1

MAKALAH

Kekuasaan-Pengetahuan Sebagai Rezim Wacana
Sejarah Seksualitas: Sejarah Pewacanaan Seks & Kekuasaan Menurut Foucault
OLEH: HARYATMOKO

Sejarah Seksualitas bukan merupakan sejarah representasi seksualitas, tetapi sejarah aturan perilaku. Hasrat untuk tahu melembagakan yang terkait dengan seksualitas sebagai konsekuensi penting kekuasaan normatif. Penelitian Michel Foucault tentang Sejarah Seksualitas mau mencari tahu bagaimana kekuasaan bergeser searah dengan strategi yang dikembangkan oleh wacana. Dalam perspektif ini, kekuasaan sebagai rejim wacana dianggap mampu menggapai, menembus dan mengontrol individu sampai pada kenikmatan-kenikmatan yang paling intim. Caranya, menggunakan metode melalui wacana-wacana yang dirumuskan dalam bentuk penolakan dan pelarangan, namun juga perangsangan, rayuan dan intensifikasi (teknikteknik kekuasaan yang memiliki banyak bentuk) (1976: 21). Bukan maksudnya menunjukkan bahwa wacana yang menghasilkan kekuasaan mau menyingkap atau menyembunyikan kebenaran tentang seks, tapi mau melokalisir “ingin tahu” yang berfungsi sebagai obyek dan instrumen kekuasaan.
Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010

Dengan demikian pewacanaan seks secara sistematis menandai sejarah strategi perubahan hubungan kekuasaan dan kebenaran. Maka wacana semacam ini dianggap sebagai praksis yang mengubah konstelasi sosial dan menghasilkan sesuatu. Ketiga. kekuasaan sebagai rezim wacana lebih menekankan praksis sosial. Kedua. agama. klaim atas kebenaran dan kontekstual yang kelihatan pada wacana psikiatri. penafikan atau sensor.. sosialisasi politik dilaksanakan melalui tanggung jawab pasangan terhadap Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Kepatuhan demi produktivitas. dari ‘rasa ingin tahu’ bisa dilokalisir untuk menentukan apakah benar atau salah suatu perilaku. berbagai strategi pengetahuan dan kekuasaan diterapkan. Dari seksualitas. Jadi Sejarah Seksualitas membantu memahami cara beroperasi. Dengan kata lain. 137-138): Pertama. Kebenaran dan Strategi Pengetahuan-Kekuasaan Sejarah Seksualitas mau membangun sejarah tentang lembaga-lembaga yang terlibat dalam memproduksi kebenaran dan perubahan-perubahan yang berlangsung dalam lembaga-lembaga tersebut. Ada empat strategi mengembangkan pengetahuan-kekuasaan (ibid. Kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan terletak pada saat wacana mendaku sebagai yang mempunyai otonomi. tetapi di dalam seks dipertaruhkan masalah benar dan salah. Sejauh mana seks bisa dianggap berharga atau menakutkan itu bisa bergeser menjadi pertaruhan kekuasaan. histerisasi tubuh perempuan menunjukkan bahwa tubuh dikaitkan dengan tubuh sosial untuk menjamin kesuburan. Mengetahui apakah seks itu benar atau berbahaya membuka peluang dominasi dalam interaksi kekuasaan. Maka tekanan pada normalisasi dan pendisiplinan tubuh menjadi bagian dari strategi kekuasaan dan kebenaran. termasuk kehidupan anak. serta dampak kolektif maupun individual. Maka diperlukan beberapa bentuk wacana yang bisa mengatur hubungan kekuasaan dan seks seperti larangan. dan semua bentuk kewajiban yang datang dari keluarga. Seks yang benar bila dibicarakan hanya dalam kerangka orang dewasa yang sudah menikah. Akibatnya. Kekuasaan mau menbentuk individu-individu yang berdisiplin agar menjadi tenaga produktif. artinya wacana kekuasaan berfungsi untuk menampung atau menyembunyikan kebenaran. Maka kenyataan bahwa orang berbicara tentang seks dari tempat dan sudut pandangnya menunjukkan besarnya kepentingan yang terlibat. Fokus Sejarah Seksualitas ini diarahkan ke penjelasan bahwa di sekitar seks dibangun perlengkapan atau mesin untuk memproduksi kebenaran. Pertaruhan kebenaran menggunakan sarananya politik tubuh. Tujuan yang mau dicapai dengan membidik tubuh ialah kepatuhan. kedokteran.2 “Ingin tahu” yang menjadi ungkapan hasrat akan kekuasaan terumus dalam wacana sebagai praktik-praktik yang terorganisir dan mengorganisir hubungan sosial. Jadi tubuh perempuan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab biologi dan moral. Aktivitas seksual pada anak mengandung bahaya fisik dan moral. mekanisme dan strategi kekuasaan. Lalu seks dijadikan ajang pertaruhan kebenaran (1976: 76). pendidikan. Oleh sebab itu banyak institusi memiliki kepentingan untuk mengatur. Seks bukan hanya masalah sensasi dan kenikmatan. Pedagogisasi ini juga untuk melawan onanisme. artinya bahwa sasaran kekuasaan adalah tubuh. pedagogisasi seks anak bertujuan agar anak jangan sampai jatuh dalam aktivitas seksual. sosialisasi perilaku prokreatif dimaksudkan untuk kesuburan pasangan. atau hukum dan larangan.

bahasa. semakin kelihatan bahwa Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Sekolah. Foucault tidak memisahkan pengetahuan-kekuasaan. maupun ritus. Sebetulnya lembaga-lembaga itu selain melarang. Pendekatannya ini tidak jauh dari pemikiran Nietzsche yang menyebutkan bahwa semua keinginan untuk mengetahui kebenaran sudah merupakan bentuk keinginan akan kekuasaan. psikologi bahkan agama merasa ikut berkepentingan memakai teknologi normalisasi itu. jawabannya ialah penerapan normalisasi dan patologisasi perilaku. Usaha ini bertujuan agar naluri seks diisolasi untuk diperlakukan sebagai naluri biologis dan psikis yang otonom. Negara berkepentingan juga karena seks dalam kerangka reproduksi mengimplikasikan keterlibatan tanggungjawab negara. Maka sekolah merasa berhak mendampingi atau menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang berkaitan dengan seks. Obyek dan sasaran kekuasaan disipliner agama paling utama adalah seksualitas.3 tubuh sosial. menjelaskan instansi produksi pengetahuan (yang mengedarkan kekeliruan dan ketidaktahuan secara sistematik). dan sosialisasi medik termasuk praktik kontrol kelahiran atau KB. Dengan menekankan sejarah instansi-instansi produksi kekuasaan. Agama mengatur individu dan masyarakat melalui penyeragaman baik perilaku. Bidang kesehatan berkepentingan untuk menjaga normalisasi pathologi agar tidak ada penyimpangan perilaku sebagai bentuk anomali kesehatan atau normal. Cara berpakaian. Tingginya angka kelahiran berarti negara harus menyediakan banyak sekolah. wacana sampai ritus diarahkan untuk mengontrol perilaku agar hanya pasangan suami-istri yang mempunyai akses. tetapi mau mengungkap bahwa keingintahuan merupakan penopang dan instrumen kekuasaan (1976: 21). sekolah/pendidikan. Maka Sejarah Seksualitas bukan mau menentukan apakah produksi wacana dan efek-efek kekuasaan membawa ke kebenaran seks atau kebohongan. Untuk tujuan ini dibutuhkan teknologi untuk memperbaiki. Keempat strategi itu menjadi bagian sarana keberlangsungan lembagalembaga sosial seperti keluarga. pakaian. selain sebagai tempat untuk mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan. Dengan teknik itu akan dihasilkan identitas yang akan memudahkan mendapatkan kepatuhan baik dari pemeluknya. Institusi-institusi itu berperan mendorong untuk memikirkannya dan menyebarluaskannya. psikiatri. agama. Keempat. Melarang dan menolak perilaku tertentu dalam hal seksualitas menjadi bagian dari tugasnya. Maka ketika berhadapan dengan anomali dalam perilaku seks. lembaga kesehatan dan negara. psikiatrisasi kenikmatan menyimpang. Maka kedokteran. Agama menempatkan diri sebagai penjaga moralitas umat. yaitu mencari instansiinstansi produksi (termasuk diam). Jumlah penduduk yang besar berarti negara harus aktif dan kreatif menciptakan lapangan kerja. Maka anak-anak harus dijauhkan dari kegiatan yang terkait dengan seks yang mengganggu atau mengakibatkan anak tidak produktif. menunjukkan instansi produksi kekuasaan (kadang berfungsi melarang). Penelitiannya tentang subyek modern melalui bentuk-bentuk pengetahuan. Keluarga menginginkan anak-anak berhasil dalam hidup. Dari sini kelihatan bahwa sejarah seksualitas berupaya untuk membuat sejarah instansi-instansi dan transformasinya. namun juga merangsang untuk berbicara atau diam berhubungan dengan masalah seks. juga mendaku sebagai lembaga yang ikut membentuk kepribadian anak. maupun ketakutan dari mereka yang tidak termasuk bagiannya. Semakin Foucault menggali pengetahuan praktis tentang subyek dan kekuasaan. praktik dan wacana terfokus pada kekuasaan-pengetahuan.

Sejak abad XVII yang menandai seksualitas ialah pewacanaan sistematis. menurut Foucault. Metode yang sama memperlihatkan bahwa kehendak untuk tahu menjadi proses dominasi terhadap manusia. Wacana macam ini dianggap mempunyai otoritas. 20.36). Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Seks menjadi sesuatu yang harus dikatakan. Tujuannya. Kaitannya terletak pada kemampuan pengetahuan mendefinisikan realitas obyek tersebut. “Kekuasaan menghasilkan pengetahua. maksudnya dorongan untuk berwacana (ibid. Memang anatomi politik itu tidak menciptakan pengetahuan. Dengan mendefinisikan realitas.4 konsepsi kekuasaan lebih mengarah ke subyektivasi dari pada obyektivasi kekuasaan.Merquior. produksi dan pengetahuan lahir dari sumber yang sama. Foucault ingin melawannya (1976: 18). 21. kriminal. dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan” (1975:. pikiran. lebih dipahami sebagai hasil dari dominasi dari pada sebagai sarana atau alat kebebasan individual” (J. tindakan). Sejarah Pewacanaan Seks Sebagai Sejarah Kekuasaan Terlalu lama seksualitas dipikirkan dalam kerangka penolakan atau peminggiran yang dijenuhkan oleh larangan dan sensor. pemerintah dengan angka natalitas. Dengan metode genealogi ditunjukkan bahwa kebenaran yang mengambil bentuk obyektivitas ilmu itu hanya ilusi. artinya bahwa “saya sebagai alat kekuasaan. Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait. Persoalan ini mengandaikan pendefinisian kembali konsep kekuasaan Foucault mendefinisikan strategi kekuasaan sebagai yang melekat pada kehendak untuk mengetahui.. Melalui wacana. Rejim seksualitas yang menyebabkan frustrasi secara sistematis ini. 1985: 128). kedokteran dan psikiatri dengan dalih pathologi. Gereja Katholik dengan pengakuan dosanya. kehendak untuk mengetahui terumus dalam pengetahuan. Tidak cukup puas dengan pengakuan dosa. orang sakit. Terhadap hipotesa represif ini. tidak bisa dilepaskan dari kepentingan sistem kapitalis yang menolak pemahaman tubuh yang menikmati agar tidak menghabiskan enersi yang tak ada gunanya. Keluarga tidak boleh membicarakannya. Oleh karena itu semua masyarakat berusaha menyalurkan. 33). sedang praktiknya harus sangat tertutup. mengontrol dan mengatur wacana mereka agar sesuai dengan tuntutan ilmiah. Keluarga menggunakan seksualitas sebagai rejim yang meminggirkan keberadaan seks. Pewacanaan ini didorong oleh berbagai institusi. menggunakan semaksimal mungkin kekuatan tubuh untuk kerja. atau buruh. 25. Bahasa menjadi alat untuk mengartikulasikan kekuasaan pada saat kekuasaan harus mengambil bentuk pengetahuan karena ilmu-ilmu terumus dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Kekuasaanpengetahuan terkonsentrasi di dalam kebenaran pernyataan-pernyataan ilmiah. Pengetahuan tidak bersumber pada subyek. tetapi genealogi. Semua pengetahuan adalah politik karena syarat-syarat kemungkinannya bersumber pada hubungan-hubungan kekuasaan. tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan. institusi pendidikan dihadapkan pada seksualitas anak dan remaja. penelitian batin diterapkan bagi orang Katholik untuk melokalisir dan mengkategorisasi dosa (melalui perbuatan. Anatomi politik menunjukkan bahwa teknik kekuasaan. tetapi dalam hubungan-hubungan kekuasaan. Setiap pengetahuan terkait dengan obyek kekuasaan seperti orang gila. akibatnya pengetahuan mengubah konstelasi sosial. perkataan. anak remaja.G.

necrophilie) tidak diprotes sebagai penyimpangan. sedangkan pasangan yang menikah mempunyai hak meski penuh diskresi. Seksualitas anak menjadi keprihatinan utama.5 “Dengan menggunakan bahasa. dalam bentuk kuantifikasi dan kausalisasi. Maka seks dikaitkan dengan penduduk. pengaturan rekreasi. dapat disimpulkan bahwa Foucault menggunakan konsep “wacana” lebih sebagai aturan-aturan. Pada abad XIX. anak-anak. Sepanjang abad XIX. Maka para dokter. Bukan pertamatama represi (ibid.. Kekhasan Barat mau membuat seksualitas sebagai tempat membeberkan hasrat yang sekaligus sebagai penyingkapan kebenaran subyek. Wacana dilihat sebagai bahasa dan praksis sosial. aturan yang ketat sangat berperan. Sekolah merupakan tempat permainan kekuasaan-pengetahuan ini. Kekhasan masyarakat modern ialah. bukan membiarkan seks dalam gelap. tingkat kesuburan. kriminal dijaga. Kodifikasi hukum sampai pada abad XVIII menjamin seksualitas pasangan yang menikah sebagai yang paling sah. seks menjadi masalah publik. Maka larangan. 39. “Katakan bagaimana dan siapa yang kau inginkan. praktik-praktik wacana yang menghasilkan masalah-masalah yang bermakna dan diatur sepanjang periode sejarah. akhirnya malah mendorong ke arah penyimpangan. Pembagian kelas. Jadi semua praktik sosial mengandung dimensi wacana. bentuk tempat tidur dengan pintu atau cukup dengan tirai. klafikasi dan spesifikasi. makanan dan tempat tinggal (ibid. 36) Seks pertama-tama bukan sesuatu yang dilakukan. Jadi masalah seks menjadi masalah hukum. kekayaan. keluarga. tetapi subyek dan kebenaran hasratnya (Scientia sexualis). tetapi juga rasionalitas. dan saya bisa mengatakan siapa kamu”. tetapi dalam bentuk analisa. Tidak hanya aspek moral. aturan perilaku waktu malam (ibid. Karena ingin mendeteksi bentuk-bentuk seksualitas yang ditutup-tutupi. Praksis sosial memerlukan makna. Ini mau menekankan perlunya pengaturan seks melalui wacana yang bermanfaat dan publik. kemampuan kerja. ekonomi dan teknik untuk bicara tentang seks. 35. sedangkan makna mempertajam serta mempengaruhi apa yang kita lakukan. kesehatan. sodomie. seksualitas orang gila. 40). Kasus-kasus bentuk seksualitas yang tidak bisa diterima (zoophile. Wacana menyediakan bahasa untuk membuat pernyataan atau cara untuk merepresentasikan pengetahuan tentang topik khusus pada periode sejarah tertentu. Oleh karena itu. masyarakat mengembangkan mekanisme kontrol perilaku individual. tetapi dihukum karena melanggar hukum. guru. kelangsungan hidup. pendidik dan psikiater perlu mengawasi. Seks bukan pertama-tama pertaruhan tubuh dan intensitas kenikmatan. 35). namun sesuatu yang dikatakan. aktif dan permanen.. Dari sejarah pewacanaan seks. tetapi diurusi dan diburu oleh wacana yang tidak akan membiarkannya dalam kegelapan dan tidak akan membiarkan istirahat” (1976: 29). bukan dalam bentuk teori umum tentang seksualitas. tenaga kerja. Diperhitungkan juga berbagai variabel seks seperti natalitas. dalam arti dicegah dan dilarang. orang diajak memurnikan supaya seks tidak dikatakan secara langsung. Sejak abad XVIII dorongan politik. Wacana dilihat sebagai produksi pengetahuan melalui bahasa. Jadi wacana institusional menggarisbawahi bahwa seksualitas itu ada. penyakit. seks menjadi urusan polisi karena terkait dengan kekuasaan publik.. sedangkan bentuk-bentuk lain dianggap kacau dan bermasalah. keseimbangan antara pertumbuhan dan sumber daya. Seks abad XVIII. Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 .

mengatakan. dengan berusaha memperlihatkan seks dalam realitasnya yang paling telanjang. Keragaman seksualitas makin diketahui. menunjukkan bahwa seks disembunyikan. “Dari mana kita bisa sampai menyatakan bahwa seks disangkal. mengatakan bahwa seks dibungkam. Perkembangan ke arah seksualitas yang bermasalah di luar pasangan suami isteri dan medikalisasi terhadap seksualitas menyimpang berakhir dengan membentuk suatu masyarakat menyimpang dengan berbagai bentuknya. Di luar kerangka prokreasi. 92). mempercayakan rahasia dan menjebak kelicikan (ibid. berbicara tentangnya sudah merupakan bentuk pelanggaran. ditemukan penyimpangan yang agak menjauh dari norma alamiah seperti homoseksualitas. Maka seks harus masuk dalam rejim tatanan pengetahuan (ibid. Meskipun tidak mampu mengimajinasikan kenikmatan baru. tetapi urusan dokter. Terhadap situasi seperti itu. muncul tindakan-tindakan yang lebih keras dengan adanya semua bentuk lembaga pengawasan dan mekanismenya yang diterapkan atas nama pedagogi maupun terapi (ibid. Maka perlu mencurigai bahwa di dalam seks ada rahasia penting karena masyarakat butuh produksi kebenaran.6 tetapi paradoksnya ialah membiarkan selalu bicara tentang seks dengan meyakinkan bahwa seks adalah rahasia. tetapi pelanggaran hakikat manusia. Perubahan rejim wacana seks ini menandai. 56). Kekuasaan sebagai rezim wacana masuk tahap baru karena medikalisasi dan terapi pathologi menjadi wacana dominan dalam pengaturan seksualitas. Penunjukan dua gerak sejarah (seksualitas cerewet dan menyimpang) memungkinkan kesimpulan ganda: penolakan terhadap sejarah seksualitas yang disensor. ada semacam penanganan yang melunak karena tidak lagi diadili atau dihukum. namun di lain pihak. dan mendesak setiap orang untuk berbicara tentangnya. setidaknya menemukan kenikmatan akan kebenaran kenikmatan. tertarik melihat. di satu pihak. menemukan. Tidak hanya masyarakat banyak bicara tentang seks. maka jaksa dan polisi ikut mengatur. Perilaku seks yang tidak umum dimasukkan ke kategori penyakit jiwa (ibid. semua kenikmatan dianggap di luar norma. penyimpangan mulai mendapat tempat.. Memang seks pernah dianggap sebagai masalah keteraturan publik. lalu diserahkan ke ranah kesehatan sehingga menjadi masalah kedokteran. sedangkan ketidaksetiaan tidak dianggap pelanggaran hukum.. Hubungan Pengetahuan dan Kekuasaan Sejarah seksualitas membahas masalah apa yang berfungsi pada abad XIX sebagai bidang kebenaran khas yang harus dibuat pertama-tama dari sudut pandang sejarah wacana (1976: 92). Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Kekuasaan bukan instansi yang melarang. Abad XIX dan XX merupakan abad pergandaan seksualitas. Seksualitas menyimpang bukan lagi urusan jaksa. dan ini dengan merumuskan seks dalam kata-kata yang lebih tersurat. Seks yang sebelumnya ada di dalam ranah legal. tetapi dari seks mau dirumuskan suatu kebenaran yang perlu diatur. artinya menghasilkan pengetahuan dan bentuk-bentuk seksualitas. Dari wacana tentang seks bisa ditarik kesimpulan adanya kenikmatan untuk mengetahui. 95).. 50). Di lain pihak. Kalau seks direpresi atau dilarang. Foucault mengajukan pertanyaan.. semakin menguatnya bentuk-bentuk beragam. perlawanan terhadap gambar represi kekuasaan yang mekanik. Yang tidak umum adalah yang tidak sesuai dengan skema prokreasi. tetapi menghasilkan.

interogasi. psikiater. Banyaknya ilmu yang mempelajari subyek manusia berarti keberagaman wacana tentang manusia. subyek yang menghasilkan. Teknik itu mencabut individu dari lembaga disipliner yang satu dan mengalihkan ke lembaga disipliner yang lain. tumbuhtumbuhan dan tanah. Semakin berkembangnya subyek berarti semakin tersebar dan bertambahnya lingkup kekuasaan. Psikologi pendidikan mau mengoreksi rigoritas sekolah. mau mengoreksi mekanismemekanisme disiplin dengan dalih supaya lebih manusiawi. psikiatri. Metode investigasi tetap melekat pada kekuasaan disipliner yang membentuknya. Dengan pernyataan ini Foucault bukannya ingin menunjukkan hipotesa represif seks adalah keliru. Teknologi disipliner itu juga merambah sampai ke bidang ilmu-ilmu. psikolog. Les Mots et les Choses (1966) memperlihatkan bahwa subyek justru menjadi obyek pengetahuan. Maka seks masuk ke dalam rezim tatanan pengetahuan. “Ilmu-ilmu yang disambut baik oleh kemanusiaan kita sejak satu abad mempunyai acuan teknis disiplin dan investigasi penuh dengan detildetil dan keculasan. pedagogi. Ada konspirasi kekuasaan-pengetahuan sehingga kekuasaan menjangkau sampai pada perilaku yang paling individual dan intim. Dengan demikian terlihat jelas menyebarnya kekuasaan. Ada beberapa bentuk yang mengatur hubungan kekuasaan dan wacana seks (1976: 110). subyek yang hidup. Sejarah Seksualitas ini atau serangkaian studi mengenai hubungan sejarah kekuasaan dan wacana tentang seks merupakan proyek yang saling melengkapi karena saling menjelaskan.262-263). subyek yang berbicara mendapat obyektivasi di dalam filologi dan linguistik. karena setiap pengetahuan memungkinkan dan menjamin pelaksanaan kekuasaan. Kolom itu biasa diasuh oleh seorang pakar: dokter. ingin tahu. wawancara. Lalu manusia dimengerti sebagai subyek yang berbicara. wawancara dengan dokter/psikiater untuk mengoreksi akibat-akibat disiplin kerja. seks selalu ada dan menjadi kolom yang tak terlewatkan. kriminologi. menyembunyikan atau memainkan topeng. subyek yang hidup diteliti di dalam biologi. dan pengetahuan-pengetahuan lain. seperti halnya kekuasaan penyelidikan yang dimiliki ilmu terhadap binatang. Teknik-teknik itu mereproduksi skema kekuasaan-pengetahuan. Wacana kekuasaan ingin menghambat. Hubungan negatif: wacana seks biasanya dirumuskan dalam bentuk penolakan atau penafikan. Keterputusan epistemologis itu ditandai dengan lahirnya manusia sebagai obyek pengetahuan bagi ilmu-ilmu manusia.16). Investigasi semakin dimurnikan dengan menyatu pada ilmuilmu seperti psikologi. Kehadiran pakar ini adalah ilustrasi betapa kekuasaan-pengetahuan merambah kehidupan paling intim subyek. Setiap subyek ini dipelajari oleh ilmu-ilmu tersendiri: subyek yang bekerja dan menghasilkan dipelajari oleh ilmu ekonomi. tetapi ia ingin menempatkan wacana tentang seks dalam situasi masyarakat modern di mana mekanisme kekuasaan berlangsung melalui kehadiran secara terus menerus melalui wacana penuh perhatian. Perubahan tekanan dari kekuasaan-negara ke kekuasaan-subyek menandai keterputusan epistemologis. merayu. Disiplin dan investigasi ini diterapkan dalam psikologi. Tes. Lalu kelihatan bahwa kekuasaan terhadap seks hanya bisa membuat larangan atau hanya bisa mengatakan tidak. Kekuasaan bisa mengambil bentuk instansi Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Ilmu-ilmu manusia abad XIX tidak bisa dilepaskan dari teknologi disipliner. Ada hubungan kesalingan antara kekuasaan dan wacana tentang seks sebagai pengetahuan. Di media tulis. Setiap kekuasaan mempunyai pengetahuannya sendiri” (1975:.7 dengan menyatakan dalam bentuk yang bisa diraba dari kekuasaannya dan akibat-akibatnya” (1976:.

menghalangi jangan sampai dikatakan. memperkuat dan membalikkan. “Tentu saja harus menjadi nominalis: kekuasaan bukan suatu institusi. sah atau tidak. pengadilan atau semua instansi dominasi sosial. tetapi kekuasaan datang dari mana-mana (1975:. Bagaimana Kekuasaan Beroperasi? Pelaksanaan kekuasaan tidak pertama-tama melalui kekerasan atau masalah persetujuan (Hobbes. penguasa. Hubungan kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari hubungan-hubungan yang ada dalam proses ekonomi. ayah. Jadi kekuasaan adalah banyaknya hubungan kekuatan yang melekat pada bidang di mana ia beroperasi. dalam ketidaksetaraan ekonomi. penyebaran pengetahuan. yaitu mereproduksi hukum. jangan menyentuh. dan hubungan seksual. bukan pula suatu kekuatan yang dimiliki. Kekuasaan adalah akibat langsung dari pemisahan. Permainannya akan mengubah. atau manipulasi ideologi (Marx). Kekuasaan atas seks beroperasi dengan cara yang sama pada setiap tingkat. Dalam hal ini. Syarat-syarat kemungkinan pemahaman kekuasaan tidak terpusat pada satu titik atau satu sumber otoritas. tetapi seluruh struktur tindakan yang menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan. keluarga. Tekanan pada hubungan kekuasaan dan subyek mengandaikan banyaknya hubungan kekuasaan. fokus diletakkan pada hubungan kekuasaan dan subyek. membalikkan hubungan-hubungan itu melalui perjuangan dan pertarungan terus-menerus” (1976: 121-122) Kekuasaan berarti menempatkan konflik dalam berbagai institusi sosial. boleh atau dilarang. jangan mendekat. Jadi kekuasaan pertama-tama bukan represi (Freud. Salah satu dimensi larangan adalah sensor. Cara beroperasi sama di semua tingkat. Foucault menentang paham kekuasaan yang disatukan dari atas oleh pusat kekuasaan negara. Berlawanan dengan pandangan Marx. Tujuan lingkaran larangan ini ialah agar seks meninggalkan dirinya. Locke).8 yang mengatur. ada di mana-mana. sampai pada jangan melakukan. dari jangan berbicara. rayuan atau melalui paksaan dan larangan. Cara beroperasi ini berjalan secara sama baik di tingkat negara.122-123). dan bukan struktur. menyangkal bahwa ada. Logika sensor yang terpateri dalam larangan bisa mempunyai tiga bentuk. Kekuasaan membentuk lingkaran larangan sangat beragam. Foucault mengatakan dengan kekuasaan “harus dipahami pertama-tama banyak dan beragamnya hubungan-hubungan kekuatan yang melekat pada bidang hubungan-hubungan tersebut dan organisasinya. ketidaksamaan dan ketidakseimbangan. tetapi beragamnya hubungan kekuasaan dan beragamnya cara beroperasinya. memperkuat. larangan dan sensor. yaitu menyatakan tidak boleh. seks dipahami hanya dalam kerangka hukum. Dengan demikian. sekarang bersama Foucault. dalam bahasa. bukannya bahwa kekuasaan mencakup semua. dan bahkan dalam tubuh kita Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Ketiga hal ini merupakan bentuk mekanisme sensor. Reich) atau pertarungan kekuatan (Machiavelli. tetapi nama yang diberikan pada suatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat…Kekuasaan ada di mana-mana. permainan melalui perjuangan dan bentrokan tanpa henti untuk mengubah. agama. Kalau orang biasanya berbicara tentang kekuasaan dan negara. Marx) dan bukan juga fungsi dominasi suatu kelas yang didasarkan pada penguasaan atas ekonomi. Kekuasaan tidak mengacu pada satu sistem umum dominasi oleh suatu kelompok terhadap yang lain. kekuasaan memberi peraturan. Kekuasaan itu menyebar.

Orang bisa memahami hubungan kekuasaan dalam kerangka tujuan dan sasaran. mengekspose. 132). hubungan kekuasaan tidak berada dalam posisi suprastruktur. Kedua. umat-pemuka agama. dalam permainan hubungan yang tidak setara dan selalu bergerak. Bagaimana kekuasaan itu berfungsi. institusi. jebakan untuk mengaku. Rasionalitas kekuasaan adalah taktik yang tersurat pada tingkat terbatas. keseluruhan tubuh sosial. Larangan itu menjadi manifestasi dari kekuasaan. Di mana ada afirmasi kekuasaan selalu ada perlawanan. Dalam hal larangan hubungan seks karena ikatan darah dan hukuman bagi pelaku selingkuh. Kekuasaan melahirkan anti-kekuasaan. Orang sengaja mencoret-coretkan grafiti pada tembok yang justru ada tulisan “Dilarang coratcoret di tembok ini”. dipaksakan wacana korektif. hubungan kekuasaan itu intensional.. bukan dalam sekedar larangan. Hubungan-hubungan kekuatan itu banyak dan terbentuk serta bermain di dalam aparat produksi seperti di keluarga. Ke empat. Titik tolaknya difokuskan pada hubungan kekuasaan-pengetahuan. tetapi dalam hubungan-hubungan kekuasaan yang sekaligus banyak dan selalu bergerak. pengakuan dosa. kekuasaan berjalan dari berbagai titik. maka ada perlawanan. Setiap anak Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. tetapi karena adanya kekuasaan itu sendiri. memberi struktur kegiatan-kegiatan. Hubungan semacam itu terdapat dalam relasi seperti pendosa-imam. Orang tua dan pendidik diingatkan. 124125). Ada pluralitas bentuk perlawanan. Ada permainan canggih.9 masing-masing. Foucault menempatkan wacana tentang seks bukan dalam kerangka kekuasaan tunggal dan sentral yang menindas atau sistem hukum kedaulatan. nampak bahwa ketika ada resiko. santri-kiai yang diatur oleh berbagai bentuk wacana. Hubungan kekuasaan adalah imanen. Tujuan dan sasaran ini tidak dimiliki oleh individu atau suatu kelas. kelompok. ketidaksetaraan dan ketidakseimbangan. di situ dipasang perlengkapan pengawasan. demikian juga perlawanan tidak berasal dari satu tempat. interogasi. di mana ada afirmasi kekuasaan. tidak represif tetapi produktif. merupakan tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan. Pertama. Foucault mencoba mendefinisikan kembali kekuasaan dengan menunjukkan ciri-cirinya: kekuasaan tidak dapat dilokalisir. Bentuk-bentuk wacana itu sifatnya mengatur: penelitian batin. Kekuasaan datang dari bawah. tetapi bisa juga sebagai hambatan ke tujuan. Kelima. Tidak ada kekuasaan tanpa serangkaian sasaran. cara menafsirkan atau pembicaraan dari hati ke hati (ibid. membuat lemah dan bisa mencoret. meski tidak stabil di mana wacana dapat sekaligus merupakan instrumen dan efek kekuasaan. kekuasaan itu cair karena di mana ada perbedaan terbuka hubungan kekuasaan. bukan dalam arti kekuatan dari luar atau yang berlawanan. perbedaan.. Resistensi ini bukan berasal dari posisi di luar hubungan kekuasaan. diambil atau dibagikan. di situ ada resistensi. Wacana menggunakan dan menghasilkan kekuasaan. tetapi dalam beragam bentuk operasi. titik resistensi dan titik tolak untuk strategi yang berlawanan.. ada lima cara bagaimana kekuasaan beroperasi (ibid. artinya tidak ada oposisi biner antara yang didominasi dan yang dominan. artinya hubungan kekuasaan adalah efek langsung dari pembagian. Strategi adalah anonim bukan kenyataan subyek. Seperti kekuasaan tidak berasal dari satu sumber. Perlawanan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri. kekuasaan tidak diperoleh. tempat berlabuhnya laranganlarangan (ibid. tetapi dalam bentuk anonim. hasil dari situasi-situasi lokal. 130). memperkuat. Ketiga. Diam dan rahasia dapat melindungi kekuasaan. Menurut Foucault.

Seks dipahami dalam kenikmatan. pengawasan keluarga bertujuan agar tidak jatuh pada seksualitas yang tidak produktif dan tersesat.79). (ibid. Keempat.. Menyerempet tubuh. intensitas. maka dibentuk polisi moral. (dorongan ganda: kekuasaan dan kenikmatan ( ibid. keingintahuan (konfidensialitas dan interogasi). diawasi. Jepang. scientia sexualis (Barat). 76-77): pertama. Sedangkan. kualitas khas. 58). Dalam masalah pengusiran terhadap seksualitas pinggiran (ibid. ilmu justru menyalakan ketakutan. Ritus-ritus dibuat untuk memproduksi kebenaran (teknik pengakuan. menegaskan apa yang berbahaya bagi masyarakat dan semua kebiasaan tersembunyi. ternyata justru akhirnya menjadi alat untuk menghindar dalam ketidakmampuan dan penolakan. pengadilan Tuhan). Perspektif ini tidak dipahami dalam kerangka hukum (boleh-dilarang) atau kriteria kegunaan. Ingin bicara seks secara ilmiah sama saja dengan ingin menjamin energi fiisk dan kebersihan moral tubuh sosial. Masyarakat modern mereduksi seksualitas hanya pada pasangan heteroseksual yang sah. Roma. 58-60). prosedur penuduhan. Hanya prosedur itu sangat ditentukan oleh struktur pemaknaan suatu jaman dan konteks tertentu. Kekuasaan pengetahuan ini mengurus masalah pengakuan. yang dikembangkan adalah prosedur yang mengatur bentuk kekuasaan-pengetahuan. penghilangan bukti kesalahan. perhatian. Maka ilmu pengetahuan akhirnya tunduk kepada imperatif moral. 60-61). Pengakuan dihargai sebagai sarana menghasilkan kebenaran (ibid. dalam scientia sexualis. Atas nama urgensi biologis dan sejarah.. penyimpangan.10 pantas dicurigai. menggeser dalam perilaku. Ilmu dikaitkan dengan praktik kedokteran. India. Pemeriksaan kesehatan. dan kedua. ada ancaman hukuman neraka atau bahkan fisik. 73).. kebenaran digali dari kenikmatan itu sendiri sebagai praktik dan dikumpulkan sebagai pengalaman. mendramatisir saat-saat kesulitan. sumpah. hasrat ilmiah itu justru membenarkan rasisme negara (ibid. Hubungan kekuasaan dan pengetahuan dengan sasaran tubuh menuntut kehadiran terus menerus. peralatan kejenuhan seksual khas pada lingkup dan ritus sosial abad XIX. investigasi psikiatri. Arab-Islam).. Sensualisasi kekuasaan dan keuntungan kenikmatan menghasilkan efek ganda: intensitas pengakuan mendorong kembali keingintahuan penanya (ibid. yang pada gilirannya. Lalu mencari bantuan hukum dan opini yang akhirnya menghamba kepada kekuasaan. 62). keberlangsungan. Dua prosedur untuk memproduksi kebenaran seks (ibid. Berbicara tentang seks justru mengacu pada keanehan. Prosedur Kebenaran dan Bio-Politik Prosedur kebenaran yang dimaksud dalam konteks ini ialah cara bagaimana suatu praktik sosial mendapat legitimasi.. duel. Pengakuan membebaskan dan Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . interogasi. pantulan dalam tubuh dan jiwa. menentukan cara berpikir.. tetapi memberi realitas analitis supaya kelihatan sebagai pelanggaran atau bahwa larangan itu memiliki dasar ilmiah. mengelus mata. Dalam ars erotica. Dengan dalih mau berbicara benar.. Dalam keluarga ada rejim medico-seksual (ibid. ars erotica (Cina. bertindak dan menilai. dibuat prinsip klasifikasi dan sistem penalaran. Dalam praktik agama-agama. Wacana kekuasaan dipakai untuk menenggelamkan seksualitas ke dalam tubuh. mekanisme kekuasaan yang mau mengusir seksualitas pinggir ini tidak mendaku bisa melenyapkan.. laporan pedagogi. pathologi dan keputusasaan. 72). Keinginan berbicara seksualitas secara ilmiah. diperingatkan adanya bahaya.

di sisi lain. Akhirnya kekuasaan berfungsi mengatur kehidupan. 185). pengaturan ruang. Pendek kata mulai biopolitik penduduk. Semua dijamin oleh prosedur kekuasaan yang ditandai dengan disiplin. Bio-politik penting bagi perkembangan kapitalisme (ibid. tetapi dalam rejim normal dan pathologi. psikolog) tapi adalah pemegang kebenaran. integrasi ke dalam sistem pengawasan yang efektif dan ekonomis. Dengan cara ini. Biologi direfleksi dalam perspektif politik. Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . penyesuaian dan ekonomi energi. 4) Metode interpretasi. ditemukan pembenaran dalam prinsip bahwa seks adalah sebab segala hal. Ini menjadi tanda untuk afirmasi kekuasaan masyarakat karena mampu menunjukkan kekuatan politik dalam kekuatan biologinya. Seksualitas menjadi situs politik. Pada abad XVIII. Kekuasaan ini berkembang sejak abad XVII: tubuh mesin diarahkan ke peningkatan kemampuan. mengerem prokreasi). perkembangan kegunaan. Interogasi. 87): 1) Kodifikasi klinik membuat pasien berbicara: pengakuan dan pemeriksaan dikombinasikan. harapan hidup. Bila menyembunyikan masalah seks akan menyebabkan banyak hal yang tidak beres. seks menjadi sasaran kekuasaan yang mengorganisir diri di sekitar manajemen kehidupan. kepatuhan. Dalam hubungan tubuh dan penduduk. berasal dari regulasi penduduk: pengawasan. Yang mendengarkan bukan hanya mengampuni/menghukum (imam. hipnose. pemeriksaan dokter dan psikolog. dan kampanye ideologi moralisasi. Dengan mengorganisir dan memperluas kehidupan. Tubuh adalah politik karena seks. Kapitalisme membutuhkan tubuh yang dapat dikontrol untuk produksi. 3) Prinsip laten seksualitas: prinsip ini memungkinkan mengungkapkan praktik ilmiah untuk memaksa agar mau mengaku. Menerjemahkan apa yang diungkap dengan penjelasan. maka ritual pengakuan berjalan sesuai dengan tuntutan ilmiah (ibid.. psikiater. ekses/pelanggaran. kuestioner. tingkat kesehatan. Di satu sisi. 188). pendekatan kekuasaan-pengetahuan mem­ per­ hitungkan proses kehidupan dengan mengupayakan untuk dapat mengontrol dan mengubahnya. 193). tetapi fokusnya pada makhluk hidup. kontrol setiap waktu.. berasal dari disiplin tubuh: pelatihan. kematian. Wacana kebenaran tentang seks mengungkap cara bagaimana ‘ingin tahu’ tidak lepas dari seks. bukan lagi melalui ancaman kematian (ibid.. 2) Melalui prinsip pewacanaan yang membebaskan: supaya sehat perlu mengatakan semua dan menginterogasi semua hal. intensifikasi dan distribusi kekuatan. Hidup menjadi bagian arena kontrol pengetahuan dan campur tangan kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi hanya berurusan dengan subyek hukum. kisah diri dikaitkan dengan seluruh tanda dan simtom yang dapat dijelaskan. 5) Medikalisasi efek pengakuan. Seks menjadi pertaruhan politik. asosiasi bebas. kebenaran tidak lagi dalam tatanan kekuasaan.11 kekuasaan diam. Pengakuan tidak hanya ditempatkan dalam kerangka kesalahan/dosa. tetapi dalam hubungan asal-usul dengan kebebasan. ekonomi (mendorong. tubuh diarahkan ke proses biologis: kelahiran. Jadi tanggung jawab atas kehidupan memberi akses kekuasaan masuk sampai pada tubuh (ibid.. Ia adalah penafsir handal. Disiplin tubuh dan regulasi penduduk adalah cara organisasi kekuasaan atas kehidupan berjalan. Seks menjadi tempat perjumpaan dua hal.

Lire L’oevre. Le souci de soi. Michel. 1976: Histoire de la sexualité I. 1966: Les mots et les choses. Naissance de la prison. Paris: Gallimard --------------------. 1992. Paris: Gallimard --------------------. Paris: Gallimard/Seuil Giard. untuk sesi “Michel Foucault tentang Seksualitas”. Paris: Gallimard. Makalah ini tidak disunting.org Makalah Seri Kuliah Umum | Juni 2010 . Michel Foucault. Pasar Minggu. Makalah ini milik Kalam dan tidak untuk dimuat di mana pun. 1984: Histoire de la sexualité III. 2001: L’herméneutique du sujet. Paris: Gallimard. 1975: Surveiller et punir. Paris: PUF Monod.12 Daftar Pustaka Colombel. Jakarta Selatan 12520 Indonesia t: +62 21 7891202 f:+62 21 7818849 www. Paris: Gallimard --------------------. Salihara 16. --------------------. Sabtu 12 Juni 2010. 1976-1988. Jl. 1984: Histoire de la sexualité II. La police des conduites.salihara. Luce. Jean-Claude. Grenoble: Jérôme Millon Merquior. Bruxelles: Mardaga Disampaikan dalam Seri Kuliah Umum “Tentang Seksualitas” di Komunitas Salihara. 1994: Michel Foucault. Paris: Gallimard/Seuil --------------------. La clarté de la mort. José-Guilherme. 2001: Dits et écrits II. 1997: Il faut défendre la société. Paris: Gallimard --------------------. Paris: Michalon Sheridan. La volonté du savoir. sexualité et pouvoir. Paris: Odile Jacob Foucault. L’usage des plaisirs. 1980: Discours. Jeannette. 1985: Foucault ou le nihilisme de la chaire. --------------------. Alan.1997: Foucault.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful