolo karir bersama istri keduanya, Yoko Ono. Lagu “Give Peace a Chance” direkam saat Lennon dan Ono mengadakan acara “Bed-in for Peace” di Montreal tahun 1969. Hingga saat ini kedua lagu tersebut menjadi “lagu kebangsaan” perdamaian. Selain itu, Lennon juga tampil dalam acara “Free John Sinclair” yang merupakan konser untuk menuntut agar John Sinclair, seorang aktivis antiperang, dibebaskan. Dan 3 hari kemudian Sinclair dibebaskan. Sangat disayangkan umur Lennon ternyata tidak panjang. Pada 8 Desember 1980, Lennon meninggal karena ditembak oleh David Chapman, seorang penggemarnya. Kematiannya terus dikenang seluruh penggemarnya. Terutama di The Strawberry Fields Memorial di Central Park, New York, yang juga menjadi tempat untuk mengenang peristiwa 11 September dan kematian George Harrison.

Rizka Pramadita

HENRY DAVID THOREAU Henry David Thoreau, terlahir dengan nama David Henry Thoreau pada tanggal 12 July 1817 di Concord, Massachusetts. Thoreau berasal dari keluarga yang relative miskin, ayahnya merupakan pembuat pensil dan ibunya mengelola rumahnya menjadi semacam penginapan. Thoreau menempuh pendidikan di Harvard antara 1833 sampai 1837. Setelah kelulusannya, Thoreau berkenalan dengan Ralph Waldo Emerson yang kemudian menjadi pintu gerbangnya ke dunia transedentalisme (filosofi hidup yang menekankan pentingnya mistisisme dan individualisme). Dalam pandangan transendentalis, alam merupakan indikator badaniah dari jiwa yang tidak kasat mata, dan tanda dari adanya “radical correspondence of visible things and human thoughts,” tulis Emerson dalam Nature (1836).Emerson juga lah yang mendorongnya untuk belajar menulis secara periodikal dalam bentuk essay, cerita pendek, maupun jurnal harian. Pada tanggal 25 Juli 1846, Thoreau dimasukkan penjara karena menolak tunggakan pajaknya selama enam tahun. Thoreau menolak membayar pajak karena dia tidak setuju dengan kebijakan Negara mengenai perang antara Amerika Serikat dan Meksiko, serta masalah perbudakan. Keesokannya Thoreau dibebaskan dari penjara karena bibinya akhirnya menebusnya dan membayar tuggakan pajaknya. Pengalaman ini sangat mempegaruhi pemikiran-pemikiran Thoreau selanjutnya. Pada bulan Januari dan Februari 1848, Thoreau menyampaikan pidato mengenai “Hak dan Kewajiban Setiap Individu dalam Kaitannya dengan Pemerintah” dan menjelaskan protes pajaknya di Concor Lyceum. Thoreau kemudian merevisi pidatonya ini dan menulisnya kembali ke dalam bentuk essay dengan judul Resistance to Civil Government yang lebih dikenal dengan nama Civil Disobedience. Dalam essay ini, beberapa idenya membuat Thoreau dianggap beberapa orang sebagai inspirasi untuk para anarkis, Thoreau menulis, “I ask for, not at once no government, but at once a better government. That government is best which governs not at all;' and when men are prepared for it, that will be the kind of government which they will have.” Menjelang akhir kehidupannya, sekitar tahun 1851, Thoreau mendalami sejarah alam dan tulisan-tulisan mengenai perjalanan atau ekspedisi. Thoreau sangat mengagumi tulisan Voyage of the Beagle yang ditulis oleh William Bartram dan Charles Darwin. Dia mencatat secara detil keadaan alam di hutan sekitar tempat lahirnya di Concord. Thoreau kemudian menjadi ”land surveyor” dan terus menulis mengenai observasi terhadap kotanya dalam jurnal selama 24 tahun, dan membuahkan dokumen sepanjang dua juta kata. Thoreau meninggal pada tahun 1859 karena menderita TBC dan Bronkitis kronis. Kehidupan dan filosofinya yang mencerminkan kesederhanaan, kepedulian terhadap sejarah alam, pengetahuan mengenai ekologi dan cikal bakal environtmentalism, serta essay terpopulernya, Civil Disobedience, mengenai resistensi individual yang tidak sependapat secara moral dengan kebijakan Negara, telah menginspirasi banyak tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Presiden John F. Kennedy, aktivis HAM Martin Luther King, Jr., Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat William O. Douglas, sastrawan Rusia Leo Tolstoy, Edward Abbey, Willa Cather, Marcel Proust, William Butler Yeats, Sinclair Lewis, Ernest Hemingway, E. B. White, dan Frank Lloyd Wright dan naturalis seperti John Burroughs, John Muir, E.O. Wilson, Edwin Way Teale, Joseph Wood Krutch , B.F Skinner, dan David Brower. Essaynya, Civil Disobedience, memberi pengaruh besar terhadap gerakan Satyagraha milik Mahatma Gandhi. Gandhi pertama kali membaca essai tersebut pada tahun 1906 ketika di bekerja sebagai aktivis HAM di Johannesburg, Afrika Selatan. Gandhi mengatakan bahwa, "[Thoreau's] ideas influenced me greatly. I adopted some of them and

recommended the study of Thoreau to all of my friends who were helping me in the cause of Indian Independence. Why I actually took the name of my movement from Thoreau's essay 'On the Duty of Civil Disobedience,' written about 80 years ago." Menurut saya, ide Thoreau mengenai civil resistance to government, kesederhanaannya, serta kepeduliannya terhadap alam merupakan contoh tindakan yang bisa kita ambil untuk mewujudkan perdamaian serta menghentikan kekerasan. Individu sebagai warga negara bisa menggunakan identitas kewarganegaraannya dengan segala hak serta kewajibannya untuk berkontribusi menghentikan kekerasan structural berupa kebijakan atau peraturan pemerintah yang sifatnya diskriminatif atau pro-kekerasan.

Dian Damaita Tanduk Kant Perpetual Peace Immanuel Kant (1724 - 1804) merupakan salah satu filsuf yang paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat. Kontribusinya terhadap metafisik, epistemologi, etika, dan estetika, mempunyai dampak yang sangat besar pada hampir semua pergerakan filsafat setelahnya. Kant lahir pada di Konigsberg, sebuah kota di Prusia timur. Seluruh riwayat hidup Kant selanjutnya terpusat di kota tersebut. Kant tidak pernah bepergian lebih jauh dari lima puluh mil dari kampung halamannya. Meski demikian, karya-karyanya mempunyai pengaruh yang sangat besar--laiknya revolusi Copernicus--dalam dunia filsafat. Karyakaryanya yang termasyhur antara lain: Critique of Pure Reason (1781), Prolegomena to any future Metaphysics (1783), Foundation of The Metaphysis of Ethics (1785), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgement (1790). Di samping itu, Kant juga memberikan kontribusi bagi hubungan kerjasama internasional lewat karyanya yang berjudul Perpetual Peace (1795). Tesis central dari karya-karya Kant--bahwa apa yang mungkin diketahui oleh manusia (tentang realitas) mensyaratkan partisipasi aktif dari pemikiran manusia--sebenarnya cukup sederhana, tapi detil pada aplikasinya luar biasa kompleks. Pemikiran Kant dalam teori pengetahuan sering disebut sebagai revolusi kantian. Ada dua alasan mengapa disebut demikian. Pertama, kant mengubah trend filsafat Barat yang sebelumnya memfokuskan diri pada pertanyaan ontologis (apa itu realitas?) ke fokus yang lebih epistemologis (bagaimana pengetahuan tentang realitas itu mungkin?). Kedua, Kant berhasil mensintesakan dua teori pengetahuan yang selama berabad-abad tidak terjembatani, yaitu antara rasionalisme yang menekankan pada rasio sebagai sumber pengetahuan, dan empirisme yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Selanjutnya dalam Perpetual Peace dikatakan bahwa: jika kita menginginkan perdamaian kekal (perpetual peace), kita bisa memulainya dengan suatu negara universal (world state). Namun menurut Kant hal tersebut tidak mungkin dikarenakan beberapa alasan yaitu : 1. Perbedaan bahasa dan agama secara alami memisahkan negara-negara. 2. Jika negara-negara menyerahkan kedaulatannya (di bawah satu payung besar) maka gagasan 'negara' tidak lagi ada. 3. Negara dunia (world state) pada hakikatnya bersifat lalim. 4. Ketidakmungkinan adanya satu penguasa tunggal yang mengontrol seluruh dunia. Sehingga kita membutuhkan suatu federasi dari negara-negara merdeka yang dilandasi hukum internasional. Seluruh konflik yang terjadi antara negara-negara yang ada, akan diselesaikan melalui diskusi dan arbitrasi legal. Sebuah federasi internasional bisa dibentuk dengan aturan-aturan awal (preliminary articles) sebagai berikut: 1. Traktat perdamaian tidak bisa dipegang teguh apabila masih ada kesepakatan tidak terucap akan adanya perang di masa mendatang. 2. Tidak ada negara merdeka, besar atau kecil, yang berada di bawah kuasa negara lain. 3. Standing army (miles perpetuus) harus dihapuskan secara total. 4. Hutang negara tidak disangkutpautkan dalam hubungan antarnegara. 5. Tidak ada negara yang mengintervensi konstitusi maupun pemerintahan negara lain. 6. Selama masa perang, tidak ada negara yang melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan hostility--seperti pembunuhan (percussores), memata-matai (venefici), pelanggaran kapitulasi, dan dorongan berkhianat (perduellio) terhadap negara lawan--yang mengakibatkan kepercayaan bersama terhadap perdamaian setelahnya menjadi mustahil.

Preliminary articles ini bertujuan memastikan keamanan negara-negara merdeka dan menghilangkan konflik di antara mereka. Untuk mengimplementasikan preliminary articles tersebut, dibutuhkan prasyarat yang termuat dalam definitive articles, yaitu: 1. Konstitusi dari setiap negara harus Republikan, yang berarti pada parakteknya: kebebasan bagi tiap anggota dari komunitas, hukum tunggal, seta prinsip kesetaraan hukum. 2. Law of Nations harus didirikan di atas Federasi Negara-negara Merdeka. 3. Law of World Citizenship harus dibatasi dan didasarkan pada kesediaan universal (universal hospitality). Meskipun Perpetual Peace tidak masuk dalam deretan karya-karya Kant yang termasyhur. Namun karya ini disusun pada masa senja hidupnya, di mana pemikiran Kant sudah lebih matang dibandingkan pada masa-masa sebelumnya.

Theodora Retno S.U. PEACE IDEAS OF MOHANDAS KARAMCHAND GANDHI M.K Gandhi lahir di Porbandar, India pada tanggal 2 Oktober 1869. Ia adalah seorang pemimpin spiritual juga pemimpin politik paling berpengaruh di India, terutama dalam pergerakan kemerdekaan India tahun 1990an. Ia juga disebut Mahatma Gandhi yang berarti Great Soul. Gandhi bukanlah warga yang kaya, punya titel, maupun derajat akademik. Namun dalam kesederhanaanya, Gandhi dapat membuat perubahan besar bagi negara dan bangsanya, India. Kedamaian dalam hidupnya ia perlihatkan dalam sifat dan tindakannya yang sederhana. Ia selalu menerapkan hidup mandiri, terutama dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Bila Gandhi mengajukan suatu protes atas ketidakadilan yang terjadi, hal itu tidak ia tunjukan dengan kekerasan, melainkan aksi puasa. Sumbangannya terhadap perdamaian sangat banyak. Seperti yang ia katakan, "Peace will not come out of a clash of arms but out of justice lived and done by unarmed nations in the face of odds." Gandhi sangat yakin bahwa perdamaian bisa diwujudkan tanpa kekerasan, cukup dengan menyebarkan kasih terhadap sesama. Banyak hal yang telah ia lakukan untuk mewujudkan perdamaian. Tahun 1893, Gandhi pernah bekerja di Afrika Selatan yang pada saat itu dikuasai oleh Inggris. Di sana, ia tidak mendapatkan haknya sebagai warga sipil, juga orang India lainnya. Selama di Afrika Selatan, ia memperjuangkan hak-hak orang India di sana dengan aksi-aksi sosial berdasarkan prinsip tanpa kekerasan dan kebenaran yang disebut Satyagraha. Tahun 1915, Gandhi pulang ke India dan mulai memimpin pergerakan nasionalis India. Ia tetap menggunakan Satyagraha sebagai senjatanya melawan penjajahan Inggris.Ia juga melakukan aksi tidak melakukan kerja sama dengan penjajah. Karena sikapnya ia sering dimasukkan penjara. Namun hal itu ia anggap sesuatu yang terhormat karena ia masuk penjara untuk membela keadilan. Ia juga berpuasa untuk mempengaruhi orang lain agar tidak melakukan kekerasan. Setelah India mendapatkan kemerdekaannya tahun 1947, dan dibagi menjadi India dan Pakistan, Gandhi juga berperan dalam menganjurkan perdamaian antara warga Hindu dan Muslim. Ia berpuasa untuk menghentikan pertumpahan darah. Tanggal 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh oleh seorang fanatik Hindu yang menolak program Gandhi dalam bertoleransi untuk semua agama dan kepercayaan. Karena jasa-jasanya, di India ia mendapat penghargaan sebagai Father of Nation dan hari lahirnya, 2 Oktober, diperingati sebagai Gandhi Jayanti. Tanggal itu juga disepakati oleh PBB sebagai Hari Internasional Tanpa Kekerasan. M.K Gandhi adalah salah satu tokoh besar yang dapat membuktikan bahwa perdamaian bisa diwujudkan tanpa kekerasan dalam arti yang sebenarnya. Ia lebih memilih berpuasa, tidak bekerja sama dengan penjajah, memenuhi kebutuhan sendiri, membalas kekerasan dengan kasih dan tindakannya terbukti mampu membawa perdamaian.

Rahma Lillahi Sativa “Peace Ideas of Noam Chomsky” Avram Noam Chomsky adalah seorang profesor linguistik dari Massachusetts Institute of Technology yang lahir pada tanggal 7 Desember 1928 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Noam Chomsky dibesarkan di tengah keluarga berpendidikan tinggi, pasangan Dr William Zev Chomsky dan Elsie Simonofsky. Ayahnya dikenal sebagai ahli gramatika bahasa Ibrani yang terkemuka. Ayah Chomsky memperkenalkan bahasa dan warisan budaya leluhurnya, Yahudi, serta tradisi kebebasan intelektual. Sedangkan ibunya yang memiliki kecenderungan kekiri-kirian (antikemapanan) menekankan pentingnya keseimbangan untuk bertindak sebagai pemikir yang sekaligus aktivis. Gagasan perdamaian dari Noam Chomsky didapatkan dari ide-ide dari berbagai tempat, termasuk dalam bidang linguistik. Salah satunya dia menekuni "Cartesian Linguistics". Menurutnya, sekali ia menerima perspektif Cartesian dalam bahasa, pada tahap berikutnya dia harus mendukung hak alami manusia dan melawan segala macam otoritarianisme yang menindas manusia. Hal ini memberikan gambaran bahwa sejak awal Chomsky sangat concern terhadap perdamaian dan kemanusiaan. Definisi perdamaian baginya adalah saat dimana terdapat penghargaan terhadap hak manusia. Bagi beliau, semua orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap perdamaian. Hanya saja kemudian muncul pertanyaan, perdamaian seperti apa yang diharapkan masing-masing individu tersebut. Seperti yang telah dipaparkan dalam salah satu quotesnya, usaha Hitler untuk menguasai dunia dan membasmi para Yahudi adalah suatu bentuk perdamaian baginya, belum tentu persepsi itulah yang ingin kita lihat sebagai perdamaian. Perbedaan ini dirasa cukup menyulitkan manusia mencapai perdamaian. Kontribusinya dalam perdamaian dapat dilihat dari aktivitas menulisnya sebagai perpanjangan tangan dari aktivitas politiknya. Dalam hal ini melalui kritik terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Secara khusus, dia melihat adanya standar ganda (yang dia sebut sebagai "standar tunggal") pada kebijakan luar negeri yang menceramahi tentang demokrasi dan kebebasan bagi semua orang, ketika pada saat yang sama Amerika Serikat mempromosikan, mendukung, dan menyekutukan dirinya dengan negara dan organisasi yang nondemokratis dan represif, sehingga berakibat pada pelanggaran berat hak asasi manusia. Campur tangan Amerika Serikat tersebut bagi Chomsky adalah salah satu bentuk standar terorisme. Dengan menulis, dia mencoba memberikan persuasi, mengajak orang berpikir secara mendalam terutama tentang perdamaian, untuk kemudian bertindak sesuatu demi perdamaian. Tulisan-tulisannya banyak memberikan pencerahan kepada masyarakat dunia. Hal ini khusus dipaparkan dalam rangka kritiknya terhadap pemerintah Amerika Serikat sebagai sebuah great power dan polisi dunia yang justru sebenarnya menjadikan dunia tempat yang tidak damai. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat seringkali tidak pro-rakyat dan pemerintah hanyalah sekumpulan hipokrit yang duduk dalam kursi pemerintahan, menjadikan Amerika Serikat sekarang sebagai sebuah negara yang tidak “damai”. Baginya hal ini menjadi tanggung jawab intelektual. Ilustrasinya adalah perbedaan peranan Bertrand Russell dan Albert Einstein yang sama-sama dikenal sebagai intelektual hebat. Keduanya sepakat bahaya tengah mengancam umat manusia tetapi mereka memilih jalan yang berbeda untuk meresponnya. Einstein hidup dengan enak di Princeton dan mengabdikan dirinya semata-mata untuk riset seraya sesekali menyampaikan orasi ilmiah, sementara Russell memilih demonstrasi di jalan. Hasilnya Russel dikutuk sementara Einstein dipuji selangit seperti malaikat. Cara Chomsky membujuk rakyat AS untuk tidak percaya kepada pemerintah terlihat dari aktivitas politiknya berupa tulisan-tulisan maupun opini politik. Pandanganpandangannya merupakan hal yang tidak ingin didengar oleh mereka yang berkuasa, sehingga Chomsky dianggap sebagai seorang disiden politik Amerika. Menurutnya media massa di Amerika Serikat banyak yang berpraktik sebagai pasukan propaganda pemerintahan dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Media Amerika memproduksi

consent (imaji lewat media untuk memberikan sekutunya semacam hak untuk melakukan sesuatu yang salah secara hukum tapi berhak untuk tidak dituntut) ke dalam benak masyarakat. Belum lagi kritik terhadap sistem kapitalis Amerika dan bisnis besarnya. Chomsky pernah menyatakan bahwa Amerika Serikat merupakan “negara paling hebat di dunia”, “beberapa kemajuan Amerika, khususnya pada wilayah kebebasan berbicara, yang telah dicapai oleh berabad-abad perjuangan populer, harus dihargai.” Tetapi dia juga mengatakan “Dalam banyak hal, Amerika Serikat adalah negara terbebas di dunia. Yang saya maksudkan tidak hanya dalam hal tatanan kenegaraan, meskipun itu juga benar, tapi juga dalam hal hubungan individu. Amerika Serikat lebih mendekati kondisi tanpa kelas (classlessness) untuk hal hubungan interpersonal dibandingkan hampir masyarakat manapun.” QUOTES "Of course, everybody says they're for peace. Hitler was for peace. Everybody is for peace. The question is: what kind of peace?" Source: Talk at UC Berkeley on U.S. Middle East policy, May 14, 1984 “Peace is preferable to war. But it’s not an absolute value. And so we always ask, “what kind of peace?” If Hitler had conquered the world there would be peace but not the kind we would like to see.” Source: Prospects for Peace in The Middle East, March 4, 2001

Renatha Ayu R Arief Budiman lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941 dilahirkan dengan nama Soe Hok Djin. Ayahnya seorang wartawan yang bernama Soe Lie Piet. Sifat kritis ayahnya menurun pada Arief Budiman dan adiknya, Soe Hok Gie. Arief terkenal sebagai aktivis demonstran Angkatan '66. Pada waktu itu ia menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Sejak masa mahasiswanya, Arief sudah aktif dalam kancah politik Indonesia. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan pada tahun 1963 yang menentang aktivitas LEKRA yang dianggap memasung kreativitas kaum seniman. Arief merupakan salah satu mahasiswa yang ikut menggulingkan soekarno dan melahirkan Orde Baru. Namun banyak sekali kebijakan yang menyudutkannya terutama karena masalah etnisitas. Istilah Tionghoa diganti dengan Cina dan tidak boleh menggunakan nama tionghoa (yang menyebabkan dia mengganti nama). Arief tidak menggunakan cara demonstrasi untuk melawan namun mengunakan cara-cara yang halus sesua dengan prinsip ilmu beladiri Aikido yang pernah dia tekuni. Dalam Aikido, kita tidak menangkis pukulan lawan dengan kekerasan kita, tapi menggunakan tenaga lawan ini untuk dikembalikan ke sumbernya. Arief berpendapat bahwa perbedaan yang ada tidak perlu ditonjolkan sehingga menimbulkan sensitivitas yang luar biasa. Yang paling penting adalah bagaimana menyikapi perbedaan persepsi itu dengan bijak. Pada pemilu 1973, Arief dan kawan-kawannya mencetuskan apa yang disebut Golput sebagai tandingan Golkar yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis. Belakangan Arief "mengasingkan diri" di Harvard dan mengambil gelar Ph.D. dalam ilmu sosiologi dan menulis disertasi tentang keberhasilan pemerintahan sosialis Salvador Allende di Chile. Kembali dari Harvard, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Ketika UKSW dilanda kemelut yang berkepanjangan karena pemilihan rektor yang dianggap tidak adil, Arief melakukan mogok mengajar, dipecat dan akhirnya hengkang ke Australia lalu menerima tawaran menjadi profesor di Universitas Melbourne. Beliau menerima penghargaan Bakrie Award yaitu sebuah acara tahunan yang disponsori oleh keluarga Bakrie dan Freedom Institute untuk bidang penelitian sosial. pada Agustus 2006, Sepenggal kutipan Pidatonya saat menerima penghargaan adalah "Saya terima penghargaan ini sebagai penghinaan. Saya ini orang kiri yang menolak paradigma modernisasi dan pembangunanisme, tetapi saya malah mendapatkan penghargaan dari orang kanan."

Andika Cahaya Utama Hannah Arendt Hannah Arendt dilahirkan pada bulan Otober tanggal 14 1906 di Wilelmine, Jerman. Dibesarkan di Konigsberg, dia merupakan anak satu-satunya dari Paul dan Martha Cohn Arendt yang merupakan Russian-Jewish. Arendt gemar membaca sejak kecil, pada umur ke 16 ketertarikan literaturnya sudah termasuk karya Kant dan Goethe. Kemungkinan karena pengaruh dan inspirasi dari pemikiran teologi dan romantic dari puisi Kierkegaard, Arendt memutuskan mempelajari Theology di University of Maburg. Ketika ide anti-semit berkembang di jerman, Arendt mempelajari mengapa konflik itu terjadi, dan pada tahun 1933 Arendt meningkatkan aktifitas politiknya dengan mengikuti German Zionist Organization yang dipimpin Kurt Blimenfeld untuk membantu publikasi informasi mengenai korban-korban Nazism hingga sempat ditangkap namun lolos hukuman dan kabur ke Paris. Selama sisa Perang Dunia 2, Arendt tinggal di New York dan kemudian meluncurkan karyanya yang berjudul The Origins Of Totalitarianism yang diterima dengan antusias oleh masyarakat dan membuat Arendt menjadi selebriti intellectual. Tiga buku Arendt yang selanutnya adalah The Human Condition (1958), between Past and Future (1961), dan On Revolution (1968) kesemuanya adalah hasil dari mempelajari Marxism dan Totalitarianism. Arendt melucurkan karyanya yang paling kotroversial tahun 1963 yaitu Eichmann in Jerusalem, Arendt menyoroti pengadilan Eichmann yang merupakan Letnan dari satuan S.S. yang bertanggung jawab atas pemindahan yahudi ke death camps. Arendt menggunakan istilah “the banality of evil” untuk menjelaskan Eichmann. Dia mengangkat pertanyaan dari apakah evil/kejahatan adalah bentuk yang radikal ataukah fungsi sederhana dari kebanalan/kedangkalan. Kebanalan ini maksudnya adalah kecenderungan orang biasa untuk mematuhi perintah dan menyesuaikan diri dengan opini kebanyakan tanpa berpikir secara kritis tentang hasil dari action dan inaction mereka. Arendt juga mempertanyakan action dari pemimpin Yahudi dapa PD 2 selama Holocaust sehingga membuat kerenggangan dengan komunitas Yahudi. Arendt meninggal pada 4 Desember 1975 tanpa upacara keagamaan. Obituary di New York Times mencatat bahwa dia tidak memiliki affiliasi keagamaan. Di tahun yang sama dia memenangkan Sonning Prize dari pemerintah Denmark untuk kontribusinya terhadap peradaban Eropa, penghargaan ini belum pernah dimenangkan oleh warga negara Amerika sebelumnya dan juga belum pernah dimenangkan oleh wanita. Kehidupan Arendt menjadi inspirasi bagi novel An Admirable Woman (1983) oleh Arthur A. Cohen. “Forgiveness is the key to action and freedom.” (Hannah Arendt)

Yohana M. Simamora Peace Ideas of Rigoberta Menchu Tum What hurts Indians most is our costumes are considered beautiful, but it’s as if the person wearing them didn’t exist (Rigoberta Menchu Tum) Rigoberta Menchu Tum (9 Januari 1959, Chimel-Quiche, Guatemala) adalah penduduk asli Guatemala dari suku Quiche-Maya. Menchu mendedikasikan hidupnya demi mempublikasikan penderitaan penduduk asli Guatemala selama dan sesudah perang saudara Guatemala (1960-1996), dan mempromosikan hak-hak asli di Negara. Menchu adalah penerima nobel perdamaian tahun 1992 dan Prince of Asturias Award tahun 1998. Rigoberta Menchu segera terlibat di dalam aktivitas perubahan sosial melalui gereja Katolik, dan menjadi terkenal dalam gerakan hak-hak wanita di kala usianya yang masih belia. Banyak karya perubahan yang timbul pada masa perlawanan setelah organisasi gerilya dibangun. Tahun 1979, Rigoberta bergabung di CUC (Committee of the Peasant Union). Tahun 1980. Dia terkenal karena perlawanannya yang diorganisir CUC demi penghidupan yang layak bagi kaum petani di pantai Pasifik, dan pada tanggal 1 Mei 1981, dia aktif di berbagai demonstrasi besar di kota tersebut. Dia bergabung dengan gerakan radikal yang dinamakan 31st of January Popular Front, dimana kontribusinya yang utama adalah mendidik penduduk petani Indian untuk berjuang melawan tekanan pemerintah. Tahun 1981, Rigoberta harus bersembunyi di Guatemala dan melarikan diri ke Meksiko. Hal ini menandai perubahan awal hidupnya sebagai organisator dari luar untuk berjuang terhadap tekanan yang terjadi di Guatemala dan berjuang demi hak-hak petani Indian. Tahun 1982, Menchu mengambil bagian dalam mendirikan tubuh perlawanan yang dinamakan The United Representation of the Guatemalan Opposition (RUOG). Pemikiran Menchu yang sangat menarik adalah pemahaman mengenai warisan kultural harus didasari pada basis rasional dan konsensual dengan jaminan persamaan antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat Indian mau mengkombinasikan tradisi dengan modernisasi tapi tidak untuk keseluruhan. Masyarakat Indian tidak hanya sekedar objek turis tapi juga berhak berpartisipasi dalam menentukan hidup, membangun Negara dan bangsa. Baginya ada faktor-faktor yang mampu menjamin kehidupan masa depan masyarakat Indian yakni : perjuangan dan daya tahan, keberanian, keputusan untuk mempertahankan tradisi suku Quiche-Maya yang diekspos dengan penuh kekejaman dan penderitaan, solidaritas terhadap perjuangan yang dilakukan, pemerintah, organisasi dan penduduk dunia. Di masyarakat Guatemala yang baru, harus ada re-organisasi fundamental mengenai kepemilikian lahan yang mengizinkan perkembangan agrikultur sama seperti pengembalian lahan kepada pemilik yang sebenarnya. Kemudian, berkenaan dengan keadilan social. Baginya, tidaklah tidak mungkin untuk meyakini Guatemala yang demokratis, bebas dan mandiri, tanpa identitas asli yang menentukan karakter di segala aspek nasional. Menurutnya peran ini boleh dikatakan menjadi peran seorang promotor perdamaian, kesatuan nasional, dan demi perlindungan hak-hak penduduk asli.

Rifcy Zulficar Adolf Hitler Lahir di Brunau, wilayah Austria 20 April 1889. Ayahnya Alois Schiklgruber berasal dari kelompok minoritas Austria yang bekerja sebagai pegawai pabean. Ibunya, Klara Polzl meninggal pada usia cukup muda, Dari 6 Saudara, hanya Hitler dan adiknya Paula yang bisa hidup hingga Usia Dewasa. Pada masa mudanya, Hitler sendiri bercita - cita ingin menjadi seorang pelukis, hingga dia pergi ke Wina, Hitler muda yang lurus, tidak terlalu cerdas juga tidak terlalu bodoh, tidak suka main wanita, tidak suka mabuk-mabukan, dengan berbekal kemampuan mengambarnya, Hitler muda pergi menuju Wina yang pada saat itu terkenal akan akademi keseniannya, tapi sayangnya Hitler gagal masuk ke dalam akademi ini. Untuk selanjutnya ketika dia masih di wina setelah kegagalannya dalam mengikuti test akademi kesenian di Wina, Hitler muda mendapati dirinya sedang tertarik pada pandangan dari Lanz Von Liebenfels tentang keagungan dari bangsa Arya, dari hal inilah Hitler mendapati pemikiran-pemikiran yang membawanya menjadi salah satu pemimpin Dunia yang ditakuti oleh lawannya. Dalam waktu yang singkat, Hitler menampaki Karir militer dan politiknya, dengan Julukan sang “Fuehrer”, Hitler mengantarkan Jerman dengan Nazi menuju ke kancah peperangan Dunia, dengan mengadakan kerjasama dengan Jepang dan Italia, konsolidasi ke tiga negara ini menjadi hal yang ditakuti, Hingga lawan seperti Inggris, Rusia, USA, dan negara-negara sekutunya mulai membentuk aliansi guna mengatasi konsolidasi ketiga negara ini, pada 1944 Jerman mulai menampakkan kekalahannya. Pada akhirnya sang Fuehrer aka Hitler, tua dan tidak berdaya, menulisakan Buku berjudul “Mein Kamf” atau “Perjuanganku” dalam buku tersebut Hitler menulisakan tentang sejarah yang merupakan pertarungan antar Ras-ras di Dunia, dan yang terbaiklah yang menang, bagi Hitler sendiri Ras Arya yang berpusat di Jerman adalah Ras terbaik, dan pantas untuk menguasai dunia. Poor Hitler, seandainya dia diterima dia diterima di akademi kesenian di Wina, tentu akhir hidupnya menjadi seorang pelukis, yah tapi kita tak bisa selalu menyalahkan masa lalu, siapa tahu kalau seandainya tidak ada Hitler, akan ada orang yang lebih kejam dari Hitler

Septyanto Galan Prakoso Peace Ideas of Shirin Ebadi Shirin Ebadi adalah seorang warga negara Iran yang memperoleh hadiah nobel perdamaian pada 10 November 2003 atas usahanya dalam penegakan demokrasi dan hak asasi, terutama hak-hak wanita dan anak-anak. Wanita yang lahir 21 Juni 1947 ini sekaligus sebagai tokoh Iran dan muslimah pertama yang menerimanya. Sehari-hari, beliau berprofesi sebagai pengacara dan aktivis hak asasi manusia. Sesuai dengan profesinya, beliau menggeluti penyelesaian persoalan HAM di Iran, dan di Timur Tengah pada umumnya. Beliau banyak berperan sebagai pengamat sekaligus pembela negeri berkaitan dengan kasus nuklir Iran, dan sebagai kritikus terhadap invasi Amerika Serikat ke Irak. Hakikat damai menurut Shirin Ebadi dapat disimpulkan sebagai terciptanya suatu kondisi yang menjamin kebebasan manusia pada umumnya dan bangsa Iran pada khususnya untuk menentukan tindakan tanpa intervensi dari pihak-pihak asing, terutama Amerika Serikat, yang secara terang-terangan memprotes program nuklir Iran. Beliau memandang apabila tidak ada lagi pembatasan oleh pihak-pihak tertentu bagi individu yang lain untuk menentukan langkah, saat itulah perdamaian yang hakiki akan muncul, karena sudah tidak ada keinginan untuk saling ikut campur antara pihak yang satu dengan yang lain. Upaya yang ditempuh beliau untuk mewujudkan perdamaian menurut ideologinya antara lain dengan menyuarakan pendapat-pendapat dan pemikirannya secara lantang dan terang-terangan di media dan berbagai konferensi pers tanpa rasa takut. Hal inilah yang menarik perhatian panitia seleksi penerima hadiah nobel untuk memilihnya, karena mereka memandang hal tersebut sebagai suatu langkah berani untuk mengkritik berbagai macam langkah intervensi Amerika di Timur Tengah, terutama permasalahan perang Irak. Hal tersebut memang sesuai dengan dasar argument beliau yaitu bahwa beliau menolak segala macam intervensi asing di Iran dan Timur Tengah, serta membela segala kepentingan bangsanya (termasuk program nuklir) yang dipandangnya sebagai bentuk kebanggaan bangsa Iran. Hal tersebut tentu sangat berani dan mengagumkan, mengingat beliau adalah seorang wanita. Meski banyak pihak menentang, bahkan mengancam, Shirin Ebadi tetap berusaha mewujudkan perdamaian.

Rise Prastika Goenawan Mohammad Goenawan Soesatyo Mohammad atau biasa dikenal dengan nama Goenawan Mohamamad dilahirkan di Karangasem, Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941. Goenawan Mohammad, juga biasa disapa dengan panggilan GM, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ia juga merupakan pendiri sekaligus pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Tempo. GM adalah seorang jurnalis, aktivis, penyair, dan salah satu orang yang ikut andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal. Perdamaian bagi GM akan terwujud jika kekerasan tidak ada lagi, baik secara langsung, kultural, maupun struktural. GM juga menekankan tentang bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan identitas yang ada, seperti agama, suku, kebangsaaan, gender, dan materi. GM merupakan salah seorang pengusung pluralisme yang mendambakan perdamaian dan keharmonisan semua elemen masyarakat dengan identitas apapun dapat hidup berdampingan dengan saling toleran dan menghargai satu sama lain. Karena menurut pandangannya, identitas apapun yang melekat pada diri manusia itu, sama-sama memiliki kebaikan, dan di sisi lain juga memiliki kekurangan masing-masing. Namun, pada dasarnya baik atau buruknya identitas tersebut tergantung dari bagaimana manusia itu mempresentasikannya dalam kehidupannya. Kontribusi GM dalam perdamaian adalah dengan menulis artikel, puisi, dan juga esai yang mengajak orang untuk berpikir dan memandang dari segala sisi, sehingga orang tidak mudah terjebak dengan pemikiran hitam putih semata. Kumpulan puisinya telah dibukukan dan diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Esaiesainya juga telah dibukukan dan hingga sekarang dia masih aktif menulis untuk Catatan Pinggir. GM juga mencipatkan komposisi musisi yang kemudian ditampilkan di Seatle dan New York. Selain itu, dia juga pernah mengadakan pertunjukan wayang yang mengisahkan tentang perbedaan-perbedaan budaya dan juga identitas manusia di era modern.

Afiq Iskandar "When we plant trees, we plant the seeds of peace and seeds of hope" -- Wangari Maathai Dr. Wangari Muta Maathai dilahirkan pada tanggal 1 April 1940 di Nyeri, Kenya, adalah seorang aktivis lingkungan hidup dan politik. Wangari Maathai menjadi perempuan Afrika pertama yang menerima Penghargaan Perdamaian Nobel pada 2004 atas kontribusinya dalam bidang pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian. Kiprah Wangari dalam usaha pelestarian lingkungan dimulai dengan dibentuknya Greenbelt Movement pada tahun 1977, gerakan akar rumput non-pemerintah yang sampai sekarang telah berhasil menanam lebih dari 30 juta pohon di Kenya untuk mencegah erosi tanah (dan juga sebagai sumber bahan baku untuk kayu bakar). Wangari juga dianggap sebagai pionir dalam misi pemberdayaan perempuan karena Greenbelt Movement diisi oleh wanita pedesaan Kenya yang ingin menyelamatkan lingkungan Kenya dari kerusakan hutan yang lebih parah. Wangari disebut sebagai “Sang Ibu Pohon” atas usahanya. Sejak pendirian Greenbelt Movement Wangari aktif terlibat dalam isu lingkungan dan isu perempuan. Pada tahun 1980an, suami Wangari, Mwangi Mathai, menceraikannya karena menganggap Wangari sebagai perempuan yang “terlalu terdidik, terlalu kuat, terlalu berhasil dan terlalu sulit dikendalikan.” Sebagai wanita Afrika yang memperoleh pendidikan tingginya di barat, (ia mendapat gelar sarjana biologi dari Benedictine College, Atchison pada 1964 dan kemudian melanjutkan ke Universitas Pittsburgh sebelum kemudian kembali ke Kenya dimana ia mendapatkan gelar Ph.D pertama bagi wanita asal Afrika Timur dalam bidang kedokteran hewan), Wangari menjadi figur perempuan terdidik yang tidak banyak ada di negara asalnya. Figur Wangari yang kuat membuat ia mendapat banyak tentangan dari banyak pihak (baik pria maupun wanita), yang menganggap Wangari sebagai wanita Afrika yang tidak mengikuti tradisi karena mendapatkan pendidikan barat dan menganggap ia sebagai figur elit terdidik yang mendobrak budaya dengan mencoba mengajarkan wanita Afrika melakukan berbagai hal yang tidak bisa diterima oleh kaum prianya. Salah satu contoh yang paling mengemuka mengenai perjuangan Wangari adalah ketika ia membentuk kampanye untuk menolak rencana Presiden Kenya yang otoriter, Daniel Arap Moi (berkuasa pada 1978-2002) dan partainya (partai yang berkuasa di Kenya) untuk membangun kantor pusat partai di sebuah taman di ibukota Kenya. Meskipun penolakan Wangari sebagian besar dikarenakan alasan lingkungan, penolakan ia juga dilihat sebagai perlawanan ia terhadap figur presiden otoriter yang tidak terbiasa menerima tentangan, apalagi dari wanita. Wangari melihat kaitan langsung dalam permasalahan yang dihadapi Kenya yaitu permasalah deforestasi dan erosi tanah, dengan kegagalan Kenya yang menerapkan negara dangan satu partai. Wangari menyadari bahwa Kenya yang diperintah oleh diktator, dan korupsi yang merajalela berkaitan erat dengan rusaknya kondisi lingkungan Kenya. Presiden Daniel Arap Moi menganggap Wangari sebagai wanita yang “terlalu terdidik, figur anti-pria dan pelaku tindakan subversif”. Wangari beberapa kali menerima ancaman pembunuhan, dan berulang kali ditangkap. Tetapi Wangari terus berjuang untuk diterapkannya pemilihan multi-partai, penghapusan politik korupsi dan politik yang mendiskriminasikan etnis tertentu. Namun, keyakinan Wangari akhirnya terbayar. Pada 2002, Presiden diktator Daniel Arap Moi turun dari jabatannya dan Kenya untuk pertama kalinya mengadakan pemilu yang demokratis. Kekuatan oposisi menang besar-besaran dan Wangari terpilih menjadi anggota Parlemen Kenya dengan 98% suara. Pada 2003, ia diangkat sebagai Asisten Menteri Lingkungan, Sumber Daya Alam dan Margasatwa. Pada tahun yang sama juga, ia mendirikan Mazingira Green Party of Kenya.

Ainur Rohmah Peace Ideas of Budiman Sudjatmiko Nama : Budiman Sudjatmiko Lahir : 10 Maret 1970 Pendidikan : • Fakultas Ekonomi UGM (tidak selesai) • Master Degree lulusan Department of Political Studies SOAS (School of orientaland African Studies) University of London • Mahasiswa program Mphil in International Relations, Clare Hall, University of Cambrige. Karir : Aktivis prodemokrasi, Ketua Partai Rakyat Demokrat (PRD) Perdamaian menurut Budiman akan tercapai apabila tercapai keadilan dalam masyarakat yaitu melalui pemerintahan yang demokratis. Ide-idenya yang dianggap radikal adalah menentang adanya tirani oleh ORBA. Sebenarnya beberapa idenya untuk memperjuangkan keadilan bagi rakyat tidak terlalu radikal seperti yang dituduhka kepadanya seperti perlunya pendidikan politik untuk rakyat, demokrasi multipartai dan sistem ekonomi kerakyatan (berbasis pada buruh), namun lebih kepada dukungannnya terhadap ketua PDI-P Megawati. Sehingga pemerintah ORBA pada waktu itu merasa terancam. Selain itu, PRD yang dipimpinnya dituduh sebagai partai komunis (yang sebenarnya hanya berhaluan kiri) seperti pada masa Sutan Syahrir. Hal-hal yang dilakukan Budiman untuk memperjuangkan ide-idenya sudah mulai dilakukan sejak masa SMA. Pada masa itu, Budiman sudah aktif dalam berbagai kelompok diskusi yang diselenggarakan mahasiswa. Ia pun pernah ditangkap dan diinterogasi karena membuat forum diskusi. Namun hal itu tidak menghalangi jalannya untuk semakin mencari dan “memberontak”. Tahun-tahun pertama kuliah di FE UGM, ia membentuk kelompok studi, dan kemudian ikut bergabung dengan kelompok diskusi yang sudah ada. Karena pilihannya untuk total aktif dalam gerakan, termasuk mengorganisasi petani di Cilacap dan Ngawi, Budiman meninggalkan kuliah. Hingga pada tahun 1995, ia dipercaya oleh teman-temannya untuk “mengkudeta” Ketua Perhimpunan Rakyat Demokrat yang dianggap terlalu moderat. Lalu bersama pengurus yang lain, ia mendeklarasikan berdirinya Partai Rakyat Demokratik, menjelang peristiwa penyerbuan kantor PDIP di Jalan Diponegoro, Juli 1996. Budiman dkk memutuskan untuk mendirikan partai -mengingat pada masa ORBA pendirian partai dilarang- karena dalam pemikirannya, peran institusi politik akan membawa perubahan yang positif. Selain itu cara yang paling masuk akal untuk menyusun kekuatan adalah melalui perkumpulan yang terorganisir. Strategi PRD yang diterapkan pada masa itu antara lain adalah membangun gerakan massa yang sifatnya ekstra-parlementer. Pertama, mereka mulai dengan membentuk organisasi-organisasi sebagai payung nasional maupun lokal sehingga mereka dapat tetap berkomunikasi dengan rakyat. Mereka juga memfasilitasi dan ikut terlibat dalam demonstrasidemonstrasi untuk menentang kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Peran mereka sebenarnya bukanlah untuk merekayasa (engineer) keresahan sosial -karena keresahan itu sudah ada dengan sendirinya- namun untuk menajamkannya dan menjadikannya lebih politis seperti dengan mengorganisasikan aksi-aksi corat-coret, rapat akbar, dan membagi-bagikan selebaran. Karena diadili dengan tuduhan subversi, Budiman dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun, namun dibebaskan dari penjara pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Keluar dari penjara, Budiman kembali memimpin partainya mengikuti pemilu 1999, namun tidak mendapatkan suara di DPR. Akhirnya Budiman memutuskan untuk bergabung dengan PDIP pimpinan Megawati karena dia percaya bahwa dia dapat membuat perubahan atas dasar komitmennya terhadap rakyat dan demokrasi. Hal ini bisa dilakukan melalui partai besar seperti PDI-P. Melalui partai ini, dia dapat belajar bagaimana orang indonesia pada umumnya melihat politik dan bagaimana aspirasi mereka.

“Sejak awal, saya dan PRD dituduh sebagai dalang kerusuhan 27 Juli...Menghasut masyarakat untuk melawan pemerintah, anti pemerintah, wajah komunis...kami hanya menegakkan keadilan dan kedaulatan masyarakat kecil, buruh, petani...”

Cesty Nur Tribuana Chairil Anwar lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Sejak kecil, Chairil sangat dekat dengan nenek dan ibunya. Dari dua wanita itulah Chairil belajar mengenai cinta kasih dalam kehidupan. Semua pemikiran – pemikiran itu dituangkan dalam puisi – puisi karyanya. Ada satu pertanyaan yang mengganjal sepanjang hidup Chairil : untuk apa kita hidup? Dan akhirnya, di berkesimpulan bahwa kita hidup, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya. Hidup di jaman kolonialisme membuat Chairil Anwar merindukan hidup yang damai tanpa ada peperangan. Di mata seorang Chairil Anwar, perdamaian itu adalah ketika tidak ada penjajahan. Dengan demikian setiap rakyat Indonesia bebas untuk mengekspresikan diri mereka. Pemikiran ini tertuang dalam karya – karyanya seperti puisi “ Diponegoro “ dan “Krawang-Bekasi". Sajak – sajak tersebut menjadi inspirasi bagi para pejuang Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Akibat gaya hidupnya yang semrawut, Chairil Anwar terserang berbagai macam penyakit termasu TBC. Akhirnya, Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949 karena penyakit tersebut. Dan dia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Hingga kini karya – karya Chairil Anwar masih tetap dikagumi dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Angga Kusumo "Bolomu wis matek, …Marsinah wis matek…" ( ujar salah seorang aparat keamanan PT. CPS ) Marsinah namanya. Lahir pada tanggal 10 April 1969 dan ditemukan terbunuh secara tragis pada tanggal 8 Mei 1993. Dikenal sebagai seorang aktivis perempuan. Aktivitas yang dilakukannya adalah bekerja sebagai buruh pabrik PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo. Marsinah mulai terjun dalam kegiatan aktivisme pada tanggal 2 Mei 1993. Hal ini dilatarbelakangi oleh dikeluarkannya surat edaran Gubernur KDH TK 1 Jawa Timur yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan menaikkan gaji sebesar 20% gaji pokok. Tentu saja hal ini disambut gembira, termasuk oleh Marsinah. Namun, pihak perusahaan tidak begitu menggubris hal ini. Marsinah kecewa, kemudian dia melakukan konsolidasi dengan 14 temannya. Pada tanggal 3 Mei 1993, Marsinah bersama rekan-rekannya mengajak buruh yang lain untuk mogok bekerja, lalu kemidian melakukan aksi buruh yang sempat bentrok dengan Komando Rayon Militer. Pada 4 Mei, para buruh mogok total dan mengajukan 12 tuntutan, salah satunya mengenai kenaikan upah pokok. Sampai pada tanggal 5 Mei 1993, unjuk rasa masih terus terjadi, dan akhirnya perundingan dilakukan bersama pihak perusahaan termasuk Marsinah di dalamnya. Siang harinya, 13 buruh, tanpa Marsinah, yang dianggap sebagai motor unjuk rasa di PT CPS dibawa ke Kodim Sidorajo. Mereka dipaksa mengundurkan diri. Rasa kepedulian dan keberanian membuat Marsinah mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya. Namun, sepulangnya dari Kodim, Marsinah tidak kembali lagi ke rumah dan ditemukan terbunuh di hutan Dusun Jegong dengan bekas luka penyiksaan. Diduga ia diculik dan dianiaya. Sebagai seorang aktivis yang menyuarakan dengan lantang hak-haknya, kasus Marsinah bahkan diangkat menjadi kasus ILO( International Labor Organization). Eksistensi Marsinah dalam kegiatan aktivisme juga membuatnya mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1993. Keadilan, kebebasan dalam menyuarakan pendapat, dan pemenuhan hak-haklah yang seharusnya menjadikan Marsinah hidup dalam penuh kedamaian. Hingga kini, kematiannya masih menjadi kontroversi.

Akbar Hakim Leon Trotsky Lahir dengan nama Lev Davidovich Bronstein pada tanggal 7 November 1879 di Yankova, provinsi Kherson. Dia dibesarkan sebagai anak kelima disebuah keluarga petani kaya namun buta huruf. Walaupun dia berasal dari sebuah keluarga Yahudi, namun Trotsky merupakan pribadi yang tidak terlalu religius. Trotsky bersekolah di Odessa, di sebuah sekolah Jerman yang kemudian mengalami Rusifikasi. Trotsky memulai terlibat dalam aktifitas revolusionaris pada tahun 1896 setelah dia pindah ke Nikolayev (yang sekarang menjadi Mykolaiv). Trotsky mulai berkegiatan dalam Serikat Pekerja Rusia Selatan. Trotsky adalah seorang editor di berbagai surat kabar, dan terus melaksanakan kegiatan ini meskipun dia berpindah-pindah karena sering terkena deportasi. Melalui kegiatannya sebagai editor tersebut, Trotsky memiliki beberapa teori yang dia kembangkan, antara lain adalah: 1. Permanent Revolution Trotsky mengemukakan konsepnya tentang 'permanent revolution' sebagai sebuah penjelasan bagaimana revolusi sosialis bisa terjadi pada masyarakat umum tanpa campuran kapitalisme. Bagian dari teorinya adalah ketidakmungkinan terjadinya sosialisme di sebuah negara. Teori dari Trotsky juga berpendapat, bahwa kaum borjuis di negara kapitalis tidak boleh mendapatkan bagian untuk mengembangkan kekuatan produktif dan menyerahkannya kepada kaum proletar. Kemudian, teori ini juga menjelaskan bagaimana kaum proletar harus bisa mencakup seluruh aspek sosial, ekonomi, dan kekuatan politik, serta memimpin sebuah kerjasama dengan kaum tani. 2. United Front United Front adalah sebuah bentuk perjuangan yang dibentuk oleh kaum revolusioner. Teori dasar dari 'united front' pertama kali dikemukakan oleh Comintern, sebuah organisasi sosialis yang dibentuk oleh para revolusioner pada kebangkitan tahun 1917. Trotsky merupakan tokoh sentral dalam Comintern sejak kongres pertamanya. Pada saat itu dia membantu untuk mengeneralisasikan strategi dan taktik dari Bolsheviks kepada partai komunis bentukan baru di seluruh Eropa dan daerah sekitarnya. Sejak tahun 1921, sebuah metode yang menyatukan para revolusioner dan reformis berjuang untuk mewujudkan revolusi bagi para buruh, meruppakan strategi utama yang dikemukakan oleh Comintern. Setelah Trotsky dipindahkan dan dimarjinalisasi Stalinisme, dia melanjutkan perjuangannya untuk melawan fasisme di Jerman dan Spanyol. Pada tanggal 20 Agustus 1940, Trotsky diserang di rumahnya oleh Ramon Mercader, seorang agen NKVD, yang menyerangnya dengan menggunakan kapak es tepat di kepala Trotsky. Pendarahan yang hebat membuat Trotsky kritis selama sehari, sebelum akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 21 Agustus 1940.

Tomy Nanda Aditias THICH NHAT HANH Thich Nhat Hanh (Thích Nhất Hạnh) adalah seorang biksu pengasingan dari Biara Buddha aliran Zen di Vietnam. Seorang guru, penulis, dan aktivis perdamaian, Nhat Hanh lahir di Vietnam tanggal 11 Oktober 1926. Dia bergabung dengan biara aliran Zen pada umur 16 tahun, sebagai seseorang yang baru mempelajari Buddha, dan sudah “dinisbahkan” sebagai biksu pada tahun 1949. Nama “Thich” dipergunakan oleh seluruh biksu Vietnam, yang artinya bahwa mereka adalah bagian dari klan Shakya (Shakyamuni Buddha). Awal tahun 1960, Nhat Hanh mendirikan School of Youth for Social Services (SYSS) di Saigon. Nhat Hanh meninggalkan Vietnam tahun 1966 karena menentang Perang Amerika-Vietnam. Dia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat berkali-kali untuk belajar dan nantinya akan mengajar di Universitas Kolombia, dan untuk mempromosikan perdamaian. Dia mendesak Raja Martin Luther, Jr. untuk melawan Perang Vietnam secara publik, dan mengatakan kepada semua orang dan kelompok-kelompok mengenai perdamaian. Tahun 1967, raja menominasikannya untuk Nobel Perdamaian. Nhat Hanh memimpin delegasi Buddha ke Paris Peace Talks. Salah satu guru Buddha terbaik yang dikenal di negara-negara Barat, Thich Nhat Hanh mengajar dan menyerukan ke berbagai masyarakat dari berbagai agama, dan berbagai latar belakang politik. Dia membuat Order of Interbeing tahun 1966, dan mendirikan hal-hal yang berhubungan dengan biarawan dan pusat kegiatan di seluruh dunia. Rumahnya adalah Biara Desa Plum atau dikenal dengan Plum Village Monastery di Dordogne, bagian selatan Perancis. Diasingkan dari Vietnam untuk bebarapa tahun, dia diizinkan untuk kembali dari perjalanannya pada tahun 2005. Kemudian dia menerbitkan lebih dari 100 buku, termasuk lebih dari 40 buku dalam bahasa Inggris. Nhat Hanh melanjutkan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan perdamaian. Dia menyikapi konflik Palestina dan Isreal, meminta mereka untuk mendengarkan dan mempelajari satu sama lain, mendesak negara-negara untuk berhenti berperang dan mencari solusi anti kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan, dan memimpin langkah perdamaian di Los Angeles tahun 2005 yang dihadiri ribuan orang.

Assifa Yolanda PEACE IDEAS OF GEORGE FOX “The first step to peace is to stand still in the Light” George Fox (1624 – 1691) lahir di Leicestershire (Inggris) merupakan salah seorang yang menentang kebijakan Gereja Katolik Roma pada abad ke 17 dan belakangan kelompoknya menamakan diri sebagai Religious Society of Friends atau biasanya disebut kaum “Quaker”. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang konservatif, ayahnya merupakan seorang tukang tenun dan dijuluki sebagai seorang Kristen yang saleh. Fox tidak pernah menjalani pendidikan formal namun ia bisa membaca dan menulis, semenjak kecil ia juga sudah tertarik pada Injil. Pada umur 19 tahun, ia meyakini bahwa Tuhan telah menurunkan wahyu padanya dan ia dapat berbicara langsung dengan Tuhan. Fox berkeyakinan bahwa siapapun akan dapat berhubungan langsung dengan Tuhan jika mereka berpedoman pada roh kudus, para nabi Alkitab, para rasul Kristus, ataupun pada suara hati mereka masing-masing, tidak diperlukan ritual, pendeta, bait suci dan juga tujuh sakramen yang ditetapkan oleh Gereja Katolik Roma. Hal inilah yang membuat Fox dan pengikutnya dianggap terlarang oleh gereja Kristen, karena dengan keyakinan tersebut kaum Quaker tidak menganggap pendeta sebagai seseorang yang perlu dipuja ataupun dipercayai secara berlebih. Berbagai perkembangan baru setelah Perang Saudara di Inggris banyak terjadi. Banyak orang tidak menyetujui penyatuan negara dengan gereja hingga menyebabkan terjadinya pergolakan yang dipenuhi kekerasan dan hak-hak sipil dibatasi. Saat itu Paus memiliki otoritas lebih tinggi dibandingkan raja ataupun ratu. Para pendeta di masa itu juga memanfaatkan kependetaannya untuk mendapat kekuasaan dan mencari keuntungan diri sendiri (contohnya ; menjual surat pengampunan dosa). George Fox dalam ajarannya selalu menekankan terhadap kejujuran, keadilan, dan anti kekerasan, menentang peperangan dan perbudakan. Bahkan Fox juga menentang segala bentuk kekerasan yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum. Fox juga mengajarkan mengenai persamaan hak gender. Menurutnya semua orang Kristen, termasuk wanita harus mempunyai peran yang sama dengan pria baik dalam kegiatan keagamaan maupun dalam masyarakat.

Bela Reza Tanjung John Rareigh Mott. The Nobel Peace Prize 1946 Informasi Dasar. John Ralegh Mott, merupakan seorang penerima Penghargaan nobel untuk bidang perdamaian pada tahun 1946. Beliau adalah seorang pemimpin dari YMCA dan World Student Christian Federation (WSCF). Beliau menerima sebuah pengharagaan Nobel pada tahun 1946 dari pekerjaannya dengan mendirikan dan mempererat organisasi Pelajar Kristen yang dapat memperkuat perdamaian. dari periode tahun 1895 sampai 1920 ia merupakan sekertaris umum organisasi WSCF. Pada tahun 1910 Mott, memimpin konfrensi utusan dunia, yang membicarakan dua poin penting yaitu misi gerakan protestan modern dan gerakan gereja protestan modern. Pada tahun 1920-1928 ia merupakan pemimpin rapat WSCF. Pada dua pekerjaanya misi dan persatuan seluruh gereja demi menciptakan perdamaian. para sejarawan meneyebut beliau yaitu “orang yang paling berpengalaman dan dipercaya oleh seluruh pemimpin kristiani pada zamannya”. Biografi. John R. Mott, dilahirkan di Livingston Monor, New York, Sullivan Country. pada tanggla 1865, kemudian keluarganya pindah ke Postville, Lowa pada September di yahun yang sama. kemudian ia masuk ke universitas Lowa, dimana ia mempelajari sejarah dan memenangkan penghargaan debat mahasiswa. Kemudian ia pindah ke Universitas cornell. dan ia mendapatkan sarjana pada tahun 1888. kemudian di tahun 1888, ia juga menjadi sekertaris nasional dari interkolega Y.M.C.A, AS dan Kanada.pada tahun 1891 ia menikahi Leila Ada White, mereka mempunyai 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Dari Tahun 1915-1928, Mott menjadi sekertaris umum di komiti internasional Y.M.C.A, dan dari tahun1926-1937 menjadi Presiden komiti dunia Y.M.C.A. Sebelum PD I, yang pada waktu itu Y.M.C.A menjadi penasihat dari Presiden Wilson. Mott menjadi sekertaris umum dari kounsil nasional untuk perang. Dia menjaga komunikasi dan menjaga keadaan serta membantu untuk meringankan pekerjaan para tahanan perang di banyak belahan dunia. Setelah ia mengundurkan diri dari tawaran presiden Wilson untuk menjadi duta besar di China, tetapi ia menjadi anggota dari mexikan komite.dan pada tahun 1917 menjadi duta besar khusus di Rusia. beberpa pekerjaan Mott sangat mengesankan, ia membuat 16 buku, dan buku tersebut kemudian dijadikan sebuah acuan bagi seluruh dunia untuk menganalisa perdamaian dengan cara Mott. Kemudian ia meninggal pada umur 89 tahun di rumahnya Orlando< Florida. Cara Damai Menurut Dia. Mott merupakan seorang yang Religius ia merupakan seorang pemimpin World student Christian Federation. Dalam karirnya ia mempunyai tujuan perdamaian dengan menjalankan gerakan seluruh Gereja protestan guna mencapai Tujuan perdamaian tersebut. ia menyatakan bahwa perdamaian dapat, di dapatkan dengan cara mengenal Tuhan “The Prince leader Of the faith” . dengan mengenal tuhan stiap orang dapat membuka hatinya sehingga dapat berfikir dengan jernih. tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk berperang atau sebgainya, tuhan hanya memerintahakan kita hidup saling berdampingan. atas dasar tersebut ia memiliki tujuan agar terciptanya perdamaian. banyak umat protestan diselurh dunia menjadi sadar akan hal tersebut. dengan adanya Gerakan gereja Protestan, Hal tersebut memperkuat dorongan persatuan seluruh umat Kristiani Protestan sehinggan menopang timbulnya perdamaian.

Muhammad Aditya Tomas Borge Tomas Borge Martinez (Thomas Borge), lahir pada tanggal 13 Agustus 1930 adalah tokoh besar gerakan Sandinista di Nikaragua yang masih hidup. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Nikaragua di bawah Pemerintahan Daniel Ortega. Ia pernah dipenjara di Penjara El Hormiguero di Managua pada tahun 1956-1959. Kemudian ia melarikan diri ke Honduras pada 1959, tapi lagi-lagi ia ditangkap oleh petugas penjaga perbatasan negara. Tapi oloeh Otto Castro, Borge dibebaskan karena kedekatannya dengan Presiden Hnduras, Ramon Villeda. Setelah dibebaskan, Borge kini harus menghadapi hukuman kembali akibat tuduhan dari pengadilan akibat penyiksaan yang dilakukannya. Borge menyalurkan kemampuan berpolitiknya dengan aktif dalam gerakan FSLN (Front Pembebasan Nasional Sandinista) sejak tahun 1950-an. Organisasi ini merupakan organisasi yang bergerak atas asas-asas ‘kiri’. Pada Pemilu demokratis yang dilaksanakan di Nikaragua pada tahun 1984, FSLN menang dengan meraih suara terbanyak. Saat itulah Borge mulai diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Nikaragua. Sepak terjangnya di dunia politik cukup terdengar nyaring hingga ia sangat dibenci Amerika yang saat itu dipimpin Reagen. Amerika sendiri menganggap pemerintahan Sandinista di Nikaragua sebagai pemerintah diktator baru. Salah satu pernyataan Borge yang sangat jelas menggambarkan kebenciannya pada Amerika adalah pernyataannya yang dimuat di Washington Times pada 27 Maret 1985. “We have Nicaragua, soon we will have El Salvador, Guatemala, Honduras, Costa Rica, and Mexico. One day,, tomorrw or five years or fifteen years from now, we’re going to take 5 to 10 million Mexicans and they are ging into Dallas, into El Paso, into Houston, into New Mexico, into San Diego, and each one will have embedded in his mind the idea of killing ten Americans.” Sebelumnya pada tahun 1979, Borge membebaskan 5000 tahanan politik sebagai bentuk pengampunannya. Termasuk terhadap tahanan yang berusaha untuk membunuhnya. Hal itu ditempuh Borge agar ia bisa menciptakan rekonsilisasi. Namun, akhirnya banyak mantan tahanan itu yang setelah dibebaskan justru pergi ke Honduras dan membentuk kelompok Anti-Sandinista. Dalam kesempatan lain, Borge juga pernah berkata, “Demokrasi tanpa keadilan sosial tidak lebih berharga dari mata uang kami.”. Jadi, di samping sikapnya yang keras terhadap musuhnya (Amerika), Borge sangat mendambakan terciptanya keadilan sosial pada rakyatnya.

Shiela Riezqia NARAYAN DESAI, THE SOLDIER OF PEACE “Often there are people who favor peace but do not know how to work for it”. -Narayan Desai Narayan Desai merupakan anak dari seorang sekretaris pribadi dan penulis biografi Mahatma Gandhi, Mahadev Desai. Ia lahir pada 24 Desember 1942 di Bulsar, Gujarat. Diasuh di dalam Ashram (komunitas religi) kepunyaan Gandhi di Sabarmati, Ahmedabad dan Sevargam dekat Wardha, Narayan berhenti sekolah untuk kemudian dididik dan dilatih oleh ayahnya sendiri dan para penghuni Ashram. Ia memiliki spesialisasi dalam pendidikan dasar, menenun, dan memintal. Setelah menikah dengan Uttara Chaudhury, anak dari dua orang pejuang kebebasan, Nabakrushna dan Malatidevi Chaudhury, keduanya pindah ke Vedchhi, sebuah kampung yang berjarak 60 km dari Surat di Gujarat. Di kampung ini pula Narayan dan isteri bekerja sebagai guru di sekolah Nai Taleem. Bergaul dan dekat dengan Gandhi semenjak kanak-kanak, pemikiran Narayan mengenai perdamaian sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran Gandhi (yang ia panggil ”bapu” atau ayah). Menurutnya, perdamaian adalah suatu hal yang dapat diraih melalui usahausaha nirkekerasan (atau lebih dikenal sebagai Satyagraha). Usaha ini dikarakteristikan dengan adanya larangan penggunaaan kekerasan fisik dan psikologis, concern dan memedulikan lawan, serta niat untuk merubah suatu keadaan. Untuk mewujudkan perdamaian, Narayan ikut serta dalam Akhil Bharatiya Shanti Sena Mandal (Brigade Perdamaian India) yang didirikan oleh Vinoba dan dikepalai oleh seorang pemimpin sosialis, Jayaprakash Narayan. Sebagai sekretaris umum Shanti Sena (Tentara Perdamaian), Narayan merekrut dan melatih para sukarelawan dari seluruh India yang turut serta dalam konflik-konflik etnis dan membantu membuat harmoni antara komunitas-komunitas yang berkonflik. Sejak tahun 1962 hingga 1978, ia menjadi direktur Shanti Sena. Dibawah kepemimpinannya, anggota organisasi ini mencapai 6.000 orang pada pertengahan tahun 1960. Langkah Shanti Sena untuk menghentikan kerusuhan adalah dengan mengumumkan kepada publik pernyataan yang jelas imparsial mengenai isu penyebab kerusuhan lewat koran dan radio. Publikasi ini mempermudah pendekatan kepada pelbagai pihak yang berkonflik serta pengumpulan para sukarelawan dari wilayah lain untuk datang dan menyelesaikan kerusuhan secara persuasif. Jika cara ini tidak efektif untuk menyelesaikan kerusuhan, para sukarelawan akan membloknya dengan tubuh mereka. Mereka juga berusaha untuk meluruskan rumor penyebab kerusuhan dengan pelbagai cara. Selain aktif di Shanti Sena, Narayan juga memiliki andil dalam pendirian Peace Brigades International dan terpilih sebagai pemimpin War Resisters' International. Bersama dengan kelompok Perdamaian Pakistan, ia dianugerahi penghargaan dari UNESCO untuk perdamaian internasional.

Aldilla Dhika Velarasi Baroness Bertha Sophie Felicita Von Suttner “The half of humanity that have never bourne arms is today ready to struggle to make the brotherhood of man a reality. Perhaps the universal sisterhood is necessary before the universal brotherhood is possible.” Bertha von Suttner, Speech to the Federation of Women of America, 1912 "The message of the peace movement is not some fanciful dream which is out of touch with the world - it is a message which embodies the survival instinct of civilization." -- Bertha von Suttner Bertha Sophie Felicita Kinsky lahir di Prague (Austria) tahun 1843, ayahnya adalah seorang pemegang jabatan tinggi dalam militer dan meninggal beberapa waktu sebelum dirinya lahir. Dia pun dibesarkan oleh seorang ibu yang keturunan bangsawan di tengah kehidupan aristokrasi di masa monarki-Austria yang diterimanya begitu saja di awal hidupnya namun kemudian mati-matian ditentangnya di separuh sisa hidupnya. Bertha muda banyak belajar berbagai bahasa dan musik, ketika ibunya tidak mampu lagi membiayai hidup dan impiannya menjadi penyanyi gagal maka dia pun mengambil pekerjaan sebagai guru privat bagi anak-anak keluarga Suttner di Vienna, disinilah dia bertemu dengan suaminya. Pada tahun 1876, Bertha menuju Paris untuk menjadi sekretaris pribadi Alfred Nobel setelah melihat iklannya dalam sebuah surat kabar. Namun perkenalan itu tidak berlangsung lama karena Bertha kemudian menikah dengan Baron Carl von Suttner dan karena hubungan yang tidak mendapat restu dari keluarga maka mereka pun bermukim di Caucasus (Rusia) dan bekerja sebagai guru bahasa dan musik. Di sinilah Bertha mulai membaca buku-buku tentang budaya Eropa dan politik. Saat perang antara Rusia-Turki tahun 1877, keduanya mulai menapaki kegiatan sebagai jurnalis perdamaian, Bertha mulai menulis novel maupun essai yang mempromosikan perdamaian dan internasionalism. Ketika pecah perang antara Rusia dengan Austria pada 1885, keduanya kembali ke Austria. Bertha turut serta dalam sebuah organisasi perdamaian yang membuatnya semakin mengenal prinsip pacifism dan hubungannya yang masih dijaganya dengan Alfred Nobel meski melalui surat telah membawa pada terbitnya buku berjudul (Die Waffen nieder) Lay down your arms! tahun 1889 yang mengisahkan secara gamblang kejamnya suatu peperangan dalam sosok seorang wanita keturunan bangsawan serta permasalahan yang timbul karena nasionalisme yang berlebihan. Bertha berhasil menggunakan cerita fiktif terlaris di abad ke 19 tersebut untuk memobilisasi publik menentang perang dan memunculkan inspirasi baru, sebuah Eropa yang bersatu. Bertha von Suttner juga diakui oleh banyak pihak sebagai orang yang sangat berpengaruh pada munculnya ide Alfred Nobel untuk memberikan hadiah kepada pihak yang mendukung perdamaian dunia, bahkan turut mewujudkan wasiatnya untuk memasukkan hadiah perdamaian pada “Nobel”. Tahun 1891, Bertha mendirikan Austrian Peace Society dan membantu pendirian International Peace Bureau di Switzerland, yang mengkoordinasi banyak kelompok perdamaian di Eropa Barat. Bertha juga mulai saling berkirim surat dengan Henry Dunant untuk bertukar pikiran terutama tentang hak-hak wanita, mereka saling membantu dalam penulisan sejumlah artikel dan berbagai bentuk penulisan lainnya hingga kemudian pada tahun 1897, berdirilah organisasi wanita yang diberi nama “Green Cross”. Tahun 1902, saat suaminya meninggal, Bertha pindah ke Vienna untuk melanjutkan perjuangannya mempromosikan perdamaian melalui tulisan yang semakin gencar bahkan ketika telah dinobatkan sebagai wanita pertama penerima Nobel Perdamaian (1905). Dia menentang anggapan bahwa pergerakan perdamaian adalah sebuah gerakan para wanita dalam menekan prinsip berperang ala laki-laki karena menurutnya ini bukan hanya sekedar masalah tidak ingin ditinggalkan kekasih tetapi ini tentang banyaknya orang yang

menderita karena kemakmuran tidak dijadikan prioritas, serta timbulnya tidak adanya penghargaan terhadap kesetaraan wanita dengan pria dan perbedaan etnis. Perang adalah suatu tragedi kemanusiaan secara menyeluruh. Bertha von Suttner meninggal pada 21 Juni 1914 saat tengah menyiapkan kongres perdamaian dunia yang direncanakan pada Agustus 1914 di Vienna dan beberapa hari sebelum pecahnya Perang Dunia I. Referensi: Bertha von Suttner. Encarta 2008 Bertha von Suttner. <http://www.eesc.europa.eu/documents/publications/pdf/booklets/EESC-2006-06-EN.pdf. >. 2006 Quotable Women for Peace Discussion and Role Playing Suggestions. 1996-2008. <www.womeninworldhistory.com> Bertha von Suttner. <www.nobelprize.org> Today's Heroes Linking Present to Past, Bertha Von Suttner, The Nobel Peace Prize. 19962008. <womeninworldhistory.com>

Diwya Anindyacitta ”Peace is made with yesterday's enemies. What is the alternatives?” ”In public life, you don't use swords, you use words.You talk to people, you have dialogue. That's what I'm going to do. I don't have any force but the force of my conviction.” Shimon Peres lahir di Polandia pada tahun 1923. Shimon Peres menduduki jabatan sebagai perdana menteri Israel pada tahun 1984-1986, dan juga pada tahun 1995-1996. Selain sebagai perdana menteri, ia juga kerap menempati posisi-posisi penting pemerintahan. Dan pada tahun 2007 ia dilantik menjadi Presiden Israel menggantikan Moshe Katsav. Selama menjadi orang penting di pemerintah Israel, Shimon Peres dikenal sering mengupayakan adanya perdamaian di Timur Tengah. Misalnya, Peres bekerjasama dengan para diplomat untuk melakukan serangkaian negosiasi yang mengupayakan perdamaian antara Mesir dan Israel. Peres sendiri sering mengadakan pertemuanpertemuan dengan Anwar Sadat, presiden Mesir waktu itu. Negosiasi itu berujung pada penandatanganan Camp David Accords pada tahun 1979. Perjanjian itu menyepakati penarikan mundur Israel dari Semenanjung Sinai yang dulu direbut Israel dari Mesir saat Perang Enam Hari, serta penetapan hubungan yang baik dan damai antara dua negara yang dahulu sempat memburuk karena adanya Perang Arab-Israel. Saat Peres menjadi perdana menteri, salah satu kesuksesannya adalah menarik pasukan Israel dari Lebanon, di mana mereka terlibat perang gerilya di sana. Tetapi, selain hal tersebut, usaha Peres untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah ditengarai tidak membawa hasil yang cukup signifikan. Misalnya ketika Peres bersedia memberikan sebagian tanah Israel demi kepentingan perdamaian, ide itu ditentang keras oleh partai oposisi. Pada tahun 1992, ketika Peres menjadi Meteri Luar Negeri, Peres bersama Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin, berusaha mencapai kata sepakat dengan PLO (Palestine Liberation Organization), sehingga pada tahun 1993 lahir perjanjian antara Israel dan Palestina yang mengupayakan kerjasama dan perdamaian alih-alih perang dan kebencian yang kerap timbul di antara kedua negara. Karena upaya tersebut, Shimon Peres, Yitzhak Rabin dan Yasir Arafat pemimpin PLO meraih gelar Nobel Perdamaian pada tahun 1994. Di tahun yang sama Peres berusaha mencapai kesepakatan dengan Yordania dalam perjanjian damai. Pada tahun 1995, ketika Peres menduduki jabatan perdana menteri untuk yang kedua kalinya, Peres tetap mengedepankan agenda perdamaian dalam pemerintahannya, dan menempatkan Syria sebagai prioritas utamanya. Di ranah nasional, Peres berusaha menangani perpecahan antara kaum Yahudi religius dan sekular yang sempat timbul, terlebih pasca dibunuhnya Yitzhak Rabin oleh seorang Yahudi religius. Untuk menangani masalah tersebut, Peres menempatkan seorang Rabbi yang moderat duduk di pemerintahannya untuk menekan keretakan yang ada. Pada tahun 1996, Peres mengadakan pertemuan dengan pemimpin Yordania, Mesir, Palestina serta Amerika Serikat untuk membicarakan mengenai masa depan perdamaian di Timur Tengah. Namun sayang usaha Peres itu tidak menampakkan hasil yang maksimal karena adanya insiden-insiden bersenjata yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban di pihak Israel. Hampir 60 tahun Peres telah malang melintang di kancah politik Israel sambil mengupayakan perdamaian di Timur Tengah. Salah satu bentuk pengabdiannya dilakukan melalui lembaga yang ia dirikan, yaitu Peres Center for Peace. Misi dari lembaga ini adalah untuk membangun kerangka dasar perdamaian dan rekonsiliasi oleh dan untuk rakyat Timur Tengah yang meningkatkan perkembangan sosio-ekonomi sekaligus memperbaiki hubungan melalui rasa saling pengertian dan kerjasama. Program-program yang diusung Peres Center for Peace ini meliputi aktivitas-aktivitas peacebuilding yang memerlukan kontribusi dari seluruh elemen masyarakat mulai dari pemerintah, pengusaha, LSM hingga tiap individu termasuk kaum muda. Program-program tersebut memang sangat kental

dengan usaha mencapai perdamaian, mulai dari yang environmental misalnya penyediaan air bersih dan peningkatan sumber daya pertanian; membentuk mekanisme dagang dan bisnis yang memfasilitasi masyarakat Israel, Palestina dan negara Arab lainnya; menyediakan layanan kesehatan hingga pemberdayaan kaum muda melalui pendidikan dan budaya perdamaian. Semua program konkret itu diharapkan akan membentuk suatu peaceful coexistence di wilayah Timur Tengah. Sosok seperti Shimon Peres ini memang mengagumkan. Peres mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan perdamaian. Walaupun sering ditentang oleh pihak oposisi, Peres selalu mengutamakan jalan perundingan karena sedari awal ia memang memiliki prinsip untuk membingkai kebijakan-kebijakannya dengan label perdamaian. Peres memang seseorang yang percaya pada peace continuation. Hingga kini Peres masih mengupayakan terciptanya perdamaian di Timur Tengah.

Inta Arum Minarasa “To be alone as a pioneer...like we were, was difficult. My strategy was not only to help the people, or transform the world, but to do both,” Bernard Kouchner lahir pada 1 november 1939 di Avignon, ia merupakan seorang politikus dari perancis, diplomat, dan juga dokter. Ia memiliki 4 anak dari istri pertamanya Evelyne Pisier, seorang ahli hukum, dan memiliki 1 anak dari istrinya yang sekarang Christine Ockrent, seorang jurnalis televisi. Ia merupakan salah satu pendiri “Doctors Without Borders” (MSF) dan “Doctors of the World”. Doctors without Border merupakan nama resmi yang diberikan oleh Amerika Serikat, merupakan sebuah organisasi Non Pemerintah yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan. Doctors Without Border didirikan pada tahun 1971 oleh sekelompok kecil dokter-dokter prancis pada saat itu, termasuk Bernard Kouchner. Ia ikut terjun dalam mendirikan MSF ini dengan latar belakang kepeduliannya terhadap sesama yang sangat besar sehingga mendorong ia untuk bergerak dan mengabdikan dirinya lebih jauh dalam bidang tersebut. Saat ini ia merupakan mentri urusan Eropa dalam sayap kanan pemerintahan Fillon, walaupun sebelumnya ia merupakan politikus sayap kiri. Semasa hidupnya ia cukup banyak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan baik dari bidang politik juga berpartisipasi besar dalam bidang kesehatan, dari mulai menjadi anggota partai Komunis Perancis (sebagai langkah awal menetapkan kariernya di politik) sampai dengan menjadi perwakilan delegasi mentri kesehatan. Adapun beberapa kontribusi yang diabdikannya selama ini ialah: • Menjadi sekjen pertama (setingkat dibawah mentri) yang mengurusi aksi kemanusiaan dari tahun 1988 sampai dengan 1992 (pada masa cabinet Michel Ricardo) • Menteri kesehatan pada periode 1992-1993 (dibawah pemerintahan Pierre Beregovov) • Anggota Parlemen Eropa dari tahun 1994 sampai dengan 1997. • Menteri kesehatan dari tahun 1997 sampai dengan 1999 (dibawah pemerintahan Lionel Jospin) • Perwakilan Khusus Sekjen PBB di Kosovo periode 1999 sampai dengan 2001. • Delegasi Menteri Kesehatan dari tahun 2001 sampai dengan 2002.

Theosa Dinar S. Syekh Siti Jenar atau Lemah bang, Ali Hasan merupakan tokoh penyebar agama islam yang kontroversial dan terkenal di tanah Jawa, disamping ajaran wali songo. Syekh Siti Jenar sangat kontroversial karena ajaran-ajarannya yang dianggap bertolak belakang dengan mainstream ajaran islam yang dibawa oleh wali songo saat itu. Hingga tak mengherankan bila selama hidupnya Syekh Siti Jenar dikucilkan oleh keluarganya sendiri karena kesukaannya terhadap ilmu ghaib hingga mendapat hukuman mati karena ajaran islam yang diajarkannya dianggap sesat. 1 Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling controversial adalah Manunggaling Kawula Gusti. Menurut dia, bahwa di dalam tubuh manusia itu terdapat ruh dari Tuhan sehingga manusia merasa dekat dengan Tuhannya. Ajaran ini dalam pemikirannya sesuai dengan ajaran Al-Quran (Shaad; 71-72). Sehingga apa yang diwajibkan seperti melakukan sholat, syahadat, puasa, dan lain-lain itu bukanlah hal yang wajib dan omong kosong belaka, karena apabila manusia telah mencapai taraf penyatuan dengan Tuhan, maka manusia itu bebas hukum tidak terbebani lagi dengan berbagai hukum dan aturan. Dengan manusia merasa dekat dan menyatu dengan Tuhan maka manusia makin menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milikNya, kita tidak mempunyai hak apapun selain menjaga apa yang menjadi miliknya di dunia ini. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menjaga kemakmuran bumi, dimana dia menyebutnya sebagai Hamamayu Hayuning Bawana, dimana seseorang dianggap muslim apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya bukannya menciptakan kerusakan di bumi. 2 Disamping itu, dengan adanya Tuhan di dalam dirinya, otomatis seorang dengan yang lain tidak akan saling menyakiti, karena apabila mereka menyakiti manusia itu, maka itu sama dengan dia juga menyakiti Tuhannya. Bagi Syekh, tidak penting untuk berdebat tentang ajaran agama mana yang paling benar, karena pada dasarnya kita semua yang beragama ini menyembah pada satu Yang Maha Esa yang sama hanya saja kita masing-masing ajaran menyebutnya secara berbeda-beda. Oleh sebab itulah, kita tidak boleh berdebat tentang ajaran agama siapa yang paling benar. Disamping itu, dia juga mendirikan perguruan, untuk mengajarkan prinsip-psinsip dalam menjalankan islam yang baik, salah satunya adalah menyucikan dirinya sendiri dengan menjauhi kemewahan dan kesenangan duniawi (tasawuf). Selain dari pada itu, dalam pandangan Syekh Siti Jenar hidup manusia di dunia yang kita jalani tidak lebih dari sekedar kematian, sebaliknya kematian justru merupakan awal kehidupan yang lebih abadi. Akibatnya banyak dari pengikut dia lebih memilih untuk mati dan menempuh hidup abadi yang sebenarnya melalui kematian dengan berbagai cara, antara lain dengan bunuh diri atau memulai keributan di pasar yang membuat orang lain marah dan melempari mereka hingga mati. Oleh sebab itu, dia mengangap dunia yang indah dan damai serta harta kekayaan, dianggap sebgai godaan dalam kematian di dunia ini dan hidup yang abadi adalah hidup setelah menjalani kematian.3 Biarpun pribadinya dianggap sesat oleh banyak orang karena ajarannya bertolak belakang dengan ajaran islam yang ada pada saat itu dan faktor-faktor lainnya, Syekh tetap masih percaya bahwa apa yang kita miliki didunia ini berasal dari Tuhan dan kita tidak punya hak apapun yang harus kita lakukan adalah dengan menjaga apa yang Dia titipkan pada kita dengan baik dan tanpa merusak bumi ini. Disamping itu, ajarannya pulalah yang mengingatkan kita untuk tidak saling berdebat tentang ajaran mana yang paling benar dan yang terpenting itu adalah untuk selalu dekat dengan Tuhan. Bagi saya sebagai penulis, kalimat yang terakhir tadi cukup mewakili bahwasanya Syekh Siti Jenar itu adalah orang yang peduli dan mau menjaga apa yang ada di bumi ini dan menurut saya itu adalah salah satu bentuk perdamaian dari seorang Syekh Siti Jenar.

Oleh : Theosa Dinar S. (21596) Saya Lahir di Surakarta dengan latar belakang seluruh keluarga yang berbudaya Jawa. Semenjak kecil, saya didik dengan budaya dan nilai-nilai jawa, dimana harus menghormati ayah dan ibu dengan segenap hati. Biarpun begitu, keluarga kami sangatlah liberal, dimana posisi ayah dan ibu berada di posisi yang sama, tidak ada yang harus dihormati lebih besar. Hal ini berbeda dengan budaya jawa, terutama di Solo, dimana masih menganut budaya patriakhi. Budaya ini mengedepankan posisi Ayah (lakilaki ) harus dijunjung tinggi dan dihormati dan posisi Ibu (perempuan) hanyalah sebagai pelengkap saja. Budaya Patriakhi inilah yang menurut saya menjadi salah satu alasan kaum feminis untuk merombak tatanan social masyarakat, dimana mereka menginginkan kedudukan wanita dan pria sejajar. Dalam budaya jawa, terdapat budaya patriakhi yang sangat menguntungkan posisi laki-laki, sedangkan wanita jawa haruslah selalu bersikap nrima ing pandum yang secara mendasar berarti menerima segala sesuatu tanpa perlawanan dan bantahan apapun. Saking tidak begitu paham tentang apa itu kekerasaan secara gamblang, mereka bahkan tidak menyadari bahwa ajaran yang ditanamkan oleh orangtua mereka bahwa setiap wanita (istri) harus patuh terhadap pria (suami) tersebut membuat mereka makin tidak berani mengatakan “tidak” pada suaminya. Yang nantinya, hal tersebut makin membuat dasar legitimasi bagi pihak laki-laki untuk melakukan tindakan superioritasnya, termasuk kekerasan terhadap kaum perempuan, di wilayah social, politik, hukum, ekonomi, dan lain-lain. Maka tak jarang, wanita jawa yang masih belum sadar dirinya sebenarnya, dalam kasuskasus tertentu, menerima kekerasaan dari pihak laki-laki. Kekerasan yang saya maksud disini, tidak hanya kekerasan fisik saja melainkan kekerasan dalam bentuk lain. Karena kekerasan itu adalah semua bentuk perilaku verbal maupun nonverbal yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang lain, sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik, emosional dan psikologis terhadap orang yang menjadi sasarannya (Nur Hayati, 2000). Dari data yang saya dapatkan dari internet, SPEK HAM (Solidaritas Perempuan Untuk Keadilan dan Hak Asasi Manusia) mengumpulkan data kekerasaan yang dialami perempuan di Surakarta, dimana pada tahun 2003-2004, Selama tahun tersebut SPEK-HAM Solo mencatat adanya 61 kasus yang terdiri dari 20 kasus perkosaan, 18 kasus pencabulan, 10 kasus penganiayaan, 7 kasus KDRT, 4 kasus pelecehan seksual dan 2 kasus inkar janji. Maret 2004 dalam lingkup Database Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilakukan bersama Mitra Perempuan, SPEK HAM mencatat pengaduan dan bantuan kasus baru sebanyak 25 perempuan dan anak-anak yang mengalami kasus kekerasan terhadap perempuan di wilayah Eks-Karesidenan Surakarta (Solo, Boyolali, Klaten, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri). Dari data-data diatas, paling tidak dapat membuktikan bahwa tidak selama suatu budaya itu selalu benar dan patut untuk dilestarikan. Bagi saya, akan lebih baik bila mulai saat ini, anak-anak yang lahir dengan identitas orang jawa, untuk tahu bahwa orang tua mereka adalah orang tua yang patut untuk dihormati, tanpa membeda-bedakan siapa yang harus dijunjung lebih tinggi. 1 Bukan hanya itu saja, dalam tatanan social masyarakat jawa juga dikenal dengan strata social yang membedakan kedudukan kaum priyayi dengan kaum wong cilik. Jadi tidak hanya di budaya orang bali saja yang mengenal kasta social, di budaya saya pun terdapat hal yang serupa. Dalam penggunaan bahasa jawa, yang memiliki 3 tingkatan (Kromo inggil, kromo madya, ngoko), makin mempertajam perbedaan status social ini. Dimana bahasa kromo inggil dipake oleh golongan priyayi sedangkan ngoko dipake

oleh masyarakat biasa (wong cilik). Pembedaan ini semakin ketara ketika sudah mulai merabah urusan kepemilikan dan perlakukan terhadap pembantu rumah tangga. Dalam budaya Jawa dikenal istilah Magersari dan Ngenger. Magersari adalah sekelompok masyarakat yang tinggal di lahan milik priyayi kemudian juga bekerja pada Priyayi itu, sementara Ngenger adalah bekerja secara ikhlas dan tidak bayar kepada suatu rumah tangga orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi secara martabat, derajat dan pangkat dibanding dirinya. Dengan pembedaan kelas social ini, maka tak jarang para majikan menganggap dirinya golongan priyayi yang berhak atas apapun terhadap pembantunya (golongan priyayi) yang kemudian berkembang menjadi tindakan kekerasaan pada pembantunya. Profesi pembantu sendiri tidak pernah mendapat perhatian khusus, layaknya buruh yang memiliki asosiasi buruh yang mampu mengakomondasi kepentingan mereka. Oleh sebab itulah, tak ayal kekerasan pada pembantu pun tidak begitu mendapat perhatian yang serius. Oleh sebab itulah, tidak benar 100% orang-orang mengatakan bahwa budaya jawa itu penuh dengan kelemahlembutan dan halus. Karena didalamnya ternyata juga memiliki suatu budaya kekerasaan yang tidak ketara bahkan tidak disadari langsung oleh orang jawa sendiri. Oleh sebab itu, dari semua contoh ritual diatas, saya ingin menekankan pada hidup berdampingan dengan rukun (peaceful coexsistency) satu sama lain. Semua yang diciptakan Tuhan itu memiliki derajat yang sama di mataNya, jadi bukanlah hak kita untuk saling membedakan satu sama lain, seperti yang dikatakan oleh Syekh Siti jenar.

Adri Arlan “...Imagination is more important than knowledge because knowledge is limited..” ALBERT EINSTEIN Kalian biasa mengenal diriku dengan penampilan eksentrik,rambut putih yang jabrik serta pakaian profesorku yang kumal.Namun semuanya itu hanyalah penampilan luarku saja,,,tahukah kalian hingga kini setiap ada persoalan yang tidak bias dipecahkan,,namaku selalu disebut-sebut,,,kata mereka “You Are No Einsten”..Hal ini sudah cukup merefleksikan penghormatan kalian terhadap kecerdasan diriku..hehehe.. Sekilas aku mengenalkan diriku dulu,,dilahirkan di Ulm,Wuttenberg pada tanggal 18 April 1879,ayah dan ibuku bernama Hermann dan Pauline,kami merupakan keluarga Yahudi yang taat .Namun ibuku memasukkan aku di sekolah katolik pada masa kecilku.oh ya Ibuku pulalah yang menganjurkanku untuk mendalami biola dan mendengarkan musik klasiknya oom Bach dan mas Mozart. Masa-masa pendidikanku di Munich sungguh sangat membosankan sehingga aku banyak membolos,guru-gurunya mengajar terlalu kaku dan tidak pernah menerima pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan.Yah..mungkin aku lebih baik berhenti dari sekolah,usiaku 15 tahun saat itu,lalu aku memutuskan untuk mengikuti keluargaku pindah ke Italia.Namun aku menyadari pentingnya pendidikan bagi diriku,sehingga aku pergi belajar ke Swiss. Wow,,sekolahnya sungguh menyenangkan,apalagi disana para murid selalu dianjurkan untuk bertanya,sungguh merupakan “surga” bagi kehausan intelektualku,sampai akhirnya aku memperoleh gelar Doktor di Universitas Zurich pada usia 26 tahun. Langsung saja ya karena karier akademisku yang sangat cemerlang,aku diangkat sebagai Guru Besar Universitas Berlin,Direktur Lembaga Fisika “Kaisar Wilhelm” dan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia..disana aku diberikan fasilitas yang sangat baik sehingga aku dapat mengembangkan bakatku secara optimal. Disanalah akhirnya aku menemukan Teori Relativitas yang kesohor itu sekaligus berhasil menggoyahkan pendapat kakek Newton mengenai Teori Gravitasi,menurutku gravitasi bukan disebabkan oleh tarik-menarik tetapi karena adanya distorsi distorsi Ruang-Waktu dari suatu benda langit, yang mempengaruhi gerakan benda langit lainnya. Distorsi Ruang-Waktu itulah yang “menjebak” bumi sehingga terus berputar mengelilingi Matahari, dan menjebak” bulan sehingga selalu berputar mengelilingi Bumi. Dan akhirnya mengatur seluruh pergerakan benda-benda langit.Mengerti ga? Penjelasannya nanti aja ya. Pengaruh Hitler yang mulai meracuni hampir seluruh Jerman membuat diriku tidak betah,apalagi kebijakannya terhadap kaum Yahudi yangs sangat kejam,meyebabkan aku memutuskan harus pindah ke Amerika Serikat.Ternyata banyak teman-teman profesor Yahudi yang juga kabur keluar negeri akibat tidak tahan dengan kekejaman Hitler.dari mereka aku diberitahu bahwa Jerman hampir menemukan cara untuk menciptakan BOM ATOM !.Hal ini sungguh berbahaya sebab akan memulai kehancuran dunia apabila Jerman berhasil mendapatkannya.Aku pun segera menulis surat kepada Presiden Amerika, Roosevelt, untuk memberikan peringatan akan ancaman ini. Roosevelt juga segera menyadari bahaya ini dan mendorong dilakukannya proyek penelitian energi atom yang dinamakan “PROJECT MANHATTAN”. Nantinya, proyek ini ternyata memang berhasil menciptakan bom atom yang kemudian dijatuhkan di Jepang pada akhir Perang Dunia II. Namun, proyek ini lalu membuat diriku prihatin. Manusia telah berhasil menciptakan senjata yang daya hancurnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika manusia nanti mampu membuatnya dalam jumlah yang banyak dan terjadi sesuatu, dunia bisa musnah. Aku pun mulai memperjuangkan agar pengembangan senjata ini bisa dibatasi. Untuk mengurangi resiko penemuanku disalahgunskan oleh orang-orang intelek yang tidak bermoral,banyak hasil penemuanku mengenai atom dan nuklir

tidak aku publikasikan dan tidak jarang kumusnahkan. Sebab akibat yang ditimbulkan oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sangat mengerikan. Untuk itu aku hanya berharap penemuanku yang ada ini hanya berguna untuk kelangsungan perdamaian dunia. Sampai akhir hayatku tanggal 18 April 1955 aku telah mengganti statusku mejadi warganegara AS. Mungkin itu saja sumbangsihku terhadap perdamaian dan selalu aku selalu menekankan bahwa ilmu pengetahuan tanpa landasan moral didalamnya adalah hampa. “..Einstein akhirnya tidak saja dikenal sebagai salah seorang paling genius di dunia, tetapi juga sebagai orang yang gigih menyokong gerakan perdamaian..” (wikipedia quotes)

Heru Yuda AUGUSTUS GAIUS JULIUS CAESAR OCTAVIANUS ∞ Octavianus adalah cucu-keponakan dari Julius Caesar, anak dari keponakannya yaitu Aria, dengan Octavius. Octavianus lahir pada tanggal 23 September 63 SM dan menjadi yatim empat tahun kemudian ketika ayahnya, yang pada waktu itu Senator, sehingga kemudian Octavianus diangkat menjadi anak oleh Julius Caesar. Octavianus belajar kepada seorang orator publik, pada masa itu, Apollodorus di Appolonia, Illyricum. Octavianus kembali ke Romawi setelah Julius Caesar dibunuh oleh Brutus pada 15 Maret 44 SM, dan mewarisi nama Julius Caesar; sehingga dijadikan bagian dari namanya. Setelah mengalahkan Mark Antony, salah seorang perwira militer Caesar yang tidak mau mengakui hak Octavianus atas kedudukan Caesar, dengan bekerjasama dengan Senate, tetapi kemudian Senate menolak untuk mengangkat Octavianus menjadi penguasa Romawi. Setelah Antony kembali ke Roma dengan Lepidus, Octavianus bekerjasama dengan mereka untuk mengalahkan Senate dan para pesaingnya dalam memperebutkan tahta Romawi. Ketiganya kemudian membentuk Triumvirat Kedua dalam memerintah Kekaisaran Romawi. Pemerintahan Triumvirat ini mendapatkan kekuasaan absolut dengan melakukan pembunuhan missal terhadap para oposisi mereka di Italia, kemenangan atas Tentara Republik dipimpin Brutus dan Cassius di daerah Philippi. Setelah pertempuran di Philippi tersebut, Octavianus dan Antony, Romawi membagi wilayahnya kedalam provinsi-provinsi baru; Octavianus menguasai Italia, Antony mendapatkan wilayah Timur, dan Lepidus memperoleh Afrika. Kemudian pada tahun 36 SM, Lepidus dipaksa mundur dari Triumvirat oleh Octavianus. Dengan demikian, kekuatan penguasa Romawi sekarang berada diantara Octavianus dan Antony. Untuk mendapatkan posisi paling kuat di Romawi, Octavianus melancarkan perang terhadap Mesir yang dipimpin Ratu Cleopatra, kekasih Antony. Kemenangan atas perang dengan angkatan laut Romawi ini menyebabkan pasangan AntonyCleopatra mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri sehingga Octavianus menjadi penguasa tunggal Romawi. Dengan menjadi eksekutif tunggal, Octavianus tidak menjadi diktator seperti Caesar. Dua tahun setelah menjadi penguasa, pada tahun 27 SM Octavianus mengembalikan kekuasaan republik kepada Senat dan pada rakyat Romawi. Tetapi Senat yang ingin mengapresiai keputusan itu memberikan Octavianus kekuasaan yang lebih dan memberikan nama AUGUSTUS kepada Octavianus sebagai simbol atas diri Octavianus dengan kekuasaan superior diatas Kekaisaran Romawi. Kemudian Octavianus lebih dikenal dengan nama Augustus. Hal ini terjadi dalam bentuk partnership antara Senat dan Augustus dimana Augustus bertindak sebagai Senior Partner. Pemerintahan ini dijalankan secara resmi pada tahun 23 SM ketika Senat memberikan kekuasaan pada Augustus untuk mengontrol militer, kebijakan luar negeri dan hukum. Sebagai Kaisar pertama Romawi, Augustus memiliki status sebagai berikut: princeps senatus ("first man of the senate") Augustus merupakan pemimpin Senat dengan kekuasaan sebagaimana Perdana Menteri sekarang, atau dalam Lembaga Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Speaker of the House; pontifex maximus ("high priest") Augustus merupakan pemimpin lembaga keagamaan di Romawi consular imperium Kekuasaan yang sama dengan pemimpin eksekutif dan juga sebagai imperium maius, Augustus memiliki otoritas yang lebih besar dari pemimpin diluar Roma, karena kekuasaan Gubernur di propinsi-propinsi lain telah ‘dikalahkan’ dan ditambah lagi posisinya sebagai Supreme Commander dari militer Romawi. tribunicia potestas ("tribunician power")

dengan status ini, Augustus memiliki hak veto dan posisi yang tidak dapat diintervensi (sacrosanctitas) Dalam menjalankan kekuasaan sebagai Pemimpin dalam hukum, Augustus tidak membentuk pengadilan tetapi Forum Augustus untuk membicarakan masalahmasalah kenegaraan dan hukum dengan senat dan militer. Berdasarkan keterangan penulis biografi Augustus, Suetonius, Kaisar pertama Romawi ini percaya bahwa tidak (lebih tepatnya belum) ada penggantinya yang dapat melanjutkan keberhasilan dirinya. "Augustus himself would not be free from danger if he should retire" and that "it would be hazardous to trust the state to the control of the populace" so "he continued to keep it in his hands; and it is not easy to say whether his intentions or their results were the better." Selama pemerintahannya, Augustus dapat menjaga kestabilan Romawi dengan menjaga perbatasan-perbatasannya, mengurangi jumlah pasukan militer dan merekonstruksi institusi militer, dan membangun pasukan maritime Romawi. Selain itu, inovasi yang dilakukan Augustus adalah membentuk pelayanan masyarakat yang besar untuk mengatur wilayah Romawi yang begitu luas. Dengan keberhasilan ini, era pemerintahan Augustus dikenal dengan Augustus Age dimana tercipta pax Romana; kedamaian di Romawi. Augustus menaikkan kembali standar moral bangsa Romawi dengan mengeluarkan peraturan untuk mengatur pernikahan dan kehidupan keluarga dan juga kehidupan seksual yang tidak sehat promiscuity. Suetonius mengatakan bahwa "Augustus bore the death of his kin with far more resignation than their misconduct." Selain itu pula, Augustus memperbaiki kuil-kuil yang ada di Romawi, beberapa dengan uangnya sendiri. Augustus menyarankan masyarakatnya untuk kembali ke dedikasi agama dan moral seperti era awal Republik. Di 17 SM, Augustus menyelenggarakan Secular Games, festival kuno yang memberikan simbol restorasi agama terdahulu. Quotes dari Augustus: "I found Rome brick, I left it marble." Dan menjelang kematiannya, Augustus berkata: “Since I've played well, with joy your voices raise. And from your stage dismiss me with your praise."

Ika Septi Friederich Wilhelm Nietzsche lahir tahun 1844 di Röcken, Prussia. Ayahnya adalah seorang pastor gereja Lutheran yang meninggal saat ia berumur 5 tahun. Nietszche belajar philology di universitas Bonn dan Leipzig dan ditunjuk sebagai professor filology di Universitas Basel saat usianya 24 tahun Tahun 1879 ia terpaksa pensiun karena alasan kesehatan. Sepuluh tahun kemudian ia meninggal akibat “mental breakdown”. Pemikiran Nietzsche awalnya dipengaruhi oleh Schopenhauer yang percaya bahwa hidup ini adalah penuh dengan penderitaan tiada akhir. Menurutnya, “keinginan” manusia adalah penyebab penderitaan manusia itu sendiri. Oleh karena itu menurut Nietsche maupun Schopenhauer manusia akan lebih damai bila menerima keadaan mereka apa adanya. Selain itu, Nietzsche percaya bahwa dalam hidup yang penuh penderitaan tersebut seni adalah obat yang paling mujarab dalam menghadapi hidup ini, Selanjutnya, Nietzsche melalui bukunya The Spake of Zarathustra, melontarkan kritik terhadap nilai-nilai moral tradisional dan moral agama. Nietszche berpendapat bahwa manusia hanya menjadi budak moral agama dan tradisional tersebut, manusia melakukan sesuatu sesuai dengan moral tersebut adalah karena manusia tersebut lemah dan bergantung pada sosok kuat “superman” yang menentukan apa yang mulia dalam hidup ini. Kalau pun manusia bertindak baik, atau sesuai dengan nilai moral tradisional saat itu, itu semua hanyalah karena mereka mempunyai kepentingan dibalik tindakan baik tersebut. Nietzsche percaya bahwa kondisi ini sudah tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia. Nietzsche sering menyatakan bahwa, “God is Dead”. Menurutnya, manusia harus mempunyai kontrol sendiri atas nilai apa yang menurut dirinya baik. Setiap individu harus dapat menjadi kreativ, mandiri dan mempunyai pandangan sendiri atas nilai yang dianut olehnya. Atau dengan kata lain setiap manusia harus dapat menjadi “superman” dan bukan hanya menjadi budak moral.

Melati Dewi Ayuningtyas Lech Wałęsa lahir pada 29 September 1943 di Popowo, Polandia. Lech Walesa adalah politikus Polandia, mantan Persatuan dagang, dan aktivis Serikat pekerja serta mantan tukang listrik. Ia turut mendirikan Solidaritas (Solidarność), serikat pekerja indenpenden pertama di Blok Soviet. Ia meraih penghargaan Piala Nobel Perdamaian pada 1993 dan menjabat Presiden Polandia pada periode 1990-1995. Pada tahun 1970, Lech Walesa memimpin unjuk rasa di Gdansk Shipyard yang memakan korban jiwa 80 orang tewas. Karena hal tersebut Lech Walesa ditahan dan dipenjara 1 tahun. Tahun 1978 Lech Walesa bersama Andrzej Gwiazda dan Aleksander Hall membentuk serikat kerja yang ilegal bernama Free Trade Union of Pomerania. Akibatnya ia ditahan pada tahun 1979 karena membentuk organisasi anti kerajaan Polandia. Tapi 1980 ia dinyatakan tidak bersalah lalu dibebaskan dan diterima bekerja di tempatnya di Gdansk shipyard. Niezależny Samorządny Związek Zawodowy "Solidarnosc" adalah federasi organisasi buruh Polandia yang didirikan di Galangan Gdansk dan awalnya dipimpin oleh Lech Wałęsa. Pada 1980-an organisasi ini mengusung suatu gerakan sosial anti komunis. Pemerintah Polandia berupaya untuk membubarkan organisasi ini melalui tekanan selama bertahun-tahun, walaupun akhirnya berakhir dengan negosiasi. Perundingan antara pemerintah dan pihak oposisi yang dipimpin oleh Solidaritas membawa Polandia pada suatu pemilihan umum semi-bebas pada tahun 1989. Pada akhir Agustus 1989, pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh Solidaritas terbentuk dan pada Desember Wałęsa diangkat menjadi presiden. Sejak 1989 Solidaritas telah menjadi organisasi buruh yang lebih bersifat tradisional dan memiliki pengaruh kecil terhadap percaturan politik Polandia pada awal dasawarsa 1990-an. Suatu sayap politik Solidaritas dibentuk pada 1996 dengan pendirian Akcja Wyborcza Solidarność (AWS). Partai ini memenangkan pemilihan parlemen Polandia pada 1997, tapi kalah dalam pemilihan parlemen selanjutnya pada tahun 2001. Sejak saat itu, Lech Walesa mengundurkan diri dari arena politik dan menjadi ahli sejarah dan politik di beberapa universitas di Eropa Tengah.

Timur Girindra The Peace Ideas of Muhammad Yunus Di tahun 2006, Nobel Peace Prize diberikan kepada orang yang berjasa di bidang perdamaian melalui jalur ekonomi, dia adalah Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Ini juga pertama kalinya penghargaan diberikan pada profit-making business. Pertanyaanya dimanakah letak perdamaian Muhammad Yunus? Muhammad Yunus melihat bank-bank konvensional tidak memberikan jalan bagi rakyat miskin karena untuk mendapatkan kredit biasanya harus memiliki jaminan dan tentunya hal ini tidak dimiliki oleh rakyat miskin. Selain itu jumlah pinjaman yang terlalu kecil biasanya tidak begitu dipedulikan karena dianggap tidak menguntungkan. Semua hal tersebut menyebabkan rakyat miskin berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berkembang, yang pada akhirnya berujung pada tindak kriminal, human trafficking, dan kekerasan dalam rumah tangga. Untuk itu menurut Muhammad Yunus merasa bukan orang miskin yang harus menyesuaikan tetapi bank harus menyesuaikan persyaratan kredit dengan kondisi yang ada. Dengan adanya bantuan modal maka rakyat miskin dapat meningkatkan taraf hidupnya dengan cara yang mandiri serta pada akhirnya dapat mengurangi kriminalitas dan tindak kekerasan. Tetapi yang terpenting dari yang ingin diciptakan oleh Muhammad Yunus dan Grameen Bank adalah adanya keadilan kesempatan. Memberi kesempatan bagi semua orang untuk menjadi subjek, bukan sekedar objek ekonomi.

Noor Laili Hikmah Yasser Arafat Terlahir dengan nama lengkap Mohammed Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat alQudwa al-Husseini pada tanggal 4 Agustus 1929. Yasser Arafat adalah Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Presiden Otoritas Palestina. Ia menjabat sebagai Presiden Otoritas Palestina sejak tahun 1993 dan terpilih menjabat selama lima tahun pada tahun 1996. Selain Presiden, Arafat juga merupakan pemimpin Fatah dan PLO sejak tahun 1969 dengan markas di Yordania. PLO adalah organisasi liberal Palestina yang berusaha menentang pendudukan Israel atas Palestina. Pada tanggal 28 Oktober 2004, Arafat dilaporkan menderita penyakit yang serius. Keesokan harinya, dia meninggalkan Markas Besar Tepi Barat di Ramallah untuk diterbangkan ke Perancis. Di sana, dia dirawat di Rumah Sakit Militer Percy yang terletak di Clamart. Arafat berada dalam kondisi koma pada tanggal 3 November 2004. Sejak saat itu kondisinya memburuk. Dia tetap hidup dengan bantuan alat-alat penopang nyawa. Arafat meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 09:30 WIB tanggal 11 November 2004 pada usia 75 tahun. Upacara pemakaman diadakan di Bandara Kairo, Mesir. Arafat dimakamkan di markas besarnya Muqata, Ramallah, Tepi Barat. Pada bulan September 1993 PLO dan Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberi hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan melalui Persetujuan Damai Oslo tahun 1993. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras dari pihak ultra kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun, Negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat, dan Yordania) menyambut baik perjanjian untuk mendukung perdamaian itu. Setelah itu kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO. Pada tahun 1994, bersama dengan Shimon Peres dan Yitzhak Rabin, Arafat dianugerahi penghargaan nobel perdamaian atas usahanya tersebut.

Bintar Amar Benito Mussolini Latar Belakang Benito Andrea Mussolini dilahirkan pada tanggal 29 Juli 1883 di Predappio, Italia. Lahir dari Alessandro, seorang perajin besi dan Rosa, seorang guru sekolah dasar di Predappio, Benito dilahirkan dari lingkungan keluarga miskin sebagaimana kondisi kebanyakan keluarga di Italia saat itu. Semenjak kecil Mussolini telah menunjukkan sikap yang keras menghadapi tentangan pada dirinya. Terbukti sejak kecil ia telah menjadi seorang yang kasar dan berkuasa pada teman-teman satu sekolahnya, dimana saat sekolah menegah, ia pernah menusuk perut temannya sendiri dan melempar botol tinta pada gurunya. Ia juga seorang atheis dan tak pernah dibabtis secara Katholik sebelum tahun 1922. Meski sikap Mussolini pada masa kecil sangatlah brutal, nilai-nilai sekolahnya selalu cemerlang dan ia pun lulus dari sekolah keguruan pada 1901. Sikap Mussolini saat menjadi guru tetap tidak jauh berbeda dengan masa kecilnya, ia menjadi guru yang tidak teladan, hobi berjudi, dan main perempuan. Setelahnya ia beremigrasi ke Swis pada 1902 untuk belajar mengenai politik. Pemikiran Mussolini mengenai nasionalisme Italia berawal dari impian masa kecilnya yang memimpikan Italia bangkit sebagai kekuata utama Eropa sama seperti yang telah dilakukan Imperium Romawi kuno. Mussolini ingin menyatukan kembali semua daerah berbudaya Italia yang saat itu dikuasai oleh negara-negara lainnya, seperti Austria-Hungaria. Selain menjadi seorang yang irredentis dan ultranasionalis, Mussolini juga menjadi seorang yang anti-sosialis dan anti-komunis. Mussolini mulai membangun kekuatan politik yang besar setelah organisasi fasisnya, Fasci Italiani di Combattimento menjadi besar dan kuat di dalam negeri Italia, dan akhirnya melakukan kudeta terhadap perdana menteri Luigi Facta pada 1922. Setelahnya Mussolini membangun Italia sebagai negara yang dibangun atas dasar propaganda dan teror.

Riyanto Lesmana Iwan Fals Oh setiap kubaca merah darah sia-sia Perang menjadi dagangan Tak ada lagikah berita sentausa Oh aku merasa sendiri dalam hitam hari Tiada orang yang peduli Singkirkan cerita yang penuh luka Sungguh mataku letih segenap tubuhku perih Sewaktu ku membaca damai yang mulai hilang Digantikan air mata Yang tenggelamkan dunia Kisah damai yang hilang Ada disepanjang jalan Sementara engkau bocah terus lagukan Nyanyian genderang perang Kucoba menghindari namun selalu kutemui Semakin banyak raut wajah mengundang iba Ditanganmu bawa kisah Cerita damai yang hilang (Damai Yang Hilang, Iwan Fals, 1988/incomplete lyric, dinyanyikan oleh God Bless)

Sosok Iwan Fals (Virgiawan Listanto) mungkin tidak pernah terlepas dari kaum marjinal di Indonesia. Berbagai judul lagu yang membesarkan nama Iwan Fals hampir selalu menceritakan tentang kepedulian sosial seperti kemiskinan, pengangguran, dan berbagai protes sosial lainnya. Mulai dari lagu Oemar Bakri (1981) yang menggambarkan pahit getirnya nasib guru, Galang Rambu Anarki (1982) yang mengkritik kenaikan harga BBM, Serdadu (1984) tentang kesejahteraan TNI, Wakil Rakyat (1987) tentang anggota dewan yang sering tidur waktu rapat, hingga Bento (1989) yang merupakan sindiran bagi pejabat negeri, selalu bernuansa sosial dan politik. Tak jarang ia sering diawasi oleh pemerintah orde baru dan konser-konsernya sering dicekal oleh kepolisian dengan alasan stabilitas politik. Pada bulan April 1984 Iwan Fals pernah berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lagu Demokrasi Nasi, Pola Sederhana dan Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak saat itu ia dan keluarganya sering mendapat teror dari oknum yang tidak jelas. Ia juga sempat main di film Damai Kami Sepanjang Hari yang diputar pada tahun 1985. Sudah 20 album solo dan 12 album grup yang telah dihasilkannya dan di beberapa album terakhirnya ia sering mengeluarkan lagu bertemakan cinta. Menurutnya dengan cinta, dunia ini akan semakin sejuk dan damai. Dengan bernyanyi pula Iwan Fals dapat menyuarakan sisi realitas kondisi sosial politik bangsa Indonesia yang tidak terekspos di permukaan. Dia menanggapi kondisi tersebut melalui musik bukan karena mencari aman, melainkan hanya dengan musiklah masyarakat Indonesia dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di pemerintahan. Berbagai pandangan, kepedulian, dan kedekatan dengan kaum marjinal itulah yang membuatnya dinobatkan sebagai the Living Asian Hero oleh Majalah Time Asia, 29 April 2002, bersama dengan Aung San Suu Kyi, Jackie Chan, dll. Saat ini ia aktif di Yayasan Sosial Hairun Nisa yang menampung anak-anak tidak mampu dan menyantuni orang-orang jompo. Tercatat sudah lebih dari 200 anak dalam panti, 90 anak non panti, dan 300an lebih orang tua jompo yang diasuh dan dibimbingnya. Penghargaan sebagai the Living Asian Hero memang pantas didapatkannya. Iwan Fals memang sosok yang tegas, pantang menyerah, dan membumi di masyarakat Indonesia. Melalui lagu dan pemikirannya, ia menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat terutama masalah sosial dan politik.

Fauzia Ariani STANDING FOR PEACE WITH OSCAR ROMERO “Peace is not the product of terror or fear. Peace is not the silence of cemeteries. Peace is not the silent result of violent repression. Peace is the generous, tranquil contribution of all to the good of all. Peace is dynamism. Peace is generosity. It is right and it is duty.” Kata-kata di atas diucapkan oleh Oscar Romero, Uskup Agung El Salvador kelahiran 1917. Dari kata-kata Romero, dapat dilihat bagaimana kondisi yang melatarbelakanginya. El Salvador saat itu dikuasai rezim militer yang menyebarkan teror. Romero mendorong warga El Salvador untuk menyadari dan menghargai martabatnya sebagai manusia dan turut berjuang melawan sebuah pemerintahan yang korup dan mengancam, meskipun pemerintahan itu dipilih secara sah. Romero menggunakan segala macam kesempatan dan media untuk menentang rezim. Kotbah-kotbahnya tidak berisi imbauan bagi orang-orang beriman untuk menjadi warga yang patuh dan diam di hadapan pemimpin politik yang sudah dipilih secara sah. Romero juga mengajak para tentara untuk tidak menjadi perpanjangan tangan penguasa yang kejam. Romero mengetuk nurani mereka untuk menyadari kemanusiaannya sendiri dan menghargai sesama warganya yang setara dengannya. Dia berargumentasi sebagai sebuah instansi moral, yang membenarkan pengabaian hukum ketika hukum itu tidak lagi manusiawi. Romero juga sadar bahwa rezim El Salvador didukung AS atas nama "pengamanan" terhadap rakyat dengan cara menjual senjata, yang sebenarnya hanya demi kelancaran bisnis AS sendiri. Romero pun menulis surat kepada Presiden AS, Carter, mengecam moral ganda Amerika yang menampilkan diri sebagai pembela kemerdekaan bangsa-bangsa sekaligus mendukung rezim militer. Romero siap menghadapi konsekuensi atas segala bentuk perlawanannya. Pada salah satu batu nisannya tertulis: "Jika saya menyuarakan ketidakadilan dan mengecamnya, sebenarnya saya lakukan semua itu karena kewajiban saya sebagai gembala satu bangsa yang tertindas dan yang direndahkan martabatnya. Dalam semangat Injil saya siap untuk menghadapi pengadilan, masuk penjara dan mati". Peristiwa kematian Romero sepertinya skenario yang disusun rapi untuk sebuah film tentang akhir dari kehidupan seorang pejuang kemanusiaan. Romero ditembak mati pada 24 Maret 1980. Bagi Romero, jelaslah bahwa perdamaian bukan sikap diam agar tidak terjadi konflik, namun justru ketika seseorang tidak takut untuk melawan ketidakadilan dan represi yang merupakan ekspresi dari sikap kekerasan.

M. Noer Indrawan Pramoedya Ananta Toer (Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 – Jakarta 30 April 2006) adalah salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah seorang yang peduli terhadap sejarah, multikulturalisme, serta perdamaian, Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Ia adalah orang Indonesia pertama yang masuk nominasi peraih nobel atas karya-karyanya, meskipun hingga akhir hayatnya hal tersebut tidak terwujud, tapi ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang berkali-kali masuk dalam nominasi peraih nobel (sastra). Kemerdekaan dan perdamaian menurut Pramoedya Ananta Toer adalah kemerdekaan yang bermakna selaras dengan ajaran Multatuli : “memanusiakan manusia”. Pramoedya peduli terhadap etnis Tionghoa di Indonesia, ia juga merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Ia pernah menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Karena itu pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena dituduh pro-Komunis Tiongkok. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.

Adhe Nuansa Wibisono Michael Foot adalah seorang politisi dari partai Buruh di Inggris yang lahir pada 23 Juli 1913 di Plymouth, Devon. Pada tahun 1937 dia bergabung dengan mingguan beraliran kiri Tribune yang menyerukan Kampenye penyatuan dan bertujuan untuk mewujudkan front bersatu anti fasis. Karir politiknya dimulai dari keaktivannya di Partai Buruh dilanjutkan dengan menjadi perwakilan partai buruh pada aktivitas politik di Inggris seperti berbagi pemilu baik tingkat lokal, regional maupun nasional yang mengantarkannya menjadi politisi Partai Buruh di parlemen Inggris. Pada tahun 1980-1983 dia menjadi perdana menteri oposisi dari Partai Buruh. Hal paling dominan dari Michael Foot adalah garis politiknya yang beraliran kiri dimana dia menjadikan keyakinannya akan itu sebagai panduan bagi aktivitas politik yang dilakukannya. Michael Foot bukan hanya seorang politisi dia juga beraktivitas sebagai jurnalis, protester dan aktivis perdamaian. Dalam dunia aktivisme perdamaian dia memusatkan diri pada isu ”Nuclear Disarmament”, hal ini sebagai reaksi dan respon Foot atas pergolakan politik yang terjadi di dunia pada masa Perang Dingin. Beberapa komentar Foot tentang perlombaan senjata nuklir adalah “There can be no subject more important than this one of what we are going to do about these weapons which are going to blow us all to pieces,” Ya begitulah Michael Foot menganggap tidak ada yang lebih penting daripada isu senjata nuklir karena senjata ini dapat menghancurkan kita berkeping-keping.Selain itu seperti “I’m very much opposed to that. All those governments, including ours, who signed the NPT need to start adhering to it.” Dapat dilihat konsistensi Foot dalam menyerukan isu “Nuclear Disarmament” agar setiap negara menghormati dan mengikuti lagi kesepakatan yang telah dibuat dalam NPT melihat gejala perlombaan senjata yang merebak di negara-negara lain seperti India, Pakistan, Israel dll. Foot membentuk CND (Committee on Nuclear Disarmament) yang beranggotakan Bertrand Russel, Canon John Collins dari Katedral St Paul, JB Priestley dan aktivis perdamaian Peggy Duff. CND melakukan perlawanan dan protes terhadap perlombaan senjata nuklir salah satunya adalah demonstrasi selama tiga hari untuk menentang pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Inggris pada 17 Februari 1958. Demonstrasi itu dihadiri massa berjumlah 5000 orang yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti pelajar, pendeta dan aktivis perdamaian. Referensi http://www.timeout.com/london, Michael Foot : Interview http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Foot

Wildan Mahendra Ramadhani “Kita lebih bersatu daripada berketuhanan, daripada bermusyawarah, dan daripada berkeadilan sosial. Agama memang suprarasional, tetapi tidak bertentangan dengan rasio. Hanya berada pada tingkat yang lebih tinggi. Agama yang tidak bisa bertahan terhadap ilmu dan teknologi, bukan agama lagi.” (Nurcholish Madjid) Beranjak dari keyakinan bahwa tidak ada yang sakral kecuali Allah, lahirlah moto yang sangat terkenal: “Islam yes, Partai Islam no”. Tak dapat dipungkiri, Nurcholish Madjid memang satu dari banyak tokoh yang menjadi penerus gelombang modernisasi Islam di abad ini. Seperti kita tahu bahwa isu pembauran Islam kearah yang lebih modern sudah bergulir sejak lama. Sejarah mengenal nama Kiai Haji Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy'ari sebagai tokoh yang concern terhadap reformasi dalam Islam. Nurcholish lahir di Jombang, 17 Maret 1939. Ayahnya bernama Abdul Madjid, seorang kiai jebolan Tebuireng, Jombang yang didirikan dan dipimpin oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Karena itu tak heran jika Abdul Madjid sangat dekat dengan Hasyim Asy'ari. Ibu Cak Nur sendiri putrid dari Kiai Abdullah Sadjad dari Kediri yang juga teman baik KH. Hasyim Asy'ari. Latar belakang keluarga tersebut cukuplah menunjukkan bahwa ia terlahir dari subkultur pesantren. Masinis merupakan cita-citanya sejak kecil. Pada perkembangannya yang kemudikan tidak lagi kereta api namun pembaruan Islam. Cak Nur panggilan akrabnya, memang seorang yang paling getol dengan hal tersebut. Diawali sewaktu beliau menuntut ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, Cak Nur tercatat sebagai ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) selama dua periode berturut-turut, antara 1966 hingga 1971. Tantangan agaknya tak pernah mau jauh dari kehidupan Cak Nur, mulai dari kritik hingga tudingan kerap kali diterima. Hal tersebut semakin kuat kuat ketika kepulangannya ke Indonesia setelah berhasil merampungkan disertasinya yang berjudul Ibn Taymmiyya on Kalam and Falsafa dan meraih gelar Doktor Filsafat Islam dari Unersity Of Chicago tahun 1984. Itu terjadi karena konsep pemikirannya mengenai Neo-modernisme Islam atau sering disebut dengan Islam Liberal semakin matang. Dalam perkembangannya, bersama beberapa tokoh pembaru Islam Cak Nur mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina. Pendirian yayasan yang kemudian menjadi universitas ini merupakan bentuk keterlibatan Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin (pembawa kebaikan untuk semua) dalam mendukung tumbuhnya nilai-nilai ke-Indonesiaan, yaitu Pancasila. Dari paramadina inilah Cak Nur mengakomodasi kebangkitan semangat Islam dalam konteks zaman baru. Konsep mengenai Islam Liberal semakin menunjukkan eksistensinya dengan dibentuknya Kelompok Kajian Islam Utan Kayu (KIUK). Walaupun demikian, sesungguhnya paradigma Islam Liberal hanya laku pada segmen-segmen yang itu-itu juga, yaitu kaum terdidik menengah ke atas dan minoritas gereja dan sulit merakyat sebab pada akar bawah komunitas Islam masih anti-Baratisme, anti-Kristenitas, sungguh-sungguh tidak toleran kepada apa saja yang dipandang sebagai nonIslamik. Dalam prosesnya pun, komunitas ini juga tak lepas dari kecaman, terutama datang dari kaum neo-revivalis yaitu kaum muda yang bangkit, berkarakter tidak anti modernisme tetapi tetap konsisten dengan nilai-nilai klasik (sunnah) yang itu merupakan suatu hal yang menjadi phobia atau nightmare bagi Islam Liberal. Meskipun pemikiran Nurcholis Madjid sampai sekarang masih menjadi polemik, yang jelas hal tersebut merupakan bentuk kontribusinya pada bangsa ini yang patut kita hargai. Karena pada hakekatnya manusia bukan sumber dari kebenaran, namun pencari kebenaran itu sendiri. Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful