You are on page 1of 8

MAKALAH TINGKAT KESADARAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Psikologi yang di ampu oleh Ibu Naily

Disusun Oleh :

1. Alma Festi 2. Lita Sulistyoningrum 3. Marlita Isti Pratiwi 4. Melita Anggraini 5. Nabila 6. Nindita Ayu P

(13.1214) (13.1235) (13.1237) (13.1239) (13.1241) (13.1243)

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH PROVINSI JAWATENGAH SEMARANG 2014

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Semua mengetahui perbedaan antara keadaan jaga biasa dan pengalaman mimpi. Kita juga mengenal berbagai keadaan kesadaran lainnya termasuk yang terpengaruh oleh obatobat bius dan alcohol. Setiap orang mengalami keadaan kesadaran yang berubah-rubah sepanjang waktu. Pada saat ini, perhatian kita terpusat pada kesadaran yang ada dalam diri kita. Bagi kebanyakan psikolog, perubahan keadaan kesadaran akan terjadi bila terjadi perubahan dari suatu pola fungsi mental yang biasa menjadi kesuatu keadaan yang kelihatannya berbeda bagi orang yang mengalami perubahan tersebut. Walaupun bukan merupakan suatu batasan yang tepat, tetapi hal ini menunjukan bahwa keadaan kesadaran seseorang sangatlah peribadi dan karenanya bersifat subjektif. Sehingga kesadaran mempunyai tingkatan yang disebut tingkat kesadaran, dimana alam sadar dan alam tidak sadar merupakan suatu hal yang menjadi fokus untuk diperbincangkan. B. RUMUSAN MASALAH C. TUJUAN

BAB II PEMBAHASAN

Alam Sadar (Kesadaran = Conscious) A. Pengertian Tingkat Kesadaran Kesadaran merupakan kemampuan individu mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca inderanya) dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta terhadap dirinya sendiri (melalui perhatian). Alam sadar adalah alam yang berisi hasil-hasil pengamatan kita kepada dunia luar (Maramis, 1999). Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan. B. Bentuk-bentuk tingkat kesadaran meliputi : 1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. 6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

C. Faktor tingkat kesadaran Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

D. Mengukur Tingkat Kesadaran Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness). E. Tingkat menurunnya kesadaran : a. Amnesia, menurunnya kesadaran ditandai dengan hilangnya ingatan atau lupa tentang kejadian tertentu. b. Apatis, menurunnya kesadaran ditandai dengan acuh tak acuh terhadap stimulus yang masuk (mulai mengantuk) c. Somnolensi, menurunnya kesadaran ditandai dengan mengantuk (rasa malas dan ingin tidur). d. Spoor, menurunnya kesadaran ditandai dengan hilangnya ingatan, orientasi, dan pertimbangan. e. Subkoma dan koma, menurunnya kesadaran ditandai dengan tidak ada respons terhadap rangsang yang keras.

F. Penyebab Penurunan Kesadaran Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika : 1. Otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) 2. Kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok) 3. Penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) 4. Pada keadaan hipo atau hipernatremia 5. Dehidrasi; asidosis, alkalosis

6. Pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak) 7. Infeksi (encephalitis); epilepsi. ALAM SADAR DAN TAK SADAR Alam tak sadar adalah daerah kesadaran yang berisi berbagai ide dan afek yang ditekan, yang tidak dapat diingat kembali karena ditahan oleh alam prasadar sebagai sensor. Pengertian lain alam tak sadar adalah alam yang berisi kompleks-kompleks terdesak Das Es, Das Ich dan Das Uber ich (Maramis, 1999) Ciri-ciri alam tak sadar : a. b. c. d. e. Mengandung ide dan afek yang ditekan. Hal-hal yang terdapat dalam alam tak sadar tidak dapat diingat kembali. Apabila mau muncul kealam sadar harus melewati sensor alam prasadar. Memiliki prinsip kesenangan dengan tujuan memuaskan keinginan. Berhubungan erat dengan naluri terutama naluri seksual.

Alam bawah sadar mengatur sekitar 85% aktifitas kita, misalnya yg berkaitan dengan suhu badan, jalan darah perubahan hormone, emosi, dan jutaan hal kecil dan besar dalam tubuh kita. Selain itu, lebih dari 85% emosi dan cara berpikir kita diatur oleh alam bawah sadar. Kita tidak sepenuhnya bisa mengontrol diri kita seperti yang kita duga.

Mengendalikan alam bawah sadar

Kebanyakan manusia tidak mampu mengelola, mengatur, dan mengendalikan alam bawah sadarnya sehingga mereka sering mengalami stress yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Ketika masih sekolah di SMA seseorang mungkin tenar dan disenangi banyak orang, tetapi ketika kuliah di universitas dia merasa tidak mampu menghadapi perubahan. Kinerjanya lalu dibawah rata-rata karena dia tidak bisa memprogram ulang alam bawah sadarnya untuk memasuki dunia mahasiswa di perguruan tinggi. Sukses pada masa lalu kadang mengakibatkan kegagalan pada masa depan karena seseorang tidak bisa mengubah instruksi alam bawah sadarnya dengan hal-hal yang lebih baru dan mutahir. Sewaktu SMA, seseorang mungkin berasumsi bahwa orang yang keren adalah yang punya mobil tetapi bagi seorang mahasiswa orang yang keren adalah orang pandai, berwibawa, fasih berwibawa dan berwawasan internasional. Jadi, seseorang harus mampu memprogram ulang alam bawah sadarnya secara baik dan proporsional.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran. Tetapi tingkat kesadaran yang menurun senantiasa menggangu kualitas kesadaran. Oleh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai macam kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

H.Martokoesoemo, P. (2007). Spiritual Thingking : Sukses Dengan Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Tasawuf . Bandung : Mizan Pustaka . Sunaryo. (2004). Psikologi Untuk Keperawatan . Jakarta : EGC. http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/tingkat-kesadaran.html http://delsajoesafira.blogspot.com/2012/05/tingkat-kesadaran.html