REFERAT

[ KOMPLIKASI ANESTESI SPINAL ]

Pembimbing : Dr. Satriyo Y Sasono, SpAn

Oleh :

KAMARIAH BINTI MOHAMED AWANG
030.06.306

SMF ANESTESI RUMAH SAKIT OTORITA BATAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 5 JULI 2010 – 7 AUGUSTUS 2010

0

Satriyo Y Sasono.LEMBAR PENGESAHAN Referat yang berjudul “ Komplikasi Anestesi Spinal ” Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing Pada tanggal Juli 2010 Sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Anestesi RSOB Batam Pembimbing Dr. SpAn 1 .

rahmat. yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Pada kesempatan ini pula penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Juli 2010 Penulis 2 . Dr. dan seluruh staf di SMF Anastesi. paramedik. maka Referat yang berjudul “Komplikasi Anestesi Spinal” ini dapat diselesaikan. Adapun penyusunan referat ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik Ilmu Bedah RSOB Periode 5 Juli 2010 – 7 Augustus 2010. karena atas berkat. dokter. Satriyo Y Sasono. Akhir kata semoga referat ini dapat berguna bagi semua pihak. dan anugerah-Nya. 2.KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME. maka penulis menyadari dalam penyusunan referat ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Seperti kata pepatah “ tak ada gading yang tak retak ”. oleh sebab itu kritik serta saran sangat diharapkan untuk perbaikan dalam penyusunan selanjutnya. serta semua pihak yang turut serta membantu baik dalam penyusunan referat maupun membimbing serta menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam penyelesaian tugas ini. Para konsulen. Batam. SpAn selaku pembimbing dalam pembuatan referat ini.

II Bab. III Pendahuluan Tinjauan Pustaka Kesimpulan 1 2 4 10 16 17 Daftar Pustaka 3 .DAFTAR ISI Lembar Pengesahan Kata Pengantar Bab. I Bab.

2. 7. 5. 4. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. 6. 5. 4. 2. Bedah ekstremitas bawah Bedah panggul Tindakan sekitar rektum perineum Bedah obstetrik-ginekologi Bedah urologi Bedah abdomen bawah Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan dengan anesthesia umum ringan Kontra indikasi absolut: 1.PENDAHULUAN ANESTESI SPINAL Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. 3. 7. 6. 3. Anestesi spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik lokal ke dalam ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2L3 atau L3-L4 atau L4-L5 Indikasi: 1. syok Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan Tekanan intrakranial meningkat Fasilitas resusitasi minim Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi. Pasien menolak Infeksi pada tempat suntikan Hipovolemia berat. 4 .

ekg Peralatan resusitasi Jarum spinal Jarum spinal dengan ujung tajam(ujung bamboo runcing. 3. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan.pulse oximetri. Pemeriksaan laboratorium anjuran Hb. Infeksi sistemik Infeksi sekitar tempat suntikan Kelainan neurologis Kelainan psikis Bedah lama Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung kronik Persiapan analgesia spinal Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anastesia umum. Peralatan monitor: tekanan darah.pt. ht. Informed consent Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anesthesia spinal 2. 4. 2. Pemeriksaan fisik Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung 3.Kontra indikasi relatif: 1. quinckebacock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil(pencil point whitecare) 5 . 6. 5. 2. 8. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini: 1. misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.ptt Peralatan analgesia spinal 1. 3. 7.

3. Setelah dimonitor. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc. putar arah jarum 90º biasanya likuor keluar. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid (wasir) dengan anestetik hiperbarik. hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar. 2. mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater. selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. L3L4. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan. pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. 6. 25G dapat langsung digunakan. Setelah resensi menghilang. untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal.misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml 5. kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut.Teknik analgesia spinal Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter. 4. misal L2-L3. Posisi lain adalah duduk.5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa ± 6cm. 6 . 23G. tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. 1. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis. L4-L5. yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah keatas atau kebawah. Beri bantal kepala. Buat pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit kearah sefal.

umumnya larutan analgetik sudah menetap sehingga batas analgesia tidak dapat lagi diubah dengan posisi pasien.(BB tidak berpengaruh terhadap dosis obat) Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan. 7 . Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik cenderung berkumpul ke kaudal(saddle blok) pungsi L2-3 atau L3-4 obat cenderung menyebar ke cranial. Maneuver valsava: mengejan meninggikan tekanan liquor serebrospinal dengan akibat batas analgesia bertambah tinggi. Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis makin besar dosis yang diperlukan.iso atau hipo barik Tekanan abdominal yang meningkat: dengan dosis yang sama didapat batas analgesia yang lebih tinggi. Berat jenis larutan: hiper. Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia yang tinggi.Posisi Posisi Duduk Pasien duduk di atas meja operasi Dagu di dada Tangan istirahat di lutut Posisi Lateral Bahu sejajar dengan meja operasi Posisikan pinggul di pinggir meja operasi Memeluk bantal/knee chest position Tinggi blok analgesia spinal Faktor yang mempengaruhi:           Volume obat analgetik lokal: makin besar makin tinggi daerah analgesia Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgesia Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan batas daerah analgetik. Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan: 3 detik untuk 1 ml larutan.

5% dlm dextrose 8.5% dlm air: berat jenis 1. sifat isobaric.Anastetik lokal untuk analgesia spinal Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah 1. sifat hyperbaric. sifat hiperbarik. Ketinggian suntikan b.006. posisi pasien c.027. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi. Anastetik local yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik local dengan dextrose.003.003-1. Keadaan fisik pasien e. dose 20-50mg(1-2ml) 3. Tekanan intra abdominal 8 . Anastetik local dengan berat jenis lebih kecil dari css disebut hipobarik. dosis 20-100mg (2-5ml) 2. Faktor tambahan a.005. Lidokaine(xylobain.25%: berat jenis 1.lignokain) 2%: berat jenis 1. Ukuran jarum d. Anastetik local dengan berat jenis lebih besar dari css disebut hiperbarik.5%: berat jenis 1. berat jenis anestetik local(barisitas) b. dosis 5-20mg 4.lignokaine) 5% dalam dextrose 7. Kecepatan suntikan/barbotase c. Anastetik lokal dengan berat jenis sama dengan css disebut isobaric. Factor utama: a. Bupivakaine(markaine) 0. sifat isobaric. Anestetik local yang paling sering digunakan: 1. dosis 515mg(1-3ml) Penyebaran anastetik local tergantung: 1. Lidokaine(xylobain. Bupivakaine(markaine) 0.008. Dosis dan volume anestetik local 2.

3. 2.Lama kerja anestetik local tergantung: 1. 4. Jenis anestetia local Besarnya dosis Ada tidaknya vasokonstriktor Besarnya penyebaran anestetik local 9 .

terjadi akibat blok sampai T-2 3. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan. Hipotensi berat Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. 2. 4. Mual-muntah 7. Bradikardia Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia. Trauma pembuluh saraf 5. Blok spinal tinggi atau spinal total Komplikasi pasca tindakan 1. Gangguan pendengaran 8. Komplikasi tindakan 1. 3. 2. Trauma saraf 6. 5. Hipoventilasi Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas 4.TINJAUAN PUSTAKA KOMPLIKASI ANESTESIA SPINAL Komplikasi analgesia spinal dibagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi delayed. Nyeri tempat suntikan Nyeri punggung Nyeri kepala karena kebocoran likuor Retensio urine Meningitis 10 .

Komplikasi intraoperatif Komplikasi kardiovaskular Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 10-40%. Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok simpatis. Cardiac output akan berkurang akibat dari penurunan venous return. Pada kasus seperti ini. dan jika tidak diobati bisa menyebabkan henti jantung. penurunan kesadaran. makin tinggi blok makin berat hipotensi. Blok spinal tinggi atau total Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari kesalahan perhitungan dosis yang diperlukan untuk satu suntikan. Penurunan sirkulasi ke serebral merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadi henti nafas pada anestesi spinal total. Aktivitas saraf phrenik biasanya dipertahankan. Henti jantung bisa terjadi tiba-tiba biasanya karena terjadi bradikardia yang berat walaupun hemodinamik pasien dalam keadaan yang stabil. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan sirkulasi darah ke organ vital terutama otak dan jantung. yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola sistemik dan vena. Hipotensi terjadi karena vasodilatasi.Ringer laktat) secara cepat sebanyak 1015ml/kgbb dlm 10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia spinal. henti nafas. terdapat kemungkinan pengurangan kerja otot nafas terjadi akibat dari blok pada saraf somatic interkostal. Hipotensi yang signifikan harus diobati dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti efedrin atau fenilefedrin. Walau bagaimanapun. hipotensi adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada anestesi spinal. hipotensi atau hipoksia bukanlah penyebab utama dari cardiac arrest tersebut tapi ia merupakan dari mekanisme reflek bradikardi dan asistol yang disebut reflek Bezold-Jarisch.dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV. paralisis motor. Cardiac arrest pernah dilaporkan pada pasien yang sehat pada saat dilakukan anestesi spinal. Berkurangnya aliran darah ke 11 . yang cenderung menimbulkan sequel lain. akibat blok simpatis. Komplikasi yang bisa muncul dari hal ini adalah hipotensi. Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak 19mg diulang setiap 3-4menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki. Akibat blok simpatetik yang cepat dan dilatasi arterial dan kapasitas pembuluh darah vena. Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan kristaloid(NaCl.

Pada orang tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat. 3. Mulai terasa pada 24-48jam pasca pungsi lumbal.serebral mendorong terjadinya penurunan kesadaran. Nyeri kepala ini bisa terjadi selepas anestesi spinal atau tusukan pada dural pada anestesi epidural.tonus parasimpatis berlebihan. pasien akan kembali ke kedaaan normal seperti sebelum operasi.merupakan tanda-tanda tidak adekuatnya pernafasan yang perlu segera ditangani dengan pernafasan buatan. 2. Setelah tingkat anestesi spinal berkurang.reflek karena traksi pada traktus gastrointestinal serta komplikasi delayed. Namun. Komplikasi respirasi 1. bila fungsi paru-paru normal. Pengobatan yang cepat sangat penting dalam mencegah terjadinya keadaan yang lebih serius.sesak nafas.hipoksia. termasuk pemberian cairan. vasopressor. Jika hipotensi ini tidak di atasi. tidak ada sequel yang permanen yang disebabkan oleh komplikasi ini jika diatasi dengan pengobatan yang cepat dan tepat.dengan kekerapan yang bervariasi.pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan ciri khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak.batuk kering yang persisten. Insiden terjadi komplikasi ini tergantung beberapa faktor seperti ukuran jarum yang digunakan. Nyeri kepala Komplikasi yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri kepala. 4.pemakaian obat narkotik. Semakin besar 12 . Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi. Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk blok spinal tinggi. Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi atau karena hipotensi berat dan iskemia medulla. Komplikasi postoperatif Komplikasi gastrointestinal Nausea dan muntah karena hipotensi. Kesulitan bicara. sirkulasi jantung akan berkurang seterusnya menyebabkan terjadi iskemik miokardiak yang mencetuskan aritmia jantung dan akhirnya menyebakan henti jantung. dan pemberian oksigen bertekanan positif.

diplopia.ukuran jarum semakin besar resiko untuk terjadi nyeri kepala. Terapi konservatif dalam waktu 24 – 48 jam harus di coba terlebih dahulu seperti tirah baring. Nyeri punggung akibat dari trauma suntikan jarum dapat di obati secara simptomatik dan akan menghilang dalam beberapa waktu yang singkat sahaja. Komplikasi neurologik yang paling benign adalah meningitis aseptik. Nyeri kepala yang berdenyut biasanya muncul di area oksipital dan menjalar ke retro orbital. mual. insidensi terjadi nyeri kepala juga adalah tinggi pada wanita muda dan pasien yang dehidrasi. rehidrasi (secara cairan oral atau intravena). Tanda yang paling signifikan nyeri kepala spinal adalah nyeri makin bertambah bila pasien dipindahkan atau berubah posisi dari tiduran/supinasi ke posisi duduk. Meningitis aseptic hanya memerlukan pengobatan simptomatik dan biasanya akan menghilang dalam beberapa hari. dan muntah. inkontinensia urin dan fekal. dan akan berkurang atau hilang total bila pasien tiduran. Tekanan pada vena cava akan menyebabkan terjadi perbendungan dari plexus vena pelvik dan epidural. Nyeri punggung Komplikasi yang kedua paling sering adalah nyeri punggung akibat dari tusukan jarum yang menyebabkan trauma pada periosteal atau ruptur dari struktur ligament dengan atau tanpa hematoma intraligamentous. Ia ditandai dengan defisit sensoris pada area perineal. dan sering disertai dengan tanda meningismus. rigiditas nuchal dan fotofobia. Komplikasi neurologik Insidensi defisit neurologi berat dari anestesi spinal adalah rendah. 13 . dan derajat yang bervariasi pada defisit motorik pada ekstremitas bawah. Nyeri kepala post suntikan biasanya muncul dalam 6 – 48 jam selepas suntikan anestesi spinal. Jika terapi konservatif tidak efektif. Sindrom ini muncul dalam waktu 24 jam setelah anestesi spinal ditandai dengan demam. Selain itu. seterusnya menghentikan kebocoran dari cairan serebrospinal dengan meningkatkan tekanan extradural. Sindrom cauda equina muncul setelah regresi dari blok neuraxial. terapi yang aktif seperti suntikan salin kedalam epidural untuk menghentikan kebocoran. Sindrom ini mungkin dapat menjadi permanen atau bisa regresi perlahan-lahan setelah beberapa minggu atau bulan. dan suport yang kencang pada abdomen. analgesic.

Jadi kemungkinan epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi pada arteri spinal anterior atau pembuluh darah yang memberikan bekalan darah. Penggunaan epinefrin didalam obat anestesi bisa mengurangi aliran darah ke korda spinal. Contohnya anestesi spinal menggunakan obat anestesi lokal yang dicampurkan dengan epinefrin. akan menyebabkan araknoiditis. Sindrom ini ditandai oleh defisit sensoris dan kelemahan motorik pada tungkai yang progresif. Kerusakan pada korda spinal atau saraf akibat trauma tusukan jarum pada spinal maupun epidural. kateter epidural atau suntikan solution anestesi lokal intraneural adalah jarang. Terdapat tiga penyebab terjadinya sindrom spinal-arteri : kekurangan bekalan darah ke arteri spinal anterior karena terjadi gangguan bekalan darah dari arteri-arteri yang diganggu oleh operasi. Infeksi dari spinal adalah sangat jarang kecuali dari penyebaran bacteria secara hematogen yang berasal dari fokal infeksi ditempat lain. Sindrom spinal-arteri anterior akibat dari anesthesia adalah jarang. Oleh yang demikian. Kehilangan sensoris biasanya tidak merata dan adalah sekunder dari nekrosis iskemia pada akar posterior saraf dan bukannya akibat dari kerusakan didalam korda itu sendiri. Tanda utamanya adalah kelemahan motorik pada tungkai bawah karena iskemia pada 2/3 anterior bawah korda spinal. Tanda dan symptom yang paling prominen pada komplikasi ini adalah nyeri punggung yang berat. Jika anestesi spinal diberikan kepada pasien yang mengalami bakteriemia. Anestesi regional merupakan penyebab yang mungkin yang menyebabkan terjadinya sindrom spinal-arteri anterior oleh beberapa faktor. Iskemia dan infark korda spinal bisa terjadi akibat dari hipotensi arterial yang lama. Hipotensi yang kadang timbul setelah anestesi regional dapat menyebabkan kekurangan aliran darah. tapi tetap berlaku. Perdarahan subaraknoid yang terjadi akibat anestesi regional sangat jarang berlaku karena ukuran yang kecil dari struktur vaskular mayor didalam ruang subaraknoid. Jika infeksi terjadi di dalam ruang subaraknoid. terdapat kemungkinan terjadi penyebaran ke bakteri ke spinal. Reaksi ini biasanya terjadi beberapa minggu atau bulan setelah anestesi spinal dilakukan. nyeri 14 .Komplikasi neurologic yang paling serius adalah arachnoiditis adesif. Pada penyakit ini terdapat reaksi proliferatif dari meninges dan vasokonstriksi dari vasculature korda spinal. kekurangan aliran darah dari arteri karena hipotensi yang berlebihan. dan gangguan aliran darah sama ada dari kongesti vena mahu pun obstruksi aliran. penggunaan anestesi spinal pada pasien dengan bakteremia merupakan kontra indikasi relatif. Hanya pembuluh darah radikular lateral merupakan pembuluh darah besar di area lumbar yang menyebar ke ruang subaraknoid dari akar saraf.

3. Pengobatan bagi komplikasi ini adalah dengan pemberian antibiotik dan drenase jika perlu. Oleh itu. Pencegahan: 1. Hidrasi adekuat 3. Retentio urine / Disfungsi kandung kemih Disfungsi kandung kemih dapat terjadi selepas anestesi umum maupun regional. Fungsi kandung kencing merupakan bagian yang fungsinya kembali paling akhir pada analgesia spinal. Kerusakan saraf pemanen merupakan komplikasi yang sangat jarang terjadi. adalah tidak benar jika menggunakan anestesi regional pada pasien yang mengalami infeksi kulit loka pada area lumbar atau yang menderita selulitis.minum/infuse 3L selama 3 hari Pengobatan: 1. Hindari mengejan 4.lokal. 2. leukositosis. Posisi berbaring terlentang minimal 24 jam 2. demam. 15 . dan rigiditas nuchal.umumnya berlangsung selama 24 jam. Pakailah jarum lumbal yang lebih halus Posisi jarum lumbal dengan bevel sejajar serat duramater Hidrasi adekuat. Bila cara diatas tidak berhasil berikan epidural blood patch yakni penyuntikan darah pasien sendiri 5-10ml ke dalam ruang epidural.

insiden sequel neural mayor selepas anestesi subarakanoid telah dilaporkan kurang dari 1 dalam 10. tetapi harus di ingat bahwa insiden komplikasi ini adalah sangat rendah.KESIMPULAN Walaupun komplikasi-komplikasi yang timbul ini bisa mengancam jiwa.000 pasien. Ramai anestesiologi berpendapat bahwa jika dibandingkan dengan anestesi umum. Dengan tehnik modern dan persiapan yang rapih. komplikasi yang muncul dari anestesi regional adalah minimum sehingga anestesi regional menjadi pilihan utama jika sesuai dengan kebutuhan pada saat operasi 16 .

The Mountsinai Journal of Medicine. Katz J. 17 . Latief SA. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2. J Bone Joint Surg Am. Aidinis SJ. Complications of Spinal Anesthesia. Hyderally H. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009.DAFTAR PUSTAKA: 1. 107-112. Complications of Spinal and Epidural Anesthesia. 62:1219-1222. Suryadi KA. Jan-Mar 2002. 2010. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful