Brukha Suatu malam aku di datangi oleh seorang laki-laki tua ketika sedang duduk-duduk di beranda

rumah panggungku merenungkan hujan, kedatangannya sangat tiba-tiba dan aku hampir tidak menyadari kedatangannya karena bunyi gemerisik dari rinai hujan Rambutnya panjang tergerai sampai bokong, perawakannya tingi semampai, wajahnya seteguh karang penantang gelombang tapi pembawaannya setenang denting piano buah tangan Beethoven, tanpa sepatah kata dia duduk saja tepat di depanku pada sebuah dipan yang biasa kupergunakan berselonjor melepas lelah sehabis berkebun pada siang hari yang terik. Posisi duduknya memungkinkan aku bersitatap tepat di kedua bundar bola matanya, namun tak kuasa lama-lama aku menatapnya, akhirnya kutundukkan kepala menekuri gelas kopi yang isinya hampir tandas, dan kami berdua larut dalam keheningan untuk beberapa saat. “ aku seorang brukha, aku mengetahui berbagai rahasia”, Setelah sekian lama akhirnya dia beru ap perlahan dan aku diam saja, masih sambil tertunduk menekuri gelas kopi yang isinya hampir tandas, seolah tahu kebingungan dan ketidakmengertianku diapun melanjutkan “ kau bukanlah orang satu-satunya yang berada di jalan ini, jangan takut selama kau memiliki impianmu”, masih tertunduk menekuri gelas kopi yang isinya hampir tandas, aku tetap bergeming “ aku tahu yang selama ini kau ari adalah kebahagiaan, dan begitupun yang di inginkan oleh orang lain, kau tidak akan menemukannya selama masih terikat, bebaskanlah ikatan-ikatan itu” , dia berkata semakin tegas, selintas kutegakan pandang dan kulihat dia menyeringai tajam, tak kuasa aku menatapnya lebih dari sepuluh detik, namun nampak jelas dari roman mukanya seperti mengu ap nada perintah, kembali aku menunduk menekuri gelas kopi yang isinya hampir tandas. !alam semakin larut, meski tak kulihat jam aku sudah bisa menebak saat ini pasti sudah lewat pukul dua belas malam, sebab dingin mulai menelusup sampai ke tulangtulang, apalagi aku hanya bersarung dan mengenakan kaos oblong, aku baru sadar kalau sedari tadi ada orang yang menemaniku, sang brukha yang mengetahui berbagai rahasia. "ernyata ukup lama juga aku asik menekuri gelas kopi yang isinya hampir tandas, sekarang aku punya sedikit keberanian, telah kusiapkan diriku untuk menatapnya dan sejumlah pertanyaan akan kuajukan padanya.

aku mengikuti apapun yang di inginkan orang tuaku. ke uali tentu saja bekas jejak kakiku yang mondar mandir kebingungan. entahlah. kalau tiba padaku satu keinginan atau perasaan tak nyaman dan ada godaan untuk keluar dari suasana itu aku segera mematikannya. aku mengira bahwa hidupku akan menjadi lebih bermakna jika aku menjadi anak yang patuh. sambil bermain main dengan kepulan asap rokok. setiap hari bekutat dengan hal yang sama dan monoton. bagaimana aku di siksa oleh kebosanan. .. dan aku berhasil setidaknya untuk waktu dua tahun itu. tiba tiba satu pertanyaan menggelitik pikiranku. baiklah akan ku eritakan satu kisah. tapi kau tahu tidak perasaanku saat itu''' ah. tempat tadi duduk sang brukha itu kini kosong melompong... aku berulangkali di lemparkan ke sudut paling marjinal dalam hidupku karena kebosananku. sering tengah malam dalam dua tahun itu aku terjaga.aku tak pernah benar-benar memperhatikannya dengan seksama. sesekali tanpa sengaja aku terpaku mendengarkan kerik jangkrik atau bintang-binatang malam lainnya yang sedang sibuk hiruk pikuk. atau mungkin mereka sedang ber inta. Sang brukha itu pergi se epat angin seperti datangnya yang kau tahu hari ini aku sangat bosan.. bahkan yang kuingat waktu itu aku tak pernah benar-benar tidur dengan lelap.aku juga tak tahu pasti perasaanku waktu itu. ah kau tahu. banyak sekali hal yang membuat manusia bosan. tanpa protes aku melakukan segalanya selama hampir dua tahun. seperti yang di eritakan banyak orang. $ipan yang biasa kupergunakan berselonjor melepas lelah sehabis berkebun pada siang hari yang terik.. suatu ketika. saling berbagi hasrat dan berteriak-teriak untuk merayakan kenikmatannya.&bosan& satu kata yang sering sekali kudengar. aku tahu itu karena semua orang juga mengatakan hal yang sama padaku tapi kau harus tahu kebosanan itu sungguh menyiksa.#amun ketika kudongakkan kepala hanya gelap yang kulihat. mengapa ada kata &bosan& tentu saja kau akan menjawab karena manusia di beri akal dan rasa. maka jadilah aku anak manis yang patuh. %ku men ari kesana kemari bahkan tanah be ek sisa hujan tak menyimpan jejak sisa orang lewat. hanya saja yang kuingat aku kehilangan banyak hal dalam hidupku. saat terjaga itu yang bisa kulakukan hanya memandang gelap yang kosong. mungkin diantara mereka ada yang sedang men ari na(kah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. atau mungkin mereka sedang bermain-main saja.. bahkan tak memberi gambaran kalau seseorang telah mendudukinya. meskipun jujur aku tak suka. tak ada siapapun.

dan sekali lagi kukatakan padamu kebosanan itu sangat menyiksa. jadi begitulah kira-kira aku menjalani hari-hariku selama dua tahun menjadi anak manis membaktikan diri pada ayahku. .kembali ke persoalanku.. oh ya. dan sampai hari ini sudah )* bulan sejak aku meninggalkannya. belum juga kutemukan makna dalam hidupku. bekerja untuk diriku sendiri jauh dari orang tuaku. dan aku sudah merasa bosan..aku meninggalkan ayahku tepat setelah aku menemaninya selama dua tahun. $an kini saat sepenuhnya kumiliki kebebasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful