Refleksi Kasus MH-MB

Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Refleksi Kasus

Morbus Hansen Tipe Multi Basiler (MB)

Oleh : Dessy Vinoricka Andriyana 1210029032

Pembimbing : dr. Agnes Kartini, Sp. KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 2014

............................................................................3 1.............................................................................. 15 i ...........................................................................4 1............................................... 9 BAB 3 KESIMPULAN ..... 6 PEMERIKSAAN PENUNJANG ................................................................................. 1 1.....2 1................................................................... 1 PEMERIKSAAN FISIK ..... 7 PROGNOSIS ...............................................................................................................7 ANAMNESIS ...... 8 BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................1 1................................................................. i BAB 1 KASUS ........................................................................................... 7 PENATALAKSANAAN ................................................................................5 1..............DAFTAR ISI DAFTAR ISI ................................ 7 DIAGNOSIS KERJA ...........................6 1...................................... 3 DIAGNOSIS BANDING ...................................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ...........

Keluhan demam. hanya sedikit rasa menebal. 1. serta alis dan bulu mata rontok disangkal oleh pasien.1 1.2 Keluhan Utama Muncul bercak kemerahan pada kedua tangan dan kaki.1.1. 1 . : 36 tahun : Jln. M. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 29 Januari 2014 di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Helang Aye. kurang rasa pada bagian tubuh lainnya. Kubar : SD :: Kutai : Katolik Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesis. rasa nyeri. 1.3 Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merupakan rujukan dari salah satu Puskesmas di Kubar dengan keluhan awalnya timbul bercak kemerahan pada kedua lengan bawah kedua tangan dirasakan sejak 6 bulan terakhir.1.1 ANAMNESIS Identitas Nama Usia Alamat Pendidikan Pekerjaan Suku Agama : Tn.BAB 1 KASUS 1. Bercak-bercak tersebut tidak gatal dan nyeri. Y. Kemudian bercak kemerahan tersebut muncul menyebar pada bagian kaki.

kakak perempuan pasien. yaitu ibu pasien.4 Riwayat Penyakit Dahulu Awalnya pada awal tahun 2012 muncul benjol-benjol pada kedua tangan dan kaki.5 Riwayat Penyakit Keluarga Menurut pengakuan pasien tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien. 1. Pasien tidak memiliki pekerjaan. maupun riwayat penyakit lainnya disangkal oleh pasien.6 Riwayat Kebiasaan Kegiatan sehari-hari pasien hanya menghabiskan waktunya dilingkungan rumah saja.1. Oleh karena itu pasien berobat ke dokter dan kemudian dirujuk ke RSUD AWS dan telah diberikan diagnosis kusta kemudian telah mendapatkan pengobatan kusta selama + 18 bulan.1. Setelah itu pasien tidak minum obat kusta tersebut selama hampir 1 tahun terakhir hingga saat ini saat bercak kemerahan itu muncul lagi. juga wajah hingga di kedua telinga disertai dengan bercak-bercak berwarna keputihan. Riwayat pernah bepergian ke luar daerah disangkal oleh pasien. Riwayat alergi. Benjolan dan bercak tersebut terasa menebal dan kurang rasa.1. 1. dan suami kakak perempuan pasien 2 .1.1. dan pada bagian lainnya terasa nyeri. 1.7 Riwayat Sosial Pasien tinggal satu rumah dengan 4 anggota keluarga lainnya.

2.1 PEMERIKSAAN FISIK Status Generalisata Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Nadi Kepala LeherDada/Punggung/Perut Ekstremitas Pembesaran Kelenjar : tampak sakit ringan : komposmentis : : tidak dilakukan pemeriksaan : 82 kali/menit : normosefali.2.2 1. saddle nose (+) : dalam batas normal : dalam batas normal : tidak dilakukan pemeriksaan Gambar 1.1 1. nyeri D/S (-/-) 3 .1. Auricularis magnus : dalam batas normal : : menebal D/S (-/-).2 Status Neurologis Nervus kranialis Pemeriksaan saraf tepi N.

nyeri D/S (-/-) : menebal D/S (-/-). nyeri D/S (-/-). Fungsi Sensorik : anastesi (+) pada lesi Fungsi Motorik :paresis (-) Fungsi Otonom : edema (-). Tibialis Posterior : menebal D/S (-/-). Medianus : menebal D/S (-/-). Fungsi Sensorik : anastesi (+) pada lesi Fungsi Motorik : paresis (+) Fungsi Otonom : edema digiti (+) dengan gambaran banana shape. nyeri D/S (-/-). paralisis D/S (-/+) N. kulit kering (+) Deformitas : (-) b) Regio Antebrachii Sinistra Efloresensi : tampak makula eritematosa ukuran plakat batas tidak tegas dengan permukaan berkilap penyebaran generalisata. nyeri D/S (-/-) 1. Peroneus Lateralis N.2. Ulnaris : menebal D/S (-/-). Lokalisasi Ekstremitas Superior a) Regio Antebrachii Dextra Efloresensi : tampak lesi makula eritematosa ukuran plakat batas tidak tegas dengan permukaan berkilap penyebaran generalisata.3 Status Dermatologis 1. tampak skuama halus berwarna putih batas tegas ukuran plakat dengan erosi. kulit kering (+) Deformitas : claw hand (+) 4 .N. tampak nodus hipopigmentasi dengan erosi. paralisis D/S (-/+) N.

Gambar 1.2 5 .

Fungsi Sensorik : anastesi (+) pada lesi Fungsi Motorik : paresis (-/-) Fungsi Otonom : edema (-/-). kulit kering (+/+) Deformitas : drop foot (-/-) Gambar 1.3 DIAGNOSIS BANDING Morbus Hansen tipe Multi Basiler Pitiriasis Versikolor Pitiriasis Rosea 6 .3 1.c) Regio Cruris dextra et sinistra Efloresensi : tampak makula eritematosa ukuran plakat batas tidak tegas dengan permukaan berkilap penyebaran generalisata.

Bila ada keluhan selama masa pengobatan diminta segera periksa ke Puskesmas. misalnya dengan memberikan pelembap pada kulit tangan dan kaki yang kering. 7. Penderita yang sudah cacat fisik tidak akan kembali normal.1. Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada keluarga dan orang lain. Lama pengobatan 2. agar tidak mudah mengalami kerusakan pada kulitnya. bila minum obat teratur dan lengkap 5. Kusta dapat disembuhkan. tetapi perawatan diri tetap diperlukan supaya cacat tidak berlanjut. Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : dengan pewarnaan Ziehl Nielsen ditemukan BTA 3 (+).5 DIAGNOSIS KERJA Morbus Hansen tipe Multi Basiler 1. dan juga dapat menjadi cacat. 1. yaitu : 3.6 PENATALAKSANAAN Farmakologi : Diberikan pengobatan MDT-MB selama 12 bulan Rifampisin 600 mg/bulan Dapson 100 mg/hari Klofazimin 300 mg/bulan kemudian dilanjutkan dengan 50 mg/hari Non Farmakologi 1. Cara minum obat : memberikan edukasi. 7 . Efek samping yang dapat timbul karena obat 4. jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mencegah cacat 8. 6.

7 PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanationam Quo ad kosmetika : bonam : bonam : malam 8 .1.

Hal tersebut telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik melalui pemeriksaan sensorik yang dilakukan pada kedua tangan didapatkan tanda positif anastesi terhadap rasa raba dan nyeri pada tempat lesi daripada kulit normal. Gambaran klinis relaps salah satunya yaitu meluasnya lesi eritematous yang telah ada yang sebelumnya telah menghilang. Setelah itu pasien tidak minum obat kusta tersebut selama hampir 1 tahun terakhir hingga saat ini saat bercak kemerahan itu muncul lagi.6 Kemudian dari data anamnesis yaitu keluhan muncul bercak-bercak kemerahan yang dialami pasien tersebut terasa baal sejak + 6 bulan yang lalu. Hal tersebut menandakan bahwa bakteri telah menyerang saraf tepi. Dari paparan tersebut salah satu kemungkinan yang terjadi pada pasien ini yaitu terjadinya relaps. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang ada. Berdasarkan data identitas yang didapatkan dari anamnesis. yaitu secara epidemiologi. dengan keluhan utama muncul bercak kemerahan pada kedua tangan dan kaki sejak kurang lebih 6 bulan sebelum pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD AWS.5 Berdasarkan hasil anamnesis. dengan usia puncak prevalensi yaitu 30-50 tahun.BAB 2 PEMBAHASAN Refleksi kasus ini dilakukan pada pasien Tn. Y usia 36 tahun. pemeriksaan fisik. pasien adalah seorang laki-laki dengan usia 36 tahun. dan pemeriksaan penunjang. 6 9 . Morbus Hansen dapat penyakit ini lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan. riwayat penyakit pasien ini yaitu pada tahun 2012 pasien pernah didiagnosis kusta kemudian telah mendapatkan pengobatan kusta selama + 18 bulan. Diagnosis Morbus Hansen tipe Multi Basiler pada pasien ini didasarkan pada anamnesis. Relaps adalah kembalinya penyakit secara aktif pada pasien yang telah menyelesaikan pengobatan yang ditentukan dan karena itu pengobatannya telah dihentikan oleh petugas.

dan terdapat hilangnya sensasi. maupun selangkangan. nodus. dengan diameter kira-kira 3 cm. tampak nodus hipopigmentasi dengan erosi. tampak skuama halus berwarna putih batas tegas ukuran plakat dengan erosi. Tempat predileksi di badan.1.2 Gambar 2. makula eritematosa.7 Pitiriasis Rosea dimulai dengan sebuah lesi inisial berbentuk eritema dan skuama halus. makula hipopigmentasi. Oleh karena itu diagnosis banding pada pasien ini yaitu Morbus Hansen tipe Multi Basiler. dada. Pitiriasis Versikolor. Pitiriasis Rosea 10 . Namun biasanya disertai dengan gambaran klinis khas yaitu gatal bila berkeringat. umumnya di badan. solitar.6 Pitiriasis Versikolor biasanya tampak makula soliter dan bias any koalesen dan tertutup oleh skuama dengan lokasi lesi pada wajah. dan Pitiriasis Rosea. Pada Morbus Hansen tipe Multi Basiler bisa didapatkan lesi kulit makula dan plak eritem. penyebaran generalisata. ekstremitas. punggung. lengan atas bagian proksimal.Pada pemeriksaan fisik status dermatologis didapatkan adanya makula eritematosa ukuran plakat batas tidak tegas dengan permukaan berkilap. leher. Pitiriasis Versikolor Gambar 2. Didukung dengan pemeriksaan laboratorium BTA (+).2. Selanjutnya lesi akan memberikan gambaran yang khas dengan susunan yang sejajar dengan costa hingga menyerupai pohon cemara terbalik. berbentuk oval dan anular. nodus hipopigmentasi dengan predileksi pada kedua ekstremitas. dan paha atas. yang lebih dari 5 lesi dengan distribusi lebih simetris.1.

Kombinasi obat medikamentosa yang digunakan terdiri dari Rifampisin. Beberapa hal yang perlu disampaikan sebelum pemberian MDT yaitu lama pengobatan. pasien dinyatakan RFT (Realease From Treatment). seperti kedua cuping telinga karena diduga pada daerah yang relatif dingin tersebut menghasilkan granuloma penuh kuman M. secara nonfamakoterapi juga dilakukan. maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut RFC (Release From Control). dan juga dapat menjadi cacat. Pemeriksaaan bakterioskopik dilakukan menggunakan sampel yang diambil dari beberapa tempat.Pada pemeriksaan penunjang secara bakterioskopis. Dengan memberikan edukasi kepada pasien. pada pasien didapatkan adanya kuman BTA dengan BTA +3. Setelah selesai minum 24 dosis obat ini dan hasil bakterioskopis negatif. dan pemeriksaan penunjang bahwa diagnosis pada pasien ini yaitu Morbus Hansen tipe Multi Basiler.4 Penatalaksanaan pada pasien ini dengan Morbus Hansen tipe Multibasiler menggunakan program Multi Drug Therapy (MDT) yang disediakan di Puskesmas.1 Selain penatalaksanaan secara farmakoterapi.4-diamino-difenil-sulfon). Klofazimin (Lamprene) dan DDS (Dapson/4. motoris.1 Jadi dapat disimpulkan dari hasil anamnesis. bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada keluarga dan orang lain. yaitu berhenti minum obat. Hal ini sesuai dengan rejimen MDT dari WHO. Masa pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif untuk tipe MB selama 5 tahun. lepra dan dua daerah lesi yang paling aktif. kemungkinan sembuhnya penyakit kusta bila meminum obat teratur dan lengkap. dan ditemukannya M. pemeriksaan fisik. yaitu bercak kulit hipopigmentasi atau eritematosa yang mati rasa. Diagnosis ini didasarkan pada penemuan 3 tanda kardinal. lepra sebagai bakteriologis positif. Jika bakterisokopis tetap negatif dan klinis tidak ada keaktifan baru. dan otonom. Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan secara bakterioskopis minimal setiap 3 bulan. cara minum obat. bagaimana bila selama pengobatan muncul 11 . efek samping obat yang dapat timbul.6 Lama pengobatan diselesaikan selama 12-18 bulan. penebalan saraf perifer dengan gangguan fungsi saraf sensoris.

dijelaskan pentingnya perawatan diri untuk mencegah cacat. Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf. absorpsi. Namun. tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat. Cara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat atau prevention of disabilities (POD) adalah dengan melaksanakan diagnosis dini kusta.efek samping. pasien dengan tangan dan kaki yang tidak sensitif terhadap luka dan tidak mengetahuinya. mutilasi. dan berkurangnya kekuatan otot. deformitas pada tangan kiri yaitu claw hand dengan jari-jari tangan yang edema seperti gambaran banana shape. Gunakan sepatu/sandal yang dapat melindungi kaki dari luka. tanpa kerusakan atau deformitas yang terlihat. Dengan adanya kerusakan atau deformitas tersebut maka menunjukkan adanya kecacatan tingkat 2 pada tangan. Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit. WHO Expert Committee on Leprosy membuat klasifikasi cacat pada tangan dan kaki. Tingkat 1 Tingkat 2 Ada gangguan sensibilitas. akan menyebabkan luka tersebut terinfeksi dan seiring berjalannya waktu mengakibatkan terjadinya deformitas yang irreversibel. 12 . Kecacatan dapat terjadi apabila penderita kusta tersebut terlambat didiagnosis dan tidak mendapatkan MDT pada riwayat sebelumnya. dan kontraktur. pemberian pengobatan MDT yang cepat dan tepat. hilangnya sensibilitas.1 Cacat Pada Tangan dan Kaki Tingkat 0 Tidak ada gangguan sensibilitas. Berikut ini beberapa cara melakukan perawatan pada tangan dan kaki : 3 Perawatan Pada Kaki Kaki kering dengan fisura Merendam kaki selama 20 menit setiap hari di dalam air. Terdapat kerusakan atau deformitas Catatan : kerusakan atau deformitas pada tangan dan kaki termasuk ulserasi.6 Sayangnya pada pasien ini telah ditemukan adanya kecacatan. serta mata bagi penderita kusta.

Gunakan pelindung pada tangan saat bekerja/memasak. 13 . serta disertai dengan discharge beristirahat. Namun pada sisi kosmetika pasien ini buruk. serta gunakan kassa dan perban. Gunakan kain penutup yang bersih.Lepuh di telapak kaki atau di antara jari kaki Kaki dengan ulkus tanpa disertai discharge Kaki dengan ulkus Balut lepuh dengan kain yang bersih. Prognosis pada pasien ini baik pada sisi vitam dan sanasionam. Bersihkan ulkus dengan sabun dan air. segera ke RS. Jika dalam 4 minggu tidak ada perubahan. karena jika benar mendapatkan terapi yang sesuai. Perawatan Pada Tangan Luka pada tangan saat bekerja atau memasak Tangan yang kering dengan fisura Bersihkan luka dan gunakan kain penutup yang bersih. Merendam kaki selama 20 menit setiap hari di dalam air. maka kondisi pasien akan menjadi baik. Disarankan untuk istirahat. Bersihkan ulkus dan berikan antiseptik. istirahat. dikarenakan telah terjadinya kecacatan yang bersifat irreversibel.

kemudian dari pemeriksaan fisik ditemukan makula eritematosa ukuran plakat batas tidak tegas dengan permukaan berkilap penyebaran generalisata. pada pasien ini telah terjadi kecacatan tingkat 2 pada tangan. Klofazimin (Lamprene) dan DDS (Dapson/4. skuama halus berwarna putih batas tegas ukuran plakat dengan erosi. Diagnosis banding pasien ini adalah Pitiriasis Versikolor dan Pitiriasis Rosea. 14 . dimana dari anamnesis didapatkan keluhan bercak kemerahan pada tangan dan kaki.4-diamino-difenil-sulfon) selama 12 bulan. Pada pasien ini terdapat deformitas pada tangan yaitu claw hand. juga dirasakan rasa yang menebal pada bercak. nodus hipopigmentasi dengan erosi.BAB 3 KESIMPULAN Telah dilaporkan kasus Morbus Hansen tipe multibasiler pada laki-laki berusia 36 tahun. Oleh karena itu. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi obat medikamentosa yang digunakan terdiri dari Rifampisin.

Djuanda.ilep. B. 2. Emmy S. L. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2014. Airlangga University Press : Surabaya. Accessed on January 4th. Dwi et all. 7.who. How to Diagnose and Treat Leprosy. Edisi Keenam.pd f 5.J. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. The International Federation of AntiLeprosy Association : London.pdf 4. S. D. EGC : Jakarta.A. Cetakan Kelima. editors. Sixth Edition. Murtiastutik. 2000. 2013. First Edition. Hamzah. McGraw-Hill : New York. 2014. SSjamsoe et all. Wolff. Guide to Eliminate Leprosy as A Public Health Problem . Siregar. 2003. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kedua.S. 2009. 6. S. S. ILEP. 2011. Available at : http://www.org. Cetakan Pertama.DAFTAR PUSTAKA 1. World Health Organization : USA. Leffel. Gilchrest. 2002. Katz. Goldsmith. WHO. Daili. R. Paller. Edisi Kedua. Available at: http://www. Cetakan Kedua. editor. Kusta. 15 .I.uk/fileadmin/uploads/Documents/Learning_Guides/lg1eng. Aisah. Accessed on January 4th. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. K. A. 3.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit.A.int/lep/resources/Guide_Int_E. 2005. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful