You are on page 1of 10

PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS)/Daerah Pengaliran Sungai (DPS) atau drainage basin adalah suatu daerah yang terhampar di sisi kiri dan dan kanan dari suatu aliran sungai, dimana semua anak sungai yang terdapat di sebelah kanan dan kiri sungai bermuara ke dalam suatu sungai induk. Seluruh hujan yang terjadi didalam suatu drainage basin, semua airnya akan mengisi sungai yang terdapat di dalam DAS tersebut. oleh sebab itu, areal DAS juga merupakan daerah tangkapan hujan atau disebut catcment area. Semua air yang mengalir melalui sungai bergerak meninggalkan daerah daerah tangkapan sungai (DAS) dengan atau tampa memperhitungkan jalan yang ditempuh sebelum mencapai limpasan (run off). (Mulyo, 2004). Daerah Aliran Sungai (DAS) juga dapat didefinisikan sebagai suatu daerah yang dbatasioleh topografi alam, dimana semua air hujan yang jatuh didalamnya akan mengalir melalui suatu sungai dan keluar melalui outlet pada sungai tersebut, atau merupakan satuan hidrologi yang menggambarkan dan menggunkan satuan fisik-biologi dan satuan kegiatan sosial ekonomi untuk perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam (Suripin, 2001). Menurut I Made Sandy (1985), seorang Guru Besar Geografi Universitas Indonesia; Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah bagian dari muka bumi, yang airnya mengalir ke dalam sungai yang bersangkutan, apabila hujan jatuh. Sebuah pulau selamanya terbagi habis ke dalam Daerah-Daerah Aliran Sungai. Antara DAS yang satu dengan DAS yang lainnya dibatasi oleh titiktitik tertinggi muka bumi berbentuk punggungan yang disebut stream devide atau batas daerah aliran (garis pemisah DAS). Bila suatu stream devide itu merupakan jajaran pebukitan disebut stream devide range. (Hallaf H.P., 2006). Jaringan hidrologi sungai dapat direkonstruksi dari peta topografi dengan menggunakan data DEM (digital elevation model) dan software DIGEM

sehingga diperoleh resolusi yang lebih baik. Morfometri daerah aliran sungai adalah pengembangan atau melakukan analisa terhadap orde sungai.

2.

Tujuan Untuk mengetahui dan menganalisis morfometri DAS

METODOLOGI 1. Bahan dan Alat 1. Peta jaringan sungai 2. Peta rupabumi Bakosurtanal skala 1:50.000 3. Kertas Kalkir 4. Penggaris 5. Kalkulator 6. Benang jahit 7. Spidol berwarna (3 warna)

2.

Prosedur kerja Parameter- parameter yang akan diamati untuk mengetahui karakteristik dan morfometri daerah aliran sungai antara lain rasio panjang, rasio percabangan sungai, rasio luas, debit puncak dan waktu responnya. Penetapan dan

perhtungan masing-masing parameter berdasarkan persamaan- persaman di bawah ini (Rodriguez-Iturbe dan J. B. Valdes, 1979). 1. Penentuan Orde sungai dari peta jaringan sungai berdasarkan metode Strahler di bawah ini:

Penentuan orde sungai diklasifikasi oleh Horton dan dimodifikasi oleh Strahler adalah: Aliran sungai yang paling ujung tidak mempunyai anak sungai disebut orde pertama, jika dua aliran dari orde yang sama bergabung akan membentuk orde setingkat lebih tinggi, dan jika dua orde yang berbeda bergabung akan membentuk aliran yang mempunyai orde paling besar. (Chow, 1964). Setelah memperoleh orde sungai berdasarkan Strahler, langkah selanjutnya jumlahkan tiap- tiap orde yang ada di sungai tersebut. 2. Penentuan dan perhitungan panjang sungai tiap- tiap orde dengan peta jaringan sungai 3. Panjang rata-rata tiap orde 4. Panjang maksimum sungai

3. Penentuan luas DAS tiap- tiap orde dengan Map Algebra 4. Perhitungan rasio percabangan, rasio panjang dan rasio luas Menurut hukum Horton ada tiga karakteristik hidrologi sungai yang penting yaitu: rasio percabangan (bifurcation ratio), rasio panjang (length ratio), dan rasio luas (area ratio) yang secara matematis dirumuskan pada persamaan berikut: (Rodriguez-Iturbe dan J. B. Valdes, 1979)
RB N 1 N L L 1

RL

RA

A A 1

dimana: N : Jumlah orde sungai berorde

L A Rb Rl RA

: Panjang

orde sungai berorde

: Luas orde sungai berorde : Rasio percabangan : Rasio panjang : Rasio luas Nilai Rb tidak akan sama dari tiap- tiap ode satu dengan berikutnya

karena adanya variasi dari bentuk atau geometri sungai tersebut. Nilai Rb dalam kondisi normal adalah 3 - 5, rasio panjang 1.5 3.5 sedangkan rasio luas 3-6 (Chow, 1964). Perhitungan nilai rata- ratanya dilakukan dengan menentukan slope regresi logaritmik dari tiap- tiap orde. 5. Dimensi fraktal Dimensi fraktal dari jaringan hidrologi dapat dihitung dengan perbandingan logaritmik rasio percabangan dan rasio panjang, menurut La Barbera and Rosso (1987) dan Tarboton et al., (1990) dirumuskan dengan persamaan:
d=

dalam Irianto (2003) yang

log Rb log Rl

dimana : D dimensi fraktal jaringan hidrologi sungai Menurut Mandelbrot (1967) seorang hidrolog yang memperkenalkan teori dimensi fraktal tentang kerangka kerja matematika dari dimensi bentuk yang tidak teratur (irregular) dengan proporsi skala identik dari bentuk aslinya. Jaringan hidrologi sungai merupakan salah satu contoh obyek fraktal di alam yang perlu dikaji untuk mengetahui pengaruh karakteristik DAS terhadap debit puncak (peak flow) dan waktu mencapai debit puncak ( time to peak) 5. Penentuan panjang sungai utama dari luas DAS dan dimensi fractal, dirumuskan oleh Hack (1957) dengan persamaan berikut:

L 1.4 A d

dimana: L : panjang sungai utama (dalam mile) A : luas DAS (dalam mile square) d : dimensi fraktal sungai utama.

6. Kerapatan DAS Kerapatan DAS merupakan perbandingan antara jumlah panjang semua sungai di dalam DAS dengan luas DAS

D=

Lu
Au

D = Kerapatan jaringan sungai, dalam km/km2 Lu = Jumlah panjang semua sungai di DAS, dalam km Au= Luas DAS, dalam km2 Kerapatan jaringan sungai menentukan daya penampungan sementara dari DAS. Makin tinggi nilai DD, berarti makin cepat air yang tersimpan dalam DAS akan terkuras keluar. Nilai kerapatan DAS bervariasi tergantung dari kondisi DAS. Menurut Sosrodarsono dan Takeda (1993), nilai kerapatan sungai kira-kira 0,30 0,50 dan dianggap sebagai indeks yang menunjukkan keadaan topografi dan geologi dalam daerah aliran. Nilai D kecil di geologi yang permeable, di pegunungan-pegunungan dan di lereng-lereng, tetapi besar untuk daerah yang banyak curah hujannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

L rata-rata =

RB1 RB2 RL1 RL2

( ( )

Luas (A) skala 1:25000 K=32 cm = K=2 r= L ( = 5,06 km2 D d =

( ) )

Morfometri didefinisikan sebagai pengukuran bentuk (measurement of the shape). Morfometri dalam kajian hidrologi pertama kali dikemukakan oleh R.E Horton dan A.E. Strahler [Pidwirny, 1999]. Tujuan utama dari kajian morfometri adalah mengetahui karakteristik aliran secara menyeluruh berdasarkan hasil pengukuran berbagai sifat aliran. Pengukuran sifat aliran yang pertama adalah susunan (hirarki) dari setiap segmen aliran menurut suatu sistem klasifikasi yang disebut dengan orde aliran. Segmen-segmen aliran disusun mulai dari alur-alur (tributaries) di bagian atas atau hulu DAS sampai dengan sungai utama di bagian bawah atau hilir DAS. Secara numeris penyusunan orde dimulai dengan pemberian nilai 1 (selanjutnya disebut dengan orde 1) untuk segmen pertama (alur-alur). Hasil penggabungan 2 segmen pertama selanjutnya disebut dengan segmen orde ke 2. Horton (1940) selanjutnya mengaplikasikan analisis morfometri terhadap berbagai sifat aliran dan dari hasil kajiannya dihasilkan beberapa aturan (law) antara lain law of stream length dan law of basin area. Beberapa karakteristik DAS yang penting dapat dikaji berdasarkan hasil analisis morfometri. Karakteristik DAS tersebut adalah: a. Daerah Pengaliran/Drainage Area (A) Daerah pengaliran merupakan karakteristik DAS yang paling penting dalam pemodelan berbasis DAS. Daerah pengaliran mencerminkan volume air yang dapat dihasilkan dari curah hujan yang jatuh di daerah tersebut. Curah hujan yang konstan dan seragam untuk seluruh daerah pengaliran merupakan asumsi yang umum dalam pemodelan hidrologi. b. Panjang DAS/Watershed Length (L) Panjang daerah aliran sungai biasanya didefinisikan sebagai jarak yang diukur sepanjang sungai utama dari outlet hingga batas DAS. Sungai biasanya tidak akan mencapai batas DAS, sehingga perlu ditarik garis perpanjangan mulai dari ujung sungai hingga batas DAS dengan memperhatikan arah aliran. Meskipun daerah pengaliran dan panjang DAS merupakan ukuran dari DAS tetapi keduanya mencerminkan aspek ukuran yang berbeda. Daerah pengaliran digunakan sebagai indikasi potensi hujan dalam menghasilkan sejumlah volume air, sedangkan panjang DAS

biasanya digunakan dalam perhitungan waktu tempuh yang dibutuhkan oleh air untuk mengalir di dalam DAS. c. Kemiringan DAS/Watershed Slope (S) Banjir merupakan besaran yang mencerminkan momentum runoff dan lereng merupakan faktor penting dalam momentum tersebut. Lereng DAS mencerminkan tingkat perubahan elevasi dalam jarak tertentu sepanjang arah aliran utama. Lereng diukur berdasarkan perbedaan elevasi (E) antara kedua ujung sungai utama dibagi dengan panjang DAS atau dapat dituliskan dalam persamaan: S = E/L (1) Beda elevasi (E) tidak selalu menjadi atau mencerminkan beda elevasi maksimum dalam DAS. Elevasi tertinggi biasanya terdapat sepanjang batas DAS dan ujung dari sungai atau aliran utama umumnya tidak mencapai batas DAS. d. Bentuk DAS/Watershed Shape Bentuk DAS mempunyai variasi yang tak terhingga dan bentuk ini dianggap mencerminkan bagaimana aliran air mencapai outlet. DAS yang berbentuk lingkaran akan menyebabkan air dari seluruh bagian DAS mencapai outlet dalam waktu yang relatif sama. Akibatnya puncak aliran terjadi dalam waktu yang relatif singkat. e. Kerapatan aliran/Drainage density (Dd) Kerapatan aliran merupakan pengukuran terhadap panjang aliran (stream length) per unit daerah pengaliran (drainage area atau basin area). Kerapatan aliran dapat dituliskan menggunakan persamaan : Dd = panjang aliran / luasDAS Selain karakteristik DAS seperti yang disebutkan di atas, penggunaan lahan dan curah hujan merupakan karakteristik DAS yang tidak kalah pentingnya. Penggunaan lahan dan curah hujan memang tidak terkait dengan morfometri DAS, namun dalam kajian tentang banjir dengan menggunakan DAS sebagai unit analisis, keduanya merupakan faktor yang sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA Sri Harto Br., 1993, Analisis Hidrologi, Gramedia Pustaka Utama, Cetakan pertama, Jakarta. Hallaf, H.P., 2005. Geomorfologi Sungai dan Pantai. Jurusan geografi FMIPA UNM. Makassar. Soewarno, 1991. Hidrologi: Pengukuran dan Pengolahan Data Aliran Sungai (Hidrometri). Nova.Bandung Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi Yogyakarta. Yogyakarta Bach, W. 1989. Growing consensus and challenge regarding a green house climate. Di dalam Climate and Food Security. IRRI-AAAS. Baldocchi, D. 1995. A comparative study of mass and energy exchange over a closed C3 (wheat) and an oppen C4 (corn) Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gagjah Mada University Press. Yogyakarta.